Saturday, 30 April 2022

PENGARAHAN GENERUS

Enam langkah membentengi generasi penerus dari dampak negatif kemajuan teknologi komunikasi kutawarkan, telah ku publish: 1. Perencanaan (27-04-2022 artikel ke 945) 2.Penyeleksian informasi (29-04-2022 artikel ke 947). Langkah ke 3 Pengarahan (akan disajikan dikesempatan ini). Seperti dikemukakan di publish 1 dan 2, bahwa tulisan ini penayangannya bertahap, maka langkah ke 4. Pendampingan, langkah ke 5. Pembagian waktu dan langkah ke 6. Pemberian alternatif. Insya Allah menyusul. PENGARAHAN. Pengarahan; besarannya ada dua y.i. untuk dunia dan untuk akhirat. Generasi penerus yang menentukan mereka akan menjadi apa setelah dewasa nanti, akan bagaimana kehidupan akhirat mereka kelak; peran Ortu begitu dominan. Sifat dan karakter si anak tak jauh-jauh amat dari nyak babenye "buah jatuh ndak jauh dari pohonnya". Demikian pepatah lama nan belum usang, namun seiring dengan kemajuan dunia pendidikan, perubahan lingkungan dan kecanggihan teknologi informasi, bila Ortu kurang mengambil peran, maka warna si anak jangan kaget, beda dari Ortunya, bagaikan "ayam beranak bebek". Sebagai bangsa yang religi tentu arahan ORTU untuk generasi penerus tidak hanya mengharapkan sukses dunia saja tetapi juga sukses di akhirat kelak. Arahan untuk dunia. Menjalani pendidikan formal dari paud sampai pendidikan tinggi. Gantungan cita-cita anda dan putra/putri anda ideal bila selaras. Penting diberikan pertimbangan kepada mereka sepantasnya anak anda menjadi apa. Penentuan pilihan itu sedapat mungkin disepakati Ortu dan anak. Pemaksaan kehendak cita-cita ORTU untuk dicapai anak, kadang berujung kekecewaan setidaknya kurang membahagiakan, kedua pihak. Seorang anak pas ber AQ tinggi Ortunyapun "berkocek tebal". Ortu ingin anaknya meneruskan profesi dirinya sebagai dokter. Anak tersebut menuruti kehendak ayahnya, singkat kisah setelah wisuda dokter, ijazah dipersembahkannya kepada ayahnya, diapun melanjutkan ke cita-citanya mendaftar di sekolah teknik, kini dia menjadi seorang sarjana teknik. Dia punya dua keserjanaan dan menekuni pekerjaan bidang teknik. Tak ada yang kurang baik disini, tetapi setidaknya telah menyita waktu, padahal kesempatan hidup manusia ini terbatas. Arahan tentang dunia, juga untuk menyusun hidup berumah tangga, pola hidup dalam rangka kesehatan, memilih pergaulan dll. Mengingat sempitnya ruang ini tak dibahas detail. Semuanya sangat dominan pengaruh Ortu; mengarahkan informasi yang bagaimana harus/boleh masuk ke sarana informasi canggih di kediaman mereka dan/atau di alat komunikasi mobil yang dimiliki sianak. Arahan berikutnya untuk akhirat. Bagaimanapun suksesnya kehidupan di dunia ini, bagi insan religi, yakin dunia ini akan ditinggalkan. Di akhirat nanti hrs dipertanggungjawabkan usia kita untuk apa digunakan, ilmu kita untuk apa diamalkan, harta kita dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan. Yang juga tak kalah mengerikan bila anak salah arah, dimana kita dihadapan mahkamah yaumil qiamah akan diminta penjelasan, sudah seberapa jauh ikhtiar kita, sebagai ORTU memberikan arahan di bidang agama. Karena Allah sudah wanti-wanti: يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. 66 = At-Tahrim ayat 6) Tergelincirnya anak, cucu, cicit kita ke neraka bukan mustahil berawal dari kealpaan kita dalam MENGARAHKAN generasi penurus kita sehingga ybs terkena imbas dari dampak negatif canggihnya kemajuan teknologi informasi. Semoga kiranya Allah memberikan petunjuk kepada kita semua sidang pembaca, sebagai ORTU dalam mengarahkan generasi penerus kita. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 28 Ramadhan 1443 H. 30 April 2022. (948.04.22).

Friday, 29 April 2022

J I P I N G

Ketika seorang Professor sedang berceramah di sebuah masjid, jamaah tertua sebagai audience dari kursinya dia mengajukan pertanyaan. Begitu seriusnya kakek yang usianya sudah di atas 80 tahun ini bertanya kepada penceramah. Yang menarik buat ku selain materi pertanyaannya didasari ingin minta kejelasan, tetapi yang sangat terkesan istilah yang beliau kemukakan “SAYA INI HANYA NGAJI KUPING”. Jamaah shalat Magrib dan sekaligus Isya itu, bermaksud bahwa dirinya bukanlah orang berasal dari sekolah agama. Pengetahuan agama yang diperoleh beliau, sampai usia begitu sepuh didapat dari hanya mendengar, makanya beliau mengistilahkan dianya “NGAJI KUPING”. Mungkin bukan hanya Kakek ini; yang NGAJI KUPING, sebab tidak semua pemeluk agama, sedari kecil sekolah agama. Tidak semua kita masuk pesantren. Sebagian besar kita sekolah umum mulai SD (dulu SR), SMP, SLA perguruan tinggi (S1, S2 dan S3). Tidak heran maka pengetahuan dasar agama sebagian besar kita, sekali lagi sebagian besar (bukan semua) kita adalah NGAJI KUPING. Sebagian lagi ada juga disamping Ngaji Kuping, ditambah dengan ngaji mandiri, melalui mendalami sendiri buku-buku agama. Atau ada juga masa kecil oleh ORTU dimasukkan Madrasah. Dua kelompok disebut terakhir, kadang mempunyai pemahaman mengenai agama mendekati orang yang secara formal sekolah sedari kecil di sekolah agama. Belakangan ini melalui medsos, youtobe. Tidak jarang orang NGAJI MANDIRI + NGAJI KUPING ini berprofessi sebagai dokter, sebagai insinyur, ahli Enonomi ahli Manajemen dan berbagai ahli lainnya, tetapi mereka bukan saja “sedangan” pengetahuan agamanya sehingga juga sanggup menularkan pemahamannya kepada jamaah dengan berceramah mengenai agama. Khusus agama Islam tidak ada pembatasan yang boleh ber-khutbah hanya Kiayi atau Ustadz, tidak juga ada larangan seorang Muslimah atau Muslim memberikan tausyiah atau pengertian agama, asalkan yang bersangkutan dapat menyampaikan sesuai dengan acuan utama agama Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits (yang dapat diurutkan keasliannya). Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari) Sementara dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran (surat 3) ayat 104. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ  ۚ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." Tentu saja kalau sekedar NGAJI KUPING dan tidak menemukan konfirmasi dengan referensi Al-Qur’an dan hadits dimaksud janganlah ikut dulu men share kepada pihak lain. Namun demikian sesama PENGAJI KUPING ini juga jangan cepat-cepat mendebat, seseorang yang berceramah atau membaca tulisan seseorang, dengan mengemukakan hasil dari NGAJI KUPING juga. Terima dulu kalau sedang mendengar informasi dari penceramah atau tulisan, baru kemudian mencari referensinya, sebab kalau diibaratkan ilmu agama ini seluas lautan, jangan-jangan ilmu yang kita miliki barulah seperti sisa air di dasar gelas yang sudah habis diminum. Setiap orang berhak untuk masuk ke golongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf mencegah dari yang munkar. Golongan itu adalah orang yang siap memberikan keterangan, memberikan tausyiah tentu menurut kadar kemampuannya. Sementara itu ulama panutan Imam Syafi’i saja pernah mengatakan: “Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” “Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” “Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.” Kalau begitu, konon lagi kita yang hanya NGAJI KUPING dan ditambah pengetahuan secara mandiri, kalaulah masih disana sini ada kekurangan itu wajar, sedangkan Iman Syafi’i yang demikian hebat kajiannya masih mengatakan seperti hal dikutipkan di atas. Tapi kita harus berani berbuat atas perintah surat Ali-Imran ayat 104 “supaya ada segolongan umat yang menyeru………….”. Menjalankan juga pesan Nabi “Sampaikan dariku walau hanya seayat”. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua kejalan yang di redhai-Nya. Mari kita manfaatkan kesempatan sisa beberapa hari Ramadhan 1443 H ini, menambah ilmu dengan mengaji melalui sarana apa saja termasuk Ngaji Kuping (JIPING) اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ, وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ, وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 24 Ramadhan 1443 H. 26 April 2022. (944.04.22).

BENTENG GENERUS

Bahwa demikian pesatnya teknologi informasi, bila dahulu penggemar tontonan dewasa seronok harus cari medianya ngumpet-ngumpet, bisik-bisik dengan pedagang CD; sekarang dapat dilihat ditelapak tangan. Fenomena ini buat anak-anak sangat berbahaya bagi remajapun masih berbahaya. Persoalannya bagaimana ORTU harus menyikapinya. Solusi untuk MEMBENTENGI generasi penerus dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi tersebut adalah Enam yang kupapar tawarkan: 1. Perencanaan 2. Penyeleksian informasi 3. Pengarahan 4. Pendampingan 5. Pembagian waktu 6. Pemberian alternatif Sempitnya ruang, enam solusi tersebut. ku publish bertahap mulai dari: PERENCANAAN. Kehidupan ini tak dapat melepaskan diri dari perencanaan. Akan pergi ke pasar, akan berangkat ke kantor, ke masjid, harus pergi kemana saja harus beraktivitas apa saja, harus disusun rencana. Setidaknya untuk mendukung rencana itu ditetapkan a.l. kendaraannya apa, perlengkapannya apa yang diperlukan dan menentukan pilihan jalan yg akan dilalui. Orang akan menikah juga berencana, jarang yang ujuk-ujuk lalu nikah. Begitu juga setelah menikah akan punya generasi penerus itupun direncanakan, walau kadang yang terjadi diluar rencana karena kita berencana Allah jua yang menentukan. Anak sebagai generasi peneruspun lahir, kembali si Ortu sedini mungkin menyusun rencana diproyeksikan jadi apa tu anak nantinya kelak. Jangan salahkan Allah, jika anak setelah tumbuh dewasa tidak menyenangkan, karena telah diingatkan Allah bahwa anak memang berpotensi menjadi musuh, , ْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ ۚ dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; .......... (QS. At-Taghabun 64: Ayat 14) Anak berpotensi melalaikan Ortu dari mengingat Allah يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَاۤ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 9) Anak juga berpotensi sebagai COBAAN وَاعْلَمُوْۤا اَنَّمَاۤ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ "Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan......" (QS. Al-Anfal 8: Ayat 28) Untuk kehidupan di dunia ini agar generasi penerus tidak hidup dalam kesulitan, direncanakan pendidikan yang baik, kondisi phisik dan mental yang prima, karena mereka akan hidup di era yang lebih kompetitif dari pada kita. Oleh karena itu Allah mengingatkan: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 9) Itu perencanaan untuk hari esok di dunia. Tapi yang namanya hari esok bukan hanya hari esok dalam arti hari sesudah hari ini saja. Tetapi hari sesudah hidup di dunia ini yaitu di hari akhirat. Sehingga perencanaan yang diajarkan Allah untuk kita, dunia dan akhirat tersebut يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18) Begitulah salah satu solusi membentengi generasi penerus dari dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi yaitu PERENCANAAN, dengan menyiapkan mereka dengan ilmu, iman dan taqwa agar dengan sendirinya mereka dapat menyaring informasi. Yang tepat untuk keperluan mereka sesuai pertumbuhan kejiwaan sejak usia dini, anak-anak, remaja dan dewasa. Pada jenjang pertumbuhan kejiwaan itu Ortu membentengi generasi penerusnya dengan melakukan pemantauan, pengawasan dan pengarahan informasi apa yang boleh dilihat dan yang tidak boleh dilihat mereka, agar tercapainya “Perencanaan” mau diproyeksikan jadi apa putra-putri mereka kelak. Hal tersebut akan dirinci di solusi berikut "PENYELEKSIAN INFORMASI". insya Allah dilanjutkan yang akan datang. Demikian selingan sambil menjalani ibadah Ramadhan kita hari ini, semoga kita dapat menjelmakan rencana buat generasi penerus kita, terbentengi dari pengaruh negatif kemajuan teknologi informasi. Momentum Ramadhan, latih anak2 yang belum akil baligh berpuasa, awasi agar yang sudah dewasa melaksanakan puasa dengan baik, puasa merupakan salah satu benteng buat generasi penerus kita. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْ وَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍۢ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 25 Ramadhan 1443 H. 27 April 2022. (945.04.22).

Penyeleksian Informasi Generus

Melanjutkan tulisanku ke 945, 25 Ramadhan 1443 H, 27 April 2022 “Benteng Generus” dimana kusebutkan 6 langkah yang dapat membentengi gerenasi penerus dari dampak arus teknologi informasi dewasa ini, salah satunya adalah “penyeleksian Informasi”. Informasi merupakan isi dari komunikasi. Arus informasi ada yang searah, ada yang dua arah. Informasi pada dunia maya kadang searah dan boleh jadi menjadi dua arah bila sipenerima informasi merespond ke sumber informasi. Out put informasi dapat berujung berkomunikasi secara aktif bila penerima meng-counter informasi itu, secara pasif jika hanya menerima informasi itu tanpa merespond. Secara aktif maupun pasif informasi yang sudah terlanjur masuk berpengaruh terhadap diri seseorang, tergantung persiapan individu yang bersangkutan dalam mencerna informasi tsb. Oleh karena itu agar aman; disinilah peran ORTU “menyeleksikan informasi” bagaimana yang pantas buat generasi penerusnya sesuai tingkat perkembangan/pertumbuhan kematangan jiwa mereka. Dalam upaya menyeleksikan informasi buat putra/putri, anda jelas harus berkomunikasi kepada mereka. Teknik berkomunikasi harus tepat agar komunikasi efektif. Ortu yang salah memilih teknik komunikasi, jangka panjang besar kemungkinan arahannya akan diabaikan. Sebagai pedoman komunikasi pernah ku publish di blogspot ku dan di akun F.B. ku bahwa Al-Qur'an memberikan a.l. 6 teknik berkomunikasi y.i.: 1. secara "sadida" (al-Ahzab 70) berkomunikasi dg "kata yg benar". Utamanya usia balita jangan menyampaikan "larangan", kemudian memberikan alasan penyebabnya yang tidak benar. Hanya sekadar menjawab untuk menakut nakuti. Banyak contoh di waktu kita masih kecil misalnya "kalau maghrib segera berhenti main, nanti ditangkap hantu Wewe". Jangan suka duduk di pintu nanti cita-cita tak pernah tercapai. Hendaklah diberikan alasan yang logis sesuai kemampuan nalar si anak. 2. secara "karima" (Al-Isyra 23), kata kuncinya tidak menggurui, komunikator memposisikan komunikan adalah orang yg harus dijaga perasaannya. Di usia menjelang remaja kadang si anak sudah merasa paling bisa. Ortu dalam memberikan arahan harus mulai hati-hati jangan terkesan menggurui. Ybs kadang tak terima, karena merasa sudah pintar, sudah mengerti. Ekstrimnya Ortu dianggap sok usil. 3. secara "ma'rufa" (Al-Baqarah 63), kata kuncinya perkataan baik, tidak menyakitkan hati. Kebijakan Ortu memilih cara memberikan larangan untuk menggunakan informasi atau anjuran apapun dengan perkataan yang baik, tidak menyakitkan hati. Kalau punya kemampuan dengan teknik lucu, berseloroh, sehingga ybs tak terasa sedang dinasehati. 4. secara "baligha" (an-Nisa 63) kata kuncinya mengerti lawan bicara, sampai dimana logikanya, bagaimana kondisinya. Kaidah ini penting agar pesan tersampaikan efektif dan manfaat. Anda tau betul perkembangan putra/putri anda sebab merawatnya sejak bayi. Anda harus tepat memilih cara berkomunikasi sesuai perkembangan kecerdasan ybs. 5. secara "laiyina". (Taha 44). Berkata lemah lembut dengan argumentasi yang logis, siap dengan bukti. Bila perlu berikan contoh akibat buruk anak yang sering (sesuai yang anda cegah) dan kesudahan sukses/baik anak yang menuruti (apa yang anda anjurkan). 6. secara "maysura" (Al-Isyra 28). Kata kuncinya penuh pengertian dan taktis. Dlm konteks tersebut ortu yg bijak. Pernah kutulis di blog dan FB dengan judul "Komunikasi Lidi". Seorang ibu menggunakan cara "maysura", menyikapi anaknya kelas 1 SD yg dpt menjawab pertanyaan 3 + 60 = 63. Tapi ketika ditanya gurunya 60 + 3 = berapa dia tak dpt menjawab. Dengan sabar ibu muda itu memotong lidi sebanyak 100 ukuran sekitar 10cm. Taktis yg digunakannya, si anak disuruh meletakkan dilantai 3 lidi selanjutnya 60 lidi. Disuruh hitung. Tentu hasilnya 63. Selanjutnya lidi dikumpulkan lagi. Berikut disuruh si anak menjajarkan 60 lidi disisi kiri dan di kanan dijejer 3 lidi. Lidi kemudian dikumpulkan. Juga disuruh hitung tentu hasilnya juga 63. Dengan taktik seperti itu, tu anak paham bahwa di bolak balik hasilnya sama; 3 + 60 = 63; juga 60 + 3 hasilnyapun = 63. Begitulah pemahaman anak kadang kecerdasannya beda-beda dengan anak se usianya. Disikapi dengan taktis dan penuh pengertian, oleh bundanya, tidak dengan diomeli. Semoga kita dapat memilih teknik berkomunikasi kepada generasi penerus kita agar dapat menyeleksikan informasi yang bagaimana yang layak buat generasi penerus kita guna membentengi mereka dari dampak negatif dari kecanggihan teknologi informasi. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 27 Ramadhan 1443 H. 29 April 2022. (947.04.22).

Monday, 25 April 2022

Bila HATI diumpamakan BOTOL

Hati ini bila diumpamakan "BOTOL", Nilai botol ditentukan isi. Harga sebotol madu dengan sebotol minyak goreng jauh berbeda. Walau kini minyak goreng sedang berharga tinggi, tetap masih kalah harganya dengan sebotol madu dengan volume sama. Satu lagi sifat botol, kalau botol sudah penuh terisi, cairan yang lain tak dapat masuk lagi. Kalaulah "botol hati" ini senantiasa terisi dengan dzikir maka setidaknya pikiran2 lain tidak ikut masuk, karena ibarat botol tadi sudah penuh terisi. Bila hati penuh terisi dzikir, maka suasana hati jadi tentram. Jaminan Allah: اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd ayat 28) Hati yg tentram akan membuat kehidupan ini menjadi mudah dan indah. Dalam keadaan berpuasa, jika hati telah dipenuhi dengan dzikir, maka tak ada peluang masuknya pikiran2 yang jelek, berprasangka buruk. Tak sempat ikut nimbrung di majelis ghibah…... Kesempatan berdzikir di bulan Ramadhan begitu terbuka, bila aktif ikut tarawih setidaknya terpakai waktu hampir 2 jam-an. Bangun sahur, sebelum sahur sempat nambah shalat tahajud. Tahajud + Sahur = kurang lebih 3 jam-an. Disambung ke masjid nunggu shalat subuh dan ikuti sedikit tausyiah atau dzikir imam masjid mungkin se jam-an. Ditambah lagi nunggu Syuruk sekitar se jam-an. Dzuhur, Ashar, Maghrib 2 jaman. Maka hati ini se kurang2nya terisi 9 jam-an dengan ibadah + dzikir. 8 jam tersisa untuk beraktivitas, 7 jam untuk tidur. Khusus di bulan Ramadhan. Hal serupa dapat dilanjutkan usai Ramadhan, agar hati; ibarat botol ini terus berisi dzikir, ibadah, shalat tahajud dan membaca Alqur'an. Di bulan2 lainnya supaya mudah diatur 3 x 8. yaitu: Ibadah dan dzikir 8 jam, beraktivitas 8 jam dan tidur 8 jam. Jika hati tak terisi dzikir dikhawatirkan terjadi seperti yg diingatkan Allah: :.....وَلَا يَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَا لَ عَلَيْهِمُ الْاَ مَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ ".......dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik." (QS. Al-Hadid ayat 16) Hari ini shaum Ramadhan 1443 H, tinggal hitungan hari. Tinggal-lah kini evaluasi apakah puasa yang sudah dijalani mendapat skor maksimal, Allah lah yang maha tau, namun serba sedikit diri kita sendiri juga dapat menilai. Apakah diri ini sudah dapat membentengi diri dari hal2 yang mengurangi nilai ibadah puasa. Benteng yang paling kuat adalah penuhi “Botol hati” dengan ibadah dan dzikir, niscaya “cairan ghibah”, “larutan fitnah”, “adukan adu domba” insyaAllah tidak ada kesempatan masuk ke “botol hati” yang sudah penuh dengan “larutan dzikir dan ibadah” Semoga hari2 Ramadhan kita yang masih tersisa dapat digunakan sebaik2nya untuk beribadah, berdzikir kepada Allah, sehingga usai Ramadhan kita lulus dengan nilai terbaik. Targetkan cumlaude. اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 23 Ramadhan 1442 H. 25 April 2022. (943.04.22).

Sunday, 24 April 2022

Secara Keseluruhan

Menjalankan Islam secara kaffah diterjemahkan menjalankan Islam sesuai ke Al-Quran dan hadits, yaitu dengan petunjuk Allah dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasul. Atau masuklah Islam secara keseluruhan. Perintah masuk Islam secara kaaffah ini termuat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 208 يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." Ayat ini turun berkenaan dengan perihal Abdullah bin Salam bersama para sahabatnya yang berasal dari Yahudi Bani Nadhir di Madinah. Meskipun sudah memeluk Islam, mereka masih terpengaruh oleh norma-norma agama Yahudi seperti penghormatan terhadap hari Sabtu dan keharaman daging unta. Sikap setengah-setengah ini yang ditegur oleh Allah SWT. Naaah kini kita tinjau, diri masing2, masyarakat muslim di sekeling kita apakah telah masuk Islam secara keseluruhan yakni menerapkan “Perilaku Islami”. Masihkah kita mengamalkan adat istiadat yang bertentangan, tidak sejalan dengan yang diatur Islam, seperti kebiasaan Abdullah Bin Salam penyebab turunnya ayat tersebut. Umpamanya masih, maka ayat ini agaknya jadi acuan kuat untuk meninggalkannya agar tidak terkelompok belum masuk Islam secara kaffah. Secara sederhana “Islam Kaffah” itu mungkin boleh diartikan bebas, sebagai: “Orang Islam yang berperilaku Islami”. Diistilahkan demikian karena; ada fenomena “orang bukan Islam berperilaku Islami tentu minus ibadah”. Juga ada “orang Islam (karena beribadah secara Islam), tapi tidak berperilaku Islami”. Guna mengukurnya ada 4 dimensi perilaku Islami, menunjukkan bahwa orang telah masuk Islam secara Kaffah yaitu: 1. Dimensi Akidah. Ditandai dengan keimanan yang kuat tidak tergoyahkan. Secara mudahnya pemeluk agama Islam kaffah tidak bergeser sedikitpun keyakinannya terhadap rukun iman yang enam, dan rukun Islam yang lima. Meskipun umpamanya karena desakan mendapatkan harta, Islam kaffah tidak akan mengorbankan akidahnya. Selalu jadi panduan hidupnya surat Al-Baqarah 188: وَلَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ وَتُدْلُوْا بِهَاۤ اِلَى الْحُـکَّامِ لِتَأْکُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَا لِ النَّا سِ بِا لْاِ ثْمِ وَاَ نْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ "Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." Begitu juga, bila dianya pemuda atau pemudi, manakala ada kecondongan akan memperoleh pasangan hidup yang tidak seakidah, dianya akan segera menghindar. Teringat benar orang Islam kaffah dengan tuntunan akidah Islam tentang hal menikah di surat Al-Baqarah 221: وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَ مَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّا رِ ۖ وَا للّٰهُ يَدْعُوْۤا اِلَى الْجَـنَّةِ وَا لْمَغْفِرَةِ بِاِ ذْنِهٖ ۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ "Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran." 2. Dimensi ibadah. Diukur sekurang-kurangnya taat melaksanakan shalat lima waktu. Shalat merupakan pembeda orang Islam dan bukan Islam. Orang diluar Islam peribadatannya kepada agamanya, meliputi: tatacara, waktu, tempat melakukannya berbeda dengan agama Islam. Orang Islam kaffah betul-betul menghayati sabda Rasulullah: اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدِّيْنُ وَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ تَرَكَ الدِّيْنَ “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkan shalat, maka berarti telah menegakkan agama. Dan barang siapa meninggalkan shalat, maka ia telah merobohkan agamanya”. 3. Dimensi muamalah. Nampak pada perilaku orang Islam kaffah dalam melakukan setiap kegiatan dalam berinteraksi dalam masyarakat, dengan akhlak Islami. Tetap menghormati sesama, biarpun berlainan akidah. Kepada agama selain Islam, orang Islam yang kaffah tidak menghinanya. Karena dijiwainya betul ayat Al-Qur’an surat Al-An’am 108: وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا بِۢغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ "Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." Juga surat Al-Baqarah ayat 256 : لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِا لطَّا غُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِا لْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَا مَ لَهَا ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." 4. Dimensi sosial. Indikatornya adalah kepedulian sosial orang Islam kaffah begitu tinggi, karena di dalam ajaran Islam setiap rezeki yang diterimanya harus digunakan dengan baik untuk kepentingan diri, keluarga dan di dalamnya ada hak orang lain, kaum fakir miskin, anak yatim dan menunjang kehidupan sosial masyarakat. Aktif menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Sandaran berfikir orang Islam kaffah setiap mendapat rezeki adalah surat Al-Baqarah ayat 254 : يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَا عَةٌ ۗ وَا لْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ "Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim." Islam secara kaffah, boleh diartikan tidak setengah-setengah, tetapi secara keseluruhan. Namun sesuai ayat 208 Al-Baqarah di atas, bahwa untuk masuk Islam secara kaffah itu tidaklah mudah, sebab ada setan yang selalu menghalang halangi. Di wanti-wanti Allah di penggalan ayat 208 Al-Baqarah tersebut: وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  “jangan ikuti langkah setan”. Semoga dengan melalui gemblengan puasa Ramadhan kita dapat berusaha sekuat tenaga, menjadi pemeluk Islam yang melaksanakan perintah agama secara keseluruhan , dan meninggalkan yang dilarang agama secara keseluruhan pula. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 21 Ramadhan 1443 H. 23April 2022. (941.04.22).

Serba-Serbi ISI Kehidupan

Hidup di dunia yang rata-rata hanya tujuhpuluhan, delapanpulahan tahun ini suka tidak suka harus dilalui. Sebagai apapun kita berperanan harus kita jalani. Mau tidak mau, siap tidak siap dalam hidup ini akan dihadapi serba-serbi isi kehidupan meliputi: 1. Bahagia, sukacita, senang gembira. 2. Berduka cita, sedih, susah, menderita. 3. Sehat, segar bugar. 4. Sakit. Bahagia, Sukacita Senang gembira. Kesenangan, suka cita dan kebahagian sering dilambangkan dengan kesuksesan limpahan materi, berkedudukan terpandang. Walaupun ukuran bahagia tak mesti indikatornya sukses, berlimpah materi dan kedudukan tinggi. Berduka cita, sedih, susah, menderita. Kesedihan, kesusahan duka nestapa, disebabkan kegagalan, hilangnya harta benda, hilangnya jiwa sanak keluarga atau orang tercinta, turun jabatan. Kadang terselip hikmah besar di dalam duka dan kehilangan serta kegagalan. Sehat, segar bugar. Dambaan setiap orang untuk selalu sehat, namun dalam rentang kehidupan yang membentang dari lahir ke ajal ter-isi-lah dengan sehat dan sakit. Jasmani sakit ikhtiar berobat, rohani sakit kepada Allah mendekat dan bertaubat. Sakit. Keadaan phisik, perasaan yang beda dari keadaan normal. Semua orang merasakan sakit. Kadar sakitnya saja yang tak sama. Rata2 manula kebagian penyakit kronis, inipun beda setiap individu. Asik ngobrol sesama manula berpenyakit kronis di ruang tunggu poli rumkit. Ternyata penyakit masing2 bervariasi. Ada yang kena diabet tanpa kolesterol. Ada yang kolesterol tidak diabet. Ada penderita jantung rangkap diabet. Bab jantung ada yg penyempitan, ada yang klep, ada yang aritme. Aritme macam2 lagi. Ada yang denyut nadi ketinggian, kerendahan dan lain sebagainya. Sadarlah kita bahwa “Serba serbi kehidupan” kita masing2 walau kelompoknya sama seperti saya ungkap di awal tulisan ini, namun variasi yang diajalani tiap individu beragam, sekalipun kembar identik. Semua telah ditentukan oleh YANG MAHA KUASA. Seluruh Serba-serbi kehidupan ini dalam terninology iman disebut TAQDIR. Dalam menjalani hidup ini, ketika datang ISI HIDUP silih berganti dalam wujud apapun janganlah sampai kita termasuk kelompok manusia seperti disebutkan Allah dlm Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 83: وَاِذَاۤ اَنْعَمْنَا عَلَى الْاِنْسَانِ اَعْرَضَ وَنَاٰ بِجَانِبِهٖ ۚ وَاِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَـئُوْسًا "Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa". Dalam konteks ISI HIDUP ini Nabi Muhammad s.a w. telah memberi informasi bahwa sebelum kita tercipta: "........................................................ ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِكَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ .... (رواه البخاري ومسلم) " ..............Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.........................." (Riwayat Bukhori dan Muslim). Semoga kita termasuk orang yang bersabar ketika mengalami musibah, bersyukur bila mendapat keberuntungan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 22 Ramadhan 1443 H. 24 April 2022. (942.04.22).