Tuesday, 14 April 2020

Dialog imajiner ROH dan JASAD

Sejak ndak boleh keluar rumah, stay at home terkait korona,  jalan pagi setiap hari sejaman jadinya terhenti. Hanya berjemur di pelantaran tempat jemuran di lt 3. Tempatnya ndak luas, ndak kena buat jalan2, praktis hanya buat berjemur.

Beberapa tahun ini amalan jalan di bawah sinar matahari sblm pukul 10 an cukup menyegarkan. Nampaknya dpt ngendalikan diabet yg hinggap 20 thn lalu.

Pintu kereta resmi berpalang pintu sekitar 300 mtr dari rumah. Guna menapaki sejaman jalan pagi supaya ndak bosan, melewati pintu kereta lanjut ke jalan protokol. Menyusuri trotoar keliling, sampai lagi ke rumah sdh 45 menit, tinggal nambah 15 menit mutar di kompleks.

Nyebrang ke rumah  selain di pintu berpalang resmi, ada juga pintu tak resmi yg biasa digunakan penyeberang pejalan kaki. Pintu ini k.l. 20 mtr dari rumah. ....
Singkat memang, tapi cukup berbahaya karena rel ganda. Satu dari arah Utara ke Selatan dan satunya dari arah sebaliknya. Tanpa bunyi lonceng tanda kereta akan lewat.

Sbg ilustrasi keberbahayaannya nyebrang pintu tak resmi, saya pernah mengalami. Toleh kiri-toleh kanan,  yakin hanya satu rangkaian kereta yg lewat, dari utara...... Awakpun bgt rangkaian kereta lewat melangkah nyebrang........
Baru saja melewati jalur yg barusan dilewati kereta, tau2nya rangkai kereta dari selatan sdh hampir lewat. Entah bgmn tadi ketika toleh kiri toleh kanan kereta dari selatan ndak terlihat dari kejauhan.....

Isi dada rasanya hilang, jantung berdetak kencang. Untung reflek masih ada, tarik langkah dan tertegun berdiri tak jauh dari badan kereta api berlari kencang. Terpaan anginnya, refleks mata di pejamkan hidung ditutup.

Sampai dirumah, tinggal lemas, lunglai sambil minum air untuk pengurang stres, hampir jadi almarhum. .......

Dalam renunganku stlh nafas normal:

Pertama; bahwa kalaulah sampai ku ketabrak kereta, mungkin Roh ku akan menyesali diriku; "kurang ikhtiar". Wong ada pintu kereta resmi berpalang pintu, dijaga petugas, didahului tanda bunyi sblm palang pintu di tutup. Kenapa tidak lewat pintu itu saja, lbh aman. Biar agak repot sedikit lantaran jauh 300 berbanding 20 mtr.

Kedua; Mungkin Roh ku akan mengatakan; "itu sudah taqdir". Sblm nyebrang kau kan sdh ikhtiar, toleh kiri toleh kanan, kau kan tak lihat ada dari kejauhan kereta dari selatan ndak terlihat olehmu. Itu kan tak senganya namanya.

Ketiga; atas dialog Roh yg kedua aku mungkin dpt katakan kpd Roh;
Ku akui bahwa aku kurang ikhtiar, seperti anda (Roh), katakan,..... tetapi begini saja untuk menilai diriku matiku bunuh diri atau bukan bunuh diri:

a. Kalau ketika kereta pertama dari utara itu lewat kmdn aku sengaja membenturkan diriku ke badan kereta, atau ketika beberapa detik kereta akan lewat sengaja ku nyebrang, itu aku tergolong bunuh diri. Karena aku tau, tlh melihat kereta itu akan lewat.

b. Umpamanya aku tertabrak kereta yg kedua dari selatan, Roh dan Jasadku terpisah mrpkn  taqdir. Karena benar2 tidak melihat.

Kejadian bbrp tahun y.l. di pintu kereta tdk berpalang itu menginspirasi ku,...... dg merebaknya wabah virus yg di namai Korona.

Jakarta menerapkan PSBB sejak Jum'at 10 April 2020. Jasadku sudah terbangun 70 tahun dimana didalamnya ada Roh. Kusadari bahwa di jasadku ada pula penyakit kronis seperti kukemukakan di atas. Kata ahli kesehatan, orang yg seusiaku dan punya penyakit kronis diabet, rentan thdp virus ini dan daya tahan tubuhnya lemah. Banyak case bila tertular Korona,  tak tertolong kelompok ini.

Oleh karena itu sdh sejak 20 Maret 2020 sblm diterapkannya PSBB  di Jakarta aku sdh berikhtiar tdk lagi keluar rumah.

Langkah itu kulakukan justru menyadari bahwa, Jasadku adalah Allah yg membangun, jadi milik Allah. Roh juga Allah yg memberikan ke jasadku diusiaku 120 hari dlm kandungan Ibuku, jadi Roh ku Allah juga yg empunya.

Namun aku harus pelihara sebisa mungkin Jasad milik Allah ini, agar tidak ditegur Roh ku seperti dalam DIALOG IMAJINER dg Jasad ku nanti, seperti yg ku coba mengibaratkannya.

Umpamanya ku bersikap tetap aktif keluar, tdk mengindahkan ketentuan stay at home sbg ikhtiar ikut berpartisipasi memutus mata rantai penyebaran virus Korona. Boleh jadi bila sampai tertular, aku oleh Roh ku dlm dialog dikelompokkan seperti "ketiga a".

Memang maut pasti datang tak ada yg dpt mengelak. Musibah adlh taqdir Allah. Namun sbg manusia hrs berikhtiar untuk menuju taqdir Allah yg lbh baik.

Sikap berdiam diri dirumah dlm ikhtiar memutus mata rantai penyebaran virus, inipun cukup berdalil seperti banyak diungkap oleh para ustadz2 di TV dan Medsos.

Petunjuk umum ttg wabah dari Rasulullah menurut hadits Buhkari dari Abdurahman bin Auf. Barangkali hadist ini dpt dijabarkan untuk physical/social distancing.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Menarik sikap  Amru bin Al-Ash, menyikapi wabah Tho'un Amwas di Syam. Wabah sedang berjangkit didlm kota. Untuk memutus penyebaran wabah  Amru bin Al-Ash sbg pengganti 2 orang gubernur pendahulunya wafat kena wabah itu, dg mengajak rakyat berpencar ke atas gunung2. Dlm kisah itu dua orang pemimpin pendahulunya yg wafat terkena wabah yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah dan Muadz bin Jabal.

Dmkn sekedar renungan dlm ikhtiar menyikapi wabah virus yg dijuluki Korona ini.  Mari tak henti2nya selain ikhtiar, kita berdo'a smg Allah sgr hilangkan virus ini dari muka bumi agar kita dpt lbh banyak beramal kebajikan dan lebih aman dlm beribadah.

Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
21 Sya'ban 1440.H.
14 April 2020.

Sunday, 12 April 2020

MEMINTA versi Burung CENCALE

Masa kecil ku blm se canggih kini, radio saja yg punya jarang2. Bgt juga listrik blm masuk desa. Paling senang bila bermalam/nginap di rumah Datuk, sekitar 10 Km, cukup jauh ukuran dahulu dari rumah Ortuku, dpt dibilang desa. Listrik jalan di kampung Datuk belum ada seperti di sekitar rumah Ortuku.

Bgt malam tiba rumah Datuk hanya diterangi lampu Pelita. Paling senang tidur dekat Datuk. Selain hilang dari rasa takut juga asik mendengar dongeng sampai tertidur.  Dongeng2 Datuk banyak yg bermuatan nasihat, bermakna: bgmn nanti dlm bergaul, sikap yg seharusnya dlm berkomunikasi dll.

Dongeng2 itu kadang tidak logis, misalnya hewan dapat ngomong, bahkan ngomong antar hewan lain species. Tapi sekali lagi, stlh direnung sekarang, ada pesan moral yg dalam di dalam tu dongeng.

Burung CENCALE (dulu jaman kami SR untuk ejaan melayu agar membacanya pas penuturan setempat, huruf "E" diberi garis dibawah, maka bunyi huruf "E"   diucapkan dg gigi merapat tertutup) itu nama burung dlm dongen Datuk.

Salah satu diantara sekian banyak dongeng Datuk:
Di suatu musim paceklik semua hewan pemakan biji2an sulit mencari makan. Pohon2 banyak yg meranggas. Termasuklah burung CENCALE sulit mendptkan makanan.

Induk Cencale punya dua ekor anak beranjak remaja, si Julak dan si Bungsu. Kesulitan makanan sdh dmkn membuat tembolok kempes. Julak dan Bungsu tiap hari merengek terus, padahal sdg kuat2nya makan.

Disaat yg sdh kepepet Induk CENCALE, menyuruh si Julak untuk meminjam padi ke TIKUS GANTUNG. Dinamakan "Tikus Gantung", Tikus ini sejenis Tikus yg hari2 mainnya dipohon. Untuk mudahnya disebut Tikus Gantung, sebab mainnya di atas pohon bergelantungan. Rumah Tikus Gantung tetap di lobang dlm tanah. Lobang dlm tanah sekaligus dijadikan gudang nyimpan persediaan makanan. Beda dg burung Cencale ndak nyetok makanan. Rezeki Cencale hari ini habis ini hari juga, besok cari lagi.

Betul2 sdh habis ikhtiar, berangkatlah hari itu si Julak disuruh ibunya mohon pinjaman Padi ke Tikus Gantung betina. Ketika ketemu, Julak pun menyapa Tikus Gantung betina:

"Hai Nek Tikus Gantung, disuruh Mak ku meminjam Padi".

Tikus Gantung betina menjawab:
Enak aja mau pinjam, ........
Bilangkan ke mak kau,........
Aku ndak malas cam mak kau.....
Orang nebas aku ikut nebas.....
Orang nandur aku ikut nandur....
Orang nggurun aku ikut nggurun...
Hanya orang membakar jak ku masuk lobang.........

Ndak macam Mak kau .....
Tiap hari cuma ngoceh .......
Loncat loncat kesana kemari .....
Cuma membanggakan bulu di dade...

(bulu dada burung Cencale ada warna putih indah di atas tembolok).
(Cencale burung yg loncat2 dan berkicau cukup rame utamanya pagi hari).

Soal bulu dada dan kicauan Cencale ini yg di singgung Tikus Gantung betina sbg bahan ejekan.

Al hasil dg tangan hampa si Julak melapor ke induknya sambil nangis....

Induk burung Cencale bertanya ke si Julak, bgmn caramu ngomong. Si Julak ngulangi caranya ngomong. Juga menirukan jawaban Tikus Gantung betina, ngejek, menghina Induknya.

Besoknya si Bungsu di suruh Induk nya mencoba lagi menghadap Tikus Gantung betina, dg diajari induknya cara ngomong.

Betul juga esok pagi si Bungsu ketemu Tikus Gantung betina di sedahan pohon. Si Bungsu menyapa sambil berdendang.

Nek ayu nek ti.
Duduk berjuntai kaki.
Bulu ikal bakal di beauty.
Disuruh Mak meminjam padi.

Rupanya Tikus Gantung betina merasa tersanjung kmd menjawab:

Eee nak manis dari mana datang.
Suaramu  merdu lagian lantang.
Ambil lah cupak ambillah Gantang.
Kalau habis nanti silakan datang.

(Cupak/Gantang; alat takaran padi. secupak = 1/4 Gantang).

Naah........ singkatnya diplomasi si Bungsu berhasil

Rupanya dg bahasa si Julak yg to the point tak mengena untuk minta pinjaman.

Ternyata untuk meminta,.... perlu lemah lembut sopan, sbg adab meminta atau memohon. Seperti yg dilakukan si Bungsu.

Ini rupanya muatan dongeng Datuk. Nanti kalau cucu2 beliau besar hrs pandai2 berkomunikasi. Apa lagi untuk meng gol kan suatu maksud.

Bagi kita ummat2 beragama tentulah punya adab bgmn cara berdo'a,  dg santun, merendahkan diri, penuh harap. Agama Islam, meminta ke pada Allah juga haruslah dg sopan santun.

Allah mengajarkan ketika meminta kepada Allah (berdo'a), adabnya a.l:
1. Harus dg rendah hati.*
2. Harus dg suara lembut.**
3. Harus dg rasa takut kpd Allah.***
4. Harus dg penuh harap.****
refer Al-'Araf 55 dan 56:
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.
 وَا دْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًا
Berdoalah kepadaNya dg takut dan penuh harap.

*"Rendah hati" dlm pengertian menyerahkan diri kpd Allah, karena hanya Allah yg berkuasa atas segala sesuatu. Mungkin kata "MELAWAN", hrs diselaraskan dengan makna "rendah hati" ini misalnya dg kata: "Kita bersama berikhtiar menghindari ........ semoga dg izin Allah akan berhasil".
**Suara lembut; tentu dg tdk berteriak2, apalagi kini kita dlm rangka "stay at home", ibadah di rumah. Di kala shalat tahajud saat2 waktu baik berdo'a. Alangkah ........ jika dengan suara keras, malah khawatir justru .....mengganggu orang lain .... dan .... terperangkap riya.
***Takut kpd Allah, tentu ingat dosa dan mhn ampunan....taubat, berusaha untuk tdk mengulangi dosa2.
****Penuh harap, bahwa yakin do'a di ijabah Allah. Yakin hanya Allah yg sanggup mengabulkan do'a, dg cara Allah.

Berkenaan dg itu mari kita berdo'a, agar wabah yg sdg melanda dunia sekarang ini dihilangkan Allah. Kita tdk tau do'a siapakah diantara kita yg diijabah Allah. Mari masing2, berandil ikut berdo'a.

Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.

Friday, 10 April 2020

Ikhtiar, Berserah diri dan Berdo"a.

Penduduk Makkah ndak tau bahwa yg menghancurkan tentara bergajah Abrahah nama Burung itu adalah Burung Ababil. Merekapun ndak tau bahwa senjata burung2 itu berupa batu. Suku Quraisy penghuni Makkah waktu itu juga tak tau batu yg dibawa burung2 itu panas membakar stlh dibidikkan ke pasukan Abrahah.

Orang yg bakal memberitahukan detail mengenai burung2 tsb yaitu nabi Muhammad s.a.w., baru terlahir 50 hari stlh peristiwa itu. Nabi Muhammad saw stlh diangkat menjadi Rasul barulah diberi tau Allah bahwa yg dikirim Allah itu namanya burung "Ababil". senjatanya "batu".
Batu tersebut stlh dilepaskan dari mulut dan kedua kaki burung ditujukan kesasaran,  memiliki daya pemusnah yg luar biasa.

Allah memberitahukan tentang pasukan burung Ababil melalui surat al-Fiil. surat ke 105 dlm 5 ayat.

Kalau disimak dari peristiwa ini, bahwa Allah menurunkan bantuanNYA stlh pemimpin Quraish Abdul Muthalib MENYERAH ndak mampu melawan lagi dg daya dan logika yg dimiliki. Kakek Nabi Muhammad saw itu dikesempatan terakhir di depan pintu Ka'bah menyerah kpd Tuhan, terkenal dg do'a penyerahan diri beliau sbb:

Yaa rabbi la arjuluhum siwaakaa =
Ya Tuhanku! Tidak ada yg kuharap selain Engkau.

Yaa rabbi famna' min hum himaakaa = Ya Tuhanku! Tahanlah mereka dengan benteng Engkau.

Inna 'aduwwalbaiti man 'aadaaka = Sesungguhnya yg memusuhi rumah ini adalah musuh Engkau.

Innahum lab yaqanharuu quwaa kaa = Mereka tidak akan dapat menaklukan kekuatan Engkau.

Slth berdo'a menyerah diri kpd Tuhan, diajaknya seluruh rakyat Makkah menyingkir ke bukit2 disikitar Ka'bah. Melihat dari jauh bgmn kedigdayaan pasukan Gajah meruntuhkan Ka'bah.

Yg terjadi adlh beribu burung datang tiba2 melemparkan sesuatu, singkatnya porak poranda, luluh lantak tentara Abrahah.

Kuncinya sepertinya adlh:
1. Logika; Abrahah terlalu kuat untuk dilawan (tak mungkin).
2. Ikhtiar; Negosiasi sdh tak mungkin, tinggal menghindar.
3. Berserah diri kepada Tuhan, dg berdo'a.

Do'a diijabah,........... dlm bbrp saat saja pasukan yg dmkn besar kuat dan terorganisir musnah.

Contoh kedua; Ihktiar dan do'a.
Perang Badr dg kekuatan pasukan tak imbang, Nabi Muhammad saw dan sahabat berikhtiar, mereka bermusyawah menentukan titik; "mencegat musuh atau bertahan" yg kmdn pendapat sahabat bernama HABAB bin MUNDZIR diterima Rasulullah, ditentukan di Badr.

Selanjutnya Rasulullah berdo'a:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ
“Ya Allah Azza wa Jalla, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.” (HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763)

Dari kedua contoh ini kiranya layak diambil pelajaran bahwa:
1. Ihktiar tetap hrs dijalankan
2. Bukan MELAWAN,  tapi MENYERAH  diri kpd Allah. Di dlmnya tentu tersirat makna mhn ampun dan menyatakan tidak ada kekuatan yg dpt menolong kecuali Allah.
3. Sambil BERSERAH diri itu, berdo'a mhn pertolongan Allah.

Kembali seperti do'a Abdul Muthalib diijabah Allah pada detik2 yg sdh menegangkan. Dkmn juga do'a Badr pun dikabulkan Allah, ketika perang sdg berkecamuk.

Bgt mungkin yg hrs dilakukan seluruh ummat yg percaya adanya TUHAN, Ber-SERAH dirilah kpd Allah dalam IKHTIAR dan DO'A.

Bagi ummat Islam seluruh dunia mari bertaubat dan berdo'a.

Yaa Allah,....... Ramadhan yg kami nanti-nanti tinggal hitungan hari.

Yaa Allah ampuni dosa kami di Jakarta tidak melaksanakan shalat Jum'at berjamaah di masjid2 untuk ikhtiar kami memutus penyebaran wabah ini. Smg di bagian lain di Indonesia, dunia ini masih ada ummat Islam yg dpt shalat Jum'at berjamaah di masjid2 dan kabulkan do'a mereka.

Yaa Allah tolong di Ramadhan nanti jangan Engkau tutup Rumah2mu (masjid2). Kami ingin seperti Ramadhan yg lalu memakmurkan masjid2 dg lebih intens berjamaah 5 waktu, dg shalat malam berjamaah, dg mengaji dan mengkaji Alqur'an dan ilmu agama.

Yaa Allah perkenankan kami  berzakat, berinfak, bersedekah, melaksanakan amalan sunnah lainnya di bulan suci Ramadhan.

Yaa Allah perkenankan kami menutup Ramadhan dg shalat Idul Fitri mensyiarkan agamaMu.

Yaa Allah izinkan lagi kami meningkatkan ukhuah dan silaturahim ssdh Ramadhan nanti.

Yaa Allah hanya kpdMu kami berserah diri dan memohon ampun serta berdo'a.

Yaaa Allah untuk itu semua, demi kekuasaan MU dan Ramadhan yg agung dan suci, tolong hilangkan wabah dan musibah virus yg kami tak mungkin mampu MELAWANnya ini, kecuali hanya Engkau jua yg mampu menghentikannya.

Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jum'at 17 Sya'ban 1441 H.
10 April 2020.

Wednesday, 8 April 2020

"Tak JUM'ATan Karena KORONA"

Berkenaan dg physical/social distancing guna memutus mata rantai penyebaran virus Korona, masjid di sekitar kediamanku sdh 3 Jum'atan tdk malaksakan shalat Jum'at.

Selama hidupku stlh ku sanggup mengingat, hal begini blm pernah terjadi. Andaikan bisa membangunkan eyangnya eyang buyut dari kuburnya, rasanya pengin nanya: "zaman beliau2 yg NB dijajah bangsa lain apa pernah terjadi libur
Jum'atan". Jawabnya mungkin tidak pernah Jum'atan libur.

Keadaan ini memang lebih khusus, para ulama2 kenamaan yg memberikan keyakinan bahwa di situasi seperti ini seharusnyalah shalat Jum'at berjamaah di masjid diliburkan, dg maksud sprt di awal tulisan.

Betapa tidak, virus Korona,....... yg namanya virus kan ndak kelihatan. Kita ndak dpt tau jamaah yg datang jum'atan walau segar bugar apa di tubuhnya, di tangannya, partikel di nafasnya, di jidadnya melekat virus yg siap pindah dan membiak ke orang lain.
Ok lah jamaah di jarangkan misalkan berjarak 2 meter. Eee kalau ybs di jidadnya ada virus, ditangannya ada virus, dikakinya ada virus, logikanya ketika dia sujud pindahlah virus ke keramik atau dari sajadahnya ke keramik lantai masjid dst menggelinding.

Waduuuh seraaam yaaa. Begitu logika manusia. Ada yg bilang "kalau Allah tak kehendaki ndak kan apa2". Benar statement tsb., tapi kita2 ini sbg manusia selagi dpt menghindar lbh baik menghindar. Karena kita ndak tau kehendak Allah buat "kita orang" seperti apa.
Kalau tdk dpt lagi apa boleh buat, makanya dlm case seperti ini Rasulullah memberi petunjuk:

Disarikan dari hadits berikut. Sebaiknya kita tidak ngumpul, diam ditempat. Dalam hal ini kita ndak tau apakah kita atau orang lain sdh terpapar:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).

Kadar iman sering turun naik, begitu pula kadar taqwa. Shalat Jum'at adlh saat berhimpun orang beriman untuk me-NGECAS kembali imannya untuk menuju ke taqwaannya; stlh dipake sepekan.  Karena demikian pentingnya Taqwa bagi orang beriman, berulang kali diingatkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. 

Allah mengingatkan akan hal Taqwa, dapat diambil makna bahwa beriman dan bertaqwa itu sendiri;  terpisah.

Misalnya dalam banyak ayat dikatakan “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah …………”.
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ
Kalau begitu orang yang beriman belum tentu taqwa, tetapi orang yang taqwa tentulah karena dianya beriman. Pengertian selanjutnya bahwa dalam kehidupan beragama tak cukup hanya beriman saja, tetapi haruslah bertaqwa.

Para ustadz sering, untuk memudahkan pengertian, taqwa diartikan “mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah.

Mengerjakan segala perintah dengan titik tekanan SEMAMPUNYA, sedangkan menjauhi larangan Allah dengan titik berat SEKUAT TENAGA”.

Begitu pentingnya akan perihal Taqwa tersebut, ummat Islam (terutama yang lelaki) sepekan sekali shalat Jum'at. Di khotbah Jum'at diingatkan oleh Khatib Jum’at mengenai peningkatan ketaqwaan tersebut. Bahkan Khatib WAJIB berpesan mengenai taqwa itu, karena menjadi SYARAT KHUTBAH diantara syarat yang LIMA untuk syarat Khatib berkhutbah. Jika pesan taqwa itu tidak tersampaikan maka tak terpenuhi syarat Khatib berkhutbah.

Nah kembali ke virus Korona; kitapun mengerjakan perintah semampu kita. Tidak dapatnya kita ke masjid Jum'atan bukan bermaksud ingin melalaikan, bukan menganggap ringan kewajiban itu, tapi kondisinya berdasarkan ilmu manusia cukup membahayakan.

Menurut Ustadz ..... ada kaidah fiqih yang berbunyi:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada Mengambil sebuah kemaslahatan.”

Menurut ilmu manusia d.h.i. ahli kesehatan bahwa di kondisi mewabahnya virus Korona, kita ndak boleh berkumpul, jaga jarak. Agar tdk tertular atau menularkan.

Naah kalau bgt patut kita camkan
Al-Baqarah 195.
 وَلَا تُلْقُوْا بِاَ يْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ  ۛ  وَاَ حْسِنُوْا

"dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri",

Kalau Jum'atan kan harus ngumpul........ 
Ada yg ngusulkan; nanti jamaah di jarangkan, sblm masuk diperiksa suhu, disediakan cuci tangan (hand sanitizer). Anak2 dibatasi masuk.

Perlu diketahui, mengatur orang banyak itu tdk mudah. Sudah diumumkan aturan2 tsb misalnya,.......... insya Allah masih saja yg tdk mentaatinya. Buktinya sdh diwanti-wanti tidak saja tertulis tapi di umumkan sblm khatib naik mimbar bahwa HP harus di silent kan atau di matikan....... Eee pas khatib sdg serius khotbah kadang ada HP yg bunyi; lagu dang dut pula.

Mungkin dpt sbg penghibur bahwa wabah virus inikan sbg sesuatu yg menghalangi shg kita ndak dpt beribadah shalat Jum'at sbgmn biasa, barangkali hadist ini dpt sedikit menghilangkan kesedihan kita.

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari).

Insya Allah bagi yang saban Jum'at tak pernah absen, kecuali beralasan syari'e, mudah2an Allah tetap mencatat pahala shalat zuhur kita di rumah sbgmn shalat Jum'at kita di masjid. Aamiin.  Sambil berdo'a smg Allah mengampuni.

Semoga Allah segera menghilangkan musibah virus korona ini dari muka bumi, agar ummat Islam dpt melaksanakan ibadah Ramadhan dg sebaik-baiknya. Aamiin.

Aamiin. Barakallahu fikum,
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif arbi.
Jakarta 15 Sya'ban 1441 H.
8 April 2020.

Sunday, 5 April 2020

MENGACA diri dari KORONA

Jenuh memang, kalau sdh terbiasa beraktivitas suruh berdiam di rumah. Ketika masih ngantor dulu, banyak diantara pembaca yg berperilaku; misalkan sakit di suruh istirahat dokter 3 hari, kalau dua hari udah enakan, hari ketiga masuk kantor. Bukan lantaran rajin, tapi jenuh kalau diam di rumah.

Pembaca..........!  mungkin pernah rawat inap di RS. Ada lho pasien saking ndak betah, merasa udh enakan "pulang paksa", padahal mnrt dokter msh perlu dirawat bbrp lama lagi, hingga betul2 pulih. Pemicunya juga jenuh, manusia perlu beraktivitas.

Berbicara soal aktivitas, sambil di situasi "stay at home" ini baik untuk kita  "Mengaca diri" secara garis besar point2 aktivitas yg pernah kita jalani. Bila perlu sejauh-jauhnya misalnya sejak masih sekolah: es er, es em pe, es em a, perguruan tinggi, masuk dunia mencari nafkah sampailah sekarang.

Dari tahapan aktivitas sekolah sampai dunia kerja, hingga kini itu, selama "stay at home" dpt di review perjalanan hidup selama ini, guna mohon ampun kpd Allah atas segala salah dan khilaf. Waktu sekolah kecurangan apa yg pernah dilakukan. Melalaikan ibadah dll. Waktu kerja kesalahan apa yg pernah dilakukan baik dlm konteks hablum minallah dan hablum minannas.

Ketika putraku  th 2008 pelantikan dan pengambilan sumpah di FK di YK, kbtlan kumewakili Ortu mahasiswa untuk menyampaikan sambutan. Di materi sambutanku, selain terimakasih dan mohon maaf kpd semua pihak a.n. mahasiwa, juga tak lupa kusampaikan mohon titip salam kepada pemilik kantin sekolah, utamanya warung tradisional sekeliling kampus "mohon dihalalkan bila anak2 kami ada makan kue2 atau gorengan yg kurang membayar".

Ku teringat dulu masa sekolah, kadang ada teman yg makan kue/gorengan 4 dilaporkan cuma 2. Kalimat ku itu di respond  hadirin, mahasiswa terlantik/tersumpah, dosen dan undangan dg "geeer"........ ketawa serempak. Ini indikasi hal semisal makan 4 bayar 2 itu mungkin terjadi juga diangkatan putra kami yg dilantik/disumpah itu???.

Lalu kupesankan "ntar bila kalian yg merasa pernah ............,sudah berduit nanti datang lagi ke warung, temui pemilik minta halal benaran dan penalty diri dg memberi tukang warung duit yg lbh besar........ hitung2 bayar hutang + bunganya. Hadirin kembali kompak ketawa serempak ...... ...geeer.
Tapi sekarang saya a.n kalian minta halalkan dulu, sebab umur siapa yg dpt mengukur.

Berdiam diri di rumah sekarang ini dlm rangka Korona, sambil review kehidupan masing2 diri kemudian bertaubat.
Allah mengingatkan, bahwa apalagi amal yg kurang baik,..... kecurangan........, mendzalimi orang......., sedangkan PENDENGARAN, PENGLIHATAN dan HATI NURANI saja akan dimintai pertanggungan jawab di hari perhitungan kelak:

اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا
Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al Isyra' 36).

Banyak ayat Al-Qur'an yg mengingatkan bahwa Allah tdk lalai dg apa yg pernah kita lakukan:

وَمَا رَبُّكَ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Juga dapat kita jadikan rujukan ketika "stay at home"  seperti  hadits berikut ini:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ.

Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, apakah jalan keselamatan itu?”.

Beliau menjawab, “Jaga lisanmu. Tinggallah di rumahmu. Tangisilah dosa-dosamu”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan.

Dari hadist itu ada tiga pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

*Pertama: Menjaga Lisan*

Berkaitan dg virus Korona, hindari kata-kata yang bernada protes atau tidak terima dengan keberadaan covid-19. Sebab yang menakdirkan wabah ini adalah Allah Yang Maha Bijaksana. Lebih baik lisan digunakan untuk berdzikir, berdoa dan membaca al-Qur’an. Juga mendidik keluarga dg tauziah2 agama mumpung pas ngumpul.

Analog dg lisan, sekarang ini dg adanya sosmed; waspada pula awak menukil atau men share berita yang belum jelas kebenarannya. Banyak info yang berseliweran di media sosial yg blm tentu kesahehannya. Jangan sampai awak pula berperan aktif dalam menyebarkan hoaks. Apalagi yang mengakibatkan kepanikan orang banyak.

Pesan Nabi dlm hadits di atas yg;
*Kedua: Tinggal di rumah*

Mengisolasi diri di rumah saat ini adalah sikap terbaik. Dalam rangka upaya menjaga diri dari ketertularan atau menulari orang lain. Sehingga tidak mencelakai diri sendiri atau mencelakai orang lain. Insya Allah keadaan ini hanya untuk sementara waktu saja. Gunakan antara lain Untuk "Mengaca Diri".

Butir ke Ketiga dari hadits di atas *Menangisi dosa*

Kesibukan rata-rata hari-hari "stay at home" ini berkurang drastis. Suasana hening adalah waktu yang pas untuk merenung. Menyadari tumpukan dosa yang menjulang tinggi. Lalu menyesal sembari menangisi dosa-dosa tersebut. Review amal, Mengaca Diri seperti kutulis di atas.

Azab Allah berupa bencana yg dahsyat, merujuk kpd ummat2 terdahulu, terjadi akibat dosa manusia. Sehingga cara mengakhirinya adalah dengan bertaubat kepada Allah.
وَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِۦ فَحَاسَبْنَـٰهَا حِسَابًۭا شَدِيدًۭا وَعَذَّبْنَـٰهَا عَذَابًۭا نُّكْرًۭا
"Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan". (Surat At-Talaq ayat 8).

Ramadhan 1441 H, tinggal hitungan hari. Yaaa Allah yaaa Rabbi. Kasihanilah ummat Islam dibumi ini. Kami ingin Ramadhan nanti dpt lebih meningkatkan amal ibadah kami. Dapat kembali memakmurkan masjid dg shalat 5 waktu, shalat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur'an, mengaji dan mengkaji ajaranMu. I'tikaf dan amalan sunnah lainnya. Tolooong yaaa Allah tarik kembali Virus Korona ini. Jika memang betul ini murkaMu karena kesalahan sebagian ummat manusia. Kami ummat Islam bertaubat mohon ampunan kepada Engkau yaa Allah.

Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jakarta 12 Sya'ban 1441 H.
5 April 2020 M.
Artikelku yg  ke 608.

Friday, 3 April 2020

Celah BERSYUKUR disela KORONA

Andaikan Virus Korona ini terjadi sblm Allah turunkan ilmu INTERNET kpd manusia, belum adanya TV dan komunikasi canggih seperti sekarang; waduuuh betapa ruwetnya kehidupan ini.

Tanpa kecanggihan informasi orang dari tempat epicentrum, datang ke daerah yg masih aman ndak diketahui. Kini masing2 tempat dpt memantau pendatang, lalu di karantina. Bgmn kita tdk bersyukur?

Andaikan blm ada medsos, tentu blm memungkinkan belanja online. Syukurnya kini walau hrs stay at home, dpt belanja dari mulai sembako sampai sayur mayur dan camilan. Bgmn kita tdk bersyukur?

Sbg pekerja formal, biarpun ndak masuk kantor, pekerjaan dpt dari rumah melalui internet.
Bgmn kita tidak bersyukur?

Siswa dan Mahasiswa diliburkan, melalui kecanggihan komunikasi, guru/dosen tetap dpt memberikan pelajaran kpd murid dan mahasiswa melalui internet. Bgmn kita tidak bersyukur?.

Celah bersyukur berikutnya ada sebuah keluarga yg selama ini tdk pernah ngumpul karena dg kesibukan masing2. Kini dpt kumpul shalat berjamaah di rumah, kepala keluarga menjadi imam. Bgmn kita tdk bersyukur?

Semua celah bersyukur ini mengingatkan kita ke firman2 Allah di surat Al-Baqarah 28 dan bbrp ayat surat Arrahman:
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِا للّٰهِ
(Bagaimana kamu ingkar kepada Allah).
فَبِاَ يِّ اٰلَآ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰن
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Cuma tentunya bagi grobag sayur, pedagang gorengan, putu, bakso, martabak dan pencari nafkah non formal lainnya, sedikit mengalami kesulitan. Namun percayalah Allah mesti memberikan jalan rezeki;

وَمَا مِنْ دَاۤ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. (Hud ayat 6).

Tentulah segalanya akan lbh mudah kalau musibah ini cepat berlalu.

Oleh sebab itu, marilah kita terus bermohon kpd Allah agar musibah virus ini segara di angkat Allah. Diikuti bertaubat. Dengan bahasa masing2. Kita tidak tau mungkin diantara pembaca ada yg do'anya dikabulkan Allah.

Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
Jum'at 10 Sya'ban 1441
3 April 2020.

Thursday, 2 April 2020

IKHTIAR dan DO'A atasi Korona.

Ketika dilanda wabah Pandemi spt skrg ini sikap bijak yg hrs dilakukan manusia adlh:
1. Ikhtiar untuk keluar dari musibah
2. Mencari sumber wabah.
3. Introspeksi.

ad 1.
Telah dilakukan oleh setiap negara terpapar, termasuk di negara Indonesia tertular sudah...... wong namanya Pandemi. Tapi upaya memperkecil penduduk yg tertular dg serangkaian ikhtiar ....... pembaca sdh dengar tiap hari.

ad 2.
Sumber wabahpun seluruh dunia sdh tau dari mana asalnya, selanjutnya kelihatannya sepakat memberikan dua nama untuk virus ini; Corona dan Covid 19.

ad 3.
Pencarian sumber dimaksud ad 2. untuk sebagian besar pihak hanya sampai di:

*Sumber yg kasat mata,........ mengenalkan wujud mahluk tsb dan bgm cara penularannya.
*Fakta jutaan orang di dunia terpapar, banyak yg menemui ajal tetapi ada juga yg sembuh. 

*Sumber dari landasan logika, sumber dari penelitian ilmiah rupanya virus tsb berasal..........
masuk ke tubuh melalui ......... masa inkubasi .....sekian hari. Yg meninggal karena ........... yg sembuh sebab......... immunitas tubuhnya baik dll.

Tetapi sepertinya mayoritas ilmuan, mayoritas pakar belum mencari sumber dari segala sumber. Sebab dari segala sebab, Yang Maha sumber, dari segala sumber dan Yang Maha penyebab dari segala penyebab.

Mahluk Virus ini siapa yg ciptakan? Mengapa Virus ini diciptakan?
Immunitas tubuh bagi yg sembuh, oleh siapa? Yakin semua pihak sdh tau, tapi kadang berat secara tulus mengakui, seraya merendahkan diri kepada Allah.

Masih sering terdengar, stlh dikemukan langkah2 penanggulangan: ".................... lalu ditutup dg kalimat .............. kita "PASTI bisa".
Sedikit bahkan nyaris atau tanpa melibatkan Yang Maha Penyebab.

Dikisahkan dlm Al-Qur'an Surat Al-Kahfi,Allah menegur Nabi Muhammad s.a.w. lantaran berkeyakinan akan sesuatu yg PASTI, menjanjikan "datanglah besok pagi", kpd penanya ttg: "berapa lama pemuda2 tertidur di gua Kahfi".  Allah menegur:
وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَايْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًا 
"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, Aku pasti melakukan itu besok pagi,"
(QS. Al-Kahf ayat 23). dan
اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ  اللّٰهُ ۖ 
"kecuali (dengan mengatakan), Insya Allah".
(QS. Al-Kahfi ayat 24).

Padahal blm pasti besok pagi Allah turunkan wahyu untuk memberitahukan lamanya pemuda2 tsb tertidur di gua Kahfi. Nabi Muhammad berjanji "Besok pagi" tanpa kata2 insya Allah.

Apatah lagi kita2 ini, bukan Nabi, sepertinya kurang tepat jika menyatakan kata "PASTI" tanpa menyertakan seperti Al-Kahfi 24
اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ  اللّٰهُ

Mungkin selain ikhtiar2 konkrit juga harus banyak yg menghimbau untuk mendekati Yang Maha Penyebab; caranya dengan pendekatan Religi:

Introspeksi diri masing2. introspeksi sbg kelompok masyarakat.
instrospeksi sebagai bangsa.
Dosa apa kiranya membuat MURKA Allah, Yang Maha penyebab sesuatu yg terjadi di bumi dan di langit.

Langkah berikutnya mengoreksi diri memohon ampunan, bertaubat.
Kemudian tutuplah setiap statemen yg memberitahukan langkah penanggulangan dengan insya Allah dan Do'a. Bgt juga masing2 diri, masing2 kelompok masyarakat, masing2 bangsa stlh bertaubat lalu berdo'a.

Jangan remehkan do'a. Sebab bila do'a diijabah Allah apapun dpt terjadi.

بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَ اِذَا قَضٰۤى اَمْرًا فَاِ نَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
"(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu."
(QS. Al-Baqarah ayat 117)

Oleh karena itu dalam sebuah hadits, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُهُمْ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ

“Manusia paling lemah adalah orang yang paling malas berdoa (kepada Allâh). Dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil memberi salam” (HR. At-Tabrani)

Allah memerintahkan setiap hambanya untuk memanjatkan do'a kepadaNya.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghâfir ayat 60).

Pendekatan TAUBAT dan pendekatan DO'A adlh pendekatan kpd YANG MAHA PENYEBAB yaitu Allah.

Terkait penanganan wabah covid-19, contoh pendekatan kpd Allah adalah: taubat, tawakal, doa, dzikir dan yang semisal. Dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa berbagai langkah tersebut bila dijalankan, akan mencegah dan mengakhiri bencana. Dengan izin Allah.

Sedangkan usaha ikhtiar lahiriahnya adalah: mencuci tangan menggunakan sabun, mengenakan masker, menciptakan vaksin dan yang serupa, Social distancing, physical distancing tidak ada kontradiksi antara dua pendekatan itu. Justru bisa direalisasikan seiring sejalan.

Namun, dari dua pendekatan tersebut, yang efeknya lebih dahsyat adalah pendekatan kpd Allah.

Karena langkah-langkah pendekatan kpd Allah  bersumber dari wahyu Allah juga. Al-Qur’an dan Hadits. Yang tidak mungkin dan tidak pernah keliru.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Artinya: “Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka jangan sekali-kali engkau termasuk golongan yang meragukannya”. Al-Baqarah 147.

Sedangkan upaya-upaya ikhtiar lahiriah, dasarnya adalah eksperimen manusia. ‘Ijtihad’ yang berpeluang untuk keliru. Hal ini diakui, bahkan oleh para ahli sekalipun. Walau prosentase kekeliruannya bisa besar atau kecil, peluang salah itu tetap ada.

Jadi, prioritaskanlah pendekatan kpd Allah. Namun jangan tinggalkan langkah-langkah ikhtiar lahiriah. Bukan berarti untuk pendekatan kpd Allah itu kita hrs berkumpul beramai-ramai dlm suatu majelis shg mengabaikan Social/physical distancing.

Sebab jaga jarak dan jangan kumpul2 itu sendiri ketika ada wabah, merunut hadits berikut:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).

Sebaiknya kita tidak ngumpul, diam ditempat. Dalam hal ini kita ndak tau apakah kita akan jadi sumber penular atau orang lain sdh terpapar menularkan kpd kita:

Juga kiranya dpt jadi acuan:
Al-Qur'an Albaqarah 195.
 وَلَا تُلْقُوْا بِاَ يْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ  ۛ  وَاَ حْسِنُوْا

"dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri",

Yakinlah, bahwa Allah akan segera mengakhiri masa-masa sulit ini!

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengingatkan,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak serius dan lalai”. HR. Tirmidziy dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.

Dmkn pembaca, keadaan memang mencekam, jalan2 sepi, belanjapun sdh sulit, ketemu pengantar paket atau pengantar  belanjaan online aja kita ragu, khawatir apa dia sdh tertular, dmkn juga mungkin dia khawatir juga apa kita sdh tertular. Tapi kita tidak boleh panik, ikhtiar tlh dijalankan bersama, kita punya Allah tempat menggantungkan diri dg bertaubat dan berdo'a. Marilah gunakan Kamis malam Jum'at ini dstnya kita tingkatkan dzikir dan munajad kpd Allah agar virus korona ini ditarik Allah dari permukaan bumi. (Kita ndak tau do'a siapakah yg diijabah Allah)

Ya Allah berikan kesempatan ummat Islam dunia meningkatkan ibadah dlm bulan suci Ramadhan dan seterusnya tanpa gangguan wabah apapun juga termasuk virus Korona.

Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Barakallahu fikum
وَ الْسَّــــــــــلاَمُ
M. Syarif Arbi.
9 Sya'ban 1441 H.
2 April 2020.