Sunday, 17 April 2022
Taqwa, PERTOLONGAN Allah
Hampir semua manusia sanggup membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah, yang hak dan yang bathil. Ada beberapa sikap manusia terhadap hal tersebut yaitu:
1. Dengan sengaja tetap melakukan perbuatan bathil. Contoh pencuri, dia tau perbuatannya tidak baik, buktinya mereka berusaha melakukannya sembunyi2, menunggu kelengahan pemilik barang yang di curi……... Koruptor, berusaha agar perbuatannya tidak diketahui penegak hukum, dengan mengatur trik2 agar sedapat mungkin tidak terlacak.
2. Kadang2 melakukan perbuatan hak/benar/baik, kadang2 melakukan perbuatan bathil/buruk. Dalam hal ada pihak yang mengontrol, atau ketika iman sedang naik perbuatan baik dilakukan. Manakala iman sedang menurun, diiringi tidak ada system yang mengontrol maka kecendrungan kelompok ini berbuat bathil/buruk.
3. Dengan terpaksa melakukan perbuatan tidak baik. Tak punya kesempatan beramal baik. Kelompok ini terkondisi tidak dapat beramal shaleh, misalnya tak tersedia kemampuan. Berada dilingkungan orang2 yang berbuat bathil tak sanggup mengubahnya.
4. Berusaha sekuat tenaga menghindari perbuatan buruk/bathil, sekuat tenaga berbuat baik, beramal shaleh, ibadah yang tekun. Kelompok inilah yang dituju oleh ibadah puasa untuk mencapai taqwa.
Shaum Ramadhan bertujuan mencetak kelompok orang yang “sekuat tenaga menghindari perbuatan buruk/bathil dan sekuat tenaga beramal shaleh dengan istiqamah” yaitu orang2 yang TAQWA. Allah menjamin untuk orang2 yang taqwa dengan 3 (tiga) karunia:
1. Diberikan al-Furqan (kemampuan membedakan yang hak dan yang bathil)
2. Dihapuskan kesalahan2 (dosa2 kecil yang saban hari dapat saja terjadi)
3. Diampuni dosa2 (dosa2 besar yang mungkin sampai sekarang masih terus teringat dan terbayang).
Seperti ditegaskan Allah dalam surat Al-Anfal 29 berikut:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّـكُمْ فُرْقَا نًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ وَ اللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan bathil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar."
Seperti diungkapkan di awal tulisan, bahwa hampir semua orang mampu untuk “melihat FURQAN”, tetapi kenyataannya kelompok 1 sampai 3, tak dapat melaksanakan sepenuhnya amal shaleh dan menghindari amal salah atau amal yang bathil. Karena memang hanya orang yang taqwalah dikaruniai Allah kemampuan untuk meninggalkan hal yang bathil dan beramal shaleh, dengan pertolongan Allah:
Surat An-Nur (24) Ayat 21
ۚ……….. وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًۭا ۗ ……………….”
“……………..Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. ……………...”.
Dengan demikian di kesempatan shaum Ramadhan 1443H melewati sudah belasan hari ini, mari kita perbaiki penyerahan diri kepada Allah, sebab tanpa pertolongan Allah kita tak kan mampu mencapai taqwa. Sehingga bagus sekali jika senantiasa kita amalkan do’a
،اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ. ،وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnattiba’ah, wa arinal bathila bathila warzuqnajtinabah
‘’Ya Allah, tampakkanlah kepadaku kebenaran sebagai kebenaran dan kuatkanlah aku untuk mengikutinya serta tampakkanlah kepadaku kesalahan sebagai kesalahan dan kuatkan pula untuk menyingkirkannya.’‘ (HR Imam Ahmad)
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 16 Ramadhan 1443 H.
18 April 2022.
(936.04.22).
Saturday, 16 April 2022
TAK ada yang KEKAL
Ramadhan sudah separo tinggal.
Kuajak merenung bukan berhayal.
Apapun yang ada kan terjungkal.
Bukti di dunia ini tak ada yang kekal.
Contoh:
Mesin ketik yang ditemukan oleh Christopher Sholes, pada tahun 1868, kini tinggal jadi sejarah dengan ditemukan komputer dan printer. Doeloe sebelum ada teknologi foto copy, orang menyalin Ijazah; misalnya. Isi Ijazah diketik ulang di kertas lain kemudian dibawah salinan itu diketik tulisan "Disalin sesuai bunyi aslinya oleh ....(nama penyalin, biasanya nama yang berwenang di tempat ijazah itu dikeluarkan dan distempel basah)". Salinan itupun berlakulah sebagai telah dilegalisir. Dalam case ini dokumen asli tidak berarti berakhir, malah disimpan yang sebaik-baiknya untuk bila diperlukan ditunjukkan mendampingi salinan. Makanya dahoeloe “salin”, diartikan pula “meng kopi”. Sebuah naskah diketik ulang ke kertas lain disebut menyalin.
Betapa bersyukurnya kita sekarang ini, dengan adanya alat foto copy, sehingga melegalisir dokumen penting tak usah disalin ulang model doeloe. Tapi kini lahir lagi teknologi baru “Scanning”, menggunakan teknologi ini langganan saya usaha foto copy, mulai mengeluh pelanggan menyusut. Bukan tidak mungkin usaha foto copy akan berakhir.
Demikian juga teknologi elektronik, telekomunikasi dan transportasi, dengan lahirnya teknologi baru di bidang2 tersebut teknologi lama yang tertinggal lalu ditinggalkan. Beberapa kegiatan usaha dengan teknologi lama/system lama tak dapat lagi diteruskan. Usaha Wartel sudah menghilang dengan hadirnya HP. Pesan melalui telex, telegram sudah lama tak digunakan lagi.
Kemajuan teknologi merambah juga ke peran Ustadz dan Ustadzah, yang puluhan tahun belakangan dinantikan kehadiran memberikan pencerahan, ceramah di lapangan terbuka dan di masjid-masjid. Agaknya mulai tergantikan oleh youtube. Bahkan ada generasi millenial yang komentar: “itukan dapat diunggah dari internet, malah kita dapat dengar berulang-ulang”.
Penulisan buku juga demikian…….., dulu dalam rangka menambah koleksi ilmu, harus pergi berbelanja ke toko buku, kini buku2 elektronik demikian banyaknya dalam disiplin ilmu apa saja. Dengan mudah dapat di down load dan kemudian dicetak sendiri. Termasuk buku2 karangan ulama2 tempo doeloe berabad yang lalu, sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, juga bahasa Indonesia. Sekarang terpulang kepada semangat diri masing2 untuk memperdalam ilmu apa saja, melalui buku2.
Begitulah adanya produk apapun, kegiatan apapun di dunia ini sudah merupakan siklus; ada masa mulai (pertumbuhan) ada masa jaya dan pasti datang masa suram dan hilang. Jangan kan lagi suatu produk, atau kegiatan, diri awak pun semula tiada, muncul ke dunia, bertumbuh, remaja, kadang sampai tua, seterusnya pasti pergi tinggalkan dunia ini. Apatah lagi diri ini, sedang dunia inipun akan sirna.
Maha benar Allah melalui firmannya.
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ
"Apa yang ada di sisimu akan lenyap" (QS. An-Nahl ayat 96)
Semoga kita insyaf:
Ketika sukses sedang tertangkap.
Tak usah terlalu gembira me-luap2.
Manakala sukses sudah lenyap.
Tak pula terlalu nyungsep me-ratap2.
Allah ingatkan:
لِّـكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمْ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرِ
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri"
(QS. Al-Hadid ayat 23)
Dari uraian di atas, maklumlah kita bahwa semua ini akan berakhir.
Baiknya sejak sekarang kita semua gunakan pikir.
Agar tak menyesal di hari akhir.
Semoga Allah menyadarkan kita semua, akan semuanya tak ada yang kekal, sehingga dengan demikian memanfaatkan setiap detik dari kehidupan kita untuk beramal shaleh. Maksimalkan Ramadhan. Agar tak menyesal kemudian.
اَللَّهُمَّ صَحِّحْ أَجْسَادَنَا ا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا
وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالۤاخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْر
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 15 Ramadhan 1442 H.
17 April 2021.
(935.04.22).
Thursday, 14 April 2022
Tercipta SAMA rezeki BEDA
Mengutip petuah tetua kita di belahan Nusantara di tanah Jawa:
"Manungso kuwi dititah podho,
Nanging yen masalah bondo dijatah bedo,
Mulo manungso iku wajibe mung usoho karo ndungo.
Entuk rezeki sepiro atine sing nrimo,
Ora usah meri karo konco sak podho-podho...
Akeh wong stres... !
Mergo uripe ora beres... !"
Dari kutipan diatas, sungguh syarat akan makna. Menyadarkan kita bahwa ternyata takaran perolehan rezeki; tiap orang tdk sama. Tak usah jauh ambil permisalan; beberapa orang saudara kandung terlahir dari ortu yg sama, dibekali pendidikan yg setara oleh ortu mereka. Dlm perjalanan hidup ternyata tdk punya kesuksesan yg sama. Tdk punya kemewahan hidup yg sama. Itulah yg namanya "dijatah bedo"
Dalam hal ini Allah mengingatkan:
اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ ۗ وَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ
"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat."
(QS. 13 Ar-Ra'd, ayat 26)
Dlm pada itu, bicara soal rezeki, ketahuilah bahwa rezeki itu bukan hanya berwujud materi, maka bisa jadi yang tdk kelimpahan rezeki dlm wujud materi, dlm bentuk lain; umpamanya punya anak-anak yang sehat tampan dan cantik, bhakti kpd ortu. Boleh jadi rezekinya berupa kesehatan. Boleh jadi pula dikaruniai rezeki rasa syukur yang dalam.
Oleh karena itu jangan-jangan seseorang yg hidup serba kekurangan, tetapi justru rezekinya luas, karena "Entuk rezeki sepiro atine sing nrimo. Ora meri karo konco sak podho-podho".
Sementara orang yg terlihat kaya berkecukupan dapat saja pada hakikatnya sempit rezekinya, bila yang bersangkutan tak kunjung puas dengan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya.
Untuk ikhtiar menangkal kurang rasa besyukur itu diajarkan do'a oleh Rasulullah Muhammad s.a.w. Allahumma ini a'udzubika min qalbin la yasya' wamin nafsin la tasba'. y.i. mhn perlindungan dari hati yg tak pernah puas dan nafsu yg tak dpt dikendalikan.
Kini seluruh saudaraku kaum muslimin dan muslimat yang tidak berhalangan syar'ie sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sudah lebih 10 hari berpuasa, jika di posisi rezeki yang luas, sehingga jumlah harta dikaruniai Allah cukup nisabnya sampai haulnya, sudah pantas untuk menghitungnya guna di keluarkan zakat untuk saudara kita yang berhak menerimanya.
Justru perbedaan dalam rezeki
(Manungso kuwi dititah podho,
Nanging yen masalah bondo dijatah bedo) ini diatur Allah guna menguji manusia. Bagi yang kaya diuji apakah sanggup berbagi,
لَـتُبْلَوُنَّ فِيْۤ اَمْوَا لِكُمْ وَاَ نْفُسِكُمْ
"Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu" (QS Ali 'Imran 186)........ Sampai disuruh rasakan sendiri bagaimana orang miskin antara lain dengan melalui berpuasa.
Untuk saudara kita yang miskin diuji kesabarannya.
وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,"
(QS. Al-Baqarah ayat 155)
Semoga kita semua lulus dalam salah satu ujian hidup, berupa Perbedaan dalam perolehan rezeki.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 12 Ramadhan 1443 H.
14 April 2022.
(932.04.22).
Faedah Jum'atan
Jum'at begini pas di bulan Ramadhan lagi, jadinya teringat kisah seorang teman yg kini jadi taat ibadah, padahal semula terlahir dari keluarga agamanya hanya di KTP.
Rupanya ini teman ketika masih kuliah, sering diajak teman kosnya untuk shalat Jum'at. Ajakan itu kadang dipenuhi, kadang tidak dg berbagai alasan. Namun karena teman2 se kos tak bosan2nya ngajak ke masjid tiap Jum'at, frekuensi ikutan lbh banyak dari mangkir. Makin dekat ke semester akhir, tiap Jum'at hampir ikutan terus. Maklum ingin berdo'a agar cepat selesai kuliah, lancar nyusun tugas akhir.
Mula-mula yaa hanya sekedar shalat Jum’at, lama kelamaan karena sering Jum’atan dan mendengar khatib berkhutbah memberikan ajakan taqwa, akhirnya teman saya ini jadi taat bukan sekedar shalat hanya "sekali sepekan" malah jadi orang yang selalu memenuhi panggilan Allah sebanyak 5 kali sehari semalam.
Rupanya di salah satu shalat Jum'at, ada seorang khatib isi khutbahnya betul2 mengena di hati, sehingga menyadarkan diri teman ini tentang begitu pentingnya shalat, bukan hanya shalat Jum'at tetapi shalat wajib 5 waktu sehari semalam. Sampai ada hadits:
Riyadhus Sholihin, Kitab Al-Fadhail, Bab 193. Perintah Menjaga Shalat Wajib dan Larangan serta Ancaman yang Sangat Keras bagi yang Meninggalkannya
Hadits #1081
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]
Dalam keseharian, ummat Islam dipanggil Allah untuk menghadap-Nya, selama lima waktu. Yaitu mulai subuh, ketika tidur sedang nyenyak-nyenyaknya. Selanjutnya dzuhur ketika kerja sedang asik-asiknya. Dilanjutkan ashar di saat badan sudah letih bekerja dan penat mengurus/memikirkan urusan dunia. Disambung maghrib ketika sedang remang2 pertukaran siang dengan malam. Jeda sejenak datang waktu isya’ dimana sedang asyik bercengkrama dengan keluarga.
Rujukan panggilan shalat tsb tersurat (QS. Al-Isra' ayat 78)
اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ ۗ اِنَّ قُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ كَا نَ مَشْهُوْدًا
"Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) subuh. Sungguh, sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."
لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ
Sejak matahari tergelincir:
Shalat Dzuhur dan Ashar.
اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ
Gelap malam:
Shalat Maghrib dan Isya.
وَقُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ
Ketika fajar:
Shalat Subuh.
Bagi orang yang belum menikmati manisnya iman, seperti teman saya tadi sebelum sering ikut Jum'atan, memang terasa panggilan ini cukup merepotkan, sebab momen panggilan itu kebetulan diikuti keadaan yang cukup memberi alasan untuk sulit memenuhinya.
* Misalnya ketika subuh,
dlm hati terbersit pikiran "sebentarlah tidur lagi enak, nanti kalau dipaksa bangun kepalanya akan pusing. Malam tadi kebetulan tidurnya terlambat”, kata orang yang berat melaksanakan shalat dan banyaklah lagi alasan untuk membenarkan diri untuk tidak shalat subuh utamanya bagi lelaki, seharusnya pergi ke masjid.
* Dzuhurpun tiba, begitu adzan berkumandang, pas lagi sibuk kerja, “tanggung tinggal sedikit lagi”, ntar waktu dzuhur kan masih panjang”. pikir kebanyakan orang yang punya kesibukan. Al hasil panggilan itu di-cuek-kan. Tak sengaja memang, ....., tau-tau sudah masuk waktu ashar belum sempat shalat dzuhur.
* Ashar masuk, suara adzan berkumandang lagi memanggil untuk shalat dan untuk kemenangan. Bagi orang yang imannya tipis ada saja alasannya, misalnya: “sebentar lagi pulang, nanti shalat di rumah saja, ini pakaian kurang bersih ndak sreg. Apa gunanya shalat kalau tidak tenang, kalau ragu apakah bersih badan dan pakaian”.
Taunya ketika pulang kerumah dari tempat pekerjaan, ternyata jalanan macet, atau ada apa saja halangan yang sulit diprediksi. Akhirnya shalat asharpun lewat begitu saja.
* Maghrib baru saja sampai di rumah, lagi kecapean belum istirahat, belum mandi entah apa lagi, banyaklah alasan sehingga shalatpun tidak dikerjakan.
* Waktu isya’ sudah terlanjur tertidur, akhirnya panggilan Allah seharian itu satu kalipun tidak dapat dipenuhi dengan berbagai alasan.
Para pendahulu orang beriman orang-orang dekat Rasulullah Muhammad ﷺ , mana kala terdengar panggilan adzan, walau sedang apapun ditinggalkan.
Ibarat kata sedang mencangkul tanah, begitu mendengar adzan cangkul yang hrsnya diayunkan ke depan dibatalkan yaitu langsung dilepas atau malah dilempar ke belakang atau ke samping. Sebab takut kalau sampai tercangkul, maka tanah hasil cangkulannya bila ditanami tanaman dan tumbuh menjadi tanaman yang dimakan, akan menghasilkan sesuatu yang haram. Makan sesuatu yang haram mengakibatkan sekurangnya tiga hal yaitu: Pertama ibadah tidak diterima, kedua do’a tidak terkabul/ditolak dan ketiga daging yang dihasilkan makanan yang haram dibakar dengan neraka.
Praktek langsung melepas segala kegiatan ketika adzan, masih berlangsung di Mekkah atau Madinah, disana dpt disaksikan disiplin shalat ini, terindikasi pada para pedagang. Begitu adzan berkumandang, andaikan kita sedang tawar menawar barang, sdh OK misalnya, ambil uang dari dompet, mau bayar, lantas terdengar adzan, mereka sdh tdk bersedia lagi terima duitnya. Dagangan langsung ditutup dg kain tebal atau terpal. Pedagang menuju masjid gabung shalat.
Dari panggilan yg lima ini;
ada memang orang yang masih lumayan baik, dapat mengerjakan shalat utamanya shalat maghrib, dengan berjamaah di masjid dekat rumahnya pula. Lumayanlah ada pengakuan, walau hanya sekedar shalat harian. Ada juga kelompok masyarakat ini yang shalat memang mengambil harian seperti shalat maghrib tadi.
Juga ada yang shalat pekanan, yaitu sepekan sekali yaitu hanya hari Jum’at, ikut shalat Jum’at. Seperti teman yg saya angkat dikisah ini alhamdulillah jadi taat.
Bahkan ada yang tahunan, kelompok ini sibuk sekali ikut shalat Idul Fitri di hari lebaran.
Bagi yang shalat pekanan apa lagi harian, masih berpotensi untuk memenuhi panggilan utama Allah yg lima ini, contoh teman saya tadi mendapat faedah di shalat Jum'at.
Semoga kita semua termasuk orang yg sangat memperhatikan panggilan Allah berupa "panggilan shalat" ini, sblm datang panggilan penutup yaitu "panggilan maut".
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 13 Ramadhan 1442 H.
15 April 2021.
(933.04.22).
Wednesday, 13 April 2022
Sudahkah MENJADI Hamba Allah ?
Hari ini, shaum Ramadhan 1443 H telah memasuki lebih sepuluh hari. Sebagai renungan menjelang berbuka ketengah sidang pembaca, ijinkan saya menyuguhkan tulisan “seperti apakah agaknya seseorang dapat menyandang gelar Abdi Allah atau Hamba Allah”. Sudah menjadi model, seseorang berinfaq melalui panitia masjid, tidak ingin namanya disebut, minta kepada pengurus masjid kalau diumumkan sebut saja dari “Hamba Allah”.
Untuk menjadi “Abdi Allah” yang Maha Rahman diinformasikan oleh Al-Qur'an diantaranya dapat ditelusuri pada surat Al-Furqan ayat 63 sampai 68, 70 dan 72-74 sebagai berikut:
وَعِبَا دُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَ رْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَا طَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَا لُوْا سَلٰمًا
"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, "salam,""
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 63)
وَا لَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَا مًا
"dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 64)
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَا بَ جَهَـنَّمَ ۖ اِنَّ عَذَا بَهَا كَا نَ غَرَا مًا
"Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,"" (QS. Al-Furqan 25: Ayat 65)
وَا لَّذِيْنَ اِذَاۤ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَا نَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَا مًا
"Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar," (QS. Al-Furqan 25: Ayat 67)
وَا لَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِا لْحَـقِّ وَلَا يَزْنُوْنَ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَا مًا
"dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat," (QS. Al-Furqan 25: Ayat 68)
اِلَّا مَنْ تَا بَ وَاٰ مَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًـا فَاُ ولٰٓئِكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْ رًا رَّحِيْمًا
"kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 70)
وَا لَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ ۙ وَ اِذَا مَرُّوْا بِا للَّغْوِ مَرُّوْا كِرَا مًا
"Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya,"
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 72)
وَا لَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِاٰ يٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَّعُمْيَا نًا
"dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 73)
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
"Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.""
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)
1. Sopan dalam menjalani kehidupan ini dan tidak bosan melayani atau berhubungan dengan orang yang kurang pandai. Bahkan jika disapa orang Jahil dia membalasnya dengan “salam”. (ayat 63)
2. Suka bangun shalat malam, tetapi tetap bersemangat bekerja di siang hari sehingga berhasil menghimpun rezeki yang halal untuk dapat dinafkahkan di jalan Allah. (ayat 64)
3. Dianya selalu berdo’a agar dijauhkan Allah dari azab api neraka, sebagai upayanya adalah menjauhi segala macam yang dilarang Allah dan menjalankan sekuat tenaga apa yang diperintahkan Allah. Karena mengimani betul apa yang diingatkan Allah bahwa azab neraka itu sangat memilukan dan seburuk-buruk tempat tinggal. Mengimani bahwa kehidupan akhirat itu ada dan kekal adanya. (ayat 65)
4. Menafkahkan rezeki yang diperolehnya untuk amal kebaikan dengan tidak berlebihan atau boros tetapi juga tidak kikir. Berada di tengah-tengah antara keduanya. Dapat menempatkan kemana rezeki yang diterima itu dinafkahkan, dalam arti tidak sembarang memberi. Memberikan harta setelah mengetahui bahwa penerima pemberian/infak sadakah tersebut tepat alamatnya. (ayat 67)
5. Tidak mensekutukan Allah.Dalam arti bahwa hanya Allah saja tempat menyerahkan diri, hanya Allah saja yang perintahnya patut dipatuhi, hanya Allah saja yang larangannya patut dituruti. Hanya Allah saja yang patut ditakuti. Sehingga orang yang Ibadurrahmah jiwanya merdeka. (Ayat 68)
6. Tidak membunuh sesama manusia tanpa hak (ayat 68)
7. Tidak berzina (ayat 68)
8. Tidak berdusta dan bersaksi palsu (ayat 72)
9. Tidak berbicara yang tak bermanfaat. Dalam konteks sosial media, tentu yg dimaksud juga tidak menulis hal-hal yang tak bermanfaat. (ayat 72)
10. Kalau masa lalunya berlumur dosa untuk masuk menjadi Ibadurrahman, segera bertobat. Bagi yang benar-benar bertobat maka Allah akan menggantikan kejahatannya dengan kebaikan. Dengan syarat sesudah bertobat mengerjakan amal-amal shalih. (ayat 70)
11. Selanjutnya, bila diingatkan dengan ayat-ayat Allah tidaklah mereka menulikan telinganya dan membutakan matanya. Pengertiannya tidak pura-pura tidak mendengar, pura-pura tidak melihat tanda tanda kebesaran Allah. (ayat 73)
12. Orang yang Ibdurrahman, selalu berdo’a agar isteri dan anak-anak keturunannya menjadi cahaya mata dan menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa kepada Allah. (ayat 74)
Dari 12 tanda seseorang masuk kelompok abdi Allah yang Rahman, mungkin cocok buat kita menilai diri, apakah sifat-sifat dan perilaku tersebut diatas sudah ada pada kita?, kalau belum semua, sampai dimanakah sudah kita lakoni. Semoga kita bertekad setahap demi setahap melaksanakannya agar sampailah kita keujung hayat ini berujung dengan kesudahan yang baik, dikenal dalam terminologi agama “Husnul Khatimah”. Lantaran sudah menjadi hamba Allah yg Maha Rahman. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
Demikian, lebih kurang mohon dimaklumi, sekaligus dimaafkan. Semoga bermanfaat
بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 11 Ramadhan 1443 H.
13 April 2022.
(931.04.22).
Tuesday, 12 April 2022
Per-ANDAI-an
Siapun, dengan status sosial apapun, manusia ini sama, selama hidupnya melalui 3 (tiga) masa. Masa lampau, masa kini dan masa depan. Masa lalu tinggal kenangan, sekelumit telah ditulis di artikel sebelum ini. Pointnya; jika masa lalu banyak berbuat dosa, segera bertobat, jika dalam membuat keputusan terdapat kesalahan yang merugikan, tidak diulangi, jadikan pelajaran.
Diantara “masa lalu” dan “masa depan” ditengahnya terdapat “masa kini”. Masa kini merupakan “masa depan” ketika kita berada di “kemarin” atau “masa lalu”. Di tulisan ini tertarik untuk mengemukakan lebih dahalu tentang “masa depan”, Sebab “masa depan”, masih belum ketahuan, masih dalam angan2 atau ber-andai2.
Membuat perencanaan masa depan, cita-cita......... Halal2 saja di-andai2 saat sekarang untuk sesuatu esok, pekan depan, bulan depan, tahun depan dstnya, untuk dunia. ……….Hidup tanpa cita2 bagai kendaraan tak ada kemudi. Justru cita2 itu penting agar semangat hidup tinggi. Perkara berhasil atau gagal itu adalah urusan Allah.
Andai2 ke depan yang sangat penting bagi orang beriman adalah hari depan akhirat. Tak seorang yang tidak kesana, baik yang percaya ataupun yang tidak percaya, pasti akan ke akhirat.
Makanya khusus mengenai, per-andai-an ke depan/akhirat ini Allah perintahkan:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr ayat 18).
Berbicara soal per-andai-an, Allah juga mengajari manusia untuk ber-andai2, dibeberapa ayat al-Qur’an. Salah satunya baik kita kutip surat Luqman ayat 27 berikut ini:
وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَ رْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَا مٌ وَّا لْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
Per-andai-an masa depan itu, ada dua sisi yaitu untuk di dunia ini, dan juga untuk di akhirat. Untuk di dunia per-andai-an itu kalau mau lebih rinci dapat lagi di bagi menjadi Jangka pendek. Jangka menengah dan jangka panjang.
Sedangkan per-andai-an masa depan akhirat agaknya tersedia “jangka panjang”, begitu leeep Roh pisah dari badan langsung masuk ke per-andai-an masa akhirat, dimulai di alam kubur, tak dapat di revisi lagi. Bagaimana inginnya posisi kita di kubur nanti, bagaimana posisi kita menghadapi mahkamah Allah nanti, haruslah sudah di per-andai-kan dari sekarang.
Per-andai-an di dunia, bagi yang masih muda belia per-andai-an dengan cita2, nanti pengen jadi apa, guna mengejarnya harus bagaimana. Bagi yang sudah selesai pendidikan dan mampu berusaha sendiri pernencanaannya meniti jenjang karier, cita2 sampai di mana. Boleh saja ber-andai2 yang setinggi-tingginya. Selanjutnya untuk yang sudah punya anak2 per-andai-an, akan dijadikan apa anak2 mereka nanti. Sebaiknya merencanakan anak bukan hanya untuk kebahagiaan di dunia saja, tetapi juga lebih penting untuk akhirat.
Ber-andai2 yang positif justru إِن شَآءَ ٱللَّهُ berpahala, misalnya ber-andai tentang masa depan anak2 keturunan kita:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا
"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 9).
Tentu selain persiapan masa depan di dunia, kita tidak boleh lengah mempersiapkan masa depan akhirat baik untuk diri sendiri, anak istri dan keluarga kita semuanya karena Allah me-wanti2:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)
Demikian sekelumit per-andai-an untuk “masa depan” bagi kita di dunia dan akhirat, baik untuk diri sendiri juga untuk keluarga, anak2 keturunan kita. Semoga Allah menyertai setiap per-andai-an yang baik yang kita susun, sehingga dengan izin Allah terlaksana.
بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 10 Ramadhan 1443 H.
12 April 2022.
(930.04.22).
Monday, 11 April 2022
MENGENANG masa LALU
Hujan dan panas selalu bergilir.
Kadang panas kadang hujan.
Sudah lepas jangan dipikir.
Baiklah fokus kemasa depan.
Namun banyak juga orang yang suka nyesali masa yang sudah lewat. Nyesali kejadian yang telah lalu atau sudah di belakang. Mengenang masa lalu, perlu memang, untuk sebagai pelajaran agar tak mengulangi kekeliruan yang sama. Tapi hati2, ada mengenang masa lalu yang malah berdosa;
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقَا لُوْا لِاِ خْوَا نِهِمْ اِذَا ضَرَبُوْا فِى الْاَ رْضِ اَوْ كَا نُوْا غُزًّى لَّوْ كَا نُوْا عِنْدَنَا مَا مَا تُوْا وَمَا قُتِلُوْا ۚ لِيَجْعَلَ اللّٰهُ ذٰلِكَ حَسْرَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْ ۗ وَا للّٰهُ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۗ وَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang kafir yang mengatakan kepada saudara-saudaranya apabila mereka mengadakan perjalanan di bumi atau berperang, Sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh. (Dengan perkataan) yang demikian itu, karena Allah hendak menimbulkan rasa penyesalan di hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Ali 'Imran ayat 156).
Jadi jangan menyesali, misalnya salah ambil keputusan. Biarpun karena keputusan itu jadinya pahit, apaboleh buat, sdh terlanjur. Tak mungkin “jarum masa” diputar mundur. Jika keputusan itu berupa dosa, bertaubat. Jika keputusan itu salah; membuat rugi, evaluasi jangan terulang.
Rasulullah Muhammad ﷺ memberikan sebuah konsep dalam menghadapi masa lalu dan masa depan. Hal ini tergambar jelas dalam sebuah sabda beliau:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : “الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah bersabda, “Orang mukmin yang kuat
lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan dalam keduanya ada kebaikan. Semangatlah untuk melakukan hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Dan ketika sesuatu menimpamu maka janganlah kamu katakan: “Seandainya dahulu aku melakukan hal yang ini maka akan terjadi seperti ini dan itu” tapi katakanlah: “Ini adalah takdir Allah dan apapun yang Dia kehendaki pasti akan terjadi” karena kata-kata “Seandainya (Lau)” akan membuka amalan setan.” (HR. Muslim 4186, Ibnu Majah 76)
Ketahuilah bahwa setiap orang sama, yaitu hidup dalam 3 (tiga) masa; masa lalu masa kini dan masa nanti. Insya Allah masa “kini” dan masa “nanti” dimuat di artikel berikutnya.
Bilamana masa lalu kita penuh hal yang kurang menyenangkan, kita evaluasi apa sebabnya agar tidak terulang. Jika misalnya dimasa lalu pernah terisi oleh dosa2, mari di kesempatan yg masih tersedia, sepanjang roh masih di jasad untuk bertaubat.
Semoga Allah mengampuni dosa2 kita semua sebagaimana dijanjikan Allah di Az-Zumar 53
قُلْ يٰعِبَا دِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
"Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 9 Ramadhan 1443 H.
11 April 2022.
(929.04.22).
Subscribe to:
Posts (Atom)