Sunday, 19 April 2026

PILIHAN KATA

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.411.04.04-2026 Memilih kata2 yang dipergunakan untuk berkomunikasi kadang dijumpai……, apa yang menurut kita sebagai penutur; “baik”, “benar”, “sopan”, “santun”, belum tentu buat orang yang diajak bicara sesuai anggapan kita sebagai penutur tadi. Belum lagi bila dikaitkan dengan budaya lokal, apa lagi nilai dalam keluarga yang tak sama, sudah semakin kompleks. Di daerah tertentu, kata “kamu”, untuk kata ganti seseorang yang lebih tua, adalah tidak sopan. Seorang paman disebut “kamu” oleh kemenakannya dalam dialog, adalah “tidak sopan”, “tak tau adab”. Barulah dianggap sopan bila dalam dialog mengatakan: “seperti yang paman katakan”, atau “seperti yang Om katakan”. Atau menggunakan kata ganti untuk orang yang lebih tua misalnya “Abang”, “Pak Cik”, “Pak Ngah”, “Pak Usu”, dll. Sementara di daerah lain penggunaan kata ganti “kamu” untuk orang yang lebih tua, biasa2 saja. Bahkan ada daerah; justru di anggap penghormatan jika kata “kamu” buat orang yang lebih tua dalam perbincangan di “kamu-kamu” kan. Justru diartikan bahwa si pemuda mensejajarkan sama mudanya, buat orang tua yang sedang sebagai partner-nya bicara. Dari pemilihan “kata ganti” untuk orang atau untuk sesuatu, harus juga diusahakan sesuai dengan daerah. Tak jarang suatu kata yang di daerah tertentu berarti baik, di daerah tertentu lainnya malah berarti “tabu” untuk disebut. Seorang teman dari suatu daerah belum lama datang ke Surabaya, menemui teman yang sudah lama bekerja di Surabaya. Teman yang ditemui bertanya “Tinggal dimana kau di Surabaya nih”, sambil senyum2 dia menjawab “Tinggal di jalan yang di daerah kita ndak boleh disebut”. Teman yang sudah lama tinggal di Surabaya itu pun tau nama Jalan yang dia maksud, Yaitu “Kali Butuh”. “Kali” buat daerah mereka diterjemahkan sebagai “sungai”. Sedangkan kata “Butuh“, di daerah mereka tabu untuk disebut, karena artinya, “kemaluan lelaki”. Dalam bahasa Indonesia “Butuh” diartikan memerlukan. Makanya kalau mereka berbicara di daerahnya pantang menggunakan kata butuh, mesti diganti dengan “memerlukan”. Seorang mahasiswa pasca sarjana, ketika menghadap salah satu promotor yang agak “rada-rada”, guna konsultasi disertasi. Mengetuk pintu ruang kerja sang promotor dengan lembut, setelah dipersilahkan masuk, di depan pintu si mahasiswa mengucapkan salam lalu berucap “maaf bolehkah? saya mengganggu... Prof”. Sang Profesor menjawab “saya tidak mau diganggu” lalu meneruskan kesibukannya melihat layar monitor Laptop di hadapannya dengan kacamata yang melorot agak ke ujung hidung. “Selanjutnya bagaimana Prof” ujar kandidat doctor ini. “Pokoknya saya tidak boleh diganggu”, kata sang Profesor. Si kandidat doctor jadi salah tingkah dan mengambil sikap “Kalau begitu saya mohon diri”. Sang Profesor hanya mengangguk. Sang kandidat doctor yang sudah susah payah mengikuti kuliah, mengadakan penelitian dengan waktu hampir setahun dan biaya yang tidak sedikit, bercerita kepada teman2 yang juga sedang menyiapkan disertasi dengan masing2 promotor. Ada yang mengomentar, “anda sih pembukaan ngomong, “maaf bolehkah saya mengganggu Prof”. “Mana ada orang yang mau diganggu”. Apa lagi si Prof “rada-rada” itu kalau perasaannya lagi ndak baik, akan salah melulu. Sebetulnya secara umum, kata yang dipilih mahasiswa S3 tersebut, biasa diucapkan untuk pembuka kata, untuk pencair suasana, sudah cukup sopan, cukup santun, cukup beradab. Tapi kembali lagi kadang apa yang dianggap sopan, apa yang dianggap santun, apa yang dianggap beradab buat seseorang yang sedang dalam “posisi di bawah”, belum tentu dianggap sopan, santun, beradab bagi orang yang berada “di posisi diatas”. Disinilah seninya harus memperlajari teknik mencairkan komunikasi, ini juga menghendaki kesabaran, tak sedikit kandidat doctor yang gagal, karena kurang banyak berbekal kesabaran. “Repot” , menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah kata sifat (adjektiva) yang berarti sibuk, banyak kerja, ribut, atau sukar/berabe. Kata ini menggambarkan kondisi yang kompleks, kalut, atau situasi yang menyebabkan kerumitan dalam melakukan sesuatu. Tetapi dalam keseharian sering kata “Repot” digunakan untuk “pemanis kata” atau “peng-indah-ucapan”. Seorang sahabat bertamu kerumah sahabatnya, setelah dipersilahkan duduk kemudian berbincang agak sebentar, sahibul bait berujar “sebentar yaa saya sedukan kopi atau sukanya teh”. Sang tamu menjawab “ndak usah repot2, ini sudah cukup air putih di meja ini”. sambil menunjuk minuman air putih kemasan di atas meja. “Sungguhan……. baik kalau begitu”, lanjut kedua sahabat ini ngobrol. Kata “repot” pun tak jadi persoalan, hilang menguap bersama obrolan santai mereka. Masih menyoal soal “Repot”. Seorang sahabat panen pisang dari pohon di halaman rumahnya. Begitu pisang matang, direbusnyalah pisang itu, teringat dianya dengan teman akrabnya yang bertetangga lumayan jauh, lain keluharahan namun masih dalam radius dianya “olah raga jalan” dipagi hari. Dikantongi beberapa buah pisang rebus ke dalam kantong plastik hitam. Ketika dia melewati rumah sahabatnya, waktu olahraga jalan disuatu pagi, disangkutkannyalah pisang rebus itu di pagar bagian dalam rumah sohibnya itu. Di dalam kantong kresek sudah diberi tulisan (“Panen halaman rumah…..”, lalu di beri namanya). Ndak berapa lama temannya menemukan pisang rebus itu di pagar, selanjutnya menelpon: “terimakasiiih……….. kok repot-repot”. Lalu dia menjawab “aaahhh tidak, masak gitu aja kok repot, biasa aja pisangnya mateng enaak bibit luar negeri”. Si pengurim pisang tak merasa gimana…. dikatakan repot-repot, biasa saja. Malah diwaktu yang lain, kalau ada camilan atau mengolah makanan tak lupa dikirimiya sahabatnya itu. Penggunaan kata “repot” ini sebenarnya maksudnya bukan menuduh orang yang melakukan sesuatu kegiatan itu bermaksud negative, alias orang melakukan itu dituduh ada “maunya”, sama sekali tidak; hanya pemanis kata, sering alias umum atau jamak diucapkan dalam interaksi sesama rekan, kawan, sahabat handai taulan. Si tuan rumah mau nyedukan Kopi atau Teh, adalah suatu kelaziman tuan rumah yang kedatangan tamu, tidak ada maksud apa2, tidak pilih tamunya siapa, teman lama atau teman baru, teman akrab atau teman biasa2 saja. Begitu juga yang ngirim pisang rebus, tidak merasa dirinya repot. Teman penerima pisang rebus juga, ngucapkan kata2 “terimakasih …… kok repot-repot”, juga ucapan yang lazim, tidak berkonotasi, bahwa temannya yang ngirim pisang rebus itu ada maksud tertentu. Begitulah dinamika “gaul” dalam masyarakat, apalagi antar daerah, antar negara, tak jarang salah “Pemilihan Kata” berdampak yang tak diinginkan oleh para pihak. Allah telah memberikan panduan buat kita semua dalam berkomunikasi. Bahwa manusia tidak dapat berelak harus berkomunikasi, sejak mulai lahir sampai akhir hayat. Al-Qur’an memberikan arah kepada manusia 6 (enam) teknik berkomunikasi yaitu: 1. Qaulan SADIDA (QS. Al- Ahzab ayat 70), 2. Qaulan BALIGHA (QS. An- Nisa ayat 63), 3. Qaulan MA’RUFA (QS. Al-Baqarah ayat 235), 4. Qaulan KARIMA (QS. Al-Isra’ ayat 23), 5. Qaulan MAY-SYURA. (QS. Al-Isra ayat 28). Mempersingkat tulisan ini, maka hanya dipetik teknik komunikasi ke 6 (enam) yaitu: “Qaulan LAYYINA” (perkataan yang lemah lembut) yaitu perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun menghadap kepada Fir’aun. Kesuksesan melaksanakan teknik komunikasi yang disampaikan “komunikator”, sangat tergantung kepada suasana kebatinan “Komunikan”. Nabi Musa dan Nabi Harun, diperintahkan Allah berkomunikasi kepada Fir’aun dengan tehnik komunikasi “LAYYINA”. فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى ۝٤٤ Artinya: Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS: Thaha 44) Kenyataannya Fir’aun (Komunikan), tidak mau menerima yang disampaikan nabi Musa dan Nabi Harun (komunikator), bahkan Nabi Musa Nabi Harun serta pengikutnya di kejar dan diburu, sampai ketepian laut Merah……. Demikian pula adanya dalam keseharian, kita berusaha untuk melaksanakan teknik komunikasi sedapat mungkin mengikuti petunjuk Allah, namun tak semuanya berhasil. Seperti halnya komunikasi dalam kehidupan se-hari2 yang dicontohkan di artikel ini, satu diantaranya kandidat doctor yang dicontohkan di atas. Yaa Allah,…. permudahkanlah kami dalam berkomunikasi, terutama dalam hal berkomunikasi untuk meningkatkan silaturahim dan menghimpun kebaikan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 1 DzulKaidah 1447 H. 19 April 2026.

No comments:

Post a Comment