Monday, 30 March 2026
KETERBATASAN – INGATAN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.407.06.03-2026
Balita rata2 akan mulai dapat mengucapkan kata2, usia 1 sampai 2 tahun. Kadang kata yang baru meluncur dari mulutnya, “mama”, atau “bunda”, “papa” , “ayah” sesuai dengan apa yang diajarkan oleh orang2 sekilingnya utamanya kedua orang tuanya. Untuk meminta sesuatu juga si balita ada yang cenderung memilih suatu kata saja misalnya “NUM”. Minta minum, diucapkannya “Num”. minta makan juga diucapkannya “Num”, minta sesuatu barang untuk dimainkan juga dengan telunjuknya mengatakan “Num”, pokoknya semuanya “Num”. Orang tua atau orang sekilingnya seperti pengasuhnya secara bertahap memperbaiki istilah yang tepat yang disebutnya “Num” tersebut. Secara perlahan-lahan seiring bertambahnya usia, bertambahlah perbendaharaan kata si balita, sampai dapat menyusun kalimat untuk berbicara.
Setelah balita “NUM” ini tumbuh menjadi anak2, misalnya sudah berusia 12 – 13 tahun, kalau kepada yang bersangkutan ditanyakan apakah dianya ingat ketika dulu bila meminta sesuatu, makan atau minum atau barang apa saja hanya mengucapkan kata “NUM”. Anak yang kini sudah kelas 1 esempe itu akan mengatakan “saya tidak ingat lagi”.
Begitulah keadaan anak manusia INGATANNYA SANGAT TERBATAS, apa yang diucapkannya ketika dianya masih umur dibawah 2 tahun saja dia sudah tidak lagi sanggup mengingatnya. Pada hal orang tuanya, mungkin orang2 sekelilingnya menyaksikan bahwa ketika dianya baru pandai mengucapkan kata, untuk menyampaikan semua keinginannya diwakili oleh kata “NUM”.
Apalagi yang diucapkannya ketika kita ini masih di “alam roh”, jauh sebelum kita2 ini masuk dalam “alam rahim ibu” dimana ketika itu masing2 diri kita menurut Allah dalam Al-Qur’an; ROH kita “bersaksi Allah adalah Tuhan kita” seperti termaktub dalam surat Al-A’raf Ayat 172:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Pembaca; mungkin juga anda pernah merasakan apa yang saya pikirkan, bahwa kita tidak ingat pernah diambil kesaksian sebagaimana dimaksud ayat di atas. Untuk memahami ayat ini, seyogyanyalah kita telusuri beberapa tafsir dari ulama2 tafsir, namun untuk mempersingkat tulisan baik di kutip tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka ketika menafsirkan surat Al-A’raf ayat 172 (JILID 4 halaman 2597).
Quote:
Maksud ayat ialah menerangkan bahwasanya jiwa murni tiap-tiap manusia itu adalah dalam keadaan fithrah, masih bersih, belum ada pengaruh apa-apa. Pada jiwa yang masih murni itu sejak semula telah terdapat pengakuan bahwasanya pastilah ada pencipta dari seluruh alam ini. Tidaklah alam terjadi sendirinya, dan tidak pula ada pencipta yang lain. Pencipta itu hanya Satu, Esa, Tunggal. Pada ayat ini dikatakan bahwa lembaga insan dikeluarkan dari tulang punggung tempat dia disimpan, lalu ditanyai langsung oleh Allah, bukankah Aku Tuhanmu? Mereka semua menjawab: "Memang! Atau benarlah bahwa Engkau Tuhan kami dan kami menyaksikan."
Apakah benar-benar kita keluar dari tulang punggung dan ditanya? Bilakah terjadinya hal itu? Setengah ahli tafsir menafsirkan, bahwasanya kejadian itu ialah semasa roh insan masih di dalam lembaga Adam. Roh telah terjadi lebih dahulu daripada badan, waktu itulah pertanyaan datang. Tiap-tiap kita tidak ingat lagi, tetapi dia telah mendasar pada jiwa kita. Sebab itu apabila manusia telah hidup di dunia ini, jiwa murninya telah menyaksikan bahwa Allah itulah Tuhan kita. Tetapi ahli-ahli bahasa Arab mengatakan bahwa ayat Allah ini adalah sebagai suatu tamsil yang tinggi menurut Balaghah. Allah bercakap¬ cakap dengan tiap-tiap jiwa itu bukanlah mesti berhadap-hadapan, tetapi iradat dan takwin llahi, atau kehendak Allah, atau kekuasaan Pencipta, bertanya kepa¬da lembaga akal yang murni yang tidak perlu difikirkan bahwa itu adalah soal¬ jawab dengan mulut. Di dalam ayat yang lain terdapat pula yang serupa ini, yaitu di dalam Surat 41 ( Fushilat ayat 11), bahwa Allah berfirman kepada langit dan bumi supaya datang dengan patuh atau dengan terpaksa, lalu langit dan bumi menjawab bahwa kami akan datang dengan patuh. Yang menjawab itu bukan lidahnya, melainkan keadaannya. Maka manusia itupun demikian pula, yang menjawab itu bukan lidahnya, melainkan keadaan dan kenyataan.
Unquote
Kembali ke sekelumit kisah seorang anak dibawah 2 tahun, menggunakan kata yang mewakili apapun yang diinginkannya dengan kata “NUM”, setelah dia besar sama sekali dia tidak ingat pernah berkata demikian. Apatah lagi kita ketika masih di alam ROH, wajarlah sudah tidak ingat pernah “berucap, berjanji menyaksikan”, seperti termaktub dalam Alqur’an surat Al-‘Araf ayat 172 tsb.
Di dunia modern sekarang ini dengan teknologi canggih, ada anak yang minta bukti kalau dulunya dianya pernah digendong neneknya pakai selendang, kalaulah pernah digendong diatas pundak omnya. Si bocah bertanya “apakah ada menyimpan videonya?”. Demikian juga jikalah bahwa ketika dia masih baru dapat mengatakan “NUM” untuk segala urusan itu ada videonya, tentu si anak tak dapat lagi menyangkal, jika di putar kembali videonya. Bukankah Allah lebih canggih lagi videonya, misalkan secara senyatanyapun ketika kita di alam ROH dulu masing2 diri ini pernah berdialog dengan Allah :
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ
Secara logika kejadian itu, keberadaan dialog itu, dapat diterima sehingga bukanlah barang mustahil, sangat masuk akal, jika dikaitkan dengan contoh anak menyebut kata “NUM”, tidak ingat lagi. Apalagi kita masih di alam ROH.
Ya Allah kuatkan iman kami, sehingga dapat menerima dan memahami ayat2 Qauliyah yang Allah turunkan dalam Al-Qur’an, begitu juga dapat menyimak dan mengambil pelajaran dari ayat2 Kauniyah yang diturunkan Allah berupa alam semesta ini.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 11 Syawal 1447.H.
30 Maret 2026.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment