Thursday, 29 July 2021

TRAUMA Telor ASIN.

Seluruh Nusantara kenal telur asin. Biasanya telur asin adlh telur Bebek, meskipun telur Ayam juga dpt dijadikan telur asin. Telur asin sudah berusia cukup lama konon lahirnya sejak tahun 1950 an.


Entah sejak kapan dan siapa yg mulai pertama, meramu menu kalau nasi rawon pas sekali jika di tumpangkan di piring sajiannya sebelah telur asin. Kata yg suka travelling malam, bahwa menu "rawon telur asin" mencegah masuk angin dlm perjalanan.


Suatu keluarga di acara hari ke tujuh almarhum ortu mereka dikebumikan, menu akan dihidangkan tahlilan "Rawon", lengkap dg asesorisnya dilengkapi  sebelah telur bebek asin. Hari pertama dan ketiga tetangga hadir 27 orang. Makanya dibeli dari pasar tradisonal 14 butir telor asin lalu direbus. 13 dibiarkan utuh untuk di belah nanti. 1 butir dibelah,  sebelah yg sdh terbelah disimpan rapi di dlm kulkas. Yg sebelahnya rupanya sekalian dicicipi perancang saji guna memastikan kualitas telur asin bakal tamu ssdh ashar nanti apakah pas asinnya.


Ketika jam makan siang, anak bungsu dari 8 bersaudara anak almarhum, tidak makan serempak dg saudara yg lain, barusan dari luar rumah agaknya.  Si bungsu ambil piring nyiapkan makan siang sendiri. Lauk pauk tersedia cukup meriah, ada aneka masakan ayam dan juga ikan laut. Maklum saudara2 pas ngumpul di rumah ortu. Si bungsu iseng membuka kulkas. Didapatinya ada sebelah telur asin "nyeleneh" diantara sekumpulan telur asin yg msh utuh.


Tanpa usul, tanpa tanya, si telur asin sebelah,  sekejap pindah ke piring si bungsu "pas asinnya pikirnya" sambil nyendok nasi di piring.


Menjelang ashar peramu saji "kakak tertua" mulai ngatur adik2nya nyiapkan "menu rawon". Adik2 perempuan ada yg kebagian memanaskan, ada bagian nata piring, siapkan asesoris seperti bawang goreng, kecambah, cabe uleg, krupuk. Sedang yg lelaki siapkan menggelar tikar, menggeser kursi tamu selanjutnya siap2 terima tamu. Giliran si kakak buka kulkas untuk penyempurna terakhir menu rawon dg belahan telor asin.


Begitu kaget si Sulung, sebelah telur asin sdh raib. 14 telur kan bila dibelah dpt 28 belah, sudah dicicipi sebelah, tersisa 27 pas dg  persiapan piring 27.  Dia tanyakan siapa yg iseng menyembunyikan yg sebelah. Si bungsu dg tenang nyahut "saya tadi ambilnya buat lauk makan siang".


Kakakpun merepet panjang lebar, betul juga sih... si kakak.... dirumah itu ndak kurang lauk lain, ikan laut, ayam goreng, dan aneka sayur. Ee kenapa telur sebelah itu yg dihajadkan. Sempat ditengahi bunda dan saudara yg lain, "kan tinggal ganti telor bebek lain, walaupun ndak asin, karena beli ke pasar sdh tutup penjual telur pasar tradisional banter buka sampai pkl 13.00.


Namun mesin marah kakak sdh terlanjur starter ndak kan berhenti hanya karena saran saudara2nya yg lbh muda. Dia baru diam kalau sdh puas marahnya.


Kakak puas stlh marah tapi bagi si bungsu TELUR ASIN ITU MELUKAI HATINYA sampai kini walau sdh 25  tahun lbh. Trauma buatnya bila melihat telur asin yg sdh terbelah, apalagi disimpan dlm kulkas. Terngiang terus ditelinganya omelan si Kakak, walau setiap kali Idul Fitri sdh saling minta maaf. Tapi bermaaf2 an secara umum, tak ada menyebut khusus ttg sebelah telur asin. Lagi pula budaya negeri kita, biasanya yg minta maaf yg muda kpd yg tua. Tak lazim yg tua minta maaf duluan kpd yg muda. Kalaulah umpamanya si kakak ngomong di Idul Fitri "dik ku minta maaf ngomeli kamu soal sebelah telur asin", mungkin si bungsu langsung hilang traumanya. Karena yg minta maaf itu hrs yg muda dulu, itu tak pernah terjadi. Yang tua biasa nganggap wajar marahi adik2nya.


Si bungsu sejak usai makan sudah minta maaf "jungkir balik". Namun kakak ketika itu tetap merepet, ngomel, marah. Bagi si bungsu bgmn sdh telanjur dimakan, kalau boleh dia ganti.


Bagi kakak perancang saji di kisahkan di awal tulisan. Mungkin kedepan dpt mengendalikan amarah, sebab pihak yg terkena marah akan mengenang seumur hidup, walau sdh dimaafkan tapi luka dihati tetap membekas. Oleh karena itu  Nabi Muhammad berwasiat:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].


Buat si bungsu, disarankan untuk jangan terus  menyimpan kekesalan hati itu berlarut-larut apalagi sampai puluhan tahun. Yg menderita diri sendiri, jadi trauma bila melihat sebelah telur asin. Padahal telur asin penyajiannya memang sering dibelah.

Baik sekali jika si bungsu menghafalkan dan meresapkan makna dari ayat 263 surat Al Baqarah.


قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى ۗ وَا للّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 263)


وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى

"pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti".


Justru kita dianjurkan untuk memberi maaf.  Ayat tadi menganjurkan untuk memberi maaf kpd siapa saja, walau mereka tdk minta maaf. Perbandingannya lbh baik dari sedekah yg diiringi tindakan menyakiti.


Memang minta maaf perlu supaya kesalahan kita kpd orang lain tuntas di dunia, tdk terbawa ke akhirat.


Semoga kita dpt mengendalikan marah, sekaligus menjadi orang pemaaf.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 17 DzulHijjah 1442 H.

27 Juli  2021.

(824.07.21). 

Mengenang Ayah dan Bunda.

Beragam cara anak2 mengenang mendiang ortu mereka. Rata2 anak2  (yg normal), merasa menyesal stlh ayah bunda tiada, mengapa kurang berbhakti kpd mereka. Terlebih bila awakpun sudah menua, apa yg pernah dialami ayah dulu, apa yg pernah dialami bunda dulu, mulai terasa di diri awak kini. Dulu pernah kesal kpd bunda, bila bicara sering minta diulang. Kini awak merasakan telinga tua rupanya sdh kurang pendengaran, nyesal pernah ngomong keras2 bagaikan membentak kpd bunda dulu.

Dulu agak heran, ayah kalau membaca dekat sekali mukanya ke kertas bacaan. Kini awak mulai merasakan, nyesal rasanya pernah membathin liat ayah membaca.


Sepeninggal ayah sekitar setengah tahunan, anak bungsu  merapikan almari buku ayah, di laci ketemu buku tabungan. Seingatnya ayah dulu kalau ngambil uang pensiun tdk model sekarang melalui tabungan di bank, lantas punya ATM. "Kenapa ada tabungan di salah satu bank BUMN?". ketika dibuka lumayan isinya, sepakat si bungsu dg saudara tua, di jadualkan ke bank. 


Sampai di bank; petugas  counter bank mengucapkan "innalillahi wainna ilaihi rajiun", baru kemudian menjelaskan prosedur pencairan tabungan almarhum. 


Petugas2 counter bank dan petugas front office lainnya kelihatannya bgt terkejut mendengar nasabah yg satu ini meninggal. Selanjutnya salah seorang mengatakan  "Pantasan Pak.......sdh cukup lama tdk pernah kesini". (pernyataan itu agaknya dibenarkan oleh petugas lainnya dg bahasa tubuh). :   "Beliau kalau kesini sering membawakan kami telur asin, cukup kami bagi2. Selain itu kalau pas musim mangga, beliau membawakan mangga mateng ranum2, hasil dari tanaman di pekarangan kata beliau". Jatuh juga air mata si sulung dan sibungsu........😔😔😔. 

Terbetik dihati kakak tertua ketika itu, "Nanti kalau ku pensiun, akan kuteruskan amalan ayah".


Si sulung dan bungsu tinggal sekota, saudara lainnya di lain kota.. ....... Almarhum ortu 20 tahunan, ngengon bebek alabio sampai ratusan ekor. Stlh beliau tiada, ternak berangsur menyusut tdk dilakukan peremajaan, ndak ada yg merawat akhirnya tdk produktif.


Masuk masa persiun, kakak tertua dipanggil "Kak-long" mulai lagi pelihara bebek buat kandang di pekarangan  belakang rumah. Baru ada belasan ekor, lumayan tiap pagi kini sdh mulai panen 5 sampai 6 butir. Ternak dikelola bersama, oleh kak-long dan adik yg paling bungsu. Sepakat telur diasinkan.  Kak-long mengatur adiknya si bungsu, anak, mantu dan cucunya serta dia sendiri hanya boleh makan telur asin 3 hari sekali dg porsi sebelah.


Sementara telur asin yg lainnya oleh kak-long disedekahkan ke orang, tetangga dan sahabat2nya, sesekali kenalan almarhum di bank. Dengan maksud  meneruskan amalan dan silaturahim almarhum ayah. 


Aktifitas itu terinspirasi pertama oleh informasi petugas bank. 

Yang kedua; bersedekah atas nama Almarhum ayah dan bunda.  Agar lebih terkesan mendalam dg sesuatu hasil dari usaha yg pernah dilakukan mereka. Ngengon bebek ratusan ekor tentu ayah tak mungkin sendiri, tentu dibantu bunda. Mengacu ke hadits:

Diriwayatkan  Bukhari Muslim, An Nasa'i dan Abu Daud dari Abdullah bin Abbas RA: 


أنَّ سعدَ بنَ عبادةَ رضي اللهُ عنه تُوُفِّيَتْ أمُّه وهو غائبٌ عنها فقال : يا رسولَ اللهِ إنَّ أمي تُوُفِّيَتْ وأنا غائبٌ عنها أينفعُها شيءٌ إن تصدَّقتُ به عنها ؟ قال : نعم . قال : فإني أُشهدُك أنَّ حائطي المِخرافَ صدقةٌ عليها


Bahwasanya Sa’ad bin Ubadah bertanya kepada Nabi SAW "Ibuku meninggal dunia. Apakah akan bermanfaat baginya apabila aku bersedekah atas namanya?" 


Beliau menjawab, "Yah." Dia berkata, "aku memiliki sebidang kebun. Aku mempersaksikan mu bahwa aku menyedekahkannya atas nama ibuku."


Si bungsu heran dg kebijakan kak-long, Kok telor asin lbh banyak disedekahkan ketimbang dimakan/dimanfaatkan sendiri.   Tapi dia tersadar atas anjuran agama ttg: yg jadi milik kita sesungguhnya hanya bila sesuatu yg dimiliki disedekahkan, bakal kita dapati di akhirat sana. 

Kalau telor asin yg dimakan ya jadi darah daging, sebagian jadi ampas dibuang. 

Bila telor dijual dibelikan sesuatu yg dipakai, akan usang. Telor  yg disedekahkanlah yg jadi milik kita di akhirat nanti.

Lagian, akan bosanlah lauk telor asin tiap hari. Cocoklah sdh 3 hari sekali takaran sebelah.


Buat kak-long dan sibungsu, saban kali mengantarkan sedekah telor asin, terbayang wajah ayah dan bunda. Diikuti dlm hati berdo'a buat mereka.


Selanjutnya Kak-long dan si bungsu serta juga kita semua para pembaca, mudah2an anak2, cucu2, cicit2 kita meneruskan amal  kebaikan apa saja sekecil apapun.  Sehingga menjadi salah satu sebab kita tergolong keluarga yg dpt berkumpul di akhirat nanti seperti yg dimaksud ayat  berikut ini:


جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَآئِهِمْ وَاَ زْوَا جِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَا بٍ 

"(yaitu) surga-surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;"

(QS. 13 Ar-Ra'd syat 23).


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 19 DzulHijjah 1442 H.

29 Juli  2021.

(825.07.21).

Monday, 26 July 2021

Ke-BENAR-an tergantung SIKON.

Sudah menjadi kebiasaanku sejak lama,........ disaat olah raga jalan pagi selalu mengenakan masker.

Ketika, ngantar istri ke suatu bank, semula aku tidak ikut masuk. Stlh kendaraan di parkir, memanfaatkan waktu ku teruskan jalan pagi disekitar lokasi bank. Karena cukup lama istri blm keluar dari bank, ku ingin ngecek. Masuk pintu bank, satpam menyuruhku membuka masker. Satpam beralasan wajah tidak sempurna terlihat. 

Kini di musim covid, malah sebaliknya, bila masuk bank, kurang sempurna sangkutan/ posisi  mengenakan master saja di tegor.


Kuteringat tahun 1971an di Jakarta, waktu masih jadi wartawan ketika pulang pagi (usai piket malam di percetakan, waktu itu surat kabar masih dicetak dg teknik susunan huruf timah,  kadang dpt giliran bertugas ngontrol sblm naik cetak).  Mengendarai sepeda motor, lupa mematikan lampu karena tadi malam abis di pakai, di stop Polantas diingatkan untuk matikan lampu. 

Situasi sekarang beda lagi, ngendarai sepeda motor di jalan raya di Jakarta tidak nyalakan lampu, malah dipersalahkan.


Dari dua kasus yg kuangkat di atas ternyata kebenaran di dunia ini sangat nisbi, tergantung situasi dan kondisi. 

Kebenaran di suatu masa dianggap salah di masa yg lain. Kejanggalan suatu masa dianggap umum/lumrah dimasa yg lain. Kesalahan di suatu masa dibenarkan di masa yg lain. Kebenaran tergantung situasi dan kondisi pada masanya.


Kebenaran juga tergantung dari siapa yg menilai. Benar menurut seseorang, blm tentu benar menurut orang lain.  Benar menurut suatu kelompok atau kaum blm tentu benar menurut kelompok yg lain. Perbedaan ketika menentukan kebenaran inilah, yg sering membuat perselisihan,  sering berujung dibawa ke pihak yg dianggap adil (di dunia) untuk menetapkan "kebenaran" itu. 


Yg sedihnya jika penentu kebenaran itu berpihak kpd salah satu kelompok pencari "kebenaran". Kalau sdh yg dipercaya penentu kebenaran tdk netral dmkn, sudahlah......... alamat "kebenaran" itu tidak benar.  


Di tengah pandemi covid 19 ini juga bukan sedikit terjadi beda pendapat menetapkan kebenaran,  ttg protokol kesehatan misalnya. 


Bagi orang yg beriman acuan kebenarannya jelas; sesuai petunjuk Allah a.l. seperti (QS. Ali 'Imran ayat 60)

اَلْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا  تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ

"Kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu."


Orang beriman mengukur kebenaran atas dasar yg dituntunkan Allah dan RasulNya. 


Eeeee........masing2 pihak meng-klaim pula beriman, meng klaim juga menentukan/mencari kebenaran tlh sesuai petunjuk Allah dan RasulNya. 


Dlm hal seperti ini pulangkanlah kpd hati nurani.               اِنْ شَآءَ اللّٰه , hati nurani orang yg taqwa dan tawakal senantiasa di bimbing Allah, ditunjukkan jalan keluar (yg baik). (QS. At-Talaq ayat 2)

 وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,"


Upaya mendpt kebenaran ttg apa saja,  jika merujuk pada petunjuk Allah:


"..........فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ


"...........maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui."

(QS. 21= Al-Anbiya ayat 7).


Soal kesehatan, penyakit, aneka, wabah dan virus, wilayahnya ilmu para dokter.  Sedang dokter, juga terbagi lagi dengan berbagai keahlian khusus. Ayat 7 Al-Anbiya di atas agaknya menyuruh kita untuk memilih kebenaran soal virus yg di tunjukkan dokter2 yg ahli pada bidang per virus an. 


Dlm konteks ini,   bersikap dlm menghadapi sesuatu kebenaran yg masih membimbangkan yg, hrs di taati:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

(QS.4 = An-Nisa' ayat 59).


Nah kalau begitu sebaiknya yg kita ikuti ttg fatwa kebenaran khususnya ttg virus corona atas rujukan ayat2 di atas adlh:


1. orang berilmu اَهْلَ الذِّكْرِ, mereka adalah para ulama yg menguasai ilmu ttg penjabaran petunjuk Allah dan Rasul-Nya. 

Jika terdapat dua kubu,(satu setuju prokes yg lain tdk setuju prokes) masing2 pun lengkap dg dalilnya maka pertimbangan berikut:


2. Ikuti apa yg ditetapkan pemimpin

وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ

karena mereka tlh diamanahi oleh masyarakat untuk mencari jalan terbaik untuk kemaslahatan ummat yg dipimpinnya.


3. ikuti petunjuk ahli dibidang kesehatan sesuai dg Al Anbiya 7 di atas.


Smg hati nurani kita semua masih hidup shg masih sanggup menetapkan baik dan buruk, benar dan salah, setidaknya untuk diri sendiri dan keluarga buat sandaran guna mohon ampun kpd Allah.

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّـبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

Ya Allah tunjuki kami yg benar itu benar serta sanggup mengikutinya. Tunjuki kami yg salah itu salah sehingga mampu menjauhinya.

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 16 DzulHijjah 1442 H.

26 Juli  2021.

(823.07.21).

Thursday, 22 July 2021

Manusia Mudah Terperdaya.

Pebisnis merugi adakalanya karena teman bisnis ingkar janji. Meskipun tdk kurang ikhtiar sblmnya tlh dibuat kontrak tertulis memenuhi syarat kontrak:

1. Jelas ttg bisnis apa.

2. Jelas legalitas masing2 pihak.

3. Jelas diatur hak dan kewajiban masing2 pihak.

4. Diatur penalty bagi pihak yg wanprestasi.


Kalau gagal lantaran hal2 diluar dugaan tak mampu dihindarkan, apaboleh buat, meskipun mungkin kecewa, tapi bukan terperdaya istilahnya.


Terperdaya adlh bila  sesuatu yg direncakan,  terjadinya  diluar keinginan, mengecewakan, merugikan, tidak mengenakkan, bahkan kadang menyakitkan oleh pihak lain.

Boleh jadi penyebab terperdaya: 


1. Karena tidak mengetahui apa yang akan terjadi. 

Tentang yg terjadi esok memang tak diketahui persis. Oleh karena itu tdk mengetahui partner bisnis, atau pihak yg dipercayai, nantinya bakal ingkar janji, bakal memperdaya. 


2. Karena manusia harus berusaha. Manusia secara kodrati untuk memenuhi kehidupan harus berusaha, berkegiatan. Lain dg makhluk lainnya hanya dg ikhtiar minimal alam tlh menyediakan kebutuhan mereka. Makanya burung tak nyiapkan lumbung buat nyimpan makan, sapi, kambing tak perlu simpan digudang, makan harian mereka. Tumbuhan, tumbuh sesuai dg lahan yg cocok buatnya. Beda dg manusia hrs simpan untuk cadangan kehidupan esok lusa dan bahkan anak cucu. Oleh karena itu hrs giat usaha. Berusaha apapapun hrs melibatkan pihak lain yg kadang memperdaya.


3. Karena mengabaikan pengalaman. Ada juga orang terperdaya dlm banyak hal mengulang kejadian yg hampir sama dg apa yg pernah di alaminya (misalnya 5 tahun lalu). Kadang dg propaganda sesaat yg lbh meyakinkan, lantas percaya lagi dg pihak yg pernah memperdaya.


4. Karena gemar sanjungan. 

Tidak sedikit orang terperdaya oleh kelihaian pihak memperdaya memuji dan menyanjung. Termakan sanjungan, bersedia menyerahkan sesuatu untuk di kelola oleh penyanjung. Ujung2nya diperdaya, kepemilikan beralih kpd pihak penyanjung.


Dkmn antara lain penyebab manusia terperdaya. Kalaulah yg terperdaya itu adlh orang perorangan dampaknya masih tdk seberapa. Kalau yg terperdaya itu adlh suatu bangsa oleh bangsa lain, penderitaan berkepanjangan dirasakan anak cucu ber-generasi2.......

3 abad lbh kita terjajah satu dan lain karena terperdaya, penyebabnya antara lain salah satu atau bbrp faktor tsb diatas.


Perihal memperdaya adlh pekerjaan syaitan, baik langsung maupun tdk langsung........

Langsung, yaitu model syaitan memperdaya dg membisikkan ke diri kita sendiri. Sedangkan tidak langsung bermediakan pihak lain. Manusia bertitik lemah salah satunya gampang terperdaya,

وَخُلِقَ الْاِ نْسَا نُ ضَعِيْفًا

karena manusia diciptakan (bersifat) lemah."

(QS.4 = An-Nisa' ayat 28).


Dalam pada itu syaitan terus menerus mendatangi manusia untuk diperdaya dari segala arah:

ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ......."


"kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. ........."

(QS.7 = Al-A'raf ayat 17).


Diantara model perdaya syaitan, menjadikan terasa indah kejahatan yg dilakukan.

قَا لَ رَبِّ بِمَاۤ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُ زَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَ رْضِ وَلَاُ غْوِيَـنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ 

"Ia (Iblis) berkata, "Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,"

(QS. 15 = Al-Hijr ayat 39)


Apapun tujuan pihak yg memperdaya orang lain adlh untuk mendptkan keuntungan diri sendiri atau kelompoknya, padahal Allah telah memberikan rambu2 tentang harta orang lain:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. .........."

(QS. 4 = An-Nisa' ayat 29).


Semoga kita tidak terperdaya, ataupun menjadi pihak yg memperdaya. Bgt pula harapan kita agar bangsa kita tdk diperdaya oleh bangsa2 lain, cukup sdh nenek moyang kita menjadi bangsa terjajah karena antara lian diperdaya bangsa lain.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

12 DzulHijjah 1442H.

22 Juli 2021.

(822.07.21).

Saturday, 17 July 2021

Kasih sayang Ayah Bunda.

Begitu besar kasih sayang ayah dan bunda kpd kita. Ketika kita sakit agak berat. Kadang ada ayah-bunda yg berdo'a kalau boleh dia yg menggantikan penderitaan sakit itu. Anak ditunggui, dirawat dg sepenuh hati dan jiwa. Tapi......

giliran ayah-bunda yg sakit anda pas berada di luar kota. Kalaulah anda datang mungkin anda akan ketar-ketir, kok ortunya ndak sembuh2, padahal pekerjaan anda lama ditinggalkan. 


Dlm case ini, kebanyakan ayah atau bunda yg sakit malah dg ikhlas menganjurkan anda tinggalkan dia dlm keadaan sakit, menyuruh kembali ke pekerjaan anda, demi masa depan anak cucu mereka.


Maka ada pepatah dikampungku "Kasih ayah-bunda sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah". Yang namanya galah terbatas panjangnya (banter 5 meter), kalau terlalu panjang malah tak berfungsi. Sedang jalan panjang, selalu sambung bersambung.

 

Ketika kita masih kecil, bahkan sampai kita tlh tua beranak beristri, bila kita sakit ortu berdo'a "cepat sembuhkan anakku, bila perlu berikan penyakit itu kpdku". 


Sementara jika ayah bunda sdh sakit berat ada anak yg berdo'a: "Kalau sekiranya penyakit ortuku ini msh dimungkinkan sembuh, tlg segeralah sembuhkan. Umpamanya tdk mungkin sembuh lagi; tlg mudahkan maut menjemputnya agar tak lama dlm penderitaan".


Mungkin diantara pembaca termasuk orang  beruntung, sampai tua stlh anda mapan msh dpt merawat, berbuat kebaikan kpd Ortu. Memfasilitasi ybs beribadah sampai membiayai berangkat haji. Ketika ayah atau bunda sakit sempat mendampingi, mentalkinkan ayah atau bunda menjelang maut. Memimpin shalat jenazah sampai memasukkan ke liang lahad.


Atau sebaliknya, mungkin ada pembaca termasuk kurang beruntung; ketika anda tlh sukses ayah-bunda tlh tiada. Anda pun tlh berhaji dan umrah berulang kali. 

Dlm pada itu ........

Mengenang ayah-bunda dahulu pas hidup di zaman susah, jangankan membayar BPH (Biaya Pergi Haji), sekedar Akikah  ketika anda lahir saja, konon kabarnya ada Ortu blm melaksanakan. Apalagi memotong hewan kurban seperti akan berlangsung bbrp hari yad.


Seorang pengusaha suskses, penuh haru teringat mendiang ayah dan ibu. Rupanya dianya termasuk kurang beruntung. Tak sempat berbhakti kpd kedua  Ortunya. Sejak berangkat dewasa sdh meninggalkan kampung halaman merintis kehidupan. Ayahanda meninggal ia sedang berada di luar negeri, sampai ke kampung tinggal datangi pusara. Bunda berpulang hanya sempat menshalatkan dan memakamkan. Itupun jenazah harus ditunda diberangkatkan dari rumah duka, menunggu dianya tiba.


Walaupun umpamanya anda termasuk orang yg sanggup berbhakti kpd ayah-bunda seperti terpapar di atas. Blmlah sanggup membalas kebaikan ayah dan bunda. Blm lah sepadan dg pengorbanan dan perjuangan mereka merawat kita masih kecil, membesarkan kita.


Apalagi bila anda termasuk kelompok yg tak berkesempatan berbhakti kpd ayah bunda seperti diumpamakan di atas. Tentu tinggal rasa penyesalan dan haru saja bila mengenang mendiang ayah dan bunda. 


Akan tetapi msh terbuka ikhtiar kita berbhakti kpd ayah-bunda yg tlh tiada. Baik yg baru saja meninggal dunia atau tlh bgt lama. Anda blm terlambat berbhakti kpd almarhum/almarhummah. 


Syeh Mahmud Azib dlm buku "amalan yg bermanfaat bagi mayit", terbitan Pustaka al-Kautsar jkt. hal 55 s/d 105, menguraikan ada 11 perbuatan kita yg bermanfaat buat mendiang Ortu.


Diantara 11 amalan tsb. selain terus-menerus berdo'a mhnkan ampunan untuk buat ayah dan bunda. Bersedekah a.n. mereka mrpkn salah satu dari 11 amalan manfaat untuk mendiang ayah-bunda. Banyak hadits ttg hal tsb. di tulisan ini saya kutip salah satunya.


Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,


أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا


“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756).


Perumpamaan diungkap di atas, ada anak yg sempat ber bhakti kpd ayah-bunda dan ada juga anak yg tdk sempat berbhakti kpd ayah-bunda, tentu diantara dua kutub itu ada yg sedang2an. 


Pasnya tingkat kebhaktian anda, andalah yg tau persis. Yg jelas selama hayat masih dikandung badan kesempatan kita berbhakti kpd ayah-bunda masih terbentang.


Dikesempatan menyembelih hewan kurban bbprp hari yg akan datang nanti, agaknya baik jika diniatkan kurban "untuk diri sendiri untuk keluarga kita baik yg masih hidup maupun sdh tiada dan tentu juga buat ayah-bunda. Hal ini dpt kita jadikan rujukan utk diteladani apa yg tlh dilakukan Rasulullah Muhammad  ﷺ  berkurban untuk diri dan keluarga dan bahkan untuk ummat.


Dipetik salah satu hadits mengenai hal tsb dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: “ضَحَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَرَّبَ أَحَدُهُمَا فَقَالَ بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ هَذَا مِنْ مُحَمَّدٍ وَأَهْلِ بَيْتِهِ، وَقَرَّبَ الآخَرُ فَقَالَ: “بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ هَذَا مِنْ عَمَّنْ وَحَّدَكَ مِنْ أُمَّتِي 

Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Rasulullah ﷺ ‘ menyembelih dua ekor kambing kibasy yang berwarna putih dan bertanduk. Beliau menyembelih yang seekor seraya berkata: “Bismillah. Ya, Allah! Ini adalah dariMu dan untukMu, kurban dari Muhammad dan keluarganya.” Lalu Beliau menyembelih yang seekor lagi seraya berkata: “Bismillah. Ya, Allah! Ini adalah dariMu dan untukMu, qurban dari siapa saja yang mentauhidkanMu dari kalangan umatku.”


Semoga melalui kebaikan apapun yg kita lakukan dpt mrpkn wujud bhakti kepada ayah dan bunda.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

7 DzulHijjah 1442H.

17 Juli 2021.

(821.07.21).

Do'a di masa Covid.

Pengeras suara masjid bbrp kali belakangan ini, mengumumkan berita duka. 

اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ


Kalau yg diumumkan di masjid dekat rumah, mestinya si fulan atau fulanah yg meninggal adlh warga sekitar masjid. Umumnya mereka adlh sahabat handai,  ada yg jamaah, ada yg warga se RW atau RW tambiran yg semasa hidupnya saling kenal, setidaknya pernah saling sapa.


Di suasana covid ini, jadinya tidak PD untuk berkunjung ke rumah duka. Utamanya bagi kami diatas 70 ini, tubuh tlh berisi bermacam penyakit kronis, semakin ciut hati untuk melayat ke sahabat yg duluan pulang........


Mati sih ndak lah takut, sama saja ditakutipun tetap tak dpt menghindar. 

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ كِتَـٰبًۭا مُّؤَجَّلًۭا

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. ........" 

(QS:Ali Imran 145).


Tapi hendaklah:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ


“Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada Mengambil sebuah kemaslahatan.”


Dlm keadaan normal, suatu tradisi yg amat baik di RW tempat tinggalku. Setiap ada warga yg meninggal, tidak pandang agamanya, warga dari 18 RT di RW kami mengutus warganya datang ke rumah duka sbg tanda bela sungkawa, sedapat mungkin ikut berperan dlm prosesi jenazah. 


Malam harinya, sekali lagi tdk pandang agama yg meninggal, setiap RT mengirim bbrp warga berkumpul ke rumah duka diadakan acara sederhana sbg wujud guyub warga, menghibur keluarga yg berduga.


Tapiii......... berkenaan dg covid ini, dimana berkumpul berpotensi tertular dan atau menularkan, maka acara pelayatan itu tak dpt dilaksanakan.


Ketika tulisan ini diturunkan PPKM darurat sdh berjalan 11 hari s.d. 20 Juli nanti, di TV disiarkan ada kemungkinan diperpanjang.


Beruntung masih, setiap keadaan tidak normal, telah siap ketentuan tidak normal pula dlm pelaksanaan ibadah, termasuk urusan kematian.


Kewajiban atas jenazah bagi yg hidup yaitu:


Memandikan mayyit (غُسْلُهُ);

Mengkafankan mayyit (تَكْفِيْنُهُ);

Menyshalatkan mayyit (الصَّلَاةُ عَلَيْهِ); dan

Menguburkan mayyit (دَفْنُهُ).


Kewajiban ini mrpkn Fardhu kifayah, bila sdh dilakukan oleh sebagian orang, maka gugurlah kewajiban seluruh orang lain. 


Jadi bagi yg lanjut usia punya beraneka penyakit bawaan, kewajibannya tlh tertalangi, para petugas covid, buat jenazah yg meninggal karena covid. Tertalangi yg muda2 bagi jenazah yg meninggal normal.


Bagi lansia ujur (apalagi dimusim covid ini) bgt mendengar sahabat kenalan atau family dekat maupun jauh, mungkin baik sekali bila shalat ghaib untuk yg meninggal tsb. Karena shalat jenazah baik langsung dihadapan ada jenazah atau ghaib adlh mrpkn do'a. Sedangkan do'a yg hanya diketahui diri sendiri untuk orang lain sangat baik.  Merujuk kpd hadist.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ


“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim).


Allah juga memberi kita petunjuk bahwa dimungkinkan kita berdo'a untuk semua orang beriman tanpa sepengatuan mereka yg kita do'akan:


رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَلِـوَا لِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ ۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَا رًا

"Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran."

(QS. 71= Nuh ayat 28).


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

4 DzulHijjah 1442H.

14 Juli 2021.

(820.07.21).

Monday, 12 July 2021

TUBUH ini JUJUR.


Ternyata  penyampaian informasi itu bukan hanya dpt dg lisan dan tulisan. Anggota tubuh juga dpt  menyampaikan pesan. Sering kita dengar "bahasa tubuh". 


Bahasa tubuh diekspresikan oleh seluruh bagian dari tubuh; seperti: mata, telinga, bahu, dahi, alis, dagu tangan, kaki, bahkan terakhir ini termasuk rambut.


Justru bahasa tubuh sangat orisinal sekaligus universal. Orisinal, dlm pengertian murni jujur jarang dpt di-buat2. 

Universal dlm pengertian, bahasa tubuh hampir seragam seluruh dunia. Contoh di negara dg penutur bahasa apapun, pernyataan salutasi dilambangkan dg  Jempol atau "ibu jari".  👍👍👍, senang dg👏👏👏 (tepuk tangan).


Menyatakan setuju hampir seluruh dunia dg "anggukan kepala". Walau ada juga negara "anggukan kepala", bermakna tidak setuju, misal Bulgaria.


Ketika masih jadi kayawan di salah satu BUMN. Model dulu, kami punya dana tak-tis, yg dpt digunakan untuk entertainment, untuk memberikan sumbangan termasuk kpd "peminta-minta berdasi". 

Khusus untuk peminta-minta ku sebut terakhir, datangnya mendadak, tanpa proposal, langsung menjadi tamu Bos ku. Dana tak-tis tsb wewenang pengeluarannya ada pada Bos, uangnya disimpan dlm brand kas dipercayakan pada ku sbg Kabag Umum. 


Untuk pengeluaran dana tak-tis pos2 lainnya prosedurnya melalui "catatan kpd Bos", stlh beliau Acc dpt dikeluarkan dalam hal ini punya cukup waktu mempertimbangkannya.


Khusus untuk "tamu bos" ku yg kusebut di atas, putusan acc dari Bos  ku  pengeluarannya,  riil menggunakan "bahasa tubuh".


Ada tiga jawaban yg ku sepakati dg bos ku bila bos bertanya di depan tamunya yaitu:

a. "Aduuuh maaf ya dana kami sedang kosong..... "  Jawaban ini bila bos tdk setuju memberikan dana buat sang tamu.

b. "Ada tapi hanya sekedarnya".... Jawaban ini bila bos setuju memberikan sekedar uang transpor buat si tamu.

c. "Ada pak perlu berapa"?.... Jawaban ini bila bos setuju membantu si tamu secara total.


Untuk menjawab "a",  "b" atau "c", tergantung tatapan mata sang Bos ketika memanggilku ke ruangannya di hadapan tamunya. Diriku paham betul "bahasa mata bos ku". Si tamu di jamin tdk mengetahui.


Alhamdulillah selama 3 tahun lebih bekerja sama dg bos ku yang satu itu tak pernah ku salah membaca bahasa tubuh beliau.


Petinggi adat di pedalaman kampungku doeloe sekali pernah memutus perkara untuk mengetahui bahasa tubuh dengan "Bakar Leban" dlm rangka mencari kebenaran. 


Kasus dua orang berperkara tentang sesuatu barang berharga. 

Masing2 pihak mengaku barang itu miliknya. Setelah upaya berupa sumpah dan saksi2 tak dpt memutus perkara, maka dipilih jalan keluar terakhir, "Bakar Leban".


Leban adlh jenis kayu yg keras, sangat baik sekali untuk bahan baku membuat arang.


Tekniknya. Dihadapan majelis adat dua orang bersengketa di hadapkan. Sepotong kayu Leban di bakar sampai membara. Selanjutnya di informasikan kpd kedua orang yg berperkara bahwa setelah api di kayu leban di padamkan,  bara leban tersebut dlm hitungan ditentukan, kedua orang yg bersengketa serentak hrs mengangkat  "bara leban"  ke hadapan penghulu adat, yg seorang di suatu ujung dan yang seorang lagi di ujung yg lain.


Orang yg berada dipihak yg benar, dg ritual dipimpin penghulu adat, niscaya tangan tidak mengalami luka bakar, sedangkan pihak yg salah tangannya akan luka bakar yg serius dan mengerang ke sakitan.


Menjelang moment bara siap diangkat, penghulu adat masih memberikan kesempatan terakhir bagi pihak yg berperkara untuk mengubah sikapnya.


Sejak mulai leban dibakar, pihak yg tdk benar, bahasa tubuhnya secara jujur sdh mengakui. Diekspresikan dari wajah yg pucat pasi takut, bibir goyang sendiri, tubuh gemetaran, keringat mengucur dll. Karena Tubuh ini Jujur. yang mampu berbuat tdk jujur hanyalah LIDAH.


Yg dmkn ini memberi bukti bahwa di dunia saja tubuh berlaku jujur apa lagi di mahkamah Allah di pengadilan akhirat nanti. Makanya benarlah bahwa di akhirat nanti seluruh anggota tubuh akan berbicara, di dunia ini saja kita sdh dpt buktikan kebenaran ayat2 itu .


Di pengadilan di akhirat nanti seluruh anggota tubuh menjadi saksi tentang semua perbuatan pemilik tubuh. Di informasikan Allah dlm Al-Qur"an:

اَلْيَوْمَ  نَخْتِمُ عَلٰۤى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَاۤ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا  يَكْسِبُوْنَ

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."

(QS. Ya-Sin ayat 65)


وَقَالُوْا لِجُلُوْدِهِمْ لِمَ شَهِدْتُّمْ عَلَيْنَا   ۗ  قَالُوْۤا اَنْطَقَنَا اللّٰهُ الَّذِيْۤ اَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَّهُوَ خَلَقَكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

"Dan mereka berkata kepada kulit mereka, Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami? (Kulit) mereka menjawab, Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan."

(QS. Fussilat ayat 21)


Do'a kita: Semoga diri kita, seluruh sahabat lingkungan kita, semua para pemimpin negeri  kita menjadi orang2 yg jujur, karena pada hakekatnya manusia tercipta dari tubuh yg jujur. Semoga dg kejujuran itu negeri ini menjadi makmur, bala bencana termasuk virus corona oleh Allah ditarik mundur.

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi

2 DzulHijjah 1442H

12 Juli 2021.

(820.07.21).