Tuesday, 21 April 2026
JASPROD
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.412.05.04-2026
Semasa belum pensiun dulu, di tempat kerjaanku saban tahun ada tambahan penghasilan yang disebut JASPROD singkatan dari “Jasa Produksi”. Kadang dibayarkan tengah tahun, kebanyakan dimusim anak2 akan mulai masuk sekolah, management institusi tempat kami kerja rupanya maklum bahwa biasanya saat2 itu banyak pengeluaran, utamanya untuk uang pendaftaran anak sekolah, membeli pakaian seragam, buku2 dan lain2. Jadi JASPROD sangat menolong. Pelaksanaannya diputuskan oleh Direksi di Kantor Pusat di Jakarta, Cabang2 menerima kabarnya segera melalui TELEX (suatu mesin ketik di kantor penerima jalan sendiri. Sekarang sudah jadul tidak digunakan lagi). Atas dasar TELEX tersebut, apabila testnya Correct, selang sehari kerja berikutnya langsung pembayaran di cabang2pun dilaksanakan.
Terakhir ini ada pula istilah baru yang didahului dengan”Jas”, yaitu: “JASPUTI” dan “JASPROT”.
Menyoal “JASPUTI”. Alkisah sebuah rumah tangga yang harmonis, umum disebut dengan “SAMAWA” (Sakinah, Wamaddah dan Mawarrahmah). sudah masuk tahun emas pernikahan, sebab sudah lebih lima puluh tahun nikah, dilengkapi anak2 sudah berumah tangga semua dikelilingi dengan lusinan cucu.
Sekitar usia pernikahan 25 tahunan, sang suami yang memang bidang usahanya adalah pengusaha, sering sekali punya kegiatan bisnis di luar kota. Kadang,….. 25 tahun terakhir ini dalam sebulan hanya kurang dari seminggu berada di rumah, bahkan hari raya saja hanya bertahan sehari, habis shalat Ied langsung keluar kota lagi. Setiap akan berangkat bisnis ke luar kota sang suami sehari sebelumnya memberitahukan kepada istrinya. Istrinyapun sibuklah menyiapkan isi koper yang akan dibawa, seperangkat pakaian disetrikakan dengan baik, obat2 rutin dan vitamin2 untuk suami tercinta dipersiapkanlah, bahkan tak lupa dipersiapkan makanan camilan kesukaan bapak anak2 mereka itu disertakan.
Kegiatan rutin itu sampai 25 an tahun, terhentinya ketika si suami menderita sakit berat, sehingga bolak balik harus di opname atau rawat inap di rumah sakit. Keluar masuk rumah sakit untuk opname sudah semakin sering, tak jarang diantaranya berangkat ke rumah sakit segera, karena emergency gejala penyakit jantung kombinasi dengan penyakit2 lain kumat. Suatu saat karena tergesa-gesa ke rumah sakit, HP beliau (sang suami), tidak terbawa, tinggal di rumah. Disinilah awal terbongkarnya bahwa sang “Papah”, ternyata sudah lama “buka cabang baru”, diluar kota.
Anak perempuannya pada hari itu, nunggu rumah, karena si ibu nemani ke rumkit. Si anak memberanikan diri menerima telpon sang papah berdering di dalam kamar tidur ORTU mereka. Dari seberang dalam dialog percakapan telpon, karena tau yang menerima bukan suara lelaki, ada kalimat sampaikan pesan kepada ayah, “ayah kok sudah lama ndak pulang”.
Rupanya karena semuanya rahasia2an, kucing2an, selama tidak datang ke “cabang baru”, lantaran sakit, juga tidak diberitahukan. Informasi ini sebagai permulaan membuka selubung tabir 25 tahunan yang diusahakan ditutup rapat. Akhirnya setelah di cecar dengan pertanyaan2 yang memojokkan, nomor HP yang terpantau, oleh anak2, menantu2 dan istri yang setia merawat dan percaya selama ini, dikeroyok oleh saudara2 kandung istrinya, maka dalam keadaan sakit sudah tak berdaya, diujung hidupnya diapun mengakui bahwa dianya sudah kawin lagi di kota lain lebih 20 tahun yang lalu, bahkan sudah bermenantu.
Begitu sang suami meninggal dunia, istri kedua dan anak serta cucunya datang, juga bermaksud menuntut waris. Wallahu ‘alam berhasil atau tidak, tulisan ini tidak meng-“kepo-i-nya”, tak diungkap dalam kisah ini. Yang jelas bahwa si istri yang pertama yang demikian setia, walau uang belanja untuk JADUP tiap bulan tidak dipenuhi dengan baik, dia ikhlas, karena istrinyapun bukan hanya ibu rumah tangga, mempunyai mata pencaharian yang mencukupi. Namun demikian kekecewaan sang istri tertipu baru diketahui sampai si suami mendekati mati. Timbullah istilah “JASPUTI” singkatan dari “Janda Sedih Tertipu Sampai si Suami Mati”.
Bagi saudara2 lelaki si istri, mengatakan kepada yang bersangkutan ketika interogasi, sebetulnya kalau suami kakak mereka itu ingin kawin lagi, adalah halal-halal saja tak usah sembunyi sampai seperempat abad. Karena khususnya Agama Islam mendalilkan:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا۟ فِى ٱلْيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ فَوَٰحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُوا۟
Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Boleh saja beristri lebih dari satu, tetapi harus sanggup berlaku adil. Dimana di negeri ini hal itu harus dengan izin dan persetujuan istri pertama. Ini sama sekali suami kakak mereka itu tidak dapat berlaku adil, bahkan sembunyi-sembunyi.
Memang orang menikah itu nasib-nasiban, kadang baik, kadang tidak beruntung, sebab tak jarang, ketemu pasangan hidup lain daerah, lain suku, bahkan kadang lain bangsa, sejatinya belum tau persis. Maka dalam istilah mandarin “Kàn yùnqi” (Tergantung keberuntungan/nasib). Oleh karena bagi kita orang beriman, selalu berdo’a menyerahkan diri kepada Allah, karena Allahlah yang membolak-balikkan hati (يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ_)
Lain JASPUTI lain pula JASPROT. Adapun JASPROT singkatan dari “Janda Sendirian kena Plorot”. Kisahnya, ketika sang suami meninggal mereka sudah berumah tangga juga cukup lama, si suami meninggal di usia lanjut 75 an tahun. Sedangkan si Istri yang ditinggalkan 70 han tahun, dengan anak2 setengah lusin lebih, apalagi cucu2 dan cicit2 sudah dapat dibuat dua kesebelasan sepak bola. Tak heran karena sudah lama merajut hidup, uang pensiun suami dan dirinya yang tadinya sebagai ASN juga adalah,… .. disamping sejumlah tabungan properti2. Sementara rumah yang dibangun bersama suami kini di huni sendiri, anak2 sudah berumah sendiri-sendiri.
Ketika suami berpulang, bukan main tampak sekali kesedihan yang mendalam sang istri, bukan saja kepada sanak saudara, tidak saja hanya kepada anak cucu diekspresikan duka mendalam itu, akan tetapi juga di publish pula di MEDSOS.
Belum cukup setahun sesudah wafat sang suami, teman MEDSOS ada yang respon ngajak kenalan, seorang masih muda, beliau tak urung juga mengaku senasib ditinggal istri pasangan hidup yang sangat dicinta.
Dialog ‘Chat” pun bersahut-sahutan, curhat-curhatan balas ber balasan. Lama kelamaan terjalin janjian ingin “bergabung”, dalam tanda petik, berlanjut si yang ngaku duda ngajak nikah.
Sepertinya nenek yang sudah 70 han tahun itu agaknya terpukau, dikabarkan sudah pernah diminta untuk mentransfer uang puluhan juta, sudahpun dituruti. Padahal belum pernah ketemuan. Mungkin termakan “rayuan pulau pandan” atau juga hipnotis lewat tulisan atau hipnotis melalui telepon yang kini sedang lagi marak. Hipnotis via alat komunikasi merupakan sebuah modus penipuan jarak jauh yang memanfaatkan manipulasi psikologis. Pelaku menargetkan pikiran bawah sadar korban dengan menciptakan situasi kepanikan, kesedihan, urgensi, dan fokus yang sangat tinggi. Tujuannya adalah membuat korban kehilangan kesadaran penuh sementara dan mengikuti instruksi pelaku.
Sebuah anjuran kepada anak2 dari bunda yang sedang dirundung JASPROT ini, usahakan mengamankan sertifikat tanah, surat2 berharga peninggalan almarhum Bapak mereka, agar tidak sampai terlanjur meluncur ke tangan penipu. Selain itu adalah baik jika gantian piket menemani bunda nginap di rumahnya.
Karena kalaulah berfikir yang jernih, apalah lagi yang diharapkan dari “uyut” yang sudah berumur 70 tahun lebih, mana mungkin orang yang masih muda mau memperistrinya. Kata pepatah di kampungku “Ndak isik beban batu diambin”, atau “Ngambin biawak idup”, pekerjaan tidak masuk akal.
Teringat aku akan tetanggaku, ibu2 sudah umur 75 an, sudah lama menjanda, belum lama ini ada tetanggaku juga yang istrinya meninggal, si “DUBAYA” (Duda Baru yang Kaya) usianya 80 an. Dalam suatu acara pengajian, Ibu janda digodain teman2nya, tuuu jadian saja dengan Pak …… biar ada yang ngurus. Si Ibu menjawab apa lagi yang diharapkan buat orang seusia kami ini, tinggal “Batuk” dan “Kentut”. Sudah tak mampu lagi saling “membahagiakan”, kecuali bagi mereka yang sejak awal dari muda dulu yang kini sudah menjadi tua renta, sama2 mengerti, sama2 merawat, dengan masing2 keudzurannya.
Dari tulisan ini; “JASPROD”, “JASPUTI” dan “JASPROT”, saya gandengkan karena ada nilai kesamaannya. Sama2 bernilai surprise.
JASPROD, pendapatan tak terduga, tiba2 diperoleh pas sedang diperlukan, bernilai positip. Adapun “JASPUTI” juga surprise sama sekali tak diduga 25 tahun ditipu baru ketahuan setelah hampir mati, membuat kecewa sang istri sulit terobati. Sedang “JASPROT”, juga surprise karena kok ada orang janda yang usia 70 han, sudah bergelar UYUT kok mau diplorot oleh orang yang hanya dikenal lewat Medsos, membuat seluruh anak cucu geleng-gelang kepala, mengelus dada.
Yaa Allah lindungi keluarga2 kami terkena tipu daya dalam berumah tangga, yaa Allah hindarkanlah kami dari tipu daya berupa sihir, teluh dan hipnotis atau semacamnya.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 3 DzulKaidah 1447 H.
21 April 2026
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment