Saturday, 5 August 2017

Iman dari ZAMAN ke JAMAN



Sejak semula risalah iman dibawa para Nabi dan Rasul dari Zaman ke Jaman, beberapa sikap dari ummat manusia pada era zamannya masing-masing. Sikap tersebut barangkali sekurangnya dapat dibedakan menjadi 6 (enam) yaitu:
1.      Menerima risalah iman.
2.      Menolak/mendustakan risalah iman.
3.      Hati menerima risalah iman, mulut enggan menyatakan iman.
4.      Terombang-ambing menentukan pilihan.
5.      Berpura-pura menerima risalah iman, hati tetap menolak dan mendustakan,
6.      Iman berfluktuasi turun naik.
PERTAMA; Menerima serta membenarkan dengan sungguh-sungguh risalah iman yang dibawa Nabi dan Rasul. Kelompok ini langsung mengimani apa yang dibawa oleh Nabi dan Rasul tanpa ragu-ragu. Bukan saja hanya sekedar mengimani, selanjutnya merekapun memperjuangkan risalah keimanan yang diterimanya itu dengan jiwa dan raganya. Dalam agama Islam terukir sejarah kelompok ini di refleksikan oleh Abu Bakar. Oleh karena itulah beliau mendapat julukan Abu Bakar Siddiq, lantaran menerima dan membenarkan seluruh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. Kelompok ini seperti dilukiskan akhir surat Al-Baqarah ayat 285 “wa qaluu sami’naa wa atha’naa” (dan kami dengar dan kami taat).
KEDUA; Menolak, mendustakan. Kelompok ini ditandai dengan sikap mereka menolak apa saja yang dibawa Nabi dan Rasul, mereka mendustakan. Tidak hanya menolak dan mendustakan bahkan merekapun menghalang-halangi dakwah Nabi/Rasul serta pengikutnya. Juga mereka mencegah siapa saja dibawah kekuasaannya untuk bergabung ke kelompok Pertama. Tidak sedikit orang-orang yang tergerak hatinya mengimani risalah Rasulullah Muhammad s.a.w. karena mereka dalam kekuasaan kelompok ke dua ini sebagai budak, disiksa diantaranya sampai ada yang menemui ajalnya. Untuk kelompok ini dalam sejarah Perkembangan agama Islam terwakili figur-figur diantaranya Abu Jahal, Abu Sofyan (sebelum masuk Islam). Allah mengisyaratkan dalam surat Al-Baqarah ayat 6. “Innallaziina kafaru sawaaaa ‘un ‘alaihim a anzarthahum am lam tunzir-hum laa yu’minuun” (Sesungguhnya orang-orang  kafir itu sama saja bagi engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman).
KETIGA; Hati menerima, Mulut belum berikrar. bersimpati tapi karena pertimbangan Lingkungan, pertimbangan keluarga besar, tak hendak nanti kalau mengimani seruan Rasul akan dikucilkan dari komonitas, akan terjungkal dari kedudukan. Diantara kelompok ini adalah paman nabi Muhammad sendiri yang sangat melindungi dan menyayangi Nabi,  Abu Thalib sampai menghembuskan nafas terakhir enggan berucap akan keimanan atas risalah yang dibawa kemenakannya. Memang kehadiran para Nabi dan Rasul hanya bertugas menyampaikan risalah iman kepada ummat, tidak bertanggung jawab sampai orang menerima iman itu.  Seperti yang dijelaskan Allah dalam surat Al-Baqarah 272. “Laisa ‘alaika hudaahum wa laakinnallaha yahdii may yasyaaa’ “ (Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan ditegaskan lagi di surat Ar Ra’d. ayat 40 “Innamaa ‘alaikum balaaghu, wa ‘alainal hisaab” (Sesungguhnya tugasmu (Muhammad) hanya menyampaikan saja dan Kami-lah yang memperhitungkan (amal mereka). Jadi informasi ini, dapat mengobati bagi pembaca yang mungkin mempunyai anak keturunan, saudara, sahabat dekat atau mungkin orang tua yang kebetulan belum dapat diajak seakidah dengan anda, belum dapat di bawa sama-sama beribadah bersama anda, tidaklah patut kecewa amat, sepanjang sudah berikhtiar. Sebab para Nabi dan Rasul saja ada anaknya, istrinya orang tuanya tak dapat dibawanya beriman.
KEEMPAT; Terombang ambing. Tersebut kisah seorang yang terbilang akrab dengan Rasulullah Muhammad s.a.w. UQBAH bin ABU MU’AITH. suatu hari mengundang Nabi Muhammad untuk makan dirumahnya. tentulah, pengundang dan yang diundang sudah demikian akrab, kalau tidak mana mungkin sampai mengundang makan. Suatu budaya turun temurun sejak sebelum Islam, orang Arab sangat menghormati tamu. Tuan rumah memposisikan diri sebagai khadam (pembantu) si tamu. Nabi Muhammad karena dalam bergaulan sehari hari tau bahwa Uqbah bersimpati dengan risalah Islam. maka beliau mengemukakan suatu syarat, baru mau menyantap makanan yang disediakan tuan rumah. Syarat itu ialah Uqbah lebih dahulu menyatakan diri masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadah. Memang dasarnya dia juga bersimpati dengan Islam dan juga dalam rangka menghormati tamu, makapun Uqbah bersyahadat dihadapan Rasulullah. Beberapa lama setelah masuk islam itu, Uqbah bertemu dengan teman akrabnya juga bernama UBAYYU bin KHALAF, Uqbah-pun menceritakan akan dirinya telah masuk Islam kepada Ubayyu. Reaksi Ubayyu sangat menyesali ke islaman Uqbah, entah apa yang diprovokasikan kepadanya, antara lain akan lepasnya ikatan dengan masyarakat Quraisy, nanti akan berakibat kesulitan dalam perekonomian karena dikucilkan, maka akhirnya Uqbah mulai bimbang, pada akhirnya kemudian, dia minta petunjuk bagaimana cara mencabut syahadat tersebut. Ubayyu memberi petunjuk kepada Uqbah, agar segera menemui Rasulullah untuk mencaci maki Rasulullah dan meludahi mukanya. Singkat kisah Uqbah mendapati Rasulullah sedang shalat, sujud disuatu tempat. Uqbah-pun melaksanakan saran Ubayyu yaitu mencaci maki dan meludahi muka Rasulullah Muhammad s.a.w. Ketika itu sudah dekat waktunya Nabi hijrah ke Madinah. Cacian dan makian Uqbah itu dijawab Rasulullah “Apabila suatu waktu kelak saya berjumpa dengan engkau diluar kota Mekah ini pedang saya akan memenggal kepalamu”.  Dalam perang Badar. Uqbah tertawan  dan   Ali diperintahkan mengeksekusinya. Ini salah satu contoh orang yang imannya terombang-ambing, lantaran pengaruh teman. Diabadikan dalam Al Qur’an surat Al Furqan 28 “Yaawailataa laitanii lam attakhizd fulanan khalila”  (Aduhai celakalah aku!  mengapa si anu kuambil sebagai teman).
KELIMA; Pura-pura menerima. Dalam hati mereka tidak menerima risalah yang dibawa Nabi dan Rasul, akan tetapi karena pengikut kelompok pertama sudah mulai kuat, untuk merapat kepada kelompok kedua dirasa kurang aman. Maka mereka bersikap berpura-pura beriman, tetapi dalam hatinya tetap menolak. Dalam sejarah Pertumbuhan agama Islam terkenal nama Abdullah bin Ubay. Kelompok kelima ini dalam Islam mula pertama adanya agaknya di Madinah, kala itu pengikut Nabi Muhammad s.a.w. sudah banyak ketimbang yang tidak menerima iman yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Sikap berpura-pura ini setidaknya dapat menyelamatkan diri yang bersangkutan.  Diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 8 “Waminan naasi may yaquulu amannaa billahi wa yaumil aakhiri wa maa hum bimu’minin”  (dan ada manusia yang mengatakan bahwa dianya beriman kepada Allah dan hari kemudian, tapi sesungguhnya mereka tiadalah beriman). Masa kinipun tak kurang Jumlah kelompok berpura-pura beriman ini, sesungguhnya mereka justru musuh orang beriman. Dalam terminology agama Islam mereka ini disebut kelompok al-munafiqun, sehingga sampai ada khusus satu surat dalam al-Qur’an, surat 63 sebanyak 11 ayat diturunkan di Madinah. Seperti dikemukakan di atas bahwa kelompok ini bermula di Madinah.  Kelompok ini bila ada ditengah-tengah kita, sangat berbahaya, lebih berbahaya dari kelompok yang memusuhi Islam. Dia bagaikan teman sesungguhnya musuh, sementara kita tanpa tuntunan wahyu sebagaimana Rasulullah tentu tidak mengetahui persis keberadaan mereka.
Kelompok KE ENAM; iman TURUN NAIK, berfluktuasi. Banyak di punyai orang di zaman kini. Disebabkan kebutuhan hidup di dunia, kadang untuk mempertahankan hidup, seseorang merelakan imannya menurun. Haram-haram sedikit, melanggar-langgar sedikit ketentuan Allah dan Rasul-Nya dilaksanakan. Disatu saat imannya naik, menyesali berbuat yang telah menggadaikan imannya. Dilain waktu terulang kembali dan begitulah berulang-ulang naik turunnya iman. Secara umum memang manusia tak luput dari naik turunnya iman. Contoh konkrit turun naik iman sebagian besar kita, nampak ketika awal-awal Ramadhan, masjid-masjid sepertinya kurang besar tak sanggup menampung jamaah. Setelah pertengahan Ramadhan sampai ke akhir masjid-masjid terasa terlalu besar. Tapi turun naik iman yang tidak terlalu ekstrim ini adalah turun naiknya intensitas ibadah.  Yang paling riskan di kelompok ini, kalau-kalau iman sedang menurun maut datang menjemput. Semoga kiranya kita termasuk orang yang dapat memelihara iman kita secara konsisten berkesinambung, kalau lah turun tidaklah terlalu anjlog-anjlog amat, agar gampang menaikkannya kembali.
Beberapa kali ku menyaksikan seseorang dijemput maut ketika sedang selesai shalat di Masjid. Belakang diberitakan di TV. seorang yang dijemput maut, sehabis shalat Ashar dimasjid, tragisnya diduga mencuri alat sound system masjid. Kalaulah itu hanya sangkaan belaka, tentulah yang bersangkutan menemui ajalnya dalam kebaikan, selesai menunaikan shalat. Walaupun proses maut dikabarkan sungguh tidak manusiawi konon dengan dibakar. Pagi ini kutonton di TV One, diwawancarai istri Almarhum, bahwa keseharaian yang bersangkutan memang tukang service dan pengrajin sound system. Dapat saja peralatan sound system yang ketangkap tangan di tangannya adalah bawaan ybs. dari tempat lain. Tapi semuanya itu penegak hukum sedang berkerja untuk membuktikan didunia ini. Apa keadaan/kejadian yang sebenarnya untuk diri pribadi almarhum menurut pengetahuan manusia di dunia. Tapi Allah maha mengetahui dan di pengadilan Akhirat nanti akan gamblang apakah orang ini mati dalam keadaaan sedang naik imannya, yaitu dalam perjalanan mencari nafkah antara lain membawa onderdil bekas sound system terkait dengan pekerjaannya, lalu dituduh mencuri, karena kebetulan masjid kehilangan sound system dan ybs kebetulan ditangannya terdapat benda tersebut. Ataukah yang bersangkutan saat itu imannya sedang turun, sehingga benar-benar mengambil peratalan sound system masjid karena sedang membutuhkan. Semua itu tak dapat berelak nanti di mahkamah Allah. seperti termuat dalam Al-Qur’an surat An-Nur 24 “YAUMA TASY-HADU ‘ALAIHIM ALSINATUHUM WA AIDIHIM WA ARJULUHUM BIMAA KAANUU YA’MALUUN” (pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan).  Dan surat Ya Sin ayat 65 “AL-YAUMA NAKHTIMU ‘ALAAA AFWAHIHIM WA TUKALLIMUNAAA AIDIHIM WA TASY-HADU ARJULUHUM BIMAA KAANU YAKSIBUN”. (Pada hari itu kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan).
Perlu di paahami oleh yang mengimani agama, bahwa dalam akhlaq Islami, membunuh tikus saja tidak boleh dengan membakarnya.  Apalagi manusia, apapun kesalahannya.
Demikian telah kucoba membedakan 6 kelompok manusia bersikap terhadap risalah Iman yang dibawa oleh Rasulullah,  semoga kira dapat kita jadikan untuk memeriksa diri  dikelompok manakah kita berada, yang paling tau adalah kita sendiri dan Allah.
Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu.  (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini dan dari syaithan). Mohon maaf oleh karenanya.
Barakallahu fikum. wallahu ‘alam bishawab.

Sunday, 16 July 2017

TEKNIK BERSYUKUR



Secara sederhana “Syukur”  diartikan sebagai ungkapan terimakasih atas anugerah yang diterima, atas pemberian yang diterima, dari mana saja datangnya pemberian/anugerah tersebut. Jika pemberian itu datang dari seseorang, begitu kita terima kita tidak menunjukkan ungkapan terimakasih baik lisan maupun sikap, tentu orang yang memberi akan merasa kecewa.
Suatu ketika seorang adik berkunjung kerumah kakaknya.  Si adik sudah 7 tahun tinggal tidak se kota dengan kakaknya, kebetulan si adik mukim di suatu kota, bila Duren sedang musim sangat berlimpah, sampai harus diawetkan dibuat dodol Duren yang dikenal dengan LEMPOK, juga dipermentasi agar awet dikenal dengan nama TEMPOYAK. 5 kg Lempok dan 1 Kg Tempoyak, dengan susah payah diupayakan bagaimana caranya biar dapat dibawa masuk pesawat terbang, sebab di pesawat terbang tak boleh ada barang bawaan yang berbau merangsang. Untuk itu khusus Tempoyak dikemas dalam kaleng yang diatasnya ditutup dengan serbuk Kopi. Singkat kisah, ketika sampai di Jakarta adik berkunjung ke rumah si Kakak, oleh-olehpun diserahkan. Kakak bertanya tentang oleh-oleh itu, sangat terkejut si adik mendengar pernyataan kakak ketika menerima oleh-oleh: “kami ndak doyan Lempok, sebab menaikan kolesterol, apalagi tempoyak nanti bikin mountaah”, dengan mimik yang nyinyir, sambil menuruskan “simpan saja di atas meja makan” 
Bila anda diposisi adik, entah bagaimana perasaan anda, sudah capek-capek bawa oleh-oleh, begitu diserahkan kepada yang di oleh-oleh-i dapat tanggapan demikian, bukannya bersyukur atau berterima kasih. Mungkin akan lebih bijak, bila si kakak tidak mengucapkan pernyataan demikian, tapi mengucapkan terimakasih. Adapun tidak doyan atau akan bikin muntah, nanti begitu si adik sudah pulang, dapat saja di cari teman yang biasa makan Lempok dan terbiasa membuat bumbu masak dengan Tempoyak atau ekstrimnya kalau tak ketemu joga jodoh oleh-oleh itu yaaah, dibuang saja.
Tuntunan agama mengarahkan kita untuk berahlaq baik ketika menerima pemberian orang, apalagi pemberian itu datang dari Allah. Kita demikian banyak diberi oleh Allah nikmat dan pemberian hingga tak sangguplah jika kita menghitung. seperti diungkapkan Allah di surat Ibrahim 34 dan surat Al-Nahl ayat 18 “Wa in ta’udduu ni’matallahu laa tushshuuhaa” (dan jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak mampu menghitungnya). Dari penegasan Allah itu, tentu kita tidak lagi menghitungnya, setiap detik kita mendapatkan nikmat Allah itu. Oleh karena itu sebagai hamba yang diberi nikmat, sepantasnyalah kita berterimakasih yang menurut terminology agama “bersyukur”. Jangan sampai kita bersikap seperti kakak yang mendapat pemberian adiknya saya ceritakan singkat di atas. Allah berjanji akan menambah nikmat bila kita bersyukur seperti antara lain dikemukakan dalam surat Ibrahim ayat 7 “Wa iz ta’azzana rabbukum la ‘in syakartum la’azidan nakum wa la ‘ing kafartum inna ‘azaabi lasyadiid” (Dan (ngatlah) ketika Tuhan mu memaklumkan. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”
Teknik bersyukur dapat dilakukan antara lain melalui 4 (empat) cara yaitu: Bersykur dengan hati, bersyukur dengan lidah, bersykur dengan perbuatan dan bersykur dengan menjaga nikmat.
1.       Bersyukur dengan hati. Setiap menerima anugerah Allah didalam hati, menyadari bahwa apapun nikmat semua datangnya dari Allah. Besar atau kecil suatu nikmat di disyukuri di dalam hati. Ybs. akan tidak merasa kecewa berapakan kecilnya suatu nikmati tetap disyukuri tapa menganggap tak ada gunanya. Syukur di dalam hati ini, akan membuat orang yang bersangkutan selalu ingat kepada Allah Sang bermberi Nikmat, kadang sampailah lisan terucap perlahan memuji kebesaran Allah. 
2.       Bersyukur dengan Lidah. Bila hati telah bersyukur dan marasa semua nikmat datangnya dari Allah, berikutnya dengan tulus lidah mengikuti mengucapkan “Alhamdulillah” bersyukur atas segala nikmat yang diterima dari Allah.
3.       Bersyukur dengan Perbuatan. Ialah memanfaatkan segala nikmat yang diberikan Allah untuk dipulangkan kembali kapada Allah yaitu menggunakan nimkat yang diterima dari Allah itu untuk keperluan kebaikan serta ibadah yang dianjurkan oleh Allah.
4.       Bersyukur dengan menjaga Nikmat. Nikmat yang demikian banyak itu, meskipun tidak sanggup kita hitung telah kita coba mengenalinya dengan mengelompokkan menjadi 7 besaran maka setiap nikmat itu kita harus jaga dengan baik.
a.       Nikmat berupa kenikmatan memperoleh agama. Agar dapat diperlihara agama itu dengan baik, tingkatkan pemahaman agama sehingga semakin hari semakin baik. Menjalankan perintah agama secara keseluruhan.
b.      Nikmat penundaan siksa/hukuman atas dosa. Disyukuri dengan segera bertobat dan menghindari perbuatan dosa.
c.       Nikmat berupa peringatan Allah bila kita berbuat dosa. Disyukuri dengan segera sadar dan menebus perbuatan dosa itu dengan kebaikkan dan berhenti serta bertaubat dari perbuatan dosa itu.
d.      Nikmat diberikan kesempatan bertaubat. Gunakan dengan baik, setiap terlanjur berbuat dosa lekas bertaubat dan menjaga jangan sampai mengulangi lagi perbuatan dosa.
e.      Nikmat terpilih tergolong sbagai orang ahli ibadah. Dijaga nikmat itu agar tetap konsisten sampai akhir hayat dan bila perlu mengajak orang lain.
f.        Nikmat kesehatan, kesejahteraan, keselamatan/kemanaan. Gunakan kesempatan selagi sehat, selagi sejahtera, selagi aman, untuk memaksimalkan ibadah kepada Allah dan berbuat baik sesama manusia.
g.       Nikmat harta. Gunakan harta untuk ibadah kepada Allah, berbuat baik sesama manusia jangan sampai justru harta yang banyak justru dibuat untuk bermaksiat.
Demikian, semoga kiranya ada manfaatnya. Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu.  (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini) dan dari syathan. Mohon maaf oleh karenanya.
Wallu ‘alam bhisawab. Barakalahu fikum

Wednesday, 12 July 2017

Mengenali NIKMAT



Semua manusia yang ber-KETUHAN-an, tak akan membantah bahwa dirinya terlahir ke dunia  dan  masih hidup sampai saat ini adalah karena NIKMAT Tuhan. Karena itu kemudian yakin betul bahwa nikmat Tuhan itu demikian banyaknya, diperoleh terus menerus sejak lahir sampai hidup berakhir. Benarlah ungkapan bahwa nikmat Tuhan itu tak sanggup kita menghitungknya sekalipun dengan alat yang demikian canggih.
Kami penganut agama Islam, Allah telah memberikan penegasan setidaknya di surat Ibrahim ayat 34 dan Surat An-Nahl ayat 18 bahwa Nikmat Allah Itu begitu banyak sehingga tak mungkin dapat dihitung, dengan redaksi ayat “WA IN TA’UDDUU NI’MATALLAHU LAA TUHSHUUHAA”  (DAN JIKA KAMU MENGHITUNG NIKMAT ALLAH NISCAYA KAMI TIDAK AKAN MAMPU MENGHITUNGNYA). Bagi orang Muslim, kalau sudah ada peringatan Allah demikian ini, langsung menerima. Jadi ndak akan mencoba menginventarisir segala nikmat itu, jelas sia-sia tak akan berhasil.
Namun demikian agar kiranya kita mampu bersyukur, sepertinya ada baiknya jika kita kenali kelompok besar Nikmat Allah yang saban hari kita rasakan sampai hayat ini terhenti. Kucuba mengelompokkan nikmat Allah tersebut dalam 7 (tujuh) kelompok besar yaitu:
1.       Nikmat beragama. Dengan nikmat ini kita hidup merasa tidak sendiri, ada Allah yang mendampingi kita, ada Allah yang senantiasa membantu menyelesaikan segala urusan kita, ada tempat bergantung dan menyerahkan diri. Kalau sudah ikhtiar dilakukan maksimal masih tertumbuk ke jalan buntu Allah menjadi tempat sandaran. Sehingga Rasulullah s.a.w. mengajarkan doa penyerahan diri “Allahuma inni aslamtu nafsi ilaika (ya Allah aku serahkan diriku kepada Engkau), ………… dan seterusnya…… la malja a wala manja minka ilaika (tidak ada tempat berlindung lain dan tidak ada tempat melarikan diri dari Engkau kecuali lari kepada Engkau jua) ……..”  (dirawikan Buhari Muslim dari kitab Ryadhush Shalihin Imam Nawawi)
2.       Nikmat ditangguhkan siksa/hukuman atas dosa. Tidak dapat dibayangkan, kalaulah Allah memperlakukan kita sebagaimana hukum dunia. Begitu kita berbuat dosa (Allah jelas mengetahui/melihat dosa kita itu), langsung diberikan hukuman. Mungkin para pembaca sudah dapat mengukur sendiri apa kira-kira yang akan diterima. Beda dengan kesalahan melanggar ketentuan pidana, kalau ketangkap langsung disidangkan dan masuk penjara.
3.       Nikmat diberikan peringatan jika berbuat dosa. Jika kita berbuat dosa, agar maulah kita mengoreksi diri untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut dan menebusnya dengan berbuat kebaikan, kadang Allah memberikan peringatan. Peringtan tersebut dapat datang dari diri sendiri (dari hati nurani karena manusia sesungguhnya diberikan nurani yang baik). Dapat juga peringatan itu berupa musibah diberikan Allah agar pendosa tersebut sadar bahwa atas kesalahannya di tegor oleh Allah.
4.       Nikmat diberi kesempatan bertaubat. Atas nikmat butir 2 dan butir 3 di atas Allah memberi kesempatan buat kita bertaubat. Dijanjikan biar dosa bertumpuk sampai tinggi mencapai langit jika bertaubat maka Allah dengan serta merta mengampuni asalkan dengan Taubatan Nashuha (yaitu taubat yang sungguh-sungguh), yaitu menyesali perbuatan dosa, bertekad tidak mengulangi dan mengiringi dengan perbuatan baik (refer ke surat Az-Zumar 53) “Katakanllah “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”
5.       Nikmat terpilih menjadi ahli ibadah. Tidak semua orang yang terpilih jadi Ahli Ibadah. Buktinya jika hari jum’at tiba, kalaulah semua orang muslim terpilih menjadi ahli Ibadah niscaya masjid-masjid tak kan muat, karena konon katanya di Indonesia ini warga negaranya diatas 85%???? pemeluk agama Islam. Hari Jum’at masih banyak lalu lintas di jalan raya, suatu pertanda masih banyak orang beraktivitas. Bulan Ramadhan masih gampang dilihat orang yang merokok dipinggir jalan, sedang kita tau orang itu tadi warga kampung kita atau jiran kita. Masih banyak rumah makan “BERHIJAB”, buat orang yang tidak berpuasa padahal dianya Islam. Jadi suatu kenikmatan jika anda terpilih menjadi ahli ibadah,
6.       Nikmat kesehatan, kesejahteraan dan keselamatan. Nikmat ini begitu tinggi nilainya, orang dapat beribadah maksimal, jika sehat, jika sejahtera, jika beribadah terlindung dari ancaman dan mara bahaya. Walau kadang orang rela bekerja siang dan malam sampai mengabaikan kesehatannya untuk mencapai kesejahteraan, sesudah itu dia rela pula  menghabiskan segala hasil jerih payahnya berupa harta untuk kesejahteraan itu, bila sakit untuk kembali menjadi sehat. Sungguh membingungkan harta dicari demi kesejahteraan, bila perlu mengabaikan kesehatan. Dalam pada itu harta itupun dilain waktu direlakan habis untuk mengembalikan kesehatan.
7.       Nikmat hak pakai atas harta benda. Berkat pinjaman harta dari Allah kita dapat ibadah maksimal, dengan harta kita dapat dengan mudah bersadakan, berinfaq, berzakat dan berkorban sampai menunaikan ibadah haji. Cuma kadang kita lupa bahwa harta yang ada pada kita hanya sebatas HAK PAKAI. Jika kita kurang pandai memanfaatkannya gampang saja bagi pemilik aslinya (Allah) mengambilnya.
Demikian, ikhtiar ku mengenali Nikmat, semoga dengan demikian makin kuat sandaran bersyukur kita terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita. Bila tulisanku ini keliru adalah mutlak kesalahanku (mohon disaring), karena minimnya ilmu dan mohon dimaafkan. Jika ada yang benar, tentu datang dari Allah dan Rasul-Nya, silahkan dipetik dan manfaatkan. Barakallu fikum.

Monday, 15 May 2017

TUJUH LANGKAH persiapan RAMADHAN.



Setiap menjelang Ramadhan, ummat Islam melakukan beberapa persiapan agar manakala sampai di bulan Ramadhan tersebut dapat melaksanakan Ibadah dengan maksimal. Sebagai buah dari Pelaksanaan ibadah puasa di bulan ramadhan adalah untuk mencapai taqwa (seperti yang di informasikan Allah memalui Al-Baqarah 183= “la’allakum tattaqun”). Ibarat bercocok tanam, maka jenis tanaman yang akan ditanam adalah SAUM, sedangkan buah dari tanaman itu nanti adalah TAQWA. Untuk menanam tanaman yang bernama SAUM itu perlu dilakukan setidaknya 7 langkah persiapannya yaitu:
1.       LAHAN
1.       Rohani: 
a)     Sebelum ramadhan tiba, masing-masing orang yang menyiapkan diri untuk berpuasa ramadhan dengan bertobat, atas segala kehilafan selama ini yang sengaja terjadi, maupun tidak sengaja. Insya Allah janji Allah akan mengampuni dosa-dosa kita seberapapun banyaknya. Kisah Wahsyi “Dari Abbas ra. Berkata: “ sesungguhnya Wahsyi, pembunuh Hamzah ra. paman Rasulullah SAW. Menulis surat kepada Rasulullah SAW dari Mekkah, yang menyebutkan bahwa sesungguhnya aku ingin masuk islam, namun yang menjadi penghalangku dari masuk islam adalah ayat Al-Qur’an yang turun kepada Anda, yaitu firman Allah SWT ”. 
 “dan orang - orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allaj SWT dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT ( membunuhnya ) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat ( pembalasan ) dosa (nya ) “. (Al-Furqon:68) Aku telah melakukan tiga perkara itu. Sekarang apakah aku berpeluang untuk bertaubat ?. kemudian turun firman Allah SWT.
“kecuali orang – orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah SWT dengan kebajikan. Dan adalah Allah SWT Maha pengampun lagi Maha penyayang “. ( Al-Furqon:70 ) Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu. Wahsyi menulis surat lagi yang isinya menyebutkan tentang syarat taubat, yaitu beramal saleh, dan aku tidak tahu apakah aku dapat melakukan amal saleh atau tidak ?. kemudian turun firman Allah SWT.
“sesungguhnya Allah SWT tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Akllah SWT, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh – jauhnya “.(An-Nisa:116) Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu. Wahsyi menulis surat lagi yang isinya menyebutkan tentang syarat taubat yang juga terdapatdalam ayat tersebut, dan aku tidak tahu apakah aku mendapatkan ampunan atau tidak ?.Kemudian turun firman Allah SWT,.

“ katakanlah : Hai hamba – hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa –dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang “. (Az-Zumar:53)Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu. Wahsyi tidak lagi melihat ada syarat dalam ayat tersebut, maka dia pun bertolak menuju Madinah dan masuk islam. Keadilan dan kebijakan Allah SWT menentukan bahwa setiap bani Adam berdosa, sebagaimana disebutkandalam hadits Rasulullah SAW, dari Anas bin Malik. Rsulullah SAW bersabda :“ setiap anak Adam bersalah, dan sebaik – baik orang yang bersalah adalah orang – orang yang bertaubat “. (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim)
b)    Memohon maaf sesama. juga memberikan maaf. Sungguh memberi maaf kadang lebih sulit ketimbang meminta maaf. oleh karena itu maka Allah memberikan informasi di Al Bakarah 263.
DOSA KE SESAMA Dosa kepada sesama makhluk Allah SWT terbagi dua lagi. Kesatu, dosa kepada sesama manusia. Kedua, dosa kepada selain manusia. Misalnya dosa kepada hewan. Seperti mengikat kucing, dan tidak memberinya makan, sehingga kucing itu mati kelaparan. Dosa kepada Allah SWT meminta ampunnya kepada Allah SWT, Sedangkan dosa terhadap sesama manusia, menyelesaikannya adalah dengan meminta maaf dan ridhanya dari orang yang kita berdosa kepadanya. Sedangkan dosa kepada hewan adalah dengan menyesalinya, serta ditebus dengan perbuatan baik. Dosa kepada Allah SWT yang mengampuninya ya Allah SWT. Sedangkan dosa kepada sesama manusia adalah dengan meminta maaf dan ridhanya. Kalau manusia yang didosai masih hidup dan jelas alamatnya, maka masalahnya adalah mudah yaitu dengan mendatanginya dan meminta maaf dan ridhanya! Tapi, kalau yang bersangkutan sudah meninggal dunia, atau tidak ketahuan dimana tinggalnya, sehingga tidak bisa diketemukan orangnya, maka persoalannya menjadi musykil.Seperti dikisahkan didalam satu hadis Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang mempunyai kezaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari dimana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), dimana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu ” (HR. Imam Bukhari). Dosa terhadap sesama manusia itu ada dua golongan. Kesatu, terhadap hartanya. Kedua, terhadap kehormatannya. Dosa mengenai harta, disepakati hendaklah dikembalikan atau diserahkan dalam keadaan sebaik-baiknya kepada pemiliknya. Atau diganti dengan barang yang lebih baik. Atau kalau tidak mampu mengembalikan dan mengganti hendaklah meminta maafnya dan ridhanya. Kalau orangnya sudah meninggal dunia, hendaklah diserahkan kepada ahli warisnya. Kalau tidak ketahuan dimana ahli warisnya hendaklah diwakafkan atas namanya untuk kemaslahatan agama dan masyarakat, dengan niat menitipkannya kepada Allah SWT sebagai pembayar dosa tersebut, demikian fatwa dan pendapat lmam Ghazali. Adapun terhadap dosa atas sesama manusia yang bukan mengenai hartanya, misalnya mengenai kehormatannya, apakah pernah memfitnahnya, atau memakinya, atau menghinanya, kalau mungkin hendaklah dengan meminta maaf dan ridhanya. Itulah cara yang utama dan terbaik. Kalau tidak mungkin, karena orangnya sudah meninggal dunia atau tidak diketahui tempatnya, atau akan mengakibatkan huru hara, hendaklah dengan berendah diri dihadapan Allah SWT, seraya menyesali dosa yang diperbuat dan bertaubat, serta bersedekah atas nama yang bersangkutan dengan niat memohon kepada Allah SWT supaya pahala dari amal kebaikan itu cukup kiranya untuk membayar dosa yang diperbuat. Karena itu pergunakanlah hari raya iedul fitri untuk bersilaturrahmi dengan semua sanak famili, teman kerabat, meminta maaf atas segala kesalahan dan dosa secara umum. Atau berkirim surat yang menyatakan meminta maaf kepada semua pihak.  Memberi maaf adalah sangat utama seperti disebut dalam Alqur’an surat Al-Bakarah ayat …….. Berdasarkan riwayat Abdullah bin Amr, ada seorang  dikelompokkan akan masuk surga tanpa dihisab, salah satu amalannya, setiap malam sebelum tidur dia ingat-ingat siapa yang melakukan kesalahannya dan langsung dimaafkannya tanpa dendam didalam hatinya.
2.       Jasmani, pelihara kesehatan fisik dengan hidup teratur dan mengkonsumsi makanan yang halal dan baik. Isterahat cukup olahraga teratur dan terukur. Sesudah itu serahkan kepada Allah. Karena semua usaha menuju sehat adalah sebatas ihtiar kita sebagai manusia. Sebab Allah telah memberikan jalan keluar bagi yang pada bulan Ramadhan menderita sakit, lihat surat Al-Baqarah ayat 184.  Dengan demikian tak ada jaminan bahwa setiap bulan Ramadhan orang tidak akan sakit. Kalau memang tertaqdir sakit ya sakit juga. Tapi sekali lagi ihtiar untuk menjadi sehat harus dilakukan bukan saja di bulan Ramadhan, tetapi terutama berjaga jaga dalam menghadapi Ramadhan itu sudah sebagian niat penting menghormati bulan Ramadhan.
2.       BIBIT
1.       Puasa kelompok yang bagaimana akan diusahakan, ada tiga tingkatan puasa menurut Imam Al-Gazhali (Puasa Awam, Puasa orang Shaleh dan puasa Khusus)
2.       Amal-amal sunnah apa yang diniatkan untuk diamalkan nanti dalam bulan ramadhan.
3.       SISTEM TANAM
1.       Konvensional, mengikuti pola berpuasa seperti yang dilakukan sejak kita masih anak-anak (ketika dilatih ORTU), atau puasa kita ketika masih muda tanpa mencari tau bagaimana yang seharusnya sesuai syariat, pokoknya sahur, terawih berbuka.
2.       Ikuti tehnologi, Berupaya mempelajari dengan seksama, bagaimana sebenarnya puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah, dengan mengikuti taklim-taklim yang benar, kemudian mencari referensi Alquran dan hadist dari apa yang diterima dari ustadz dalam poengajian-pengajian.
4.       PEMUPUKAN
1.       Pupuk kandang. Melakukan amalan-amalan sunnat, perbuatan baik sesama, perbanyak sadakah, imfak.
2.       Pupuk kimia, berikan fasilitas dan kemudahan kepada orang berpuasa, berikan makan kepada orang yang berpuasa.
5.       PERAWATAN
1.       Dirawat sendiri, jangan lakukan hal-hal yang membatalkan amal kita. Membatalkan sadakah kita. Hindari virus ibadah yang dapat menghanguskan ibadah kita. Yaitu: Riya, Ujub, Sum’ah.
2.       Di upahkan orang, menularkan kiat-kiat ibadah kepada orang lain dengan cara yang makruf dengan dakwah melalui perbuatan baik.
6.       PANEN
1.       Di dunia. Bagi orang yang Taqwa didunia ini Allah berikan  empat “panjar karunia” yaitu: Diberikan Jalan Keluar, dimudahkan segala urusan, diberikan rezeki yang tak disangka, dan dicukupkan segala keperluan.
2.       Di akhirat. Bagi orang Taqwa di akhirat nanti Allah akan lengkapi karunia-Nya dengan empat yaitu: Diampuni dosa, dikelompokkan orang-orang shaleh, diredhai Allah dan dimasukkan kedalam surga.
7.       PACKA PANEN
1.       Konsesten/Istiqamah, terus menerus malaksanakan kebiasaan ibadah sebagaimana dilaksanakan dibulan Ramadhan. Jangan sampai kita yang sudah berhasil merajut kebiasaan beribadah di bulan Ramadhan sehingga memperoleh buah taqwa, buah itu tak dapat dinikmati lagi setelah bulan Ramadhan berlalu.
2.       Memelihara ketaqwaan dengan mengamankan buah taqwa itu ditempat yang tepat yaitu dengan jalan; meneruskan pengkajian agama, melalui membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu agama mendekatkan diri dengan orang-orang yang menyeru kepada kebaikan.
Demikian antara lain Persiapan menjelang bulan Ramadhan. Semoga kiranya Allah menyertai Persiapan kita menuju Tawqa. Barakallu fikum.