Monday, 20 July 2015

BATU AKIK jadi TERSANGKA



Sobatku yang kini masih menjabat salah seorang Direktur di perusahaan milik Negara. Tak diduga dapat bersama saya di Solo ketika lebaran Idul Fitri 1436 H. Pas di hari ke tiga seusai mengikuti acara reuni keluarga se uyut isteri saya, sobat tersebut kuhubungi, beliau ada kesanggupan menjemput kami Ba’da Magrib di tempat nginap kami di rumah kerabat di bilangan bandara Adi Soemarno Solo. Sobat ku ini sejatinya dua tahun belakangan ini berdinas di Medan berdiam di Jakarta termasuk kelompok BPSPJS (Berangkat pagi Senen, Pulang Jum’at sore). Keberadaan beliau di Solo, memang tiap lebaran mudik kerena memang dianya wong solo.
Lantaran driver-nya ikutan cuti, sobatku ini nyetir sendiri kendaraan menjemput kami,  maksud kami malam itu meluncur menuju kota. Beliau ingin mengajak saya melihat kota Solo di waktu malam, juga sakalian untuk makan malam di restoran dengan masakan dan pelayanan keunikan Solo. Rupanya perjalan kami tidak lancar, jalan-jalan macet tersendat-sendat tambahan lagi lampu pengatur lalu lintas, merahnya lama dan hijaunya sebentar sekali, baru saja lewat dua atau tiga mobil udah merah lagi. Antri melalui lampu pengatur lalu lintas memperlambat jalan yang dipadati oleh mobil ber nomor polisi “B”. Agaknya kemacetan Jakarta malam itu pindah ke Solo. Kesempatan ini tentu sangat menyenangkan buatku bersama isteri, karena beberapa kali ku ke Solo, hanya tau hotel-bandara atau hotel-stasiun KA. ketika dalam kesempatan-kesempatan sebelumnya memenuhi undangan pelatihan-pelatihan.
Menikmati kemacetan itu, agar tidak bosan, saya terlirik ke tangan kiri sobat ku itu, iseng ku kemonteri bahwa di jari-jari beliau tidak terlihat adanya “Batu Akik”. “Pak, rupanya Bapak tidak termasuk penggemar Batu Akik?”. tanyaku. Beliau menjawab: ”Betul, semula saya tak gemar Batu Akik, tapi sekarang terpaksa ikutan pakai, ini lihat”, sambil melepas cincin batu akik dari tangan kanan-nya. Tadi saya tidak melihatnya karena rupanya di kenakan di jari sebelah kanan. “Kenapa sekarang jadi ikutan Pak”, kulanjut bertanya. “Ceritanya saya di bilang tidak sopan oleh kolega saya pejabat sebuah bank”, kata kolega saya itu “Jari yang tidak ada cincin batu akik itu hanya jari kaki, jadi Bapak tidak sopan menaruh jari kaki di atas meja”. (maksud kolega saya itu jari  tangan saya sama dengan jari kaki, karena tidak tersirat cincin berpermata batu akik). “Semenjak itu saya ikutan mencari batu akik dan memakainya di jari sebelah kanan, sebab tangan kanan inilah yang selalu berhubungan dengan orang, takut dibilang tidak sopan, menyalami orang dengan jari kaki”.
Kuteruskan pembicaraan. Kukatakan kepada sobatku itu, “hati-hati bencincinkan batu akik”. “Kenapa rupanya tanya beliau”. “Bagi kita yang shalat, berwudu’ pakai batu akik, tidak sah wudu’nya”, jawabku. Pernyataan memposisikan batu akik menjadi tersangka membatalkan wudu’ ini menjadikan beliau agak terkaget sambil menegaskan, bahwa beliau memakai batu akik, agak longgar, jadi air wudu’ sempat membasahi semua anggota wudu’. Selain itu, beliau juga cukup hati-hati kalau wudu’, cincin batu akik miliknya dilepas dulu, selesai wudu’ barulah dipakai lagi. Kutambahkan: “Meskipun begitu pak, tetap saja berwudu’ dengan batu akik tidak sah wudu’nya”. Setelah diam beberapa saat diselingi kemacetan jalan di Solo malam itu, beliau meminta dalil hadist tentang tidak sahnya wudu’ memakai batu akik. Agaknya sobatku itu penasaran, sambil menggenang berapa lama sudah wudu’nya tidak sah dan tentu shalatnyapun tidak sah semenjak ikutan memakai batu akik.
Aku sengaja diam agak lama, memancing komentar lebih lanjut dari beliau tentang pernyataanku “Batu akik menjadi tersangka membuat wudu’ tidak sah”. Beliau pun agaknya menerawang, betapa para guru-guru agama, ustadz dan para alim, baik di seputar kediamannya di kawasan Bekasi, di Medan tempat dianya bertugas kini, di Yogya, di Ujung Pandang dan di hampir seluruh tempat dia pernah bertugas selama masih aktif sebagai pejabat Perusahaan Milik Negara, dia banyangkan bahwa mereka pada ustadz dan orang-orang alim tersebut hampir tidak ada yang tidak memakai cincin berpermata, setara batu akik. Agaknya statement ku itu perlu didalami dan dimintakan dalil hadistnya. Menjadikan batu akik menjadi tersangka pembuat tidak sahnya wudu’ ini perlu diadakan penyelidikan lebih dalam.
Setelah melawati salah satu perempatan lampu pengatur lalu lintas, ku jelaskan kepada sobatku itu: “Tenang saja pak, selama Bapak jika ber wudu dengan memakai air, atau bertayamun memakai debu, wudu’ dan tayamun Bapak adalah sah. Tetapi jika Bapak berwudu’ dengan memakai batu akik  walau ribuan batu akik bapak pakai untuk berwudu’, tetap saja tidak sah, walau batu akiknya harganya ratusan atau jutaan rupiah per butir, bapak kumpulkan ber ember-embar dipakai wudu’, tetap saja tidak sah”.
“Oh jadi ini tadi goyon tah”, komentar beliau. Tidak terasa kami sudah menikmati kemacetan Solo di waktu malam hari ketiga lebaran idul fitri 1436 H ini dengan santai, kemudian setelah melewati “Mangkunegaran” dapat parkir disebelah kiri Restoran “Omah Sinten” dan menikmati makan malam yang dihidangkan dengan cara unik, belum keketahui sebelumnya.
Terimakasih, para pembaca telah menyempatkan memabaca tulisanku ini diiringi permohonan maaf lahir dan batin, minal aidin wal fa izin. Selamat Idul Fitri 1436 H. Jangan Berwudu’ pakai batu akik, pakailah air yang memenuhi syarat. Semoga Allah mememiliharakan ke taqwaan yang telah diperoleh selama Ramadhan dengan meningkatnya amal kebaikan kita pasca Ramadhan.

Wednesday, 1 July 2015

STATUS



Orang sudah berkeluarga/berumah tangga, dalam KTP disebut berstatus “Sudah Kawin”, pemuda pemudi yang belum menikah masih sekolah atau mahasiswa, tertulis dalam status di KTP “Pelajar atau Mahasiswa”. Ini pengertian status persi kartu penduduk.
Dikenal dalam masyakarat dengan status sosial; “orang terkenal”, berstatus “berpendidikan tiggi”, berstatus “bangsawan” berstatus “karyawan”, berstatus “pengusaha”  tidak bekerja lagi berstatus “pensiun”, berstatus “pengangguran”
Sadar status agaknya penting dalam menjalani hidup ini. supaya cocok menempatkan diri di status yang sedang dimiliki, tak salah tingkah dalam status apapun. Banyak kasus orang yang kurang memahami status, salah tingkah dalam menjalani sisa hidup. Ketika sudah pensiun awak masih saja merasa berstatus seperti status lama. Kalau kebetulan awak dulunya berstatus punya jabatan tinggi, setelah kehilangan jabatan itu status itupun masih juga terasa dimiliki,  merasa harus dihormati, harus  mendapatkan fasilitas/kemudahan seperti ketika memegang status tersebut, maka susahlah awak jadinya. Orang lain pun akan mencibir, jauh ditunjuk orang dengan telunjuk, dekat ditunjuk orang dengan mulut.
Masalah status ini sering kukisahkan ke kerabat dekat, ke audience ku dalam banyak kesempatan dengan mengemukakan contoh. Seorang dosen kita memberi kuliah di depan kelas, dalam area kampus, dianya diakui berstatus sebagai dosen. Di dalam kelas ia dapat memberikan instrusksi-instruksi kepada mahasiswanya sesuai kewenangannya sebagai dosen. Dilain pihak, mahasiswa dalam status sebagai mahasiswa haruslah mentaati apa yang diperintahkan dosen.
Seusai jam kuliah (sudah sore), ketika akan pulang hujan turun cukup lebat, ada seorang mahasiswa yang belum pulang, rupanya dianya terbiasa pulang pergi ke kampus dengan kendaraan umum. Sempat tertlibat ngomong dengan dosen sambil menunggu curah hujan agak mereda. Ternyata si mahasiswa pulangnya searah dengan dosen yang kebetulan membawa mobil. Setelah dialog singkat dan hujan sedikit reda, si dosen memberi tumpangan kepada si mahasiswa. Dalam perjalanan status sudah berubah, pemilik mobil dan penumpang. Bagaimana si mahasiswa bersikap dalam mobil si dosen tentu ada adabnya sendiri. Tidak sopan tentunya kalau si mahasiswa duduk di jok belakang, sementara si dosen menyetir mobilnya. Kalau si dosen mempunyai supir, tentu tidak sopan kalau si mahasiswa duduk di jok belakang bersama si dosen, kecuali memang diminta.
Rupanya dalam penjalalan hujun turun lebat lagi. Pas sampai dirumah si mahasiswa, dengan pertimbangan nanti banyak genangan air di jalan membuat mobil rawan mogok, mahasiswa mempersilahkan meneduh dulu di rumah kediaman orang tua si mahasiswa yang cukup besar dan boleh dikata mewah. Dosen diterima duduk di kursi di ruang tamu. Kini status sudah berubah lagi, mahasiswa sebagai tuan rumah, si dosen sebagai tamu. Berlakulah adab tamu yang harus dipatuhi dan adab tuan rumah yang harus dijalankan. Tamu tentu tidak boleh nyelonong masuk ke ruang lain selain ruang tamu, seklipun harus ke toilet, harus seijin tuan rumah. Tuan rumah harus menghormati tamu selama menanti hujan reda itu, walau sudah ngantuk, sebaiknya jangan diperlihatkan. Bagaimana kalau hujan semakin lebat dan diperkirakan kalau dosen tersebut melanjutkan perjalanan akan terjebak banjir, adalah baik jika mobil pak dosen di parkir di tempat aman di halaman rumah dan adalah baik juga jika anjurkan si dosen nginap. Persiapkan kamar tamu yang ada di rumah dan tentu sebelumnya dikenalkan dengan ortu pemilik rumah. si mahasiswa berstatus bukan pemilik rumah tentunya meminta izin terlebih dahulu kepada ortu jika ingin menawarkan dosennya menginap. Begitulah seterusnya status mudah sekali berubah.
Figur dalam sajarah yang sukses menyesuaikan diri dengan status adalah dikenal Khalid bin Walid. Dianya pernah berstatus sebagai musuh pasukan Islam ketika dalam perang Uhud, ia menjadi panglima pasukan Makkah melawan pasukan tenttara Islam. Khalid bin Walid mampu mengubah keadaan kekalahan menjadi kemanangan.
Selanjutnya figur Khalid bin Walid masuk Islam setelah penjanjian Hudaybiyah ini mengubah status beliau lagi menjadi panglima tertinggi pasukan Islam yang belum ada tandingannya dalam sejarah Islam, menjadi panglima tertinggi di lebih dari 100 pertempuran dan selalu menang. Tetapi ketika Khalifah Abubakar wafat digantikan Umar Status Khalid bin Walid dari pangalima di copot digantikan Abu Ubaydah. Dalam pertempuran menaklukan Syams dia bertempur terus dengan mengamban status sebagai prajurit biasa. Prinsip yang dia pegang adalah; dia berjuang bukan untuk seseorang, tetapi berjuang untuk Allah.
Kiranya pantas di teladani sikap dari Khalid bin Walid ini, ketika kita gonta ganti status, baik terjadi kerena alamiah, atau mungkin karena terpaksa. Tidak ada salahnya ketika status kita sudah berubah, kitapun mulai berjuang lagi dengan status yang baru tersebut.
Seorang pejabat suatu kantor, kadang malu untuk melakukan suatu aktivitas pekerjaan untuk mencari rezeki melalui instansi yang pernah dia bekerja. Padahal mungkin kalau dia melakukan bisnis dengan mantan kantornya, akan diperoleh beberapa kemudahan setidaknya mengetahui system dan prosedur yang berlaku di instansi tersebut. Namun kebanyakan mantan pajabat ini akan merasa sungkan kepada bekas anak buahnya.
Ada juga orang yang setelah berubah status lantas menjalani sisa hidup dengan merintis usaha yang sama sekali tidak berhubungan lagi dengan instansi dimana dia pernah bekerja, hal ini dilakukan oleh orang yang tidak mau statusnya berada di bawah mantan anak buah.
Hal-hal tersebut adalah pilihan,  tetapi jangan sampai perubahan status membuat pembatasan ruang gerak dalam berkegiatan mencari karunia Allah.
Ketahuilah bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal termasuk status.  Oleh karena itulah kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan ketidak kekalan itu, agar mampu terus berjuang dalam status apapun kita sampai kemampuan berjuang itu habis. Sebab kemampuan berjuang juga tidaklah kekal dan tidaklah terus kita miliki, pasti ada kahirnya.  Harapan kita semoga Allah menjadikan kita dapat terus berjuang untuk kebaikan sampai tidak berdaya lagi, sampai habisnya kemapuan yang dimiliki.

Friday, 26 June 2015

TAQWA, dapat APA ???



Setiap apa saja yang dilakukan oleh manusia normal, sudah hampir dapat dipastikan mempunyai tujuan, mempunyai kehendak hasil akhir dari pekerjaan yang dilakukan. Saya melakukan ini akan dapat apa nanti.
Anak-anak kita didik, kita sekolahkan, tentu ortu sudah punya cita-cita anaknya agar jadi orang pandai yang nanti dalam menempuh hidup (jika sampai panjang umur) tidak menemukan kesulitan, dapat hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, tidak mengalami kesusahan dalam mencari rezeki dengan bekal ilmu pengetahuan.
Begitu juga ibadah apapun yang kita lakukan, tentu termotivasi akan tujuan melakukan ibadah tersebut. Contoh ibadah puasa, Allah telah mendo’akan kita semoga dengan melaksanakan ibadah puasa kita menjadi orang yang taqwa. dengan seuntai ayat yang sangat dihafal oleh para ustadz ketika ceramah Ramadhan (Al-Baqarah 183) “Hai orang-orang yang beriman berpuasalah kamu seperti telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.
Lantas kalau kita telah berpuasa, kemudian karena puasa kita itu, harapan Allah untuk kita agar menjadi orang yang taqwa, ternyata terlaksana, sehingga sesudah Ramadhan kitapun menjadi orang yang taat kepada semua perintah Allah dan sekuat tenaga menjauhi semua larangan Allah. Apa selanjutnya kita dapatkan baik di dunia dan di akhirat.
Rupanya Allah menjanjikan kepada kita beberapa hal yang akan kita dapatkan bila kita menjadi orang taqwa sebagai buah puasa Ramadhan tersebut. Sekurangnya akan kita dapat  4 hal  untuk keperluan di dunia dan 4 hal untuk keperluan akhirat dari hasil taqwa itu. Adapun yang didapatkan tersebut dapat saya susun sebagai berikut:
Yang didapat orang taqwa di dunia:
1.       Jalan keluar. Setiap manusia sering dihadapkan ke berbagai masalah dalam kehidupan ini, yang kadang-kadang sepertinya sudah tidak sanggup untuk mengatasinya. Tidak ada orang yang dapat membantu meskipun hanya sekadar dimintai nasihat, atau pendapat. Pada saat sudah sampai ke jalan buntu itu, orang yang taqwa akan diberikan jalan keluar, ada saja suatu kondisi yang terjadi yang merupakan jalan keluar. seperti dikemukan Allah dalam surat At-Talaq (65- ayat 2)
Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
2.       Dapat rezeki yang tak disangka-sangka. Terutama buat sebagian besar orang yang hidupnya pas-pasan. Rezeki yang diterima bulanan boleh dikata telah ada takarannya. Gaji sekian, uang lembur sekian dan kalau atau SPD rata-rata sekian. Dari pemasukan yang teratur dan terukur itu, telah dianggarkan untuk sederet keperluan dan Alhamdulilah pas-pasan. Jika tiba-tiba ada keperluan mendadak, misalnya ada anggota keluarga yang sakit. Atau ketika keperluan masuknya anak sekolah yang begitu besar memerlukan dana. Pemasukan dan tabungan serba sedikit sudah tidak lagi meng-cover (menutupi keperluan). Insya Allah janji Allah kepada orang yang taqwa akan dipenuhi oleh Allah, ada saja rezeki yang tidak terduga-duga datang, untuk memenuhi keperluan tersebut. seperti dijanjikan Allah pada:
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. ayat 3
3.       Dicukupkan keperluan, Hidup di dunia ini, atas kehendak Allah, tidak seorangpun diantara kita yang mengajukan permohonan untuk hidup di dunia ini. Sesungguhnya Allah telah siapkan semua keperluan kita sebelum kita dilahirkan. Sebagai bukti konkrit, bahwa sesaat setelah kita dilahirkan ibu, langsung air susu ibu tersedia untuk makanan awal si bayi. Sebelum kita lahir air susu ibu belum siap. Bila setiap individu menyadari ini, bertawakal dan bertaqwa, Allah akan mencukupkan setiap keperluannya dalam nenjalani kehidupan ini. Hanya saja banyak diantara kita, anugerah pemberian Allah senantiasa dianggap tidak cukup tetap saja tidak puas. Referensi jaminan Allah tersebut dapat kita baca pada ayat 3 surat At-Talaq
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.(ayat 3)
4.       Kemudahan dalam urusan, Manusia sebagai mahluk sosial, berinteraksi sesama disebut masyarakat. Untuk mengelola kehidupan bermasyarakat itu tersusun berbagai aturan dan ketentuan. Sudah wajar bahwa dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat tersebut, banyak persoalan dan urusan yang harus diselesaikan, repotnya dalam behubungan dengan manusia, kadang baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain, sesuatu yang seharusnya mudah saja, tapi kadang banyak orang untuk menyelesaikannya demikian berliku-liku. Apalagi di negeri tercinta ini kadang banyak prosedur yang sering tak masuk logika, seharusnya mudah menjadi sulit. Banyak orang bersemboyan, kalau dapat dipersulit mengapa dipermudah. Insya Allah bagi orang yang taqwa janji Allah
Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.  (At-Talaq ayat 4)
Selanjutnya orang Taqwa akan mendapatkan reward buat nanti ketika di akhirat yaitu:
1.       Penghapusan kesalahan-kesalahannya dan dilipat gandakan pahala
Tidak seorang manusiapun yang luput dari perbuatan dosa, apakah kecil atau besar, apakah sengaja, maupun tidak sengaja. Oleh karena itu bila tidak dihapuskan Allah segala dosa, maka kita akan menghadap kepada Allah kelak dalam lumuran dosa. Sementara itu pahala dari kebaikan kita, kalaulah hanya apa adanya, niscaya tak akan sanggup mengimbangi dosa kita. Orang yang taqwa oleh Allah pahalanya dilipat gandakan, dengan demikian diharapkan akan imbang dan dapat meng cover dosa-dosa yang dilakukan. Hal ini terungkap pada ayat ke 5 surat At-Talaq:
dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (ayat 5)
2.       Kembali kepada Allah dengan hati yang puas, lagi diridhai Allah. Tidak ada satu agamapun yang memungkiri bahwa setiap orang hidup pasti akan mati, keyakinan ini termasuk bagi orang yang tidak beragama sekalipun. Tiap hidup pasti akan mati, menurut terminology agama (Islam), mati,  kembali kepada Allah. Orang yang taqwa akan kembali kepada Allah dengan hati yang ikhlas, puas karena merasa telah cukup banyak membawa bekal dan telah dengan pasrah berserah diri kepada Allah. Orang yang demikian ini ketika kembali kepada Allah, diterima Allah dengan penuh keridhaan. Isyarat tentang hal itu dapat kita simak di ayat 28 surat Al Fajar (surat 89):
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
3.       Dikelompokkan Allah dalam jamaah  sebagai hamba-hamba Allah. Bagi orang beriman dan bertaqwa, tidak ada kebahagian yang puncak, selain diakui oleh Allah sebagai hamba-Nya. Seperti halnya nabi Muhammad diakui oleh Allah sebagai hamba-Nya terungkap di awal surat Al-Isra “Mahasuci Allah telah menjalankan hamba-Nya”.  Orang yang bertaqwa disejajarkan, terkelompok dalam jamaah “hamba Allah”, seperti terungkap di ayat 29 dari surat Al-Fajar

Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
4.       Masuk ke dalam surga, Tujuan/dambaan setiap orang yang beriman adalah masuk ke dalam surga. Surga dijanjikan kepada orang taqwa, ditegaskan oleh Allah dalam ayat 30 dari surat Al-Fajar.
masuklah ke dalam syurga-Ku.
Semoga buah Ramadhan ini dapat kita petik, tentunya dengan melaksanakan sebaik-baiknya puasa, sehingga memperoleh kualitas puasa sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah.

Thursday, 4 June 2015

SAMPAI TUWIR TETAP TAK MAU SALAH



Belakangan ini dengan adanya commuter line kareta api melayani Bogor, Tangerang, Bekasi melintasi kediaman kami. Transportasi ketempat tertentu yang dilintasi kereta api cukup mudah buat kami. Belakangan Jakarta kian macet. Semula beberapa tahun yang lalu, dari rumahku ke Bendunghan Hilir tempat saya ngajar, dapat ditempuh 40 menit. terakhir ini bila mengendarai mobil sendiri bisa-bisa sampai 2 jam. Tahun lalu ketempuh dengan mengendarai Bus Way, makin sekarang juga makin lama sampai ke tujuan, sebab kadang nunggunya lama dan penumpang yang nunggu sudah makin ramai di jam-jam tertentu. Disamping itu juga rada ngeri sering  liat di TV ada Bus Way yang terbakar.
Baru enam bulan terakhir ini kumengetahui, bahwa commuter line pantas jadi tumpanganku untuk pergi pulang mengajar di beberapa kawasan di Jakarta dan Tangerang. Tanpa kemacetan dan waktu tempuh hampir teratur dan terukur, dengan biaya yang jauh lebih murah bila dibanding dengan memakai mobil sendiri, memakai bus way apalagi bila dipadan dengan taxi.
Naik Kereta Api Commuter Line, memang tidak langsung sampai di depan kampus, harus disambung dengan angkot sekitar 10 sampai 15 menit, di DKI dan Jabotabek sekarang biaya angkot jarak dekat Rp 4 ribu, lebih mahal sedikit dari KA Commuter Line. Contoh tarif KA sekarang kalau ke Tangerang dari rumahku hanya Rp 3 ribu, ke stasiun “Karet”, hanya Rp 2 ribu.
Lumayan juga, kegiatan rutin sesudah purnabhakti dari kerjaan lama, sepekan dua atau tiga hari masih ketemu dengan komunitas mahasiswa. Masih dapat keluar rumah bersosialisasi dengan orang lain. Di KA CL, disediakan tempat duduk prioritas diperuntukkan bagi yang lansia, bagi ibu mengandung, atau ibu membawa bayi dan penyandang cacat. Walaupun aku belum membawa tongkat seperti dilambangkan dekat tempat duduk prioritas itu, agaknya aku sudah pantas untuk mendudukinya di usia di atas 65 bukahkan sudah lansia.
Ketika suatu hari aku akan menuju ke stasiun Karet naik dari Sentiong, tetangga dudukku ibu-ibu sudah lansia juga, mungkin lebih senior dariku. Meliwati stasiun Senen menuju Kemayoran, Ibu itu mulai membuka cerita, menanyakan diriku akan kemana. Ku Jawab akan ke Benhil. Karena pertanyaannya berkelanjutan, kujelaskan bahwa akan turun nanti di Stasiun Karet, disambung angkot ke Benhil. 
Rasa ingin tau itu ibu cukup tinggi, tanya pula apa urusanku ke benhil, semula kujawab singkat; “Kerja”. Ibu itu setengah ndak percaya melanjutkan tanyanya “Kerja kok berangkatnya tanggung, sudah pukul empatan sore begini”. Benar juga ini Ibu, kalau kerja kantoran tentu berangkatnya pagi, kalau jaga malam sepertinya ndak pantas potongannya, juga berangkatnya ke awalan.
Kujelaskan sedikit tugasku agak jujur yaitu ngajar, kelihatannya malah tambah si Ibu ndak percaya. Baru agak mudeng ibu ini setelah kusinggung, ada kampus buka mulai sore sampai malam. Malah ibu ini rupanya agak melek soal jurusan perguruan tinggi, pertanyaan makin berentet. Walau kujawab sekali sekali, sesuai pertanyaan, rasa ingin tau si Ibu  rupanya ingin memastikan dengan siapa dia duduk berdampingan di tempat duduk prioritas itu.
Tak terasa kereta tumpangan kami sudah hampir memasuki stasiun Tanah Abang. Giliran aku beratanya: “Ibu mau turun di mana”. Tenang sekali ibu ini menjawab “Stasiun Duri”. Kontan tetangga duduk yang berhadapan dengan kami nyeletuk, “Duri kan sudah lewat”. Dengan cekatan ibu tadi berguman sambil kelihatan kaget “abis Bapak si ngajak saya ngobrol”. Beliau rupanya tak bersedia salah dan balik mempersalahkan saya yang katanya sayalah yang ngajak beliau ngobrol.
Pikirku dalam hati, ini ibu sudah tuwir tetap ngak mau salah. Padahal sedari tadi dia yang mulai ngajak ngomong dengan serentetan pertanyaan. “Ok. Bu, nanti di Tanah Abang ibu turun naik lagi yang nuju Jatinegera turun di stasiun Duri”, demikian beberapa penumpang lain memberi saran. Ibu itupun menghentikan omongannya sambil menanti dibuka pintu kereta, sesampainya nanti di stasiun Tanah Abang. Sebab pintu gerbong kereta tiap stasiun yang dilintasi terbuka sangat sebentar, kalau terlambat keluar, pintu tertutup kembali baru terbuka stasiun berikut. Kebetulan kali ini kereta agak lama bertahan sebelum dapat lampu hijau masuk ke stasiun Tanah Abang. Untungnya sampai di Stasiun Tanah Abang si Ibu masih sempat menucapkan salam perpisahan.
Dalam perjalanan terusan kereta, kuingat tulisan-tulisan ku terdahulu dan juga sering kusampaikan dihadapan audienceku penyebab kenapa bangsa kita tidak mau mengakui kesalahan. Penyebabnya adalah kita sejak kecil oleh pengasuh kita, sudah dibiasakan tidak pernah salah. Contohnya kalau kita masih kecil baru pandai berjalan, tiba-tiba dengan tak sengaja menyenggol sudut meja terkena pelipis atau kepala kita, tentu saja kita yang masih kecil itu menangis sejadi-jadinya disebabkan sakit. Untuk mendiamkan kita agar berhenti menangis, pengasuh kita lantas memukul meja berkali-kali dan mempesalahkan meja, dengan kata-kata “meja nakal-meja nakal”. Sejak masih baru pandai berjalan kita sudah diajari bahwa kita tak pernah salah, walau kenyataannya tu meja diam ditabrak oleh kita, tetap saja meja yang salah. Pelajaran itulah yang terbawa oleh kita sampai tua, semisal Ibu yang manula sekereta dengan saya tadi.