Tuesday, 3 March 2026
PUASA - PERUT
EDISI: RAMADHAN
Renungan: M. Syarif Arbi
No: 1.403.02.03-2026
Puasa dikenal dalam bahasa agama Islam “shaum”, kegiatan pertamanya adalah “PERUT”. Salah satu dari enam yang semestinya diupayakan agar dipuasakan lima lainnya yaitu: Mata, Telinga, Lidah (mulut), Anggota tubuh, dan Hati.
Perut berposisi di tengah, kepala di atas, kaki di bawah. Di Kepala termuat Otak, sebagai sentral pengatur seluruh aktifitas manusia. Otak tidak akan dapat berfungsi dengan baik jika perut yang terletak dibawah leher itu tidak terisi dengan makanan yang cukup dan bergizi. Itu sebabnya barangkali maka diluncurkan “Makan Bergizi Gratis” (MBG), agar anak2 calon penerus bangsa bernas otaknya, cemerlang ide dan kreasinya guna memajukan bangsa kelak setelah mereka dewasa. Hasilnya, kesudahannya, وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ, waktu jualah yang akan membuktikan.
Kaki akan gontai melangkah bila perut dalam keadaan lapar. Mata akan mudah menjadi “gelap mata” (melakukan apapun), bila perut lapar. Banyak pelaku kriminal dengan alasan utama demi pemenuhan kebutuhan “perut”.
Dalam hal ini kalau di runut2, berat dugaan karena terpaksa lantaran sulit cari kerjaan, sulit cari duit pembeli pengisi perut, orang nekat jadi maling, dengan resiko bila ketangkap masa akan babak belur. Sekali lagi bila di runut2 juga salahnya yang ngatur masyarakat juga, kenapa lapangan kerja tidak tersedia, kenapa kekayaan alam di anugerahkan Allah buat negeri ini, tidak dimanfaatkan dikelola untuk kesejahtaraan seluruh anak bangsa (hanya memakmurkan segelintir orang). Lain lagi dengan koruptor mereka menggumpulkan harta haram bukan lagi untuk ngisi perut lantaran lapar, tapi untuk memenuhi kesarakahan.
Soal keserakahan inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Manusia sanggup makan segala macam makanan. Sedangkan hewan hanya dapat makan makanan tertentu. Misalnya hewan pemakan “rumput” tak akan dapat makan “daging”. Hewan pemakan “daging” tidak bersedia makan “rumput”. Manusia kadang bukan saja daging, sayur (rumput2an), dalam kata kiasan manusia sanggup makan “aspal”, makan “besi beton”, makan “proyek” dll. Dalam pada itu minumnya manusia juga beraneka, termasuk dalam tanda petik “meminum BBM”.
Ketika berpuasa, makanan yang halal saja harus sanggup dipertahankan untuk tidak dimakan di siang hari, apalagi yang haram. Mem-PUASA-kan perut artinya melatih diri agar nanti di saat tidak berpuasa; hanya memakan makanan yang “halalan, thayyiban”. Makanan halal dalam koridor agama adalah: halal zatnya, halal cara memprosesnya, halal cara memperolehnya. Halal dari arti Zat nya, serta cara memperosesnya jelas diberitahuan Al-Qur’an: tertera dalam surat Al-Maidah ayat 3:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِۦ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلٰمِ ۚ ذٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Sedangkan bagaimana memperoleh sesuatu yang diisikan ke perut, agama Islam memberi panduan:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (An-Nisa' ayat 29)
Begitu lengkap dan jelas panduan Al-Qur’an mengenai pengisi perut; dari jenis apa saja yang boleh dimakan, harus dengan jalan yang halal memperolehnya dan dengan cara yang benar pula dalam memprosesnya. Belum cukup itu saja juga diingatkan oleh Al-Qur’an, bahwa meskipun makanan itu halal, diperoleh dengan cara yang baik, diproses dengan benar, namun harus dikonsumsi tidak boleh ber-lebih2 an:
يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَا شْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf ayat 31)
Dengan mempuasakan perut agar manusia terhindar dari makanan yang haram, tidak dibenarkan agama seperti melalui korupsi, penggelapan, pencurian, penipuan dsbnya. Selama puasa telah dilatih makanan yang halal saja di siang hari sanggup untuk TIDAK memasukkannya kedalam perut, apalagi makanan yang haram.
Sebab perut manusia “yang serakah” tidak pernah merasa kenyang, kalau hanya diisi; aspal, semen, besi beton, BBM, proyek dll, masih tetap belum kenyang. Perut manusia “yamg serakah” baru kenyang setelah terisi dengan “tanah” (alias masuk liang lahad).
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048).
Naaah, saudaraku dengan berpuasa ini, dimana kita semua telah dapat melatih diri mem-puasa-kan PERUT, mudah2an setelah puasa berlalu sanggup memilih makanan halal saja, terjauh dari makan haram dan tercegah memperoleh makanan dengan jalan bathil.
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ
.سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون
وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Jakarta, 14 Ramadhan 1447
3 Maret 2026.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment