Sunday, 15 February 2026

BERDAKWAH sebelum ALIM

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.394.04.02-2026 Manusia yang beruntung di dunia ini terdapat 7 (tujuh) kelompok yaitu: 1. Orang yang istiqamah shalat, sebelum dianya dishalatkan. 2. Orang yang rajin saban hari menyempatkan diri membaca Al-Qur’an, sebelum ketika dia sakit parah didekatnya dibacakan orang Al-Qur’an. 3. Orang yang rajin bersedekah tak menunggu kaya, lalu menjadi kaya karena bersedekah. 4. Orang berdakwah sebelum alim, menjadi alim karena berdakwah. 5. Orang yang berani tinggalkan kemewahan dunia, sebelum dianya meninggalkan dunia. 6. Orang yang rajin ke masjid tak menunggu tua, bukan sesudah tua baru rajin ke masjid 7. Orang yang bertobat, selagi sehat, bukan baru bertobat setelah dekat sekarat. Sepertinya 7 (tujuh) hal yang dikemukakan diatas cocok sekali untuk dibicarakan menjelang memasuki bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Pada bulan Ramadhan Lahan untuk mencapai keberuntungan dimaksud diatas, dibentangkan Allah demikian luas dengan motivasi ganjaran pahala yang berlipat ganda. Di artikel singkat ini izinkan saya memetik satu diatara 7 (tujuh) orang yang beruntung tersebut, karena kalau dipetik semuanya akan panjang, sehingga ada diantara pembaca yang lihat tulisan panjang, akan ogah sebelum mengunggah. Oleh karena itu yang dipetik di artikel ini hanya “Soal berdakwah”. Di bulan2 Ramadhan sebentar lagi kita masuki, hampir setiap masjid memprogramkan ceramah2 sebelum tarawih, sesudah subuh, sesudah dzuhur dan bahkan sebelum berbuka. Demikian pula di jaringan2 TV. Ustadz2 kondang kebanjiran undangan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa untuk berdakwah harusnya terlebih dahulu berilmu tinggi, lulusan sekolah2 agama, sangat di suka bila lulusan dari luar negeri. Di ungkapan di atas saya cantumkan di nomor 4. “Orang berdakwah sebelum alim, menjadi alim karena berdakwah”. Ungkapan ini sebagian orang, tak kurang dari sebagian ustadz yang kadang menyindir “percaya mana ustadz berdakwah mengandalkan lap top, dengan ustadz yang hafidz dan hafal ribuan hadits”. Tentulah kalau memungkinkan yang mendakwahi kita adalah ustadz/ustadzah yang hafidz/hafidzah dan hafal ribuah hadits. Akan tetapi di komunitas tertentu, di masjid2 tertentu belum punya kesanggupan mengudang ustadz/ustadzah kondang. Dalam keadaan demikian harus ada orang yang berani berdakwah sebelum alim, selanjutnya lantaran dia berdakwah, lama kelamaan menjadi alim karena setiap kali akan berdakwah dianya harus belajar, mencari referensi guna mempersiapkan diri buat materi dakwah. Sesudah berdakwah mengevaluasi diri apakah masih terdapat kesalahan atau kekurangan referensi dalam dakwahnya. Bukankah cara yang demikian itu akan menjadikan ustadz tsb lama kelamaan menjadi alim? Keberanian ustadz/ustadzah kecil2an ini jangan dikira tidak memiliki rujukan pesan dari Rasulullah Muhammad ﷺ dan panduan dari Allah melalui Al-Qur’an. PERTAMA: Kewajiban masing2 kita untuk menyampaikan apa yang diketahui tentang ilmu agama, walau hanya sedikit. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari) Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang boleh menyampaikan ilmu meskipun sedikit, selama ia benar-benar mengetahui dan memahaminya. KEDUA: Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran: 104) Ayat ini tidak mensyaratkan harus menjadi ulama besar terlebih dahulu, tetapi tentu harus memiliki ilmu tentang apa yang disampaikan. Akan tetapi, harus lah dengan sangat berhati-hati untuk berdakwah jika belum betul2 menguasai “tentang satu ayat” yang akan disampaikan tersebut. Hendaklah dicari referensinya dari berbagai sumber, barulah berani mendakwahkannya karena Allah berfirman dalam surat Yusuf Ayat 108: قُلْ هٰذِهٖ سَبِیْلِیْۤ اَدْعُوْۤا اِلَی اللّٰهِ ؔ۫ عَلٰی بَصِیْرَةٍ اَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِیْ ؕ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِیْنَ "Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin (berlandaskan ilmu), Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” Ini menunjukkan bahwa dakwah harus berdasarkan ilmu, bukan sekadar semangat. Dengan demikian jikalah punya keberanian untuk berdakwah karena mengetahui suatu perkara tentang agama, maka hendaklah menyampaikannya sesuai kadar ilmu yang diketahui. Artinya; tidak harus menjadi alim besar dulu baru berani berdakwah, tetapi: Tidak berbicara tanpa ilmu, Tidak mengarang fatwa, Tidak menyesatkan orang. Kesimpulan: Boleh berdakwah sebelum menjadi alim, jika: Menyampaikan hal yang benar-benar diketahui. Jika apa yang disampaikan ada dalil yang jelas. Tidak berbicara tentang hal yang tidak dipahami. Bersedia menerima koreksi. Tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan dalil yang jelas, lebih terhormat mengatakan “saya belum tau”, ketimbang harus mengarang jawaban. Tegasnya Tidak boleh berdakwah tanpa ilmu, karena bisa menyesatkan diri sendiri dan orang lain. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 15 February 2026. 27 Sya’ban 1447H.

No comments:

Post a Comment