Thursday, 17 June 2021

Pengaruh Makanan.

Makhluk kasat mata semuanya perlu makan. Tumbuhan makanannya pupuk, hewan ada yg makan daging, makan rumput, biji2an. Manusia makan aneka; nabati, hewani, juga mineral kadang juga "material".


Makanan haram di dalam agama Islam ditentukan 3 sebab:

a. Haram zatnya, jelas sekali di dlm al-Qur'an makanan yg tidak halal y.i.

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْکُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ 

"Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah."

(QS.2 = Al-Baqarah ayat 173)


b. Haram cara mendapatkannya; yaitu bgmn upaya yg dilakukan sampai makanan itu kpd kita, kpd keluarga kita. Jika dibeli, bgmn cara uang diperoleh. Dpt kita simak petunjuk Allah untuk hal ini:

وَلَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَالَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَاۤ اِلَى الْحُـکَّامِ لِتَأْکُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 188)

dan......:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰۤوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً ۖ وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

(QS.3 = Ali 'Imran ayat 130)

dan

اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَـصْلَوْنَ سَعِيْرًا

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)."

(QS. 4 = An-Nisa' ayat 10).


Jelas bila uang didapat dg cara tsb di atas haram, sehingga makanan yg dibeli dg uang itupun haramlah jadinya.

BATIL (mengambil hak orang lain dg jln tak halal, termasuk korupsi, nipu, mencuri, menggelapkan, merampas dll). SUAP, RIBA, HARTA ANAK YATIM.


c. Haram prosesnya:

* Pengolahan tak boleh tercampur zat lain yg haram.

* Tak boleh tercampur dg barang lain yg mendptkannya dg jalan haram.

* Makanan secara zatnya diperoleh secara halal zatnyapun halal, ttp bila prosesnya tdk syar'ie jatuhnya juga haram seperti dimaksud ayat 173 Al-Baqarah di atas.

(ِ وَمَاۤ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ)

Hewan halal yg disembelih tidak dg cara syar'ie.

Contoh; Ayam kan hewan yg halal, jadinya haram bila disembelih tdk sesuai aturan Allah.


Makanan haram berdampak terhadap amal tertolak, terhadap  do'a tdk terkabul.


Jenis makanan halal saja, berpengaruh terhadap perilaku pengkonsumsinya. 


Penduduk di daerah dg lauk pauk bermenu utama sayur2an, perilaku penduduknya lemah lembut, sampai irama musiknyapun mengalun lembut. Sejalan dg sifat tumbuh2an, lemah lembut. Mereka jarang berpindah tempat tinggal, bukan type perantau. Bagaikan tumbuhan pindah dari tempat asal kalau dipindahkan atau bijinya kebawa burung.


Perduduk pesisir yg menu lauk pauk utamanya ikan laut, umumnya terimbas perangai ikan, "gemar mangarung luas samudera", kadang jadi perantau. Ikan adlh perantau, ikan laut bbrp jenis tersebar di lautan hampir seluruh dunia.


Begitu berpengaruh makanan terhadap diri manusia, yang halal maupun yg haram.


Semoga Allah melindungi para pembaca semua dari termakan makanan haram. Kalaulah terlanjur mudah2an Allah memaafkan seperti tercantum di dalam do'a shalat dhuha:

اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى.............حَرَامًا فَطَهِّرْهُ......"

"Ya Allah, jika rizkiku...................... haram sucikanlah,................".

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 7  Dzulkaidah 1442 H.

17 Juni 2021.

(808.06.21). 

Monday, 14 June 2021

LILLAHI TA'ALA.

 

Olah raga jalan pagiku hari itu, bertemu dg seorang teman yg lbh senior dariku. Beliau ku kenal sbg Ketua sebuah masjid di bilangan jangkauan jalan pagiku. Setelah beramah ramah sejenak kubertanya:  Pak Haji beberapa kali saya ikut jamaah ke masjid pak haji, Pak Haji ndak kelihatan.

Dijawab: Saya sdh ndak ngurusi masjid itu lagi.... , mereka mangganti dg yg lbh muda. Saya ndak mau ikutan lagi terserah merekalah.........


Aku ndak ingin memperpanjang pembicaraan perihal masjid si Pak Haji itu lagi, suara bliau ngegas gelagatnya bermasalah. Ku tak ingin tau lbh jauh permasalahan orang.


Sepulang di rumah ingatanku melayang ke kisah panglima perang umat Islam yang dijuluki Rasulullah sebagai “Pedang Allah”, Khalid bin Walid.


Saat Khalid sedang menyusun strategi untuk menggempur Byzantium atau Romawi Timur, datanglah surat perintah agar Khalid menyerahkan jabatannya kepada Abdullah bin Ubaid.


Namun, Khalid yang sedang memimpin rapat tidak langsung membacakan surat perintah dari Khalifah Umar itu. Dengan perhitungan bahwa kalau ia menyerahkan jabatan tersebut saat sedang rapat untuk menyerang Byzantium, maka akan terjadi kekacauan.


Karena itu, ia menyelesaikan rapat tersebut terlebih dahulu. Setelah usul-usulnya diterima dan menjelaskan cara menyerang Byzantium, barulah Khalid menyerahkan jabatannya sebagai panglima perang kepada Abdullah bin Ubaid.


Setelah mundur dari jabatannya, Khalid kemudian  ke Madinah untuk melapor kepada Khalifah Umar bahwa perintahnya sudah dilaksanakan. Khalid meminta penjelasan lbh jauh kepada Umar terkait pemecatan dirinya tersebut. Karena, ia khawatir ada kekeliuran yang diperbuatnya selama memimpin perang.


Khalid memang mempunyai kelemahan di bidang tata administrasi dan pembukuan. Kendati demikian, Khalid sendiri meyakini bahwa tidak pernah keliru dalam perhitungan-perhitungan keuangan dari dana perjuangan itu.


Namun, Umar menegaskan bahwa masalahnya bukan karena administrasi dan pembukuan. “Itu soal yang bisa dimaafkan,” kata Umar menjelaskan kepada Khalid.  “Tetapi sebagai khalifah aku bertanggung jawab atas AKIDAH umat. Engkau adalah pahlawan perkasa yang tak dapat dikalahkan di setiap medan pertempuran. Tapi, akibatnya rakyat mulai menyanyikan lagu pujian untukmu, dan tidak lagi hanya memuji dan memuja Allah semata. Aku khawatir mereka menjadi syirik. Sebagai penanggung jawab aku harus membuktikan kepada seluruh umat, bahwa sebagai hamba Allah aku mampu memecat Khalid bin Walid sebagai panglima perang yang masyhur,” jelas Umar panjang lebar.


Setelah mendengar penjelaskan Khalifah Umar, Khalid tersadar dan menerima keputusan Umar yang bijaksana itu dengan keikhlasan yang sungguh-sungguh. Khalid pun mundur dari hadapan Khalifah Umar seraya melompat lagi ke medan pertempuran dan maju menyerang musuh, tidak lagi sebagai penglima perang tetapi sebagai prajurit biasa.


Orang-orang lain terheran-heran melihatnya, mengapa setelah dipecat Khalid masih mau terjun ke medan perang. Khalid pun berseru, “Aku bertempur dan berjuang tidak karena Khalifah Umar, akan tetapi aku berjuang karena  Allah semata!.” 


Panglima yg dipecat namun tetap berjuang menegakkan agama Allah walau berperan sbg prajurit biasa itu, menutup hayat bukan dimedan perang, tapi di tempat tidur, dg  tanda2 dikulit bekas sayatan pedang,  panah dan tombak disekujur tubuhnya.


Seperti itulah ekspresi dan manifestasi dari ruh tauhid sejati yang ditunjukkan Khalid bin Walid. Jadi, Khalifah Umar memecat Khalid bukan karena ia tak mampu lagi memimpin medan perang, melainkan untuk menjaga akidah umat yang saat itu mulai berpaling dari Allah karena sosok kepahlawanan Khalid.


Pelajaran yg dpt dipetik dari kisah ini, khusus untuk yg ngurusi masjid, tak usahlah ngambeg seperti ketua masjid yg ketemu di olah raga pagi ku diawal tulisanku ini. 


Hendaklah tanamkan niat ngurus masjid karena Allah semata. Sebagai apapun kita tak soal. Contoh Khalid bin Walid, walau sdh tdk jadi panglimapun dia ttp berjuang sbg prajurit. Karena perjuangannya hanya untuk Allah semata.


Bahwa orang2 memakmurkan masjid, sbg fasilitatornya pengurus masjid dan juga jamaahnya adlh seperti dimaksud (QS. 9 = At-Taubah ayat 18). 


اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰۤى اُولٰٓئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk."


Semoga Allah menjadikan kita dlm berjuang LILLAHI TA'ALA (hanya karena Allah), termasuk berperan di masjid tak perduli sbg apapun fungsi dan kemampuan.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 29  Syawal 1442 H.

10 Juni 2021.

(806.06.21).

Banyak Ngomong Merusak HATI.

Hati dlm arti abstrak menggerakkan aktivitas manusia. Agaknya dihatilah tertumpuk arsip dosa dan arsip pahala. Segala tindakan adlh mrpkn cerminan hati. Dari hati yg baik akan ber output tindakan yg baik pula. Sebaliknya dari hati yg jahat keluar berupa tindakan jahat pula.


Nabi Muhammad ﷺ mengatakan bahwa terdapat segumpal daging di dalam tubuh manusia yg disebut dg hati. Jika segumpal daging tersebut baik,  maka baiklah seluruh tubuh kita. Sebaliknya, jika segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh tubuh kita. Hal ini diriwayatkan dalam hadist berikut.


أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ


“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).


Berdasarkan hadits di atas, baik-buruknya perilaku dan amal perbuatan ditentukan pula oleh baik dan buruknya hati. Sehingga kita perlu untuk menjaga hati agar tetap jernih, dan tidak teracuni.


Diantara penyebab kerusakan hati ada 4 hal: 


1. Terlalu banyak omong.

2. Faktor makanan.

3. Faktor pergaulan.

4. Pengendalian mata.


Diruang tulisan yg terbatas ini diulas tentang "Banyak Ngomong Merusak Hati".


Manusia adlh mahluk komunikatif, sarana utama berkomunikasi adlh ngomong. Tapi kalau terlalu banyak ngomong cenderung banyak salah. 

Banyak ngomong dlm artian bicara tanpa makna atau sekedar omong kosong atau bualan saja. Salah satu syarat keberuntungan orang beriman adlh bila sanggup..... seperti ayat berikut:


وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ 


"dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,"

(QS. 23 = Al-Mu'minun ayat 3)


Namun jika bicara dengan maksud baik dan memberi manfaat serta hikmah tentunya hal ini juga dianjurkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana dalam hadist berikut.


وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” [HR Bukhari]. 


Oleh karena itu cegahlah terlalu banyak ngomong dlm pengertian di atas. Tak jarang karena salah ngomong berujung kpd perbuatan tidak baik, perselisihan dan perpecahan. Hati cenderung rusak diikuti rencana2 hal2 yg negatif.


Adakalanya untuk membuktikan bualannya seseorang terpaksa melakukan sesuatu diluar kemampuan (misal hrs sampai berhutang dll). Bila tak dpt memenuhi bualan hatipun akan rusak dg menyusun rencana kebohongan. 


Akan tetapi ngomong dlm pengertian nasihat menasihati dlm kebenaran, dlm kesabaran; malah diperintahkan Allah bagi orang beriman. Kalau tdk melakukannya justru dlm kerugian.

وَا لْعَصْرِ 

اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ 

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ


"Demi masa."

"Sungguh, manusia berada dalam kerugian,"

"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."

(QS.103= Al-'Asr ayat 1-3).


Bahwa dihati tempat pahala dan dosa bertarung, hati sumber kebaikan dan hati pula sumber keburukan. Sbg yg punya hati, mari pelihara hati agar selalu sbg pemicu kebaikan. 


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ


“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu).”


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 4  Dzulkaidah 1442 H.

14 Juni 2021.

(807.06.21).

Monday, 7 June 2021

Amarah Negatif dan Positif.

Di dlm diri manusia tersedia dua kekuatan yg berseberangan kutub, dengan kemampuan yg berlawanan. Di kutub yg satu tersedia kekuatan mengajak kpd berbuat baik, di kutub yg satunya lagi kekuatan untuk berbuat tidak baik. 


Kekuatan mengajak kpd berbuat baik, berlaku adil, jujur, dermawan, taat beribadah dan sikap2 yg terpuji lainnya terpancar dari qalbu yg bertaqwa. Bersumber dari hati nurani dibawah naungan Allah.


Sedangkan kekuatan yg mengajak kpd perbuatan tidak baik, curang, suka ingkar janji, kikir, jahil dan mungkar serta perbuatan tercela lainnya, adlh produk hawa nafsu yg disisipi setan.


Manusia berpotensi untuk mengikuti hati nurani sehingga berlaku taqwa dan juga berpotensi melakukan perbuatan tercela mengikuti hawa nafsu dlm pengaruh setan.


فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ۖ 

"maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,"

(QS. 91= Asy-Syams ayat 8)


Dorongan dari dalam diri manusia untuk melakukan sesuatu, adlh nafsu. Berbicara mengenai "Nafsu" ada yg disebut "Nafsu Amarah"; sepertinya Nafsu Amarah ini cocoknya dpt dibagi 2 (dua) yaitu:

1. Nafsu Amarah Negatif.

2. Nafsu Amarah Positif.


ad. 1. Nafsu Amarah Negatif.

Nafsu Amarah negatif dipengaruhi setan, digunakan untuk berbuat jahat, jelas pemilik utamanya adalah penjahat. Nafsu Amarah Negatif, boleh juga mungkin diterjemahkan "tak mau kalah" atau "tak rela dikalahkan". 


Tanda2 nafsu amarah negatif a.l.:


a. Iri hati, susah hati bila orang senang. Senang hati bila mendengar orang susah, biasanya orang yg di iri adlh: selevel, tetangga, keluarga dekat, seprofesi.


b. Dengki; tak suka orang lain sukses, ingin kesuksesan orang itu pindah untuknya atau hilang dari orang itu. Bila perlu tak segan berbuat curang.


c. Loba; ingin memiliki lebih, tak rela kalau orang lain memiliki yg sama dg dirinya. Jangan diharap orang ini adil bila disuruh ngatur pembagian.


d. Takabur, bangga diri, anggap diri hebat ketimbang orang lain, orang lain ilmunya dibawah dirinya. Orang lain belum sampai kajiannya. Dll kehebatan dirinya ditonjolkan.


e. Mengumbar amarah, gampang marah, soal sedikit saja sdh cukup buat pemicu marahnya. Seharusnya hal sepele jadi besar.  Ybs tak dpt menahan amarah.


f. Bermewah mewah. Ini masuk dlm nafsu amarah, karena bermewah ini menjurus kpd berlebih lebihan, pemborosan, mubazir. Biasa si empunya nafsu ingin dinilai hebat oleh orang lain.


Ad. 2. Nafsu Amarah Positif

Nafsu Amarah Positif boleh jadi  dimiliki orang baik-baik termasuk ustadz/ustadzah.

Nafsu amarah Positif  ini  hrs dipelihara, istilah yg cocok buat nafsu amarah positif ialah  "Amarah Terkendali". Iri dan dengki serta loba (tamak) dlm berbuat kebaikan perlu dipertahankan. Jangan mau kalah dlm berbuat kebaikan.

Juga dlm hal tertentu marah perlu dilakukan, jika sdh menyangkut terhinanya bangsa, kita  hrs mengingatkan bangsa yg menghina kalau perlu dg marah kpd penghina, tapi akhlaknya tdk balas menghina. Terancamnya keamanan negara, sbg anak bangsa siap bela negara sesuai kemampuan yg dipunya. Terhinanya agama yg kita anut, wajar marah selanjutnya mengingatkan penghina, mendorong negara melaksanakan hukum yg berlaku. Akhlaknya jg tdk melakukan penghinaan balik.


Ttg nafsu Amarah Positif seperti Nabi Yusuf berujar diabadikan dlm Al-Qur'an:

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ  اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌۢ بِالسُّوْٓءِ اِلَّا  مَا رَحِمَ رَبِّيْ  ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang."

(QS. Surat Yusuf,  ayat 53)


Baru saja 26 hari Ramadhan beranjak dari bumi, dimana dibulan Ramadhan shaimin-shaimat tlh berlatih mengendalikan nafsu amarah. Hsl latihan itu seyogyakan diterapkan dlm 11 bulan mendatang. Kalau dpt; tetap konsisten. 


Tapi yg namanya manusia dpt saja makin jauh dari Ramadhan makin tergerus kemampuan mengendalikan nafsu amarah yg melekat di setiap diri. 


Ikhtiarnya barangkali kebiasaan shaum hendaknya diteruskan setiap bulan walau bukan bulan Ramadhan, dg puasa2 sunnah semisal Senin-Kamis, puasa tengah bulan dll. Alhamdulillah jika anda tlh selesai pula puasa Syawal selama 6 hari, sebab bulan Syawal sdh hampir terbenam akan terbit bulan Dzulkaidah.


Semoga kita semua tdk dihinggapi Nafsu Amarah Negatif dan dpt mengendalikan Nafsu Amarah Positif.

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا. أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 26  Syawal 1442 H.

7 Juni 2021.

(804.06.21). 

Saturday, 5 June 2021

Di Pintu ter-gesa2 setan menunggu.

Salah satu sifat manusia adlh tergesa-gesa dlm banyak hal;  Allah sampai abadikan


".......... ۗ وَكَا نَ الْاِ نْسَا نُ عَجُوْلًا

".................... Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa."

(QS. 17 = Al-Isra' ayat 11)


dan QS. = 21 ayat 37:


خُلِقَ الْاِ نْسَا نُ مِنْ عَجَلٍ ۗ سَاُ ورِيْكُمْ اٰيٰتِيْ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْنِ

"Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya."


Bermacam ketergesa-gesaan tsb dari ingin mendptkan kesenangan hidup secara instan.  Ingin mencapai tujuan sesegera mungkin kadang mengabaikan proses. ......

Dua contoh ini saja kadang sdh banyak manusia masuk perangkap Setan. Ketergesaan ingin senang secara instan tidak sedikit orang terlibat kejahatan karenanya.......Contoh terakhir ini banyak penipu investasi bodong, tak sedikit yg tertipu investasi bodong.

Pencapai tujuan mengabai proses kadang membuat orang yg tergesa gesa masuk pintu perangkap Setan dg rela melakukan hal2 yg tidak halal demi meraih cita2 itu.......


Dari Anas, Rasulullah ﷺ  bersabda:


التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ


“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Yg paling menyedihkan lagi bila tergesa gesa dlm melaksanakan ibadah misalnya saja shalat. Yg terjadi tidak mencapai khusyuk lantaran tergesa gesa, setan tlh berhasil menunggu dipintu tergesa-gesa. Padahal Allah ingatkan akan hal khusyuk


اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَـقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَا لَ عَلَيْهِمُ الْاَ مَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik."

(QS. 57 = Al-Hadid ayat 16)


Intinya kita dilarang tergesa-gesa, semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan mata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan. 


Sedangkan tergesa-gesa menghalangi terbukanya mata hati, tidak sempat berfikir tenang. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka setan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.


Semoga Allah memeliharakan kita semua dari sifat tergesa-gesa, sehingga memperoleh rizki dan mencapai tujuan dg cara halal, serta khusyuk dlm shalat. Terhindar dari segala kerugian karena tergesa-gesa.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 24  Syawal 1442 H.

5 Juni 2021.

(803.06.21).

Wednesday, 2 June 2021

ANTRIAN

 

Seorang Prof sering bertemu dg ku,  ketika itu usianya keliwat 75, masih sanggup nyetir mobil sendiri. Beliau pernah cerita kpd ku, bahwa dianya tak ada penyakit. "Hebat Prof.,  saya jauh lbh muda dari prof sdh kena bbrp penyakit kronis, apa resepnya Prof". kataku pengen tau.


Agak tersenyum si Prof sdg duduk di sofa ruang istirahat itu menjelasan: "Mudah pak,............

..... ndak usah periksa kesehatan, jauhi laboratorium,...

...... bila ke Lab mesti ada aja penyakit kita lansia ini".


Hari ini ku periksa kontrol bulanan penyakit rutin. Teringat aku ke cerita selorohan Almarhum Prof kusebut di atas. Ingatanku muncul bukan karena penyakit rutinku tapi karena ANTRIAN.


Prosedur kontrol ke RS di era covid 19 ini, sedikit agak nambah dari biasa sblm covid. Tambahannya pasien hrs lbh dahulu di skreening. Semua prosedur hrs ANTRI. Di era covid antrian hrs berjarak. Bagi manula yg tak tahan berdiri lama, antrian cukup merepotkan. Ada sih tempat duduk di seputar tempat antri, disitulah timbul soalnya. Tadi ada lansia, bgt usai seseorang diskreening diapun maju menghampiri meja petugas skreening. 


Eee lansia yg masih kuat berdiri langsung "berguman", "antri donk"!!!

Bapak yg sdh duduk dpn petugas siap di skreening tadi, langsung berdiri, mempersilahkan lansia yg nyuruh antri tadi. Yg terjadi...... lansia pemrotes tadi ternyata sungkan pula, dg nada merendah dan membukakan telapak tangannya mempersilahkan pak tua tadi meneruskan skreening. Sbtlnya pak tua tadi sdh lama tiba di lokasi dekat meja skreening, tapi karena tak kuat berdiri lama, milih duduk tak jauh dari meja skreening. Persoalan duduk di ruang tunggu, era covid ini juga masalah karena kursi yg tadinya dpt dimuat 3 orang skrg hanya dua. Letak antar kursi juga diperjarang.


Umumnya yg berlangganan rumah sakit adlh para lansia. Namun adakalanya pengantarnya lbh muda. Rumah sakit melalui pengeras suara menghimbau  agar pengantar yg lbh muda, berikan lbh dahulu kursi2 ruang tunggu untuk pasien terutama yg tak kuat berdiri.


Dalam kondisi seperti inipun bagi insan Qur'ani harusnya sanggup menerapkan ajaran al-Qur'an yaitu  harus menjalin hubungan baik sesama manusia (hamblum minannas)

....... فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ  وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۤ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

".................maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman."

(QS. Al-Anfal ayat 1).


Dlm berinteraksi sesama manusia ini kadang ada perbuatan baik yg kita lakukan tak sengaja berniat khusus (seperti memberi tempat duduk, taat antri, mendahulukan yg lbh perlu memudahkan orang lain. Bila setiap hal itu dilakukan dg niat untuk mencari keridhaan Allah. Insya Allah mendptkan balasan kebaikan di sisi Allah.


Kuteringat seorang teman berseloroh menceritakan ttg pengadilan akhirat bagi "Seorang penceramah versus seorang supir ugal-ugalan". 


Ketika di pengadilan akhirat itu si penceramah tak mendptkan ganjaran apapun dari ceramahnya, karena dlm ceramahnya dianya sll bangga diri bahwa dianya ngajar di-mana2, secara terselubung mengisyaratkan bahwa dianya berilmu tinggi, sering dari mimbar menyebut bahwa penceramah lain kan blm pernah menyajikan ilmu seperti dirinya. Yg hebat lagi sering nganggap peserta dengar pencerahannya blm tau apa yg dipaparkannya. Agaknya ini penceramah lupa bahwa banyak ayat di Al-Qur'an menyebutkan Allah tak suka orang yg sombong dan membanggakan diri a.l.

لِّـكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرِ 

"................Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"

(QS. Al-Hadid ayat 23).


Sementara si supir ugal2 an mendptkan sedikit ganjaran penambah timbangan kebaikannya oleh sebab ke ugal2an nya nyetir bis, para penumpang jadi ingat terus menerus dlm perjalanan itu kepada Allah, lantaran takut, menyebut nama Allah dan kalimat dzikir2 lainnya.  Di sini si supir dpt bagian pahala. Apalagi jelas2 memberi kemudahan bagi lansia antri berobat. Insya Allah mendptkan pahala sesuai janji Allah:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ 

"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."

(QS.99 = Az-Zalzalah ayat 7)


Semoga kita menjadi insan Qur'ani yg selalu menebar kebaikan dikondisi apapun.



آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 21  Syawal 1442 H.

2 Juni 2021.

(802.06.21).

Tuesday, 1 June 2021

Bahagia dg Lima "UR".

Bahagia dikehendaki setiap orang. Ukuran kebahagianpun beda agaknya setiap orang. Kebahagian itu milik pribadi, sebab kadang orang lain menilai seseorang bahagia, padahal ybs merasa menderita. Sebaliknya seseorang terlihat orang lain hidupnya susah, tapi ybs merasa cukup bahagia.

Bahagia agaknya urusan perasaan. Sedangkan perasaan adlh wilayah hati dlm arti abstrak. Makanya diri sendirilah yg paling tau bahagia atau tidak menjalani hidup ini.


Kucoba menyusun faktor yg kiranya dpt mengkondisikan kehidupan ini menjadi bahagia. Supaya mudah mengingatnya kubuatkan singkatan 5 (lima) "UR" yaitu:


1. Selalu bersyukur.

2. Sering tafakur.

3. Hidup teratur.

4. Jangan suka mengukur.

5. Tak mudah tergiur.


ad. 1. Selalu bersyukur.

Selalu bersyukur adlh kunci utama  kebahagiaan. Menerima apa adanya, soal perolehan rezeki biarpun sedikit disyukuri sehingga tidak resah, tidak keluh kesah, tidak kesal. Apa yg didapat dinikmati. Dg demikian akan selalu mendapatkan kebaikan.

(QS. 27 = An-Naml ayat 40)

"...........وَمَنْ شَكَرَ فَاِ نَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ.........."

"......Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri,.........:"


ad.2.Sering tafakur.

Tafakur, mengingat Allah menjadikan diri kurang kesempatan untuk berfikir yg tidak baik. Fikiran kusut membuat tdk bahagia. Sering mengingat Allah membuat hati tenang.


اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ 

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS.13 = Ar-Ra'd ayat 28).


ad.3. Hidup teratur.

Keteraturan menentukan ke arah kebahagiaan, mulai dari ibadah, kita diajarkan teratur. Setiap tahun sekali puasa sebulan. Setiap pekan sekali shalat seragam berjamaah di hari Jum'at. 

Setiap hari shalat subuh sblm beraktivitas, shalat diusahakan berjamaah di masjid dekat kediaman, karenanya dpt bersosialisasi dg warga setempat, tetangga dan jiran. Bahagialah bermasyarakat.

Dzuhur dan Ashar mungkin sampai Maghrib teratur shalat bersama rekan sekerja atau kantor2, komunitas ditempat usaha. Berbahagia bersama komunitas sekerja.

Isya' teratur kumpul kembali shalat berjamaah bersama warga dekat kediaman. Kembali lagi bersosialisasi dg jiran tetangga, ini wujud kebahagiaan. Tidak diperoleh oleh orang yg tdk ikutan melaksanakan kegiatan berjamaah  subuh dan isya' di lokasi tempat tinggal.


Begitu juga infak dan sadakah teratur dpt dilakukan saban hari misal ketika masuk masjid di waktu subuh, walau tak besar tapi teratur, rutin. Ibadah yg teratur dlm terminologi agama mungkin disebut istiqamah. Jaminan buat orang istiqamah:


اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ۚ 


اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا  ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ


"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati."


"Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. 46 = Al-Ahqaf ayat 13-14).


Keteraturan ini sampai ke pola makan dan kegiatan2 lainnya diusahakan teratur, dg dmkn membahagiakan sebab berjalan otomatis, tidak lagi terasa beban.


ad. 4. Jangan suka mengukur.

Yg dimaksud tak suka mengukur atau membanding keadaan diri dg keberhasilan orang lain. Membuat ukuran perbandingan dg rezeki, keberhasilan orang lain, sisi negatifnya membuat iri hati berlanjut kpd membuat tidak bahagia. Walau ada sisi positipnya memotivasi usaha lbh giat. Namun perlu diingat rezeki sudah tertakar tak tertukar. QS An-Nahl 71:


وَا للّٰهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ فِى الرِّزْقِ

"Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki, ............."


ad. 5. Tak mudah tergiur.

Hidup ini penuh godaan, bermacam iming2 mendapatkan harta dg cara instan, tidak pandang strara sosial ataupun jabatan.

Orang yg tak punya diiming-imingi, a.l. perolehan harta dng jalan uang dpt digandakan, taunya tertipu.

Orang berjabatan, tergiur oleh kesempatan...... akhirnya tersangkut korupsi atau salah gunakan jabatan.

Orang biasapun tak luput dari ketergiuran melihat teman selevel atau tetangga yg makmur. Ingin menyamai kalau dpt melebihi. Pokoknya soal ketergiuran ini salah satu arah setan menggelincirkan manusia sbgm pernyataannya dlm surat Al-A'raf ayat 17


ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

"kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur."


Pernyataan ini oleh Allah dilegitimasi

قَا لَ اِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ

"(Allah) berfirman, Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu."

(Al-A'raf ayat 15 dan juga Sad 80).


Kesimpulannya kalau ingin bahagia kondisikanlah diri dg 5 (lima) "UR" tsb di.atas. Semoga kita dpt menjalani dg istiqamah.



آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 20  Syawal 1442 H.

1  Juni 2021.

(801.06.21).