Saturday, 21 December 2013

SADAP



Bahasa demikian pesat berkembang, mengikuti perubahan zaman. Seorang mahasiswa mengeluh bahwa bahasa Inggris begitu merepotkan, ucapan dan tulisan hampir sama, pengertiannya jauh berbeda. Dia mengambil contoh “lending” dengan “landing: hanya beda di huruf “e” dan “a” artinya satunya “mendarat” dan satunya lagi “menyewakan/meminjamkan”. Mahasiswa lainnya menimpali bahwa bahasa Indonesia pun juga sama, begitulah bahasa,  beda sedikit  bunyi, maka beda jauh arti. Contoh bahasa Indonesia seperti kata “Kucing”, “Kancing” dan “kencing”, beda tipis tapi artinya: “hewan mengeong” , “buah baju untuk menghubungkan bagian kanan dan kiri baju” dan “buang air kecil”. Mahasiswa lain menambahkan seperti “kuping” dan “kuting”. Kuping dengannya manusia dan hewan mendengar, sedangkan “Kuting”, pisau atau parang terlepas dari gagangnya /tanpa tempat pegangannya.
Penghujung tahun 2013, bangsa kita dihebohkan oleh kata “sadap” akan beda jauh artinya bila “a” sesudah “s” diganti “e” artinya suatu cita rasa yang disenangi atau keadaan yang menyenangkan. “Sadap” sendiri punya arti lain. Bila itu digunakan untuk petani karet maka artinya adalah melukai pohon “para (karet)” untuk mengeluarkan getah/latek dari batang  pohon  karet. Contohnya seperti gambar di bawah ini, ketika aku pengin coba bagaimana si “penyadap” karet di kebunku di pedalaman Kalimantan-Barat memproduksi karet.



Di kampungku penuturan “Sadap” untuk pohon karet sebetulnya tak lazim digunakan sebelum tahun tujuhpuluhan, berkat sudah bertambah kentalnya perpaduan penduduk berbagai daerah di Indonesia, penduduk asli kampungkupun sudah mulai terbiasa menggunakan kata “Sadap” untuk mengalirkan “latek” dari pohon karet.  Semula di kampungku, terbiasa dengan istilah “Menoreh” untuk melukai batang pohon karet, guna mengeluarkan air getahnya, dengan pisau khusus.
Begitu tingginya nilai tenaga manusia di wilayah kampungku, “penyadap atau penoreh” mendapat bagian 2/3 (dua pertiga) dari hasil sadapan, sedangkan pemilik kebun hanya kebagian 1/3 (sepertiga). Itupun sulit mencari tenaga yang bersedia menyadap. Ada beberapa hal yang membuat tidak banyak orang yang bersedia menyadapkan kebun orang lain antara lain yaitu:
Pertama, rata-rata penduduk setempat punya kebun karet, walau tidak begitu luas, tapi cukup buat sambilan mereka sebelum menyelesaikan pekerjaan lain. Sebab jam kerja penyadap karet mulai dari subuh sampai sekitar dimulainya waktu dhuha. Selanjutnya penduduk yang rajin, seusai mengintas getah (mengumpulkan hasil sadapan dari tempurung-ke tempurung) dimasukkan ember untuk pengolahan lebih lanjut, mereka akan meneruskan dengan aktivitas produktif lainnya seperti bercocok tanam tanaman muda, membuat anyam-anyaman mengurus ternak dan lain-lain.  
Cerita ini, ketika belum maraknya kebun sawit. Sejah tahun 1990 an mulailah banyak kebun karet yang dikonversi  jadi kebun sawit, walau kebanyakan diantara penduduk tidak begitu rela, namun terpaksa, karena memang kebanyakan kebun mereka tidak punya surat-surat kepemilikan tanah yang resmi. Sementara perusahaan-perusahaan atas nama “PT”, mengantongi izin resmi dari pemerintah, yang mengklaim bahwa lahan yang semula kebun keret rakyat itu adalah merupakan/diperuntukkan sebagai areal perkebunan sawit mereka. Rakyat semakin takut ketika itu (sebelum reformasi), karena bagi yang tidak bersedia menyerahkan kebunnya didekati dengan menggunakan petugas; oleh orang kampung dilihat sebagai aparat, kemudian akan dianggap menentang kebijakan pemerintah.
Penyebab kedua,  sulitnya mencari orang yang bersedia menorehkan kebun milik orang lain adalah dikarenakan MUSIM. Di kampungku di lahan tempat banyak dan subur pohon karet itu, musim hujan menurut statistik 16 hari dalam sebulan.  Jadi peluang menoreh karet hanya 2 minggu dalam sebulan. Belum lagi pohon karet punya tabiat, ketika berganti daun, batangnya tak begitu banyak mengeluarkan air getah. Ketika pergantian daun ini, tidak effektif kalau ditoreh. Jadi hitung-hitung dalam setahun waktu produktif hanya empat bulan.
Penyebab ketiga, kurangnya minat orang menjadi buruh penoreh, adalah harga. Fluktuasi harga karet sangat tajam. Dapat saja terjadi di awal bulan harganya belasan ribu per kilogram, akhir bulan melorot menjadi tinggal dua sampai tigaribu perkilogram. Hal ini pernah kami alami sendiri, ketika mencoba mengerahkan tenaga diambil dari kabupaten diluar kampungku untuk menurunkan hasil kebunku. Disebabkan fluktuasi harga demikian pengelola yang kupercayai, akhirnya undur diri. Sebenarnya kalau agak tahan permodalan, tunggu saja sampai harga kembali naik, menurunkan hasil karet cukup menjanjikan. Apa boleh buat tak kuat bertahan membiayai tenaga penoreh, ketika harga merosot turun, sementara konsumsi jalan terus, belum lagi bila musim hujan. Walaupun pembayaran ke penoreh atas dasar bagi hasil, tapi sementara hasil belum dibagi  harus keluar biaya konsumsi mendahului pembagian hasil. Sementara itu harga-harga barang konsumsi di pedesaan bukan main tingginya dibanding harga-harga di kota.
Diakui juga bahwa dengan sudah berkembangnya perkebunan kelapa sawit, ekonomi sebagian besar keluarga pedesaan tempat lahan berada mulai berjenjang naik. Sempat terlihat beberapa buah mobil mahal parkir di halaman rumah beberapa keluarga, walau jalan yang tersedia kurang memadai untuk enak berkendara. Tidak pula mata dapat ditutup bahwa sebagian besar penduduk yang karetnya terkonversi menjadi lahan sawit hanya dapat sebagai buruh.
Dampak lainnya seperti telah banyak tersiar dimedia bahwa banjir mudah sekali terjadi, karena hutan karet yang bersahabat dengan lingkungan dan hutan alam mendekati punah, pohon durian dan pohon Kelemantan (sebangsa mangga) Pohon Lembacang (sebangsa mangga agak asam dan wangi besarnya nyaris sebesar buah kelapa), pohon Tengkawang, pohon Benuah (penghasil damar) dan berbagai jenis rambutan hutan dan  lainnya telah dibabat.
Pernah kucoba berburu Rusa, sudah tidak menemukan lagi, padahal masa kecilku ikut Ayahanda berburu, kadang dapat beberapa ekor sekali menghutan. Sekali waktu kucoba membawa senapan angin, ternyata hanya dapat dibuat adu ketangkasan dengan pemuda desa, menembak buah mangga di halaman rumah, karena seekor burungpun tak ada lagi yang lewat, apa lagi hinggap dan berkicau.
Kebunku itu menurut “Surat Keterangan Tanah” (SKT) dikeluarkan camat setempat ketika kumembangunnya tahun 1988 seluas 1-km persegi, ditambah lagi kebun karet tetangga tanah ku itu dijual kepadaku seluas 20ha. Awal tahun 2013 lahan tersebut dilirik lagi oleh “PT” pendatang baru bidang perkebunan sawit untuk daerahku. Aku tetap bersemangat mempertahankan kebun karet, walau ku tau hasilnya tak gampang mengeluarkannya. Motivasi kubertahan itu adalah agar anak cucu ku di kampung kelak masih dapat melihat langsung bagaimana modelnya/bentuknya pohon karet. Ku hawatir bila semua lahan dikonversi jadi pohon sawit maka tak sebatang karetpun masih berdiri di tanah leluhurku. Kini lahan perkebunan di tepi jalan provinsi itu, kabarnya sudah makin menciut juga, lantaran dari pinggir-pinggirnya digeser orang, pagar kebun terdiri dari kayu belian mengelilingi kebun rata-rata berjarak 4 meter per tiang, kini sudah banyak yang hilang, maklum lokasi tadinya hutan dan jauh dari keluarga yang diamanahi menjaganya. Lagian ketika membangun kebun penentuan lakosi belum dilakukan dengan teknologi modern sekarang (GPS) dan juga seperti hampir seluruh penduduk desa bukti kepemilikan hanya surat dari camat berupa “SKT” dan bukti pohon karet. Seluruh masyarakat desa setempat tau bahwa lahan itu sebelumnya adalah hutan alang-alang setinggi manusia, kini telah menjadi hutan hijau dan pohon-pohon karet. Legalitas kepemilikan lahan belum sampai kepada HGU seperti para pengusaha besar,

Wednesday, 18 December 2013

PETA



PETA Berisikan gambar memberi arah tentang lokasi, alat bantu bagi orang dalam perjalanan di darat, di laut bahkan di udara. Kini penggunaan kata  “Peta” semakin meluas, “Persoalan” juga dapat dipetakan, maksudnya dilakukan inventarisir apa saja masalah yang dihadapi untuk dicarikan solusi tahap demi tahap. Terakhir sedang sibuk disusun “PETA RAWAN KORUPSI”. Ini merupakan pertanda bahwa “korupsi” sudah berada di semakin banyak tempat, sehingga dapat disusun “Peta”. Juga dapat diartikan “korupsi” sudah semakin susah dilacak, sehingga untuk mencarinya di butuhkan “Peta”.
Sezaman kami  es em pe doeloe, ada namanya “Peta Buta” yaitu memuat gambar pulau-pulau dan kota-kota tapi tidak ditulis namanya, untuk menguji pengetahuan murid, sudah dapatkah menulis nama pulau dan kota di “Peta Buta” itu.
“Peta Rawan Korupsi” itu nanti apakah berupa “Peta Buta”?. Tapi yang jelas di Indonesia “orang buta” saja sanggup melihat korupsi dimana berada. Sebab melalui penciuman dan pendengaran korupsi dapat diketahui, tapi susah dibuktikan, itu barang kali mengapa “Peta Rawan Korupsi” sudah perlu disusun.
Kalau “Peta” untuk menunjukkan lokasi, pembuat pertama dari “peta” tersebut adalah orang atau team khusus yang menjalani/mengunjungi tempat-tempat yang kerenanya dibuat peta lokasi itu. Giliran “Peta Rawan Korupsi”, apakah harus dibuat oleh orang yang pernah menjalani korupsi atau orang yang pernah berhubungan dengan korupsi. Bila demikian, ada kemungkinan peta itu sangat akurat, atau sebaliknya peta itu paling ngacau. Kemungkinan pertama Peta akan jadi sangat akurat karena dibuat yang mengalami langsung. Kemungkinan kedua; peta akan jadi ngacau/merancukan/bias, sebab si pembuat akan melindungi diri, atau group mereka, sebagaimana dimaklumi bahwa korupsi tak mungkin dilakukan sendirian. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama lagi telah dijual di toko-toko buku “Peta Rawan Korupsi” seperti peta-peta pulau-pulau, peta dunia, agar generasi berikut sudah tak susah lagi mencari koruptor. Wallahu alam bisshawab.

Friday, 6 December 2013

TIMBANGAN PERKALIAN



Dibeberapa kesempatan di dalam kelas, ketika menerangkan perhitungan yang menyangkut perkalian, terutama di kelas audience supervisor  pengusaha, umumnya mereka tidak membawa kalkulator. Ada juga kalkulator mereka gunakan telepon seluler. Dikesempatan demikian sering saya informasikan bahwa untuk meyakinkan bahwa perkalian pakai telepon genggam itu benar, ada caranya yaitu dengan “Timbangan Perkalian”.
Setelah saya praktikkan pengujian itu, banyak diantara mereka menanyakan dari mana asal muasal diperoleh teknik “timbangan perkalian” itu. Lantaran beberapa kali diuji coba selalu dan pasti tepat membuat mereka penasaran, sebab hasilnya tidak satupun yang meleset.
Secara berkelakar saya katakan, sudahlah terima saja, ini hasil utak atik, tapi kalau mau ajarkan buat anak cucu atau orang lain, agar tidak melanggar hak cipta, jangan lupa menyebut nama saya tiga kali; “dari M.Syarif Arbi” untuk melegalkan hak cipta formula tersebut.
Adapun “Timbangan Perkalian” tersebut formulanya sebagai berikut:
1.     Buat tanda timbangan dengan garis tegak lurus yang memotong garis horizontal sehingga membentuk symbol “plus”.
2.     Angka-angka bilangan pengali dijumlahkan sehingga menjadi satu digit kemudian letakkan disumbu atas symbol “plus”.
3.     Angka-angka bilangan yang dikali dijumlahkan sampai menjadi satu digit, letakkan disumbu bawah symbol “plus”
4.     Angka disumbu atas dan sumbu bawah dikalikan dan hasilnya dijumlahkan sehingga menghasilkan satu digit, tempatkan di kanan atau kiri sumbu horizontal.
5.     Angka-angka hasil perkalian dijumlahkan sehingga menghasilkan satu digit, hasil penjumlahan tersebut letakkan di sumbu horizontal berlawanan dengan angka hasil perkalian dan penjumlahan sumbu atas dan sumbu bawah (butir 4 di atas).
Hasil perkalian dijamin benar bilamana timbangan tidak jomplang alias berat sebelah. Sebagai contoh lihat ilustrasi diakhir tulisan saya ini:


Terus terang perolehan formula ini  mulanya, ketika dulu diri ini masih sekolah es em pe, mulai melakukan kegiatan usaha dagang kecil-kecilan memanfaatkan sisa waktu pulang sekolah dan hari libur. Kegiatan usaha itu memanfaatkan jarak karena ketika itu jarak sepuluh-limabelas kilometer sudah cukup jauh di kampungku, disebabkan belum banyak yang punya kendaraan bermotor, apa lagi angkutan umum. Tambahan pula beberapa kampung dengan kota dipisahkan oleh sungai yang hanya dapat diseberangi dengan sampan. Jarak tempuh itulah kumanfaatkan semasa anak-anakku untuk mendapat keuntungan dengan membawa komoditi dari kota ke pedesaan yang jaraknya berbilang sepuluh sampai limabelas kilometer itu. Sementara dari rumah-rumah penduduk diperoleh minyak goreng terbuat dari fermentasi santan kelapa dimasak (kebun sawit baru mulai ada 50 tahunan sesudah itu). Juga diperoleh telor ayam (waktu itu belum ada telor ayam petelor seperti sekarang ini), semua telor asalnya dari ternak biasa, ayam kampung. Harga minyak kelapa manual produk rumahan itu di pedesaan antara Rp 6,50  sampai Rp 7.00 per botol bekas botol bir. Sekitar (650 cc). Minyak kelapa yang dibeli dari rumah ke rumah itu ditampung dalam kaleng kapasitas 35 botol. Kendaraanku sanggup dimuati tiga kaleng. Satu di tengah, satu dikiri satu lagi dikanan tempat boncengan dimodivikasi. Sekali angkut pulang sekolah dapat sekitar 100an botol kalau semua kaleng penuh. Penjualan ke pengepul minyak kelapa di kota tidak pakai takaran botol, mereka pakai timbangan. Berat minyak ternyata bervariasi, tergantung proses pengolahan minyak. Minyak tua karena memasaknya sampai berwarna kekuningan dapat sampai 650 gr per botol. Sedangkan minyak muda karena memasaknya kurang lama sehingga warnanya masih agak jernih condong kehijauan, berat maksimalnya 600 gr per botol, kwalitas ini gampang tengik tak tahan disimpan lama. Kepiawaian menilai minyak inipun merupakan ilmu tersendiri, kemudian harus dipilah dimasukkan kaleng yang berbeda, agar pengepul tidak kecewa. Sebab harga di pengepulpun berbeda menurut kwalitas ini. Begitulah cerita minyak kelapa rantai distribusinya dari rumah penduduk ke perantara antara pengepul dan produsen, kemudian terus ke agen besar ada yang langsung di konsumsi orang sekota dan ada yang sampai ke ibukota provinsi untuk disistribusikan lagi ke kota lain yang bukan penghasil perkebunan kelapa. Diantaranya dijadikan bahan baku produk lain, seperti sabun. Belum lagi bila dikisahkan tentang telor ayam yang dibeli dari rumah-rumah penduduk dibawa bersama minyak yang penempatannya di sepeda lelaki di bagian tengah (silinder penghubung stang dangan tempat duduk) dan juga digantung pada kranjang dikiri kanan stang.
Dari jual beli inilah, karena zaman itu belum ada kalkulator, perkalian dengan manual, kalau toko pengepul biasanya pakai Sempoa. Untungnya kami dulu sejak SR sudah dilatih menghafalkan kali-kalian dari satu sampai sepuluh. Kalau tak hapal distrap disuruh berdiri di depan kelas. Rata-rata kami dulu SR kelas empat sudah hafal betul kali-kalian dari satu sampai sepuluh bahkan ada yang lebih dari itu. Itulah hal yang positip belum adanya kalkulator seperti sekarang ini.
Guna pengujian perkalian itulah diperlukan “Timbangan Perkalian” dimaksud, agar tidak menderita rugi untuk diri sebagai pedagang kecil, atau merugikan langganan dari rumah produksi.
Adapun formula tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Misalnya membeli 27 botol minyak yang dari sebuah rumah, dengan harga Rp 6,50 (enam rupiah limapuluh sen) per botol. Harus dibayar sejumlah Rp 175,50 (seratus tujuhpuluh lima rupiah lima puluh  sen). Untuk menguji sudah benarkah pembayaran itu, gunakan “Timbangan Perkalian”, cukup diguratkan di tanah. Buku barang mahal dan bolpen belum ada waktu itu. SR masih pakai “Batu Tulis” dan “Grip”
Timbangan perkalian dapat digambarkan sebagai berikut:
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         9



9                                                   9

                         2





Keterangan gambar:
Angka yang dikali 27. Angka dua ditambah angka tujuh adalah “9” . letakkan angka “9” disumbu atas.
Angka pengali adalah 6,50. Enam ditambah lima ditambah nol adalah 11 dijadikan satu digit adalah 2. Letakkan angka “2” di sumbu bawah.
Angka disumbu atas “9” dikalikan angka sumbu bawah “2” adalah 18 dijadikan satu digit adalah “9” letakkan di kanan atau dikiri timbangan.
Hasil perkalian 175,50 . satu ditambah tujuh ditambah lima ditambah lima ditambah nol adalah 18 dijadikan satu digit adalah “9”.  Letakkan disisi yang berlawan dengan hasil perkalian sumbu atas  dan sumbu bawah. Ternyata perkalian ini benar, sebab seimbang antara kiri dan kanan sama sama menunjukkan angka “9”.
Untuk meyakinkan anda akan kebenaran formula ini silahkan mencobanya sendiri dengan sederet angka yang lebih panjang, ditulisan ini saya buatkan contoh lagi misalnya telor ayam dibeli dari penduduk sebanyak 13 butir @ Rp 1,75 = Rp 22,75 dengan cara sama diperoleh:
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         4



7                                                   7

                         4




Minyak dibeli dari rumah penduduk total tiga kaleng setelah ditimbang; Kaleng pertama  17,95 Kg sedang kaleng kedua 17,80 Kg. kaleng ketiga beratnya  16,20 Kg. jumlah 51,95 kg.   diterima pengepul seharga Rp 13,-/kg.  Hasil penjualan ke pengepul Rp 675,35 dibulatkan Rp 675.- sisa Rp 0,35 jadi cacatan pengepul. Dengan pola yang sama formula diterapkan ternyata perkalian benar sisi kiri dan kanan sama angka “8”
http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4915264842500646&pid=15.1                         2



8                                                   8

                         4




Untuk sektor minyak hari itu adalah pembelian 90 botol kali Rp 6,50,- =  Rp 585,-
Hasil penjualan minyak 51,95 Kg = Rp 675,- laba Rp 90,- lumayan untuk anak seusia es em pe. Kegiatan usaha ini kutekuni sampai awal SMA, selanjutnya pindah usaha jadi penjahit. Tapi yang berkesan adalah perhitungan “Timbangan Perkalian” dari transaksi-transaksi tersebut semasa belum ada kalkulator teringat sampai sekarang dan kuturunkan kepada siapa saja kalau kebetulan membicarakan perkalian ketika saya mengajar di beberapa tempat seringkali untuk audience para pengusaha yang biasanya urusan teknis detil begini sudah tidak campur, kan ada pegawai. Tapi kalau mengerti teknik ini bagaikan pegang kunci.
Pembaca dapat menguji formula ini dengan sederetan angka yang dikali dan sederetan angka pengali. Pasti hasilnya imbang kalau perkaliannya benar.
Telah puluhan tahun saya sering diundang ngajar baik di Jakarta maupun diluar daerah, di hotel-hotel atau instansi terkait dengan bidang yang karenanya saya diundang, juga mahasiswa di kampus, formula ini dibanyak kesempatan sempat saya tampilkan, kelihatannya asing bagi audience. Oleh karena itu sekalian saya tulis di blog saya ini. Agar kiranya para pembaca yang belum mengetahui formula ini mengetahuinya dari saya. Kemudian bila meneruskan “Timbangan Perkalian” ini kepada orang lain, jelas mendapat sumber dari “M. Syarif Arbi”. Kecuali ada pembaca yang dapat menjelaskan, membuktikan bahwa “Timbangan kali” ini pernah lebih dahulu dipublikasikan orang lain. Ku yakin kalaupun ada orang mempublikasikan “Timbangan Perkalian” ini lebih dahulu, bukan dari beliau formula ini kudapat.

Maaf gambar dari naskah aslinya tidak muncul ketika dipindah ke blog. Maklum belum canggih

Wednesday, 27 November 2013

GURATAN TANGAN



Apakah anda nanti dapat mencapai karier seperti Adam Malik, atau B.M. Diah, atau Rosihan Anwar. Begitu pertanyaan yang diajukan Karni Ilyas yang ketika itu kami masih se profesi, di kwartal pertama tahun 1973 bertempat di suatu rumah makan di bilangan Jl. Ketapang, belok kiri dari Jl. Gajah Mada arah ke Kota, daerah Harmoni. Pertanyaan itu diajukan Karni sehubungan ada peluang untuk saya pindah profesi kerja di bank. Pertimbangan rekan-rekan seprofesi, saya butuhkan karena limit keputusan harus diambil hanya sehari itu. Kawan dekat saya dari wartawan Kompas, Sinar Harapan waktu itu juga hadir memberikan pertimbangan. Agaknya ketiga tokoh di atas jadi acuan, lantaran beliau-beliau itu adalah wartawan terkenal setidaknya di era tujuhpuluhan.
Kalau anda kira-kira tidak dapat berkarier seperti itu, tinggalkan saja profesi kita ini, sebab tidak bermasa depan, sedangkan di bank masa depan sudah teratur dan terukur, demikian paham yang disarankan kepada saya. Akhirnya keputusan saya ambil dan selamat tinggal profesi jurnalis yang sudah kugeluti sejak usia dini sebelum tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) itu.
Kini peristiwa itu telah jauh berlalu untuk ukuran tahun, tetapi rasanya singkat saja untuk ukuran pengalaman, seperti baru kemarin-kemarin dulu saja. Padahal sudah 40 tahun yang silam, semuanya sudah banyak berubah dan diri inipun sudah pensiun dari dinas di perbankan setelah menjalani tugas 27 tahun. Benar juga kata teman-teman yang kuajak runding itu, bahwa mereka yang masih menekuni profesi wartawan belum pensiun sampai sekarang, karena memang tidak ada istilah pensiun untuk wartawan.
Beberapa tahun silam setelah saya dimutasikan ke Jakarta, Karni Ilyas pernah kukunjungi, di kantornya ketika itu masih di Majalah. Secara berkelakar kukatakan padanya, bagaimana nanti kalau saya sudah pensiun dari bank, balik lagi gabung dengan anda. Jawabnya “habitat” kelihatannya sudah berbeda. Biasanya kalau hewan yang sudah terbiasa dipelihara manusia, bila dikembalikan ke habitatnya terkendala mencari makan.
Bersyukur saya tidak terhingga dengan keadaan seperti sekarang ini, telah selamat sampai pensiun dari bekerja di bank. Sebab menurut hemat saya bahwa salah satu wujud sukses seorang bekerja di instansi pemerintah terutama di bank adalah mencapai pensiun, sebab ada beberapa diatara rekan sekerja saya yang tak mencapai pensiun kandas ditengah dinas tak dapat menahan godaan.
Alhamdulillah sayapun saat ini belum juga pensiun, oleh Kopertis dipercaya sebagai guru, di tetapkan jadi pengajar tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan juga masih sering diundang untuk pelatihan-pelatihan oleh institusi swasta dan instansi pemerintah sebagai narasumber  baik di Jakarta maupun luar Jawa. Buku tulisan sayapun cukup menambah hasanah pustaka dengan telah terpublikasi sampai saat ini 6 judul buku, diantaranya sudah cetak edisi kedua.
Jika saya terus di profesi yang dulu, apakah akan dapat mencapai karier seperti sebagian teman ada yang sampai pernah menjadi Jagsa Agung  contoh  Abdurahman Saleh, senior saya  yang sama sama pernah se kantor menjadi wartawan di Harian Nusantara Jakarta. Atau menjadi Duta Besar dan Menteri.  Dalam pada itu ada juga teman-teman yang ketika masih dinas di bank, saya sering dikunjungi, tetap saja seperti yang dulu alias tidak merambat maju. Diposisi manakah saya, bila terus berkarier di bidang jurnalistik wallahu alam bishawab. Yang jelas posisi sekaranglah yang terbaik buat saya serta menyenangkan.
Jadi semua itu adalah panggilan nasib, guratan tangan yang telah ditetapkan oleh pencipta ketika diri ini siap dijadikan manusia.
“…………….., kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya……………………”  Begitu bunyi hadits “Arbain An-Nawawi, memetik kabar hadits dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu.
Demikian tulisanku ini semoga ada manfaatnya utamanya untuk kawula muda, anak dan cucuku. “Ternyata hidup ini adalah pilihan, bagaikan membidik sasaran dengan anak panah. Walau busur dibentang anak panah dilesatkan dari tempat berdiri yang sama, mencapai sasaran yang berbeda tergantung arah bidikan, kondisi pembidik dan arah angin.”  Untaian kisah itu benar terjadi jika hendak dikonfirmasi diantara tokoh cerita orang cukup terkenal masih ada. Tapi nampaknya ia sangat sibuk terus menerus mempersiapkan tampilan ILC.