Friday, 8 April 2022

JANGAN bosan MENGINGATKAN

Beberapa hari sudah kita jalani shaum Ramadhan 1443 H. Rata-rata masjid2 masih penuh oleh jamaah shalat, utamanya shalat tarawih. Apalagi dua Ramadhan yang lalu hampir di banyak tempat tidak dapat melaksanakan shalat tarawih. Ketika Pandemi, di banyak masjid berjemaah dengan berjarak. Kembali kini terdengar lagi seruan imam sebelum takbir antara lain: أقيموا الصَفَّ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ إِقَامَةَ الصَفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ Luruskan shaf dalam shalat, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat. (HR. Muslim 435 Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan, ) Seruan2 ini terus saja diingatkan kepada jamaah, walau sebetulnya jamaah mungkin sudah lama tau . Memang pada kenyataannya walau sudah saban hari diingatkan masih saja saling mempersilahkan untuk mengisi shaf yang kosong. Naaaah para pembaca yang sedang berpuasa. Jamaah dewasa saja masih harus terus-menerus diingatkan. Buktinya imam shalat, tak bosan2nya berseru dengan kalimat di atas intinya minta "Rapat kan dan luruskan shaf. Tolong yang didepan penuhkan dulu, baru shaf berikutnya. Isi shaf yg masih kosong". Apalagi khusus buat anak2 yang ikutan shalat berjamaah. Ada saja polah mereka mengganggu temannya, sehingga suasana shalat tidak hening. Tapi mereka ini jangan dibentak, jangan dilarang, atur mereka dengan penuh kasih sayang dan bijak. Karena di tangan merekalah penerus ahli masjid dimasa mendatang. Jamaah dewasa saja kita akui tidak otomatis.....shaf rapat dan lurus, shaf masih aja mengular, masih aja ada yang renggang, belum lagi yang berperilaku membuka kaki terlalu lebar. Mestinya shaf muat untuk 3 orang, cuma dapat 2 orang. Kerapian shaf terasa akan mempengaruhi kekhusyukan shalat. Padahal akibat tidak khusyuk dalam shalat diberitahukan buat kita semua, dilanjutan ayat 16 Al-Hadid tadi: وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ "dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik." Menurut ayat di atas, tidak khusyuk dalam shalat, HATI bakal menjadi KERAS selanjutnya menjadi orang FASIK. Naudzubillahi min dzaliik. Merujuk pada Al-Qur'an surat Al-Baqarah 45-46. وَاِ نَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ ۙ "Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk," (Al-Baqarah 45) الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَ نَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ "(yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (Al-Baqarah 46). Butir2 pesan dari ayat 45 dan 46 surat Al-Baqarah tsb: Bahwa shalat hrs khusyuk, Allah tau khusyuk itu berat. Oleh karena khusyuk itu berat, Allah memberi petunjuk untuk khusyuk di ayat 46: *. Yakin ketika shalat diri ini sedang berhadapan dg Allah. *. Yakin bahwa diri ini akan kembali kepada Allah (mati). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahya. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud). Kita serahkan saja kpd Allah, karena Allah lah yg berhak memberi nilai pahala shalat kita. Yang dapat kita lakukan hanya berusaha shalat se khusyuk mungkin. Melakukan shalat sesuai dengan syarat dan rukun mengacu kepada yang dicontohkan Rasulullah. Pengetahuan cara2 shalat sesuai contoh Rasulullah, kita terima dari guru2 ustadz2 yg membimbing kita shalat. Ditambah lagi dengan mengikuti pengajian2. Dari hari ke hari berusaha terus menambah ilmu (ttg shalat khususnya) dari berbagai sumber yang memberikan dalil Al-Qur'an dan Hadits. Diri kita jangan bosan terus memperdalam ilmu agama, khususnya agar menjadi lebih khusyuk dalam shalat, karena shalat barometer nilai ibadah kita kepada Allah. Kepada para imam tidak usah bosan mengingatkan jamaaahnya untuk kesempurnaan shalat. Pengurus masjid hendaklah dapat dengan bijak mengayomi anak2 yang ikut shalat di masjid, sebab mereka adalah penerus kita. Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini) dan dari syaithan. Mohon maaf oleh karenanya. …...Wallahu ‘alam bhisawab. Semoga dengan banyak mendengar dakwah dan mengaji serta mengkaji Al-Qur'an dan hadits2, semakin tinggi ilmu shalat kita dan semakin meningkat ke-khusyuk-an kita. بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن وَ الْسَّــــــــــلاَمُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 6 Ramadhan 1443 H. 8 April 2022. (927.04.22).

Wednesday, 6 April 2022

IKHLAS Gerbang KE-EMPAT taqwa

Inti dari ibadah adalah “IKHLAS”, baik ibadah tertuju langsung kepada Allah, maupun ibadah kepada Allah dengan berbuat kebaikan sesama manusia dan makhluk. Kelompok orang yang beribadah dengan Ikhlas ini dalam terminology agama disebut “MUKHLASIN”. Untuk memasuki ‘KOTA TAQWA” dimana berhimpun orang-orang taqwa. GERBANG yang harus dilalui ada sebanyak EMPAT Gerbang. Pintu gerbang pertama yaitu Muslimin, pintu gerbang ke dua yaitu Mukminin dan pintu gerbang ketiga Muhsinin telah kita renungkan bersama sebelum ini, yaitu orang-orang yang mengimani Islam sebagai jalan hidupnya, orang-orang yang dengan penuh keimanan dengan seperangkat cirri-ciri atau identitasnya dan yang ketiga orang Islam Beriman dan Beramal shaleh. Menuju masuk ke “Kota Taqwa”, belum sampai kalau hanya berhenti di GERBANG MUSLIMIN, GERBANG MUKMININ dan MUHSININ harus melanjutkan lagi ke gerbang berikutnya yaitu MUKHLISIN (orang YANG IKHLAS). Akan hal seseorang telah tergolong masuk ke pintu Gerbang MUKHLISIN ini, mari kita renungkan apakah diri kita ini termasuk didalamnya. Di dalam Al-Qur’an cukup banyak ayat memberikan informasi akan hal Ikhlas tersebut. Untuk itu ayo’ kita liat mumpung kita saat bulan Ramadhan ini sedang mentadhaburi Al-Qur’an. Perihal keikhlasan beribadah kepada Allah: • Al-Baqarah (surat ke 2) ayat 139. قُلْ اَ تُحَآ جُّوْنَـنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّکُمْ ۚ وَلَنَاۤ اَعْمَا لُـنَا وَلَـكُمْ اَعْمَا لُكُمْ ۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ  "Katakanlah (Muhammad), "Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati." • Al-A’rraf (surat ke 7) ayat 29. قُلْ اَمَرَ رَبِّيْ بِا لْقِسْطِ ۗ وَاَ قِيْمُوْا وُجُوْهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّا دْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۗ كَمَا بَدَاَ كُمْ تَعُوْدُوْنَ  "Katakanlah, "Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap sholat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula." • Az-Zumar (surat ke 39) ayat 2, 11, dan 14. اِنَّاۤ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَقِّ فَا عْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ  "Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. قُلْ اِنِّيْۤ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ  "Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama." قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهٗ دِيْنِى  "Katakanlah, "Hanya Allah yang aku sembah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku."" Dari ayat-ayat tersebut di atas dapat difahamkan bahwa orang yang ikhlas itu melakukan amal perbuatan hanyalah karena Allah semata. Orang-orang yang ikhlas inilah yang kebal terhadap godaan Iblis/syaithan, dalam posisi, kondisi dan status apapun dianya berada. Guna meyakinkan bahwa Ikhlas merupakan benteng dari godaan iblis, patut kita renungkan dialog Allah dengan Iblis yang termuat dalam surat Shad (surat ke 38) dari ayat 78 sampai 85 dipetik terjemahannya sebagai berikut: وَّاِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِيْۤ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ "Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari Pembalasan."" (QS. Sad 38: Ayat 78 قَا لَ رَبِّ فَاَ نْظِرْنِيْۤ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ "(Iblis) berkata, "Ya Tuhanku, tangguhkanlah aku sampai pada hari mereka dibangkitkan."" (QS. Sad 38: Ayat 79) قَا لَ فَاِ نَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ  "(Allah) berfirman, "Maka sesungguhnya kamu termasuk golongan yang diberi penangguhan," (QS. Sad 38: Ayat 80) اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ "sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)."" (QS. Sad 38: Ayat 81) قَا لَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ  "(Iblis) menjawab, "Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya," (QS. Sad 38: Ayat 82) اِلَّا عِبَا دَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ "kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka."" (QS. Sad 38: Ayat 83) قَا لَ فَا لْحَقُّ ۖ وَا لْحَقَّ اَ قُوْلُ  "(Allah) berfirman, "Maka yang benar (adalah sumpahku), dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan." (QS. Sad 38: Ayat 84) لَاَ مْلَئَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ اَجْمَعِيْنَ "Sungguh, Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan kamu dan dengan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya."" (QS. Sad 38: Ayat 85) Di ayat 83 Iblis sendiri mengaku bahwa dianya tak sanggup untuk menggoda orang yang MUKHLIS. Harapan kita tentunya dapat menjalankan Ibadah puasa dan ibadah-ibadah pengiringnya dengan se Ikhlas-ikhlasnya, agar tergolong orang yang MUKHLISIN. آمِيّنْ Sebetulnya ada lagi Gerbang yang selalu mendampingi setiap kita akan masuk ke setiap gerbang Muslimin, Mukminin, Muhsinin, Muhlashin. Gerbang ini boleh juga disebut gerbang MUSINGIN di dalamnya berkumpul kelompok orang2 yang memusingkan bila dipikirkan. Tapi hendaknya gerbang ini tidak kita tengok. Di gerbang MUSINGIN ini, adalah teman kita, atau mungkin juga saudara kita, atau mungkin darah daging kita sendiri. Sudah puas dinasihati, diajak, diberi contoh, untuk ibadah kepada Allah tapi tetap tidak berkenan. Tak jarang orang di kelompok MUSINGIN ini memegang posisi strategis dalam masyarakat, mungkin karena ketokohannya, atau karena kekayaannya. Sudahlah yang demikian itu kita tinggalkan saja yang penting kita telah berikhtiar men da’wahinya baik dengan lisan dan perbuatan. Kita tidak punya hak hidayah. Karena hidayah itu milik Allah. Apalagi kita, sedang beberapa Nabi dikisahkan tak dapat mengajak orang yang dicintainya untuk beriman. Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini) dan dari syaithan. Mohon maaf oleh karenanya. …...Wallahu ‘alam bhisawab. Demikian renungan sebelum berbuka puasa hari ini, dengan GERBANG KE-EMPAT taqwa, merupakan gerbang terakhir, menuju ke perkampungan orang taqwa. Semoga puasa kita hari ini diterima Allah dan kita sempurnakan niat kita berpuasa bukan karena hal-hal lain, semata-mata karena menjalankan perintah Allah. بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن وَ الْسَّــــــــــلاَمُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 5 Ramadhan 1443 H. 7 April 2022. (926.04.22).

Tuesday, 5 April 2022

Gerbang KETIGA taqwa; MUHSININ

Untuk memasuki ‘KOTA TAQWA” dimana berhimpun orang-orang taqwa. GERBANG yang harus dilalui ada sebanyak EMPAT Gerbang. Pintu gerbang pertama yaitu MUSLIMIN, pintu gerbang ke dua yaitu MUKMININ telah kita renungkan bersama sebelum ini, yaitu orang-orang yang mengimani Islam sebagai jalan hidupnya dan orang-orang yang dengan penuh keimanan dengan seperangkat cirri-ciri atau identitasnya. Menuju masuk ke “Kota Taqwa”, belum sampai kalau hanya berhenti di GERBANG MUSLIMIN, dan GERBANG MUKMININ, harus melanjutkan lagi ke gerbang berikutnya yaitu MUHSININ (orang berbuat baik). Akan hal seseorang telah tergolong masuk ke pintu Gerbang MUHSININ ini, mari kita renungkan apakah diri kita ini termasuk didalamnya. untuk itu ayo’ kita buka acuannya pada Al-Qur’an mumpung kita saat bulan Ramadhan ini sedang mentadhaburi Al-Qur’an. Di tiga ayat surat Lukman (31) ayat 2,3, dan 4. bila disarikan, informasi dari Al-Qur’an bahwa: تِلْكَ ءَايٰتُ الْكِتٰبِ الْحَكِيمِ "Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah," هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ "sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan”, الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ بِالْأَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ "(yaitu) orang-orang yang melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat." • Orang yang MUHSINin (berbuat baik) itu pabila dianya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk untuk hidup ini, termasuk pedoman untuk berbuat kebajikan itu mengacu kepada Al-Qur’an. • Kelompok MUHSININ itu adalah orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan yakin adanya negeri akhirat. Orang Muhsin, dengan konsisten mendirikan shalat, dirinya terpelihara dari perbuatan tercela. Orang Muhsin, dengan taat mengeluarkan zakat bila mampu dan setidaknya berinfak serta bersedekah (bila belum wajib zakat), dengan begitu punya kepedulian sosial tinggi. Orang Muhsin yakin akan adanya hari akhirat sehingga ybs. akan berbuat dan beraktivitas selalu mengingat bahwa bila melakukan kedzaliman kepada sesama akan ada pembalasan di hari akhirat sehingga tingkah polahnya selalu terkontrol dalam koridor ketentuan agama. Surat An-Najm (53) ayat 32 bila kita ambil maknanya mengingatkan bahwa orang MUHISININ itu adalah: الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبٰٓئِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوٰحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ  ۚ إِنَّ رَبَّكَ وٰسِعُ الْمَغْفِرَةِ  ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهٰتِكُمْ  ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا أَنْفُسَكُمْ  ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰىٓ "(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertaqwa." • Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Allah maha luas ampunannya. • Sadar betul bahwa Allah yang menciptakan dirinya dari tanah dan diproses di perut Ibu. (sehingga tidak sombong dan berbangga karena tau asal kejadiannya). • Tidak merasa diri suci (karena itu selalu meminta ampun kepada Allah dan terus menerus berbuat kebaikan) Demikian renungan sebelum berbuka puasa hari ini, dengan GERBANG KE-TIGA taqwa, gerbang ke empat semoga dapat kita renungkan di kesempatan mendatang, Insya Allah. Semoga puasa kita hari ini diterima Allah dan kita sempurnakan niat kita berpuasa bukan karena hal-hal lain, semata-mata karena menjalankan perintah Allah. Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini) dan dari syathan. Mohon maaf oleh karenanya. Wallahu ‘alam bhisawab. Mudah2 an Allah mudahkan kita semua menjalankan shaum Ramadhan ini, sehingga berhasil menjadi orang2 yang taqwa. بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن وَ الْسَّــــــــــلاَمُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 4 Ramadhan 1443 H. 6 April 2022. (925.04.22).

Monday, 4 April 2022

Renungan SEBELUM berbuka; GERBANG taqwa ke 2.

Untuk memasuki ‘KOTA TAQWA” dimana berhimpun orang-orang taqwa. GERBANG yang harus dilalui ada sebanyak EMPAT Gerbang. Pintu gerbang pertama yaitu Muslimin, telah kita renungkan bersama sebelum ini yaitu orang-orang yang mengimani Islam sebagai jalan hidupnya. Sebab setiap amal perbuatan dengan tujuan ibadah kepada Allah (dalam pengertian agama Islam), syarat utamanya, ibadah tersebut baru diakui secara ketentuan Islam, apabila orang yang beribadah itu adalah sebagai orang Islam. Untuk menjadi orang Islam haruslah lebih dahulu mengikuti/menyakini/melaksanakan rukun Islam dan rukun iman, barulah menjadi MUSLIMIN. Menuju masuk ke “Kota Taqwa”, belum sampai kalau hanya berhenti di GERBANG MUSLIMIN, harus melanjutkan lagi ke gerbang berikutnya yaitu MUKMININ. Akan hal seseorang telah tergolong masuk ke pintu Gerbang Mukminin ini, bukan hanya pengakuan diri, orang yang bersangkutan sendiri tetapi adalah mengakuan dari Allah. Pengakuan Allah bahwa seseorang sudah termasuk MUKMININ dapat kita cermati dalam Al-Qur’an di banyak surat, diantaranya kita jadikan referensi di renungan ini diantaranya adalah: • Surat ke 8; Al-Anfal ayat 2-3 اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِ ذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْن الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْن • Surat ke 9; At-Taubah ayat 71 وَا لْمُؤْمِنُوْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْض يَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَه اُولٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰه اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْم • Surat ke 23; Al-Mukminun ayat 2 sampai 6 الَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خٰشِعُون وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْن وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فَا عِلُوْن وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْن اِلَّا عَلٰۤى اَزْوَا جِهِمْ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُمْ فَاِ نَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْن • Surat ke 49; Al-Hujurat ayat 15 اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِه ثُمَّ لَمْ يَرْتَا بُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰه  اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْن Keterbatasan space dan menghemat baris tulisan, ijinkan saya hanya memetik inti sari ayat-ayat dimaksud yang mengindikasikan seseorang diakui Allah dalam Al-Qur’an sebagai orang ber sertifikasi MUKMININ. 1. Seseorang yang bila disebut nama Allah, maka bergetarlah hatinya dan bertambah imannya. Jadi kalau dalam majelis yang membahas pengetahuan mengenai keagamaan dimana diagungkan Allah; ybs. bertambah imannya bukan malah di hatinya timbul keraguan atau bahkan mengejek, hatinya membantah, misalnya di dalam hatinya berkata “ah masa’ sih”. Masa’ nanti di akhirat akan terjadi yang dikatakan ustadz itu, emangnya dia pernah kesana. 2. Orang yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat. 3. Tolong menolong sesama MUKMININ, menganjurkan perbuatan baik dan mencegah perbuatan kemungkaran, mengeluarkan zakat dan patuh kepada Allah dan Rasul. 4. Shalat khusu’, karena Allah semata. 5. Tidak suka berbincang yang sia-sia, tak ada gunanya. 6. Melakukan pemenuhan kebutuhan seksual, hanya dengan cara yang dihalalkan Allah. Demikian renungan sebelum berbuka puasa hari ini, dengan GERBANG KEDUA taqwa, gerbang ketiga dan ke empat semoga dapat kita renungkan di kesempatan mendatang, Insya Allah. Semoga puasa kita hari ini diterima Allah dan kita sempurnakan niat kita berpuasa bukan karena hal-hal lain, semata-mata karena menjalankan perintah Allah. Wain yakun shawaban faminallah. wain yakun khatha an faminni wa minasyaithan. Wallahu warasuluhu barii ani minhu. (Dan sekiranya benar, maka itu datangnya dari Allah. Dan sekiranya salah, maka berarti itu datangnya dari diriku sendiri (yang lemah ini) dan dari syiathan. Mohon maaf oleh karenanya. Wallahu ‘alam bishawab. Mudah2 an Allah mudahkan kita semua menjalankan shaum Ramadhan ini, sehingga berhasil menjadi orang2 yang taqwa. بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن وَ الْسَّــــــــــلاَمُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 3 Ramadhan 1443 H. 5 April 2022. (924.04.22).

Sunday, 3 April 2022

IMAN dan AMAL shalih

Shaum bertujuan mengejar taqwa, hanya sanggup dilakukan orang yg beriman. Justru perintah shaum itu khusus ditujukan kpd orang2 beriman. يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ ......."   "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa..." Iman pemberi pedoman dlm setiap aktivitas. Manusia yg beriman akan mengukur setiap perbuatannya, bahkan berfikirnyapun didasari iman. Selalu merasa terawasi oleh Allah. Karena yakin bahwa jangankan perbuatan yg sdh dilaksanakan, sesuatu baru direncanakan dlm fikiran saja sdh diketahui Allah. Orang beriman tak sembarangan berjanji, kecuali dg diiringi "Insya Allah". Nabi Muhammad pernah ditegur Allah, lantaran menjanjikan "datanglah besok", kpd penanya "berapa lama pemuda2 tertidur di gua Kahfi". وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَايْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًا "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, Aku pasti melakukan itu besok pagi," (QS. Al-Kahf ayat 23). dan اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ ۖ "kecuali (dengan mengatakan), Insya Allah". (QS. Al-Kahf ayat 24). Selain itu berjanjipun dalam jangkauan logika, sekiranya sanggup untuk ditepati. Sebab janji walaupun sdh didinding dg "Insya Allah", kalau janji itu hanya "abang2 lambe" (hanya pura2, pemerah bibir spy pihak yg dijanji-i terpikat), ydmk bukan tipikal orang beriman. Allahpun tau kesungguhan janji, sejak diucapkan. Soal perilaku ber janji, baru salah satu tanda buahnya iman. Belum lagi cara mendapatkan harta/rezeki, bertutur kata, adab pergaulan, berpakaian, bertetangga bermasyarakat, berbangsa. Pokoknya serba indah/serba baik bila suatu kaum beriman. Namun beriman saja belum lengkap bila tidak beramal shalih. Beriman tanpa beramal shalih, berarti blm mewujudkan iman dlm kenyataan. Iman adanya di kalbu, hanya diri dan Allah yg tau kadar keimanan seseorang. Wujud iman terimplikasikan oleh amal shalih dari si pemilik iman. Namun amal shalih tak berlandaskan iman, dpt terjadi tercampurnya amal shalih bersumber dari perbuatan yg salah. Misalnya karena tipis iman menghimpun rezeki dg cara tak halal, termasuk korupsi, menipu, selanjutnya sebagian rezeki itu digunakan beramal shalih. وَلَا تَلْبِسُوا الْحَـقَّ بِالْبَاطِلِ "Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan." (QS. Al-Baqarah ayat 42). Kini terpulang kpd kita semua. Selama hayat masih dikandung badan, manusia punya kebebasan untuk memilih: 1. Hanya BERIMAN saja tanpa berusaha BERAMAL shalih. 2. BERAMAL shalih saja tak usah memperbaiki IMAN. atau 3. BERIMAN sekaligus BERAMAL shalih. Selamat menjalankan Shaum Ramadhan di hari yang pertama bagi yg hari ini telah berpuasa Ramadhan 1443 H. Semoga shaum kita hari ini dstnya sampai berakhir Ramadhan, mrpk shaum yg diterima Allah. بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن وَ الْسَّــــــــــلاَمُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 1 Ramadhan 1443 H. 2 April 2022. (921.04.22).

GERBANG TAQWA

Dihari kedua, bagi yang mulai puasa Sabtu, hari yang pertama bagi yang memulai puasa hari Ahad ini, ijinkan ku mengajak untuk merenungkan perihal “Gerbang Taqwa”. Sebab tujuan berpuasa adalah “Taqwa”. Mohon ijin kepada ustadz/ustadzah yang mungkin membaca artikel ini, saya mengibaratkan umpamanya taqwa itu suatu kota yang akan kita tuju, untuk masuk ke kota tersebut harus melalui 4 gerbang berurutan: Gerbang PERTAMA adalah MUSLIMin. Seseorang dikatakan telah masuk Islam disebut "muslimin" dan "muslimat" orang Islam lelaki dan perempuan. Untuk masuk Islam seseorang harus lebih dahulu mengakui: 1. Allah sebagai Tuhan, meniadakan tuhan-tuhan yang lain. 2. Mengakui Muhammad adalah Rasulullah. Kedua pengakuan itu dikenal dg DUA kalimat SAHADAH. Sebagai pintu masuk pertama masuk ke "rumah" Islam. Rumah Islam yg terletak di atas pondasi 2 kalimat sahadah itu dilengkapi dengan 4 pondasi lainnya yaitu itu.: SHALAT, PUASA, ZAKAT dan bagi yg mampu melaksanakan HAJI. Total 5 pondasi, lazim disebut rukun Islam. Tak kurang dalam kenyataan, kita menemukan dalam masyarakat Islam di negeri kita klompok yang hanya sampai di 2 kalimat penyaksian itu. Mereka sudah termasuk muslimin. Berarti yang bersangkutan baru masuk di gerbang Pertama. Indakator kelompok ini, mereka bergabung dengan kelompok yang sudah masuk gerbang ke dua (Mukminin). Gerbang taqwa ke DUA adalah MUKMINnin. Orang telah masuk ke gerbang taqwa ke dua, mereka sekurang-kurangnya sehari semalam bersahadat 9 kali. Karena yang bersangkutan aktif melaksanakan shalat minimal shalat wajib, dimana total 9 kali mengikrarkan "tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi Muhammad Rasulullah". Indikator kelompok ini rajin shalat berjamaah ke masjid. Shalat subuh bg kebnykan orang sulit terbangun dan menuju masjid di fase ini sudah bukan masalah lagi bagi kelompok MUKMINnin. Singkatnya sesuai sebutannya mukminin (orang beriman). Kalau iman sudah terhunjam, Ibadah bahkan menjadi idaman, Tak peduli kalaupun ada bahaya mengancam. Gerbang taqwa ke TIGA MUHSINnin. Kelompok ini tidak saja hanya seperti yang telah melewati gerbang 1 dan 2, tetapi juga sudah mampu menebar kebaikan untuk sesama ummat manusia. Disamping baik sudah hamblum minallahnya juga baik hamblum mianannasnya. Tecermin dari banyak ibadah sosialnya, tangan ringan menolong orang, isi dompet mudah keluar untuk bederma, zakat tak pernah lalai infak sadakah dilakukan. Lisan terpelihara dari menyakiti orang bahkan yg keluar kata manfaat buat bnyk orang. Pokoknya yang bersangkutan sesuai makna Muhsinin (baik). Senantiasa menebar kabaikan. Gerbang taqwa ke EMPAT MUKHLISIN. Digerbang ini, kelompok yang telah melalaui gerbang 1, 2 dan 3. Ikhlas melaksakan semua itu hanya karena Allah semata terbebas dari mengharap penghargaan sanjungan dan pujian dari siapapun. Soal ikhlas ini pula, jadi barometer penilaian/ganjaran pahala di sisi Allah. Di suatu masjid yang besar dan megah, dilengkapi AC dan sound system yg baik, karpet tebal menenggelamkan dahi. Jamaah masjid membulag, ustadz yg mengisi ceramah bernas dan berbobot. Ini semua terkondisi oleh partisipasi semua pihak dari mulai: tukang parkir, penjaga sandal, petugas kebersihan, operator sound system, MC (pengatur acara), para pengurus dan yayasan pengelola masjid, Jamaah dimana darinya diperoleh dana operasional masjid. Para ustadz dan ustadzah dari mereka diraih ilmu penuntun ibadah perawat qalbu. Setiap orang yang terlibat tadi beda perolehan pahalanya dari Allah tergantung kadar keikhlasannya. Boleh jadi petugas kebersihan yang dapat paling besar, ketimbang ustadznya. Lantaran misalnya si petugas kebersihan begitu ikhlas dalam tugasnya, tak saling iri dengan petugas lainnya. Pokoknya pastabikul hairah dalam membuat masjid bersih dan nyanam. Sementara ustadznya dalam mengisi ceramah misalnya tertanam rasa hebat diri, motivasi dakwah tertumpang kuat popularitas dan imbalan. Mungkin-mungkin pahalanya kalah dengan petugas kebersihan tadi. Wallahu 'alam bishawab. Tetapi yang jelas bahwa soal keihlasan inilah jadi butir negosiasi iblis sblm meninggalkan surga. Mari kita tadaburi buat renungan awal puasa kita Ketika Allah mengusir iblis, terjadi dialog Allah vs Iblis: قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ "(Iblis) menjawab, Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya," "kecuali hamba-hamba-Mu yang MUKHLASIN". (QS. Surat 38 Sad, Ayat 82 dan 83) Nampaknya hanya orang-orang ikhlas lah yang tak dapat tergoda iblis yang mencanangkan akan menggoda manusia dari 4 arah. ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ مَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ "kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (QS. Surat 7 Al-A'raf, Ayat 17). Padahal bila tergoda iblis, Allah janjikan: قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُوْمًا مَّدْحُوْرًا ۗ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَاَمْلَــٴَــنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ اَجْمَعِيْنَ "(Allah) berfirman, Keluarlah kamu dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barang siapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahanam dengan kamu semua." (QS. Surat 7 Al-A'raf , Ayat 18) Nah taulah kita bahwa penangkal rayuan iblis adlh IKHLAS gerbang taqwa ke EMPAT. Mudah-mudahan puasa Ramadhan mengantarkan kita ke gerbang keempat dimaksud. بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن وَ الْسَّــــــــــلاَمُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 2 Ramadhan 1443 H. 3 April 2022. (922.04.22).

Memasuki GERBANG taqwa Pertama

Untuk memasuki ‘KOTA TAQWA” seperti yang kutulis sebelum ini, tempat dimana berhimpun orang-orang taqwa. Bahwa GERBANG yang harus dilalui ada sebanyak EMPAT Gerbang, dibahas dalam renungan berbuka puasa hari ini adalah GERBANG pertama, Gerbang MUSLIMIN. Setiap individu untuk membentuk dirinya menjadi taqwa haruslah terlebih dahulu beriman dalam bahasa agama disebut “MUSLIMIN”, yaitu orang- orang yang beriman. Pada Terminologi Islam orang beriman itu. apabila dirinya: 1. Percaya adanya Allah yang maha pencipta alam semesta ini termasuk pencipta dirinya. 2. Percaya akan Nabi-Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah menyampaikan risalah tentang aturan yang diinginkan Allah dalam kehidupan dunia ini. 3. Percaya akan adanya Malaikat yang diciptakan Allah yang ditugaskan oleh Allah mengatur dunia ini. 4. Percaya akan adanya Kitab-Kitab yang telah diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia di dunia ini. 5. Percaya bahwa dunia ini akan berakhir dinamakan kiamat. 6. Percaya bahwa dunia ini telah ditentukan Qada dan Qadarnya, atau ketetapan Allah dan ukuran yang telah ditentukan Allah. Bilamana ada satu saja seseorang tidak percaya, seperti misalnya tak percaya ada kehidupan akhirat, tidak percaya setelah mati ada alam barzah sebelum alam akhirat, dianya tidak yakin karena belum pernah ada yang pulang dari sana bercerita. Ini kelompok sudah tidak dapat masuk ke Gerbang Pertama. Orang yang tidak masuk ke Gerbang Pertama ini, walaupun dia beramal, maka amalnya akan sia-sia. Seperti yang diungkapkan dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an antara lain; وَمَنْ يَّكْفُرْ بِا لْاِ يْمَا نِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه..…………………...” Wamay yakfur bil imaani habitha ‘amaluhu (akhir Surat Al-Maidah ayat 5) Barang siapa kafir setelah beriman, maka sungguh sia-sia amal mereka………………...." Selanjutnya di surat Al-Kahfi ayat 105 اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِه فَحَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًـا "Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat." Seorang teman, dengan adanya WA an sekarang ini, dia menginformasikan bahwa dianya sudah lama bersama seluruh keluarganya setiap bulan Ramadhan ikut berpuasa seperti yang dilaksanakan oleh orang Islam. Sedangkan yang bersangkutan dan keluarga bukan penganut agama Islam dan dengan begitu belum masuk kelompok orang MUSLIMIN, belum masuk melalui GERBANG PERTAMA. Menurut teman ini dia mengikuti puasa, terasa lebih sehat. Kadar gula darah, tekanan darah dan kolesterol normal. Tentu beda dengan landasan niat berpuasa orang MUSLIMIN adalah karena menjalankan perintah Allah yang diimaninya itu. Memang di dunia ini terdapat 3 kelompok menyikapi iman: 1) Beramal shaleh tetapi tidak/belum beriman. 2) Beriman tetapi tidak/belum beramal shaleh. 3) Beriman sekaligus beramal shaleh, Demikian renungan sebelum berbuka puasa hari ini, dengan GERBANG PETAMA taqwa, gerbang kedua sampai ke empat semoga dapat kita renungkan di kesempatan mendatang; Insya Allah. Semoga puasa kita hari ini diterima Allah dan kita sempurnakan niat kita berpuasa bukan karena hal-hal lain, semata-mata karena menjalankan perintah Allah. Semoga kita termasuk kelompok orang2 yang “Beriman sekaligus beramal shaleh” Wallu ‘alam bhisawab. بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَبِّ الْعٰلَمِيْن وَ الْسَّــــــــــلاَمُ M. Syarif Arbi. Jakarta, 2 Ramadhan 1443 H. 4 April 2022. (923.04.22).