Wednesday, 18 May 2011

BELAJAR BERKESINAMBUNGAN

Kehidupan didunia ini rupanya tidak sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. Benar hadist Rasulullah Muhammad s.a.wUdlubul ilma mahdi illal lahdi”, menuntut ilmu sejak buaian sampai liang lahad.

Secara alamiah manusia setelah berumah tangga umumnya dikarunia anak, kadang putra dan putri kadang semua laki-laki dan ada juga semuanya perempuan. Apapun anak yang dikaruniakan Allah, secara kodrati mereka kelak akan berumah tangga, meneruskan siklus kehidupan sebagaimana orang tuanya. Tibalah saatnya sebuah keluarga mengenal keluarga lainnya, datang anggota keluarga baru yaitu mantu. Mantu atau menantu adalah anak orang lain, orang tua mantu disebut dengan BESAN. Besan kadang semula sama sekali tidak kita kenal sebelumnya, kadang lain suku bangsa, kadang lain etnis, bahkan kini di era globalisasi kadang lain bangsa.

Persoalannya adalah setiap suatu rumah tangga, dengan rumah tangga lainnya, meskipun sedikit mesti ada perbedaan kultur, ada perbedaan nilai-nilai yang dianggap baik, disisi lain nilai-nilai yang dianggap baik tersebut belum tentu di keluarga lain dianggap baik pula. Tidak jarang nilai-nilai yang dianggap baik di suatu keluarga dianggap kurang baik, bahkan sesuatu dianggap tercela oleh keluarga yang lainnya.

Sejatinya sesuai pokok pikiran di atas bahwa belajar sejak hidup sampai mati itu meliputi seluruh kegiatan hidup antara lain belajar beristeri, belajar beranak, belajar bermenantu, belajar bercucu, belajar berumah, belajar bertetangga dan seterusnya. Saya sedang menulis buku Insya Allah dalam waktu dekat terbit, yaitu mengupas salah satu aspek belajar fokus hanya “Belajar Berbesan”, suatu sub bagian kecil dari yang harus dipelajari sejak hidup sampai mati oleh manusia.

Guna menyusun topik “Belajar Berbesan” disusun dalam bagian-bagian sebagai berikut:

Bagian Pertama, lamaran. Mengungkapkan pelajaran bagaimana melakukan pelamaran, jika kebetulan dipihak laki-laki. Kebanyakan istiadat di Indonesia pihak yang melamar adalah pihak laki-laki, walau kadang ada istiadat yang melamar adalah pihak perempuan. Di dalam bagian ini juga diungkapkan tentang bagaimana cara menerima lamaran dalam hal berada dipihak perempuan.

Bagian kedua, menetapkan hari/tanggal pernikahan. Bagian ini menngisahkan bagaimana lika-liku yang sering terjadi berupa negosiasi antara kedua keluarga, untuk menentukan saat yang tepat untuk melaksanakan pernikahan. Meliputi waktu, hari tanggal dan tempat. Persoalannya akan seru jika kedua belah pihak mempunyai sudut pandang yang berbeda, status sosial yang berbeda, istiadat yang berbeda.

Bagian ketiga, mencetak undangan. Teknik pencetakan undangan, tidak jarang menimbulkan masalah, dampaknya bukan saja dirasakan pada dalam jangka pendek, begitu acara selesai, tapi kadang berujung seumur hidup. Tak jarang gara-gara pencetakan undangan ini keluarga yang baru saja dibina menjadi retak ada diataranya sampai pecah berantakan.

Bagian keempat, prosesi nikah. Nikah adalah suatu yang dianggap sakral, kaitannya erat dengan agama dan keyakinan yang dianut, ini juga diungkap untuk memahaminya, karena tidak jarang berbesan menjadi batal lantaran tak didapat kesepakatan dalam bernegosiasi prosesi nikah. Atau ada pasangan akhirnya nikah tanpa kehadiran orang tua disalah satu pihak, bahkan kadang dua belah pihak.

Bagian kelima, prosesi pesta nikah. Lazim di Indonesia bahwa nikah dan pesta nikah dilaksanakan terpisah tempat dan waktunya. Prosesi pesta nikah kadang lebih besar dibanding akad nikah. Penampilan dalam prosesi pesta nikah condong didominasi oleh istiadat mempelai. Ada yang condong istiadat mempelai wanita dan ada yang condong pada adat mempelai pria. Disini perlu dilakukan pembelajaran agar semua berjalan lancar, agar tiada pihak yang merasa “tidak diorangkan”. Untuk mengetahui hal-hal tersebut bagian ini akan mengungkap sejauh mungkin.

Bagian keenam, syair/pantun melamar.

Syair/pantun dituturkan oleh juru bicara pihak pria di upacara lamaran di kediaman si gadis terlamar. Di bagian ini diberikan contoh secara lengkap susunan syair atau pantun melamar dimaksud, pembaca yang akan melamar dan ingin memetik contoh syair atau pantun dimaksud dapat mengubah sesuai dengan keperluan.

Bagian ketujuh, syair/pantun jawaban lamaran.

Syair/pantun dituturkan oleh juru bicara pihak si gadis terlamar, sebagai jawaban atas syair/pantun yang diucapkan oleh juru bicara pelamar. Bagain ini dimuat contoh lengkap redaksi syair atau pantun jawaban lamaran dimaksud se-olah-olah keadaan senyatanya. Bagi pembaca yang anak gadisnya dilamar dan ingin menerapkan model ini dapat memetik contoh dimaksud dengan menyesuaikan dengan keadaaan sebenarnya.

Bagian kedelapan. Syair/pantun dialog.

Syair/pantun di bagian ini, adalah bila dalam acara pelamaran dikehendaki oleh para pihak (pelamar dan terlamar) upaca lamaran dalam wujud dialog syair/pantun (lazim disebut berbalas pantun). Bagian ini memuat redaksi syair/pantun berdialog tersebut, dengan memberikan contoh penggalan/jeda setelah berapa bait masing-masing pihak melantunkan syair/pantun kemudian dibalas pihak lainnya. Bagi pembaca yang akan merajut besan, ingin menggunakan model ini dipersilahkan memetik contoh tersebut dengan memodipikasi sesuai keadaan sebenarnya.

Bagian kesembilan, susunan panitia pihak pria

Memuat susunan kepanitian yang diperlukan oleh pihak keluarga pria sejak mulai melamar, pelaksanaan akad nikah sampai ke pesta pernikahan. Pada bagian ini disusun kepantian terdiri atas ketua, bendahara, sekretaris dan para koordinator serta dilengkapi uraian tugas masing-masing personil panitia.

Bagian Kesepuluh, susunan panitia pihak wanita

Dibuat terpisah bagian kesembilan dan bagian kesepuluh, karena susunan kepanitian pihak pria dan pihak wanita sedikit ada perbedaan. Dimaklumi bahwa di dalam acara pernikahan, sejak melamar, akad nikah sampai ke pesta pernikahan pihak wanita sebagai pihak “ketempatan”. Di bagian ini disusun kepanitian terdiri atas ketua, bendahara, sekretaris dan seksi-seksi serta koodinator dilenghkapi dengan fungsi masing-masing.

Bagian kesebelas, susunan acara

Di Bagian ini disusunkan acara-acara yang lazim dilakukan ketika acara lamaran, acara akad nikah, dan pesta pernikahan. Dilengkapi panduan tentang kapan seorang pembawa acara memandu acara dengan infoirmasi yang seharusnya disampaikan. Disamping itu dimuat pula secara singkat tetapi rinci tentang pokok-pokok sambutan dari para pihak yang harus berbicara di dalam acara pelamaran, acara akad nikah dan pesta pernikahan.

Bagian keduabelas, contoh redaksi undangan

Redaksi undangan adalah utama dan penting, justru acara tidak akan ada bila tidak ada undangan. Undangan harus informative dengan tidak melupakan kesantunan dan estetika. Karena itu di bagian ini diberikan beberapa pilihan model redaksi undangan, berkaitan dengan persoalan yang sering terjadi dalam pencetakan undangan seperti terungkap di dalam bagian ketiga telah dikemukakan di awal buku ini.

Wednesday, 4 May 2011

Kebaikan menurut konsep Al-Qur’an



Setiap orang, ingin dikatakan baik, sekalipun sebenarnya ia tidak baik. Juga kita sering memberikan penilaian kepada orang lain, misalnya teman akrab, tetangga, teman sekerja atasan dan bawahan, sering kita memberikan penilaian baik atau tidak baik terhadap mereka. Budaya bahasa berbasa-basi bangsa kita walaupun keadaannya kurang baik, bila ditanyakan kepadanya “apa kabar” jawaban standar adalah “baik”. Ketika ada bencana alam gempa di salah satu daerah di Indonesia beberapa waktu yang lalu, seorang korban kepalanya luka-luka dan karenanya di balut perban. Ketika ditanya pewawancara TV, “Bagaimana kabar Bapak”, jawaban beliau “Alhamdulillah baik”,

Di awal dakwah Islam, kewajiban shalat belum disyariatkan, waktu itu apabila seorang telah mengaku bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul utusan Allah atau dikenal dengan membaca dua kalimah sahadat. Jika orang tersebut berpegang teguh dengan apa yang diikrarkannya dan sampai yang bersangkutan meninggal dunai, maka ia termasuk orang yang meninggal dalam keadaan baik.

Orang Yahudi menganggap bahwa adalah merupakan kebaikan atau kebaktian bila menghadap Allah dengan menghadapkan wajah kearah barat. Sementara orang Nasrani menilai suatu kebaikan atau kebaktian bila menghadapkan wajah kepada Allah dengan menghadap kearah timur.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah tentang “Al-Bir” (Kebaikan) berkenaan dengan pemahaman Yahudi dan Nashara tersebut di atas. Turunlah ayat 177 surat Al Baqarah. Lebih jauh dirinci yang dimaksud kebaikan versi Allah di tegaskan dalam Alquran adalah:










Al- Baqarah 177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Memetik ayat tersebut di atas bahwa kebaikan adalah, beriman kepada Allah, beriman kepada hari kemudian, beriman tentang adanya malaikat-malaikat, beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul yang diutus-Nya, beriman kepada nabi-nabi, mendermakan sebagian harta kepada pihak-pihak yang diarahkan Allah, memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan sabar.

1. Beriman kepada Allah,

Bahwa seseorang dipandang baik disisi Allah apabila orang yang bersangkutan bulat keimanan kepada Allah, tidak mensekutukan Allah dengan suatu apapun. Sejak jaman Zahiliyah di Makkah, tidak seorangpun mau dituduh syirik atau mensekutukan Allah. Mereka beranggapan bahwa apa yang dilakukannya menyembah berhala adalah rangkaian penyembahan kepada Allah. Berhala-berhala adalah sabagai media. Mereka percaya bahwa bumi dan langit dan segala isinya termasuk dirinya ini diciptakan Allah. Era sekarang ini semua agama mengklaim bahwa mereka menyembah Tuhan Yang Esa yaitu Allah. Walau dengan segala macam perantara dan media.

Keimanan menyembah Allah dengan media termasuk mensekutukan Allah, hal seperti itu tidak diredhaai atau ditolak Allah, seperti termuat dalam surat Azzumar ayat 3.

3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Konsep Islam penyembahan kepada Allah tidak dengan media tidak dengan perantara mahluk-makluk ciptaan Allah. Konsep Islam iman kepada Allah adalah tidak mensyerikatkan Allah dengan apapun.

2. Beriman akan adanya hari kemudian,

Bahwa dunia yang terkembang dewasa ini yang kita diami ini ada awalnya, dengan demikian jelas akan ada akhirnya. Begitu juga kehidupan seseorang anak manusia, ada awalnya bermula tersemai di dalam kandungan ibu, tumbuh berkembang menjadi janin dan muncul kedunia menjadi bayi. Sebagian besar tumbuh menjadi anak-anak, remaja kemudian dewasa, tua. Semuanya kita meninggal dunia baik sampai tua maupun masih anak dan remaja atau dewasa. Setelah meninggal dunia tidak habis begitu saja, masuk ke hari kemudian, untuk mempertanggungjawabkan segala amal selama hidup di atas dunia. Orang yang menyakini bahwa semula amal di dunia ini akan dipertanggungjawabkan dan mendapat balasan di hari kemudian, maka dengan sendirinya setiap langkah perbuatan amalnya akan dipertimbangan untuk dapat dipertanggung jawabkan di hari kemudian. Tentu berhati-hati dalam hidup akan menjauhi segala perbuatan yang tidak baik dan sebanyak mungkin berbuat kebaikan. Oleh karena itu sumber kebaikan adalah adanya Iman kepada hari kemudian.

3. Beriman tentang adanya malaikat-malaikat.

Manusia yang yakin (beriman) bahwa adanya malaikat yang ditugaskan oleh Allah dengan berbagai fungsi di antaranya malaikat yang senantiasa mendampingi dirinya, dimanapun dan kemanapun serta sedang berbuat apapun. Oleh karena keimanan itu maka orang yang bersangkutan tidak akan melakukan perbuatan yang tercela apalagi perbuatan dosa, sebab ia yakin benar bahwa apapun perbuatannya akan tercatat dengan sempurna oleh malaikat yang mendampinginya. Tentu pribadi orang tersebut akan terus menerus berbuat kebaikan.

4. Beriman terhadap kitab-kitab,

Kitab-kitab, yang dimaksud adalah kitab-kitab berupa wahyu dari Allah melalui rasul-rasul yang diutus oleh Allah. Kitab-kitab tersebut memberikan petunjuk dalam menjalankan hidup didunia ini, termasuk cara mengatur kehidupan hubungan dengan Allah dan tata cara hubungan antara manusia dengan manusia dalam pergaulan masyarakat. Bila petujuk tersebut diikuti maka akan terciptalah kehidupan yang terjamin kemaanan dan ketenteraman. Kemanapun dan dilingkungan yang seperti apapun seorang yang memegang teguh aturan Allah, akan menerbar kebaikan. Aman hak orang lain dari perbuatannya, damai perasaan orang lain melalui ahlaknya, terhindar siapapun dari sakit hati kerena lisannya. Pokoknya akan muncul kebaikan-demi kebaikan.

5. Beriman kepada nabi-nabi.

Wujud kebaikan berikutnya adalah beriman kepada nabi-nabi dalam artian percaya bahwa nabi-nabi yang diangkat itu telah diutus Allah di masing-masing zaman untuk mengembalikan manusia kepada kemurnian keyakinan akan ke Esaan Allah. Misi Para nabi itu pada pokoknya ada 2 (dua) hal yaitu: Pertama menyempurnakan kehidupan spiritual dalam kaitan mengesakan Allah, menyakini bahwa akan ada hidup sesudah mati dengan pembalasanya, mencontohkan ahlak yang mulia, agar manusia mematuhi aturan yang ditetapkan Allah. Kedua, reformasi kehidupan sosial kemasyarakatan, mengajak masyarakat untuk dapat berkehidupan yang layak dalam hubungan antar manusia, tidak saling menzalami atau menindas, tercipta keadilan dan ketenteraman pengaturan hidup antara lelaki dan perempuan dalam perkawinan. Dengan mengimani nabi-nabi berarti menghayati dan mengamalkan ajarannya dengan demikian akan terciptalah kebaikan baik bagi diri sendiri maupun masyarakat secara keseluruhan.

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al- Hadid 25)

6. Memberikan harta yang dicintainya kepada pihak yang diarahkan Allah:

Manusia lahir kedunia ini sama-sama bermodal nihil, hanya memang kadang seorang terlahir dikeluarga yang berkecukupan bahkan berkelebihan, sementara ada yang terlahir dari keluarga yang pas-pasan dan bahkan kekuarangan. Untuk mendapatkan harta guna dipakai hidup, manusia berusaha dengan bermacam kemampuannya. Bila ia terlahir di keluarga orang kaya, berarti orang tua yang bersangkutan dulu-dulunya berusaha sedemikian rupa sehingga dapat menghimpun harta. Apabila seorang terlahir dikalangan tidak ada harta warisan, maka dirinya sendirilah yang membanting tulang memeras keringat dan otak untuk menghimpun harta kekayaan. Begitu harta kekayaaan yang didapat dengan susah payah dan tentu dicintai itu, sebagai bukti kekuatan iman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada Malaikat dan Kitab-Kitan Allah, barulah mendapat kebaikan juka mampu memberikan harta yang dicintai itu untuk orang lain dengan perioritas:

a. kerabatnya, karena pada hakikatnya Islam mengajarkan selamatkan lebih dahulu keluarga. memberikan harta utamakan kepada keluarga dekat dan sanak falimili terlebih dari baru lah orang lain. Al-Qur’an memerintahkan “selamatkan dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Orang dalam kekurangan kadang gampang terjerembab kepada kekufuran, sulit melaksanakan ibadah untuk menjauhkan diri dari siksa neraka. Diharapkan dengan mengalirnya sedekah dari leuarga yang kaya, dapat mengurangi penderitaan kerabat sendiri yang miskin tersebut dan mereka dapat melaksanakan ibadah.

b. anak-anak yatim, perioritas yang kedua dalam mendistribusikan harta adalah anak yatim. tentu anak yatim yang miskin, sebab ada juga anak yatim yang kaya lantaran banyak mempunyai warisan. Anak yatim yang miskin mereka belum mampu untuk mendapatkan nafkah buat dirinya, sedangkan penanggung jawab nafkah untuk mereka sudah tiada. Diharapkan dengan terpeliharanya anak yatim berkat santunan harta dari pihak yang berpunya, dapat terpelihara keimaman meraka, kehidupan kanak-kanak mereka dapat diselenggarakan dengan baik dengan mengikuti pendidikan, sebab ada biaya dari orang kaya. Dengan pendidikan dapat menjadi bekal hidup bagi mereka setelah dewasa nanti untuk mencari nafkah dan melanjutkan kehidupan ini dengan tetap berakidah Islami.

c. orang-orang miskin, perioritas ketiga diisyaratkan dalam surat al-Baqarah 177 yang kita baca tadi adalah orang miskin. Miskin kehidupan yang serba kekuarangan, orang dalam hidup yang serba kekurangan pikirannya gampang suntuk dan bahkan untuk berpindah keyakinanpun kadang bersedia, karena sudah lelah hidup dalam ketidak cukupan. Bila ada Peluang untuk memperbaiki nasib dengan menggadaikan iman. Tidak sedikit orang yang memngambil jalan pintas melanggar larangan Alllah untuk mendapatkan sekedar penyambung hidup, dilakukan mencuri bahkan lebih berat dari itu hanya karena kemiskinan. Karena itulah Islam mengajarkan kepada orang yang berkelebihan harta untuk membelanjakan sebagian bagi orang miskin. Sekurangnya ada 2 (dua) tujuan membelanjai orang miskin: Pertama agar si miskin dapat dikurangi penderitaannya dengan demikian semoga dapat terpelihara akidahnya. Kedua supaya terjalin hubungan yang harmonis antara pihak si kaya dengan si miskin, sehingga si miskin ikut memelihara harta si kaya, sebab sadar bahwa di dalam harta si kaya itu si miskin merasa ikut memiliki dan terbukti si kaya memberikan bagian itu kepada si miskin.

d. Musafir (yang memerlukan pertolongan), perioritas keempat dari penyaluran harta adalah buat orang dalam perjalanan yang kehabisan perongokosan. Bagaimanapun kayanya sesorang di kampung halamannya sendiri, bilamana ia sedang musafir, kekayaan itu kadang tidak dapat menolongnya. Dapat saja yang bersangkutan kehabisan biaya baik untuk hidup atau meneruskan penjalanan pulang kembali kekampung halamannya. Walau diera komunikasi yang canggih dan teknologi pengiriman uang yang mudah inipun, kadang bila seorang musafir derdampar di daerah yang tidak tersedia alat pendukung telekomunikasi dan transfer juga kemudahan itu belum dapat dinikmati. Disinilah peranan anjuran orang Islam agar tergerak hati untuk melakukan perbuatan baik dengan menafkahkan sebagai hartanya untuk orang musafir. Falsafah perintah kebaikan yang satu ini ialah, merupakan salah satu kebaikan adalah memberikan bantuan kepada orang yang sangat memerlukan.

e. Orang-orang yang meminta-minta; prioritas kelima dari distribusi harta adalah untuk orang-orang yang meminta-minta. Pada dasarnya manusia yang kenal akan harga diri, jika tidak sangat terpaksa tidak akan meminta-minta. Khusus mendermakan harta yang satu ini agaknya sedikit agar selektif, karena terakhir ini banyak orang yang sudah kehilangan harga diri. Jadi harus jelas diketahui bahwa orang yang meminta-minta itu benar-benar patut menerima sedekah. Sebab terutama di kot-kota besar kadang minta-minta dijadikan mata pencarian. Inilah salah satu pentingnya komunitas salat berjamaah yang di bangun di dalam Islam. Jamaah suatu masjid di dalam suatu komunitas tertentu dapat melakukan identifikasi di kalangan jamaahnya, orang yang pantas menerima derma, jika mereka meminta-minta dan mungkin organisasi masjid mengetahui dimana kantong masyarakat miskin yang meminta-minta dan benar-benar harus disantuni.

7. Memerdekakan hamba sahaya.

Perbuatan baik memerdekakan hamba sahaya, sekarang boleh dikata sudah tidak ada lagi haba sahaya, atau perbudakan. Memang salah satu tujuan Islam adalah menghapuskan perbudakan, perhamba sahayaan itu. Oleh karena itu banyak denda-denda dalam pelanggaran peraturan agama berupa membebaskan budak/hambasahaya. Perbuatan membebaskan memerdekakan hamba sahaya/memerdekan budak diganjar pahala demikian besar., Sebab dipermulaan agama Islam di dakwahkan masih sangat marak perbudakan/perhambasahayaan. Namun perbudakan/perhambasahayaan terselubung dinegara yang lemah perekonomiannya masih terasa. Adalah merupakan perbuatan baik jika diri ini mampu mencegah terjadinya perdagangan manusia. Jikalah kebetulan anda mempunyai pembantu rumah tangga, meskipun status mereka merdeka dan bukan hamba sahaya, tetapi adalah suatu kebaikan jika mereka diperlakukan secara manusiawi, ini barang kali yang lebih dekat dengan maksud perintah ini dikaitkan dengan masa sakarang.

8. Mendirikan shalat,

Jelas bahwa shalat adalah tiang agama, shalat adalah pencegah seseorang berbuat keji dan mungkar, pantas kalau shalatlah ibadah manusia yang lebih dahulu diperhitungkan Allah di yaumil hasab. Orang yang shalat dan menjiwai shalatnya untuk diterapkan dihidupan sehari-hari salah satu aspek yang dapat dipetik adalah kejujuran. Jika anda sebagai jamaah shalat di masjid, sering kita lihat profil-profil orang jujur. Misalnya jamaah yang batal wduhu, langsung keluar pergi untuk ber whudu kembali, padahal tidak seorangpun yang mengetahui kalau wudhu yang baresangkutan batal. Ini salah satu model kejujuran yang terus menerus dilatihkan di dalam kebhidupan beragama di dalam Islam. Seorang yang mengamalkan shalat, ia selalu jujur meskipun tidak seorangpun mengatahui bila dalam melakukan aktifiatas hidup ia melakukan perbautan yang bathil, segera ia sadar segera ia tobat dan segera ia menghindar, kerena didalam dirinya sudah tersedia pengawasan bahwa mesipun orang lain tidak mengetahui Allah maha mengetahi, maha melihat. Sehingga wajarlah bahwa shalat merupakan salah satu perbuatan sumber kebaikan. Logikanya orang shalat tidak akan Korupsi, tidak akan curang tidak akan menjalimi orang, tidak akan berbuat melanggar larangan Allah.

9. Menunaikan zakat;

Harta kekayaan didalam Islam dipandang bukan hanya milik sendiri, walaupun diri sendiri yang berusaha menghimpunannya. Penghimpunan harta diperoleh dari interaksi dengan orang lain, karena itu disamping harta mempunyai fungsi ekonomi sekaligus harus mempunyai fungsi sosial. Di dalam harta yang terkumpul terdapat hak orang lain yaitu hak para wajib penerima zakat. Harta yang terkena wajib zakat adalah harta dengan jumlah tertentu yang disebut dengan cukup nisab dan dalam kurun waktu dikuasai selama setahun disebut haul. Lebih jauh ada lagi zakat atau hasil pertanian perkebunan yang diatur dengan sempurna dalam bab mengenai zakat. Salah satu bentuk kebaikan yang diisyaratkan oleh surat Al-Baqarah 177 tadi adalah menunaikan Zakat, falsafahnya adalah setiap muslim tidak boleh menahan harta yang seharusnya menjadi hak orang lain. Dampak dari zakat adalah upaya untuk memperkecil jurang antara orang kaya dan orang miskin dan selanjutnya orang miskinpun merasa disantuni oleh orang kaya dengan demikian timbul persaudaraan, yang pada akhirnya akan berbuah kasih sayang, sehingga terjauh dari kecemburuan sosial, dimana sering berakibat si miskin menbenci orang kaya kadang tidak jarang orang miskin berprasangka dan berdoa yang jelek terhadap orang kaya.

10. Menepati janjinya apabila ia berjanji.

Kunci kebaikan hubungan antar manusia adalah menapti janji. Karena bila janji sudah dicederai maka pihak yang menerima janji dan pihak yang berjanji keduanya akan merugi. Pihak yang menerima janji menderita rugi gagal memperoleh manfaat dari janji yang diterimanya dan kadang kehilangan kesempatan yang terbaik akan diperolehnya bila janji ditepati. Sementara pihak yang ingkar janji akan rugi, karena secara jangka panjang, si cedera janji tadi dikenal di masyarakat sebagai tukang ingkar janji. Bila ia berjanji pihak yang menerima janji sudah akan percaya lagi tentu akan menyulitkan dalam kehiudupan masyarakat yang tidak akan dapat lepas dari hubungan antara manusia. Jadi tetaplah bila salah satu butir dari kebaikan itu adalah menepati janji.

11. Sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Hidup ini tidak selamanya berjalan baik, kadang seorang yang semula hartanya banyak, dengan tempo yang singkat bisa bangkrut, orang yang tadinya sehat afiat dapat saja jatuh sakit. Keadaan aman dan damai dapat saja berubah menjadi kacau balau dan peperangan. Semua itu adalah permainan dunia sekaligus cobaan untuk manusia. Menghadapi segala kemungkinan tersebut, orang orang yang sanggup sabarlah sebagai manusia yang tetap memdapat predikat bnaik dari Allah. Kembali kepada keyakinan bahwa semuanya terjadi karena telah ditetapkan Allah. Yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak sanggup dipikul oleh hamba-nya. Orang demikian agan senantiasa dapat berbuat kebaikan, sekalipun sedang dalam kesempitan dan penderitaan bahkah banyak kita mendengar riwayat bagaimana sahabat-sahabat nabi sanggup berbuat baik walau terhadap musuh dalam perperangan.

Selanjutnya orang-orang yang dapat melakukan kebaikan-kebaikan tersebut di atas mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah yang akan memperoleh dua gelar sekaligus dari Allah yaitu “Siddiqin” dan “Muttaqin”.

Semoga kita dapat mengamalkan kebaikan-kebaikan seperti diungkapkan Allah dalam surat Al-Baqarah 177 tadi. Amien.

Monday, 21 February 2011

MERAIH RAKHMAD ALLAH.

Assalamualaikum Warahmatulahi Wabarkatuh.

Setiap orang yang beriman di dalam Islam, tentu sangat berharap sekaligus berkepentingan akan Rakhmad Allah. Karena hanya dengan Rakhmad Allah kehidupan di dunia ini akan selamat dan diahirat nanti akan bahagia,

Untuk mendapatkan Rakhmad Allah harus mempunyai hati yang bersih. Upaya untuk membersihkan hati ialah dengan terus menerus mendekatkan diri kepada Allah. Cara mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan banyak berzikir.

1. Bagimana membersihkan hati.

a. Berprasangka baik terhadap Allah dan Rasul-Nya dengan selalu bersyukur. Sikap hidup seseorang menerima apa saja yang dialaminya diperolehnya dengan berbaik sangka kepada Allah. Salah satu kekotoran hati atau penyakit di dalam hati adalah seseorang yang merasakan bahwa apa yang diterimanya tidak adil, padahal apa saja yang diterima oleh manusia di kehidupannya didunia ini adalah pemberian Allah. Orang yang percaya akan keadilan Allah terhadap dirinya, tidak akan pernah mengeluh, protes atas apapun yang diterimanya, sebagai apapun ia berfungsi, ia akan jalani apa adanya dengan ikhtiar yang cukup kemudian berserah diri kepada keputusan Allah. Sebab ia yakin betul dengan infromasi Alqur’an seperti termuat dalam surat Al Hadid (surat 57) ayat 22-23.

22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira*] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,

*]. Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah.

Dua ayat dipetik di atas menjadi pedoman bagi orang yang hatinya bersih untuk tetap berbaik sangka kepada Allah atas apapun yang diterima, apapun yang dialaminya, setelah melaksanakan ikhtiar yang cukup sebagai sunatullah.

Orang yang hatinya bersih selalu bersyukur, berterimakasih kepada Allah atas anugerah apapun yang diterimanya. Sementara itu orang yang hatinya bersih tidak akan membandingkan anugerah Allah yang baik/istemewa terhadap orang lain, dengan apa yang dianugerahkan Allah untuk dirinya karena ia takut betul tergolong orang yang hatinya berpenyakit seperti dimuat di dalam Allqur’an Surat An-Nur (surat 24) ayat 50 sebagai berikut:

50. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Orang yang di dalam hatinya ada penyakit, ragu-ragu atau takut-takut Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka. Jadi, seseorang yang bersih hatinya, yakin benar bahwa Allah senantiasa adil terhadap dirinya, ketentuan-ketentuan rasul diikuti sungguh-sungguh karena dipercaya bila diterapkan/dijalankan seluruh apa yang ditentukan rasul tidak akan menzalimi dirinya.

b. Tidak munafik

Munafik adalah prilaku tidak sesuainya pengakuan lahir dengan apa sebenarnya di dalam bathin. Tidak satunya keimanan dengan perbuatan dan ucapan. Seorang yang mengaku beriman di dalam Islam, tapi sesungguhnya ia musuh Islam dari dalam. Jelas orang mnafik hatinya kotor. Hati kotor jauh dari Rahmad Allah, kerena hatinya berpenyakit seperti di isyaratkan Allah dalam surat Al-A’raf (surat 8) ayat 49 :

49. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya." (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

c. Tidak berdusta

Penyakit hati yang harus diobati agar manusia pemilik hati itu mendapat curahan Rahmad Allah adalah menghindarkan diri dari berdusta. Karena berdusta adalah penyakit hati, jelas seperti diberitahukan Allah di surat Al-Baqarah (surat 2) ayat 10:

10. Dalam hati mereka ada penyakit**], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Asbabun nuzul

**]. Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.

d. Tidak menyebar kemungkaran

Kerusakan yang terjadi di atas dunia ini banyak terjadi karena ulah tangan manusia. Kerusakan disebabkan manusia berbuat mungkar yaitu melanggar aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Orang yang selalu menghindari perbuatan mungkar hatinya akan bersih. Setiap sekali seseorang berbuat kemungkaran di dalam hatinya akan terekam catatan kemungkaran tersebut, lambat laun hatinya penuh dengan catatan kemungkaran dan sudah sulit untuk membersihkannya lagi. Tukang mungkar sering membantah sendiri keinginannya untuk bertobat, “akh sudah terlanjur, tak mungkin kesalahanku diperbaiki” hati mereka sudah tertutup. Allah telah memberi kita petunjuk bahwa jangan berbuat kerusakan dimuka bumi surat Al-Qashas 77 :




dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

e. Ikhlas

Ketika Allah menegaskan bahwa Iblis dilaknat Allah, terjadi dialog antara Iblis dengan Allah yaitu permintaan Iblis untuk menjerumuskan keturunan Adam, kecuali terhadap hamba Allah yang Ihlas. Seorang yang ihlas berbuat baik beramal dan beribadah hanya kerena Allah semata. Syarat ihlas inilah diterimanya amal ibadah, membuat hati menjadi bersih. Dialog tersebut termuat dalam surat Shad 82-83


82. Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
83. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka

f. Bebas ghibah, kecuali yang halal.

Ghibah adalah amalan lisan, yaitu mempergunjingkan orang, membicarakan sesuatu tentang orang lain dimana pembicaraan itu dilakukan ketika orang yang dibicarakan tersebut tidak mendengar, tidak ditempat yang sama dengan pembicara (ghaib). Topik pembicaraan tersebut jika orang yang dibicarakan mendengarnya tidak menyukainya, kebanyakan tentang keaiban orang tersebut. Untuk menjaga kebersihan hati peliharalah diri dari berbuat ghibah kecuali gihabh yang halal yaitu:

i. Bila teraniaya/terzalimi

Terpaksa mengatakan sesuatu perbuatan keji seseorang ketika diri teraniaya/terzalimi. Mengatakan sejujurnya siapa yang menganiaya atau menzalimi, sehingga terjadi apa yang sedang terjadi pada dirinya. Atau meceritakan siapa orang yang menganiaya seseorang lain diluar dirinya dan merinci bagaimana cara orang yang menganiaya atau menzalimi tersebut melakukan perbuatannya.

ii. Memberi kesaksian didepan pengadilan

Dalam hal menjadi saksi, diperkenankan bahkan diperintahkan oleh agama untuk memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya tentang apa yang dilihat, didengar, diketahui atas suatu kejadian yang diperoses dalam persidangan pengadilan. Walau kerena kesaksian itu harus membuka aib atau perbuatan seseorang yang orang tersebut tidak senang mendengarnya.

iii. Pertanyaan di majelis ilmu

Ghibah dihalalkan untuk mencari jalan keluar pemecahan masalah dengan membuka aib seseorang, misalnya dengan tidak menyebut nama sebenarnya guna memperjelas case yang ditanyakan di dalam suatu majelis ilmu. Umpamanya seorang jamaah majelis ilmu bertanya pada gurunya: “saya punya teman mentalak isterinya, kejadian tersebut sudah berulang. Talak yang pertama rujuk dinikahkan ulang oleh walinya. Selang beberapa lama cerai lagi dan kali ini yang bersangkutan sesumbar bahwa tidak akan kembali lagi. Sesumbarnya itu diucapkan kepada saudara-saudara kandung dirinya dan saudara-saudara kandung mantan siterinya, kepada bekas mertuanya bahwa ia telah mentalak isternya bukan hanya 3 bahkan dengan talak 1000. Alih-alih kini yang bersangkutan kembali lagi. Apakah pernikahan mereka terakhir ini syah “

Case tersebut dikupas tuntas oleh guru di majelis ta’lim tersebut, mungkin dengan memberikan contoh-contoh hadist tidak tertutup kemungkinan yang dijadikan contoh peristiwa serupa yang pernah terjadi dimasa Rasulullah. Dalam hal ini tentu meng-ghibah pelaku peristiwa diriwayatkan dalam hadist tersebut. Aada 2 pihak yang meng-ghibah disini yaitu: Si jamaah ta’lim membuka aib temannya, sedang ustadz menceritakan, orang muslim terdahulu mungkin sahabat Rasulullah, mungkin sahabat dari sahabat Rasulullah yang dicontohkan dalam hadist atau dalam uraian untuk rujukan penjelasan. Tetapi ghibah ini halal adanya.

iv. Contoh dalam berda’wah

“Dimasjid Al-ANU. pernah terjadi dalam suatu shalat berjamaah, makmum kecurian tasnya berisi dompet dan hand phone, terjadinya karena si makmum melangkah kedepan menggantikan makmum lain yang keluar karena batal di rekaat kedua, tas ditinggal di shafnya semula. Untung selesai shalat, makmum maling itu masih dapat ditangkap di area parkir motor. Taunya simaling adalah si Fulan. seorang mahasiswa”. Demikian seorang ustadz memberikan contoh dalam berda’wah untuk menjelaskan bagaimana cara-cara berjamaah yang benar sementara terhindar dari kecurian. Bagaimana salah satu faedah shalat tercapai, yaitu terhindar dari berbuat keji dan mungkar, kenapa si maling walau shalat, tetap saja masih berbuat keji, dstnya. Ini model ghibah dalam rangka da’wah.

v. Gelar seseorang, tanpa diungkap kurang dikenal

Manusia diciptakan Allah punya identitas sendiri yang bagaimanpun banyak persamaannya dengan orang lain mesti ada bedanya untuk menandakan ia bukan orang lain. Kadang seseorang menanyakan tentang seorang teman yang sudah agak lama tidak datang berjamaah. Untuk menjelaskan siapa yang dimaksud kadang disebutkanlah ciri khas orang tersebut yang kalau dituturkan dihadapan orang yang bersangktan mungkin kurang disenangi. Si anu yang bibirnya yang agak tebal itu, atau si anu yang jalanya pincang. Oh si Fulan belo (karena matanya agak lebar) dstnya.

Larangan ghibah secara tegas diungkapkan Allah di dalam Alqur’an surat Alhujurat (surat ke 40) ayat 11

11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[2] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

[1]. Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.

[
2]. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya.

2. Bagaimana cara berzikir yang dituntunkan Allah

  1. Lidah diikuti hati.

Ucapkan dengan lidah kalimat-kalimat zikir yang dituntunkan Allah dan Rasulullah diikuti dengan hati sejalan dengan kalimat-kalimat zikir tersebut. Banyak orang berzikir tetapi tidak diikuti hati, sehingga manfaat zikir tersebut tidak menyentuh kalbu yang bersangkutan dan ujungnya tidak mengubah perilaku yang bersangkutan, walau nayatanya setiap hari ia berzikir.

  1. Merendahkan diri

Memposisikan diri sebagai hamba di hadapan Allah, mengingat dengan sungguh-sungguh Allah sebagai pencipta diri ini yang tadinya tidak ada, yang tadinya tidak dapat disebut apapun. Dijadikan Allah dengan penuh keajaiban, dilahirkan kedunia ini dengan penuh keajaiban. Dibesarkan dari bayi sampai dewasa dan tua dengan kadar ukuran. Tidak merasa bahwa apa yang dipunyai adalah hasil upaya sendiri, melainkan menyadari bahwa semua apa yang dipunyai adalah hanya karena kudrat dan iradat Allah semata.

  1. Perasaan takut

Kepada Allah penuh dengan ketundukan dan takut sehinggga tak berani mengerjakan apa yang dilarang Allah dan penuh takut dalam artian melaksanakan semua perintah Allah sekuat tenaga, Takut akan kemurkaan Allah. Disini bedanya takut dengan mahluk dan takut kepada Allah. Takut kepada mahluk menjauh/menghindar sedangkan takut kepada Allah justru mendekat.

  1. Jangan suara keras

Pengucapan zikir dengan lembut tidak dengan suara keras, karena yakin walau dengan lembut Allah pasti mendengar. Dikhawatirkan dengan suara keras dapat mengganggu orang lain dan paling khawatir lagi dengan suara keras akan tersisip di dalam hati ingin diketahui orang bahwa diri ini ahli zikir. Atau kalau-kalau timbul di dalam hati orang yang mendengar berkata-kata: Orang itu berzikir di keras-keraskan biar dianggap taat padahal siapa yang tidak tau dia .........dts”. Kalau dugaan hati orang ini ternyata tidak benar kan kasihan dia sudah berbuat dosa kepada kita tanpa disadari, padahal pemicunya adalah lantaran kita berzikir dengan suara keras itu tadi.

  1. Pagi dan petang

Amal anak manusia yang paling disuka oleh Allah adalah dilakukan secara rutin, biarpun kecil, apalagi besar. Karena dengan amal baik secara rutin menutup kemungkinan kekotoran atau amal buruk dapat masuk. Bila berzikir pagi dan petang sekurang-kurangnya kelalaian terhadap perintah Allah dan kealfaan melanggar larangan Allah menjauh. Sebab selesai mengingat Allah di pagi hari, kemudian tarohlah setelah itu karena kesibukan dunia sehingga lupa akan Allah, tapi setelah petang hari kembali ingat Allah lagi, setidaknya menyadari akan kesalahan dan kealfaan yang telah dibuat ketika sedang tidak mengingat Allah, kemudian langsung dapat bertobat. Amalan baik apa saja bila dilakasanakan rutin akan menyenangkan, sedangkan kalau hanya dilaksanakan sekali-sekali biarpun banyak kurang manfaatnya. Contoh orang mandi setiap pagi dan petang setiap hari, tentu badan segar dan bersih. Tetapi sebaliknya jika mandi sebulan sekali, walau setiap kali mandi menghabiskan waktu yang lama untuk berendam dengan sabun yang demikian wangi, tetap saja tidak akan bersih dan segar setelah lama waktu sesudah mandi tersebut.

Petunjuk berzikir seperti tersebut di atas dapat dicermati surat Al-A’raf (surat ke ) ayat 205:

205. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Dan Hadist Abu Musa Al-Ansyari RA, dikutip dari Tafsir Al Azhar Zuz IX hal 232-233, buah pena Prof DR Hamka.

“Berkata Ibnu Katsir: “Lantaran itu sebaiknya janganlah berzikir itu dengan bersorak sorai atau suara keras” Diriwayatkan dari Abu Musa Al Ansy’ari r.a. berkata dia: “Diangkat orang suaranya tnggi-tinggi karena berdo’a dalam suatu perjalanan, Maka bersabda Nabi Muhammad s.a.w. terhadap mereka: “Hai sekalian manusia! Tahanlah diri kalian, karena kalian tidak menyeru orang tuli dan tidak pula Dia Ghaib. Yang kamu seru ini adalah Maha Mendengar lagi sangat dekat, lebih dekat kepdamu daripada duduk kendaraanmu sendiri”.

Demikian, perbanyaklah zikir mengingat Allah, karena:

Surat Ar-Raad (surat ke 13) ayat 28

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Wasalamualaikum Warahmatulahi Wabarkatuh