Thursday, 25 December 2025
HATI tertusuk LIDAH
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.382.07.12-2025
Seni memilih kata, demikian penting dalam komunikasi, karena salah memilih kata, membuat ketersinggungan seseorang atau sekelompok orang yang mendengarnya. Apalagi yang berucap adalah public figure, lebih lagi kalau pejabat suatu negeri, apa yang diucapkannya berhubungan pula dengan negara lain; pemilihan kata yang kurang tepat kadang memanaskan hubungan antar negara.
Kusinggung pada artikel yang lalu, ada empat penyebab membuat “hati terluka”, satu diantaranya menerima perkataan yang menyakitkan hati. Perkataan adalah produk lidah, kalau lidah ini mengeluarkan kata2 yang menyakitkan, akan lebih tajam dari pisau “belati”, menusuk jauh kerelung hati, sangat sulit untuk diobati.
Cuka getah merusak kulit.
Buka botol cepat disumbat.
Luka dikulit dapat dijahit.
Luka dihati susah diobat.
Seorang adik baru pulang berdinas dari luar pulau, tertarik dengan suatu makanan khas daerah tersebut, dibelinya untuk oleh2 buat kakaknya di Jakarta. Dengan hati yang tulus makanan yang tahan disimpan 3 bulanan itu, disampaikan buat sang kakak ketika berkunjung kerumah kakaknya. Alangkah luka hatinya kakaknya tak sudi menerima oleh2 itu diiringi ucapan: “kami dirumah ini tak ada yang doyan makanan seperti ini”. Bukan main hati sang adik luka mendalam tertusuk lidah si kakak……. Meskipun ndak suka mbok iya si kakak terima saja dulu oleh2 si adik, lantas diucapkan terimakasih, sepulang adik misalnya dimasukkan tong sampah juga silahkan, si adik tidak tau.
Dikisahkan Luqman an-Naubi al Hakim bin Anqa’ bin Baruq, disuruh tuannya mengambil bagian dari kambing yang disembelihnya untuk diantarkan kepada tuannya. Tuannya meminta bagian yang paling buruk dan kotor dari kambing yang disembelihnya. Beberapa waktu kemudian sang tuan menyuruh lagi menyembelih kambing, minta diambilkan bagian yang paling baik dan paling menyehatkan. Baik ketika diminta bagian terburuk dari kambing pertama, maupun ketika diminta bagian terbaik dari kambing kedua yang disembelihnya, Luqman menyerahkan “Lidah dan Hati” kepada tuannya. Tuannya pun bertanya tentang apa yang dilakukan Luqman. Jawab Luqman, “Wahai tuanku, tak ada yang lebih buruk ketimbang lidah dan hati, bila keduanya buruk. Tidak ada yang lebih bagus dari lidah dan hati bila keduanya bagus.” (dipetik dari kitab an-Nawâdir, Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi)
Kisah diatas mengingatkan kita bahwa kata2 yang dikeluarkan melalui lidah berpotensi membawa kebaikan; misalnya kata2 berwujud pencerahan, da’wah, nasihat yang disusun dengan baik, tidak menyinggung sana-sini, menyejukkan qalbu bila mendengarnya. Dibalik itu juga lidah dapat melukai hati, bila dari lidah itu keluar kata2 yang tidak santun; caci maki sumpah serapah, mencela, memfitnah.
Contoh konkrit kata2 yang membuat “HATI TERTUSUK oleh LIDAH”:
PERTAMA; Merendahkan kemampuan orang lain, misalnya:
• “Kau tau apa, ilmu-mu tak sekuku hitamku”.
• “Makanya sekolah lagi baru berbicara dengan saya”
KEDUA; Menghina pribadi, sekedar contoh:
• “Kamu tak ada harganya dimata kami, berani-beraninya mendekati keluarga kami”.
• “Tidak ada yang peduli sama kamu kucing kurap begini”.
KETIGA; Membandingkan secara kejam, sekedar contoh:
• “Kenapa kamu tidak bisa seperti dia, hidupnya sukses, sebab dia tekun, kamu hari2 hanya berpangku tangan, malas makanya hidupmu melarat”.
• “Orang lain jauh lebih rupawan dari pada kamu, wajahmu semerawut seperti buah Rengas”.
KEEMPAT; Menyalahkan tanpa mendengar, misalnya:
• “Semua ini salahmu, kenapa tidak diperhitungkan lebih dahulu.”
• “Sudah sekian lama ku mengenalmu, kamu selalu bikin masalah.”
KELIMA: Mengabaikan perasaan:
• “Lebay amat sih, begitu aja masalah bagimu.”
• “Perasaanmu itu nggak penting, bagiku engkau tak berarti apa2.”
Tak jarang terjadi, orang2 yang “hatinya tertusuk lidah” mendendam dan berujung pada tindakan kriminal ekstrimnya sampai pembunuhan, setidaknya merenggangkan silaturahim. Oleh karena itu kita dianjurkan Allah dan Rasul-Nya untuk berkata yang baik.
“…………. وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا …………….”
“……..bertutur katalah yang baik kepada manusia……” (Al-Baqarah 83)
وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)”. (Al-Irsa 53)
Surat Al-Baqarah Ayat 263:
۞ قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَآ أَذًى ۗ وَٱللَّهُ غَنِىٌّ حَلِيمٌ
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Yaa Allah jadikanlah lidah kami bertutur yang baik, hati kami mudah memaafkan.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 5 Rajab 1447H.
25 Desember 2025
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment