Saturday, 8 March 2025
MEMPUASAKAN PENDENGARAN
Edisi Ramadhan, Oleh: M. Syarif Arbi
No: 1.305.05.03-2025
Telinga adalah salah satu anggota tubuh yang diberikan oleh Allah untuk mendengar. Seperti halnya anggota tubuh lainnya, telinga juga memiliki tanggung jawab dan aturan yang harus dipatuhi. Telinga dapat berdosa jika digunakan untuk hal-hal yang dilarang oleh agama. Dalam menjalankan shaum (berpuasa) bilamana telinga terlibat dosa berpotensi membatalkan puasa, setidaknya mengurangi nilai puasa itu. Beberapa dosa dapat dilakukan dengan telinga antara lain:
PERTAMA; Mendengarkan Gosip, Fitnah, Hoak. Apalagi ikut bergosip atau “tukang gosip” mendengarkannya saja adalah dosa, karena berpeluang memperburuk hubungan antar sesama, tak jarang menimbulkan perselisihan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ ......."
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…………...”. (Al-Hujurat ayat 12)
KEDUA; Mendengarkan kata2 yang mengandung kejahatan, seperti kata2 kotor, penghinaan, kata2 mengandung kebencian permusuhan. Cukup banyak peringatan Allah tentang hal ini, diantaranya:
وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَۙ ٣
“orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, (Al Mu’minun ayat 3).
وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۖ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ ٥٥
"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling darinya dan berkata: 'Bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu. Salam sejahtera atas kamu, kami tidak menginginkan orang-orang jahil.” (Al-Qasas: 55).
KETIGA; Mendengarkan hal-hal berpeluang menggoyahkan aqidah, merusak iman. Umat Islam harus berhati-hati terhadap apa yang didengarnya agar tidak terpengaruh oleh propaganda aliran2 yang menyesatkan.
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah ialah Islam……….. (Ali-Imran ayat 19)
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥
Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran 85)
KEEMPAT; Mendengarkan pembicaraan yang tidak adil atau zalim. Telinga juga bisa berdosa jika mendengarkan seseorang yang berbicara dengan zalim atau tidak adil, terutama jika mendukung atau menyetujui ketidakadilan tersebut. Dalam Islam, mendukung kezaliman dengan kata-kata atau tindakan adalah dosa besar.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (Al-Isra ayat 36)
Secara keseluruhan, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga anggota tubuh, termasuk telinga, agar tidak digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang dapat mendatangkan dosa. Sebaliknya, telinga harus digunakan untuk mendengarkan yang bermanfaat, seperti nasihat yang baik, ajaran agama, dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah.
Telinga diberikan Allah kepada manusia, sebagai alat untuk mengindera bunyi. Sama dengan MATA, telinga juga terdapat dua; disebelah kiri dan sebelah kanan dibatasi oleh kepala yang isinya otak sebagai pengendali sikap dan perbuatan manusia. Ahli hikmah mengandaikan bahwa; manusia tidak bijak kalau menerima sesuatu berita dari dua pihak yang berselisih paham, hanya mendengar dari sepihak, seharusnya “dengar dengan telinga kiri dan telinga kanan”, jadi harus didengar dari kedua belah pihak. Itu antara lain makna ada dua telinga.
Bila dikaji lebih dalam mengenai telinga ini, betapa takjub dan bersyukurnya kita, karena Allah menciptakan daun telinga dari “tulang rawan”. Umpamanya saja diciptakan Allah dari tulang yang keras, bagaimanalah bila kita tidur miring ke kiri atau ke kanan. Dipasang Allah daun telinga mengarah agak kedepan tetapi sama sekali tidak mengabaikan ke samping. Posisi itu memudahkan menangkap sumber bunyi dari depan dan juga samping. Mengkaji ayat kauniyah berupa sesuatu yang ada dalam tubuh diri kita, sungguh seharusnya membuat kita bersyukur, seperti ayat yang kita petik di artikel mengenai “Mata” sebelum artikel ini; ayat 78 An-Nahl, Allah memberi Telinga, Mata dan Hati Nurani, ditutup Alah ayat itu dengan:
" لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ " = “agar kamu bersyukur”.
Dalam konteks “puasa telinga” shaimin-shaimat hendaknya harus mampu mempuasakan telinga dari mendengarkan hal2 yang tidak diperkenankan oleh Allah untuk didengarkan diantaranya disebutkan di atas.
Naaah suadaraku mari puasa ini kita tingkatkan mutunya dengan mempuasakan juga telinga kita, dengan hanya mendengar hal2 yang baik. Sebagai pilihannya untuk mengalihkan telinga kita dari mendengar yang tidak baik itu. Marilah dalam suasana shaum Ramadhan ini kita isi dengan banyak mengikuti pengajian2, mendengar ceramah2 agama dan membaca serta mentadaburi Al-Qur’an, agar kita tidak terkena sindiran/ancaman Allah dalam ayat yang dikutip dibawah ini:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُولٰٓئِكَ كَالْأَنْعٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُونَ
"Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."
(Al-A'raf ayat 179)
Semoga Allah memeliharakan telinga kita, sehingga yang masuk keruang dengar kita, hanya hal2 yang membawa kemaslahatan dunia dan akhirat, terutama ketika sedang berpuasa. Tentunya diharapkan usai puasa Ramadhan hasil latihan ini menjadi sikap hidup kita, memelihara telinga agar hanya mendengar yang baik2, menghindar dari mendengar yang tidak baik.
Apabila artikelku ini dipandang bermanfaat, silahkan teruskan kepada kerabat, handai taulan. Jika tidak ada faedahnya segera hapus dari ruang baca anda dan abaikan saja.
للَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ
.سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون
وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Jakarta, 9 Ramadhan 1446, 9 Maret 2025.
Friday, 7 March 2025
PUASA MATA
Edisi Ramadhan, Oleh: M. Syarif Arbi
No: 1.304.04.03-2025
Mata salah satu indera yang sangat penting buat mahluk hidup, termasuk manusia. Dengan mata, alam ini dapat dilihat, dengan mata ilmu berkembang, namun dengan mata pula bila salah memanfaatkannya akan menjadi pintu dosa. Potensi dosa yang dapat terjadi lantaran mata a.l. adalah:
1. Bila mata digunakan untuk menatap aurat lawan jenis dengan nafsu.
2. Bila mata digunakan untuk menonton konten2 tidak senonoh, seperti vidio porno, atau melihat hal2 yang memotivasi untuk perbuatan maksiat.
3. Bila mata melihat seseorang dengan perasaan iri dan dengki, atas sesuatu yang dimiliki atau diperoleh seseorang.
4. Bila mata melihat dengan takabur dan sombong, dimana diri merasa lebih tinggi dari orang yang dilihatnya itu, atau memandang dengan merendahkan orang lain.
5. Mata memandang seseorang, dengan mengagumi fisiknya, sehingga menimbulkan gairah.
Dalam Islam, menjaga pandangan sangat dianjurkan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, surat An-Nur (24:30-31), yang mengingatkan kaum pria dan wanita untuk menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan diri.
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ٣٠
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat. (An-Nur 30)
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ ........................."
“Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya,…………………………”
Ketika manusia dilahirkan, Allah memberikan 3 anugerah, berupa pendengaran, penglihatan dan hati Nurani. Anugerah kedua adalah penglihatan dengan sarana Mata.
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصٰرَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl 16: Ayat 78).
Begitu hebatnya nikmat mata yang diberikan Allah kepada manusia, sehingga Rasulullah Muhammad s.a.w. pernah menceritakan salah seorang 'abid (atau ahli ibadah) yang atas izin Allah s.w.t. hidup hingga berusia 500 tahun. Ia menghabiskan hidupnya dengan beribadah hingga sesaat sebelum meninggal, 'abid tersebut berdo’a kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan tengah sujud.
Kaum muslimin-muslimat, sangat familier dengan kisah ini dibawakan oleh para penceramah dinukil dari Al Hafiz Al Munziri dalam Kitab At Targhib wa At Tarhib yang mengutip salah satu hadits dari perawi Imam Al Hakim. Berdasarkan keterangan hadits tersebut, Rasulullah s.a.w. mendengar kisah tentang seorang 'abid ini dari Malaikat Jibril.
Inti pokok riwayat tersebut bahwa:
Seorang Ahli Ibadah dengan ijin Allah berusia panjang sampai 500 tahun, tinggal di atas sebuah gunung di pulau yang dikelilingi laut, tersedia mata air untuk berwudhu, dianya keseharian selama 500 tahun itu hanya beribadah dalam pengertian shalat menyembah Allah. Sedang keperluan makannya atas ijin Allah tersedia buah Delima yang setiap hari matang. Secara normal buah Delima itu setahun sekali matang buahnya. Do’a si ahli ibadah untuk mati dalam keadaan sujud juga dikabulkan Allah.
Eee ketika dimasukkan ke dalam surga oleh Allah dengan predikat “Masuk surga dengan Rahmat Allah” yang bersangkutan tidak terima, maunya predikat masuk surganya “Karena Amal Ibadahnya menyembah Allah selama 500 tahun”.
Singkat cerita, dikisahkan setelah ditimbang amal ibadah selama 500 tahun itu hanya sebanding dengan nikmat “Mata” yang diberikan Allah. Belum lagi nikmat Delima yang tiap hari matang, nikmat ada air tawar untuk berwudhu di atas gunung yang dikelilingi laut.
Pantas agaknya menjadi renungan kita sebelum berbuka puasa hari ini, bahwa begitu besar nikmat Mata yang dikaruniakan Allah. Sebagai wujud syukur terhadap nikmat Mata, mari kita pergunakan mata se-baik2nya untuk menyimak ayat2 kauliyah dan kauniyah Allah. Khususnya di bulan ini perbanyak membaca dan mentadaburi Al-Qur’an. Mari kita puasakan mata kita, jangan sampai mata digunakan untuk hal2 seperti diungkapkan diawal tulisan ini.
Sebagai ilustrasi boleh juga direnungkan betapa banyak saudara2 kita di usia senja, ketika berusaha memperbaiki penglihatannya, gagal ketika operasi Mata, berujung tidak dapat melihat lagi. Bersyukur sangat para pembaca yang masih dapat membaca artikel ini. Dengan menjaga pandangan mata, seseorang dapat menghindari banyak dosa dan menjaga keharmonisan hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Jika tulisanku ini dipandang bermanfaat, silahkan share ke handai taulan dan kerabat, jika tidak silahkan diabaikan dan dihapus dari ruang baca anda.
Semoga Allah memeliharakan Mata kita dari dipergunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah.
للَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ
.سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون
وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Jakarta, 8 Ramadhan 1446, 8 Maret 2025.
Wednesday, 5 March 2025
Kunci NERAKA mungkin saja di LIDAHMU
Edisi Ramadhan, Oleh: M. Syarif Arbi
No: 1.303.03.03-2025
Cukup populer kisah Luqman al-Hakim menerima seekor kambing dari tuannya. Sang tuan meminta Luqman menyembelih kambing tersebut dan mengantarkan bagian paling buruk, paling kotor, dari tubuh kambing itu. Ia pun secara khusus mengambil bagian lidah dan hati kambing lalu mengantarkannya kepada sang tuan.
Tuannya memberinya seekor kambing lagi. Tugasnya sama: kambing harus disembelih. Namun kali ini sang tuan menginginkan Luqman membawakannya bagian yang paling bagus, paling menyehatkan. Luqman menjalankan tugasnya lagi dengan baik. Kambing disembelih, lantas dibawakannya lagi bagian lidah dan hati.
Luqman menyodorkan hal yang sama untuk dua permintaan yang saling berlawanan.
Tuannya pun bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Luqman. Jawab Luqman, “Wahai tuanku, tak ada yang lebih buruk ketimbang lidah dan hati bila keduanya buruk, dan tidak ada yang lebih bagus dari lidah dan hati bila keduanya bagus.”
Kisah ini mengungkap pesan bahwa hal paling krusial dalam hidup ini adalah terjaganya hati dan lidah. Produk dari lidah adalah hasil olah pikir merupakan cerminan hati. Betapapun jeleknya apa yang terbesit di hati belumlah menimbulkan masalah jika belum disalurkan menjadi ucapan di lidah. Kata2 yang menusuk perasaan, terasa pedih bersangatan bagi penerima kata2 yang tidak baik itu, akan teringat seumur hidup. Bilalah tidak mendapat keredhaan berupa pemberian maaf dari pihak yang hatinya terluka karena ucapan menusuk perasaan tsb. maka di mahkamah Allah nanti berpotensi menyeret si empunya lidah ke neraka.
Begitu pula menyebarkan berita kebohongan, atau berbicara tidak mempunyai pengetahuan dan kebenaran (orang sekarang bilang: “tidak berdasarkan fakta dan data”). Menyebarkan informasi yang tidak benar atau berbicara tanpa ilmu dapat membawa akibat negatif, harus bertanggung jawab atas ucapan lidahnya di hadapan Allah di yaumil akhir nanti.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (Al-Isyra 36)
Selain itu, terdapat hadits yang menyatakan bahwa lidah dapat menjadi sumber penderitaan atau kebahagiaan di akhirat.
أَكْثَـرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ مِنْ لِسَانِهِ (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ)
“Sebagian besar dosa dan kesalahan manusia itu bersumber dari lidahnya, (HR ath-Thabarani).
Sahabat Nabi yang lain, Mu’adz bin Jabal ra suatu ketika bertanya kepada Baginda Rasulullah saw: “Apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita bicarakan?” Rasulullah saw lalu bertanya balik:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِيْ النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ (رَوَاهُ التِّـرْمِذِيُّ)
“Adakah sesuatu yang menjerumuskan manusia ke neraka lebih banyak daripada perkataan yang diucapkan lidah-lidah mereka?, (HR at-Tirmidzi).
Oleh karena itu, menjaga lidah dan ucapan menjadi suatu kewajiban bagi umat Islam. Kesadaran akan dampak dari setiap perkataan harus menjadi motivasi untuk berbicara dengan bijak, menjauhi segala bentuk perkataan yang dapat membawa siksa neraka di kehidupan akhirat. Kesempatan shaum Ramadhan ini merupakan ajang bagi kita semua berlatih memelihara lidah, agar dari lidah kita tidak meluncur kata2 yang tidak baik, membuat penerima ucapan lidah kita tersinggung, terluka perasaannya, terfitnah, terhina, tercemarkan nama baiknya.
Demikian saudaraku semua, mudah2an tulisanku ini dapat membuat kita saling mengingatkan, sebagai renungan dalam melaksanakan ibadah shaum Ramadhan. Memelihara lidah kita agar lidah tidak menjadi “Kunci pembuka pintu neraka”.
Jika tulisanku ini dikira ada manfaatnya, silahkan bagikan juga kepada sahabat handai taulan. Jika kurang berfaedah, silahkan hapus dari ruang baca anda.
Semogalah shaimin – shaimat, dapat memelihara lidah setiap hari sepanjang hayat tidak saja hanya ketika berpuasa Ramadhan. Sebab hasil pelatihan Ramadhan justru akan terlihat sesudah Ramadhan.
للَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ
.سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون
وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Jakarta, 6 Ramadhan 1446, 6 Maret 2025.
Boleh Jadi DI LIDAH SURGAMU
Edisi Ramadhan, Oleh: M. Syarif Arbi
No: 1.302.02.03-2025
Bahaya yang ditimbulkan oleh lidah sangat besar, petaka yang bermula dari lidah juga luar biasa. Lidah memiliki banyak “penyakit” yang bisa membawa pemiliknya mendapatkan malapetaka. Dari lidah dapat meluncur: Perkataan dusta, gosip, adu domba, bertutur kasar, mencela, ngomong kotor, kesaksian palsu, kata-kata laknat, cemoohan, merendahkan orang lain, dan sebagainya.
Belakangan ini dengan teknologi canggih, pernyataan seseorang dapat diunggah di medsos, tersebar luas seantero jagad. Kalaulah isi statement itu terselip kata2 yang menghina, merendahkan, mencela seseorang atau kelompok akan menimbulkan permasalahan bagi pihak yang direndahkan, dihina, dicela, tidak sedikit berujung ke meja hijau.
Produk lidah kadang menjadikan pemilik lidah tidak disenangi manusia, juga sekaligus dimurkai Allah, jika sipemilik lidah tidak bisa mengontrol lidahnya dari perkataan2 yang tidak baik. Allah memerintahkan kepada semua orang beriman agar mengucapkan perkataan yang baik (benar). Pada surat “Al-Ahzab 70 dan 71…...”, Allah menegaskan bagi siapa saja yang sanggup memelihara lidah akan diperbaiki amal2nya dan diampuni dosa2nya serta mendapatkan kemenangan yang agung.
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar," (Al-Ahzab 70).
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا "
"Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung." (Al-Ahzab 71).
Atas dasar penegasan Allah di ayat2 diatas, lidah mengantarkan pemiliknya ke pintu surga. Oleh karena itulah salah satu yang HARUS DI PUASAKAN di bulan Ramadhan ini adalah LIDAH. Hindari yang meluncur dari lidah hal2 yang tidak baik seperti dicontohkan di atas. Untuk itu pergunakanlah lidah senantiasa berdzikir, memohon ampun, memuji Allah, bertasbih, bersyukur, dan bertaubat kepada Allah.
Agar lidah membawa ke Surga, kesempatan terbaik melatih lidah dengan “Puasa lidah” di bulan Ramadhan ini. Hasil latihan “puasa lidah” hendaklah menjadi kebiasaan secara terus-menerus, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan yang lain. Kiat untuk menghindari keluar dari lidah perkataan yang tidak baik seperti di kemukakan diatas yaitu; basahilah lidah dengan dzikir, pelihara lidah dari perkataan tidak baik. Hendaklah selama hidup; menghaluskan tutur katanya, dan menimbang-nimbang dahulu apa yang akan diucapkan. Kata2 bijak, baik untuk diamalkan:
“Berkatalah setelah dipikirkan” JANGAN “Berpikir setelah dikatakan”:
Dari besi ditempa parang.
Tempaan rata, bila di kikir.
Kata terucap sdh punya orang.
Masih punya kita, bila di pikir.
Sesungguhnya tidak ada satu ucapanpun yang hilang menguap begitu saja;
مَّا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ "
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf 50: Ayat 18)
Menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, umpatan, fitnah, perkataan keji serta kasar, dan kata-kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi). Dan menggantinya dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an. Inilah wujud mempuasakan lidah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (H.R. Bukhari dan Muslim)
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ
لِيَسْكُتْ. مُتَّفَقٌ عَلَيه “
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah bertutur kata yang baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Demikian saudaraku semua, mudah2an tulisanku ini dapat membuat kita saling mengingatkan, sebagai renungan dalam melaksanakan ibadah shaum Ramadhan. Jika dikira ada manfaatnya, silahkan bagikan juga kepada sahabat handai taulan. Jika kurang berfaedah, silahkan hapus dari ruang baca anda. Semogalah shaimin – shaimat, dapat memeliharakan lidah setiap hari sepanjang hayat tidak saja hanya ketika berpuasa Ramadhan. Sebab hasil pelatihan Ramadhan justru penampakannya sesudah Ramadhan.
للَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ
.سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون
وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Jakarta, 5 Ramadhan 1446, 5 Maret 2025.
Monday, 3 March 2025
PERUT pertama DIPUASAKAN.
Edisi Ramadhan, Oleh: M. Syarif Arbi
No: 1.302.01.03-2025
Manusia tercipta dengan penuh keunikan, perut berposisi di tengah, kepala di atas, kaki di bawah. Di Kepala termuat Otak, sebagai sentral pengatur seluruh aktifitas manusia. Otak tidak akan dapat berfungsi dengan baik jika perut yang terletak dibawah leher itu tidak terisi dengan makanan yang cukup dan bergizi. Itu sebabnya barangkali maka diluncurkan “Makan Bergizi Gratis”, agar anak2 calon penerus bangsa bernas otaknya, cemerlang ide dan kreasinya guna memajukan bangsa kelak setelah mereka dewasa.
Masalah perut; juga kaki akan gontai melangkah bila perut dalam keadaan lapar. Mata akan mudah menjadi “gelap mata” (melakukan apapun), bila perut lapar. Banyak pelaku kriminal dengan alasan utama demi pemenuhan kebutuhan “perut”.
Puasa kegiatan pertamanya adalah “PERUT”. Salah satu dari enam yang semestinya diupayakan agar dipuasakan lima lainnya yaitu: Mata, Telinga, Lidah, Anggota tubuh, dan Hati.
Keunikan manusia, sanggup makan segala macam makanan, beda dengan hewan yang hanya dapat makan makanan tertentu. Misalnya pemakan “rumput” tak akan dapat makan “daging”. Pemakan “daging” tidak bersedia makan “rumput”.
Manusia kadang bukan saja daging, sayur (rumput2an), dalam kata kiasan manusia sanggup makan “aspal”, “besi beton”, “proyek” dll. Dalam pada itu minumnya manusia juga beraneka, terakhir terdengar sekelompok orang sedang ditersangkakan karena “meminum BBM”.
Ketika berpuasa, makanan yang halal saja harus sanggup dipertahankan untuk tidak dimakan di siang hari, apalagi yang haram. Mem-PUASA-kan perut artinya melatih diri agar nanti di saat tidak berpuasa; hanya memakan makanan yang “halalan, thayyiban”. Makanan halal dalam koridor agama adalah: halal zatnya, halal cara memprosesnya, halal cara memperolehnya. Halal dari arti Zat nya, serta cara memperosesnya jelas diberitahuan Al-Qur’an: tertera dalam surat Al-Maidah ayat 3:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِۦ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلٰمِ ۚ ذٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Sedangkan bagaimana memperoleh sesuatu yang diisikan ke perut, agama Islam memberi panduan:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (An-Nisa' ayat 29)
Begitu lengkap dan jelas panduan Al-Qur’an mengenai pengisi perut; dari jenis apa saja yang boleh dimakan, harus dengan jalan yang halal memperolehnya dan dengan cara yang benar pula dalam memprosesnya. Belum cukup itu saja juga diingatkan oleh Al-Qur’an, bahwa meskipun makanan itu halal, diperoleh dengan cara yang baik, diproses dengan benar, namun harus dikonsumsi tidak boleh ber-lebih2 an:
يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَا شْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf ayat 31)
Dengan mempuasakan perut agar manusia terhindar dari makanan yang haram, tidak dibenarkan agama seperti melalui korupsi, penggelapan, pencurian, penipuan dsbnya. Selama puasa telah dilatih makanan yang halal saja di siang hari sanggup untuk TIDAK memasukkannya kedalam perut, apalagi makanan yang haram.
Sebab perut manusia tidak pernah merasa kenyang, kalau hanya diisi; aspal, semen, besi beton, BBM, proyek dll, masih tetap belum kenyang. Perut manusia baru kenyang setelah terisi dengan “tanah” (alias masuk liang lahad).
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048).
Naaah, saudaraku dengan berpuasa ini, dimana kita semua telah dapat melatih diri mem-puasa-
kan PERUT, mudah2an selelah puasa berlalu sanggup memilih makanan halal saja, terjauh dari makan haram dan tercegah memperoleh makanan dengan jalan bathil.
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ
.سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون
وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Jakarta, 4 Ramadhan 1446
4 Maret 2025.
Thursday, 27 February 2025
KE LANGIT
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.301.04.02-2025
Fir’aun, dulu beranggapan bahwa Tuhan nabi Musa adanya di langit, sehingga tersurat dalam Al-Qur’an di surat Al-Qashash ayat 38. Fir’aun memerintahkan pejabat kepercayaannya; “HAMAN” untuk membangunkan “tangga ke langit” untuk melihat Tuhan nabi Musa.
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يٰۤـاَيُّهَا الْمَلَاُ مَا عَلِمْتُ لَـكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرِيْ ۚ فَاَوْقِدْ لِيْ يٰهَامٰنُ عَلَى الطِّيْنِ فَاجْعَلْ لِّيْ صَرْحًا لَّعَلِّيْۤ اَطَّلِعُ اِلٰٓى اِلٰهِ مُوْسٰى ۙ وَاِنِّيْ لَاَظُنُّهٗ مِنَ الْـكٰذِبِيْنَ
"Dan Fir'aun berkata, Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta."
Berarti sudah lama konotasi manusia, alam ghaib tempat Tuhan dan para malaikat itu adanya di LANGIT, setidaknya diperadaban Mesir se Zaman dengan Fir’aun. Sesuatu terlihat melengkung biru di atas kepala kita, itulah sejak kecil juga kita kenal sebagai “langit”, dimana siang terdapat matahari, malam bergayut bulan dan bertabur bintang-bintang. Belakangan banyak kalangan, sesuatu yang tampak melengkung biru diatas kita sudah tidak lagi diartikan dengan “langit”, tapi sudah banyak diartikan sebagai cakrawala batas pandangan mata. Semakin jelas pengertian cakrawala bila berada di tepi pantai, terlihat diujung sana batas pandangan mata. Namun arti langit sebagai alam ghaib tetap saja, masih sampai sekarang, sebagai contoh sering kita mendengar ucapan “bagaimana ketentuan yang di atas”, maksudnya “yang dilangit”, ucapan itu bermaksud Tuhan berada di langit.
Dengan semakin jauhnya perjalanan manusia melalui penemuan2, penelitian2 bahwa; Matahari, bulan dan bintang serta benda yang semula dipahami sebagai benda langit, terletak di langit, kini dipahami sebagai benda2 angkasa. Lalu; langit jadinya kita pahami sebagai alam ghaib. Dengan demikian jika mau naik ke langit secara hakikat mau melihat alam ghaib, atau berwisata ke alam ghaib, tak mungkin dibuatkan tangga seperti angan2nya Fir’aun. Tangganya ke alam ghaib adalah ROH DAN JASMANI kita sendiri (sebagai tempat anak tangga terpasang).
Melalui permisalan sebagai “tangga”, bila tangga ke langit terbuat dari bambu atau kayu, maka ada dua balok atau dua bambu sebagai tempat anak tangga disusun. Salah satu balok atau bambu tempat tangga disusun itu adalah ROH dan yang lainnya adalah JASMANI. Roh berfungsi menghidupkan, menumbuhkan dan mengembang biakkan. Sedangkan Jasmani berasal dari tanah berfungsi sebagai wadah bersarangnya ROH. Di Jasmani terpasangnya Panca indra berupa; mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Pada ROH tersimpanlah Akal dan Qalbu.
Keterbatasan ruang tulis; artikel ini baru memuat “Akal sebagai anak tangga ke langit”, dengan fungsi akal:
Fungsi akal PERTAMA; Mengingat.
Kemampuan ini dipunyai semua makhluk yang berjiwa termasuk hewan. Dengan mengingat; burung merpati, ayam, itik, sapi, kambing, kembali ke kandang. Manusia diberi daya ingat melebihi hewan. Dengan daya ingat inilah seorang anak kecil berangsur memahami lingkungannya dan memiliki kecerdasan, merupakan cikal bakal mengenal Tuhan, memaklumi bahwa yang ghaib itu ada. Langit sebagai alam ghaib itu ada dan benar adanya.
Fungsi akal KEDUA; Berfikir.
Untuk memilih, memutuskan apa yang harus dilakukan, harus diambil dalam hidup ini. Anak-anak fikirannya belum jalan. Dikisahkan Nabi Musa lebih memilih "bara api" ketimbang "sesuatu benda bermanfaat yang tidak membahayakan" tatkala diuji Fir'aun, menguji keberakalan bocah Musa.
Dengan berfikir manusia sadar dari mana dia datang dan kemana kesudahannya hidup ini, oleh karenanya menyiapkan diri akan kematian. Hidup sesudah mati adalah alam ghaib sama ghaibnya keberadaan kita sebelum lahir. Hanya tercerna dengan anak tangga berfikir, cabang dari akal.
Fungsi akal KETIGA; Mencari sebab akibat.
Melalui cabang akal, “sebab-akibat” manusia dapat percaya akan adanya pencipta. Teknik yang paling dasar guru agama di SR kita dulu memasukkan ke akal kita bahwa "tak mungkin ada kotoran cecak di lantai dalam ruang kelas kita ini, kalau tak pernah ada cecak yang masuk kelas ini". Kata guru agama. Bumi ini tak mungkin ada bila tak ada yg menciptakan.
Fungsi akal KEEMPAT; Mengkhayal.
Imajinasi dimiliki oleh anak manusia sejak dini, perhatikan anak yang baru lancar ngomong, dia sudah dapat merajut cita-cita kalau dia besar nanti. Meskipun cita-citanya sangat sederhana sesuai perkembangan akalnya.
Dalam hal ini Allah telah memberi informasi kepada manusia:
menginformasikan bahwa manusia diberikan akal berangsur-angsur melalui 3 tahap y.i.: Pendengaran, Penglihatan barulah Hati Nurani, (kecerdasan akal untuk berfikir).
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصٰرَ وَالْاَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur." (QS. 16 = An-Nahl ayat 78)
Akal saja tak mampu naik ke langit, bila tidak menggunakan anak tangga berikutnya y.i. iman, wilayah Qalbu, kita akan masukkan di tulisan berikutnya.
Anak tangga ke langit yang ke dua "QALBU".
Semoga kita semua, para pembaca, diberikan Allah kemampuan untuk menggunakan Akal sebagai anak tangga menuju mendekatkan diri kepada Allah. Begitu banyak peringatan Allah buat kita semua “apakah kamu tidak menggunakan fikiran (akal) = أَفَلَا تَعْقِلُون"
والله عالم بشواب
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَب وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
(Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan).
.سُبْحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون
وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِين
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Jakarta, 28 Sya’ban 1446
27 Februari 2025.
Friday, 21 February 2025
KEMAMPUAN SI MISKIN
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.300.03.02-2025
Setelah hidup ini dijalani sampai usia pertengahan atau lanjut. Banyak kita saksikan diantara kerabat dan sahabat yang kita kenal sejak kecil, sahabat sesekolah, teman sepermainan masa kanak2 kini dengan berbagai kondisi, disederhanakan kita kelompokkan:
1. Ada yang dulu pernah sekelas, kini sudah jadi orang terkenal, kaya dan dimuliakan orang.
2. Ada yang dulu sepermainan, sampai sekarang sedang2an saja sebelas duabelaslah dengan kita sendiri, ekonomi pas2an.
3. Ada juga yang nasibnya kurang beruntung, padahal dulu di kelas dianya termasuk anak “rengkingan”, kini hidupnya susah, miskin terpuruk.
4. Ada yang hidupnya pernah mewah, berjabatan tinggi, terhormat, diujung hidupnya jatuh miskin terpuruk.
Kemiskinan rupanya di negara manapun di dunia ini sepertinya tetap ada, tak terkecuali di negara adi daya, negara maju, negara besar.
Sebagai contoh dari sumber google diberitakan:
Pada September 2024, persentase penduduk miskin di Amerika Serikat turun menjadi 7,77%.
Tiongkok masih memiliki sekitar 13% penduduknya yang hidup di bawah garis kemiskinan ini,
Persentase penduduk miskin di Arab Saudi menurun dari 18,2% pada tahun 2010 menjadi 13,6% pada tahun 2021.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Indonesia pada September 2024 adalah 8,57%. Angka ini menurun 0,46% dibandingkan Maret 2024 dan 0,79% dibandingkan Maret 2023.
Bila diperhatikan data mentah tanpa di olah di petik dari Google di atas bahwa di setiap negara tetap ada orang2 miskin. ,……..... ini adalah sudah merupakan sunatullah, bahwa di dunia ini adanya sifat berlawanan dan berpasangan............., Ada kaya - ada miskin. Sebagaimana adanya siang - adanya malam. Seperti halnya adanya orang baik - adanya orang jahat. Ada juga di kutup yang tidak terlalu ekstrim berlawanan. Tak kaya2 amat - tak miskin2 amat ............ dstnya, tapi tetap saja berpasangan/ berlawanan.
Di era digital ini, dengan mudah kita dapat informasi berapa hitungan kata miskin termuat dalam al-Qur’an: “Kata "miskin" dalam Al-Qur'an disebutkan sebanyak 11 kali dalam bentuk tunggal dan 12 kali dalam bentuk jamak”. Dengan demikian bahwa mungkin ini memberikan isyarat bahwa kemiskinan tidak mungkin untuk di tiadakan diatas muka bumi ini, justru keberadaan kemiskinan ini adalah merupakan media untuk menguji orang2 yang diberikan Allah berkecukupan.
Bahasa agamanya “ujian buat orang beriman yang kaya apakah dia menjadi Kufur atau Bersyukur”. untuk melihat siapakah yang paling baik amalnya.
لَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا............. ....."
"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya........." (Al- Mulk 2).
......................................................"
ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَ......."
".............Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? ............." (QS. Al-Furqan ayat 20).
Persoalannya adalah BAGAIMANA sikap yang bijak memposisikan diri, agar awak lolos dalam cobaan (ujian) memiliki kerabat dan sahabat, handai tolan, teman sekelas, tetangga sepermainan masa kanak2 berkondisi seperti yang dikelompokkan di atas. Termasuk kalau diri sendiri seperti salah satu dari 4 kelompok itu. Banyak simulasi yang para pembaca dapat "kutak-katik" bila anda sendiri, kerabat dan sahabat anda di kondisi2 di atas.
Mempersingkat tulisan ini saya batasi, hanya pada “bila anda dalam kondisi 2". yaaah meskipun sedikit2, mungkin masih adalah nisab zakat tahunan. Walaupun tak banyak, masih adalah rezeki yang dapat dialokasikan buat infak dan sedekah. Di kondisi ini, saatnya anda berpeluang menyantuni kerabat dan sahabat yang miskin.
Sebab......... kerabat dan sahabat anda dalam kondisi "3 dan 4" itu mempunyai kekuatan yang TIDAK dipunyai oleh kerabat dan sahabat anda di kondisi "1", dan juga anda sendiri (bila anda di kondisi “2”).
Seberapa banyakpun harta anda di kondisi "1", juga serba sekedarnya harta anda di kondisi "2"............ Ketahuilah anda tak mampu membawa harta anda itu ke alam kubur, apalagi ke alam akhirat.
Lantas siapa yg mampu menolong membawakan harta anda ke alam kubur?????........
Ternyata yang mampu membawa harta anda ke alam kubur sampai ke akhirat adalah kerabat dan sahabat anda dlm kondisi "3 dan 4" yang anda santuni dengan sebagian rezeki/ harta anda.
Oleh karena itu jangan sepelekan sahabat dan kerabat anda yang hidup serba kekurangan (miskin), walaupun tadinya dianya pernah kaya (kondisi 4), karena mereka memiliki kekuatan yang dahsyat, mampu membawakan harta anda ke alam kubur ke alam akhirat. Melalui sedekah anda, melalui zakat anda yang disalurkan kepada mereka.
Pada hakikatnya harta yang jadi kepunyaan kita adalah harta yang disedekahkan (dengan ikhlas). Sedang harta yang kita makan dan minum paling lambat besok atau lusa sudah keluar jadi ..............
Harta kita sandang paling beberapa saat enak dipandang kemudian usang.
Adapun harta yang disedekahkan kepada orang yang tepat diikuti ikhlas karena Allah, itulah yang dibawa ke alam barzah dan hari akhir.
Mudah2an para pembaca dan kita semua masih ada kemampuan untuk menyantuni kerabat dan sahabat yang kebetulan miskin.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
;وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 22 Sya’ban 1446
21 February 2025.
Subscribe to:
Posts (Atom)