Saturday, 31 December 2022
Burung berpantun di batas tahun
31 Desember tahun dibatas.
Esok hari tahun inipun tuntas.
Bagi burung takkan dibahas.
Lebih sibuk, telornya menetas.
Adat burung2 bagus ditiru.
Tahun baru mereka tak libur.
Berhura-hura tidaklah perlu.
Bagus evaluasi diri dg tafakur.
Burung Gagak terbang berkawan.
Terbang sejoli burung Merpati.
Apalah daya kita rakyat rendahan.
Paling hanya do'a di dalam hati.
Terbang layang burung Gagak.
Beda gayanya burung Merpati.
Liat yg tertindas, mereka berlagak.
Seolah membela sampai mati.
Burung Balam terbang melayang.
Burung beo melompat lompat.
Siang malam usai sembayang.
Berdo'a kezaliman, berhenti cepat.
Burung Perkutut didalam sangkar.
Walau sudah jinak dilepas jangan.
Kalau meliat yang buat mungkar.
Cegahlah segara dengan tangan.
Burung tekukur terlihat gugup.
Adu suara dalam pertandingan.
Liat mungkar tangan tak sanggup.
Cegahlah mungkar dengan lisan.
Burung Merpati dikasih makan.
Terlalu banyak sampai berlimpah.
Ingkari dg hati suatu kemungkaran.
Sebagai pertanda iman yg lemah.
Burung pipit hinggap didahan.
Mengincar padi akan dimakan.
Piculah semagat di tahun depan.
Beribadah dan berbuat kebaikan.
Pantun burung ini ku gubah.
Suatu wujud ayat2 kauniyah.
Semoga dapat menjadi ibrah.
Untuk dipetik sebagai hikmah.
Kalau tak suka jangan dicaci.
Jika sukapun usahlah dipuji.
Ini sekedar penghibur hati.
Buat pembaca, saya hormati.
Jakarta, 31 Desember 2022.
7 Jumadil Akhir 1444 H.
Salam hormat M. Syarif Arbi.
Friday, 30 December 2022
PERANDAIAN
Tinggal sehari lagi tahun 2022 akan jadi tahun kemarin, banyak peistiwa telah dilalui. Tentu tidak semua hasil yang dicapai, dirasakan memuaskan muncullah peradaian. Rasanya masih banyak kekurangan dalam beribadah, rasanya masih sangat sedikit berbuat kebaikan.
Hidup ini tak terlepas dari berandai-andai. Model perandaian dapat di bagi:
Pertama; perandaian ke belakang, mengenai masa lalu, contoh seperti tahun lalu.
Kedua; perandaian ke depan, perihal waktu yang akan datang.
PERANDAIAN KE BELAKANG.
Banyak juga orang yang suka nyesali masa yang sudah lewat. Nyesali kejadian yang telah lalu atau sudah dibelakang.
Hujan panas selalu bergilir.
Kadang panas kadang hujan.
Sudah lepas jangan dipikir.
Baiklah fokus kemasa depan.
Mengenang masa lalu, perlu memang, untuk sebagai pelajaran agar tak mengulangi kekeliruan yang sama.
Tapi hati2 ada berandai kebalakang yang malah berdosa;
يٰـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقَا لُوْا لِاِ خْوَا نِهِمْ اِذَا ضَرَبُوْا فِى الْاَ رْضِ اَوْ كَا نُوْا غُزًّى لَّوْ كَا نُوْا عِنْدَنَا مَا مَا تُوْا وَمَا
قُتِلُوْا ۚ لِيَجْعَلَ اللّٰهُ ذٰلِكَ حَسْرَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْ ۗ وَا للّٰهُ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۗ وَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudaranya apabila mereka mengadakan perjalanan di bumi atau berperang, Sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh. (Dengan perkataan) yang demikian itu, karena Allah hendak menimbulkan rasa penyesalan di hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali 'Imran ayat 156).
Jadi jangan menyesali, misalnya salah ambil keputusan. Biarpun karena keputusan itu jadinya pahit, apaboleh buat, sudah terlanjur. Tak mungkin jarum masa diputar mundur. Jika keputusan itu berupa dosa, bertaubat. Jika keputusan itu salah membuat rugi, evaluasi jangan terulang.
Rasulullah Muhammad ﷺ memberikan sebuah konsep dalam menghadapi masa belakang dan masa depan. Hal ini tergambar jelas dalam sebuah sabda beliau:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : “الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا
يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ
تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah raberkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan dalam keduanya ada kebaikan. Semangatlah untuk melakukan hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Dan ketika sesuatu menimpamu maka janganlah kamu katakan: “Seandainya dahulu aku melakukan hal yang ini maka akan terjadi seperti ini dan itu” tapi katakanlah: “Ini adalah takdir Allah dan apapun yang Dia kehendaki pasti akan terjadi” karena kata-kata “Seandainya (Lau)” akan membuka amalan setan.” (HR. Muslim 4186, Ibnu Majah 76)
PERANDAIAN KE DEPAN.
Membuat perencanaan masa depan, cita-cita......... Halal2 saja diandai saat sekarang untuk sesuatu esok, pekan depan, bulan depan, tahun depan dstnya. Untuk dunia. Hidup tanpa cita2 bagai kendaraan tak ada kemudi. Justru cita2 itu penting agar semangat hidup tinggi. Perkara berhasil atau gagal itu adalah urusan Allah.
Andai2 ke depan yang maha penting bagi orang beriman adalah hari depan akhirat. Tak seorang yang tidak kesana, baik yang percaya ataupun yang tidak percaya, pasti akan ke akhirat.
Makanya khusus mengenai, per-andai-an ke depan akhirat ini Allah perintahkan:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr ayat 18).
Allah juga mengajari manusia untuk ber-andai2.
وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَ رْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَا مٌ وَّا لْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Luqman ayat 27).
Ber-andai2 yang positif justru إِن شَآءَ ٱللَّهُ berpahala, misalnya ber-andai tentang masa depan anak2 keturunan kita:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 9).
Semoga, masa depan kita penuh terisi dengan kebaikan, masa lalu; umpamanya dosa Allah ampunkan, umpamanya merugikan kedepan Allah ganti dengan keuntungan.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 6 Jumadil Awal 1444 H.
30 Desember 2022.
(1.081.12.20).
Wednesday, 28 December 2022
PETUAH dan PITUTUR Ujung TAHUN
2 hari lagi tahun 2022 berakhir.
Tidak terasa hari-hari bergulir.
Hidup diisi kadang tanpa pikir.
Muncul sesalan bila tergelincir.
Pembaca ku ajak agak sekilas.
Simak petuah cukup berkelas.
Tuturan tetua bermakna luas.
Enak di telaah juga dibahas.
"Tanah Melayu” asal petuah.
Tempat bermula kami berumah.
Kab. Ketapang berpenduduk ramah.
Di Provensi Kal-Bar itu daerah.
Selanjutnya begini siempunya madah:
Luruskan niat jangan menyalah.
Arif dan bijak dalam melangkah.
Cerdas menyimak pesan petuah.
Pintar mengambil simpul masalah.
Cekatan berunding bijak bersiasah.
Bila agama sudah mulai dilarung.
Hanya harta, dunia menjadi ujung.
Bgmnpun hidup takkan beruntung.
Bagai bahtera terkatung-terkatung.
Diakhirat tak ada tempat pelindung.
Adat orang tua memberi petuah.
Agar anak cucu tak salah polah.
Hidup tentram bersalut berkah.
Terjauh dari bermacam masalah.
Tetua kita di tanah jawapun juga punya pitutur.
Jika direnung bermakma sangat dalam, tersusun begitu teratur.
Baik kukutipkan semoga jadi bahan kita bertafakur:
"Rino wengi mung mburu ndunyo.
Njur lali karo agomo.
Ojo phodo ngresulo ndak gelis tuwo.
Wong yen nrimo uripe dowo.
Wong suloyo urepe rekoso".
Terjemahan bebas:
Siang malam memburu dunia.
Lalu lupa kepada agama.
Jangan ngeluh yang menyebabkan cepat tua.
Orang yang menerima apa adanya hidupnya panjang.
Orang yang serba merasa kurang hidupnya berat.
Catatan:
Hebatnya kata "harta" dan kata "dunia", dalam bahasa jawa hanya dibedakan dengan huruf "N".
"Ndunyo" artinya "Dunia".
"Dunyo" artinya "Harta"
Jadi dunia dan harta sangat dekat, kakak adik nampaknya. (mhn maaf jika salah alih bahasa, lantaran saya bukan penutur asli, koreksi diterima setulus hati).
Bait2 pesan tetua kita baik di ranah melayu dan tanah jawa pas kiranya buat renungan akhir tahun 2022 yang merupakan tahun masih mencekam dikarenakan covid 19 baru saja melandai di dunia, diakabarkan masih ada. Tahun 2022 terisi banyak bencana, mudah2 tahun 2023 perlindungan Allah untuk dunia ini semua.
Smg diri ini mengaca diri apakah di tahun yang sebentar lagi dilalui awak masih saja:
* Mengejar harta dan dunia semata, tak peduli lagi halal haram hantam.
* Apakah sudah mulai meninggalkan ajaran2 agama.
* Apakah masih kurang bijak dalam berbuat.
Ingat petuah di atas:
*Harus peduli terhadap pesan dan petuah.
*Pandai2 mengambil kesimpulan terhadap fenomena alam dan masyarakat.
*Tidak hanya mau menang sediri.
Agama berpesan:
وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas ayat 77).
Kita diperintahkan untuk mencari harta demi kelangsungan hidup di dunia dan sebagai sarana ibadah, guna mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat.
Namun diingatkan:
وَ مَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗ وَلَـلدَّا رُ الْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
"Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?"
(QS. Al-An'am ayat 32)
Demikian, semoga kita sehat afiat di tahun2 mendatang. Dapat hidup aman dalam mencari rejeki, aman juga beribadah. Sanggup menjalani perintah Allah dan nasihat serta petuah para tetua kita.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 5 Jumadil Akhir 1444H.
29 Desember 2022.
(1.080.12.22 ).
GILIRAN ber JAYA
Tujuanku hari itu, ingin pulang ke kediaman kami di kampung seberang. Ku toleh kiri kanan bahkan sampai ku cari ke warung2 seputar pangkalan penyeberangan (bahasa daerahku "kalan tambang"), tak seorangpun kuliat. Kulangkahkan kakiku menuju ke pinggir sungai, ternyata ada sampan kecil tertambat lengkap dengan dayung (pengayoh bahasa kampungku). Spontan kunaiki sampan itu, kulepas talinya, kudayung menuju seberang. Soal mendayung sampan meskipun tidak terlalu mahir, aku sudah terbiasa, merupakan ketrampilan yang harus dimiliki "anak tepian sungai" sezaman denganku.
Kuamati di tumpukan property si empunya di dalam sampan, terdapat sebungkus gula pasir setengah kiloan, agaknya pemilik sampan meninggalkan sampannya untuk melengkapi belanjaannya di pasar setengah kilometeran dari “kalan tambang”…...
Sesampai di seberang ku dapati salah seorang yang pekerjaannya se-hari2 sebagai pendayung sampan memungut sewa dari penumpang ("penambang", istilah setempat). Setelah nego, dia bersedia menggandeng sampan itu kembali ke tempat asalnya, nanti setelah penumpang perahu miliknya penuh, dia menuju ke seberang. Untuk bantuannya itu keberikan balas jasa 20 ribu rupiah.
Baru saja aku melangkah beberapa tindak dari pinggir sungai menuju rumah kami sekitar satu kilometer dari “kalan tambang”, kakiku menyentuh bantal guling, sampai batal gulingku jatuh dari tempat tidur. Kulihat jam di depan kamar mandi tak jauh dari tempat tidur kami, menunjukkan pukul 02.30., rupanya itu dinihari. Agaknya alam bawah sadarku kembali ke masa kecil sampai remajaku, berdiam di tepian sungai Pawan.
Sungai Pawan yang membelah kotaku dengan kecamatan sekitarnya, dulu dibawah tahun 1980, hanya mungkin diseberangi dengan sampan atau perahu bermesin. Kini sudah terbaring jembatan menghubungkannya. Dengan adanya jembatan itu sejumlah kawan2ku dulunya “penambang” entah kerja apa, sebab hampir tak ada lagi pengguna jasa menyeberangkan orang, kendaraan, menggunakan jasa mereka. Jembatan penyeberangan telah meng kanibal mata pencarian "Penambang". Kejayaan Penambang pun habis waktunya fungsinya digantikan jembatan.
Era 2000 an menjamur di kota2 besar wartel kemudian warnet. Eee sekarang produk itu mati dengan sendirinya di kanibal oleh hand phone canggih, bukan saja dapat nelpon tapi dapat internetan, video call. W.A. Instagram……..
Masih segar ingatanku, tahun 1970 an hanya rumah orang tertentu yang terpasang telepon, saking khususnya rumah yang terpasang telepon tertulis “ada telepon”. Kejayaan warnet kini dipergilirkan oleh mobile phone, populer dengan nama “HP”. Sebelum era telepon digital yang diputar, ketika ku bertugas di Surabaya 1973, telepon di kota terbesar kedua di Indonesia itu, bertelepon harus disambungkan oleh operator Telkom, dengan menyebutkan “Utara nomor..” atau “Selatan nomor..”. Sekarang sudah hampir semua rumah tangga sudah menghentikan berlangganan telepon kabel.
Transportasi berbasis online kini di Jakarta juga kota2 besar agaknya sudah mengkanibal angkutan konvensional taxi termasuk angkot dan Bajay. Begitu pengakuan supir taxi angkot dan Bajay. Walau pengusaha menyikapi dangan menurunkan setoran.
3 Tahun lalu, “T.T.” seorang pengemudi Bajay mengantarkanku dari rumah ke Stasiun K.A. Gambir mengisahkan sebelum tersaing oleh transportasi online, setoran Rp 130 ribu, sekarang diturunkan jadi Rp 80 ribu/hari. Tapi,..; sambungnya: "lebih mudah cari Rp 130 ribu ketimbang Rp 80 ribu".
Masuk di akal, Bajay pasti kalah bersaing dengan "online transport", sebab dari rumahku ke Gambir (3 tahun lalu sebelum BBM naik) cuma belasan ribu ndak usah nawar. Bang T.T. supir Bajay dari rumahku ke Gambir semula pasang tarif Rp 25 ribu, setelah nego dapat Rp 20 ribu.
Jelas aman, nyaman dan murah pakai "on line". Nah kejayaan moda transportasi konvensional kini tengah digilirkan dengan moda transportasi berbasis online.
Belakangan sudah banyak komoditi yang dapat dibeli dengan tidak banyak lagi melangkahkan KAKI, cukup dengan JARI…... Alamat sebentar lagi gedung toko2 serba mewah akan kekurangan pengunjung, lambat laun harus menerima kenyataan, pergiliran kejayaan, karena pelanggan akan beralih "belanja menggunakan JARI". Mall yang dibangun besar2 indah jika tidak diikuti inovasi pelayanan, bakal sepi pelanggan. Komoditi apa saja, mulai dari makanan, alat electronik, pakaian, perabot tukang dan perabot rumah tangga semuanya dapat dipesan dengan JARI.
Begitupun keberjayaan kekuasaan suatu bangsa, suatu dinasti, mesti di pergilirkan, sejarah dunia mencatat hal tersebut secara lengkap. Pernah berkuasa dinasti DAWUD, terkenal dengan anaknya SULAIMAN. Menyusul Raja Namrud, Fir’aun, Kaisar Romawi dan dinasti2 Kekaisaran Cina.
Dengan demikian adalah alami jika yang berkuasa selalu ganti berganti. Di negeri kita ada istilah zaman ORLA, Zaman ORBA, Zaman Reformasi dan zaman2 apa lagi, pasti Ke JAYAAN itu akan di PERGILIRKAN.
Menyoal tentang pergiliran berjayanya suatu produk, keberjayaan suatu bangsa, keberjayaan suatu dinasti, bila disimak tuntunan Al-Qur'an memang merupakan sunnatullah, Allahpun memberitahukan:
وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَلِيَـعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman”.
(Ali Imran ayat 140)
Penggalan dari ayat ini, memberikan informasi, kejayaan dan kehancuran memang diatur oleh Allah termasuk juga kejayaan berwujud kekuasaan. Kadang bila diliat seorang Raja disebuah kerajaan yang berkuasa dan kuat dalam berbagai sudut, sepertinya tak mungkin tergantikan. Yang terjadi sebaliknya Kaisar dan Raja yang besar bagaimanapun juga jatuh, dipergilirkan.
Begitu pula suatu produk, akan habis masa tenarnya, kemudian digantikan produk yang lainnya. Itu semua dikondisikan Allah agar manusia semakin hari semakin cerdas, karena terus menerus berinovasi. Sekaligus untuk menguji orang yang beriman, apakah dengan jatuhnya produk yang sedang ia geluti, ybs. berputus asa atau tawakkal kemudian lanjut berikhtiar mencari karunia Allah lainnya yang tersedia demikian banyak.
Juga untuk menguji orang beriman apakah akan mengkultuskan seseorang yang sedang berkuasa, menyanjung, memujinya setinggi langit, sehingga se-olah2 sudah tidak ada lagi yang lebih baik dari diri si penguasa yang sedang berkuasa, atau hanya yakin dan percaya bahwa satu2nya ALLAH, berkuasa mutlak tak tergantikan. Sedangkan kekuasaan kejayaan manusia pasti dipergilirkan.
Wain yakun shawaban faminallah. Wa in yakun khathaan faminni waminassyaitan. Wallahu warasuluhu bari ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datang dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti datangnya dariku sendiri dan dari syaitan. Allah serta RasulNya berlepas diri dari padanya).
Barakallahu fikum.
Wallahu 'alam bishawab.
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.
Jakarta, 4 Jumadil Akhir 1444 H.
28 Desember 2022.
(1.079.12.22)
Sunday, 25 December 2022
Cobaan KESUKSESAN
Umumnya, lazim dipahami bahwa cobaan adalah sesuatu yang menyakitkan. Padahal kesuksesan, keberhasilan, kebahagiaan, kejayaan; sering diwakili oleh kata “kenikmatan” juga merupakan wujud dari cobaan. Banyak orang yang berhasil lulus dalam ujian atas suatu yang menyakitkan, tidak menyenangkan. Tetapi justru banyak orang yang tidak lulus dicoba dengan kesuksesan, keberhasilan, kebahagiaan, kejayaan, kenikmatan.
Jikalau kita ingin menghitung nikmat Allah takkan sanggup kita menghitungnya sampai keluar penegasan Allah di dua ayat dikutip dibawah ini surat 14 (Ibrahim) ayat 34 dan surat 16 (An-Nahl ayat 18)
وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَظَلُومٌۭ كَفَّارٌۭ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Secara rinci, sekalipun dengan peralatan secanggih apapun; nikmat Allah tak dapat dihitung, namun besarannya bolehlah kita ambil beberapa diantaranya yaitu secara umum: Nikmat kesehatan, Nikmat umur, nikmat kesempatan. Secara khusus kepada sedikit orang diberikan Allah nikmat:
1. Kekayaan berlimpah,
2. Jabatan, kekuasaan, pengaruh yang luas.
3. Anak2 keturunan yang sehat2, cerdas berprestasi, dipersiapkan untuk mengelola kekayaan yang berlimpah agar tak habis sampai puluhan keturunan. Anak2, cucu2 dan kalau memungkin sampai cicit2 keturunan secara berkesinambungan berkuasa sampai kiamat.
Semua nikmat Allah yang diberikan kepada sedikit orang, diantaranya diformulasikan di atas digambarkan dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَآ أَمْوٰلُكُمْ وَأَوْلٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS.64 = At-Taghabun, ayat 15)
وَمَآ أُوتِيتُمْ مِّنْ شَىْءٍ فَمَتٰعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقٰىٓ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?" (QS. 28 = Al-Qasas, ayat 60).
Atas kenikmatan2 yang Allah berikan kepada manusia, baik kepada kita semua sebagai orang kebanyakan, maupun bagi sedikit orang yang memperoleh anugerah kekayaan, jabatan, dan keturunan yang baik tersebut di atas, akan dimurkai Allah bilamana tidak bersyukur. Dalam hal ini Allah me-wanti2 di dalam Al-Qur’an surat 14 (Ibrahim) ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"
Dalam sejarah peradaban manusia diriwayatkan bahwa terdapat anak manusia yang mendapatkan anugerah kekuasaan yang belum pernah diberikan Allah kepada manusia sebelumnya dan juga tak akan diberikan Allah kepada orang sesudahnya yaitu “Nabi Sulaiman”. Mengenai kekuasaan Nabi Sulaiman, diberikan Allah dengan mengabulkan do’a Nabi Sulaiman tersebut, sampai diabadikan dalam Al-Qur’an surat Shad ayat 35 sampai 37:
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعْدِىٓ ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِى بِأَمْرِهِۦ رُخَآءً حَيْثُ أَصَابَ
وَالشَّيٰطِينَ كُلَّ بَنَّآءٍ وَغَوَّاصٍ
"Dia berkata, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi."" (ayat 35)
"Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya," (ayat 36)
"dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam," (ayat 37)
Atas kekuasaannya yang begitu hebat itu, Nabi Sulaiman tidaklah berbangga diri, tidaklah sombong, namun tetap bersyukur kepada Allah seperti terukir dalam Al-Qur’an surat ke 27 (An-Naml) ayat 40.
قَالَ الَّذِى عِنْدَهُۥ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَءَاهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُۥ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ
"Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia.""
Di ayat 40 An-Naml di atas diketahui bahwa sehebat-hebatnya kekuasaan Nabi Sulaiman, masih memerlukan bantuan pihak lain untuk mewujudkan kemauannya yaitu “seorang yang mempunyai ilmu dari kitab”. Setelah kemauannya terwujud, Nabi Sulaiman tidak lupa bersyukur kepada Allah, selanjutnya memandang hal tersebut sebagai ujian kesyukurannya kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita semua menjadi hamba2-Nya yang pandai bersyukur.
آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 2 Jumadil Akhir 1444 H.
26 Desember 2022.
(1.078.12.22)
Saturday, 24 December 2022
Menyikapi COBAAN
Siapa saja, dalam kehidupan ini pasti pernah atau sedang atau akan mendapatkan cobaan. Bentuk cobaan pada dasarnya ada dua yaitu: cobaan yang menyakitkan dan cobaan yang menyenangkan. Kedua jenis cobaan ini berdampak hampir sama. Banyak orang yang tidak berhasil mengatasi cobaan menyakitkan, luntur imannya. Tidak sedikit pula orang yang terjerembab kelembah nista karena mendapat cobaan kesenangan.
Khusus cobaan yang menyakitkan Allah mengingatkan di dalam surat Al-Baqarah ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوٰلِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِينَ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"
Bentuk cobaan yang menyakitkan menurut ayat di atas dikelompokkan menjadi 5 macam cobaan yaitu:
1.Ketakutan, 2.Kelaparan, 3.Kehilangan harta benda, 4.Kehilangan jiwa, 5.Kegagalan usaha, dilambangkan di dalam ayat kekurangan buah-buahan. Lebih jauh dapat disetarakan dengan kegagalan panen, dengan demikian bermakna kegagalan dalam usaha.
KETAKUTAN
Belakangan ini, rasa aman sudah semakin tidak dapat dinikmati oleh masyarakat. Naik angkot khawatir ketemu penodong, bahkan untuk kaum wanita lebih sedih lagi, selain penodong, juga pemerkosa. Di toko-toko/supermaket yang buka 24 jam dikabarkan sering terjadi rampok. Di perkampungan selalu diintai maling. Curanmor saban hari jadi berita. Belum lagi berbagai model penipuan; mulai dari penipuan investasi bodong, penipuan via medsos, melalui HP. Semua ini masuklah dalam musibah yang ditegaskan ayat 155 dari surat Al-Baqarah di atas.
KELAPARAN.
Adalah menyangkut perekonomian, jadi bila kini segalanya naik, kemampuan beli untuk memenuhi urusan perut sudah semakin sulit dengan naiknya harga segala yang berhubungan dengan dapur, mulai dari gas untuk memasak, bahan bakar kendaraan untuk pengangkutan makanan naik, diikuti semua kebutuhan hidup naik, ini suatu cobaan yang telah disebutkan di ayat dikutip di atas.
Masih banyak saudara kita makan hanya sekedarnya, belum dapat membuat kenyang memenuhi standar kebutuhan kalori. Secara umum kita patut bersyukur belakangan ini cobaan akan makanan ini tidak mendera untuk seluruh masyarakat. Tidak seperti halnya pernah terjadi disuatu periode di masa lampau di negeri kita ini, keperluan hidup utama seperti beras susah dicari. Bagi pembaca yang sudah berusia tujuhpuluh tahun lebih, tentu masih merasakan dalam era tahun enampuluhan bangsa kita pernah mengalami kesulitan menyeluruh. Walau ada uang tetapi beras yang susah didapat.
KEHILANGAN HARTA
Adapun cobaan ketiga dapat dipetik dari ayat di atas adalah “Kehilangan harta benda”. Cobaan ini boleh jadi terkait dengan tidak aman dalam kehidupan bermasyarakat. Berhubungan erat dengan cobaan kedua yaitu banyak anggota masyarakat yang lapar. Sehingga apa boleh buat harus memenuhi kebutuhan mendasar berupa makan dengan mengambil harta orang lain, bila perlu merampok dan menghilangkan nyawa orang lain. Kehilangan harta benda dapat juga terjadi lantaran musibah dan bencana alam, seperti tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin puting beliung.
KEHILANGAN JIWA.
Sedangkan cobaan yang keempat berupa kehilangan jiwa. Bagaimapun panjang usia kita, sudah pasti akan datang suatu saat jiwa berpisah dari raga. Keluarga yang ditinggalkan mendapat musibah atau cobaan berupa “kehilangan jiwa” orang yang disayangi, atau bahkan dia adalah tulang punggung keluarga, sebab dari diri yang kehilangan jiwa itulah diharapkan sumber penghidupan.
KEGAGALAN USAHA.
Terakhir atau yang kelima cobaan yang diabadikan dalam ayat tadi adalah “kegagalan usaha”. Petani gagal panen, pengusaha merugi, pedagang sulit pembeli. Semua cobaan ini kadang terkait satu dengan lainnya, saling pengaruh dan berhubungan seperti diungkap di atas.
Itulah bentuk-bentuk cobaan yang pernah dialami, atau mungkin akan dialami, atau mungkin sedang dialami kita sebagai individu dan mungkin sebagai bangsa. Sebelumnya sudah diberitahukan oleh pencipta alam ini dan pencipta diri kita manusia yang menghuni sementara alam dunia ini pada ayat-ayat di atas.
SOLUSI MENYIKAPI MUSIBAH.
Allah memberikan solusi mengatasi cobaan/musibah di atas melalui ayat-ayat 153 dan 156 surat Al-Baqarah dengan tiga langkah yaitu: SABAR, SHALAT DAN BERSERAH DIRI.
Langkah pertama; SABAR.
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."
(Al-Baqarah ayat 153)
Sabar, bilamana mendapatkan musibah menyakitkan/menyedihkan/menyusahkan, tidaklah bersedih terlalu dalam, sehingga berputus asa seakan-akan tidak mau hidup lagi. Memandang dunia ini sudah gelap, tidak lagi mau berikhtiar untuk hidup. Karena menerima musibah itu, sampai menjauhkan diri kepada Allah.
Sementara itu jika mendapat cobaan musibah yang menyenangkan, dapat mengekang diri agar tidak pongah, menepuk dada dan mengekang diri tidak menggunakan kesenangan itu justru untuk berbuat maksiat terhadap Allah. Jangan sampai lantaran kenikmatan diterima dari Allah justru meninggalkan ibadah kepada Allah.
Langkah kedua;SHALAT.
Dalam pengertian, dalam keadaan apapun, dalam keadaan mendapatkan cobaan yang menyakitkan/menyedihkan maupun cobaan yang menyenangkan dan menggembirakan, tetap shalat sebagai wujud bertaqwa kepada Allah, tetap menjalankan perintah Allah dan tetap menjauhi larangan Allah.
Langkah ke tiga; BERSERAH DIRI.
Seperti tersurat pada ayat ke 156 surat Al-Baqarah:
الَّذِينَ إِذَآ أَصٰبَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رٰجِعُونَ
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
(Al-Baqarah ayat 156)
Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
Bukan tidak mungkin, terutama dalam menghadapi cobaan yang menyakitkan, menyedihkan, berupa ketakutan, kelaparan, kematian dan kehilangan harta, kegagalan usaha yaitu sulit mendapatkan rezeki. Kita sudah bersabar dan berikhitar, kita sudah shalat dalam rangka bertaqwa dan berdo’a, tetapi belum juga kunjung datang penyelesaian, belum juga kita dapat keluar dari kemalangan-demi kemalangan. Bila tidak diikuti dengan langkah ketiga ini yaitu berserah diri, disitulah nanti orang tersebut akan terjerumus kepada kelunturan iman. Akan keluar dari mulutnya atau mungkin sampai kehatinya bahwa percuma sudah sabar, percuma sudah bertaqwa, tetapi tetap juga suasana tidak berubah. Mendingan kalau begitu kumenyeberang saja kepada keyakinan lain yang membawa kemusyrikan.
Semoga kita semua pembaca makalah ini yang insya Allah mempunyai iman yang kuat, tidak akan luntur imannya bila menerima cobaan dan makanala mendapatkan musibah tersebut cepat-cepat mengembalikannya kepada Allah S.w.t., dengan kalimat berserah diri atau kalimat ISTIRJA “INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJIUN”.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Terjemahan dari ayat 157 surat Al-Baqarah berikut ini.
أُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi manusia yang sabar, shalat dan berserah diri.
آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 1 Jumadil Akhir 1444 H.
25 Desember 2022.
(1.077.12.22)
Wednesday, 21 December 2022
GEMPA
Gempa bumi dengan kedalaman 10 km yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, 21 November 2022 pukul 13.21 WIB. Gempa ini dirasakan hingga Bandung, DKI Jakarta, Tangerang, Rangkasbitung, dan Lampung.
Seorang ustadz; pengasuh pesantren di Cianjur, beberapa tahun membangun bangunan permanen ruang belajar, asrama dan masjid di lokasi musibah. Gedung rampung pertengahan November 2022, direncanakan Desember 2022 akan ngundang sahabat kolega ustadz dari Jakarta dan pejabat setempat untuk peresmian bangunan baru berbiaya 6M tsb.
Manusia berencana Allah jua yang menentukan, musibah datang terutama seperti gempa tak dapat diprediksi. Hanya dalam hitungan detik bangunan dibangun 3 tahun lebih itu hancur tak mungkin untuk direnovasi tambal sulam, kecuali dihancurkan baru dibangun kembali. Mungkin yang masih dapat digunakan adalah kubah masjid. Untungnya tak seorangpun santri beliau jadi korban.
Menurut arti bahasa musibah adalah kejadian yang tidak diinginkan berkonotasi duka, menyedihkan, mengecewakan. Boleh jadi terkena penyakit, menderita kerugian, kehilangan sesuatu barang atau orang yang disayangi. Termasuklah gempa bumi.
Menurut pemahaman religi makna musibah dapat dilihat dari dua sisi. Di satu sisi musibah dapat berwujud seperti termaktub di kalimat di atas dengan konotasi melahirkan duka. Disisi lain musibah dapat datang bersampul kesenangan, kebahagiaan dan kesuksesan.
Musibah dalam arti apapun, merujuk Al-Qur'an, berulangkali disebutkan bahwa musibah tak terjadi tanpa izin Allah. Untuk mendukung renungan ini, dikutip ayat 22 dan 23 surat Al Hadid.
مَاۤ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْـرَاَهَا; اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ
Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.
لِّـكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمْ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرِ
Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.
Di ayat 22 diketahui bahwa musibah apapun baik yang menyedihkan maupun menggembirakan semuanya telah tercatat sebelum terwujud. Kemudian dijelaskan Allah di ayat 23.
1. Agar kita bila mendapat musibah yang menyedihkan, tak menyenangkan tidak terlalu bersedih hati berkepanjangan. Harusnya bersabar dan berdo'a agar musibah berlalu, dengan demikian mendapat musibah justru insya Allah mendapat pahala disisi Allah.
2. Giliran dapat musibah yang membahagiakan, menyenangkan, tidaklah lupa diri, lupa bahwa kebahagiaan, kesenangan itu anugrah Illahi yang sepantasnya untuk disyukuri. Dengan demikian kebahagiaan tidak disalah gunakan, tidak sombong, sebab Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.
Dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya”.
Ustadz yang pesantrennya hancur karena musibah gempa Cianjur tersebut memandang bahwa:
Pertama; musibah ini adalah sebagai ujian Allah dipetik surat Al-Ankabut ayat 2 dan 3:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوٓا أَنْ يَقُولُوٓا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِينَ
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman" dan mereka tidak diuji?" (ayat 2}
"Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (ayat 3)
Kedua; Hikmahnya semakin insyaf bahwa betapa besarnya dan dahsyatnya kekuasaan Allah. Bangunan phisik yang dibangun lebih dari 3 tahun dengan biaya milyaran rupiah, cukup dalam waktu ukuran detik hancur berantakan. Dalam konteks bahan2 bangunan seperti: besi beton, semen, pasir, dan segalanya untuk proses membangun adalah Allah yang menciptakan. Analoginya bagaikan diingatkan Allah seperti didalam surat Al-Waqi’ah 63 sampai 65:
أَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُونَ
ءَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُۥٓ أَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُونَ
لَوْ نَشَآءُ لَجَعَلْنٰهُ حُطٰمًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ
"Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?" (ayat 63)
"Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?" (ayat 64)
"Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang," (ayat 65)
Ketiga; semakin sadar bahwa bumi dan langit serta semua isinya termasuk diri2 ini adalah milik Allah, sehingga meluncurlah kalimat yang dipetik dari ayat 156 surat Al-Baqarah:
الَّذِينَ إِذَآ أَصٰبَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رٰجِعُونَ
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
Semoga ujian musibah ini, menambah kuat iman bagi yang terdampak langsung, maupun warga bangsa yang jauh dari lokasi bencana.
آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 28 Jumadil Awal 1444 H.
22 Desember 2022.
(1.076.12.22)
Subscribe to:
Posts (Atom)