Thursday, 7 May 2020

BERDO'A buat kedua ORTU

Tujuh syarat diampuni dosa, terkandung di surat Al-Ahqaf 15-16,
adlh:
1. Berbuat baik kpd kedua ORTU.
2. Berdo'a mhn petunjuk bersyukur.
3. Berdo'a untuk kedua ORTU.
4. Berdo'a dpt beramal shaleh.
5. Berdo'a untuk generasi penerus.
6. Bertaubat.
7. Berserah diri kpd Allah.

Syarat 1 dan 2  tlh ku publish di hari ke 13 dan 14 Ramadhan 1441.H.

Kelanjutan dari syarat tsb adlh syarat ke 3:

"Berdo'a untuk kedua ORTU"

Selama kedua orang tua masih hidup bersama kita, perbuatan baik diperintahkan Allah seperti butir 1, masih dapat kita lakukan.

Saya pernah melihat seorang anak setelah kehidupannya mapan, ingin membahagiakan orang tuanya.

Orang tersebut yang saya sebut "anak" itu berkehidupan mapan setelah usia empatpuluhan. Teman saya ini masih hidup Orang tuanya, tapi sudah begitu tua.
Maksud ingin menyenangkan orang tua, saya lihat dipasangkannya arloji yang paling mahal ke pergelangan tangan orang tuanya, tapi nampaknya lengan yang sudah mulai kerisut itu tidak begitu pas lagi buat arloji mahal tersebut. Ekspresi wajah si Ortu biasa saja, tatapan matanya lurus saja tdk ada rona senang.

Beda ketika kita masih usia TK dibelikan mainan. Usia remaja dibelikan sepeda motor oleh Ortu. Cerianya kita bukan kepalang.

Suatu ketika orang tua itu dibawa ke restoran yang paling mahal, apa dikata, beliau sudah tidak begitu selera lagi dengan makanan bagaimanapun enak cita rasanya.

Di kesempatan lain orang yang sudah renta itu diajak si anak rekreasi ke tempat wisata, si orang tua tidak lagi bersedia, karena menurut beliau bahwa badannya sudah sakit-sakitan, kalaupun ikut, mungkin hanya tidur-tiduran saja di hotel, tidak dapat lagi ikut serta menikmati panorama keindahan tempat wisata.

Jadi bagaimanapun keinginan seorang anak membahagiakan orang tua, tak akan pernah berkesampaian. Apalagi tidak sedikit anak yang kurang dapat berbuat baik kepada kedua orang tuanya selama mereka masih hidup. Dapat karena memang tidak punya kemampuan, atau memang kurang perhatian.

Kesempatan berbuat baik kepada kedua orang tua tidak terputus selagi masih hidup sampaipun yang bersangkutan telah berpulang ke ramahmatullah.

Kalau anda kebetulan tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat baik dengan membahagiakan berupa kesenangan karena anda tidak berkelebihan sedang beliau masih hidup, do’akanlah kesehatan beliau, agar beliau senantiasa dalam rahmat Allah. Demikian juga bila beliau telah meninggal, do’a anak yang saleh akan mengalir terus untuk orang tua mereka yang telah berada di alam barzah. اِنْ شَآءَ اللّٰهُ bahwa Allah akan membalaskan apa yang kita perbuat itu, dengan anak cucu keturunan kita kelak setelah kita meninggal dunia juga akan berbuat yang sama mendo’akan kita.............

Betapapun banyak perbuatan baik kita اِنْ شَآءَ اللّٰهُ  belum cukup untuk membahagiakan kita di akhirat kalau bukan karena rahmat Allah. Rahmat Allah mungkin bukan karena amal baik kita selama hidup tetapi dapat saja dianugerahkan Allah setelah kita berada di “alam sana” karena do’a anak dan cucu kita.

Ketahuilah bahwa do'a anak yg shaleh mrpkn amal buat ORTU yg tlh meninggal dunia.

Hadist dari sahabat Abu Hurairah r.a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya. (HR. Ahmad 9079, Muslim 4310, Abu Daud 2882 dan yang lainnya).

Semoga Allah memudahkan kita semua dlm menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Aamiin.

Semoga Shaum Ramadhan ini mrpk titik tumpu untuk kita semua bertaubat, memperbaiki diri dg ibadah dan amal saleh serta senantiasa tak lupa mendo'akan kedua orang tua usai shalat sekurang-kurangnya dg do'a:

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

"Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil".

Mari tetap kita sisipkan do"a smg wabah virus Korona ini sgr diangkat Allah dari dunia ini.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 15 Ramadhan 1441 H.
8 Mei 2020.

Wednesday, 6 May 2020

TUJUH syarat diampuni DOSA (Bagian 2)

Hari ke 13 Ramadhan kemarin, telah ku publish tulisan bahwa
Allah memberikan informasi di dalam Al-Qur’an bahwa bagi hamba Allah yang sudah masuk usia 40 tahun bila memenuhi TUJUH syarat;  akan diampuni dosa2nya dan diterima semua amalnya, kemudian memasukkannya ke dalam sorga.

Syarat tsb ditegaskan Allah dalam surat Al-Ahqaf 15 dan 16; (redaksi ayat dan maknanya tlh dimuat di bagian 1).

Dari dua ayat di atas dpt dipetik informasi TUJUH syarat akan diampuni dosa2nya dan diterima semua amalnya, kemudian memasukkanNYA ke dalam sorga.

Syarat tsb adlh:
1. Berbuat baik kpd kedua ORTU. (tlh dimuat di bagian 1)
2. Berdo'a mhn petunjuk bersyukur.
3. Berdo'a untuk kedua ORTU.
4. Berdo'a dpt beramal shaleh.
5. Berdo'a untuk generasi penerus.
6. Bertaubat.
7. Berserah diri kpd Allah.

ad. 2 Berdo'a mohon petunjuk bersyukur.

Hamba Allah yang berserah diri secara total kepada Allah dalam seluruh hidup dan matinya, di segala amal perbuatannya, karena sudah bulat keyakinannya bahwa segala apa saja yang terjadi hanya dapat terjadi se izin Allah SWT. Untuk melakukan shalat saja, ketika dipanggil dengan adzan “haiyyaa alas shalah” = “marilah shalat”. diajarkan untuk menjawab “La haula wala quwwata illa billah” = “tiada daya dan kekuatan selain dari Allah”, maknanya panggilan shalat tersebut hanya dapat dipenuhi jika Allah memberikan izin dengan memberikan kekuatan. Sejalan dengan itu maka dalam hal mensyukuri nikmat Allah juga harus mendapatkan petunjuk Allah. Itulah sebabnya berdo’a mohon petunjuk untuk mensyukuri nikmat Allah harus dilakukan.

Agar selalu mendapat petunjuk Allah untuk bersyukur, cukup baik bila mengamalkan do'a diajarkan Rasulullah kpd Mu’adz bin Jabal R.A., agar setiap usai shalat berdo'a:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

”Ya Allah, Tolong aku untuk menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik untuk-Mu.”
(HR. Abu Dawud, Al-Nasai, dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud).

Ada dua sebab kenapa untuk mensyukuri nikmat Allah itu harus memohon juga petunjuk Allah yaitu:

a. Apa saja yang harus disyukuri.
Pada hakikatnya apa saja yang diberikan Allah kepada kita harus disyukuri, baik berwujud musibah apalagi anugerah. Orang beriman tetap berprasangka baik terhadap Allah, karena semua yang diciptakan Allah tidak sia-sia,
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا
“maa halaqta hadzaa bathila”, (Alqur’an Ali-Imran191).

b. Orang beriman menyikapi misabah:
1. introspeksi diri, apakah suatu musibah merupakan peringatan dari Allah,
2. apakah musibah suatu cobaan dari Allah dan
3. apakah musibah tersebut bermakna untuk terhindar dari musibah yang lebih besar.

Demikian juga halnya anugerah dimaknai:
1. dapat berupa: cobaan,
2. dapat berupa fitnah dan
3. dapat juga awal dari suatu musibah.

Kecerdasan untuk menilai musibah dan anugerah adalah merupakan kearifan yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang beriman dan bertaqwa.

Kecerdasan tersebut harus senantiasa kita mohon kepada Allah agar kita tidak merugi di dunia dan akhirat.

Bagaimana cara bersyukur yang tepat, setelah dapat menilai suatu musibah, dapat ditentukan cara bersyukurnya.

a. Bertaubat bila dapat musibah yang disadari merupakan peringatan dari Allah.

b. Bersabar jika musibah ditenggarai sebagai cobaan dari Allah

c. Bersyukur jika dibalik musibah yang kecil terselamatkan dari musibah yang lebih besar.

d. Berhati-hati bila mendapat anugerah yang dipahami sebagai cobaan, atau awal dari suatu musibah. Misalnya mendapat amanah akan suatu jabatan penting dalam masyarakat. Mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baiknya agar terhindar dari kemungkinan mencelakakan diri sendiri maupun orang lain.

e. Memelihara anugerah yang berpotensi menjadi fitnah, misalnya diperoleh banyaknya harta atau anak keturunan, supaya harta dan anak keturunan tersebut bukan justru menurunkan ketaatan kpd Allah.

Perilaku orang beriman bersabar dpt musibah bersyukur menerima anugerah:

Dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan R.A. ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya. (HR. imam Muslim. Ahmad; Ad-Darimi dan Ibnu Hibban).

TUJUH syarat diampuni DOSA,  syarat  ke tiga ke empat dstnya
اِنْ شَآءَ اللّٰهُ
akan dilanjutkan di tulisan bagian berikutnya.

Semoga Allah memudahkan kita semua dlm menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah. Aamiin.

Semoga Shaum Ramadhan ini mrpk titik tumpu untuk kita semua bertaubat, memperbaiki diri dg ibadah dan amal saleh serta pandai bersyukur. Aamiin

Semoga wabah virus Korona ini sgr diangkat Allah dari dunia ini.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 14 Ramadhan 1441 H.
7 Mei 2020.

Monday, 4 May 2020

ENAM langkah Merawat TAQWAHA

Sifat yg menyatu di diri manusia adlh: Taqwaha dan Fujuraha.
Sifat taqwaha dominan dipengaruhi iman. Sifat fujuraha didorong oleh nafsu ( nafsu tak baik; sebab nafsu jg ada yg justru hrs dipertahankan).

Bagaimana membuat sifat “taqwaha” manusia menjadi lebih dominan daripada sifat “fujuraha”. Bagaimana memininalkan sifat “hewaniah” yang terlekat di diri setiap individu. Bagaimana senantiasa memelihara sifat “malaikat”, agar tetap melekat di diri. Bagiamana menjauhkan sifat “syaitaniah” yang menggoda dari segala penjuru.

Untuk itu 6 (enam) langkah di bawah ini agaknya patut para pembaca renungkan:

PERTAMA; Tepati janji. Allah telah mengambil janji kepada manusia sejak di alam ROH, tentang ke-Esaan Allah.
وَ اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ اَشْهَدَهُمْ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ ۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۗ قَا لُوْا بَلٰى  ۛ  شَهِدْنَا  ۛ  اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ ۙ 
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,"
(QS. Al-A'raf ayat 172)

Oke--lah bahwa tidak satupun kita masih ingat akan janji itu, sejak roh dimasukkan kedalam raga, ingatan itu menjadi sirna. Akan tetapi kita semua yang beragama Islam setiap hari di saat sholat berjanji setia kepada Allah, dengan mengucapkan kesaksian dalam “Syahadatain” bahwa hanya ber-Tuhan kepada Allah dan bersaksi pula bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Konsekwensinya adalah melaksanakan segala perintah Allah dan sekuat tenaga mencontoh perbuatan Rasulullah. Menjauhi semua larangan Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu antara lain Allah mengingatkan:

الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَا قِهٖ ۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
"(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi."
(QS. Al-Baqarah ayat 27)

Jadi orang yang merugi itu ada tiga golongan:
a. yang melanggar penjanjian dengan Allah.
b. orang yang memutuskan silaturahim dan
c. orang yang membuat kerusakan di muka bumi.

KEDUA; senantiasa merasa diawasi oleh Allah setiap gerak gerik kita. Seperti antara lain terungkap pada surat Al-Hujurat 18:

اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَا للّٰهُ بَصِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
"Sungguh, Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Dengan begitu setiap insan merasa bahwa apapun yang dilakukannya baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi merasa diawasi Allah. Misalnya  case korupsi atau suap, baik itu sudah dinikmati maupun baru dalam negosiasi melalui sms dan telekomunikasi, semua jelas akan terpantau dan tertangkap tangan oleh Allah....... Kepada KPK dapat saja beralasan macam-macam tetapi CCTV Allah tak kan dapat dihindari.

Selanjutnya kita lihat informasi dari Allah dalam Al-Qur’an bahwa kita nanti di akhirat akan dibagikan kitab yang dapat ngomong tentang apa yang pernah kita lakukan.

هٰذَا كِتٰبُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِا لْحَقِّ ۗ اِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"(Allah berfirman), Inilah Kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. Al-Jasiyah ayat 29)

KETIGA; evaluasi diri.
Orang bijak setiap hari mengevaluasi diri, apa saja amal baik yang telah dilakukan apa saja amal buruk yang terlanjur dikerjakan untuk segera koreksi dan mohon ampun kepada Allah. Kalau keterlanjuran salah sesama manusia segera mohon maaf. Orang yang selalu mengevaluasi diri, hidupnya akan penuh kehati-hatian, tidak sembrono dalam berbuat, selalu berhitung atas keputusan yang diambil. Berpikir sebelum berucap, karena takut menyakiti orang lain. Senantiasa ingat janji kepada Allah dan juga kepada manusia (kalau jadi pejabat kan disumpah). Senantiasa merasa diawasi oleh Allah seperti langkah kedua di atas. Melalui aktivitas evaluasi ini sendiri, juga yang bersangkutan merasa mendapat pengawasan dari Allah, karena itu dalam evaluasi dianya tidak membenar-benarkan diri, atau mencari alasan pembenaran atas apa yang sudah dia lakukan. Banyak orang yang tau bahwa dianya salah, tetapi berusaha mencari pembenaran atas kesalahan itu. Contoh kecil seseorang diposisi jabatan menengah misalnya; suatu hari tidak sengaja menerima sesuatu yang seharusnya tidak boleh diterima dengan jabatannya itu. Malamnya dalam evaluasi diri, dianya membenarkan dirinya, membujuk nuraninya “ah kamu dapat sogokan hanya sekian, bos kamu lebih parah lagi, lebih besar lagi, kamu tak seberapa”. Diapun tenang dan hari hari selanjutnya menjadi terbiasa menerima sogokan kecil-kecilan itu, keterusan dan kalau orang berurusan dengannya tak memberi sesuatu lantas dipersulit. Spy orang yg berurusan memberi sesuatu yg kemudian dianggap sbg adat istiadat.

KEEMPAT; penalty diri.
Langkah keempat ini penting dilakukan untuk memacu diri agar tetap komit terhadap janji kpd Allah dilangkah pertama dan merasa diawasi langkah kedua dan evaluasi di langkah ketiga. Output janji yang kurang tertepati, pengawasan terlalai dan hasil evaluasi diri bahwa ada ibadah yang kurang,  misalnya biasanya sholat tahajud, karena tidurnya kemalaman lantaran nonton sepak bola sehingga terbangun hampir  adzan subuh, sehingga tidak sempat sholat tahajud yang saban malam dilakukan, maka berikan penalty kepada diri misalnya pagi harinya  perbanyak rakaat sholat dhuha, perbanyak bersedekah, tingkatkan jumlah sedekah misalnya biasanya hanya Rp 2.000,- penalty diri dengan sedekah Rp 5.000,- Penalty ini menjadi pemacu agar ibadah rutine tetap terlaksana.

KELIMA; serahkan diri.
Sesudah keempat langkah di atas dilakukan, serahkan diri kepada kuasa Allah. Sebab apalah artinya ibadah yang kita lakukan, jika Allah tidak berkenan, apalah artinya seluruh ibadah kita jika dibandingkan dengan nikmat Allah yang sudah kita terima. Apalah artinya ibadah kita dari ukuran besarnya pahala dibandingkan dengan menggunungnya dosa kita. Tidak seorangpun masuk ke dalam surga kalau bukan karena RAHMAT ALLAH. Oleh karena itulah kuncinya setelah maksimal usaha, serahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. semoga Allah mengampuni dosa dan menerima ibadah kita dan lebih dari pada itu smg Allah menaungi kita dengan RAHMAT-NYA.

KEENAM; jauhi diri dari perangkap syaitan. Perangkap syaitan begitu menggurita dari atas, dari kiri kanan dari bawah dari semua penjuru. Yang paling menonjol diantara perangkap syaitan itu adalah “PALING”. Merasa paling kaya, merasa paling banyak berbuat kebaikan, merasa paling banyak ibadah, merasa paling pintar, merasa paling berkuasa, merasa paling benar. Adalah baik menjadi orang benar, tetapi menjadi paling buruk menjadi orang yang merasa paling benar.

Smg kita semua berhasil MERAWAT ketaqwaan kita yg tlh dibina melalui shaum Ramadhan. Justru berhasilnya shaum Ramadhan berbuah taqwa, realitanya nampak ssdh Ramadhan. Perilaku, sifat taqwa itu berkesinambungan jika DIRAWAT.

Berkenaan hari ke 12 Ramadhan 1441 H. masih mewabah virus Korona, mari kita berdo'a, smg Allah sgr mengangkat wabah ini dari dunia ini.

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 12 Ramadhan 1441 H.
5 Mei 2020.

Sunday, 3 May 2020

Potret INSAN

Kiranya di suasana "stay at home" terkait wabah virus Korona. Mumpung sdg shaum,...... dan tafakur dirumah, mari kita menelusuri diri ini !!!

Manusia diciptakan memiliki 4 kepribadian yaitu:

Pertama; Kepribadian hewani, sehingga ada yang mengatakan “manusia adalah hewan yang berakal dan dapat ngomong”.

Kedua; kepribadian syaitan, selalu mengajak dan cendrung berbuat kejahatan.

Ketiga; kepribadian Malaikat, hanya berbuat baik dan mengabdi kepada Allah.

Keempat; kepribadian Insani,  condong berbuat taqwa, disaat yang sama berpotensi berbuat fujuraha (nista).

Kepribadian Insani, tidak melulu seperti hewan yang hanya mempunyai nafsu makan, tidur dan reproduksi, walau nafsu itu dipunyai oleh Insani. Manusia yang potensi “taqwaha”nya menonjol akan makan yang halalan thayyibah, tidur untuk memenuhi sunatullah bagi kesehatan dan hubungan reproduksi sesuai koridor yang dibenarkan oleh norma agama masing-masing.

Kepribadian Insani tidak hanya seperti syaitan yang inginnya hanya berbuat kejahatan saja, karena sejahat-jahatnya manusia tetap saja ada sisi baiknya, di lain pihak sebaik-baik manusia bila dicari pasti ada jeleknya. Oleh karena itu maka setiap rakaat kita sholat ada do’a duduk diantara dua sujud berupa beberapa permohonan kita ajukan kpd Allah. Diantara  permohonan itu  "WAJBURNII"
“Lindungi diriku (ya Allah) dari tersingkapnya aibku”.

Sebab jika aib kita di dunia ini dibukakan Allah, maka tidak seorangpun diantara kita tidak punya aib....... Makanya dalam agama Islam membuka aib seseorang digolongkan ghibah, sedang ghibah adalah sesuatu yang sangat dilarang dengan ancaman “memakan bangkai saudara kita yang sudah mati”,  (QS. Al-Hujurat ayat 12)

وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ

"dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik".

Kecuali ghibah yang dihalalkan antara lian membuka aib seseorang demi kepentingan pengadilan.

Kalaulah aib kita di dunia ini dibukakan Allah maka mungkin anda tidak sanggup keluar rumah lantaran teramat malu. Aib itu mungkin akan terbuka juga di akhirat kelak manakala kita belum memohon ampun dan bertobat.

Contoh konkrit bahwa manusia tidak semata-mata bertabiat seperti syaitan,  tidak ada seorang penjahatpun yang ingin anak turunannya meneruskan tabiat "penjahatnya" itu.

Kepribadian Insani tidak pula bagaikan malaikat, yang tiap saat taat, sebab malaikat tidak diberikan nafsu seperti hewan dan manusia, sehingga tidak ada peluang untuk berbuat jahat. 

Hewan tidak diberikan pula sifat syaitan, sehingga nafsunya hanya diumbar sebatas kewajaran dirinya sebagai hewan. Hewan hanya makan makanan tradisional mereka, hanya berhubungan untuk reproduksi sesuai dengan naluri sejak nenek moyang mereka. Misalnya pemakan rumput hanya rumput dan sejenis rumput yang ia makan, tidak akan doyan makan daging, sementara itu hewan pemakan daging tidak akan sudi diberi makan rumput. Memang ada sejenis hewan yang dapat makan sembarangan tapi tetap saja beda dengan manusia. 

Manusia apa saja sanggup dia makan, karena punya kemampuan mengkonversi setiap benda. Dikenallah istilah bahwa besi beton dimakan manusia, aspal dimakan manusia, semen dimakan manusia.

Lagian sebuas-buasnya Harimau, kalau memangsa Rusa di hutan belantara, hanya memangsa seekor rusa untuk keperluan makan sekeluarga mereka di hari itu, besok barulah mereka berburu lagi, jadi hanya secukupnya saja.

Beda dengan manusia bila bertemu kawanan Rusa di dalam hutan, kalau memungkinkan ditembak semua, jika tidak habis dimakan sehari itu, diawetkan dibuat dendeng.

Bicara soal hubungan reproduksi hewan dari zaman ke zaman begitu-begitu saja yaitu antara jantan dan betina mereka. Giliran manusia lain lagi, ada perilaku sejenis, dan bahkan konon ada perilaku lintas makhluk.

Jadi ketika seseorang sedang khusuk melaksanakan ibadah, dengan ikhlas berbuat baik sesama (ibadah sosial), sifat “taqwaha” nya muncul. Ketika yang bersangkutan korupsi maka potensi “fujuraha” yang bersangkutan dominan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ۖ 
"maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,"
(QS. Asy-Syams ayat 8)

Oleh karena itu tdk usah heran
siapapun dia sbg manusia, berpotensi korupsi, jika ada peluang, kecuali orang-orang yang sifat “taqwaha” nya sangat dominan. Untuk mencegah peluang itu perlu system yang sanggup memprotek, sebab Rumus kejahatan adalah:
“Kejahatan = Kesempatan + Kemauan”.

Membendung kemauan jahat ada di sifat manusia “taqwaha” dan mendorong kemauan jahat terdpt di sifat manusia “fujuraha”. Sedangkan untuk meminimalkan “Kesempatan” ialah system. Kalau koruptor kemudian dari hasil korupsinya itu untuk membiayai ibadahnya, maka "taqwaha" dibiayai "fujuraha" dapat diumpamakan “berwudhu dengan najis”.

Ramadhan 1441 H., dlm keadaan Physical distancing dan social distancing serta stay at home, dg shaum yg tlh/sdg kita jalani hari ke 11 ini justru untuk melatih diri memperkuat sifat تَقْوٰٮهَا kita spy lbh dominan mengalahkan sifat
فُجُوْرَهَا
yg siap menggantikan kekosongan sifat تَقْوٰٮهَا dlm jiwa kita, bila menipis.

Tak lupa saban saat mari kita selipkan do'a; kiranya Allah sgr mengangkat wabah virus Korona ini dari dunia. Aamiin.

Smg kita semua berhasil menggapai buah shaum yaitu تَقْوٰ

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 11 Ramadhan 1441 H.
4 Mei 2020.

Saturday, 2 May 2020

Sumber NASIHAT

Seingatku semasa ketika masih sekolah dulu,  dari Es Er sampai Es Em Aa, saban Ramadhan sekolah libur. Tapi bukan karena Korona shg belajar di rumah, memang waktu itu entah bgmn sdh terjadual saban Ramadhan sekolah libur.

Kesempatan libur itu, kami yg kbtln mengikuti organisasi "Pelajar Islam" digunakan sebagai bulan  "Mental Training". Menghimpun semua anggota untuk memperdalam agama, sekaligus mrpkn sarana  Pembelajaran dan NASIHAT-MENASIHATI dan pencerahan mental. Diberikan oleh para pemateri. Kadang dari kalangan sesama anggota, sekaligus sbg media pelatihan dan nasihat menasihati. Selaras menerapkan firman Allah:

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ
"kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Asr; ayat 3)

SUMBER NASIHAT.
Bila ditelusuri sumber nasihat itu datang dari berbagai arah sekurangnya dari dua arah yaitu INTERN dan EKSTERN.

1.   INTERN:

a. Hidayah Allah, seorang yang tidak melalui nasihat seseorang sanggup melakukan hal-hal yang baik dalam hidupnya. Hal-hal yang baik dilakukan orang tersebut adalah sesuai benar dengan apa yang diperintahkan Allah melalui agama. Kejadian ini sangat dimungkinkan, seperti yang diisyaratkan oleh Allah dalam Al-Qur’an di banyak surat antara lain dapat disimak pada surat:

Al-Baqarah 142.
يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus."

Al-An'am 88.
يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِهٖ ۗ
Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Yunus 25:
وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.

b. Potensi diri; yang bersangkutan dilahirkan dan dibesarkan dilingkungan orang baik-baik, sehingga ia tumbuh menjadi orang baik. Manusia pada dasarnya cenderung untuk berbuat baik.  Dalam hal seperti ini pemberi nasihat adalah lingkungan, berlangsung terus menerus sejak seorang anak manusia tumbuh hingga menjadi orang dewasa. Dalam pada itu banyak kasus seorang anak terlahir dari keluarga yang tidak baik dibesarkan dilingkungan kurang baik, potensi diri yang bersangkutan menjadikan dia seorang manusia yang baik. Tidak pula jarang terjadi, seorang terlahir dan berada dilingkungan tidak baik, dalam perjalanan hidup potensi diri yang bersangkutan tidak menerima ketidak beresan asal kelahirannya dan lingkungannya, ia mencari nilai-nilai sendiri didorong oleh potensi dirinya, sehingga menjadi orang baik. 

2.   EKSTERN.

a.   Orang lain; bersumber dari orang tua, guru di sekolah, para ustadz di majelis pengajian, juga termasuk orang yang lebih tua, tidak jarang pemberi nasihat adalah teman sebaya. Diantaranya melalui media "Mental Training" seperti kami adakan saban Ramadhan dulu pernah kami adakan.

Banyak kasus orang tua tidak mempan memberi nasihat ke seorang anak, gurupun sudah kewalahan apalagi ustadz, sebab ke majelis pengajianpun anak itu tak pernah ikut, tetapi teman sebaya justru dapat memberikan nasihat sehingga mengubah peri laku seseorang. Ternyata faktor komunikasi disini yang memegang peranan, teman sebaya dapat mengkomunikasikan pesan nasihat dengan tepat dengan bahasa yang seragam yang langsung dapat dimengerti oleh yang bersangkutan menyentuh kalbunya.

b. Fenomena alam; makluk yang paling pertama memberi nasihat/petunjuk kepada manusia, adalah sebangsa burung. Ketika putera nabi Adam Qabil membunuh Habil, sebangsa burung  menguburkan  seekor burung lain yang mati. Contoh penguburan ini memberikan nasihat kepada Qabil bagaimana caranya menguburkan Habil. Selanjutnya alam tidak henti-hentinya memberikan nasihat kepada manusia dari dulu, sekarang dan sampai nanti. Tidak terbatas binatang dapat diambil perilakunya untuk menasihati manusia bila bijak mengambil  i’tibar,  juga musim silih berganti, malam dan siang, flora dan fauna semuanya dapat menjadi sarana yang mampu memberikan nasihat  terhadap manusia.

c. Pengalaman pribadi; sekurangnya saya punya dua contoh peristiwa pribadi seseorang dapat memberikan nasihat, sehingga berubah dari perangai yang keras menjadi lembut.  Seorang pejabat setingkat kepala bagian perangainya keras bukan kepalang. Kalau anak buah melakukan kesalahan sedikit saja langsung dibentak-bentak, dimarahi, tidak peduli anak buah itu lelaki atau perempuan. Tidak jarang pemandangan pegawai perempuan sampai menangis, bila dimarahi oleh yang bersangkutan. Pernah terjadi ada pegawai memilih berhenti dari pada merasa tertekan di bawah kepemimpinannya. Suatu ketika anak kesayangan beliau ini, terserang sakit berat dan akhirnya meninggal dunia. Peristiwa ini, sangat membuat sang kepala bagian terpukul, sekaligus mengubah peri laku beliau  yang selama ini keras menjadi penyabar dan lembut.

Contoh lain, seorang pemimpin, bukan main kerasnya. Pokoknya luar biasa kerasnya, sangat panjang  bila  ditulis, salah satu yang paling terkesan, beberapa pegawai honor dipecat hanya karena makan Durian. Suatu hari pegawai honor sekelompok anak masih muda-muda baru tamat SLTA ditugaskan membenahi arsip di gudang arsip berdekatan dengan rumah dinas sang pemimpin. Lazim bila masih jadi pejabat penting, kalau tiba musim durian, biar di halaman tak ada pohon durian, akan ada saja relasi yang berbaik hati mengirim berkarung-karung durian. Durian yang dikirim biasanya durian yang kw satu, sebab masing-masing relasi berlomba untuk mengirim yang terbaik. Ketika berbenah arsip tersebut, semerbak harum durian menggoda selera anak muda tadi. Beberapa buah durian tersimpan di gudang  disimpang gudang dekat arsip, tersantaplah oleh  berapa anak muda yang tengah berbenah arsip. Rupanya keadaan ini membuat berang si pemimpin berujung kepada pemecatan pegawai honor yang ingin merajut nasib menjadi pegawai harian, berlanjut kalau prestasi baik menjadi pegawai tetap. Pupuslah sudah harapan beberapa anak muda tadi berkarier di instansi itu lantaran hanya memakan durian. Kelakuan anak-anak muda inipun sesungguhnya tetap saja tidak terpuji, walau alasannya makan durian yang sudah mulai hampir terbuka, dari pada mubazir. Apapun alasan mereka itu memakan yang bukan haknya, tanpa izin yang empunya. Tetapi sanksi pemecatan ini banyak orang yang “ususnya panjang”, menilai terlalu berlebihan. Tidak lama berselang setelah peristiwa tersebut anak lelaki beliau yang bersekolah tidak sekota dengannya menderita sakit aneh cenderung ke gangguan jiwa, sampai sampai tidak mengenal orang tuanya bahkan dirinya sendiri, makan minum sampai mandipun harus dibantu.  Keadaan ini menyadarkan sang pemimpin, betapa kekerasan perangainya selama ini mungkin mendapat koreksi dari yang Maha Kuasa. Melayang ingatannya kepada tindakannya selama ini.  Betapa di setiap cabang dia memimpin ada saja pegawai yang dipecat. Walau sebenarnya alasan administratif dan ketentuan yang berlaku dapat membenarkan tindakan beliau. Suatu hari beliau mulai terpikir apakah tindakannya itu membuat anaknya terkena imbasnya, yang justru “dipecat dari manusia normal” hidup segan mati tak mau. Peristiwa ini, mengubah total perilaku pemimpin tersebut, sehingga tidak gampang mengambil keputusan yang keras terhadap bawahan. Semula kalau giliran memberi kondite pejabat di bawahnya jarang ada yang sangat baik, paling banter seorang saja yang baik dan selebihnya kondite sedang dan kadang ada yang kurang. Kini dia berlaku sebaliknya, hampir semua pajabat bawahan dikonditenya dengan baik dan tak ada satupan yang diberi kondite kurang.  Sesudah itu tidak ada lagi pegawai yang dipecat sampai beliau pensiun. Jika ada pegawai yang melakukan kesalahan berat, dia lebih memilih menyerahkan kepada team, semacam “team kehormatan pegawai”  yang memberikan keputusan. Sejauh mungkin ia memberikan pembelaan dihadapan “team” kepada pegawai yang melakukan kesalahan dengan melihat dari nilai-nilai positip dari pegawai yang bersangkutan.

d.   Petunjuk AlIah melalui mendengar, atau membaca, atau belajar;  Pernah terjadi seseorang yang tengah berbuat mesum, terhenti hanya lantaran mendengar suara adzan dari masjid dekat lokasi mesum. Hatinya tersentuh dan mulai sesudah itu ditandainya sebagai perbuatan mesumnya yang terakhir dan yang bersangkutan bertaubat selanjutnya hanya melaksanakan perbuatan baik.  Hal yang sama  karena membaca, antara lain dapat saja terjadi pembaca blog ini lantaran terbaca contoh-contoh di atas, kebetulan mempunyai perangai yang terwakili oleh contoh, langsung mengubah perilaku menjadi baik. Apalagi dengan melalui media belajar di sekolah-sekolah agama, pada umumnya tabiat  alumni sekolah agama tersebut akan berusaha mencerminkan ilmu yang diperolehnya. Walau ada saja yang menyimpang, seorang jebolan sekolah agama, menyandang  predikat  haji tapi entah bagaimana terlibat korupsi.

Demikian, akhirnya kita berserah diri kepada Allah, semoga kita diberikan petunjuk oleh Allah menjadi manusia yang baik. Dapat saja petunjuk berasal dari nasihat yang datang dari berbagai arah seperti yang terdapat dalam contoh di atas.

Semoga wabah virus Korona ini juga mrpkn sarana PENASIHAT bagi ummat manusia sbg individu, sbg pemimpin2 bangsa, untuk introspeksi diri guna mengoreksi kesalahan dan kekhilafan dg bertaubat, selanjutnya  meningkatkan ketakwaan, berbuat baik dan berlaku adil.

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 10 Ramadhan 1441 H.
3 Mei 2020.

Friday, 1 May 2020

DITENTUKAN YG TERAKHIR

Beberapa saat tengah adzan dzuhur berkumandang, sebuah mobil lumayan mewah masuk di halaman parkir sebuah apotik. Tak berapa lama keluar seorang pria muda sekitar 25an dengan pakaian rapi, kemeja lengan panjang kelihatannya bermerk mahal,  berdasi, tapi di kakinya ketika turun dari mobil memakai sandal jepit.

Rupanya si pemuda, bukan bermaksud mampir ke apotik, ia titipkan mobil ke tukang parkir selanjutnya menyeberang jalan menuju masjid.  Kami suami istri sedang nunggu penebusan obat di sebuah apotik Provider ex
kantorku. Di apotik itu, sepanjang resep berasal dari dokter keluarga, kami tidak perlu merogoh kocek asalkan obat di resep terdaftar obat yang dibolehkan/ditanggung dan plafond tersedia masih meng cover.

Karena mungkin masih lama antri resep kami, diriku juga memilih untuk menyeberang jalan yang dibatasi oleh selokan besar, jalan besar lagi lawan arah  menuju masjid, untuk ikut shalat dzuhur. Istriku harus mengalah menunggu, kalau-kalau nanti giliran dipanggil, kan repot lagi. Lagian istri kan ndak wajib shalat berjamaah di masjid.

Istriku mengisahkan dalam perjalanan kami pulang dari Jakarta Timur ke Jakarta Pusat itu, bahwa sepeninggalku shalat dzuhur tadi ada seorang ibu duduk dekat istriku di ruang tunggu apotik, mengomentari tentang pemuda yang memparkir mobil yang kukisahkan di atas.

Komentarnya begini:

“Bukan main pemuda itu; sudah Muda,  Ganteng, Kaya, Taat ibadah pula. Sangat beda dengan tetangga saya, Udah Tuwek, Jelek, Melarat dan membelakang ke langit lagi” (mungkin maksudnya tidak taat ibadah dan melanggar aturan agama).

Kumulai membahas komentar ibu itu  dengan kajian agama melalui referensi hadits  di bawah ini:

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِكَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Diriwayatkan dari Zaid bin Wahb, dari Abdillah yang berkata: Telah menyampaikan hadits pada kami, Rasul SAW. yang benar dan dibenarkan: sesungguhnya individu kamu dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya empat puluh hari, kemudian menjadi alaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudghah selama itu pula, kemudian diutuslah malaikat meniupkan ruh padanya. Diperintahlah untuk menuliskan empat kalimat yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan bahagia atau susah. Demi Dzat yang tiada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya seseorang mengamalkan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dia dengan surga itu sehasta, kemudian lewat atasnya ketetapan yang tertulis, maka beramal dengan amalan ahli neraka, masuklah ia ke neraka. Sesungguhnya seseorang yang beramal amalan ahli neraka hingga antara dia dengan neraka jarak sehasta, lewatlah ketetapan yang tertulis itu, kemudian beramal amalan ahli surga, maka masuklah ia ke surga. Hr. Ahmad (164-241H), al-Bukhari (194-256H), Muslim (206-261H), al-Tirmidzi (209-279H) al-Bayhaqi (384-458H). Redaksi yang dikutip di sini adalah riwayat Muslim.

Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa tentang sudah ada empat ketentuan nasib seseorang selama menjalani hidup di dunia yaitu:

1.     Tentang rezekinya. Sehingga kalau kita renungkan, kehidupan ini; kita kaya, kita miskin, kita biasa-biasa saja, sudah menjadi ketentuan dan merupakan pilihan yang maha kuasa dan sudah ditentukan sebelumnya. Kata lain kalau anda kebetulan jadi orang kaya, bukan hanya lantaran anda pintar, lantaran  anda rajin, tetapi sesungguhnya sudah dipilih oleh pencipta anda. Begitu pula jika anda miskin, atau biasa-biasa saja. Oleh karena itu, apapun posisi kita hendaklah diterima dengan penuh kesabaran untuk menjalaninya. Dalam posisi apapun anda tergantung bagaimana cara membawa diri. Jadi orang kaya, hendaklah penuhi kewajiban anda sebagai orang kaya. Jadi orang miskin, hendaklah anda menjadi orang miskin yang beriman, berbudi dan beradab, jadilah orang miskin yang sabar dan tahu hak-hak sebagai orang miskin.

2.     Ajalnya. Kalau begitu bahwa takaran umur sudah ditetapkan, tapi tak seorangpun yang mengetahui batasan umurnya dengan pasti, itu rahasia sang pencipta. Oleh karena itu setiap kita tidak boleh membiarkan diri kita untuk menantang segera mengakhiri umur kita. Bila sakit wajib berobat, bila ada bahaya mengancam jiwa yang diketahui di depan mata, wajib kita untuk menghindar. Seperti contoh wabah Korona yg sdg Pandemi ini. Menurut para ahli medis mudah menularkan atau tertular. Ikhtiarnya stay at home, physical distancing dan social distancing. kalau terpaksa keluar hati2 lindungi diri pakai masker. Ulama pun mereferensi sementara sampai keadaan normal, tak berjamaah dulu. dll. Ini salah satu wujud ikhtiar menghindar dari satu taqdir ke taqdir yg diharapkan lbh baik.

3.     Amalnya dan bahagia atau susah. Perbuatan kita, jadikah kita ini seperti pemuda dikisahkan di atas, atau kita jadi orang yang amalnya sebaliknya. Apakah kehidupan kita jadi orang kaya yang sekaligus bahagia.  Apakah anda menjadi orang kaya enak benar menurut orang yang melihatnya, tetapi sesungguhnya anda dalam ketidak bahagiaan, penuh kegelisahan, penuh kecemasan. Apakah anda menjadi orang yang miskin tapi bahagia, atau sudah miskin harta, miskin pula jiwa.

4.     Termasuk tentang apakah calon bayi nantinya, setelah singgah di dunia kembali ke akhirat  akan menjadi penghuni surga atau neraka.

Khusus butir 4, agaknya kehidupan ini akan ditentukan oleh bagaimana akhir dari kehidupan ini. Dapat saja orang yang semasa muda taat, tetapi menjelang tua entah pengaruh apa menjadi terpeleset ke jurang nista.

Kalau kita renung-renung agak mendalam bahwa kehidupan manusia ini dari muda sampai tua dapat termasuk dalam kelompok:

1.     Sejak muda sampai tua terus dalam iman dengan demikian amalnya baik, akhir hayat khusnul khatimah.

2.     Semasa muda beriman dan beramal baik, karena sesuatu sebab masa menjelang tua terpengaruh membuat iman melorot dan akhirnya menutup usia dalam keadaan kemerosotan iman.

3.     Semasa  muda beriman dan beramal baik, semasa pertengahan usia karena pengaruh lingkungan merosot imannya dan tak sempat beramal baik. Untunglah semasa tua sebelum wafat sempat tobat dan kembali menjadi orang shaleh.

4.     Semasa muda belum mengenal iman, belum mengenal ibadah, belum melakukan perbuatan baik. Masa menjelang tutup usia, sempat bertobat dan menjadi orang yang beriman kuat dan beramal shaleh.

Pernah kami mempunyai teman sekantor dulu, semasa awal-awal saya kenal tergolong bukan ahli ibadah, tak jauh dari meja mengadu nasib, tangannya tak jauh dari mencekek botol. Tapi Subhanallah, menjelang tutup usia berubah menjadi orang yang taat ibadah, sama sekali melepaskan diri dari duduk di meja judi dan tidak lagi mengenal leher botol yang biasanya ia cekek. Terakhir kudengar temanku itu sudah tutup usia dan dalam keadaan istiqamah dalam ibadah dan imannya. Inikah yang dimaksud dalam hadits di atas ”Sesungguhnya seseorang yang beramal amalan ahli neraka hingga antara dia dengan neraka jarak sehasta, lewatlah ketetapan yang tertulis itu, kemudian beramal amalan ahli surga, maka masuklah ia ke surga”

Jadi siapapun kita, tidak dapat memastikan nantinya seseorang akan bagaimana nanti, dan yang menentukan adalah kehidupan terakhir. Lebih ekstrim lagi ditentukan pada saat lepasnya roh dari jasmani atau sering disebut dengan sakaratul maut.

Semoga kita semua ditakdirkan Allah menjadi orang-orang yang dapat menjalani hidup ini dengan iman dan amal shaleh sejak sekarang sampai akhir hayat.

آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta, 9 Ramadhan 1441 H.
2 Mei 2020.

RENUNGAN:

Bahwa sdh berbilang bulan, dunia dilanda wabah virus Covid 19.

*Sungguh terbukti bahwa manusia sangat lemah bgt sangat terbatas kemampuannya.........

Di suasana kehidupan keseharian saja sungguh diri ini tidak berdaya:

• Tak seorangpun yang mampu mengatur denyut nadinya, sebagai  indikasi jantungnya  masih berdetak, memompa darah ke seluruh bagian tubuh.  Pengetahuan insan sebatas hanya menghitung berapa denyut dalam semenit.

• Tak seorangpun yang sanggup menentukan tekanan darahnya berapa di batas bawah dan berapa di batas atas yg mengindikasikan apakah dianya bertekanan darah tinggi atau bertekanan darah rendah atau normal tekanan darahnya, untuk tau dianya sehat atau menderita sakit.

• Ketika sakit, sadarlah diri bahwa diri ini diciptakan, bukan menciptakan sendiri. Bahwa diri ini terdiri dari Roh dan Jasmani. Roh ciptaan Allah dimasukkan ke dalam Jasmani yg juga ciptaan Allah. Sehingga sadarlah bahwa diri ini tidak memiliki apa-apa, semuanya milik Allah. Roh milik Allah dan Jasmani juga milik Allah. Tak ada pilihan lain selain menyerahkan diri kepada Allah.

• Alangkah indahnya perilaku setiap insan, bila kesadaran kepemilikan diri ini, dipupuk dalam setiap keadaan baik sehat maupun dalam keadaan sakit, mudah-mudahan berdampak berbuat banyak kebaikan mengurangi segala bentuk ma'siat dan kejahatan.

Ramadhan "stay at home" ini baik untuk merenung diri masing2, seberapa jauh sdh dikehidupan ini dihiasi dg kebaikan. Seberapa banyak kesalahan yg tlh dikakukan untuk bertaubat.
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
"Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri." Al-Baqarah 222.
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.". Al-Baqarah 195.

Smg Allah menerima taubat kita dan diberi kemudahan untuk berbuat baik.

​آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ

Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta 08 Ramadhan 1441 H.
01 Mei 2020.