Tuesday, 4 May 2021

Sengsara Sesudah Ramadhan.

 Sebagai masukan menilai diri setelah berpuasa hari ini, hari ke 22 di bulan Ramadhan 1442 H.

Ku petik dari Tafsir Al Azhar Prof. Dr. Hamka, juzu' XV hal. 41-42.

bahwa:


Hidup sengsara seorang lelaki, tlh masuk bln Ramadhan, kemudian bulan Ramadhan habis, sblm Allah memberi ampun untuk dia. (Waraghima anfu rajulin, dahala 'alaihi ramadhan, tsumman salakha kabla aiyurfiralahu). Hadist tersebut Riwayat Abu Said Al Maqburi dari Abu Hurairah r.a.


Karena seharusnya Ramadhan sebagai media untuk mendapatkan ampunan Allah. Tetapi justru ada orang yg "hidupnya sengsara" sesudah Ramadhan berlalu, karena tdk mendapat pengampunan Allah. 


Beberapa penyebab ybs tdk mendapatkan ampunan Allah:


1. Ybs membiarkan Ramadhan datang dan berlalu, tidak mengisinya dg berpuasa dan ibadah2 lainnya, tanpa alasan syari'e. Padahal puasa adlh diwajibkan bagi orang beriman.

 كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ


2. Berpuasa dilakukan bukan dasar iman dan mengharap pahala dari Allah. Padahal ada jaminan Rasulullah ﷺ:


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760) Dari Abu Hurairah.


3. Berpuasa masih saja melaksanakan hal2 yg dilarang Allah. Karena tidak sedikit orang yg berpuasa hanya memperoleh:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش


 “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i).


Berpuasa misalnya masih saja:

Berdusta, bergunjing, dan hal2 yg dilarang Allah sebab Rasulullah ﷺ

bersabda:


لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالَّرَفَث


“Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi puasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah no.1996 dan tahqiq Syaikh Al-A’zami berkata, ”Shahih”)


Dulu  juga ada orang yg tahan berpuasa, tetapi tdk melaksanakan shalat. Selain itu ada orang yg shalat namun tak kuat berpuasa. 

Sekarang model orang seperti tsb sdh jarang. 


Apakah Berpuasa minus shalat dan shalat minus puasa  termasuk juga dlm kelompok "hidup sengsara", dimaksud hadits di atas ? Wallahu 'alam bishawab. 


Kalau (berpuasa minus shalat dan shalat minus puasa) termasuk kelompok orang yang yg juga "sengsara hidupnya" berarti jadinya ada 4 kelompok orang  sesudah Ramadhan berlalu tidak mendapat pengampunan dosa2nya dari Allah.


Semoga puasa kita diterima Allah menyebabkan ampunan Allah setelah Ramadhan berlalu.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 22 Ramadhan 1442 H.

04 Mei 2021.

(782.05.21).

Sunday, 2 May 2021

MENGOREKSI beda dg MENCELA.

Menanti berbuka shaum  ke 20, Ramadhan 1442.H.


Ssdh dzuhur di Ramadhan ke 17 kuangkat thema Pencacat atau pencela, condong mencari dan membuka aib orang lain. Bgt turun dari mimbar, seorang jamaah menghampiri. "Pak kalau ngoreksi ustadz berceramah, atau imam sdg shalat apakah tdk termasuk membuka aib"??? dmkn pertanyaan jamaah cukup senior tsb. Ybs nampaknya sengaja bertanya tdk ketika ku di atas mimbar, supaya yg tau hanya kami berdua.


Kujelaskan bahwa mencacat, mencela condong ke ghibah, si fulan yg dicacat, dicela kadang tidak tau langsung, kadang taunya dari orang lain. Perbuatan ini tercela, di tausyiah dzuhur yg singkat itu (8 menit)  kupetikkan ayat 12 surat Al Hujurat.


Lebih lanjut ku kemukakan kpd jamaah tsb bahwa kalau mengoreksi ustadz atau imam, masalahnya langsung kpd ybs, bukan ghibah. Namun ada adabnya. 


Mengoreksi wilayah komunikasi, sdgkan mencela, mencacat condong ke wilayah ghibah.


Adab mengoreksi Imam, sdh jelas....diajarkan di pelajaran shalat yaitu; makmum laki2 mengucapkan "subhanallah", makmum perempuan sandi bunyi misalnya menepuk paha.


Bagaimana menegor ustadz keliru berceramah?? 


Ini juga wilayah komunikasi. Di dalam Al-Qur'an Allah memberi petunjuk ada 6 (enam) teknik berkomunikasi. Silahkan gunakan teknik2 tsb sesuai SIKONNYA. (betapa indahnya Al-Qur'an soal berkomunikasipun ada tuntunannya):


Enam teknik berkomunikasi tsb adlh:


1. secara "sadida" (al-Ahzab 70=

قَوْلًا سَدِيدًا

"ucapkanlah perkataan yang benar,"

berkomunikasi dg "kata yg benar". Utamanya kpd usia balita jangan menyampaikan "larangan", kemudian memberikan alasan penyebabnya yg tdk benar. Hanya sekedar menjawab untuk menakut nakuti. Banyak contoh di waktu kita masih kecil misalnya "kalau maghrib sgr berhenti main, nanti ditangkap hantu Wewe".


2. Komunikasi secara "karima" (Al-Isyra 23),

وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." ini sbtlnya perintah komunikasi buat orang tua. 

Akan tetapi anak2, banyak perilakunya sama dg manula.

Kata kuncinya tdk menggurui, komunikator memposisikan komunikan adalah orang yg harus dijaga perasaannya. Diusia menjelang remaja kadang si anak sdh merasa paling bisa. Ortu dlm memberikan arahan harus mulai hati-hati jangan terkesan menggurui. Ybs kadang tak terima, karena merasa sdh pintar, sdh mengerti. Salah2 berkomunikasi dicap ekstrim oleh mereka, Ortu dianggap sok usil, Kepo.


3. Komunikasi secara "ma'rufa" (Al-Baqarah 235),

إِلَّآ أَن تَقُولُوا۟ قَوْلًۭا مَّعْرُوفًۭا ۚ

"kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf".  

Petunjuk komunikasi ini dlm konteks pria dan wanita dlm proses PDKT. Dpt difahami model komunikasinya penuh ke-hati2 an dan kasih sayang.

Kata kuncinya perkataan baik, tidak menyakitkan hati. Kebijakan Ortu memilih cara memberikan larangan untuk menggunakan informasi atau anjuran apapun dg perkataan yg baik, tdk menyakitkan hati. Kalau punya kemampuan dg teknik lucu, berseloroh, shg ybs tak terasa sdg dinasehati.


4. Komunikasi secara "baligha"

(QS. An-Nisa': Ayat 63)

قَوْلًۢا بَلِيغًا

"perkataan yang membekas pada jiwanya." kata kuncinya mengerti lawan bicara, sampai dimana logikanya bgmn kondisinya. Kaidah ini penting agar pesan tersampaikan efektif dan manfaat. Anda tau betul perkembangan putra/putri anda sebab merawatnya sejak bayi. Anda harus tepat memilih cara berkomunikasi sesuai perkembangan kecerdasan ybs. Dekati dari hati ke hati.


5. secara "layyina".  (QS. Ta Ha: Ayat 44)

قَوْلًا لَّيِّنًا

"dengan kata-kata yang lemah lembut", petunjuk komunikasi ini sejatinya untuk Nabi Musa dan Nabi Harun thdp Fir'aun. Artinya adakalanya dlm berkomunikasi, komunikator memposisikan komunikan sbg atasan, shg dipilih kata2 yg meyakinkan. Berkata lemah lembut dg argumentasi yg logis, siap dg bukti. Bila perlu berikan contoh akibat buruk anak yg sering (ses. yg anda cegah) dan kesudahan sukses/baik anak yg menuruti (apa yg anda anjurkan).


6. secara "maysura" (QS. Al-Isra': Ayat 28)

فَقُل لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُورًا

"katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut." Kata kuncinya penuh pengertian dan taktis.

Seorang ibu nenghadapi perangai anaknya umur bawah 2 tahunan yg sama sekali ndak doyan makan sayur. Mulutnya ditutup rapat bila di sendok buburnya terlihat tercampur sayur.  Dokter wanti2 agar si anak hrs diberi makan sayur. Taktik si ibu ngiris sayur kecil2 dimasukkannya ke bubur. Ibu ini mengkomunikasikan kpd bayinya, ini bubur ada hijau2nya. Ternyata dimakan sesuai porsi oleh si anak dg semangat.


Naah kita sbg komunikator tinggal memilih teknik komunikasi apa yg harus diterapkan tergantung siapa komunikan kita. Disesuaikan situasi dan kondisi. Maha besar Allah memberikan kita petunjuk hidup termasuk bgmn berkomunikasi.


Smg kita dpt mengikuti petunjuk Allah agar selamat dunia alhirat.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 20

 Ramadhan 1442 H.

02 Mei 2021.

(780.05.21).

Saturday, 1 May 2021

Pilih Tetangga.

Renungan menjelang berbuka  shaum ke 19 Ramadhan 1442. H.


“Cari tetangga sebelum berumah”. Demikian sepotong kalimat yang kedengarannya aneh, kalimat hikmah dipesankan orang-orang tua dulu. Bila direnungkan kalimat itu banyak benarnya dan sangat dalam sekali maknanya. Tetangga sangat penting, posisinya melebihi keluarga dekat tetapi jauh rumahnya dari tempat tinggal kita. Sangat terasa bagi kita-kita yang usia senja dan sesekali dikunjungi sakit.


Persolannya adalah, di saat sekarang ini tidak lagi setiap orang dapat menentukan untuk berumah di mana, banyak faktor yang menentukan seseorang bertempat tinggal. Antara lain tempat mencari nafkah/tempat mendapat pekerjaan. 


Seseorang lahir di suatu kota, orang tua serta seluruh keluarganya dikota kelahirannya, belum tentu ia akan mendapat kerja, mendapat lahan mencari nafkah di kota kelahirannya. Ada lagi sebuah keluarga yang karena instansi tempat ia bekerja, pindah-pindah pekerjaan ke berbagai kota, di setiap kota telah ditetapkan oleh institusinya menempati rumah dinas. 


Dua contoh di atas bagi yang beruntung, sementara ada keluarga yang kurang beruntung, mencari tempat tinggal sesuai kemampuan, kebetulan masih jadi “kontraktor”, apa boleh buat sesuai ukuran kocek menentukan tempat tinggal.


Di kota seperti Jakarta, kini sudah sempit tanah untuk pemukiman, sekarang banyak dibangun “Apartemen” dan “Rusun”. Bagi yang berkantong tebal menghuni “Apartemen” bahkan ada yang memilki “Apartemen” hanya untuk investasi, tidak dihuni. Sementara bagi yang berkantong agak tipis menghuni “Rusun”. 


Di Jakarta, di tengah kota metropolitan ini banyak sekali penghuni RSSS (Rumah Sangat Sederhana Sekali). Ukuran 2 x 3 meter dihuni puluhan orang. Rumah hanya digunakan untuk nyimpan pakaian, kalau tidur gantian, atau milih tidur di jalan. Yang tersebut terakhir tentu bukan pilihan mereka, pada dasarnya mereka juga tidak kehendaki keadaan itu, tapi apa mau dikata, mereka hidup ini tidak pernah ajukan aplikasi. Mereka telah dilahirkan di ruangan itu, dibesarkan di ruangan itu. Nasiblah yang kelak akan membawa mereka kemana. 


Bicara soal tetangga, mereka bertetangga dekat sesama kawasan yang punya tempat tinggal ukuran yang hampir sama. Kelompok penghuni RS3  ini kadang mudah tersulut emosi, mungkin penyebabnya protes dengan keadaan sekeliling. Kemewahan terpamer di depan mata, mobil mewah lalu lalang di jalan tak jauh dari hunian mereka, gedung mewah dan kehidupan serba berkecukupan begitu melek mata terlihat jelas. Sementara mereka tak kuasa mengangkat diri keluar dari serba ketidak cukupan.


Allah memberikan petunjuk praktis tentang bertetangga di dalam Al-Qur’an surat An Nisa ayat 36


وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا ۗ وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرَا ۙ 

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,"


Semoga kita, mempunyai tetangga yang baik, jadikan diri kita pelopor menjadi tetangga yang baik bagi tetangga lainnya. 


Utamanya bagi yg berumah bagus, berkecukupan pula, misalkan bertetangga dg kompleks RS3, gunakan kesempatan Ramadhan ini dpt "berbagi rasa" dg mereka. Dlm rangka mengamalkan ayat tersebut di atas. yaitu selain berbuat baik kpd:

• dua orang ibu-bapa,

• karib-kerabat,

• anak-anak yatim,

• teman sejawat,

• ibnu sabil dan

• hamba sahayamu.

Juga hendaknya perhatian diarahkan kpd:

• orang-orang miskin,

• tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh. 

yakni klompok penghuni RS3 tsb.


Agar hidup ini selamat dan aman tentram dunia dan akhirat berbuat baiklah karena pesan ini diperoleh langsung dari Allah pencipta diri kita ini.  Dengan tambahan syarat “tidak sombong dan suka membanggakan diri”, serta hidup sebagai penyembah Allah semata, tidak mensekutukan Allah.


Semoga Shaum Ramadhan kita hari2 berlalu dan hari ini diterima Allah,  dan sisa shaum sampai akhir Ramadhan dimudahkan Allah.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 19 Ramadhan 1442 H.

01 Mei 2021.

(779.05.21). 

Thursday, 29 April 2021

KEMATIAN hidupkan HATI yg MATI.

 Suatu renungan di shaum ke 18 Ramadhan 1442 H. Maaf tentang mati..... , suka ndak suka pasti di alami.... yg berpuasa .... mati.... yg ndak berpuasa juga mati.....


Apabila ada yg meninggal, bila keluarga, biar jauh berlainan kotapun kelazimannya sanak keluarga datang.


Bila yg meninggal tetangga, pantas-pantasnya tetangga terdekat betapapun sibuk bisnisnya menyempatkan datang ke rumah duka....... 

Untuk seakidah, menshalatkan, jika sempat mengantar ke pemakaman. 


Di era pandemi covid 19 ini, cukup menyedihkan, kalau meninggal teridentifikasi Corona maka kelaziman tsb di atas sdh tdk dpt diamalkan.


Apa mau dikata, keadaan mengharuskan demikian,  walau dlm hal jenazah terdpt petunjuk 

Rasulullah ﷺ ':

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

"Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia men shalatkannya, maka baginya satu qirath. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qirath." 

Ada yang bertanya, "Apa yang dimaksud dua qirath?" Rasulullah s.a.w. lantas menjawab, "Dua qirath itu semisal dua gunung yang besar." (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945). Dari Abu Hurairah.


Ganjaran 1 qirath atau 2 qirath itu tentulah didapatnya nanti di akhirat. Itu juga berapa besarnya gunung itu tergantung kadar keihlasan. Boleh jadi makmum yg shalat jenazah di shaf paling belakang dpt ganjaran sebesar gunung Rinjani, sementara imamnya malah sebesar bukit pasir mainan anak-anak ditepi pantai bila keikhlasan tipis, ekstrimnya malah mungkin ada yg ndak dpt apapun jika shalat jenazahnya sekedar ikut lantaran malu ama tetangga. Atau malah shalat jenazah ingin dpt imbalan.


Maaf ada kearifan lokal suatu tempat yg membiasakan memberikan amplop kpd jamaah yg menshalatkan jenazah. 

Nilai di dalam amplop tergantung tingkat kekayaan si mayit. Nah dlm hal ini, bila, sekali lagi bila berdirinya imam maupun makmum di shalat jenazah itu terbersit niat untuk mendapatkan imbalan isi amplop itu mungkin tak dapat lagi "qirath" itu (wallahu 'alam bishawab).


Ikut prosesi jenazah penting sebagai nasehat dan pelajaran seperti diungkapkan Rasulullah ﷺ  mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi ﷺ  bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).


Bgt pentingnya ikut menshalatkan dan mengantarkan jenazah ke pemakaman sampai termasuk fardhu kifayah karena banyak dpt dipetik pelajaran a.l.:


1. Menyadarkan bahwa diri kita sendiri pasti akan mati. Mati cepat semasa masih muda atau lambat setelah tua, tapi mesti bakal dialami.


2. Bgt seseorang mati maka semua manusia sama, betapapun tingginya jabatan semasa hidup, betapa banyakpun harta tak ada bedanya si kaya dan si miskin, pejabat tinggi dan rakyat jelata. Ukuran liang lahat segitu juga.


3. Setidaknya beberapa saat setelah prosesi pemakaman, terjadi kilas balik di diri dlm menjalani hidup ini, seberapa banyak sdh dosa dilakukan, sekecil apa tabungan pahala kebaikan yg tlh diperbuat.


Nah berarti menshalatkan jenazah, mengantar ke kubur, "mampu menghidupkan hati yg mati". Karena kalau masih tdk dpt memetik sekurangnya 3 pelajaran di atas, ini pertanda bahwa "hati tlh mati". 


Pemilik hati yg mati, do'anya besar kemungkinan tdk terkabul. Begitu menurut Ibrahim bin Adham (hidup di abad ke dua Hijriah), salah satu tanda hati sudah mati adlh "tak dpt memetik pelajaran dari jenazah" seperti dimaksud di atas.


Semoga Allah, senantiasa menghidupkan hati kita semua, menghindarkan penulis dan pembaca yg arif dan beriman dari matinya hati. Sehingga janji Allah kepada kita sampai;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ 

"Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.

(QS.40 = Ghafir ayat 60)


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 18 Ramadhan 1442 H.

30 April 2021.

JANGAN BERLEBIHAN (LA TUSRIFU).

 

Mungkin makna yg hampir tepat buat "la tusrifu" itu ialah: "yg sedang-sedang", "pertengahan" atau "pas" atau "jangan berlebihan" 


Rupanya dlm segala hal di kehidupan ini haruslah "la tusrifu". Kebanyakan tidur bukannya segar malah loyo. Kebanyakan kerja bawaannya capek, banyak lagi kalau berlebihan nenjadi tdk lagi mengenakkan. Demikian juga makan, bila berlebihan berakibat kurang baik buat kesehatan.

Ibadah saja di berikan petunjuk oleh Rasulullah tdk usah berlebihan.


Rasulullah bersabda kpd Utsman bin Madz’un, malam shalat, siang berpuasa terus menerus: ”Jangan kamu lakukan itu. Sesungguhnya matamu memiliki hak atasmu, tubuhmu memiliki hak atasmu dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka shalatlah dan tidurlah. Dan puasalah lalu berbukalah.” (HR Bukhari).


Allah menyuruh beragama bukan untuk kita sengsara lantaran berlebihan dlm ibadah:

ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Sebagian surat Al-Bakarah 185). 


Sehingga mengesampingkan fitrah sbg manusia yg perlu berkeluarga, bermasyarakat, tidur dan bangun, bersukaria, bercanda. Jangan seperti yg diingatkan Allah di surat Al-Hadid 27:

".......... وَرَهْبَانِيَّةَ اِبْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنٰهَا عَلَيْهِمْ اِلَّا ابْتِغَآءَ رِضْوَانِ اللّٰهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۚ ............"

"..............Mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya. ..........................."


Juga secara terang Allah tegaskan bahwa;

مَاۤ اَنْزَلْـنَا عَلَيْكَ الْـقُرْاٰنَ لِتَشْقٰۤى 

"Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;"

(QS. Ta-Ha ayat 2)


Begitu juga sedekah juga harus "la tusrifu"

وَالَّذِيْنَ اِذَاۤ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

"Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,"

(QS. Al-Furqan: Ayat 67)


Akan hal makanan telah ku turunkan tulisan sebelum ini:

Makanan "Halalan" berkorelasi thdp "ahlak" pemakannya. 

Makanan "Thaiyiban" berpengaruh ke kecerdasan keluarga yg menyantapnya.


Biarpun makanan itu halalan dan thaiyiban, diajarkan oleh agama , haruslah dikonsumsi "la tusrifu" (tidak berlebihan). 

Contoh: makanan bergula terus menerus dikonsumsi berlebihan berpotensi terkena penyakit kencing manis. Makanan berlemak dikonsumsi terus menerus terlalu banyak ada harapan terkena kolesterol. Banyak lagi makanan bila berlebihan memicu asam urat, darah tinggi dll. 


Sebaliknya bila kurang, juga akan sakit kekurangan gizi. Jadi makanan haruslah tdk berlebihan dan tdk kekurangan inilah dimksd "la tusrifu", berdampak ke kesehatan.


Bgtlah makanan apapun tak boleh berlebihan. Bila berlebihan berpotensi menganggu kesehatan. Tak heran banyak penyakit disebabkan oleh makanan yg berlebihan.


Oleh karena itu Rasulullah memberi tuntunan.

Hendaknya menghindarkan diri dari kenyang yang melampaui batas.

“مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ حَسْبُ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.”

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk nafasnya." H.R. Akhmad, Ibnu Majah.


Al-Qur'an mengajarkan:

يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

(QS.7 = Al-A'raf ayat 31).


Smg kita dpt menerapkan makan dan minum "LA TUSRIFU". 

Puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan melatih diri agar dpt mengendalikan makan dan minum supaya tidak berlebihan (la tusrifu).


Semoga dg pengendalian diri akan makan dan minum itu, hidup sehat 

sampai akhir hayat.  sehingga  maksimal mampu beribadat. 

Aamiin. 


Umpamanya informasi ini dinilai pantas buat masukan berguna bagi pembaca yg lain, silahkan diteruskan. Insya Allah diolah bersumber Al-Qur'an dan Hadist, jadi kalau terdpt kekeliruan adlh kealfaanku sebab minim ilmu dan pengalaman, tlg dimaklumi dan dimaafkan. Kalau benar, shadakallahu wa shadaka Rasuluh.

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 17 Ramadhan 1442 H.

29 April 2021.

(777.04.21).

Tuesday, 27 April 2021

Makanan Thayiban.

Makan adlh keperluan dasar mahluk hidup; tumbuhan, hewan dan juga manusia. Bagi ummat Islam, makan/minum yg lazimnya siang hari, setahun sekali wajib dihentikan selama sebulan di bulan Ramadhan. Bukan berhenti makan, tetap makan tapi waktunya dipindah malam hari. Siang hari makanan/minuman yg halal menjadi tidak boleh dimakan/diminum.


Bgt pentingnya makanan bagi makhluk hidup. Tumbuhan kurang makanan akan merana bak kata pepatah "Bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau". Hewan yg kurang makan, kurus kering tdk berdaging sulit berkembang biak.


Makanan bagi manusia bukan sekedar untuk hidup seperti hewan dan tumbuhan. Tetapi, dari makanan diperlukan untuk:


1. Membentuk pribadi yg berakhlak mulia, oleh karena itu makanan harus halal. (kriteria halal ditulisan sblm ini).


2. Membangun Individu yg cerdas, oleh karena itu makanan harus Thayiban.


3. Membangun tubuh yg sehat jasmani dan rohani. Oleh karena itu makan harus tdk berlebihan (la tusrifu).


Makanan Thayiban.

Manusia diciptakan untuk makan yg thayiban, beda dg hewan misalnya, contoh: Kucing tak akan diare walau makan makanan sisa, minum air got. Dmkn juga jenis hewan yg berusus pendek lainnya.


* Pengertian thayiban pertama; HALALAN, menenuhi 3 syarat (sdh diutarakan pd tulisan sblmnya). Jadi thayiban hrs juga halalan. Halalan blm tentu thayiban.


*  Pengertian thayiban kedua, SEPADAN bagi individu ybs. contoh sekeluarga suami istri anak dan cucu. 

Suami lantaran sdh mengidap diabet tdk thayib lagi makan makanan dan minum minuman yg banyak nengandung gula. 

Istri kolesterolnya tinggi tdk thayib lagi makan gorengan dan yg banyak mengandung lemak dan minyak. 

Sementara si anak di usia bawah 40; masih belum banyak pantangan, thayib saja makan yg biasa dimakan oleh keluarga. Sedangkan cucu dlm usia pertumbuhan perlu makanan dan minuman yg mendukung pertumbuhan phisik dan mental serta kecerdasan selaras usianya.


Orang yg berpuasa sangat2 memperhatikan makanan Thayiban, karena bila tidak sepadan akan berdampak terhadap kelangsungan puasanya, misalnya gangguan kesehatan antara lain pencernaan, tekanan darah, dll.


* Pengertian thayiban ketiga; BERGIZI. Kecukupan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu, sejak dalam kandungan, bayi, anak-anak, masa remaja, hingga usia lanjut. 

• Pada usia 6 bulan, perkembangan otak anak mencapai 50%. 

• Pada umur 2 tahun melonjak hingga 75%. 

• Pada umur 5 tahun perkembangan otak mencapai 90%. 

• Pada umur 10 tahun mencapai 99%. 

Faktor genetik hanya memiliki andil 30-40% dalam menentukan perkembangan otak dan tingkat kecerdasan anak. 

Selebihnya, yang berperan adalah faktor lingkungan, antara lain pemenuhan kebutuhan berbagai zat gizi yang diperlukan untuk menunjang proses

perkembangan otak anak dan kesehatannya.


Diriku tidak kompeten mendefinisikan gizi lantaran bukan ahlinya, namun sekedarnya secara umum makanan bergizi ialah makanan, yg barangkali cocok istilah guru es em pe kami dulu "4 sehat 5 sempurna". 


Bgmn Allah informasikan akan hal gizi, persilahkan simak Al-Qur'an surat Abasa ayat 24 s/d 32 berikut ini:

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖۤ 

"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya,"

اَنَّا صَبَبْنَا الْمَآءَ صَبًّا 

"Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit),"

ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا 

"kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,"

فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّا 

"lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian,"

وَّ عِنَبًا وَّقَضْبًا 

"dan anggur dan sayur-sayuran,"

وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًا 

"dan zaitun dan pohon kurma,"

وَحَدَآئِقَ غُلْبًا 

"dan kebun-kebun (yang) rindang,"

وَّفَاكِهَةً وَّاَبًّا 

"dan buah-buahan serta rerumputan."

مَّتَاعًا لَّـكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ 

"(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu."


Dari ayat2 di atas jelas bahwa bicara soal makanan bergizi bahan bakunya dpt berupa buah dan sayur serta daging/susu hewan ternak. 


Mengenai makanan diolah dari "Nabati" dan "Hewani". 

Menarik, Al-Qur'an menyinggung sumber makanan "Nabati" lebih banyak ketimbang "Hewani" (49 :16). 


Apakah ini bermakna bahwa akan lebih thayiban bila kita hrs lbh banyak mengkonsumsi biji-bijian, sayur dan buah (75,38%). Sedangkan daging hanya (24,72%) saja. 


Wallahu 'alam bishawab.

(Perhitungan: Nabati 49/65= 75,38% dan Hewani 16/65= 24,72%).


Jelas buat para pembaca yg budiman dan beriman, betapa Allah memperhatikan akan makanan manusia. 


Telah kucoba menulis ttg "Halalan" di tulisan sblm ini , "Thayiban" yg sekarang dan insya Allah "la tusrifu" ditulisan mendatang. 


Smg ada manfaatnya. Jika dianggap ada kebaikan di dlm tulisan ini, silahkan sampaikan juga buat karib kerabat, rekan se group. 


Jika baik, sumbernya dari Allah dan RasulNya, jika tdpt kekeliruan, dari diriku yg tipis dlm ilmu, kurang dlm pengalaman, hrp dimaklumi sklgs dimaafkan.

Insya Allah bukan HOAX dan Plagiat.


Semoga shaum kita di hari ke 16 ini terpelihara dari cacat dan shaum 15 hari y.l. oleh Allah dicukupkan bila ada yg kurang.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 16 Ramadhan 1442 H.

28 April 2021.

(775.04.21).

SHAUM: Latihan Hindari Makan Haram.

Shaum; mulai tdk makan dan minum yg halal, serta menahan hawa nafsu yg legal sejak mulai fajar sampai terbenam matahari.


"..........وَكُلُوْا وَا شْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَ بْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَ سْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَا مَ اِلَى الَّيْلِ........"

"........Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. .........." (QS 2 = Al-Baqarah 187).


14 hari sdh Ramadhan 1442 H ini dijalani, sekarang hari ke 15,  tersisa separo lagi kita latihan menahan makan dan minum yg mestinya halal, tapi siang hari menjadi haram.


Latihan selama sebulan ini hendaknya menjadi modal untuk dpt menahan diri secara berkesinambungan dari memakan dan meminum makanan dan minuman yg haram. Karena selama sebulan makanan/minuman halal saja dpt di tahan apalagi yg haram.


Makanan/minuman yg layak konsumsi, menurut agama Islam harus memenuhi 3 hal pokok y.i.:

1. Halalan (halal)

2. Thayiban (baik/bergizi)

3.  La tasrifu (tidak berlebihan)


Halal di dalam agama Islam bila memenuhi 3 syarat:

Zatnya, Perolehannya, Prosesnya.


a. Halal zatnya, jelas sekali di dlm al-Qur'an makanan yg tidak halal y.i.

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْکُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ 

"Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah."

(QS. 2 = Al-Baqarah ayat 173)


b. Halal cara mendapatkannya; yaitu bgmn upaya yg dilakukan sampai makanan itu kpd kita, kpd keluarga kita.......🔑🔑🔑🔑


Jika dibeli, bgmn cara uang diperoleh. Dpt kita simak petunjuk Allah untuk hal ini:

وَلَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَالَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَاۤ اِلَى الْحُـکَّامِ لِتَأْکُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui."

(QS.2 = Al-Baqarah ayat 188)

dan......:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰۤوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖ وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

(QS.3= Ali 'Imran ayat 130)

dan

اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَـصْلَوْنَ سَعِيْرًا

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)."

(QS.4= An-Nisa' ayat 10)


Jelas bila uang didapat dg cara  tidak halal, maka makanan yg dibeli dg uang itupun haramlah jadinya.


Kata kuncinya: BATIL (mengambil hak orang lain dg jln tak halal, termasuk korupsi, nipu, mencuri, menggelapkan, merampas dll). SUAP, RIBA, HARTA ANAK YATIM.


c. Halal prosesnya:

* Pengolahan tak boleh tercampur zat lain yg haram.

* Tak boleh tercampur dg barang lain yg mendptkannya dg jalan haram.

* Makanan secara zatnya diadakan secara halal zatnyapun halal, ttp bila prosesnya tdk syar'ie jatuhnya juga haram seperti dimaksud ayat 173 Al-Baqarah di atas.

(ِ وَمَاۤ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ)

Hewan halal yg disembelih tidak dg cara syar'ie.

Contoh; Ayam saja tak halal jadinya bila disembelih tdk sesuai aturan Allah.


Sedikit ilustrasi:

Bentuk toleransi di pedalaman kota kelahiranku (Kab. Ketapang Kal-Bar) semasa ku di es er bangsa kls empat. Bila pas libur sekolah sering ku di ajak almarhum ayahku turney memberikan penerangan ke pedalaman daerah kelahiranku yg nota bene ketika itu masih banyak beragama "Nenek moyang". 


Transportasi dan komunikasi blm secanggih sekarang, bila datang ke suatu kampung harus bermalam blm ada penginapan. Hebatnya di setiap kampung di pedalaman tersedia wisma tamu, yg tidak dihuni penduduk setempat. 

Pemuka masyarakat setempat menerapkan konsep toleransi yg mengagumkan buat tamunya yg lain kepercayaan agama, agar terjamin "kehalalan", "kethayiban" dan "kecukupan" makanan mereka. Caranya:

* di wisma tamu disediakan seperangkat peralatan masak yg khusus, tidak dipergunakan oleh penduduk setempat, bila tidak ada tamu.

* kepada tamu disediakan bahan mentah seperti Ayam masih hidup, beras , telur , rempah-rempah seperlunya, bahan sayur.

Tamu sendiri yg menyembelih Ayam, memasak nya. Dg bgt makanan yg dimakan tamu sesuai buat tamu yg biasanya nginap hanya semalam dua itu.


Mungkin kearifan lokal ini ndak ditemukan lagi di pedalaman daerahku skrg, stlh canggihnya transportasi. Indah ini bila dilestarikan.


Demikian penting makanan halal itu, sebab akan membentuk kepribadian dan akhlak yg mengkonsumsinya. Shaum Ramadhan melatih diri tidak makan/minum yg halal serta penyaluran nafsu yg legal disiang hari selama sebulan. Dengan dmkn maka usai Ramadhan membentuk pribadi muslim menjauhkan diri dari mencari rezeki dg cara haram karena tlh terlatih dpt menahan diri dari makan/minum yg halal, apalagi yg haram.


Seperti dikemukakan di atas bahwa syarat makanan untuk orang Islam adalah 3:

*"Halalan" dibahas ditulisan ini, sedangkan;

*"Thayiban" dan 

* "La tasrifu" 

Akan di bahas dikesempatan mendatang, insya Allah. Agar artikel ini tak terlalu panjang.


Tulisan ini tdk membahas "halalan" diluar agama Islam, tentu setiap agama mempunyai kriteria "halal haram" sendiri yg oleh pemeluknya dipatuhi.


Semoga para pembaca seiman yg budiman kiranya dpt berihktiar yg sungguh2, menghindari makanan yg haram.


Umpamanya tulisan ini berfaedah, silahkan diteruskan juga buat sanak family handai taulan, mudah-mudahan dicatat sbg amal kebaikan disisi Allah s.w.t. Aamiin. (Insya Allah bukan plagiat).  Dengan catatan bila benar dtg dari Allah dan RasulNya, jika salah dari diriku yg dangkal dlm ilmu, minim pengalaman.Jika tak bermanfaat segara hapus dari layar HP anda,  Mhn maaf tlh mengganggu. 


Semoga seluruh ibadah dan shaum kita diterima Allah.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 15 Ramadhan 1442 H.

27 April 2021.

(774.04.21).