Sunday, 12 April 2026

TUA SEHARI

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.410.03.04-2026 Teringat istilah di kampung kelahiranku, kadang dengan satu kata, dua kata atau tiga penggal kata, terbentuk satu kalimat ketika diucapkan dapat menyadarkan seseorang. Atau dengan kalimat tersebut mewakili untuk memberi tau orang lain akan sifat/perangai/pembawaan orang lain. Di kampung kelahiranku, banyak sekali istilah2 berwujud “pengingat”, berwujud “mewakili stempel diri seseorang”. Istilah2 itu ada harapan pemuda2 penduduk kampungku kini sudah tidak memahaminya lagi, karena sudah membaurnya penduduk asli dengan pendatang. Salah satu diantara istilahnya “TUA SEHARI”. “Tua sehari”, dipergunakan untuk julukan bagi orang yang dalam percakapan apa saja dia paling tau, setiap partner bicara kemukakan pendapat,……. kadang salah melulu, dialah yang paling benar. Ucapannya selalu “ndak begitu …………, mestinya begini………..”, “saya mengetahui persis aturannya, karena saya ……..”. Mending kalau argumentasinya menggunakan fakta, kadang hanya untuk mematahkan argumentasi partner bicara, didukung oleh kepiawaiannya menyusun kalimat. Termasuk ketika membicarakan soal2 agama walau partner bicaranya atau peserta dalam suatu pertemuan rapat misalnya telah kemukakan dalil2, si “Tua Sehari” tetap membantah, paling tidak bantahannya “kita tidak boleh kaku ………, ……… logikanya …………”. Padahal yang namanya ketentuan agama utamanya soal menyangkut ibadah harus diikuti apa adanya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang telah difatwakan ulama2. Begitulah profil orang yang dijuluki “TUA SEHARI”, istilah di kampung kelahiranku Ketapang Kal-Bar. Rupanya ketika ku menetap sekitar 3 tahunan di Pontianak, dengan profesiku ketika itu sebagai Penyiar RRI dan Wartawan Antara, memungkinkan aku menyerap banyak istilah2 lokal, istilah inipun berlaku juga di Pontianak, dengan pengertian yang sama dengan kampungku. Orang yang mendapat julukan “Tua Sehari”, bilamana ada suatu group yang akan ber audience dengan beliau, entah ber-bincang2 atau berdiskusi, atau apalah dalam pembicaraan, teman2nya sudah mengingatkan atau memberitahukan kepada teman2 lain selain si Tua Sehari “dengan memberi isyarat: “tangan kanan dengan jari rapat diangkat sedikit ke atas dahi, sesudah orang2 melihat lalu mengacungkan telunjuk”, untuk teman yang duduk berdekatan dibisiki: “Oohh nanti akan ketemu si Tua Sehari…….. dengar2 kan jak…….”. Maksudnya agar jangan sampai terjadi dialog yang berkepanjangan, percuma ndak akan menang. Orang yang berstempel “TUA SEHARI” ini dalam adu argumentasi, jangankan kalah, seri (draw atau remis) aja ndak mau, pokoknya dialah yang paling benar. Istilah “Tua sehari” ini dipergunakan; asal muasalnya adalah bahwa; budaya melayu itu menghormati orang yang lebih tua. Orang lebih tua itu, dianya dianggap lebih banyak pengalaman ketimbang orang yang lebih muda. Jadi makanya orang yang memposisikan dirinya serba lebih tau, serba lebih berpengalaman, serba lebih benar dari orang lain atau lebih benar dari siapapun partner berbicaranya dijulukilah “Tua sehari”. Lawan2 bicara lebih muda dari dirinya minimal “Satu Hari”, sehingga pengalamannya setidaknya kurang sehari. Orang lain belum lahir dia sudah lahir duluan. Dalam soal ilmu juga si “Tua sehari”, menganggap dirinya lebih dari orang lain. Memang ada nilai positifnya; si “Tua sehari”, biasanya rajin meng update diri di berbagai bidang, untuk meyakinkan disetiap kesempatan ber dialog dengan orang lain, pernyataan2 harus menunjukkan dia memang “lebih tau”, memang “lebih tinggi ilmunya”. Nabi Musa AS pernah ditanya oleh ummatnya (Bani Israil) siapa manusia paling berilmu, lalu beliau menjawab "Saya", tanpa menyandarkan ilmu tersebut kepada Allah. Allah menegur Nabi Musa dan menyatakan ada hamba lain yang lebih berilmu di pertemuan dua samudra, yaitu Nabi Khidir AS. Nabi Musa pun mencari Nabi Khidir untuk berguru menambah ilmunya. Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa di laut; tiba2 seekor burung pipit hinggap di perahu mereka, meloncat-loncat masuk ke lambung perahu, burung Pipit mencocorkan paruhnya untuk mereguk air tawar yang ada menggenang di cekungan lambung perahu dengan paruhnya. Nabi Khidir mengatakan; Ilmu dirinya ditambah ilmunya Nabi Musa serta semua makhluk, dibandingkan ilmu Allah bagaikan Air yang diambil burung Pipit pakai paruhnya, dengan seluruh air di lautan luas. Melambangkan ilmu Allah yang tak terbatas, menunjukkan betapa kecilnya pengetahuan manusia. Tamsilan Nabi Khidir ini mengingatkan kita semua, utamanya orang yang memposisikan diri “TUA SEHARI”, hendaklah menyadari bahwa ilmu yang dimiliki awak ini sangat2 amat sedikit. Sehingga adalah sangat tidak wajarlah bila seseorang dalam setiap pertemuan ketika berbicara dengan seseorang atau sekelompok orang tidak menghargai orang lain, bahwa bukan hanya diri anda yang paling tau. Karena kita manusia ini diberi Allah ilmu sangat terbatas seperti disebutkan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Isra' ayat 85: وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ("...tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit"). Keterbatasan ini mencakup indra, logika, dan pengetahuan tentang hal gaib, sehingga manusia diwajibkan tetap rendah hati dan terus memohon tambahan ilmu. Sebaiknya saban waktu kita berdo’a minta tambahan ilmu yang bermanfaat kepada Allah; اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (halal), dan amal yang diterima." [HR. Ahmad & Ibnu Majah) آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 24 Syawal 1447 H. 12 April 2026.

No comments:

Post a Comment