Wednesday, 14 August 2024

OLI-GARKI

Dirangkai: M. Syarif Arbi No: 1.263.08-3.2024. Sambil mondar mandir melompat dari satu kursi ke kursi lain yang berdekatan, cucuku (masih TK) bercerita “lebaran nanti kami ke Solo”. Kutanyakan, “berangkatnya naik apa”, “Naik kereta api datuk” jawab cucuku. “Pulangnya naik apa”, kutanya lebih lanjut. “kata ayah, liat situasi dan kondisi datuk, mungkin naik pesawat terbang”. Oohh komentarku singkat. Rupanya cucuku belum selesai, lantas dia bertanya lagi “kondisi itu apa sih datuk”. Ternyata cucuku mengutip informasi dari ORTUNYA tentang rencana perjalanan mereka tanpa memahami lebih lanjut …………….., agaknya dia sudah mengerti arti “situasi”, namun belum paham arti “kondisi”. Belakangan cucuku silaturahim lagi kekediaman kami bersama ORTU nya, kali ini topik pertanyaannya istilah yang sering mucul di TV yaitu “OLIGARKI”. “OLI Garki itu bagusnya untuk apa datuk, untuk sepeda motor atau untuk mobil”. Nalar cucuku nampaknya mulai jalan, dianya pernah ikut ayahnya ganti oli mobil, maklum space memorinya masih luas, ingat betul dianya nama oli yang digunakan mobil ayahnya, tapi bukan “Oli Garki”. Makanya ketika kerumah kami, disempatkannya menanyakannya kepada datuk, buat kendaraan apa “oli garki” itu. Sulit juga menjelaskannya buat cucuku yang masih BALITA, kalaulah dia bertanya setelah es em pe an gitu, maka kira2 dapat dijelaskan sbb: Secara sederhana oligarki adalah struktur pemerintahan atau kekuasaan yang dipegang oleh sekelompok orang yang selalu mengendalikan kekuasaan untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri. Oligarki sudah ada sejak ribuan tahun lalu, buktinya sekitar 600-an Sebelum Masehi, Sparta dan Athena dipimpin oleh kelompok elit bangsawan pendidikan sehingga membuat pemerintah oligarki berjaya. Aristoteles menjelaskan oligarki sebagai kekuasaan yang dipegang oleh segelintir orang dan menganggapnya sebagai manifestasi dari pemerintahan yang buruk. Alasannya karena oligarki cenderung bersifat elitis, eksklusif, beranggotakan kaum kaya, dan tidak memperdulikan kebutuhan masyarakat. Seiring berjalannya waktu, definisi oligarki dari Aristoteles dianggap terlalu sederhana dan ambigu sehingga banyak yang membuat argumen untuk menuduh seseorang atau sekelompok orang sebagai oligarki. Di sisi lain, pihak yang dituduh pun bisa mengelak dengan mudah. Oligarki berasal dari bahasa Yunani, yakni "oligarkhes" yang berarti sedikit yang memerintah. Maksudnya, oligarki adalah bentuk pemerintahan yang politik kekuasaannya berada di tangan sekelompok orang. Plato menyebutkan bahwa oligarki merupakan bentuk pemerosotan dari pemerintahan aristokrasi. Pemerintahan oligarki dipimpin dengan cerdik dan pandai oleh segolongan kecil elite demi kepentingan mereka sendiri. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa oligarki adalah sistem kekuasaan yang tidak mementingkan rakyat, tapi mementingkan kekuasaan golongan elitis. Perlu diketahui bahwa oligarki berbeda dengan kaum elite. Golongan elite belum tentu oligarki, namun kelompok oligarki biasanya merupakan sekelompok orang elite. “Oligarki” ternyata bukan oli buat kendaraan bermotor, tetapi Oli yang digunakan untuk mengokohkan kekuasaan. Berbicara soal kekuasaan, bagi kita warga yang sudah berusia lanjut, sempat mendengar kisah Ortu2 kita tentang masa pemerintahan penjajahan Belanda selama 3 setengah abad. Penjajahan Jepang 3 setengah tahun. Masa kemerdekaan dikuasai pemerintahan bangsa sendiri, yang sempat diberi kuasa memerintah seumur hidup. Lalu berganti dengan pemerintahan yang pemimpinnya dari pemilu ke pemilu terus diangkat lagi. Dilanjutkan dengan era reformasi, silih berganti yang berkuasa. Dari sudut pandang agama bahwa memang kekuasaan itu tetap dipergilirkan. Kendatipun sudah pakai “Oli” – “Garki”. Untuk itu baik dikutip ayat 26 surat Ali-Imran: قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. Semoga Allah senantiasa memelihara bangsa kita, walau silih berganti pihak yang berkuasa, namun bangsa ini tetap terpelihara keutuhannya dan segera lekas tercapai masyarakat adil makmur dan sejahtera dibawah lindungan Allah. بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 15 Agustus 2024 M, 9 Safar 1446 H

Sunday, 11 August 2024

MEMILIH IMAN

Ditautkan: M. Syarif Arbi No: 1.262.08-2.2024 Di negara2 demokrasi setiap akan diadakan pemilihan pemimpin, setiap kontestan melakukan kampanye guna mempengaruhi hati para pemilih. Agaknya terdapat tiga atau lebih faktor sangat menentukan pilihan, yaitu pertama; faktor dari dalam diri (internal) dan kedua; faktor diluar diri (eksternal) para pemilih. Tak kalah pentingnya faktor ketiga yaitu faktor “X”. Umumnya manusia dalam menentukan pilihan: "hati baru menerima setelah melalui pertimbangan logika, nalar, akal sehat, fakta2 dan kajian ilmu". Kadang, kendati suatu pilihan dapat diterima dengan pertimbangan2 tsb di atas, pilihan terpaksa dilakukan melenceng dari pertimbangan internal. Ada juga orang yang menentukan sesuatu, menentukan pilihan karena faktor diluar dirinya (eksternal) misalnya karena terpaksa, karena terpengaruh lingkungan, karena terpengaruh orang yang berkuasa, karena hasutan, karena imbalan, dll. Tak dapat diabaikan faktor ketiga yaitu sering disebut dengan faktor “X”, diluar kuasa manusia. Dalam hal memilih pemimpin di negeri kita ada lagi faktor ke empat, boleh jadi ini menjadi faktor paling utama yaitu orang yang akan dipilih apakah dianya “cukup kursi” dari partai2 yang mencalonkannya, dikenal dengan istilah "threshold” Tulisan ini tidak berbicara tentang memilih pemimpin. dibatasi hanya berkaitan dengan seseorang memilih keimanannya. Ada seseorang hatinya menerima memilih beriman tapi belum siap melaksanakannya, karena: • Pertimbangan Lingkungan. • Pertimbangan keluarga besar, tak siap dikucilkan dari komunitas. • Pertimbangan jabatan, khawatir akan terjungkal dari kedudukan. Diantara kelompok ini adalah paman nabi Muhammad saw sendiri yang sangat melindungi dan menyayangi Nabi, Abu Thalib sampai menghembuskan nafas terakhir enggan berucap akan keimanan atas risalah yang dibawa kemenakannya. Memang kehadiran para Nabi dan Rasul hanya bertugas menyampaikan risalah iman kepada ummat manusia, tidak bertanggung jawab sampai orang memilih beriman. Seperti yang dijelaskan Allah dalam surat Al-Baqarah 272: لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰٮهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَ نْفُسِكُمْ “(Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki…………………………………” Dan ditegaskan lagi di surat Ar Ra’d. ayat 40: فَاِ نَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَا بُ …………………….” “……………(Sesungguhnya tugasmu (Muhammad) hanya menyampaikan saja dan Kami-lah yang memperhitungkan (amal mereka). Dalam keberimanan faktor “X” nya adalah “Hidayah” (terminology Islam) Apa yang ada di hati hanya Allah yang tau dan diri ybs. Bagaimanapun iman, amal tak cukup hanya ada di dalam hati. Jenis amal mengacu rukun Islam yg lima seperti Sabda Rasulullah SAW : بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ (Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammadan Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan. (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 113) JENIS AMAL mengacu kepada rukun Islam yang lima dapat dibagi menjadi: 1. Ibadah LISAN + HATI , yaitu mengucapkan dua kalimat syahadah. Bahkan harus dengan saksi (untuk yang baru masuk Islam). Sedangkan bagi yang sudah masuk Islam se-kurang2nya 9 kali sehari melafazkan dua kalimah syahadat, ketika melaksanakan shalat 5 waktu. 2. Ibadah HATI + LISAN + PHISIK, Harus terbetik niat dalam hati, diiringi ucapan dari lisan dan dilaksanakan dengan gerak phisik. Contoh shalat. 3. Ibadah HATI + HARTA, mungkin juga ikut phisik mengantarkannya dan lisan mengakadkannya. ZAKAT. 4. Ibadah HATI + PHISIK, niat dan tekad melaksanakan puasa. Tekad harus kuat dan phisik harus sehat agar sanggup berpuasa. Tidak sedikit orang yang sehat, puasa tak kuat karena kurang tekat didukung niat. Dalam pada itu ada juga yang tekat niat yang kuat tapi phisik tak sehat puasapun tak dapat dilaksanakan. 5. Ibadah HATI + LISAN + HARTA + PHISIK, itulah ibadah HAJI. Niat harus mantap dengan hati. Lisan, dengan ucapan yang harus disuarakan a.l. kalimat Talbiah. Harta, tak mungkin berangkat tanpa biaya, baik dari kantong sendiri maupun dibayarkan pihak lain. Phisik, banyak rukun haji yang harus dilaksanakan dengan phisik a.l. tawaf, sa'ie, wukuf. Sedangkan melempar jumrah dpt diwakilkan bilamana udzur. Keberimanan di dalam agama Islam harus dideklarasikan, merupakan pintu pertama masuk Islam, berupa dua kalimat syahadah, haruslah diucapkan dengan LISAN. Banyak terjemahan rukun Islam yg pertama ini ter-redaksi "Mengucapkan dua kalimat syahadat". Artinya harus disuarakan, tak cukup di dalam hati. Tentu ini dimaksudkan bagi orang yang pertama memeluk Islam. Dari sejak era Rasulullah, sampai kini tak sedikit orang yg hatinya bersimpati kepada Islam, sudah menerima kebenaran Islam tapi masih enggan mendeklarasikannya. Semoga kelompok yang hati nya sudah menerima kebenaran Islam diberi Allah Hidayah. Sebab tak ada yang sanggup memberi hidayah kecuali Allah seperti ayat2 dikutip di atas. Jika terdapat kebenaran uraian ini datang dari Allah. Jika terdapat keliru dan salah, karena ilmuku yang masih rendah. Ambilah yang baik buangkan yang salah. Maafkan saya, supaya diriku tak menjadi gundah. Agar kebersuaan kita tetap terasa indah. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 11 Agustus 2024 M, 5 Safar 1446 H

Saturday, 3 August 2024

KEBAIKAN, KEBERIMANAN, KEBERAMALAN.

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.261.08-1.2024 Setiap orang, ingin dikatakan baik, sekalipun sebenarnya dirinya tidak baik. Juga kita sering memberikan penilaian kepada orang lain, misalnya teman akrab, tetangga, teman sekerja atasan atau bawahan, sering kita memberikan penilaian baik atau tidak baik terhadap mereka. Budaya berbasa-basi bangsa kita walaupun keadaannya kurang baik, bila ditanyakan “apa kabar” jawaban standar adalah “baik”. Contoh; ketika ada bencana alam gempa di salah satu daerah di Indonesia beberapa waktu yang lalu misalnya, seorang korban kepalanya luka-luka dan karenanya dibalut perban. Ketika ditanya pewawancara TV, “Bagaimana kabar Bapak”, jawaban beliau “Alhamdulillah baik. Ditegaskan dalam Al-Qur’an vide surat Al-Baqarah ayat 177 kebaikan adalah meliputi 11 item terdiri dari 2 besaran yaitu: “keberimanan” dan “keberamalan”: KEBERIMANAN: 1. Beriman kepada Allah, 2, Beriman kepada hari kemudian, 3. Beriman kepada malaikat2. 4. Beriman kepada kitab2 yang diturunkan Allah. 5. Beriman kepada nabi2 dan rasul2 yang diutus oleh Allah. Keberimanan adalah aktifitas bathin bersifat abstrak, tak dapat diketahui orang lain, perwujudan “keberimanan” terlihat dari “keberamalan” KEBERAMALAN: 1. Sanggup memberikan harta yang dicintainya kepada: a. kerabatnya, anak-anak yatim, b. orang-orang miskin, c. musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; 2. Membebaskan perbudakan, 3. Mendirikan shalat, 4. Menunaikan zakat; 5. Menepati janjinya apabila ia berjanji, dan 6. Sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Keberamalan merupakan realisasi dari “keberimanan”. Semakin tinggi kadar kualitas keberimanan seseorang, maka semakin berkualitas “keberamalan” orang tersebut. Keberamalan relative konkrit, ukuran kualitas “keberamalan” setiap individu setidaknya ada 9 parameter: Parameter ke 1. Patuh pada Allah. Salah satu diantaranya ukuran kepatuhan kepada Allah, jika disebut nama Allah apakah hati gemetar? seperti termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 2 إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka”. Selanjutnya ukuran kualitas keberamalan seberapa senangnya mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an. وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا “dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya)” (Al-Anfal: 2) Parameter ke 2. Khusyu’ saat sholat. Orang yang beriman adalah lebih khusyu’ dalam shalat baik shalat wajib maupun sunnat, dapat dirasakan diri sendiri, tak diketahui orang lain. ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (Al-Mukminun ayat 2) Paremeter ke 3. Senang berinfak Keseharian kehidupan orang yang beriman juga sangat senang berinfak baik sedang lapang maupun sempit: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ۝ (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali Imran 134) Parameter ke 4. Tidak mengerjakan hal yang sia-sia Orang yang beriman tidak akan melakukan hal yang sia-sia atau tidak bermanfaat. Ia justru terlalu sibuk untuk melakukan ibadah yang akan menambah keimanannya. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia. (Al-Mukminun ayat 3) Paremeter ke 5. Meneladani Rasul Beriman tak hanya sekedar menjalankan perintah Allah tapi juga meneladani setiap perbuatan dan perkataan rasul. : إِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَ هُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di Telaga (di Surga).” Parameter ke 6. Tawakal Sikap orang yang beriman juga adalah tawakal dan ikhlas pada setiap ketetapan dan takdir yang diberikan Allah SWT. وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman” (Al-Maidah ayat 23). Parameter ke 7. Sabar Kesabaran juga menjadi salah satu ciri-ciri dari orang yang beriman. Seberat dan sesulit apapun ujian yang diberikan, maka ia akan selalu bersabar menghadapinya. Allah berfirman, وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ “Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. [Ali Imran ayat 146] Parametr ke 8. Memiliki akhlak yang baik Tanda lain dari seorang yang beriman adalah memiliki akhlak yang baik. وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam 4) Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi). Paremeter ke 9. Selalu bersyukur Baik dan buruk yang menimpa seorang mukmin akan selalu membuatnya bersyukur atas apa yang ia miliki. Itulah ciri dari seorang yang beriman kuat. وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." (Ibrahim ayat 7) Semoga kita semua tergolong orang2 yang mendapat predikat “Baik” dalam pandangan Allah, dengan kesanggupan memiliki “Keberimanan” dan “keberamalan” yang baik sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 3 Agustus 2024 M. 27 Muharram 1446 H

Monday, 22 July 2024

Ranjau Kehidupan

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.260.07-4.2024 Ukuran kesenangan, tiap orang tidak sama. Ada seseorang menyenangi sesuatu sementara orang lain tidak menyenanginya. Contoh konkrit ambil saja salah satu kesenangan; misal seseorang menyenangi memelihara burung, untuk dikagumi kicauannya, sementara itu sesama penyenang burung ada yang berbeda hal yg dikaguminya dari burung; yaitu keindahan bulunya. Banyak lagi keberagaman kesenangan manusia yang ber-beda2 itu. Begitu banyak contoh dapat diambil dari kesenangan yang beragam setiap individu, akan cukup panjang untuk diinventarisir. Namun ada 7 kesenangan boleh dikata seragam dari manusia yang normal: 1. Senang kepada pasangan lawan jenis hidup (Istri – Suami). 2. Mempunyai anak-anak penyambung keturunan. 3. Mempunyai banyak harta kekayaan. 4. Mempunyai saving, deposito, tabungan, saham, emas dan perak. 5. Memiliki kendaraan2 mewah. 6. Memiliki banyak hewan2 ternak. 7. Memiliki sawah ladang dan perkebunan. Kesenangan manusia secara umum ini, dapat disetarakan dengan makna ayat 14 dari surat Ali Imran: زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. Kesenangan hidup di dunia disebutkan di ayat 14 Ali Imran diatas berpotensi menjauhkan manusia dari taqwa kepada Allah dan bahkan tidak sedikit manusia yang terjerembab ke lembah nista di dunia ini. Dengan demikian kesenangan hidup di dunia ini seringkali menjadi “Ranjau” buat kehidupan manusia. KESENANGAN AKAN LAWAN JENIS PASANGAN HIDUP. Tidak sedikit kejadian, seorang yang mempunyai kedudukan tinggi terpelanting dari jabatannya disebabkan mengumbar nafsu dengan lawan jenis yang tidak sah. Bukan kaum pria saja yang sering terlibat masalah hubungan laki2 dan perempuan tidak sah ini, kaum wanita juga sering terdengar terpeleset berselingkuh ketangkap basah oleh suaminya. Kejadian ekstrim apabila si istri berselingkuh ketangkap tangan, suami nekat membunuh istri dan pasangan selingkuh istrinya. Hancur berantakan rumah tangga dan trauma buat juriat keturunan. ANAK PENYAMBUNG KETURUNAN. Anak diharapkan oleh setiap pasangan suami-istri, tak jarang bagi suami-istri sudah menikah berbilang tahun belum memperoleh anak harus berobat kemana-mana demi mendapatkan anak keturunan. Namun anak2 bukan sedikit menjadi “Ranjau” juga bagi ayah bunda, bila salah mendidiknya. Hal ini diperingatkan Allah: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ …………………”….۝” “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. ………………..” (At-Taghabun ayat 14). Ranjau2 kehidupan yang sanggup menggelincirkan manusia ke lembah nista, menjauhkan manusia dari taqwa kepada Allah berikutnya, seperti termuat di urutan 3 sampai 7 di atas (terbatas ruang tidak dibahas rinci). Tak jarang manusia menghalalkan segala cara untuk memperolehnya, berusaha sekuat tenaga kadang tak kenal waktu, menomor duakan ibadah kepada Allah, demi mendapatkannya. Oleh karena itulah Allah mengingatkan bahwa kesemuanya itu hanyalah permainan dunia; اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ۝٢٠ “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya”. (Al-Hadid ayat 20) Semoga Allah mengkondisikan kita semua sanggup mencapai kesenangan di dunia karena hidup kita di dunia, namun tidak melupakan kehidupan akhirat karena ke sanalah kita akan kembali. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 23 Juli 2024 M, 17 Muharram 1446 H

Thursday, 11 July 2024

TAKUT malah MENDEKAT

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.259.07-3.2024. Berdeda wujud takut kepada makhluk dengan takut kepada Allah. Manusia bila takut kepada makhluk, segera menghindari, menjauh dari sesuatu yang menakutkan tersebut. Sedangkan takut kepada Allah malah berusaha sedapat mungkin mendekat kepada Allah, melalui sarana ibadah dan muamalah yang diperintahkan Allah, menjauhi segala larangan2 Allah. Mendekat kepada Allah dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan Allah adalah merupakan perwujudan Taqwa. Perwujudan mendekat kepada Allah berupa taqwa terakumulasi dalam dua besaran perilaku manusia yaitu secara KONKRIT dan secara ABSTRAK. Terbatas ruang, di artikel nomor ini hanya dimuat “Takut dengan mendekat secara konkrit”. Adapun “Takut … mendekat … abstrak” berupa 3 hal juga, insya Allah di artikel tersendiri. Mendekat Secara KONKRIT kepada Allah berupa 3 hal yaitu: PERTAMA; Mendirikan shalat. Aktivitas mendirikan shalat nampak terlihat nyata/konkrit, selanjutnya menjadi pembeda orang yang sekedar mengaku beragama dengan orang yang beragama sungguhan. Allah Ta’ala berfirman, ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ “(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat” (QS. Al-Anfal: 3). Rasul pun pernah menjelaskan tentang bukti keimanan seseorang dapat dilihat dari shalat dan sedekahnya. وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ Shalat adalah cahaya dan sedekah adalah bukti (HR. Muslim no. 223) KEDUA; Berperilaku Qur’ani. Perilaku Qur’ani. Yaitu sanggup untuk memberi contoh sekaligus menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar. كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ………………." (Ali 'Imran ayat 110) Mendekat kepada Allah secara Konkrit yang ke TIGA adalah DERMAWAN. Yaitu membelanjakan harta di jalan Allah: يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَـٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌۭ لَّا بَيْعٌۭ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌۭ وَلَا شَفَـٰعَةٌۭ ۗ “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. ………..” (Surat Al-Baqarah ayat 254) Ketika menjadi dermawan ingat pesan Al-Qur’an surat Al Furqan 67: وَالَّذِينَ إِذَآ أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا "Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar," Waspada juga, kalau harta sudah didermakan jangan sampai dirusak seperti di-wanti2 Allah di surat Al Baqarah 264: يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذٰى كَالَّذِى يُنْفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْأَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلٰى شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِينَ "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.". Semoga Allah menjadikan kita takut kepada Allah dengan justru semakin mendekat kepada Allah menerapkan wujud takut tersebut dengan tindakan tidak meninggalkan shalat, berperilaku Qur’ani dan dermawan. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 11 Juli 2024 M, 5 Muharram 1446 H

Saturday, 6 July 2024

BERSYUKUR dengan PERBUATAN

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.258.07-2.2024. Bersyukur dengan perbuatan adalah perwujudan syukur sesudah bersyukur dengan hati. Kadang sampailah lisan terucap perlahan memuji kebesaran Allah. Dalam kenyataan ada juga lisan "bersyukur", ketika mendapatkan kebahagiaan, namun tak nyambung ke hati. Perwujudan bersyukur dengan perbuatan adalah: 1. Meningkatkan taqwa 2. Peduli kepada sesama 3. Tau diri & Ikhlas 4. Senantiasa ramah 5. Suka berbagi ilmu 6. Merawat nikmat Allah MENINGKATKAN TAQWA Bersyukur diwujudkan dengan perbuatan salah satunya menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan mentaati semua perintah Allah dan menjauhi hal-hal yang dilarang Allah. Berusaha untuk bertaqwa selama hayat masih dikandung badan. Kata kuncinya: يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Surat Ali-Imran ayat 102). PEDULI KEPADA SESAMA Mengekspresikan rasa syukur dengan perbuatan berikut yakni dengan berbagi kepada sesama manusia. Jangan bersikap kikir. Ingatlah bahwa di sebagian harta kita ada hak orang lain. Di saat kita diberikan nikmat berlebih, maka jangan ragu membagi-bagi nikmat itu kepada orang lain. Perintah ini dapat disimak pada surat Ad-Dhuha ayat 11: وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)." TAU DIRI & IKHLAS MENERIMA Cara bersyukur selanjutnya yakni “tau diri”, bersikap “ikhlas menerima” keadaan yang dianugerahkan Allah untuk diri. Tidak iri dengan nikmat orang lain. Rasulullah SAW pernah bersabda. اُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ. Artinya, “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu,” (HR Bukhari dan Muslim). SENANTIASA RAMAH Wujud syukur dengan perbuatan berikutnya yakni senantiasa ramah. Disaat hati sedang sedihpun tetap stabil, sanggup meredaksikan kata2 yang sopan dan ramah selalu menunjukkan raut wajah ceria. Jangan bersikap acuh tak acuh. Sanggup menyembunyikan kesedihan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." (Ali 'Imran ayat 159) SUKA BERBAGI ILMU Bersyukur dalam bentuk perbuatan berikutnya, apabila anda termasuk orang yang memiliki ilmu tinggi dan berwawasan luas, baik itu ilmu agama ataupun pendidikan umum, hendaknya suka membagi ilmu kepada orang lain. Baik secara formal berhadapan dengan audience atau dengan cara lain misalnya bisa men-share tulisan-tulisan yang bermanfaat di sosial media. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289) MERAWAT NIKMAT Cara bersyukur dengan perbuatan yang tidak kalah penting yaitu dengan merawat nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Misalnya menjaga kelestarian alam, merawat lingkungan. وَمَآ أَرْسَلْنٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِينَ "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107) Semoga pembaca semua berhasil menjadi hamba Allah yang bersyukur. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 6 Juli 2024 M, 30 DzulHijjah 1445 H

Monday, 1 July 2024

Bersyukur HATI dan LIDAH

Rangkuman: M. Syarif Arbi No: 1.257.07-1.2024. Secara sederhana “Syukur”; diartikan sebagai ungkapan terimakasih atas anugerah yang diterima, atas pemberian yang diterima, dari mana saja datangnya pemberian/anugerah tersebut. Jika pemberian itu datang dari seseorang, begitu kita terima, kita tidak menunjukkan ungkapan terimakasih baik lisan maupun sikap, tentu orang yang memberi akan merasa kecewa. Bersyukur; kepada Allah berbeda dengan sesama manusia, bila kita tak bersyukurpun tidak masalah bagi Allah karena Allah tidak berharap kebersyukuran makhluk ciptaan-Nya. Sejumlah ayat mengungkap hal tsb diantaranya surat Fatir 15. يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِىُّ الْحَمِيدُ "Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji." Bagi manusia yang bersyukur, Allah menjanjikan akan menambah kenikmatan yang diberikan-Nya (Surat Ibrahim Ayat 7) وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Untuk bersyukur, dapat dilakukan melalui 4 (empat) cara yaitu: 1. Bersyukur dengan hati 2. Bersyukur dengan lidah 3. Bersyukur dengan perbuatan dan 4. Bersyukur dengan menjaga nikmat. BERSYUKUR DENGAN HATI. Setiap menerima anugerah Allah, di dalam hati menyadari bahwa apapun nikmat semua datangnya dari Allah. Besar atau kecil suatu nikmat disyukuri sekurangnya di dalam hati. Tidak merasa kecewa betapapun kecilnya suatu nikmat, tetap disyukuri tanpa menganggap tak ada gunanya. Betapapun besar kerugian/bencana, selalu diiringi sabar dan syukur, yakin tersembunyi maksud baik Allah di setiap peristiwa. BERSYUKUR DENGAN LIDAH. Dengan penuh kesadaran mengucapkan "Alhamdulillah" ini sudah termasuk bersyukur dengan lisan. Dalam kenyataan ada juga lisan "bersyukur", lisan berucap tapi tak sampai ke hati. Bila seseorang mendapat kerugian, kesusahan, kekecewaan, penderitaan; tetap bersabar dan dihatinya tetap terselip rasa syukur, inilah model pribadi muslim sejati. Pribadi model ini yakin ketidak beruntungan apapun yang terjadi atas dirinya setelah menjalani ikhtiar sebagai manusia, adalah kehendak Allah. Segala sesuatu yang terjadi atas kehendak Allah, tak ada yang sia2. رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. (QS: Ali 'Imran ayat 191) Orang yang tetap besabar dan hatinya selalu bersyukur ini, dia berprasangka baik kepada Allah. Pernah seorang pemuda gagal test masuk di suatu instansi, setelah tua dia baru paham ternyata Allah punya rencana lebih baik buat dirinya menjadikan ybs. pengusaha besar menghidupi ribuan karyawan. Kalaulah Nabi Yusuf ketika masih bocah tidak dimasukkan saudara2nya ke dalam sumur mungkin tak ditemukan musafir pengambil air. Kalaulah Nabi Yusuf tak dijual di pasar budak oleh musafir di Mesir, tak ada jalannya dia dibeli oleh pejabat kerajaan. Kalaulah Nabi Yusuf tak masuk penjara, keahliannya mentakwil mimpi ndak kan mungkin diketahui Raja. Akhirnya Nabi Yusuf setelah melalui rangkaian ketidak nyamanan, ketidak beruntungan ternyata ada rencana Allah untuk menjadikan makna mimpinya bahwa seluruh saudaranya menghormatinya. Lantaran akhirnya Nabi Yusuf menjadi penguasa/pejabat penting di Mesir seperti dikisahkan Allah; اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰۤاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ  عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ "(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, Wahai Ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." (QS. Yusuf ayat 4) Syukur dan sabar menghiasi kehidupan Nabi Yusuf dan ayahnya Nabi Yacob. Ternyata rentetan peristiwa yang tidak begitu menyenangkan itu adalah suatu proses untuk rencana Allah yang lebih baik, begitu juga contoh pemuda yang tak lulus test di atas.’ Dari kejadian2 ini, mestinya sadarlah kita bahwa hidup ini harus dijalani dengan syukur dan sabar. Allah senantiasa memberikan peran yang terbaik untuk setiap orang. Yang penting ikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Maaf; ulasan bersyukur dengan PERBUATAN dan bersyukur dengan MENJAGA nikmat, karena terbatasnya ruang tulis, tidak ditulis di artikel ini. Semoga bilalah dalam hidup ini mengalami kegagalan di awal, merupakan awal dari proses kesuksesan di akhir. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه 2 Juli 2024 M, 25 DzulHijjah 1445 H