Wednesday, 21 April 2021

UNTUNG nya BERIMAN.

 Kecenderungan manusia ingin untung, kadang karena ingin untung justru malah buntung.  Kecenderungan ingin untung ini, karena memang manusia terlahir dengan kekurangan. Berapa banyakpun harta kekayaan, manusia tak kunjung puas. Ini dorongan nafsu. Bagi kalangan tertentu kecenderungan ingin untung ini, belakangan dimanfaatkan oleh para penipu dengan menjanjikan hadiah melalui telepon dan SMS. Tak sedikit terjebak Investasi bodong. Iming2 penggandaan uang. Tujuan ingin berduit dg cara instan.


Dalam kaitan ini agar kita sekalian dapat mengendalikan kecenderungan ingin untung yang memang sudah menjadi kodrat manusia, shaum mampu mengontrolnya. Sebab menggebunya ingin untung mrpkn dorongan hawa nafsu. 


Hawa nafsu ingin untung dikendalikan oleh 2 faktor yaitu:

1. dari dalam diri sendiri dan

2. dari syaitan.


ad. 1. bahwa manusia diciptakan berpotensi untuk menjadi baik dan jahat. Surat Asy-Syams ayat 8:


فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya". 


Pengendalian nafsu berbuat fasik agar menjadi taqwa insya Allah dg berpuasa,  karena memang tujuan puasa  adlh Taqwa.


ad 2. Nafsu ingin untung dikendalikan syaitan, karena memang syaitan senantiasa ingin menyesatkan manusia antara lain dari pintu ingin untung. Syaitan siap masuk dari segala arah.


ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

"kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur."

(QS. Al-A'raf ayat 17).


Insya Allah dg berpuasa, iman menjadi kuat, untung sekecil apapun disyukuri, dpt menangkis datangnya syaitan dari arah manapun.


Oleh karena itu Allah  memberi petunjuk untuk manusia meraih keuntungan bila berhasil mengkondisikan dari dalam 6 perkara; satu diantaranya "BERIMAN".


Beriman.   قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْن

(Q.S. Al-Mu'minun ayat 1)


"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman"


Orang yang beriman hidupnya akan senantiasa beruntung sebab: Seluruh apa saja yang dialaminya, ia akan berserah diri kepada Allah. 


Ketika ia mendapatkan  kebahagiaan, ia menerimanya dengan penuh rasa syukur. Anugerah Allah diterima dan digunakannya sesuai peruntukan yang diatur oleh Allah dan Rasul. Orang beriman TIDAK menggunakan nikmat Allah, berupa kekayaan, jabatan dan kebahagiaan untuk hal yang justru merusak dan merugikan orang lain. 


Ketika orang beriman mendapat musibah ia akan bersabar sambil berdoa. Ia berdo’a agar Allah menghindarkan dirinya dari segala macam kerugian, bencana dan bahaya serta memberikan kesabaran baginya menerima cobaan. Kesabaran dan do’a ini membuat orang beriman selalu beruntung karena Allah akan memberikan pahala atas kesabarannya dan akan mengabulkan do’anya walaupun mungkin lambat, misalnya diujung hayatnya atau akan ditemuinya terkabulnya do’a itu setelah di akhirat. 


Boleh jadi do'a dikabulkan bukan buat diri sendiri tapi buat anak keturunan. Tidak sedikit rumah tangga yg hidupnya dibawah pas2 an, dimasa anak keturunannya hidup tidak saja berkecukupan, malah berkelebihan. Ini mungkin saja anugerah keberuntungan diberikan Allah kpd orang beriman dan sabar. Anak2 keturunan yg berkelebihan sanggup berbuat baik, bersedekah atas nama ortu mereka yg sdh di alam barzah, sambil mendo'akan. Do'a anak yg shalih/shalihah membantu ortu di alam kubur.


Ketika ada berita hadiah misalnya, ia akan mengkaji terlebih dahulu, tidak asal terima, apakah hadiah/keberuntungan ini sesuai dengan kaidah keimanan yang dianutnya.


Dmkn renungan singkat hari ini,  7 Ramadhan 1442 H. Semoga Allah menerima puasa dan seluruh rangkaian ibadah kita.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 7 Ramadhan 1442 H.

19 April 2021.

(767.04.21).

Keberuntungan SHALAT.

 

Keberuntungan di dunia ini benar-benar dinikmati oleh orang yang jauh dari perbuatan yang keji dan mungkar. Orang yang berbuat keji kalau diketahui masyarakat akan dikucilkan. Orang yang melakukan kemungkaran, berupa korupsi, pencurian, penipuan, serta tindak kriminal lainnya, akan berurusan dengan hukum.


Tarok lah korupsinya ndak "ketangkap tangan KPK", atau ndak diketahui yg berwajib lantaran "rapinya". Tetap saja pelaku korupsi tdk merasa tenang. Ybs merasa dibayang-bayangi takut se-waktu2 kasusnya mencuat. 


Begitu hampir tersingkap korupsinya, umpamanyalah sempat lari keluar negeri, tapi hidup tetap tidak tenang. Jangankan keluar negeri dengan predikat lari DPO korupsi, sedangkan bepergian biasa saja, tidak mengenakkan alias tersiksa, bila dibandingkan dengan berada di rumah sendiri, berada di negeri sendiri. Ketika bepergian segala  serba terbatas. Itu sebabnya orang dalam perjalanan mendapatkan kemudahan Puasa Ramadhan boleh diganti di hari lain. Shalat boleh di jama’ dan di qashar.  Shalat tdk diganti di hari lain, seperti puasa. Shalat perintah harian, puasa Ramadhan perintah tahunan.


Bagi orang shalat, dari waktu ke waktu iman diperbaharui, sebab iman itu turun naik. Pas mulai akan turun, datang shalat menstabilkan iman, maka akan terhindarlah ahli shalat dari perbuatan keji dan mungkar

 ".....وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ....."

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar)". (QS Al-Ankabut 45).


Bila perbuatan keji atau kemungkaran misalnya ada kesempatan maksiat atau korupsi itu muncul menjelang shalat dzuhur, setibanya shalat dzuhur setelah shalat, niat itu terurungkan dengan pembaharuan iman ketika shalat. Begitu seterusnya stlh shalat ashar, maghrib, isya dan subuh timbul rekunstruksi iman terus menerus. (keculai shalatnya tidak benar, tetap saja tidak berbekas), tetap saja perbuatan keji dan mungkar berjalan terus.


Oleh karena itu syarat shalatnya adlh:


Shalat. (Q.S. Al-Mu'minun ayat 2 dan 9)

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ 

(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya,

وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ

"serta orang yang memelihara shalatnya."


Shalat khusyu' dan terpelihara yaitu konsisten. Nggak tempo2 shalat, tempo2 tidak, tidak pula shalat sesempatnya. Insya Allah tidak ada peluang buat terlaksananya kekejian dan kemungkaran, sebab antara shalat ke shalat berikutnya terus menerus iman diperbaharui.


Dari sekelumit sajian di atas tersimpul bahwa betapa beruntungnya orang yg konsisten melaksanakan shalat. Sebab terhindar dari perbuatan keji dan mungkar maka dirinya hidup aman tentram di dunia tanpa takut berurusan dg penegak hukum. Tanpa khawatir sangsi sosial masyarakat. Di akhirat didapati janji Allah:


اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا  ۚ جَزَآءً بِۢمَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."

(QS. Al-Ahqaf ayat 14).


Semoga puasa Ramadhan kita menambah khusyu' dan istiqamah kita dlm menjalankan shalat agar menjadi orang yg beruntung.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 8 Ramadhan 1442 H.

20 April 2021.

(768.04.21).

Sunday, 18 April 2021

PENANTIAN KUBUR.

 

Informasi ttg alam kubur satu-satunya adalah Informasi dari Allah melalui rasul-rasul utusan Allah. Di informasikan bahwa bagi hamba Allah yang beriman dan beramal saleh yang ikhlas sehingga diterima Allah, maka kehidupan di alam barzah ini menyenangkan, tidak ada siksa di dalamnya. 


Siksa kubur ini sungguh dahsyat karena itulah Rasululah Muhammad ﷺ. berpesan agar  selalulah berdo’a di akhir shalat:

Do’a yang diajarkan oleh Nabi ﷺ adalah:


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَشَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ


“Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabil qabri, wa ‘adzabin naar, wa fitnatil mahyaa wal mamaat, wa syarri fitnatil masihid dajjal [Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan kejelekan Al Masih Ad Dajjal].” (HR. Muslim)


Bagi orang yang terhindar dari siksa kubur, masa penantian di alam barzah ini terasa sangat singkat sebaliknya bagi pendosa masa ini sangat panjang. Berapa lama panjang waktu tunggu itu, wallahu 'alam. Informasi Al-Qur’an, setelah bgt lama menunggu di alam kubur tiba saatnya panggilan dari alam kubur untuk bangkit berkumpul seperti tersurat di ayat 68 surat Az-Zumar


 ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِ ذَا هُمْ قِيَا مٌ يَّنْظُرُوْنَ

"Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah)."


Manusiapun datang ber-bondong2, diinformasikan ayat 18 surat An-Naba:


يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ اَفْوَا جًا ۙ 

"(yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong,"


Ukuran perasaan lama atau sebentar, adlh relatif. Saya jadinya ingin mencontohkan ketika nunggu antrian berobat. Ada seseorang yg merasa bgt lamanya menunggu dpt giliran 4 jam, sampai uring2an. Ada yg tenang2 saja disikapi dg biasa2 saja. Yg menentukan merasa lama atau wajar2 saja lamanya menunggu a.l.:

1. Kondisi penyakit yg diderita. Kalau sakitnya parah, nyenut2, nyekot2 tentu jadi ndak sabaran, semenit terasa sebulan...

2. Menyikapi waktu menunggu. Karena dianggap santai, jadi nya ndak terasa. Saya sering dlm hal menunggu seperti itu, saya gunakan waktu utk menulis. Ada jg kulihat orang menggunakan waktu utk mengaji, utak atik game, dll. pokoknya kesibukan.


Nah kembali ke waktu nunggu di alam kubur........

Tentulah orang yg mengalami siksa kubur akan merasakan betapa lamanya tinggal di alam kubur.


Sebaliknya orang yg mendptkan kenikmatan kubur akan merasa sebentar sekali bahkan rasanya tak sampai sehari. Hal tsb dpt kita nukil Al-Baqarah ayat 259:


".........." ۗ قَا لَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَا لَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَا لَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَا مٍ............"

".........Berapa lama engkau tinggal (di sini)? Dia (orang itu) menjawab, Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari. Allah berfirman, Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun................".


dan Al-Kahf ayat 25:

وَلَبِثُوْا فِيْ كَهْفِهِمْ ثَلٰثَ مِائَةٍ سِنِيْنَ وَا زْدَا دُوْا تِسْعًا

"Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun."


Tiada upaya yg dpt dilakukan menghadapi alam kubur, selain banyak berbekal ibadah amal kebaikan dan berdo'a serta berserah diri kepada Allah.


Semoga Allah menerima ibadah kita khususnya di bulan Ramadhan ini, sehingga alam kubur kita bakal jadi taman2 surga.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 6 Ramadhan 1442 H.

18 April 2021.

(766.04.21).

Friday, 16 April 2021

UCAPAN ter-AKHIR.


Hari ke empat sdh kita jalani shaum Ramadhan 1442 H.  Di hari ke dua dan ke tiga kuangkat thema artikel tentang panggilan Allah yaitu "Panggilan lima" (shalat) "Panggilan ke Dua" (haji). Panggilan  bagi manusia "terakhir di dunia" adlh "Panggilan Maut".


"Panggilan shalat", orang bisa menunda pelaksanaannya. 


"Panggilan haji" tergantung mampu. Tapi "Panggilan maut" tak dpt ditunda tdk tergantung mampu. 


"Panggilan maut" ini tidak seorangpun dapat menghindar, kalau panggilan shalat dan panggilan haji, masih dapat menghindar. Panggilan ketiga ini, suka atau tidak suka, mau tidak mau panggilan ini harus dipenuhi. Tidak perduli dalam kondisi apapun, apakah sedang sehat segar-bugar, atau sedang sakit. Apakah sedang bahagia bersuka cita, atau sedang susah merana. Orang beriman senantiasa berharap agar ujung hayatnya dalam keadaan baik, populer disebut “husnul khatimah”. 


Seseorang dalam keadaan memenuhi panggilan maut berada dalam “husnul khatimah”, dianya dijamin masuk ke dalam surga Allah. Salah satu indikator orang meninggal dunia “husnul khatimah” adalah yang bersangkutan sanggup mengucapkan “La ilaha illallah”.

Menyoal kesanggupan mengucapkan “La ilaha illallah” itu ada orang berkomentar: “enak benar ia masuk surga, selama hidup selagi sehat tak banyak amal kebaikan, tetapi hanya lantaran sakaratul maut mampu mengucapkan “La ilaha illallah” dapat masuk surga”.


Untuk mengklirkan komentar ini saya punya cerita:


Dalam antrian wudhu di halaman kediaman orang tua pemimpin kantor kami, seorang senior saya berulang kali mempersilahkan saya untuk wudhu lebih dahulu. Saya sungkan, bukan saja seharusnya mendahulukan senior, tetapi beliau berada di depan saya, tentu saya harusnya mendahulukan Bapak tersebut. 


Karena sudah berulang-ulang saya disuruh duluan, saya laksanakan juga. “Nah begitu, kan saya dapat mencontoh”, demikian senior saya bergumam, setelah selesai saya berwudhu.


Belakangan saya baru mengetahui atas pengakuan resmi beliau ketika bersama di dalam mobil perjalanan pulang malam hari dari rumah duka ke kota domisili kami berjarak 130 Km. 


Beliau sudah lupa cara berwudhu karena sudah sekian lama kegiatan itu ditinggalkan. Masa kecil beliau sering shalat, tinggal dekat masjid, walau tidak mahir, dapat pula baca Al-Qur’an, karena memang dari keluarga penganut agama Islam. 


Cerita ini semula saya kira di karang saja oleh senior saya tadi, untuk memecah keheningan perjalanan jauh dalam rangka melayat ke kampung pemimpin cabang kami, waktu itu ayahanda peminpin kami meninggal dunia. Ketika wudhu dalam rangka shalat jamaah Isya’, atasan saya ini dari nama dan statusnya memang Islam, jadi rupanya nggak enak kalau tidak ikutan shalat, seperti tamu lainnya yang memang bukan beragama Islam.


Saya menjadi percaya bahwa cerita senior saya itu mendekati kebenaran, ketika saya pulang kampung cuti tahunan. Kejadian itu saya buat oleh-oleh pengalaman kepada mendiang ayahanda saya. Saya bercerita, terlihat ayah saya menyimak dengan serius cerita saya itu. Seusai saya bercerita di bola mata beliau nampak berkaca-kaca, rupanya beliau terharu. 


Kejadian itu menurut beliau pernah dialami langsung oleh diri ayah saya. Masa remaja beliau di rekrut “Dai Nipon” menjadi “Hai Ho” berperang melawan sekutu di kancah perang dunia II. Bertahun tahun selama ikut tentara “Matahari Terbit” itu, shalat terpaksa ditinggalkan. Akhirnya benar-benar lupa sampai cara berwudhu saja. Itulah yang disesali beliau sampai berlinang air mata. Ayahku selanjutnya meneruskan masa muda beliau ikut sebagai pejuang kemerdekaan dan menjadi “Veteran pejuang kemerdekaan”. Semoga Allah s.w.t. mengampuni dosa ayahku dan memasukkannya ke dalam rahmat-Nya, Semoga perjuangan beliau merebut kemerdekaan mendapat pahala di sisi Allah s.w.t.


Kesimpulan dari kejadian di atas adalah bahwa segala perilaku, termasuk ucapan dapat dengan mudah dilaksanakan bila melalui latihan, melalui kebiasaan. Tidak akan dapat dilakukan kalau lama tidak berlatih. Demikian juga halnya mengucapkan “La ilaha illallah” tidak akan serta merta dapat dilakuan orang ketika maut sudah datang, kalau tidak dengan kebiasaan setiap hari mengucapkan kalimat tersebut. 


Untuk membiasakannya maka sekurangnya seorang muslim yang melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam akan latihan mengucapkan “La ilaha illallah” sebanyak 9 kali. yaitu shalat subuh sekali, shalat dzuhur, ashar, maghrib dan isya’ masing-masing dua kali. Bagaimana kalau orang tidak shalat tentu lidahnya berat walau hanya sekedar mengucapkan “La ilaha illallah”, pada saat syakaratul maut, sebab jarang latihan. Jadi hanya orang yang setiap hari shalat sehingga di dalam hidupnya lidahnya selalu menyebut “La ilaha illallah”.  Dengan sendirinya pada saat kritis menghadapi maut sanggup mengucapkan “La ilaha illallah”, oleh karena itu benarlah apa yang di sabdakan Rasulullah Muhammad ﷺ. 


مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ


“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)


Bahwa apabila akhir kalimat seseorang ketika meninggal dunia ucapannya “La ilaha illallah” masuk surga, lantaran si pengucap “La ilaha illallah” memang keseharian dalam hidupnya sudah secara rutine mengucapkan kalimat taukhid tersebut sekurang-kurangnya di dalam melaksanakan shalat.


Sesuatu ucapan sering disebut, berlangsung kalau bgt lama dilakukan akan menjadi kebiasan otomatis, refleks. Contoh ibu2 di dapur, jika sering mengucapkan zikir "Alhamdulillah", "Astaghfirullah", Masya Allah................... Lailaha ha illahlah..........

Jika suatu ketika ngiris bumbu dapur, ndak sengaja pisau dapur tersayat ke jari. Maka ucapan Astaghfirullah, masya Allah atau Lailahaillallah, itulah yg akan meluncur dari bibir sang ibu. 


Begitu juga bila si ibu kalau melihat sesuatu yg mengagetkan ucapannya "ya ampiun", "ya amplop", "astagaa"................. 

Jika ibu tadi ngiris bumbu dapur ndak sengaja pisau nyenggol jari, sambil kaget juga ngucapkan "ya ampiun", "ya amplop", atau "astagaa".


Oleh karena itu di kesempatan bulan Ramadhan ini, perbanyaklah berzikir, shalat2 sunnah, sebab berzikir dan shalat2 sunnah mampu melatih lidah terbiasa menyebut kalimat thayibah. Sehingga semoga di saat dipanggil maut, menghembuskan nafas terakhir lidah sanggup berucap:

.لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 4 Ramadhan 1442 H.

16 April 2021.

(764.04.21). 

PANGGILAN ke DUA.


Hari ke dua Shaum Ramadhan kemarin, saya sajikan tulisan "Panggilan Lima", yakni panggilan shalat 5 waktu. Berbagai respond dari manusia menyikapi panggilan itu.

Hari ini izinkan saya menampilkan artikel Panggilan ke Dua yaitu "Panggilan Haji". 

Panggilan yang ke dua, dari empat panggilan Allah buat manusia. Panggilan  haji hanya sekali dalam seumur hidup, tidak 5 x sehari seperti panggilan shalat. 


Semua orang sebenarnya dipanggil, sebagaimana panggilan shalat tadi. Panggilan shalat walau sudah dipanggil, tetap saja banyak yang tidak mau memenuhi panggilan itu. Demikian juga panggilan haji, sudah dipanggil banyak orang tidak bersedia memenuhi panggilan itu.  Nabi Ibrahim tlh diperintah Allah:

وَاَ ذِّنْ فِى النَّا سِ بِا لْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَا لًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَا مِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ 

"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,"

(QS. Al-Hajj ayat 27)


Orang tidak memenuhi panggilan haji dapat dikelompokkan dalam empat kelompok besar:


Pertama, MAMPU tapi tak MAU.

Punya kesanggupan tetapi tidak bersedia memenuhi panggilan itu. Kelompok ini punya kesanggupan financial yang cukup, kesehatanpun baik dan semua sarana mendukung. Diibaratkan panggilan shalat, kelompok ini walau tinggal berdampingan dengan masjid, ceramah agama sering masuk ke telinganya, tetapi tetap saja tidak bergeming. 


Kedua, MAU tapi TAK MAMPU.

Kelompok kedua ini sangat ingin memenuhi panggilan tersebut, kondisi kesehatan baik, sayang tidak punya kemampuan financial. Kelompok ini tak punya uang. Kelompok ini kemauan tinggi kemampuan kurang, kesempatan ada.


Ketiga, MAMPU-MAU tapi tak sehat.

Kelompok ini sangat ingin memenuhi panggilan haji, punya kemampuan financial yang cukup tetapi tidak punya kemampuan kesehatan. Kemauan tinggi, kemampuan ada kesempatan tiada. Apa boleh buat, tenaga sudah tidak mampu lagi, bisa karena uzur lantaran lanjut usia, bisa diusia muda tapi ditawan sakit-sakitan, agaknya kelompok ini ada ruhsah (keringanan/pengecualian), walau tidak sanggup memenuhi panggilan itu. 


Kelompok ke empat, MAU-MAMPU-SEHAT blm berpeluang.

Di era sekarang, pergi haji harus waiting list berbilang tahun. Tidak sbgmn halnya tahun sembilan puluhan, ada uang- badan sehat-berangkat.

Tentu kelompok ini sepanjang ybs tlh berniat sungguh2, sdh masuk di waiting list insya Allah tdk tergolong melalaikan panggilan haji andaikan pun umur habis sblm dpt menunaikan ibadah haji.


Haji adlh perintah Allah yg wajib. Bila syarat cukup, tidak dipenuhi, tergolong melanggar perintah Allah. Pembaca paham bahwa tdk melaksanakan perintah Allah, bukan termasuk orang taqwa. Sedangkan taqwa adlh output shaum Ramadhan. Perintah dimaksud tercatum jelas di surat

Ali Imran ayat 97: 


وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ


"Mengerjakan haji merupakan kewajiban hamba terhadap Allah yaitu bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke baitullah. Barangsiapa mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Maha kaya tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam.”  


Semoga puasa kita hari ini di terima Allah dan kita do'akan

semoga saudara2 kita yg sdh berniat sungguh2 untuk berhaji, tahun ini dpt melaksanakan dlm keadaan aman dan selamat.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 3 Ramadhan 1442 H.

15 April 2021.

(763.04.21). 

Panggilan LIMA.

Dalam keseharian, ummat Islam dipanggil Allah untuk menghadap-Nya, selama lima waktu. Yaitu mulai subuh, ketika tidur sedang nyenyak-nyenyaknya. Selanjutnya dzuhur ketika kerja sedang asik-asiknya. Dilanjutkan ashar di saat badan sudah letih bekerja dan penat mengurus/memikirkan urusan dunia. Disambung maghrib ketika sedang remang2 pertukaran siang dengan malam. Jeda sejenak datang waktu isya’ dimana sedang asyik bercengkrama dengan keluarga.


Rujukan panggilan shalat tsb tersurat (QS. Al-Isra' ayat 78)

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ ۗ اِنَّ قُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ كَا نَ مَشْهُوْدًا

"Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) subuh. Sungguh, sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."

لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ

Sejak matahari tergelincir:

Shalat Dzuhur dan Ashar.

اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ

Gelap malam: 

Shalat Maghrib dan Isya.

 وَقُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ

Ketika fajar:

Shalat Subuh.


Bagi orang yang  belum menikmati manisnya iman, memang terasa panggilan ini cukup merepotkan, sebab momen panggilan itu kebetulan diikuti keadaan yang cukup memberi alasan untuk sulit memenuhinya.

* Misalnya ketika subuh, 

dlm hati terbersit pikiran "sebentarlah tidur lagi enak, nanti kalau dipaksa bangun kepalanya akan pusing. Malam tadi kebetulan tidurnya terlambat”, kata orang yang berat melaksanakan shalat dan banyaklah lagi alasan untuk membenarkan diri untuk tidak shalat subuh utamanya bagi lelaki, seharusnya pergi ke masjid.

* Dzuhurpun tiba, begitu adzan berkumandang, pas lagi sibuk kerja, “tanggung tinggal sedikit lagi”, ntar waktu dzuhur kan masih panjang”. pikir kebanyakan orang yang punya kesibukan. Al hasil panggilan itu di-cuek-kan, tak sengaja memang, ....., tau-tau sudah masuk waktu ashar belum sempat shalat dzuhur.

* Ashar masuk, suara adzan berkumandang lagi memanggil untuk shalat dan untuk kemenangan. Bagi orang yang imannya tipis ada saja alasannya, misalnya: “sebentar lagi pulang, nanti shalat di rumah saja, ini pakaian kurang bersih ndak sreg. Apa gunanya shalat kalau tidak tenang, kalau ragu apakah bersih badan dan pakaian”. 


Taunya ketika pulang kerumah dari tempat pekerjaan, teryata jalanan macet, atau ada apa saja halangan yang sulit diprediksi. Akhirnya shalat asharpun lewat begitu saja.

* Maghrib baru saja sampai di rumah, lagi kecapean belum istirahat, belum mandi entah apa lagi, banyaklah alasan sehingga shalatpun tidak dikerjakan.

* Waktu isya’ sudah terlanjur tertidur, akhirnya panggilan Allah seharian itu satu kalipun tidak dapat dipenuhi dengan berbagai alasan.


Para pendahulu orang beriman orang-orang dekat Rasulullah Muhammad ﷺ , mana kala terdengar panggilan adzan, walau sedang apapun ditinggalkan. 


Ibarat kata sedang mencangkul tanah, begitu mendengar adzan cangkul yang hrsnya diayunkan ke depan dibatalkan yaitu langsung dilepas atau malah dilempar ke belakang atau ke samping. Sebab takut kalau sampai tercangkul, maka tanah hasil cangkulannya bila ditanami tanaman dan tumbuh menjadi tanaman yang dimakan, akan menghasilkan sesuatu yang haram. Makan sesuatu yang haram mengakibatkan sekurangnya tiga hal yaitu: Pertama ibadah tidak diterima, kedua do’a tidak terkabul/ditolak dan ketiga daging yang dihasilkan makanan yang haram dibakar dengan neraka.


Praktek langsung melepas segala kegiatan ketika adzan, masih berlangsung di Mekkah atau Madinah, disana dpt disaksikan disiplin shalat ini, terindikasi pada para pedagang. Begitu adzan berkumandang, andaikan kita sedang tawar menawar barang, sdh OK misalnya, ambil uang dari dompet, mau bayar, lantas terdengar adzan, mereka sdh tdk bersedia lagi terima duitnya. Dagangan langsung ditutup dg kain tebal atau terpal. Pedagang menuju masjid gabung shalat.


Dari panggilan yg lima ini;

ada memang orang yang masih lumayan baik, dapat mengerjakan shalat utamanya shalat maghrib, dengan berjamaah di masjid dekat rumahnya pula. Lumayanlah ada pengakuan, walau hanya sekedar shalat harian. Ada juga kelompok masyarakat ini yang shalat memang mengambil harian seperti shalat maghrib tadi, dan juga ada yang shalat pekanan, yaitu sepekan sekali yaitu hanya hari Jum’at, ikut shalat Jum’at. Bahkan ada yang tahunan, kelompok ini sibuk sekali ikut shalat Idul Fitri di hari lebaran.


Bagi yang shalat pekanan apa lagi harian, masih berpotensi untuk memenuhi panggilan utama Allah yg lima ini . Dari hasil penelitian atas pengalaman dari banyak teman yang sempat berusia senja, ketika masih mahasiswa mereka sering diajak untuk shalat Jum’at oleh teman satu kost. Alhamdulillah setelah selesai kuliah kebiasaan itu berlanjut. Mula-mula yaa hanya sekedar shalat Jum’at, lama kelamaan karena sering jum’atan dan mendengar khatib berkhutbah memberikan ajakan taqwa, akhirnya kelompok ini setidaknya dimasa tua jadi ahli shalat, jadi orang yang selalu memenuhi panggilan Allah yang lima tersebut, sebanyak 5 kali sehari semalam. Dalam pada itu yang mengambil tahunan, dari penelitian seadanya atas dasar berita yang dikumpulkan, bahwa kelompok ini kebanyakan akan sampai akhir hayat hanya sibuk ketika akan lebaran saja. Shalat yang lain mereka memilih absen. Ketika shalat ied mereka berpakaian terbagus dg wewangian yg enak aromanya.


Semoga kita semua termasuk orang yg sangat memperhatikan panggilan Allah  berupa "panggilan shalat" ini, sblm datang panggilan penutup yaitu "panggilan maut".


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 2 Ramadhan 1442 H.

14 April 2021.

(762.04.21).

Tuesday, 13 April 2021

Faktor penggerak Puasa.

 

Penggerak puasa setiap individu berbeda. Faktor yg membedakannya sekurangnya ada lima y.i. faktor: usia, kesehatan, kegiatan, kebiasaan dan iman.


FAKTOR Pertama USIA

Anak orang keluarga muslim yang mukmin, sudah mulai ingin ikut sahur. Bahkan kecewa berat kalau ketika sahur dia tdk dibangunkan. Namun puasa mereka tdk bertahan sampai maghrib. Kadang hanya setengah atau seperempat hari. Stlh meningkat usia 5 thn ke atas bnyk anak yg sdh berpuasa bagaikan orang dewasa. Kenikmatan puasa kelompok ini merasa puas tlh menunjukkan dianya sdh besar, bukan anak-anak lagi. Namun kemampuan phisik blm mendukung.

Orang yg usia lanjut kadang ada yg sdh tak mampu lagi berpuasa, model ini kemampuan phisik sdh tdk mendukung.

Di atas ditulis "muslim yg mukmin". Karena muslim blm tentu mukmin. Sdgkan mukmin berarti bukan sekedar tlh memeluk Islam tetapi telah meningkat menjadi beriman. Keluarga yg beriman dlm keseharian kegiatan beribadah tlh terlaksana mengakar di rumah tangga keluarga tsb. Anak-anak yg lahir di keluarga ini Insya Allah, sejak dini, sejak dia mulai ngerti, langsung sdh melihat kegiatan ibadah. Maka si anak/balita akan jadi ahli ibadah.


FAKTOR Kedua KESEHATAN.

Seringkali kesehatan menghalangi berpuasa. Jika berpuasa malah sakitnya dihawatirkan bertambah parah. O.k.i. dengan kasih sayang Allah diberikan keringanan melalui 

firman Allah:

ۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"............ Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. ..... ...... . "

(QS. Surat Al-Baqarah: Ayat 184)


FAKTOR Ketiga KEGIATAN

Pekerja keras menggunakan phisik kadang tak mampu berpuasa. Sbg bahan informasi buat kelompok ini, bahwa perang Badr itu berlangsung ummat Islam sdg puasa Ramadhan hari ke 17. Manapula puasa pertama kali.

Saya kutipkan ayat:

.......... وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

"..........Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

(QS. Al-Anfal 8: Ayat 41).

Pertanyaan; seberat apakah pekerjaan itu, berat mana dg pertempuran di terik matahari padang pasir, jarang ada pohon tempat berlindung. Mereka berpuasa. 


Menyoal kegiatan travelling atau safari. Ada kekhususan diberikan Allah keringanan tersurat di ayat  185 Al-Baqarah;


"........وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ


Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

(QS. Al-Baqarah ayat 185).


Dlm konteks travelling tsb pernah kami bersama istri thn 2012 di hari pertama di bulan Ramadhan, menuju Saudi sahur di Jakarta. Kami fikir kegiatan di perjalanan toh tdk berat, maka lanjut berpuasa. Sesampainya di bandara King Abdul Azis, waktu Jakarta sdh pukul 6 petang keliwat, seharusnya sdh berbuka. Tapi kami harus menahan  dahaga dan lapar 4 jam an lagi, disana matahari masih bersinar terang benderang. 


Dari keadaan itu barulah ku-sadar betapa hebatnya Allah mengatur kemudahan untuk melaksanakan ibadah puasa dg memberikan fasilitas bagi yg sdg travelling diayat di atas 

اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ............dst


Al-Qur'an turun sblm ada perjalanan dg pesawat terbang, tetapi sdh dipersiapkan aturan kemudahan pengguna pesawat terbang ketika berpergian.


FAKTOR ke empat KEBIASAAN

Kembali kita umpamakan keluarga yg mukmin, terbiasa dalam keluarga tsb menjalankan puasa. Katakanlah salah satu anak kelak stlh besar misalnya karena pekerjaan atau sekolah, pindah ke suatu kota berjauhan dg ortu, dimana di lingkungan baru terkondisi tdk ada orang yg berpuasa. Karena panggilan kebiasaan ybs tak nyaman kalau tdk puasa. Kebiasaan membuat orang bisa melaksanakan.


FAKTOR ke lima IMAN.

Iman inilah justru pendorong paling kuat orang berpuasa. Justru memang puasa ini adalah ibadah ditujukan kpd orang yg beriman. Sbgm sering menjadi topik bahasan para ustadz bln Ramadhan:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"

(QS. Surat Al-Baqarah: Ayat 183)


Saya masukkan faktor iman yg terakhir, justru faktor iman inilah yg paling penting. Sebab tanpa iman orang ndak tahan menahan lapar dan dahaga, juga tanpa landasan iman, puasa hanya dpt lapar dan dahaga saja.


Dmkn renungan  shaum Ramadhan hari ini, smg bermanfaat. Tksb tlh sudi membaca, mhn maaf bila ada kekurangan. 


Semoga puasa Ramadhan kita diterima Allah dan do'a kita terutama agar dunia ini segera terbebas dari bencana disebabkan makhluk Allah dinamai Corona.


آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

بارك الله فيكم

 وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

M. Syarif Arbi.

Jakarta, 1 Ramadhan 1442 H.

13 April 2021.

(761.04.21).