Monday, 29 May 2023
Bertanya Kelik Selubang
Kelik, sejenis ikan, mereka hidup berkelompok di air tawar. Habitatnya bukan sungai besar berarus deras, tapi parit kecil dimana airnya cenderung keruh, tidak mengalir deras. Kelik mirip dengan ikan "Lele", bedanya pada kepala dan punggungnya. Kepala Kelik lebih kecil dari badan, punggungnya bersirip lembut. Sekelompok ikan Kelik dalam seliang dapat berjumlah puluhan bahkan sampai lebih seratus ekor.
Tulisan ini tidak bermaksud menceritakan detil keadaan fisik si ikan Kelik, hanya ingin mengangkat peribahasa kampungku tempo doeloe tentang ikan Kelik, mungkin generasi muda sekarang sudah ndak kenal lagi akan peribahasa itu. Padahal “ikan Kelik” ini cukup dikenal di seputar kota kelahiran diriku, terbukti kata “Kelik” diabadikan jadi nama daerah “Sungai Kelik” di Kecamatan Nanga Tayap, dan ada satu lagi nama desa “Kelik Buntu’”, lokasi di jalan lintas Kabupaten Ketapang ke Kabupaten Kayung Utara.
"Bertanya Kelik Selubang", demikian bunyi peribahasa tsb. Peribahasa itu dimaksudkan untuk mengibaratkan bertanya dengan sesama teman yang juga tidak tau jawabannya, pengetahuannya sama, sesama seliang atau selubang, tidak punya informasi dari luar. “Seliang” atau “selubang” berarti; tempat tinggal sama, dengan demikian pengetahuan sama.
Peribahasa ini memberikan pedoman; dalam hal ingin mengetahui sesuatu informasi atau lebih luasnya, memperdalam ilmu, hendaklah:
1. Jangan bertanya kepada pihak yg sama-sama tidak mengetahui, nanti jawabannya ada harapan justru menyesatkan.
2. Bertanyalah kepada orang yang mengerti. Lebih utama menanyakan sesuatu masalah kepada orang yang ahli dalam bidangnya.
3. Boleh jadi pendapat suatu kelompok, oleh kelompoknya akan dianggap paling benar, karena kurang mendapatkan informasi dari kelompok lain.
Akan hal bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan sejalan dengan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an:
ۚ فَسْئَلُوٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُون ………………….”
"maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,"
(An-Nahl ayat 43)
Dalam hidup ini tidak semua ilmu, tidak semua pengetahuan dimiliki oleh seseorang. Dalam hal tidak mengetahui sesuatu, kalau ingin lebih mengetahui bertanyalah kepada pihak yang menguasai ilmu pengetahuan tersebut, sebab jika bertanya kepada yang tidak pandai seperti terungkap di untaian pantun berikut:
Ibarat baju lama tidak dipakai.
Bisa lapuk sendiri dalam lemari.
Bertanya ke orang tak pandai.
Bagaikan alu mencungkil duri.
Nabi Musa pernah mengajukan tujuh pertanyaan kepada Allah, salah satu dari tujuh pertanyaan nabi Musa itu; “Siapa hamba-Mu yang paling berilmu?” Allah menjawab, “Orang berilmu yang tidak pernah puas dari ilmu, yang menyatukan ilmu-ilmu manusia dengan ilmunya.”.
Adalah suatu hal yang positif jika setiap insan tidak puas dengan ilmu pengetahuan, terus menerus mengumpulkannya dengan berguru kepada yang lebih pandai, meramu dan mengumpulkan ilmu itu, namun tidak pernah merasa paling berilmu, karena ilmu diturunkan Allah ke dunia ini demikian banyak dan luas tak mungkin dikuasai oleh seseorang.
Semoga, Allah senantiasa membimbing kita semua dalam menambah ilmu yang bermanfaat.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 9 Dzulkaidah 1444 H.
29 Mei 2023 (1.158.05.23).
Saturday, 27 May 2023
SARANA Rawat IMAN dan TAQWA
Slogan IMAN dan TAQWA ini gampang sekali untuk dinasihatkan kepada orang. Para ustadz selalu mengingatkan dalam setiap majelis ta’lim, ceramah dan khutbah Jum’at. Bahkan merupakan salah satu rukun Khutbah; adalah khatib harus mengajak jamaah untuk meningkatkan iman dan taqwa. Tetapi tidak gampang untuk dilaksanakan, termasuk ustadz yang gencar menyampaikan nasihat itu sendiri.
Kalau begitu bagaimana sarananya agar setiap insan selalu dapat memelihara IMAN dan TAQWA sehingga merasa diawasi oleh Allah terus menerus, harus terlaksana paling kurang dua hal penting:
1. Setiap diri harus taat melaksanakan ibadah; bagi ummat Islam sekurangnya perintah shalat, karena dengan demikian dirinya selalu berdzikir (ingat Allah) sekurangnya dalam shalat 5 waktu. Manakala di tempat pekerjaan ketika mulai pagi menjelang dzuhur ada kesempatan berbuat amal buruk. Diri ingat bahwa ketika shalat subuh berdialog dengan Allah. Telah memohon agar “ditunjuki jalan lurus, bukan jalan orang yang dimurkai, bukan pula orang yang sesat”. Sedangkan berbuat kemungkaran, kecurangan, jelas dimurkai Allah, jelas jalan yang sesat. Ingat permohonan itu, maka insya Allah urung melakukan perbuatan tercela tersebut.
Begitu selanjutnya diperbaharui lagi mengingat Allah ketika dzuhur dan kembali berkegiatan lagi dan jika bertemu lagi dengan kesempatan beramal buruk, ingat baru saja shalat dzuhur dan seterusnya, begitu pula berbisnis apapun, sampai ashar dan maghrib, merasa tidak lepas dari pengawasan Allah. Bersambung dengan shalat isya setelah menjelang istirahat di kediaman masing2, mereview apa yang telah terjadi guna beristighfar bila ada yang keliru untuk perbaikan keesokan hari dan selanjutnya.
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
(dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar) Al-Ankabut 45.
2. System dalam masyarakat. Mungkin pembaca bertanya, aah itu para koruptor kan shalatnya taat, tiap waktu tak pernah tinggal.
Para koruptor kadang haji lebih sekali, umrah saban tahun. Tapi kenapa masih saja korupsi…………..? Ini pertanda bahwa diri ybs, mungkin sekali lagi mungkin belum betul2 menghayati shalatnya, kemungkinan berikut ybs sudah tidak kuat melawan bujuk rayu syaitan. Syaitan akan mendatangi manusia dari berbagai arah.
ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ
"kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur."
(Al-A'raf ayat 17)
Oleh karena itu perlu ketaatan pemeluk agama dengan ibadah kepada Allah dibarengi dengan adanya system yang diterapkan agar dapat membentengi kedatangan syaitan dan menguatkan Iman.
System dimaksud adalah seperangkat aturan yang harus dibuat sehingga tidak mudah orang berkesempatan melakukan pelanggaran. System dari peraturan2 itu ditegakkan oleh yang punya otoritas, sebagai wakil Allah dimuka bumi ini.
Sebagai contoh di Makkah dan Madinah, misalnya; Ketika adzan sudah berkumandang, setiap kegiatan bisnis dihentikan. Pedagang tidak mau lagi menerima pembayaran dari pembelinya, walau sudah putus harga. Barang2 dagangan diselimuti hanya dengan kain tanpa menutup pintu toko, pedagang pergi shalat.
Apa sebab demikian, antara lain ada aturan, system yang baku di kedua kota tersebut. Bila seorang pedagang kedapatan menerima transaksi ketika adzan sudah dikumandangkan, akan dianggap melanggar hukum dan dikenakan denda yang tidak sedikit. Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Ada aparat yang mengawasi pelaksanaan system.
Begitu pula hendaknya di dalam tatanan kemasyarakatan dalam seluruh kegiatan, hendaklah ada system sedemikian rupa sehingga setiap orang bertransaksi apapun, mengurus surat menyurat atau perizinan, mengikuti tender, melaksanakan pembangunan gedung, pembangunan proyek triliunan. Pokoknya dalam interaksi apapun ada suatu system sehingga setiap orang merasa diawasi Allah baik oleh dirinya sendiri, maupun oleh system. Dengan demikian insya Allah tidak akan ada tender berpura-pura, pemenang tender proyek setelah terbongkar menjadi kasus, alamat kantor perusahaannya di dalam gang, pemilik rumah ndak tau rumahnya jadi alamat kantor pemenang tender proyek milyaran rupiah.
Pernah kualami ketika membayar rekening langganan rumah tangga (ketika itu belum populer bayar via rekening), disuatu perusahaan pelayanan umum (tidak etis disebut). Tertera dalam tagihan Rp 37.645,-- (tiga puluh tujuh ribu enam ratus empat puluh lima rupiah)................... Untuk memudahkan transaksi karena recehan sampai dua angka di depan koma sudah sulit mendapatkannya. Sedari rumah sudah disiapkan uang pecahan 20 ribu selembar, 10 ribu selembar, 5 ribu selembar, 2 ribu selembar, koin 500 sekeping, koin 200 sekeping. Total menjadi Rp 37.700. seharusnya sudah lebih Rp 55,- ....Tidak pas 645, karena pecahan tersebut sudah agak sulit, ok.lah.
Apa yang terjadi para pembaca.
Penerima (kebetulan Ibu-ibu sudah lumayan hampir pensiun, mungkin beberapa tahun lagi) mengatakan "kurang Pak!!!" seharusnya 38 ribu. Akhirnya saya ingatkan yang bersangkutan. "Tadi sudah lebih 55 rp". ...............Rupanya ibu kasir itu tetap bertahan minta uang pecahan 50 ribu kebetulan saya juga ada bawa,............ dan kemudian ibu kasir mengembalikan Rp 12.350. Malah hampir pas. Mungkin karena si ibu dalam beberapa detik terfikir benar si pelanggan tadi udah lebih 55rph. ……..Ibu itu tidak mau menerima uang receh tadi, tentulah gengsi sebab sudah menolak.......malah mengatakan kurang.
Nggak apalah saya merasa sudah membantu ibu tadi mengingatkan bahwa ada pelanggan yang ngurus soal kecil begini. Karena dosa besar merupakan kumpulan dosa kecil2. Sekecil apapun penerimaan dengan cara yang tidak halal itu adalah haram.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308)
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits, untuk mengingatkan umat Islam agar tidak meremehkan dosa-dosa kecil yang sering diperbuat.
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّ رَ اتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّ رَ اتِ الذُّنُوبِ كَقَ وْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُو دٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ
''Awaslah kalian dari dosa-dosa kecil yang biasa diremehkan, sebab itu semua dapat terkumpul sehingga dapat membinasakan orangnya.''
Lalu beliau membuat perumpamaan, suatu kaum (rombongan) yang turun berkemah di hutan dan ketika tiba waktunya makan, tiap orang keluar mencari lidi serta dahan pohon. Setiap orang mendapatkan satu dahan sehingga terkumpul banyak dan dinyalakan api yang dapat memasak makanan.” (HR Ahmad).
System secara lebih luas perlu dibudayakan. Supaya sarana pengingat Allah, mempertebal IMAN dan TAQWA itu bukan saja melekat pada diri, tetapi juga harus dibantu pihak lain, dibantu system sehingga tidak mudah untuk orang berbuat curang, melalui dua jalur yaitu:
Pertama; dari dalam diri sendiri masing2 individu masyarakat melalui taat kepada agamanya sehingga takut berbuat dosa karena merasa diawasi Tuhan.
Kedua; diawasi dari luar diri dalam bentuk system yang diciptakan oleh suatu bangsa disepakati bersama, pelaksanaannya diawasi oleh otoritas yang berkuasa.
Layak kita bersyukur, belakangan ini banyak pembayaran tagihan rumah tangga, pengurusan perizinan, administrasi kemasyarakatan telah menggunakan system elektronik, sehingga mengurangi kemungkinan kecurangan. Tak kurang di kantor2 telah dilengkapi system pengawasan elektronik berupa CCTV. Namun bagaimanapun canggihnya teknologi pengawasan ekstern berupa system itu tadi, bila pengawasan intern berupa selalu taat melaksanakan ibadah, agaknya masih selalu dapat dicari jalan bagi pelaku korupsi, pelaku kecurangan, penipuan dan kemaksiatan menjalankan aksinya. Oleh karena itu kedua sarana IMAN dan TAQWA ini harus berjalan seiring sejalan.
Dengan baiknya kedua sarana merawat IMAN dan TAQWA berupa pengawasan diri sendiri yaitu taat kepada Tuhan, diiringi oleh system pengawasan ekstern yang baik; semoga kecurangan, korupsi, penipuan dan kemaksiatan, akan berkurang.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Sabtu, 7 Dzulkaidah 1444 H.
27 Mei 2023 (1.157.05.23).
Tuesday, 23 May 2023
TELPON tak TERDAFTAR
Nada panggil HP berdering, terlihat nomor tidak di kenal. Begitu di terima, penelpon memberi salam:
Case 1. Langsung "apa ini dengan pak ...... (menyebut nama penerima)
Case 2. Di kali lain penelpon tak dikenal oleh penerima menjawab "betul", lantas malah penelpon bikin teka-teki : "masih ingatkah dengan suara saya".
Case 3. "Perkenalkan saya ....... dari....... menawarkan........ (nyebutkan produk). Kadang kita bingung dari mana perusahaan atau pihak penelpon mendapatkan nomor kita.
Dengan canggihnya komunikasi sekarang, banyak teman yang sudah puluhan tahun lalu tak pernah ketemu, sekali tempo dapat melihat di media sosial nama teman lama selanjutnya dari teman ke teman dapat nomor HP teman lama tersebut. Lantas menghubungi per tlp kadang terpisah kota bahkan berlainan negara.
Di musim marak penipuan melalui HP masa kini, begitu ada tlp tak dikenal, jadinya ragu untuk mengangkat. Setelah diangkat akan sedikit kesal kalau dapat seperti case-case diatas.
Pada case 1. Mestinya penelepon lebih dahulu menyebutkan namanya. Misalnya setelah mengucapkan salam pembuka “maaf saya ……. (sebutkan nama) dapat nomor dari ………. , benarkah ini dengan …… (sebutkan nama penerima telepon).
Umpamanya pun salah, penerima telpon akan menjawab “maaf salah sambung”. Kalau yang nerima tlp agak tempramenan jawabnya “salah sambung prek langsung telp ditutup).
Pada case 2; kan jadinya tak pantas kita yang sudah umur kepala 7 ini suruh ngingat suara orang. Diusia senja ini, sudah terkoleksi teman mungkin hampir seribuan orang. Adalah wajar kalau tak lagi mengingat suara teman2 lama. Suara melalui telepon dengan suara ketemu langsung tidak akan sama persis. Sebaiknya, baik untuk case nomor 1 maupun case nomor 2, hendaknya di era sudah dapat ngirim pesan dengan W.A. ini, lakukanlah ber W.A. dulu; berisikan menyebutkan nama, pernah ketemu di mana. Misalkan teman sekolah, teman sekantor, teman sekampung, teman pernah sama di suatu rombongan dll.
Bila telah dijawab penerima bersedia di telpon, barulah menelepon. Teman yang sudah biasa telponan saja, kalau langsung di telp kadang cukup merepotkan. Umpamanya si penerima tlp sedang nyetir, sedang ada tamu, sedang di kamar mandi dll kesibukan.
Ber interaksi melalui telepon samalah seperti kita bertamu, hanya saja lebih praktis tanpa melalui pintu, sekarang malah dimungkinkan saling melihat wajah. Kalau di dahului dengan WA, misalkanpun video call, si penerima tlp dapat siap2, pakai baju dulu, sisiran dulu merapikan diri.
Karena; ingin bicara per tlp dengan seseorang analog dengan bertamu, sedangkan bertamu dalam kaidah agama diatur dengan jelas adabnya:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلٰىٓ أَهْلِهَا ۚ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." (An-Nur ayat 27)
فَإِنْ لَّمْ تَجِدُوا فِيهَآ أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكٰى لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
"Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, "Kembalilah!" Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (An-Nur ayat 28).
Dua ayat di atas mengajarkan:
Tamu daalm hal ini penelpon harus memberi salam dan minta izin lebih dahulu. Ditegaskan, bila tuan rumah dalam hal ini penerima tlp tidak berkenan,……, yaa sudah maka (dalam ayat 28 An-Nur, "kembalilah....itu lbh suci bagimu.......").
Ternyata petunjuk Allah demikian lengkap, selalu sesuai dengan kemajuan zaman termasuk di kecanggihan sarana berkomunikasi dewasa ini.
Semoga melalui bukti2 ketentuan Allah meliputi segalanya itu, menjadikan kita semua bertambah
beriman dan bertaqwa.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Rabu, 4 Dzulkaidah 1444 H.
24 Mei 2023 (1.156.05.23).
Monday, 22 May 2023
BIASAKAN yang BENAR
Ketika agama-agama yang kini dianut di Indonesia masuk di bumi Nusantara, nenek moyang kita sudah menganut kepercayaan kepada Sang Pencipta, penguasa jagat raya alam semesta. Mereka; nenek moyang kita sudah memiliki kepercayaan kepada pencipta alam, seiring dengan itu sudah terbentuk “kebiasaan” dianggap sebagai wujud mengabdi kepada Sang pencipta. Sudah terbentuk kesepakatan nilai-nilai; baik – buruk, juga sudah terbentuk akhlak standar yang diakui merupakan suatu kebenaran dalam masyarakat.
Bicara soal akhlak, nenek moyang kita berakhlak sudah tergolong baik, tidak separah di negeri dimana Islam mula diturunkan, yaitu kaum Qurais di Mekkah. Dimana saat itu diriwayatkan; perjudian, mabok2 an pelanggaran HAM lumrah terjadi, bahkan anak2 perempuan dikubur hidup2. Antar kelompok suku2 mudah sekali berperang. Mengenai permusuhan antar suku ini sampai diabadikan dalam Al-Qur’an:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوٰنًا وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk."
(Ali 'Imran ayat 103)
Kini sebagian terbesar penduduk bumi Nusantara memeluk agama, seharusnya tidak ada warga negara yang tidak beragama. Dalam melaksanakan ritual agama masing2, ada beberapa “versi tradisi” nenek moyang kita yang tidak sejalan dengan ajaran agama, masih dilakukan. Kebiasaan yang tak sejalan dengan ajaran agama itu bukan hanya terjadi dalam hal ibadah, namun juga dalam wilayah pergaulan hidup (interaksi di masyarakat). Kebiasaan yang tak sejalan dengan ajaran agama meluruskannya adalah tugas para pemuka agama. Sedangkan kebiasaan dalam interaksi di masyarakat, dari masa ke masa disesuaikan melalui peraturan, perundangan, dan ketentuan yang disepakati keberlakuannya oleh suatu bangsa, harus dipatuhi siapapun yang berada di suatu negera.
Dalam melaksanakan ketentuan agama, apabila masih saja berpegang teguh dengan kebiasaan nenek moyang yang tidak sejalan dengan ajaran agama; itu merupakan “membenarkan kebiasaan”. Seharusnya para pemeluk agama “membiasakan yang benar”, bukan “membenarkan yang biasa” . Risiko “membenarkan kebiasaan” dan tidak mau berubah menjadi “membiasakan yang benar”, dalam beragama, amal yang dilakukan berpotensi menjadi sia-sia.
Dalam pergaulan antar manusia, apabila bertahan dengan kebiasaan, padahal telah terjadi perubahan , maka akan terkena sanksi. Contoh: ketika sebelum covid 19, suatu saat abis jalan pagi ku mampir ke bank untuk sekedar mem print buku tabungan. Satpam dengan tegas di depan pintu “buka maskernya pak”, kebiasaan ku tiap jalan pagi sejak sebelum Covid 19 pun, aku memakai masker menghindari debu jalanan, karena aku mulai jalan pagi di atas pukul 8, guna menyerap matahari pagi, dimana lalu lintas mulai ramai.
Belum lama ini, sebetulnya keadaan sudah dinyatakan normal kembali, pas aku sedang duduk nunggu giliran antrian ke CSO bank, seorang ibu masuk ke bank tanpa masker untuk berurusan dengan CSO, ditolak oleh Satpam “masuk bank harus pakai masker” ujar si Satpam. Ibu membawa anak dibawah sepuluh tahun itu menjawab “kan waspada covidnya sudah dicabut”. Satpam nimpali “di bank ini belum dicabut ketentuan harus pakai masker”.
Naaah kan kebiasaan berbeda cuma selang berapa tahun saja. Sebelum covid masuk bank bermasker tidak boleh, karena wajah tidak dapat terlihat jelas. Giliran semasa covid dan bahkan sampai kini entah sampai kapan, masuk bank harus pakai masker.
Dari uraian dan peristiwa di atas diketahui bahwa masalah kebenaran ini “tergantung” kaidah yang dipergunakan untuk menentukan kebenaran tersebut. Ada beberapa kaidah kebenaran secara singkat; kendati tak benar2 tepat, sebagai berikut:
1) Kaidah kebenaran "Koheren" mengacu kepada bukti, misalnya seorang berkedudukan tinggi, itu terbukti dia mampu dan dipercaya. Apa yang diucapkannya benar terjadi, apa yang dijanjikannya benar ditepati.
2) Kaidah kebenaran "koresponden", Kebenaran dengan membandingkan hal2 yang benar sebelumnya. Misalnya; biasanya kalau dia yang ngomong benar, sebab dari dulu2 ndak pernah meleset.
3) Kaidah kebenaran "pragmatis" Kebenaran disuatu saat belum tentu benar di saat yang lain, contoh soal masker dikisahkan di atas.
4) Kaidah kebenaran “ILLAHI” Kebenaran mengacu kepada ketentuan dari kitab2 suci dan petunjuk nabi dan rasul2 utusan Allah. Ketentuan2 kebenaran ILLAHI tidak akan berubah selamanya.
Kebenaran ILLAHI dalam agama Islam diantaranya dapat dijumpai dalam Al-Qur’an:
الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
"Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu." (Al-Baqarah ayat 147)
الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِينَ
"Kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu." (Ali 'Imran ayat 60).
Semoga kita semua dapat melaksanakan kebenaran, baik menurut agama maupun yang berkaitan kebenaran yang berlaku di masyarakat, agar menjadi hamba Allah yang taqwa dan menjadi anggota masyarakat yang taat peraturan.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Senin, 2 Dzulkaidah 1444 H.
22 Mei 2023 (1.155.05.23).
Sunday, 21 May 2023
TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab adalah kewajiban seseorang untuk menanggung segala akibat dari sesuatu yang telah diperbuatnya, sesudah perbuatan itu dilakukan. Tanggung jawab timbul sehubungan dengan adanya perbuatan, tugas dan kewajiban. Secara ringkas bahwa tanggung jawab itu kepada Tuhan, kepada keluarga, kepada masyarakat.
Tanggung jawab kepada Tuhan.
Bahwa Allah menciptakan manusia mendiami bumi ini dengan tugas untuk menjadi khalifah, menjadi pemimpin dimuka bumi ini, memakmurkan bumi ini, tidak diperkenankan melakukan kerusakan dimuka bumi. Terhadap semua makhluk di alam ini saja manusia harus berbuat yang pantas, apalagi terhadap sesama manusia.
“……... إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَة ……..”
“……."Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"………..” (Al-Baqarah ayat 30)
“……..وَلَا تُفْسِدُوا فِى الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلٰحِهَا
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik……….”
(Al-A’raf 56).
Tugas dan wewenang sebagai pemimpin atau khalifah dimuka bumi ini, harus dipertanggung jawabkan nanti di hadapan Allah, apakah telah dilakukan dengan baik, sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Tanggung jawab terhadap keluarga.
Kepada setiap kepala keluarga diberikan tugas oleh Allah agar menyelamatkan diri sendiri dan seluruh keluarga dari adzab siksa neraka, lengkap dengan petunjuk teknis bagaimana caranya.
"………… يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَار"
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…...” (At-Thahrim ayat 6)
Antara lain petunjuk teknis pokok agar terpelihara dari adzab neraka itu adalah setiap orang introspeksi diri tentang apa yang telah dibuatnya, selanjutnya selalu waspada buat diri sendiri serta menerapkan pengarahan kepada seluruh keluarga agar mempersiapkan diri untuk hari esok terutamanya di akhirat.
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(Al-Hasyr ayat 18).
Tanggung jawab kepada keluarga lebih jauh dapat dicermati:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (An-Nisa' ayat 9)
Allah memberikan rambu2 tentang tanggung jawab ini, ialah tentang apa yang kita perbuat untuk menyiapkan masa depan diri kita sendiri dan masa depan anak2 keturunan kita. Kita yang hidup saat ini tidak dimintai bertanggung jawab atas perbuatan orang2 yang hidup sebelum kita ini, tidak dimintai pertanggung jawaban atas kesalahan orang tua kita, tapi kita dimintai pertanggungan jawab atas anak2 keturunan, generasi yang akan datang.
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْئَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan." (Al-Baqarah ayat 134)
Setiap orang dari kita ini akan dimintai pertanggungan jawab sebagai pemimpin, sejalan dengan hadits dari ‘Abdullāh bin ‘Umar bahwa dia mendengar Rasulullah telah bersabda:
وعن بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعيّتِهِ, والأميرُ راعٍ, والرّجُلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ, والمرأةُ رَاعِيَّةٌ على بيتِ زوجِها وَوَلَدِهِ, فكلّكم راعٍ وكلّكم مسئولٌ عنْ رَعِيَّتِهِ. (متفق عليه
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imām (kepala Negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut” (Muttafaqun 'Alaih).
Harapan kita semua, semoga Allah memudahkan kita semua dalam menjalankan tugas dan kewajiban yang dibebankan Allah, sehingga berhasil mempertanggung jawabkan perbuatan kita selama hidup di dunia ini di akhirat nanti.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Ahad, 1 Dzulkaidah 1444 H.
21 Mei 2023 (1.154.05.23).
Wednesday, 17 May 2023
Tak Berani Nonton
Diawal laga Indonesia – Thailand 16 Mei malam, semula ku menonton sampai Indonsia berhasil membobol gawang Thailand 2 kosong, sampai akhir babak pertama. Dibabak ke dua setelah Thailand berhasil membalas dari memaksimalkan sepak pojok, diriku sudah tidak berani lagi nonton, TV langsung ku matikan, aku takut Indonesia ke golan lagi.
Penglihatanku wasitnya obral kantu kuning. Dimenit ke 58 saja sudah keluar 8 kartu kuning. Keliatannya sih adil, 4 buat indonesia 4 buat Thailand. Tapi sepertinya kalau skuad garuda
nyenggol dikit aja si pemain lawan lalu jatuh, wasitpun membunyikan peluit, lalu pelanggaran.
Giliran pemain Thailand yang nyenggol, pemain Indonesia jatuh banyak kali peluit tidak berbunyi. Apa kah ini lantaran subyektifitas diriku yang selalu berdo’a ingin Indonesia menang? Wallahu alam bishawab.
Dari pada gregetan sendiri lihat bagaimana ragam si wasit (setidaknya menurutku), lebih baik nanti setelah usai pertandingan baru aku mencari tau berapa scorenya…...
Dengan perkiraan laga sudah selesai, ku pencet lagi power TV., tampak di papan penunjuk waktu sudah menit ke 95, waaah …… pikirku ini berarti ada tambahan waktu, kuamati di petunjuk score di sisi kiri TV, tambahan waktu 7 menit score msh 2 - 1.
Do'akupun terus berguman, 2 menit lagi do’a ku, jangan sampai Thanland ngegol. Benar menit ke 7 lebih beberapa detik wasit niup pluit. Alhamdulillah ku begumam, jadi juga Indonesia memperoleh mendali emas. Sementara itu kuliat bola keluar lapangan dan asisten wasit mengangkat bendera menandakan bola keluar harus lemparan kedalam. Dengan isyarat peluit itu semua team pelatih sudah berangkulan, menyambut kemenangan Indonesia sementara memang betul penanda waktu menunjukkan tambahan sudah berlangsung 08 menit , 21 detik.
Ternyata wasit meniup peluit bukan pertanda pertandingan berakhir, bukan pula tanda lemparan ke dalam (seperti bendera asisten wasit), tetapi menunjuk suatu titik untuk pelanggaran agar dilaksanakan tendangan bebas. Tendangan bebas inilah yang membuat score 2 – 1 itu berubah, jadi 2 – 2., berujung ke perpanjangan waktu…….. Sepertinya team Indonsia dicurangi, dalam hitungan detik, kemenangan jadinya sirna.
Pada saat perpanjangan waktu, syukurnya dimenit ke 57 tambahan waktu 15 menit pertama, Irfan Jauhari berhasil menyepak bola ke atas kepala penjaga gawang Thailand, dan score berubah menjadi 3 – 2.
Kutahan diri untuk melihat terus jalan pertandingan, walau timbul dongkol lagi dengan wasit sudah sampai menit ke 105 lebih, tak kunjung niup peluit berakhir perpanjangan 15 menit pertama. Peluit baru di tiupnya setelah 105 + 7 menit 44 detik. Semula kupikir luar biasa ini wasit pengen sekali memenangkan pihak lawan skuad garuda…….. Setelah usai laga baru kuingat ini mungkin lantaran ada insiden sesudah menit ke 57 tambahan waktu 15 menit pertama, dimana setelah Irfan Jauhari mencetak gol, terjadi Insiden cukup lama, kubu pelatih Indonesia diserang kubu Thailand.
Perpanjangan 15 menit ke dua, Timnas Indonesia nambah gol melalui Fajar Fathur Rahman dimenit ke 106 lebih 41 detik mencetak gol ke empat. Keberanian ku nonton sampai habis makin semangat kerena se curang2 wasit pun dalam hatiku, waktu tinggal 14 menit masa’kan dapat nyetak do’a gol. Namun do’a terus menerus di panjatkan, dengan tambahan Ya Allah; menangkanlah pihak yang dicurangi, sambil ku ingat dalam do’a firman Allah:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمٰكِرِينَ
"Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." (Ali 'Imran ayat 54)
Semoga Allah membalaskan tipu daya mereka, membalaskan kecurangan mereka. Karena sebelum peluit berbunyi “panjang berulang” dari wasit, jangan gembira dulu, sebab barusan terjadi tadi dipenghujung babak ke dua (normal) di menit sudah lebih 8 menit dari perpanjangan waktu yang 7 menit itu, ternyata wasit nyatakan pertandingan belum usai, masih ada tendangan bebas yang akhirnya membuahkan gol penyeimbang.
Wajar terjadi kelengahan skuad garuda ketika itu, sebab mereka sudah nganggap pertandingan selesai. Dengan usainya pertandingan maka kewaspadaaan sudah kendor, umpamanya orang berjalan jauh sesudah sampai di finish, segala otot sudah di kendorkan, nafas sudah di tarik dalam, badanpun digemulaikan, kalau ada pakai “tenaga dalam” mungkin sudah dilepas.
Hal ini sekaligus buat pembelajaran bagi skuad garuda, lain kali; yakini betul bahwa pertandingan sudah selesai sampai wasit memberi aba2 dengan peluit “panjang berulang” diikuti tangan memberi isyarat pertandingan selesai.
Alhamdulillah kemenangan Indonesia atas Thailand, jadi lebih telak ketika Beckham Putra Nugraha menutup laga dengan gol ke 5 pada menit ke 119, 50 detik. Tak ada alasan lagi untuk menghalangi kemenangan buat TIMNAS Indonesia. Selamat untuk Skuad Garuda.
Semoga persepak bolaan di tanah air semakin maju, kerena memang olahraga ini digandrungi seluruh rakyat.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Senin, 25 Syawal 1444 H.
16 Mei 2023 (1.153.05.23).
Monday, 15 May 2023
Sepak Bola dan Denyut Nadi
Sebelum pukul 4 sore Sabtu 13 Mei kemarin, aku udah nyaipkan diri untuk nonton sepak bola Indonesia vs Vietnam di depan TV. Do’a pun terus dipanjatkan agar TIMNAS berhasil menang. Karena kalah berarti kemungkinan perunggu, menang ada kemungkinan Emas.
Alhamdulillah baru laga berjalan 9 menit, TIMNAS melalui sundulan kepala Komang Teguh nyetak gol, ikut tepuk tangan walau dari dalam kamar. Selanjutnya pertandingan berlangsung dengan serangan silih berganti. Kurang sepuluh menit waktu normal giliran gawang Indonesia pula kemasukkan gol di cetak oleh Nguyan Van Tung. Denyut nadi ku mulai naik.
Khawatir kalau waktu sepuluh menit menjelang akhir babak pertama, gawang Ernando bergetar lagi. Ku putuskan mematikan TV untuk tidak melihat saja.
Diperkirakan babak ke 2 sudah mulai, hati ini menggelitik, ingin liat sudah berapa score nya. Power TV aku pencet lagi, rupanya score sudah 2 – 1, gol terjadi di menit ke 53 aku tak ikut nyasikan rupanya lewat kaki Marselino, kemenangan Indonesia. Denyut nadi-ku-pun normal lagi, ikutan menyaksikan maunya sampai habis, nampak ada harapan akan menang, karena waktu normal tinggal 37 menit lagi.
Ya ampun 7 menit kemudian setelah tercetak gol ke 2, yaitu menit ke 60 apa pasal Pratama Arhan pemain TIMNAS yang piawai melempar ke dalam sampai ke kotak pinalty itu, terkena kartu kuning ke dua, wasit merogoh kantong belakangnya lalu mengangkat kartu merah.
Denyut nadi ku mulai lagi berdenyut lebih banyak, namun mau dimatikan TV sayang juga, biarlah ditunggu setengah jam lagi, toh udah menang ini. Eeee rupanya di menit ke 79, umpan silang Nguyen Ngoc Thang, dari tendangan bebas, Vietnam nambah gol. Bagas kaffa maunya menyelamatkan gawang, taunya salah mengantisipasi lalu “bunuh diri”. Stand 2 – 2 ini bertahan sampai waktu normal habis.
Indonesia bertahan diserang bertubi-tubi dengan 10 pemain. Akan tetapi terjadi tambahan waktu yang tidak biasa, sampai 8 menit. Dalam hatiku kenapa siiiih…... wasit2 itu jika Indonesia yang main, sepertinya gimanaaa……. , berat ke pihak lawan Indonesia, ada kuliat sebelum pertandingan lawan Vietnam, pelanggaran terjadi di luar kotak penalty, pemain lawan menjatuhkan diri ke dalam kotak penalty. Wasit dengan mantab nunjuk titik putih, apaboleh buat system VAR belum diterapkan di SEA GAMES ini, tendangan 12 pas itupun dilasanakan, untung penjaga gawang dapat menyelamatkan.
Sepertinya wasit2 penghakim lapangan ingin agar Indonesia kalah atau paling tidak seri. Dalam pertanadingan lawan Vietnam kemarin itu ketika tambahan waktu 8 menit, score sama kuat, apa dengan tambahan waktu yang tak lazim itu, dianya mengharapkan vietnam dengan kelebihan satu pemain itu akan ngegol lagi. والله اعلم بالصواب .
Rupanya Tuhan mengabulkan do’a kita semua, sehingga di menit ke 95 Muhammad Taufany mencetak gol kemenangan Indonesia. Tiga menit tersisa tidak terjadi gol lagi. Itupun kuliat peluit wasit baru ditiup panjang lebih dari 8 menit.
Kerena Do’a dapat merubah taqdir, seperti hadist berikut:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ
إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)
Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065).
Oleh karena itu mari kita berdo’a semoga Allah memberi kemenangan TIMNAS sepak bola U-22 Indonesia meraih medali emas di SEA GAMES 2023, dengan kemenangan berlaga melawan Thailand nanti.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Ahad, 23 Syawal 1444 H.
14 Mei 2023 (1.151.05.23)
Subscribe to:
Posts (Atom)