Monday, 5 December 2022

MENYEMBUNYIKAN AIB

Andaikan AIB seseorang terbuka, barang kali orang2 yang semula sangat kagum dan menghormati orang tadi, tak akan menghargainya lagi. Selanjutnya orang yang terbuka AIB-nya tadi, tidak lagi merasa dirinya berarti di hadapan masyarakat. Berujung orang yang tadinya mengidolakan orang tersebut akan beralih idola kepada orang lain. Setiap manusia punya rahasia pribadi yangg tak ada seorangpun yang tau, kecuali dirinya sendiri dan Allah. Bagi yang iman kepada Allah yakin betul Allah tau rahasia pribadinya. Bagi yang tidak beriman kepada Allah menyangka hanya dirinyalah yang tau rahasia pribadinya. Tentu sebagai manusia tak kan suka kalau rahasia pribadi yang ditutupinya, diketahui orang. Rahasia pribadi itu meliputi semua keadaan, termasuk keburukan kita yang tidak tampak oleh orang lain diistilahkan AIB. Umumnya aib itu terjadi dimasa lalu, kalau boleh dikelompokkan AIB menjadi: 1. Aib dalam hal merintis hidup. Misalnya bagaimana dulu mendapatkan harta benda yang terhimpun sekarang, misalnya kini awak menjadi orang berharta banyak. Apakah mendapatkan harta, sebagian dengan cara yang curang, atau abu2. Sekarang, dikenal orang sebagai pebisnis yang sukses, tapi orang ndak tau dulunya mendapatkan modal berusaha ada diantaranya dengan cara yang membuat AIB kalau orang lain tau. 2. Aib Proses pendidikan. Umpamanya; dulu curang dalam menempuh ujian, melakukan upaya2 yang tidak legal ketika menyelesaikan pendidikan, sehingga memperoleh tanda selesai sekolah dengan jalan yang tidak biasa, ASPAL misalnya. 3. Aib ber-karier dalam bekerja. Misalnya; kesuksesan karier dibidang pekerjaan dilakukan dengan jalan tidak normal umpamanya; “menyuap, menyogok”, “menjilat keatas menginjak bawahan”. 4. Aib proses menikah. Sebelum pernikahan apakah dulu pernah terlanjur dalam “pergaualan bebas”…... Hampir tak ada manusia yang tak punya sisi jelek atau aib atau kekurangan di dalam perjalanan hidupnya. Sadar bahwa tiap diri punya aib tak mau terbuka, ditutup rapat2 agar ndak ada orang yang tau. Di agama Islam setiap kali shalat; berdo'a ketika duduk di antara dua sujud, dari 8 butir do'a, butir ketiga, واجبرني (wajburnii), "tutuplah segala aibku." Siapakah yang mampu menutup aib seseorang selain Allah? Bersyukur sebab meski aib kita banyaknya tak terkira, Allah telah menutupnya dari hadapan manusia. Bayangkan andaikan setiap aib yang dilakukan manusia itu Allah tampakkan?…….. Dalam do’a ini termasuk minta ditutupi segala kekurangan dalam pengertian kejelekan, perbuatan tak baik pernah kita lakukan merupakan aib kita diantaranya aib yang terjadi berupa empat kelompok di atas. Berbicara soal AIB, bukan saja aib diri yang harus ditutup rapat2, tetapi aib teman, aib orang lain wajib kita tutupi setidaknya jangan malah membukakan, mengumbar aib orang lain. وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ WAMAN SATARA 'ALA MUSLIMIN FIDDUN-YAA SATARALLAHU 'ALAIHI FIDDUN-YAA WAL AKHIRAH" (Dan barang siapa yg menutupi =aib= seorang muslim di dunia, maka Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat) (Hadits Riwayat Iman At-Tirmidzi). Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” [Shahih Muslim] Adapun aib diri sendiri secara tegas dilarang membukanya seperti hadits Muttafakun alaih dari Abu Hurairah r.a. setiap ummatku dimaafkan, kecuali orang-orang yg al Mujaahiriin. أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ Pengertian MUJAAHIRIIN adalah pamer dan bangga lakukan maksiat dan perbuatan dosa dilakukan tak diketahui orang tapi diceritakan kepada orang lain. Diantara kedzaliman dan kebodohan manusia terhadap dirinya sendiri adalah ia membuka aibnya padahal sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutupnya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. كُلُّ أُمَّتِيْ مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهِرِةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِالْلَيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهَ اللهُ فَيَقُوْلُ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وُيُصْبِحُ يَكْشِفُ سَتَرَ اللهُ عَنْهُ “Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya. Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh. Jelaslah sudah ajaran agama, bahwa AIB diri sendiri dan AIB orang lain WAJIB ditutupi. Kalau membuka AIB orang (misalnyapun AIB itu benar terjadi) saja dilarang, apalagi membuat berita tak benar tentang AIB orang (dikenal sekarang HOAKS), tentu sangat2 dilarang dan jelas itu bukan tuntunan agama. Semoga Allah mengampuni segala dosa kita baik yang sengaja maupun tidak disengaja. Semoga sahabat yang mengetahui aib kita turut menutupi aib kita dan semoga kita tidak termasuk orang MUJAAHIRIIN. Tidak termasuk orang yang suka membuka aib orang sebaliknya berusaha menutupi aib orang. Semoga kita tidak menjadi penyebar hoaks dan tidak pula menjadi korban hoaks. آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 11 Jumadil Awal 1444 H. 5 Desember 2022. (1.069.12.22).

Sunday, 4 December 2022

TAHAP TAU

Terdapat 5 tahapan "Tau". Tahap Pertama; Tidak tau. Bayi manusia begitu terlahir tak tau apa2, hidupnya tergantung orang sekelilingnya. Diantara sekian banyak bayi, adapula bayi yang kurang beruntung ,kelahirannya tidak diinginkan. Dia dibuang ditempat sampah. Kalau bayi itu bernasib baik ditemukan orang. Kadang sampai tua dia tetap tidak tau siapa ibu-bapaknya yang sebenarnya. Walau sudah jelas tak mungkin dianya ada di dunia ini tanpa ibu-bapak. وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًۭٔا (Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun), Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 78. Tahap Kedua; Ingin tau. Cucuku ketika baru pandai ngomong, rasa ingin taunya begitu besar. Apa saja di sekelilingnya dia tanyakan. Serutan kulit rotan dikursi rotan di rumahku ditanyakan "ini apa datuk?", begitu detil dia betanya terbuat dari apa, dari mana asalnya dst. Ingin tau itu disebabkan diantaranya; karena dianya belum pernah melihatnya. Setelah cucuku klas 4 SD, sekali waktu di ajak libur ke rumah uyutnya di suatu kecamatan di bilangan Jawa Timur. Cucuku tertarik melihat "obat nyamuk bakar", di rumah mereka tdk pernah menggunakan. Cucukupun bertanya, kini dia ingin taunya apa namanya, untuk apa. Karena dirumah mereka produk itu tdk pernah mereka gunakan. Ketiga; Mencari tau. Setelah anak2 bersekolah, mencari tau tidak lagi hanya dengan bertanya langsung dari apa yg dilihat, didengar, dirasakan. Proses mencari tau dengan mengikuti teori2 ilmu pengetahuan. Banyak hal2 yang belum pernah dilihat langsung, tetapi orang lain pernah melihatnya. Orang lain pernah merasakannya, orang lain pernah melakukan penelitian tentang sesuatu, selanjutnya dipublikasikan. Publikasi tersebut dapat diambil untuk sarana mencari tau. Boleh jadi juga untuk mencari tau dengan melakukan penelitian sendiri, merujuk kepada teori2 yang dinyatakan orang terdahulu. Makanya dokumen SK kenabian Muhammad s.a.w. itu dimulai dengan kalimat-kalimat “mencari tau” (Al-Qur’an surat ke 96: Al-'Alaq ayat 1-5) اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan," خَلَقَ الْإِنْسٰنَ مِنْ عَلَقٍ "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah." اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia." الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ "Yang mengajar (manusia) dengan pena." عَلَّمَ الْإِنْسٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." Proses “mencari tau” ini pernah dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim, bahkan yang dicari tau oleh Nabi Ibrahim adalah tentang TUHAN seperti diabadikan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-An’Am ayat 76,77 dan 78. Proses “mencari tau”, Nabi Ibrahim disudahi dengan petunjuk Allah, tentang siapa sesungguhnya Tuhan pencipta sekalian alam itu. Hal tsb diabadikan dalam Al-Qur’an قَالَ لَئِنْ لَّمْ يَهْدِنِيْ رَبِّيْ لَاَ كُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّآ لِّيْنَ "Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat."" Keempat; Menjadi tau. Hasil dari tahap ketiga diatas, seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan. Berkat belajar dari teori2 para pendahulu. Oleh karena itu manusia yang belajar, bersekolah memungkin diusia relatif muda sudah banyak hal2 yang diketahui, karena dapat merangkum ilmu2 orang2 terdahulu. Perlu diketahui bahwa sampai habispun usia ini ilmu yang diturunkan Allah, tidak akan mungkin untuk dikuasai seorang manusia. Oleh sebab itu tak seorangpun yang dapat mengklaim dirinya paling berilmu. Terbentuklah cabang2 ilmu pengetahuan baik dibidang agama maupun dibidang ilmu2 pengetahuan dunia. Banyak manusia yang mengkhususkan diri dengan ilmu pengetahuan tertentu. Kelima; Memberi tau. Tahap terakhir tentang “TAU”, adalah memberitahukan apa yang sudah diketahui dengan mengajarkan kepada orang lain, atau mempraktekkan apa yang sudah diketahui dalam kehidupan. Menularkan ilmu pengetahuan adalah merupakan ladang kebaikan yang dapat dipanen terus menerus oleh pengajar, walaupun dia sudah tiada. Mempraktekkan ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki untuk membantu orang lain, adalah sesuatu kebaikan yang dinilai baik oleh sesama manusia dan tentu mendapatkan ganjaran yang besar disisi Allah. Semoga sekecil apapun ilmu yang kita miliki bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, bernilai sebagai kebaikan pula disisi Allah. آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 10 Jumadil Awal 1444 H. 4 Desember 2022. (1.068.12.22).

Wednesday, 30 November 2022

Kecenderungan Manusia

Kecenderungan manusia dalam hidup ini dapat dikelompokkan: 1. Menyukai pasangan hidup. 2. Menginginkan keturunan, 3. Menumpuk Harta benda. 4. Memiliki kendaraan2 yang bagus. 5. Mempunyai Investasi dimana-mana. Menyukai pasangan hidup. Adalah manusiawi, setiap manusia normal ingin mempunyai pasangan hidup yang akan bersama-sama dalam menjalani kehidupan ini. Dimulai dari ketertarikan, diikuti kesesuaian, selanjutnya terbentuklah sebuah keluarga. Tentunya bagi penganut2 agama memenuhi kecendrungan ini sesuai dengan koridor yang dituntunkan oleh agama masing2. Menginginkan keturunan. Tidak sedikit pasangan yang telah lama menikah, demi mendapatkan keturunan harus berobat dengan biaya tinggi. Banyak didengar seorang wanita muda berkarier cemerlang yang sudah lebih lima tahun menikah tidak memperoleh keturunan. Dianya rela melepaskan pekerjaannya mengikuti saran ahli kandungan. Setelah melepaskan semua kesibukan pekerjaannya dikaruniai keturunan. Selanjutnya setelah memperoleh anak terus tidak bekerja demi mengasuh anak, sampai dapat ditinggal bekerja kembali. Ini bukti bahwa “menginginkan keturunan” jauh lebih penting daripada karier. Andaikan keinginan butir 1 dan 2 tidak melekat di diri manusia, tentu keberadaan manusia tidak akan berlanjut sampai kini. Menumpuk harta benda. Kecenderungan ke 3 manusia menumpuk harta benda, dikarenakan adanya persiapan untuk hari hari mendatang. Logika manusia, harta benda yang ditumpuk tersebut, akan dapat dinikmati nanti di hari2 esok, apabila kesempatan/kemampuan menumpuk harta telah berkurang atau hilang. Juga berhubungan erat dengan kecenderungan ke 2, mempersiapkan untuk diwariskan bakal menopang kehidupan anak2 keturunan. Memiliki kendaraan2 yang bagus. Kecenderungan ke 4 manusia ini, disebabkan oleh dua faktor pokok: 1. Ingin mempermudah transportasi, agar dalam menjalani seluruh aktivitas hidup menjadi mudah. 2. Adanya sifat manusia ingin berbangga, lebih dari orang lain. Dalam hal inilah sampai terjadi orang memiliki kendaraan2 yang mewah. Tidak pula cukup hanya sebuah. Mempunyai investasi di-mana2. Dipengaruhi oleh rasa khawatir hari2 mendatang. Ingin meninggalkan kepada anak keturunan agar mereka hidup senang. Ditambah ingin berbangga dan melebihi orang lain, maka manusia tak akan puas2nya menumpuk harta, selalu berinvestasi di-mana2. Semua kecenderungan ini, wajar sebagai manusia. Allah sebagai pencipta manusia sudah memberitahukan kecenderungan setiap manusia tersebut, seperti tersurat di (QS. Ali 'Imran ayat 14) زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنٰطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعٰمِ وَالْحَرْثِ  ۗ ذٰلِكَ مَتٰعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا  ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُۥ حُسْنُ الْمَئَابِ "Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.". Halal-halal saja sebagai manusia, kita menjalani lima kodrat kecenderungan kita tersebut, asalkan tetap dalam penduan dan petunjuk agama. Karena sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanya sementara. Mau tidak mau, kita harus sudahi hidup ini dan akan mempertanggung jawabkan segala cara pemenuhan kecenderungan kita tersebut. Oleh karena itu Allah mengarahkan kita agar memiliki keseimbangan dalam berupaya memenuhi kecenderungan dimaksud (QS. Ali 'Imran ayat 15) قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰلِكُمْ  ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَا وَأَزْوٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوٰنٌ مِّنَ اللَّهِ  ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ ۢبِالْعِبَادِ "Katakanlah, "Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya." Naaah bagaimana caranya setelah memehuni 5 hasrat kecenderungan hidup kita di dunia itu, namun di akhirat nanti tetap akan ditemukan kebahagiaan??? Harus dilakukan dalam kesibukan kita memenuhi 5 hasrat kecenderungan itu agar tetap dalam koridor agama adalah dengan: 1. Benar2 beriman. Dibentengi iman akan ada kendali bagi setiap manusia dalam memenuhi kecenderungan hasratnya. Iman dapat membedakan hak dan bathil. وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَـٰطِلِ “Janganlah kamu memakan harta diantara kamu dengan jalan yang bathil…..” (Al-Baqarah 188) 2. Mohon ampunan Allah. Sebagai manusia, tak akan luput dari berbuat salah, sengaja maupun tidak sengaja, makanya senantiasa memohon ampun kepada Allah. 3. Mohon perlindungi dari azab neraka. Orang beriman menyadari sepenuhnya bahwa terselamatkan manusia dari azab neraka hanya berkat kasih sayang Allah. وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًۭا وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ “……….Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya……...”. Surat An-Nur ayat 21. 4. Taat terhadap perintah Allah يٰـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul ……...." (QS. An-Nisa': ayat 59) 5. Dermawan. Berulang kali di Al-Qur’an mengarahkan manusia untuk berlaku dermawan, karena dermawan akan mempererat hubungan antar manusia yang berdampak memperkuat ketaqwaan kepada Allah. Salah satu ayat mengingatkan tentang dermawan: وَأَنْفِقُوا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلٰىٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِينَ "Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh."" (QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 10) 6. Selalu telah bangun sebelum shalat subuh. Artinya orang yang bangun sebelum shalat subuh, jelas diharapkan melakukan shalat tahajud, memohon ampun. Bukan dalam artian terbangun tapi tidak beribadah dan mohon ampun kepada Allah, oleh karena itu ditutup ayat 17 Ali Imran dengan وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ Keenam syarat tersebut diatas tersimpul pada (QS. Ali 'Imran: ayat 16 dan ayat 17) الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ "(Yaitu) orang-orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka."" الصّٰبِرِينَ وَالصّٰدِقِينَ وَالْقٰنِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ "(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar." Adalah tidak salah dan tidak masalah setiap diri memenuhi kecenderungan hasrat manusia yang sejatinya memang sudah ditanamkan Allah atas diri setiap insan. Akan tetapi haruslah tetap senantiasa dalam norma2 yang ditetapkan agama, agar tercapai kebahagiaan hidup di dunia sampai ke akhirat. آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 7 Jumadil Awal 1444 H. 1 Desember 2022. (1.067.12.22).

Sunday, 27 November 2022

CIRI atau IDENTIAS hamba ALLAH

Allah memberikan informasikan dalam Al-Qur'an tentang ciri atau identitas “hamba Allah”: Pertama; tidak sombong, rendah hati, dalam berinteraksi di masyarakat, mampu membalas kejahatan dengan kebaikan. وَعِبَا دُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَىاَضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَا طَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَا لُوْا سَلٰمًا "Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, "salam,"" (QS. Al-Furqan 25: Ayat 63) Kedua; Suka bangun untuk shalat malam وَا لَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَا مًا "dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 64) Ketiga; senantiasa berdo’a agar dijauhkan dari neraka. وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَا بَ جَهَـنَّمَ ۖ اِنَّ عَذَا بَهَا كَا نَ غَرَا مًا  "Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,"" (QS. Al-Furqan 25: Ayat 65) Keempat; gemar berinfak, namun tidak berlebihan. وَا لَّذِيْنَ اِذَاۤ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَا نَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَا مًا "Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar," (QS. Al-Furqan 25: Ayat 67). Kelima; tidak mensekutukan Allah, Keenam; tidak membunuh orang, Ketujuh: tidak berzina, وَا لَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِا لْحَـقِّ وَلَا يَزْنُوْنَ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَا مًا  "dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat," (QS. Al-Furqan 25: Ayat 68) Kedelapan; tidak memberikan kesaksian palsu, Kesembilan; mengihindari bergaul dengan orang yang berbuat tidak berfaedah, Kesepuluh; menjaga kehormatan diri, وَا لَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ ۙ وَ اِذَا مَرُّوْا بِا للَّغْوِ مَرُّوْا كِرَا مًا "Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya," (QS. Al-Furqan 25: Ayat 72) Kesebelas; mau menerima peringatan ayat2 Allah وَا لَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِاٰ يٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَّعُمْيَا نًا "dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 73) Keduabelas; selalu berdoa agar pasangan (suami/istri) dan keturunan sebagai penyenang hati dan dijadikan pemimpin bagi orang2 bertaqwa. وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا "Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."" (QS. Al-Furqan 25: Ayat 74). Demikian ciri2 atau identitas orang2 sebagai “hamba Allah”, selanjutnya agaknya patut kita periksa diri, sudah sampai dimanakah diri kita masing2 memiliki ciri2 atau identitas tersebut. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai “hamba Allah” yang taqwa. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 4 Jumadil Awal 1444 H. 28 November 2022. (1.066.11.22).

Friday, 25 November 2022

SIAPAKAH mendo’akan kita sesudah MATI

Maaf artikel ini panjang……….., cocok buat bacaan diwaktu luang………, bila tak dimuat semua tak mencapai makna. Untuk yang sibuk lewatkan saja…….., intinya hanya sekedar ngingatkan kita bahwa kita diingat banter sampai genersi ke empat. Di daerah kelahiranku, silsilah keturunan yang ku-tau, hanya beberapa generasi; kebawah yaitu: anak, cucu, buyut, cicit. Generasi ke atas, ayah-bunda, nenek-datuk, uyut, moyang, antah. Oleh karena itu ijinkan di tulisan ini kupinjam istilah terminology bahasa Jawa tentang silsilah yang menurutku relatif lebih lengkap; untuk garis keturunan ke bawah: Anak (generasi ke dua). Cucu (keturunan ketiga). Cicit (keturunan keempat). Canggah (keturunan kelima). Wareng (keturunan ke keenam). Udhek-udhek (keturunan ke tujuh). Gantung siwur (keturunan ke delapan). Cicip moning (keturunan ke sembilan). Petarangan bobrok (keturunan ke sepuluh). Gropak senthe (keturunan ke sebelas). Gropak waton (keturunan ke duabelas). Gendheng (keturunan ke tigabelas). Mana ada manusia abad lalu dan abad ini yang sempat lihat apalagi menimang generasi ke tujuh. Jadi ungkapan hartanya banyak cukup untuk tujuh turunan, benar2 hebat tu kekayaan. Suatu hari ada saudara sepupu bertanya "siapa yaaa nama ayah-ibu dari Nenek-Kakek kita?". Bertanyalah ke paman2 yang lebih tua, baru diketahui. Jadi apalagi meredaksikan dalam do'a nama dari Ortunya Kakek, Ortunya Nenek, namanya saja kita sdh ndak tau. Dengan sedikit menyanda' soal "turunan" ini, mungkin dapat mengingatkan diri ini: * Bahwa hidup di dunia banter2nya sampai punya cicit. * Bahwa yang bakal tau tentang kita banter2nya hanya yaah sampai cicitlah. * Bahwa begitu kita meninggal yang bakal kirim doa buat kita.... banter2nya anak2, cucu2, cicit2. * Bahwa setelah anak mati, cucu mati, cicitpun mati, ...... siapa lagi yg kirim do'a buat kita, kayaknya ndak ada lagi orang berdo'a khusus membayangkan wajah diri kita. * Bahwa kalau begitu perlu dipikirkan supaya setelah generasi ke empat pun habis semua, kita masih ada tambahan pahala sesudah mati. Terinspirasi dari hadits: عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: "Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya." (HR Muslim). Kalau begitu dua diantaranya y.i: Amalan jariah dan ilmu yg bermanfaat perlu ditingkatkan, karena dua item ini bertahan relatif lama. Walau semuanya itupun juga tidak kekal. Apapun bekas2 peninggalan kita setelah kita mati, termasuk anak keturunan, akan tetap tercatat. firman Allah: اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰ ثَا رَهُمْ ۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْۤ اِمَا مٍ مُّبِيْنٍ "Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuz)." (QS. Ya-Sin ayat 12) Amalan jariah selama masih digunakan, kita masih dapat manfaat walau jasad sudah jadi tanah. Namun jika karena satu dan lain sebab tidak digunakan lagi............. Ilmu yang diamalkan, tentu yang lebih kekal adalah memberikan ilmu tentang agama. Sebab kebenaran ilmu agama tetap lestari sampai kiamat, sepanjang turun temurun di suatu komunitas tsb masih beragama....... Kalau kelak mereka sudah tidak beragama lagi yaah........abis juga,,,..... karena siapa lagi yang me ngamalkan ilmu tsb. Makanya selama masih hidup harus ditanamkan kekuatan iman kepada generasi penerus supaya agama tetap dianut di negeri ini. Si ayah, si ibu, ngajari anaknya sembayang mengaji, diamalkan. Kemudian diturunkan lagi ke cucu, oleh anak kita, diturunkan ke cicit oleh cucu kita dstnya, agar ilmu agama ini diamalkan sampai hari kiamat. Dengan demikian awak penghuni alam barzah ribuan tahunpun masih dpt memetik manfaat dari ilmu yang diamalkan itu, insya Allah. Apakah ilmu agama (Islam), tetap lestari sampai kiamat, wallahu 'alam. Allah memang menjamin Islam ini tetap langgeng di dunia اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِ نَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr ayat 9) Terpeliharanya Al-Qur'an, berarti terpeliharalah Islam yg diajarkan Al-Qur'an itu, tetapi tidak ada jaminan terpelihara di kediaman kita....... Spanyol 7 abad lamanya penduduknya beragama Islam, kini tinggal kenangan. Karena itu ikhtiar melestarikan ilmu agama jangan disepelekan agar tetap bertahan sampai kiamat. Bukan mustahil, kalau nanti pengajaran ilmu agama tidak dianggap penting, berangsur tergerus keimanan generasi penerus, per-lahan2 ajaran agama tak diamalkan lagi. Terhentilah aliran pahala kita sesudah mati, padahal misalnya kiamat masih lama lagi. Kalaulah Islam ini tetap bertahan sampai hari kiamat di negeri kita ini, walaupun keturunan generasi kita Gendheng (keturunan ke tigabelas) dan seterusnya, tidak ingat lagi akan nama kita, apalagi wajah kita. Namun gerenasi yang akan datang masih akan tetap mendo’akan kita setiap shalat setidaknya 9 kali sehari semalam ketika duduk tahiyat: السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِين “semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh” Jika kita dulu semasa hidup jadi orang saleh, maka saban orang shalat tercakuplah kita dalam do’a mereka. Selanjutnya kalaulah masih tetap ada orang Islam di dunia ini, maka setiap hari Jum’at setidaknya seluruh jamaah Jum’at dipimpin khatib berdo’a untuk kita yang sudah berabad di alam barzah dengan do’a: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، Seluruh jamaah Jum’at dipimpin khatib mendo’akan untuk mengampunkan dosa seluruh muslimin dan muslimat baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Semoga anak, cucu, cicit, dan seluruh zuriat keturunan kita tetap konsisten menganut agama. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍۢ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 3 Jumadil Awal 1444 H. 27 November 2022. (1.065.11.22)

Thursday, 24 November 2022

NGAMEN

Kehidupan lain yang memproduksi barang, ataupun jasa yang dapat dinikmati secara phisik di DKI Jakarta, demikian beragam. Boleh dikata apabila mau berusaha selalu terbuka untuk mendapatkan penghasilan. Diantara model usaha itu seperti halnya tukang sayur, penjahit kelililing dan pengipas sate. Pengamen juga menempatkan diri mereka sebagai salah satu kegiatan memproduksi jasa, sepertinya mereka memposisikan diri sebagai “jasa hiburan”. Walau ada sebagian menilai mereka “mengganggu”, karena itu dari pada kehadiran mereka berlama-lama, segera saja dirogohkan recehan. Profesi ini cukup banyak yang menekuninya, lebih banyak ketimbang profesi disebut lebih dahulu disebutkan di atas. Karena justru penghasilannya cukup menjanjikan. Dari berita-berita dilansir media, penghasilan pengamen di DKI dapat berkisar ratusan ribu sampai sejutaan perhari. Wilayah operasi profesi pengamen, di lampu pengatur lalu lintas, dulu……..di dalam bis-bis kota, di pintu toko-toko di warteg dan juga dari pintu ke pintu rumah. Tidak kurang Pemda DKI ada perda no. 8 tahun 2007 yang mengatur bahwa dikenakan sanksi bagi pengamen di jalan-jalan juga kepada yang memberi uang kepada pengamen, karena dapat mengganggu ketertiban umum. Oleh karena itu sering dilakukan razia, tapi habis dirazia, muncul lagi. Bermacam sarana yang dipergunakan untuk ngamen, mulai dari alat musik, seperti gitar, gendang, bahkan hanya botol diisi pasir dan tidak jarang ada yang sedikit modal dengan menggendong radio tape berisi kaset lagu-lagu. Atau menyewa orang buta dan tidak sedikit menyewa bayi untuk digendong sebagai media ngamen. Teknik mengamenpun macam-macam diantaranya: Sebelum adanya Transjakarta, bila kita naik bis kota ada seorang atau beberapa pemuda di dalam bis kota setelah mengucapkan selamat siang atau salam agama; salah seorang, langsung nyerocos “saya baru saja keluar dari penjara, dihukum karena menodong, dari pada saya kambuh lagi tolong bagi yang punya receh berikan buat saya untuk sekedar penyambung hidup”. Kontan saja para penumpang terutama kaum wanita, tak banyak pikir merogoh tas cari uang logam apalagi lihat tampang seram ybs dan tato menghiasi pergelangan sampai ke siku. Alhamdulillah kini, bila naik Komuter line, bis Transjakarta, sudah terbebas dari pengamen. Pengamen di jalan umum di pemberhentian lampu pengatur lalu lintas, di jembatan penyeberangan orang, ada pula model pengamen memelas dan menghiba, dengan wajah sayu dan sedikit menyandang cacat diiringi seorang pebayu (pembantu=menuntun), bahasanya sederhana, kasihan pak, untuk makan-untuk makan sambil tangannya ditadahkan atau membawa wadah untuk nampung logam dari yang hatinya iba. Tidak terhitung jumlahnya yang memilih lahan operasi dari toko-ke toko dari gang ke gang pintu ke pintu dengan berbagai model antara lain tersebut di atas. Banyak komersialisasi cacat phisik kadang dibuat-buat, kakinya borok padahal diperban dengan tape singkong. Menggendong anak kecil dan pura-pura buta dan macam-macam cacat. Kalaulah penghasilan per hari pengamen di Jakarta ada diantaranya berpenghasilan kotor raturan ribu perhari seperti diberitakan di media. Berarti sebulan; jauh lebih tinggi dari gaji seorang ASN strata S1 yang baru masuk. Tidak heran kalau pekerjaan ini diminati banyak orang. Terdapat beberapa kawasan masih di sekitar DKI yang penduduknya mengambil bidang kalau ini boleh disebut profesi yaitu pengamen atau pengemis. Alasan umum mereka adalah dari pada menjadi maling, merampok, lebih baik ngamen. Hasilnyapun tidak sedikit. Dari pada bekerja membanting tulang memeras keringat belum tentu hasilnya sebegitu menjanjikan. Modal utama pekerjaan ini hanya berani merendahkan harga diri. Bagi yang menjaga harga diri itulah mereka yang mengambil bidang “Kipas-kipas”, membantu jualan sate di trotoar sesudah ashar sampai pukul 10 malam, “Goyang-goyang kaki”, menjadi penjahit keililing, masuk gang keluar gang, mempermak pakaian, ganti retsleting celana, “jalan-jalan pagi”, mendorong gerobag belanjaan. Kelompok disebut terakhir menjiwai pedoman hidup yang diajarkan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam; salah satu diantaranya: مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya” (HR. Bukhari no. 1474, Muslim no. 1040 ). Sekanjutnya meyakini betul bahwa semua mahluk dijamin rezekinya oleh Allah: وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا  ۚ كُلٌّ فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍ "Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Hud ayat 6). Oleh karena itu bagi orang2 yang khawatir memperoleh balasan tidak mengenakkan di hari kiamat nanti dan juga enggan harga dirinya “ternadirkan”, serta yakin atas jaminan Allah di surat Hud ayat 6 di atas, banyak juga mereka lebih baik memilih jadi pemulung. Lama kelamaan jadi pemulung, bila sudah bermodal meningkat jadi pembeli barang bekas dengan sarana gerobag. Lebih meningkat lagi karier sebagai pemulung adalah pengumpul barang bekas, yaitu membeli dari para pemulung biasanya bos pemulung ini sudah punya lahan untuk menimbun barang-barang bekas. Mata pencaharian seperti ini belum mendatangkan hasil yang baik bila dikerjakan di daerah-daerah kecil di Indonesia. Hanya Jakarta-lah kota yang agaknya benar-benar menjanjikan untuk usaha pengumpulan barang bekas, itulah sebabnya maka Jakarta jadi kebanjiran penduduk. Tiap sehabis mudik, jumlah warga yang masuk Jakarta mesti ada peningkatan dibanding jumlah yang keluar Jakarta ketika mudik. Semoga Allah memberikan Jalan rezeki yang halal-thayyiban-penuh keberkahan. آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 1 Jumadil Awal 1444 H. 25 November 2022. (1.064.11.22).

Tuesday, 22 November 2022

“NGOCO tho lee, Kowe iku anak e SOPO”

Puluhan tahun lalu, tepatnya pertengahan tahun 1992, oleh institusiku bertugas, kami sekeluarga dimutasi ke Jakarta. Dalam pergaulan keseharian kami bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat. Salah satu diantaranya ketemu dengan suatu keluarga anak2 mereka masih sedang bertumbuh, anak tertua sudah duduk di kelas satu es em pe, ayahnya pegawai rendahan di sebuah perusahaan swasta. Suatu hari si anak berdialog dengan Bapaknya: “Bapak; saya minta uang, nanti setelah pulang sekolah, mau langsung ke kolam renang, abis berenang mampir makan ke Mac D, ama teman-teman, juga mau mampir ke mall beli tas”…………... Si Bapak;…….. lama tidak menjawab sampai anaknya menghampiri sang Bapak 4 orang anak itu. Begitu anaknya mendekat, si Bapak berbisik kepada anaknya: “Ngoco tho lee, kowe ikuuu anak eee sopo”. Terjemahan bebasnya “Coba ngaca lah naak kamu itu anaknya siapa” yang maknanya kira2: “cobalah ukur sendiri kamu itu anaknya siapa, kenapa kok bergaya kayak anak orang yang ayahnya serba mampu”. Ungkapan ini sama persis hakikat maknanya dengan bahasa di kampung ku "GAGAP GA' TULANG RUSUK". Agaknya si anak tersadar bahwa si Bapak tak mungkin ngasih uang sesuai kebutuhan, kolam renang, sekaligus makan di Mac D dan juga beli tas. Jumlah uang yang tidak sedikit. Dengan lemas si anak berjalan ke ruang depan menanti temannya menjemput. Ketika teman-temannya menghampirinya si anak menjelaskan Ortunya tidak mengijinkan. Kasihan memang dengan ini anak, tapi dirinya mulai belajar bahwa hidup ini tidak sama, tiap anak sama duduk di bangku es em pe; tapi dirinya anak siapa harus disadari, karena setiap Bapak/Ibu (Ortu) tidak sama kemampuannya. Zaman kini, anak2 sekolah sejak Paud, TK, SD, SMP, SMA, berpakaian seragam, itu saja sudah cukup membebani ORTU zaman now. Tidak seperti kami zaman lampau. Tidak kenal PAUD, TK, langsung masuk SR (Sekolah Rakyat). Selama bersekolah sejak dari SR sampai SMA siswa tidak wajib berpakaian seragam. Jadi ORTU tidak ada pengeluaran biaya membeli seragam. Di SR alat belajar Batu tulis dan Grip yang dibagikan di sekolah. Pokoknya ringanlah beban ORTU nyekolahkan anak zaman lampau itu. Alhamdulillah, bocah es em pe puluhan tahun lalu itu, berkat mau menyadari "GAGAP GA' TULANG RUSUK" atau "Ngoco tho lee, kowe iku anak e sopo", kini sudah nenjadi Sarjana Tehnik berpenghasilan baik, sudah berumah tangga, telah menghadirkan beberapa orang cucu untuk Ortunya yang pernah mengingatkannya "Ngoco tho lee, kowe iku anak e sopo" Sepertinya kepada anak2nya pesan Bapaknya "Ngoco tho lee, kowe iku anak e sopo";. tetap membekas di dirinya. Biarpun dia cukup mampu jika anaknya minta seperti ketika dia masih es em pe dulu anak2nya dididik hidup sederhana, tidak semua apa yang diminta anaknya diperturutkan. Barangkali sikap Ortu yang tidak begitu saja memperturutkan maunya anak ini patut jadi acuan, karena kita tidak tau persis guratan nasib putra-putri kita dimasa depan. Tidak sedikit anak orang kondang kaya terpandang sepeninggal Ortunya berkehidupan susah. Sebaliknya banyak kasus, Ortunya yang melarat anak cucu keturunannya menjadi orang berada dan kenamaan. Allah ingatkan kehidupan ini tak baik kalau berlebihan, harus sederhana. Makan dan minum lah ( وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا), tapi jangan berlebihan( وَلَا تُسْرِفُوْا).- QS. Al-'Araf ayat 31. Sampai dalam bersedekah/berinfaqpun Allah beri petunjuk di surat Al-Furqan ayat 67: وَالَّذِيْنَ اِذَاۤ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا "orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar" Malah kita diajarkan berdo'a: ;رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِيْۤ اَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS. Ali 'Imran ayat 147). Semoga kita dapat mewariskan ke generasi penerus hidup sederhana walau dalam berkecukupan, sebagai wujud syukur akan nikmat Allah, selalu mengikuti petunjuk Allah s.w.t. آميّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــال اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 27 Rabiul Akhir 1444 H. 22 November 2022. (1.063.11.22).