Monday, 22 August 2022

Memperpanjang HIDUP

Usia manusia sudah ada takarannya, dari berbagai sumber Nabi Adam 1.000 tahun. Nabi Nuh 950 tahun. Umur manusia kini jarang lebih 100 tahun; kalaupun lebih dari 100 tahun sepertinya kehidupan sudah menyusahkan anak cucu dan diri sendiri. Usia harapan hidup di Indonesia: Thn 2004 = 68,6 tahun Thn 2015 = 70,8 tahun Thn 2035 diprediksi 72,2 tahun (Sumber: Kemenkes) Tarohlah kita hidup maksimal dari data di atas y.i. 72.2 tahun. Jadi para pembaca dapat mulai ngukur sisa berapa usia anda. Ada yg mungkin tinggal 12, 10, 5 thn dsbnya tergantung di posisi berapa usia anda sekarang. Nah begitulah usia tak mungkin dapat diperpanjang sudah baku setiap yang hidup pasti kan mati. قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ "Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, (Al-Qur'an surat Al-Jumu'ah ayat 8) Walau UMUR tak dapat diperpanjang, tapi HIDUP dapat diperpanjang, maknanya meskipun diri sudah meninggal dunia tapi seolah-olah kita masih hidup. Salah satunya ialah orang mati sahid. وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌ بَلْ اَحْيَآءٌ وَّلٰـكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ "Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya" (Al-Qur'an surat. Al-Baqarah ayat 154) Peluang untuk mati sahid di era sekarang agaknya mulai berkurang. Yang sepadan dengan mati sahid dalam hal HIDUPNYA PANJANG adalah: 1. ORANG BERJASA. Orang meninggalkan jasa yang dipergunakan terus oleh ummat manusia juga hidupnya panjang sama panjang jasa dan hasil perjuangannya masih digunakan dan dinikmati orang. Bangsa kita banyak para pejuang kadang mendapat predikat pahlawan, tidak sedikit yang tanpa gelar pahlawan tapi diketahui oleh banyak orang, hasil perjuangan mereka kita nikmati sampai sekarang dan nanti. Bung Karno dan Bung Hatta tetap hidup di hati bangsa Indonesia, setidaknya tiap 17 Agustus, beberapa hari lagi setelah artikel ini saya publish nama kedua proklamator ini disebut. Begitu pula para pahlawan lainnya dari seluruh tanah air. Belum lama ini, tanggal 18 sampai dengan 28 Juni kami mengikuti perjalanan menuju masjidil Aqsha melalui Cairo menuju Jerusalem dan pulangnya mampir di Jordan. Banyak maqam2 nabi yang dapat kami ziarahi. Semua nabi2 itu walau sudah dialam barzah ber-abad2, namun mereka seolah-olah masih hidup, namanya dikenang, disebut2, pusara mereka didatangi. Foto2 maqam para nabi tsb. sdh kumuat sbg pengiring artikel2ku terdahulu. Kutambahkan di artikel ini maqam nabi Daud a.s. 2. ORANG YANG MENINGGALKAN KARYA Orang yg meninggalkan karya yang bermanfaat untuk kehidupan manusia, para penemu, penulis tulisan mencerdaskan ummat manusia, para nabi dan rasul. Contoh nabi Ibrahim dan nabi Muhammad, mereka tidaklah mati terbunuh dalam perang di jalan Allah. Tetapi kedua nabi ini terus hidup sepanjang masa insya Allah sampai hari kiamat. Khusus pemeluk agama Islam wajib menyebut namanya setiap shalat. Khusus nabi Ibrahim diakui oleh seluruh agama samawi. Perjuangan nabi Ibrahim memberikan contoh melaksanakan perintah Allah apapun risikonya. Nabi Muhammad dengan perjuangan menyampaikan risalah agama Allah. Contoh orang yang meninggalkan karya besar misalnya: * Imam Gazhali dengan tulisan2nya * di Indonesia diantaranya almarhum Hamka yang namanya tetap hidup di hati masyarakat, dengan begitu banyak buku2 yang ditulis beliau bernuansa agama. Diriku juga menulis, sampai saat ini 6 (enam) judul buku2 yang telah dipublish, akan tetapi sejauh ini karena buku2 tersebut tentang pengetahuan praktis tentang ilmu pengetahuan dunia non eksakta; validitasnya tunduk kepada waktu. Pengetahuan berpuluh tahun yang lalu, mungkin sudah tidak cocok lagi waktu sekarang, pengetahuan sekarang ada harapan tidak dipergunakan lagi sepuluh tahun yang akan datang, sudah ada pengetahuan baru. Kuiringi artikel ini dengan foto penyerahan buku tulisanku ke peserta suatu pelatihan. * Pendiri NOE dan pendiri Muhammadiyah namanya masih terus dikenang berarti beliau2 hidupnya panjang. 3. PARA PENEMU. Penemu listrik, penemu pesawat terbang dan alat2 transportasi, alat telekomunikasi, sarana sosmed dll. Namanya dikenang sepanjang masa. 4. Penguasa yang Dzalim. Penguasa yang dinilai sebagai orang kejam, dzalim seperti Hitler, Fir'aun hidup merekapun panjang. Fir'aun jenazah mereka di mummikan, dimasukkan ke museum, dikunjungi banyak orang sampai hari ini. Foto2 kunjungan kami ke museum Firaun sebagian tlh kusertakan di artikel2 yang lalu. Nah sebagai ikhtiar MEMPERPANJANG HIDUP, dalam artian positif, bila anda punya harta yang lumayan disisa usia anda gunakanlah harta itu buat investasi akhirat. Semisal: * ikut membesarkan lembaga2 pendidikan, * bila sanggup membangun sekolah, rumah ibadah. * Fasilitas umum dll yang berguna bagi masyarakat, sampai ke generasi yad. Berbahagialah orang yang dapat memperpanjang hidupnya karena sejatinya usia ini terbatas adanya. Perpanjangan hidup insya Allah dapat dilakukan dengan a.l.: * Meninggalkan AMAL JARIAH di atas. * Meninggalkan hasil perjuangan. * Mewariskan untuk umum hasil karya dan penemuan yang bermanfaat. * Menulis buku2 ilmu pengetahuan yang tidak tergerus zaman. Semoga Allah memberikan kemampuan menggunakan sisa hidup ini untuk meninggalkan amalan jariah, perjuangan untuk kemaslahatan ummat manusia atau dapat meninggalkan karya2 yang dapat dipergunakan sepanjang masa. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 16 Muharram 1444 H. 14 Agustus 2022. (1.014. 08.22)

PENYESUAIAN MENU

Perjalanan rombongan kami menuju masjidil Aqsha melalui Mesir-Palestina-Jordan, selama di tiga negara tersebut, sekurangnya kami sarapan pagi, makan siang dan makan malam sebanyak 24 kali. Sudah diinformasikan sebelum berangkat agar membawa bumbu2 makanan penunjang selera makan. Harus diakui bahwa terutama sarapan pagi dan makan malam yang umumnya di hotel, menu makanan tersaji; mewah dan lengkap, buah, roti sayur mayur dan lauk pauk, aneka juice. Kemewahan dan kelengkapan itu, sebagian tidak cocok dengan lidah umumnya dari rombongan kami. Hal ini menurutku wajar, karena apalagi antar bangsa, sedangkan antar daerah di negeri kita saja berbeda meracik bumbu masakan. Atas dasar apa yang dialami, pada giliran makan yang kedua dst, bila melihat suatu hidangan yang menarik dilihat mata, belum pernah diketahui sebelumnya, maka diambil sedikit terlebih dahulu, bila tak sesuai, tidak dimakan bila sesuai baru ambil lagi. Diriku pernah mengambil beberapa lonjor makanan sejenis sayuran warnanya kemerahan, menarik. Ternyata rasanya kecut menggetarkan lidah, lalu tidak dimakan. Lain lagi seorang semeja makan dengan kami, menyirami makanan di piringnya dengan cairan yang dikira “kecap”, ternyata adalah “coklat cair”. Tak sempat semua menu tersaji di meja untuk ku foto, ada sedikit kekhawitaran jika memfoto pihak restoran keberatan. Namun ada juga sempat tersimpan foto makanan setelah ada di meja seperti kuiringkan di artikel ini. Menu makanan yang begitu lengkap di restoran hotel, jelas tidak ditemukan di tiga kota yang kami kunjungi adalah: “Krupuk”, “Tempe” dan “Tahu”. Berbeda jauh dengan suasana makanan jika kita berhaji atau berumrah. Pernah di salah satu kesempatan umrah, kami disajikan menu makanan “Tahu” dan “Tempe”. Kupertanyakan kepada katering yang menghidangkan; ternyata “Tahu” dan “Tempe” nya “made in Japan”. Rasanya miriiip tapi juga ada bedanya. Kembali ke kisah tiga negara yang kami lalui (Mesir-Palestina-Jordan) dalam rangka memenuhi seruan Rasulullah ke masjidil Aqsha, agaknya tersedia peluang pasar untuk “Tahu”, “Tempe” dan juga “Krupuk”. Karena pengunjung tiga kota tersebut lumayan banyak berasal dari Indonesia. Bahkan ketika di Jerusalem rombongan kami suatu ketika bertemu di sebuah restoran ketika makan siang dengan serombongan yang mungkin sama besarnya dengan rombongan kami, mereka berasal dari Amerika, tetapi semua anggota rombongan mereka orang berasal dari Indonesia. Pimpinan rombongan memperkenalkan diri “saya adalah Pendeta dari Philadelphia”. Alangkah senangnya mereka bila tersedia menu Krupuk, Tahu dan Tempe, mereka akan ingat kembali dengan tanah kelahiran. Rombongan yang bukan muslim di kota tiga agama ini juga kami berjumpa di maqam nabi Daud a.s., di Bukit Zaitun (terdapat beberapa Gereja), di Bukit Golgota. Ketika di Jordan, Mr. Adnan Rawasydeh menjawab pertanyaanku mengatakan “dianya sering menjadi guide rombonngan non muslim, mengunjungi situs2 agama bersejarah di Jordan termasuk Petra” Demikian serba-serbi menu makanan dalam perjalanan kami, semoga ini semua menambah cakrawala pemahaman kita, bahwa ternyata sesuatu yang menurut bangsa lain enak, rupanya buat kita belum tentu enak. Sebaliknya tentu saja apa yang menurut kita enak belum tentu dirasakan enak oleh bangsa lain. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 18 Muharram 1444 H. 16 Agustus 2022. (1.015. 08.22)

HARI MERDEKA

Bilangan 17 adalah sama dengan jumlah rakaat shalat kaum muslimim sebagai mayoritas anak negeri di seluruh kepulauan Nusantara ini. Secara kebetulan ataukah sengaja dipilih oleh para tokoh bangsa ini ketika itu, menentukan tanggal Proklamasi di tanggal 17. Yang jelas kemerdekaan bangsa ini adalah “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan……..” (Pembukaan UUD 1945 alinea ke III) Hari ini 17 Agustus 2022, 77 tahun yg lalu Indonesia diploklamasikan sebagai bangsa merdeka oleh Soekarno-Hatta. Berabad perjuangan anak bangsa untuk kembali merdeka. Peperangan Badr, sebagai simbol kemenangan ummat yg sedikit (313 orang) berhadapan dengan kekuatan pasukan besar (1.000 orang) bersenjata canggih (pada zamannya) terjadi tgl 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah bertepatan tgl 13 Maret 624 Masehi. Kemungkinan besar momentum bilangan 17 ini diambil pemimpin2 bangsa ketika itu guna memicu semangat para pejuang sekaligus meraih ridha Allah. Sebagaimana terukir dalam sejarah, bahwa kemerdekaan yang diploklamirkan 17 Agustus 1945 itu, tidak langsung para pejuang waktu itu menikmati bangsa berdaulat. Penjajah belum terima, mereka dengan bantuan sekutu ingin menancapkan kuku penjajahan kembali. Disinilah mungkin hikmah semangat perang Badr buat anak bangsa pejuang waktu itu, hanya bermodalkan BAMBU RUNCING dan pekikan Allahu Akbar, dapat mempertahankan proklamasi. Dengan perjuangan yang gigih di medan perang dan diplomasi, bangsa ini pun di tahun 1950 berdaulat penuh. Betul2 menikmati kemerdekaan yang diperoleh "ATAS BERKAT RAKHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA……...". Sesuai dengan pembukaan UUD 1945 (alinea ke III) yang disahkan sehari sesudah proklamasi. "Atas berkat rakhmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya". Para pejuang pendiri bangsa ini insyaf dan sadar betul bahwa kemerdekaan bangsa ini, bukan se-mata2 hasil perjuangan mereka, tetapi ATAS KARUNIA ALLAH SWT. Sebagai anak bangsa yang kini sudah berusia kepala TUJUH, merasakan betapa nikmat kemerdekaan ini telah dirasakan, bila dibandingkan kisah dari nenek-kakek tentang bagaimana kesulitan ketika terjajah. Berbagai aspek kehidupan sebagai bangsa terjajah serba termarginalkan. Kini kita nikmati kemerdekaan, telah dilalui keadaan yang begitu stabil, keamanan, ketertiban dan perekonomian. Juga pernah pula bangsa ini alami masa sulit sandang dan pangan serta perekonomian susah (ingat zaman BULGUR), berpuncak tahun 1965 dengan peristiwa pemberontakan PKI. Namun pembangunan sesudah itu berjalan lancar rakyat sempat menikmati keadaan yang stabil, aman dan tentram. Pasang surut dan pasang naik silih berganti. Terjadi lagi kesulitan perekonomian, jalan2 sering macet lantaran kerumunan demontrasi. Adu pendapat di medsos demikian marak. Nyaris bangsa ini ter-petak2. Era beda pendapat telah berlalu kini kita bersama harusnya bersatu menuju yang dituju yaitu masyarakat adil dalam kemakmuran, makmur dengan keadilan. Aman tentram dengan kebahagiaan, dapat menjalankan perintah agama dengan leluasa. Harapan kita semua tentunya, bertitik tolak di tahun ke 77 kemerdekaan ini, mulai tertata kembali masyarakat tata tentram adil makmur dibawah ridha Allah. Teringatlah kita dengan warning Allah di surat An-Nahl 112. وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَا نَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَا نٍ فَكَفَرَتْ بِاَ نْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَا قَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُـوْعِ وَا لْخَـوْفِ بِمَا كَا نُوْا يَصْنَعُوْنَ "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat." Seluruh anak bangsa sebaiknya berhati-hati jangan sampai mengingkari nikmat2 Allah. Agar tidak tertimpa seperti di ujung ayat dikutip di atas. Perwujudan tidak mengingkari nikmat Allah adalah setiap anak bangsa harus taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Tidak ada lagi korupsi, memumpungkan jabatan. Perilaku taqwa harus dimiliki pejabat dan rakyat. DIRGAHAYU Republik Indonesia di kemerdekaan ke tujuh puluh tujuh. Mudah2 kemerdekaan dapat dipertahankan sampai kiamat. Indonesia secara kesuluruhan tetap berdaulat. Tidak hanya berdaulat dalam pemerintahan, tetapi juga dalam ekonomi, merdeka pula mengolah bumi dan kekayaan alam sendiri. Anak bangsa betul2 merdeka di negeri sendiri, tidak menjadi kuli di negeri sendiri, apalagi menjadi hamba sahaya di negara orang. Pokoknya tidak terjajah oleh bangsa lain dalam bentuk apapun yang bangsa lain buat. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 19 Muharram 1444 H. 17 Agustus 2022 (1,016.08.22)

PESAN PEJUANG KEMERDEKAAN.

Ku terlahir ketika Proklamasi kemerdakaan telah memasuki tahun ke lima. Ayahku almarhum, termasuk masih merasakan getir pahit zaman Belanda dan Jepang. Sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan, hari proklamasi 17 Agustus selama beliau masih hidup, sangat beliau tunggu, ikut upacara diundang oleh Pemda setempat. Di tahun terakhir hidup ayahku di Agustus 1997 ku pernah menyusunkan naskah pidato yang akan beliau sampaikan di resepsi ULTAH kemerdekaan di Kabupaten domisili ayahku. Beliau mendiktekan butir2 pesan yang ingin beliau sampaikan dalam pidato itu nanti. Diriku diminta menyusunkan dalam naskah terketik format redaksi suatu sambutan. Oleh Panitia beliau sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan diminta menyampaikan pesan2 ke generasi penerus. Itulah rupanya saat terakhir ayahandaku berdiri di podium membaca naskah pidato, naskah didekatkan ke mata. Tak heran anak2nya menyimpan foto itu sbg kenang2an. (seperti kusertakan di artikel ini) Semasa hidupnya terlebih di suasana HUT kemerdekaan seperti hari ini, tak habis2nya beliau mengenang sahabat2 sebayanya yang gugur diusia muda sebagai pahlawan kusuma bangsa. Kalaupun masih hidup, rekan2 seangkatan ayahku itu, sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan sudah tidak banyak lagi. Tentu usia mereka yang masih hidup mendekati seabad atau ada yang lebih. Tinggal lah kita2 sebagai generasi penerus menikmati, mengisi kemerdekaan yang mereka wariskan. Menyoal kemerdekaan, suasananya yang ingin tercipta sebagai bangsa yang merdeka idealnya adalah: 1. Aman dari segala kejahatan. 2. Tentram, bebas keresahan. 3. Makmur, sejahtera. Negara seperti tsb yang dilambangkan Al-Qur'an (Saba 15) بَلْدَةٌۭ طَيِّبَةٌۭ وَرَبٌّ غَفُورٌۭ (negeri yang baik dalam ampunan Allah) Untuk mendapatkan ketiga hal tersebut di atas konsep Al-Qur’an adalah jelas yaitu seperti ternukil di awal ayat 96 dari surat Al-A’raf: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرٰىٓ ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,……………...” Namun hati2 bila kelimpahan berkah, berupa kemakmuran, berupa keamanan, berupa ketentraman itu tidak disyukuri dan bahkan mendustakan bahwa semua itu adalah karunia Allah. Selanjutnya “mendabik” dada bahwa semua kemakmuran, keamanan, ketentraman itu adalah lantaran “kerja keras” dari pemimpin dan rakyatnya dengan menafikan “atas Berkat Rahmat Allah……...” seperti ketika mendapatkan kemerdekaan (alinea ke III pembukaan UUD 1945) maka waspadalah ancaman Allah di akhir ayat 96 surat Al-A’raf: وَلٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ “……..tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." Allah akan cabut kenikmatan kemerdekaan itu apabila: Warga di negara itu mengingkari nikmat-nikmat Allah; فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ ٱللَّهِ Maka Allah akan mencabut nikmat kemerdekaan itu dan bahkan Allah akan menimpakan: Kelaparan ( ٱلْجُوعِ ) Ketakutan ( وَٱلْخَوْفِ ) Seperti yang diberi perumpamaan oleh Allah di Surat An-Nahl ayat 112 yg dikutip penggalannya di atas dan lengkapnya sbb: وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذٰقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat." Harapan kita agar nikmat sebagai bangsa merdeka, kian hari kian sempurna sesuai dengan apa yang di-cita2kan para pejuang kemerdekaan. Semoga kemerdekaan bangsa ini baik secara ekonomi, politik dan keamanan serta seluruh pengatur kehidupan berbangsa dan bernegara terus terjaga. Setiap warga bangsa berkewajiban menjaga kemerdekaan ini, dari pemimpin tertinggi sampai ke rakyat terendah yang dipimpin. Jangan rela kemerdekaan sebagai bangsa dan sebagai individu terampas. Karena betapa pedihnya terjajah dibidang apapun. Kata kuncinya mensyukuri nikmat kemerdekaan ini, dengan bekerja keras, namun tidak menafikan peran Allah disetiap kesuksesan yang diperoleh. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 20 Muharram 1444 H. 18 Agustus 2022 (1,017.08.22)

KANDUNGAN KEHIDUPAN

Manusia hadir ke dunia ini atas kehendak YANG MAHA KUASA. Tak seorangpun pernah merasa mengisi aplikasi mendaftar untuk hidup di dunia ini. Keberadaan di dunia berbilang tahun sekitar dua digit, jarang sekali tiga digit tahun, dimana didalam kehidupan yang singkat itu terkandung 4 (empat) hal kemungkinan dijumpai yaitu: 1. Senang, suka, bahagia. 2. Sedih, susah, duka. 3. Sehat. 4. Sakit. Senang, suka, bahagia. Kesenangan, suka cita dan kebahagiaan. Sering dilambangkan dengan kesuksesan, limpahan materi, berkedudukan terpandang. Walaupun ukuran bahagia tak mesti indikatornya sukses, berlimpah materi dan kedudukan tinggi. SEDIH, SUSAH, DUKA. Kesedihan, kesusahan, duka nestapa, disebabkan kegagalan, hilangnya harta benda, hilangnya jiwa sanak keluarga atau orang tercinta, turun jabatan. Kadang terselip hikmah besar di dalam duka dan kehilangan serta kegagalan. SEHAT. Dambaan setiap orang untuk selalu sehat, namun dalam rentang kehidupan yang membentang dari lahir ke ajal ter-isi-lah dengan sehat dan sakit. Jasmani sakit ikhtiarkan berobat. Rohani sakit kepada Allah mendekat. Bila berdosa hendaklah bertaubat. Lakukan segera sebelum terlambat. SAKIT. Keadaan phisik, perasaan yang beda dari keadaan normal. Semua orang merasakan sakit. Kadar sakitnya saja yang tak sama. Rata2 manula kebagian penyakit kronis, inipun beda setiap individu. Asik ngobrol sesama manula berpenyakit kronis di ruang tunggu poli rumkit. Ternyata penyakit masing2 bervariasi. Ada yang kena diabet tanpa kolesterol. Ada yang kolesterol tidak diabet. Ada penderita jantung rangkap diabet. Bab jantung ada yang penyempitan, ada yang klep, ada yang aritme. Aritme macam2 lagi: Ada yang denyut nadi ketinggian, kerendahan dlsb. Sadarlah kita bahwa KANDUNGAN HIDUP kita masing2 walau kelompoknya sama seperti saya ungkap di awal tulisan ini, namun variasi KANDUNGAN HIDUP tiap individu beragam, sekalipun kembar identik. Semua telah ditentukan oleh YANG MAHA KUASA. Seluruh kandungan hidup ini dalam terninologi iman disebut TAQDIR. Dalam menjalani hidup ini, ketika datang KANDUNGAN HIDUP silih berganti dalam wujud apapun janganlah sampai kita termasuk kelompok manusia seperti disebutkan Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 83: وَاِذَاۤ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖ ۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَـئُوْسًا "Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa". Hendaklah dipahami bahwa apapun yang terjadi hakikatnya, telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ فِى الْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَّبْرَأَهَآ  ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah" (QS. Al-Hadid 57: Ayat 22). Dengan demikian jika sukses, sehat kita tidak terlena. Sebaliknya jika susah, sedih, gagal, sakit, tidak kecewa berkepanjangan. لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتٰىكُمْ  ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ "Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri," (QS. Al-Hadid 57: Ayat 23) Semoga kita termasuk orang yang bersabar ketika mengalami musibah, bersyukur bila mendapat keberuntungan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 22 Muharram 1444 H. 20 Agustus 2022. (1.018. 08.22)

Menyikapi AIR

Berbahagia dan bersyukur yang tidak terhingga bangsa Indonesia kepada Allah, bahwa relatif persoalan air tidak begitu bermasalah buat daerah2 di Indosesia. Musim hujan dan musim kemarau hampir teratur, seimbang. Dengan demikian tersedianya air boleh dikatakan tersedia sepanjang waktu. Walau daerah2 tertentu di negeri ini ada juga air manjadi masalah di musim kemarau. Diriku pernah berdomisili lebih lima tahunan di daerah yang sulit air, belum tersedia PDAM, tapi tetap masih mendapatkan air untuk minum dengan membuat sumur dalam, lebih dari 20 meter, dengan struktur tanah batu kapur keras lebih dari enam meter. Berakhir tugas dari daerah “sumur dalam” itu, aku dan keluarga pindah tugas lagi di daerah yang air tawarnya tergantung air hujan. Rumah2 orang berduit, di bawah rumahnya dibuat bak penampung air, termasuk dirumah “dinas kontrakan kantorku” yang kutempati, terdapat penampungan air hujan yang besar dibawah rumah. Di daerah kusebut terakhir, berada 0,80 meter di bawah permukaan laut, tanah digali dua meter saja sudah keluar air, tapi airnya tak layak untuk mandi apa lagi untuk diminum. Untungnya di daerah ini sudah tersedia PDAM, sayangnya sumber air yang diolah PDAM berasal dari sungai. Dimana itu sungai bila dua minggu saja tidak hujan, air laut dari muara akan terdorong masuk ke sungai, airnya menjadi payau. PDAM pun terganggu produksinya, kran pelanggan PDAM pun tidak ngocor lancar lagi. 7 tahun ku bertugas di daerah tersebut, pernah terjadi kemarau panjang, sampai bak penampungan air di rumah dinas kudiami bersama keluarga terkuras habis. Kantor pusat atas usulan cabang tempat kami bertugas tersebut memberikan tambahan gaji berupa “Tunjangan Air”. Disaat seperti itu ada pekerjaan tambahan, malam2 kami pergi berburu air bersih di gedung2 besar yang masih punya air di bak penampungan air hujan mereka. Pernah terjadi pas harus berburu air, diriku tidak dikota kumaksud, ditugaskan belajar ke Jakarta. Apaboleh buat istriku dengan dua anakku yang masih duduk di SD kelas satu dan kelas dua, setiap malam hari nyetir mobil sendiri membawa dua galon 30 liter ke gedung yang diinformasikan masih tersedia air tampungan air hujan, ku tak tau gimana istriku mengangkat galon itu. Cerita lain, menyikapi sulitnya air bersih itu teman2 sejawatku, mandi berdiri diatas baskom besar, air limbah mandi ditampung di baskom, dimanfaatkan untuk menyiram tanaman di taman. Begitulah sekilas perihal kesulitan air di dua daerah yang pernah ku alami, sulit juga akan menentukan judul artikel ini; semula mau kuberi judul “Hargailah Air”, tapi kupikir bukan soal harga, karena bila bicara soal harga, lantas soal rupiah, soal duit. Waktu itu bukannya berapa duit seperti sekarang. Air kemasan dalam galon ketika di tahun2 sekitar 85 an itu belum seperti sekarang terutama di daerah2. Mendekati kami pindah dari daerah tsb barulah kemasan galon air bersih itu muncul. Bila ku buat judul “Hormatilah Air”, lebih tak pantas lagi, karena bicara soal hormat jadi lain, pihak yang memberi hormat harus memposisikan diri lebih rendah dari yang dihormati. Makanya judul diatas kupilih saja “Menyikapi Air”. Teringat tahun 1991, ketika menunaikan ibadah haji. Aku melihat sendiri bagaimana orang negeri2 Timur Tengah dan Africa “menyikapi air”. Aku pernah melihat ketika aku makan di sejenis warteg di Mekkah, Madinah; tamu di suatu meja sudah pergi, masuk tamu baru. Si tamu baru tidak ragu2 meminum air yang ditinggalkan tamu sebelumnya di atas meja. Pelayan sejenis warung tersebut kalau ybs minta air langsung menuangkan ke gelas yang ada di meja. Sekali waktu, sesudah maghrib menjelang isya menunggu waktu adzan, kumemilih berjalan di lantai paling atas Masjidil Haram. Kubawa satu kantong plastik ukuran setengah kg kuisi air zam-zam (ketika itu lokasi sumur zam-zam masih terbuka, menuruni tangga) hampir penuh, mulut kantong plastik kumasuki sedotan diikat karet gelang ku pegang di tangan kanan sambil berjalan perlahan. Rencanaku bila ku haus dalam perjalanan itu, atau nanti usai shalat haus bekal ini akan kusedot sedikit2. Beberapa kali dalam perjalanan itu, bertemu orang2 (bukan asal Asia), meminta air yang kubawa (waktu itu gentong air zam2 (dulu berwarna oranye) tidak tersedia banyak di lantai paling atas itu, ndak tau sekarang). Setelah menyedot air bekalku itu, kantong sangu airku itu dikembalikan lagi kepadaku. Ingatkanku kembali ke warung makan kutulis di alinea ini. Begini pikirku mereka menyikapi air, tidak khawatir atau risih minum bekas mulut orang lain. Baru2 ini (18-28 Juni 2022) dalam perjalan kami ke masjidil Aqsha melalui Mesir, Jerusalem dan Jordan, kembali kumelihat lagi bagaimana kesulitan air di negeri yang kami lalui, seperti yang telah kusinggung dalam artikel2 sebelumnya. Dimana kadang ada restoran yang tidak menyediakan air minum. Toilet rumah makan yang tidak tersedia air yang cukup, ada masjid yang kami singgahi untuk berwudhu saja kran airnya hanya satu, itupun nyaris hanya menetes. Untungnya di hotel2 tempat kami menginap tidak masalah soal air di kamar mandi. Namun soal air minum meskipun ada, tidak semewah restoran hotel di tanah air, dimana pelayan restoran di negeri kita siap menuangkan air minum ke gelas yang tersedia di meja makan. Menyikapi air ini, menjelang keberangkatan pulang ke tanah air melalui bandara “Queen Alia” Jordan 27 Juni 2022, aku dan istri sengaja berbekal air yang diperoleh dari restoran terakhir makan siang di Jordan sebotol kemasan 1 liter dan 1 botol kemasan 320 ml. Direncanakan untuk minum selama menunggu di bandara ketika sebelum masuk ruang tunggu dan mencoba membawa botol minuman masuk ke ruang tunggu siapa tau diijinkan (dibanyak bandara tdk dijinkan) bakal di minum sebelum boarding. Ternyata ketika masuk ke ruang tunggu, petugas juga melarang membawa botol minuman. Disediakan tempat duduk di depan pintu ruang tunggu, untuk meminum lebih dahulu air yang dibawa. Jelas tidak terminum semua air itu, dengan berat hati botol yang masih ada isinya itu ditinggalkan di depan ruang tunggu, bergelimpanganlah botol2 yang masih berisi air didepan petugas ruang tunggu, kemudian mereka pungut dimasukkan ke keranjang sampah. Sampai di ruang tunggu, karena masih lama waktu boarding, haus datang lagi, saatnya harus mencari air minum, tersedia toko penjual air minum dengan harga 1 Dinar ukuran 320 ml. Bila dibayar dengan dolar Amerika satu setengah dolar. Tidak masalah, yang panting dahaga teratasi. Dapat dipetik dari peristiwa ini adalah: Sekali lagi bersyukur kita terlahir dan berdiam di negeri yang boleh dikata mewah dan murah air. Harga sebotol air 320 ml. Di negeri orang sampai lebih dari 20 ribu rupiah. Begitu pentingnya “air” dalam kehidupan di dunia, karena memang segala yang hidup berasal dari air dan sangat membutuhkan air. Persis seperti firman Allah (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 30). "………………. ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ  ۖ ……………………………………………………………...” ………………...”; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; …………….." Nabi Muhammad s.a.w. berpesan kepada kita agar menghemat air, sampai2 untuk wudhu-pun air harus dihemat seperti hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ، وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ، إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud (air) dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud (air)” (HR. Bukhari no. 198 dan Muslim no. 325). Satu sha’ sama dengan empat mud. Satu mud kurang lebih setengah liter atau kurang lebih (seukuran) memenuhi dua telapak tangan orang dewasa. Tegasnya begitu hematnya berwudhu hanya menggunakan air setengah liter air. Semoga kita semakin bersyukur atas nikmat Allah untuk negeri kita khususnya mengenai air, namun demikian seyogyanyalah kitapun menghemat penggunaan air dalam rangka mengamalkan sunnah Rasulullah Muhammad s.a.w. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 23 Muharram 1444 H. 21 Agustus 2022. (1.019. 08.22)

IRI HATI menyiksa DIRI menghilangkan MALU.

“Apabila dengki sudah bertanah Datanglah daripadanya beberapa anak panah” Bait tersebut ku kutip dari “Gurindam Dua Belas” pasal yang keempat karangan Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat dipublikasikan tahun 1263 H tanggal 23 Rajab. Naskah yang kudapat ketika berkunjung ke Pulau Penyengat, Kepulauan Riau 21 Nopember 2013. Kunjungan ke pulau Penyengat, setelah menjadi Nara Sumber dalam suatu pelatihan yang diadakan suatu dinas di Provinsi tersebut di Tanjungpinang. Sengaja kudatangi pulau yang harus menyeberang dari kota Tanjungpinang dengan sejenis perahu motor belasan menit itu, karena tergelitik hati ingin nyaksikan masjid yang konon dibangun merangkai dindingnya dengan “putih telor”. Alhamdulillah nyampai, sempat pula mengabadikan dengan foto2. Bait gurindam tersebut kucoba menterjemahkannya: Jika dengki sudah diberi tanah di hati sehingga sifat itupun tumbuh subur, maka akan datanglah sejumlah senjata dilambangkan anak panah. Senjata berupa anak panah tersebut siap untuk diserangkan kepada orang lain, kepada siapa kita menaruh dengki atau iri hati. Kadang untuk membidikkan anak panah itu ke sasarannya, orang yang memelihara dengki itu, akan berikhtiar sedemikian rupa, menghilangkan gawe kerja (kegiatan rutin), terbuang waktu sia-sia. Tidak jarang untuk mewujudkan pemuasan hati karena dengki itu, si pendengki sampai gelisah, susah tidur dan bahkan kehilangan pertimbangan logis atau bahasa gaulnya “hilang malu”. Sebelum tahun 1973, diriku masih menggeluti profesi sebagai wartawan. Lazim ketika itu bila sekelompok wartawan diundang oleh suatu instansi mengkikuti perjalanan ke suatu daerah, sebelum berangkat atau sesudah sampai di tempat tujuan, kepada kami dibagikan semacam uang transport sejumlah tertentu di dalam amplop. Pembagian “uang transport” tersebut dapat saja terjadi di hadapan sejumlah wartawan yang diundang dalam rombongan, sehingga masing-masing wartawan saling mengetahui tentang keberadaan amplop itu. Sesampai di tempat tujuan, oleh pengundang telah pula disediakan penginapan. Maklum ketika itu di daerah setingkat kabupaten belum banyak hotel tersedia seperti sekarang, di daerah yang kami kunjungi kami diinapkan oleh pengundang di dalam sebuah mess dengan ruangan besar. Dalam ruangan itu tempat tidur kami bersusun dua. Begitu besar ruangan itu cukup tertampung kami orang dua belas. Lay out tempat tidur susun membentuk huruf “U” bagian menuju pintu tidak diisi tempat tidur. Kamar mandi dan Toilet tersedia di luar kamar. AC ketika itu belum populer, apalagi undangan yang kami hadiri itu di daerah yang udaranya sejuk. Kami se profesi apalagi kalau bertugas di satu bidang penugasan biarpun berlainan surat kabar/media, tetapi sering kumpul dan oleh karenanya faham betul secara garis besar pembawaan, hobby dan watak masing-masing. Salah seorang kami diketahui oleh banyak teman punya sifat “Dengki”. Kuingat ketika itu ada pembagian bidang tugas misalnya wartawan bidang: ekonomi, politik, hukum, kriminal dan lain2. Ku tidak tau lagi sekarang setelah profesi itu kutinggalkan sejak Juli 1973 beralih ke perbankan. Kami waktu itu kebanyakan masih muda-muda dan kebetulan diriku belum genap duapuluh tahun (paling muda dirombongan itu), masih suka berbuat iseng. Karena kami tau sifat teman yang satu itu pendengki, maka diriku sengaja diatur, pura pura membuka amplop yang dibagikan oleh panitia, dimana sebelumnya amplop tersebut diam-diam sudah ditambah dengan isi amplop dua orang rekan lainnya. Pembukaan amplop disiasati sedemikian rupa, sembunyi-sembunyi sepertinya agar tidak diketahui orang lain, tetapi diupayakan agar si pendengki dapat melihat dan memancing dia bertanya. Benar juga diapun akhirnya bertanya, karena melihat tebal dan hitungannya cukup lama. Sejurus kemudian si pendengkipun menuju kamar mandi dan ketika keluar dari kamar mandi telah nampak perubahan air mukanya. Acara hari itu berjalan padat, sampai sore hari kamipun diantar panitia menuju penginapan dengan tempat tidur susun kami. Entah bagaimana pengaturannya diriku dapat tempat di atas dan si pendengki pas berada di bawah tempat tidurku, jadi aku tak dapat memonitor si pendengki tentang bagaimana dianya sebelum tidur. Temanku yang berhadapan-hadapan dengan tempat tidurku di ranjang susun atas, sekali sekali mengacungkan jempolnya kepadaku. Rupanya temanku tadi dapat memantau bagaimana gelisahnya si pendengki mencari posisi tidur malam itu, sebentar telentang, sebentar miring kiri dan sebentar miring kanan. Rupanya si pendengki gelisah teramat sangat. Benar juga besok pagi ketika sarapan, yang bersangkutan belum muncul. Terakhir kami ketahui, bahwa yang bersangkutan sebelum sarapan pagi menemui pembagi amplop, mengkonfirmasi ke panitia, tentang berapa sesungguhnya isi amplop, karena dia merasa di “anak tirikan” diberi jumlah hanya sepertiga. Sebab beberapa orang ketika dimintakan informasi ada yang menjawab belum sempat buka, ada yang jawab yaaah samalah dengan teman-teman lainnya. Begitulah sifat DENGKI ternyata terbukti menyiksa diri, buktinya gelisah tidur, dan hilang malu menanyakan ke panitia. Untungnya setelah itu suasana begitu padat dan tidak sempat dianya mendampratku, sebab padat dengan acara sampai kami pulang ke pos masing-masing. Namun setiap ketemu lagi dengan teman-teman lain di kesempatan berikutnya, cerita tersebut cukup membuat kami tertawa renyah. Guna mengendalikan diri kecenderungan untuk Iri Hati, mari kita cermati petunjuk Allah dikutip dua ayat dan satu hadist berikut ini. وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْض "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain……………………………………………...” (QS. An-Nisa' 4: Ayat 32) وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ فِى الرِّزْقِ  ۚ "Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki,…………..” (QS. An-Nahl 16: Ayat 71) Meskipun demikian, ada iri yang dibolehkan oleh nabi Muhammad saw. Iri hati yang dimaksud adalah keinginan untuk menyamai orang dermawan dan ahli Al-Qur’an. Dalam hadits riwayat Bukhari, Nabi Muhammad saw bersabda: عَن ابنِ عُمَرَ رَضي اللٌهُ عَنهاَ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلٌي اللٌهُ عَلَيهِ وَ سَلٌم لآحَسَدَ ألآ فيِ اثنَتَينِ رَجُلُ اتَاهُ اللٌهُ القُرانَ فَهُو يَقُومُ بِه انَأءَ اللًيلِ وَانَأءَ النَهَارِ وَرَجُلُ اعطَاهُ مَالآ فَهُوَ يُنفق مِنهُ انَأءَ الٌلَيِل وَانَأءَ النٌهَارِ. (رواه البخارى ومسلم والترمذى والنسائى وأبن ماجه). Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak diperbolehkan hasad (iri hati) kecuali terhadap dua orang: Orang yang dikaruniai Allah (kemampuan membaca/menghafal Al Qur’an). Lalu ia membacanya malam dan siang hari, dan orang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakannya pada malam dan siang hari.” (HR. Bukhari, Tarmidzi, dan Nasa’i). Semoga Allah memeliharakan diri kita dari sifat2 yang merusak diri diantaranyanya “IRI HATI” kecuali Iri Hati yang positip, sehingga hidup penuh ketenangan dan kedamaian diiringi keridhaan Allah. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 24 Muharram 1444 H. 22 Agustus 2022. (1.020. 08.22)