Monday, 2 November 2015

DIRI SENDIRI M0TIVATOR SEJATI



Orang tua, sekalipun dianya tidak baik-baik amat, pastilah di dalam hatinya ingin anaknya kelak lebih baik dari dirinya dalam berbagai hal, dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Oleh karena itulah setiap orang tua (yang normal), siap berkorban tenaga dan fikiran serta pembiayaan, untuk anaknya menjadi lebih baik tersebut.
Contoh Satu:
Seorang ayah mengantarkan anak lelakinya  ke sebuah pesantren yang cukup terkenal, sejak anaknya masih usia baru di atas sepuluh tahun setamat sekolah dasar. Tentu harapan dikandung hati si ayah, agar kelak anaknya menjadi manusia yang berilmu pengetahuan tinggi untuk keperluan dunia dan mempunyai pengetahuan agama yang mumpuni untuk bekal ke-akhirat, sebab pesantren sekarang dibekali kedua sisi ilmu tersebut.
Ternyata, apa yang terjadi setelah selesai mondok di pasentren tersebut, ketika si anak yang sudah tumbuh dewasa itu pulang ke kediaman ortunya. Setiap subuh si ayah mengecek ke kamarnya, ingin mengetahui si anak apakah shalat ke masjid. Kamar disainnya belum berubah, sama ketika si bocah meninggalkannya, yaitu antara kamar ortu dan kamar si anak dipisahkan oleh kamar mandi yang dapat dipergunakan oleh dua kamar. Kamar ortu dapat dikunci dari dua sisi, sementara kamar anak hanya dapat dikunci dari kamar mandi, sehingga ortu dapat masuk ke kamar anak sewaktu-waktu untuk mencek, ketika ybs masih anak-anak dulu. Begitu si ayah akan berangkat ke masjid dekat rumah, didapatinya anak tidak ada lagi ditempat tidur, besar juga hati ayah, tentu dia sudah ke masjid. Herannya di masjid tidak kelihatan, tapi pikir si ayah mungkin di masjid lain, maklum kota mereka banyak sekali masjid dengan lokasi yang tak berjauhan. Belum cukup sebulan mukim di rumah, akhirnya terbuka rahasia, kalau subuh si anak tidak ada di atas tempat tidur, rupanya cebolan pesantren yang satu ini, begitu hampir azan subuh pindah tidur ke kolong ranjang.
Contoh dua:
Sejak Es Em Pe anak lelaki yang ortunya cukup mampu ini, di sekolahkan ke luar negeri, walau sekolahnya dijurusan umum dan kemudian dilanjutkan ke strata satu jurusan bisnis, tetapi tetap saja ortu selalu mengontrol dari kejauhan ibadah dan pergaulan si anak.  Benar saja ketika pulang ke tanah air ybs tetap nampak melaksanakan shalat walau bukan tergolong pemuda yang hatinya selalu terpaut ke masjid. Orang tua masih tetap puas dengan keadaan itu, walau shalat subuh dilaksanakan di rumah untuk sementara ndak apalah, lama kelamaan kalau yang bersangkutan masih ikutan shalat jum’at, semoga sesekali dapat khatib yang berkhutbah, tentang betapa pentingnya shalat berjamaah di masjid terutama shalat isya dan shalat subuh, terutama bagi orang lelaki. Suatu ketika si anak menceritakan bahwa ternyata dianya jarang shalat subuh tepat waktu. Kalaupun shalat subuh sebangunnya, kadang setelah sinar matahari masuk ke kamar tidur. Dianya mengaku bahwa ibunya selalu ribet membangunkan untuk shalat ketika azan subuh menggema, padahal saat itu pas enak-enaknya tidur. Untuk menghindari ibunya sering membangunkan subuh, dengan mengetok-ngetok pintu (sebab kamar dikunci dari dalam dan kamar mandi diluar kamar) disain kamar beda dari contoh satu.  Untuk menghindari ribet dibangunkan si ibu, si anak sebelum tidur (tidur terbiasa sudah larut malam) kamar mandi terlebih dahulu disiram air ber ember-ember sehingga basah. Ibu ketika azan subuh menuju kamar si anak dan sebelumnya melewati kamar mandi, terlihat masih ada bekas basah, makapun urung mengetok pintu, sebab yakin yang bersangkutan sudah bangun dan wudhu serta shalat subuh.
Contoh ke tiga:
Gadis remaja putri, setelah memberi salam kekiri dan kekanan usai shalat subuh berjamaah di suatu masjid, tiba-tiba menangis sampai cegugukan di dekat seorang ibu sama berjamaah subuh itu. Ibu disebelahnya agak terheran dengan kejadian yang baru ditemuinya subuh itu. Diringankannya hatinya untuk menanyakan ke remaja putri yang berparas cantik itu. Penjelasannya sangat mengagetkan, singkat cerita bahwa rupanya dianya baru subuh itu shalat subuh dan shalatnya ke masjid pula. Ia teringat akan almarhumah ibunya, ketika masih hidup selalu menyuruh dia shalat dan suruhan ibunya itu belum dia sambut sebagaimana mestinya selama mendiang masih hidup, kalaupun shalat, masih belang kambing, shalat sesempatnya. Dianya termasuk tak taat kepada almarhumah ibunya. Itulah sebab dianya menangis mengenang ibunya yang selalu menasehati untuk shalat. Nasehat ibu itu terasa menyentuh perasahaan setelah ibu tiada. “Hati saya merasa terpanggil dan termotivasi untuk melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya sesuai pesan Ibu”.  Begitulah setiap kali ibu itu ke masjid hampir tak pernah tidak ketemu dengan gadis tersebut, dapat dikatakan dia telah menjadi jamaah tetap.
Dari ketiga contoh di atas dapat difahamkan bahwa motovasi untuk membuat seseorang menjadi insyaf paling effektif kalau datang dari dalam dirinya sendiri. Pada contoh pertama terbukti bahwa dengan dibekali pengetahuan agama dengan muatan yang cukup, juga belum mempan memotivasi ybs menjalankan ibadah, kalau bukan panggilan datang dari diri sendiri. Demikian juga contoh ke dua walau dengan sabar si ibu membangunkan untuk shalat subuh, kalau bukan kehendak datang dari dalam diri sendiri, dapat saja dibuat akal-akalan untuk meredakan dorongan ibu yang dianggap ribet. Pada contoh ke tiga, walau ibu yang memotivasi sudah tiada tapi, dorongan motivasi untuk mulai menekuni ibadah datang dari sumber hati nuraninya sendiri walau pemicunya adalah nasihat ibu yang sudah tiada, ternyata itu sangat effektif dan menyentuh kalbu.
Rumah besar  ber pagar bambu
Lebih kuat dari kawat berduri
Bagaimanapun nasihat datang bertalu
Lebih manfaat kalau  dari diri sendiri

Wednesday, 21 October 2015

Kalau SURGA terbakar NERAKA padam



Seorang tokoh Sufi perempuan “Rabi’ah al-Adawiyah dari Bashrah dikisahkan ingin membakar Surga dan memadamkan api Neraka. Demikian di kutip dari Buku “Ajaran Manunggaling Kawula-Gusti”, ditulis oleh Sri Muryanto Cetakan ke tiga tahun 2007 penerbit Kreasi Wacana Yogyakarta halaman 126-127.  Keinginan ini tentu tidak akan terlaksana, kalaulah ada di zaman kini  orang yang membawa obor menyala dan ember berisi air seperti yang dilakukan oleh Rabi’ah itu akan pergi kelangit, untuk membakar Surga dan memadamkan api Neraka, jelas akan dikatakan orang tak beres, segera akan diproses ke rumah-sakit  jiwa.
Tidaklah kita bermaksud membahas mendalam makna tersirat tindakan sang Sufi. Kita ketahui selama ini Surga adalah dambaan setiap insan di dunia ini untuk menjadi tempat kediaman abadi di alam sana setelah meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia ini adalah kontrak yang harus dipenuhi setiap orang yang hidup. Motivasi itulah kebanyakan orang awam melakukan kebaikan dan meninggalkan hal yang tidak terpuji/melanggar norma selama hidup. 
Begitu juga Neraka, siapapun orangnya asalkan berpikiran jernih, dia mempersiapkan diri selama hidup ini untuk kelak terhindar setelah mati nanti dari dibenamkan ke dalam Neraka, sebab agamawan memberi kabar kepada ummatnya bahwa Neraka itu tempat penyiksaan bagi yang berbuat dosa. Oleh karena itulah sejauh mungkin setiap orang yang percaya adanya alam akhirat, berupaya untuk menghidari perbuatan-perbuatan yang tercela berbuah dosa, serta terus-menrus  menabung kebajikan.
Kalau Surga sudah terbakar dan Neraka sudah padam, mungkin orang tinggal di dunia ini tenang-tenang saja dan bahkan mungkin tak terkendali. Jika punya kesempatan untuk melahap harta benda dunia ini, dilahap sebanyak-banyaknya tak peduli lagi bagaimana caranya. Jika untuk mendapatkan jabatan  lazim sebagai jembatan menuju pelahapan harta dunia itu, dengan cara apapun dilakukan juga. Toh Neraka sudah padam dan Surga sudah terbakar. Maka kalau sampai disana nanti dan pasti setiap orang yakin pasti sampai kealamat yang namanya mati, masuk Neraka pun sepertinya dianya bersedia, sebab sudah padam. Justru masuk Surga dianya malah repot karena sudah terbakar harus membenahi puing-puing. Mungkin inilah gambaran banyak kalangan di akhir zaman ini, mengacu pada tingkah laku yang mereka laksanakan, sudah menganggap bahwa Surga sudah musnah terbakar dan masuk Neraka pun ndak soal karena sudah padam.
Gejala ini makin gencar dipertontonkan dan dipublikasikan media. Banyak orang seharusnya sudah berkecukupan, tetapi tetap saja dengan rakus menghimpun harta dunia dengan cara korupsi dan menerima suap. Diantara mereka tak kurang berpredikat terkemuka dan merk agamanyapun meyakinkan. Sementara itu tindakan kriminal seperti perampokan dimana-mana dilakukan penjahat. Juga menghilangkan nyawa sesama sangat mudah dilakukan dengan alasan yang hanya sepele. Semua itu mungkin dilakukan karena sanksi pelaku korupsi, perampok, pembunuh, kejahatan seksual tidak sepadan dan belum sesuai dengan arahan “Yang Mencipta Dunia” ini.  Selain itu karena mungkin orang sudah tidak takut lagi dengan Neraka karena sudah padam dan tak ingin Surga lagi karena sudah musnah terbakar.

Tuesday, 13 October 2015

DENGKI MENYIKSA DIRI



 “Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah”
Bait tersebut kutipan dari “Gurindam Dua Belas” pasal yang keempat karangan Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat dipublikasikan  tahun 1263 H tanggal 23 Rajab.
Naskah yang kudapat ketika berkunjung ke Pulau Penyengat. 11 Nopember 2013. Bait gurindam tersebut kucoba menterjemahkannya:
Jika dengki sudah diberi tanah di hati sehingga sifat itupun tumbuh subur, maka akan datanglah sejumlah senjata dilambangkan anak panah. Senjata berupa anak panah tersebut siap untuk diserangkan kepada orang lain, kepada siapa kita menaruh dengki atau iri hati. Kadang untuk membidikkan anak panah itu ke sasarannya, orang yang memelihara dengki itu, akan berihtiar sedemikian rupa, menghilangkan gawe kerja (kegiatan rutin), terbuang waktu sia-sia. Tidak jarang untuk mewujudkan pemuasan hati kerena dengki itu, si pen dengki sampai gelisah, susah tidur dan bahkan kehilangan pertimbangan logis atau bahasa gaulnya “hilang malu”.
Sebelum tahun 1973, diriku masih menggeluti profesi sebagai wartawan. Lazim ketika itu bila sekelompok wartawan diundang oleh suatu instansi mengkikuti perjalanan ke suatu daerah, sebelum berangkat atau sesudah sampai di tempat tujuan, kepada kami dibagikan semacam uang transport sejumlah tertentu di dalam amplop. Pembagian “uang transport” tersebut dapat  saja terjadi di hadapan sejumlah wartawan yang diundang dalam rombongan, sehingga masing-masing wartawan saling mengetahui tentang keberadaan amplop itu. Sesampai di tempat Tujuan, oleh pengundang telah pula disediakan penginapan. Maklum ketika itu belum banyak hotel tersedia seperti sekarang,  di daerah yang kami kunjungi kami diinapkan oleh pengundang di dalam sebuah mess dengan ruangan besar. Dalam ruangan itu tempat tidur kami bersusun dua. Begitu besar ruangan itu cukup tertampung kami orang dua belas. Lay out tempat tidur susun membentuk huruf “U”  bagian menuju pintu tidak diisi tempat tidur. Kamar mandi dan Toilet tersedia di luar kamar.
Kami se profesi biarpun berlainan surat kabar/media, tetapi sering kumpul dan oleh karenanya faham betul secara garis besar pembawaan, hobby dan watak masing-masing. Salah seorang kami diketahui oleh banyak teman punya sifat “Dengki”.
Dasar kami waktu itu kebanyakan masih muda-muda dan kebetulan diriku belum genap duapuluh tahun (paling muda dirombongan itu), masih suka berbuat iseng. Karena kami tau sifat teman yang satu itu pendengki, maka diriku sengaja diatur,  pura pura membuka amplop yang dibangikan oleh panitia, dimana sebelumnya amplop tersebut diam-diam sudah ditambah dengan isi amplop dua orang rekan lainnya. Pembukaan amplop disiasati sedemikian rupa, sembunyi-sembunyi tetapi diupayakan agar si pendengki dapat melihat dan memancing dia bertanya.
Benar juga diapun akhirnya bertanya, kerena melihat tebal dan hitungannya cukup lama. Sejurus kemudian si pendengkipun menuju kamar mandi dan ketika keluar dari kamar mandi telah Nampak perubahan air mukanya.
Acara hari itu berjalan padat, sampai sore hari kamipun diantar panitia menuju penginapan dengan tempat tidur susun kami. Entah bagaimana pengaturannya diriku dapat tempat di atas  dan si pendengki pas berada di bawah tempat tidurku, jadi aku tak dapat memonitor si pendengki tentang bagaimana dianya sebelum tidur. Temanku yang berhadapan-hadapan dengan tempat tidurku di ranjang susun atas, sekali sekali mengacungkan jempolnya kepadaku. Rupanya temanku tadi dapat memantau begaimana gelisahnya si pendengki  mencari posisi tidur malam itu, sebentar telentang, sebentar miring kiri dan sebentar miring kanan. Rupanya si pendengki gelisah teramat sangat. Benar juga besok pagi ketika sarapan, yang bersangkutan belum muncul. Terakhir kami ketahui, bahwa yang bersangkutan sebelum sarapan pagi menemui pembagi amplop, mengkonfirmasi ke panitia, tentang berapa sesungguhnya isi amplop, kerena dia merasa di “anak tirikan” diberi jumlah hanya sepertiga. Sebab beberepa orang ketika dimintakan informasi ada yang menjawab belum sempat buka, ada yang jawab yaaah samalah dengan teman-teman lainnya.
Begitulah sifat DENGKI ternyata terbukti menyiksa diri, buktinya gelisah tidur, dan hilang malu menanyakan ke panitia. Untungnya setelah itu suasana begitu padat dan tidak sempat dianya mendampratku, sebab padat dengan acara sampai kami pulang ke pos masing-masing. Namun setiap ketemu lagi dengan teman-teman lain di kesempatan berikutnya, cerita tersebut cukup membuat kami tertawa renyah.

Sunday, 13 September 2015

Hati-Hati menjadi orang SUKSES Usus dapat menjadi PENDEK???



Sukses, selalu diterjemahkan berjaya dalam kehidupan, harta berlimpah, di masyarakat terpandang. Setiap usaha orang sukses tak pernah merugi, setiap kegiatannya tak ada halangan. Sepertinya do’a orang ini selalu dikabul oleh Yang Maha Kuasa. Kadang orang sukses suka juga mendabik dada bahwa usahanyalah yang menjadikan ia sukses,  bukan lantaran do’anya di Kabul YMK, atas usaha dan kepandaian yang bersangkutan sendirilah ia berjaya.
Bagi orang yang bersemi iman di dadanya, berkeyakinan sukses dan gagal dalam hidup bukan kuasa dirinya. Dirinya hanya berkewajiban untuk usaha, untuk ikhtiar,  yang mensukseskan adalah Yang Maha Kuasa. Karena itu orang yang beriman selalu mengiringi ikhtiar/usahanya dengan do’a.  Orang berimanpun yakin bahwa tidak semua do’anya di Kabul. Orang beriman yakin bahwa Yang Maha Kuasa hanya mengabulkan do’anya sesuai keperluan,  bukan mengabulkan seluruh do’a yang dimohonkannya.
Sebab kalau seluruh do’a dikabul maka tidak jarang akan mengakibatkan  tidak baik, bagi orang yang bersangkutan. Dapat saja karena selalu berhasil, selalu sukses, menimbulkan bangga diri pada gilirannya secara berlebihan menilai diri, bahwa dirilah yang hebat, bukan  kekuatan diluar dirinya yaitu Yang Maha Kuasa yang menganugrahkan kesuksesan itu kepadanya.
Dalam perjalanan hidup yang sudah lebih setangah abad ini, banyak sekali menyaksikan profil orang sukses, baik itu tenam sebaya, angkatan seangkatan atau juga di atas segenerasi. Banyak diantara orang sukses tersebut ternyata mempunyai USUS yang PENDEK.
Satu diantaranya, diri ini pernah menyaksikan betapa pendeknya USUS seorang yang sukses. Ketika suatu periode bertugas di satu daerah, punya atasan sekantor yang kariernya demikian sukses. Mulai masuk diterima sebagai pegawai terus menerus sukses, boleh dikata lebih sukses dari rekan-rekan seangkatannya. Karena kesuksesan jabatan itu, diiringi dangan kekayaan materi dan terpandang di dalam masyarakat.  Sudah lumrah bila orang punya jabatan, banyak dermawan yang bermurah hati berlomba-lomba mengirim upeti dalam rangka menarik hati orang yang sukses. Salah satu bentuk upeti berupa buah Duren yang memang didaerah itu, kalau sedang musim berlimpah. Bagi pemberi upeti bulam lagi musin Duren berlimpah, diawal musim sudah berhasil menggupulkan Duren yang baik-baik, besar dan lunak-lunak.
Jelas bahwa Duren begitu banyak tak kan habis dimakan sendiri, apalagi sifat bawaan buah Duren utamanya Duren di daerah itu, tak tahan disimpan lama, beberapa hari akan merekah. Jika merekahnya sudah sampai terbuka lebar, itu Duren ”masuk angin”. Kalau sudah “masuk angin” rasa Duren tidak lagi enak seperti semula, manisnya hilang dan rasa Duren menjadi hambar. Oleh sebab itu,  orang sukses yang saya angkat dikisah ini, biasanya memanggil tenam-teman koleganya untuk bersama-sama makan duren di rumah sambil mengisi waktu malam, sambil main catur, atau gapleh atau nonton TV berparabola bersama rekan selevel di daerah yang terbilang belum banyak hiburan itu.
Siang itu, beberapa orang calon pegawai yang belum dua bulan di terima untuk mengisi formasi kekurangan pagawai di instansi tempat kami bekerja, mereka  ditugaskan untuk merapikan gudang arsip yang letaknya se lokasi (dalam lahan yang sama) dengan rumah instansi tempat atasan saya itu bertempat tinggal. Salah satu gudang yang pintunya tak dikunci, termuat setumpuk Durian, gudang inipun termasuk harus dirapikan.  Salah seeorang calon pegawai terbit seleranya ketika melihat sebuah Duren yang ranum dan sudah sedikit agak merekah, bila dicuil dengan tangan tanpa bantuan pisau pastilah tu Duren dapat dibuka.  
Benar saja si calon pegawai menyampaikan seleranya, diam-diam, telah diusahakannya tak diketahui rekan lain yang membereskan ruangan-ruangan lain, disantapnya Duren ranum itu tanpa mengalami kesulitan, tanpa alat.  Setelah selesai lupalah dia bahwa Duren mesti ada limbahnya, kulit dan biji. Bingung mengamankan limbah tersebut, kalau dibawa keluar ke tempat sampah yang ada di depan rumah, tentulah bakal ada yang melihat, lupalah dia bahwa dia tidak membawa bekal kantong plastic, misalnya untuk menyamarkan limbah Duren itu.
Waktu tugas di rumah instansi BOS itupun berakhir dan semua calon pegawai yang ditugaskan ditunggu mobil minibus yang akan membawa mereka pulang ke kantor. Masing-masing  calon pegawai, membawa pulang, pengalaman sendiri-sendiri, bertugas di rumah Bos. Ada yang latah membayangkan nanti kelak akan jadi Bos, betapa enaknya dirumah yang luas dengan pekarangan yang luas, dengan perabot serba lengkap. Lain dengan si pemakan Duren, masih terpikir dianya dengan limbah Duren yang  telah dimakannya tertinggal diruangan gudang Duran.
Dasar Duren, lain aromanya bila masih utuh dan sudah terbuka juga kulit dan biji. Limbah Duren akan mengundang sejenis makluk kecil yang terbang berkelompok mengerubungi limah Duren, makluk sejenis serangga itu terbang bergerombol setempat dikenal dengan “Bari-Bari”, makanya ada bait nyanyian setempat: 
                                Tom-tom tempoyak
                                Tempoyak Masam
                                Tempayan belah
                                Dirubung Bari-Bari

Kerena tempayan belah, aromanya keluar, sehingga tenpoyak masam dirubung “Bari-Bari”.
Kerubungan Bari-Bari mengundang yang empunya rumah, memerintahkan asisten rumah tangga untuk meneliti di ruangan yang dirubung  Bari-Bari. Terkaget dilihat asisten rumah tangga bahwa ada sampah limbah Durian yang sudah lebih dari beberapa jam isinya dimakan. Langsung si Bos menelpon pejabat yang membawahi calon pegawai yang bertugas siang tadi.
Singkat kisah, setelah diproses ternyata tidak dapat menyangkal salah seorang calon pegawai yang menyantap Durian di dalam Gudang. Titah beliaupun keluar, tanpa pertimbangan yang panjang melalui USUS yang Panjang, Calon pegawai tersebut di pacat.
Pertimbangan pemecatan, adalah bahwa seorang pegawai nanti disyaratkan kejujuran. Belum lagi jadi pegawai, sudah menunjukkan ketidak jujuran. Sudah menunjukkan ahlak yang tidak baik. Instansi tak akan menerima pegawai yang tidak jujur. Kalaulah di hitung dengan nilai uang, sungguh sebuah Durian harganya di daerah penghasil Durian tentu sangat tidak materiil. Tapi itulah keputusan yang telah dititahkan oleh Bos tak dapat ditarik lagi.
Bagi si Bos yang dalam hidup sejak menapak karier tidak pernah mengalami hambatan dan hidup yang susah, maka dianya tidak pernah merasakan betapa kehidupan orang tidak punya. Oleh sebab itulah USUS beliau PENDEK, maksudnya tidak panjang mencerna suatu keadaan, hanya dilihat si Calon Pegawai tidak jujur, buat apa di pertahankan, langsung saja di pecat. Mungkin sampai akhir hayatnyapun si Bos tidak pernah menyesali keputusannya.
Kasus lain, teman saya ketika itu diriku masih berusia duapuluhan berprofesi sebagai wartawan di Jakarta waktu itu. Seorang teman saya yang sampai sekarang masih kuingat namanya karena pernah melakukan sesuatu tindakan penyesalan yang mendalam dengan mengambil langkah “Jera” yang luar biasa. Singkat warta, tamanku itu memuat dalam surat kabarnya tentang seorang (saya tak sebut jelas profesi orang itu, tapi yang bersangkutan berperan dalam perkara di pengadilan). Orang tersebut diketahui temanku itu dan dia mempunyai pakta tak terbantahkan bahwa orang tadi menerima uang (suap istilah sekarang). Dengan dimuatnya berita itu orang bersangkutan beberapa hari kemudian diketahui dipacat dari group mereka. Penyesalan yang mendalam bagi teman tadi, dia menganggap lantaran beritanya orang tersebut terpecat dan kehilangan setidaknya sementara sumber untuk menghidupi keluarganya. Langkah “Jera” yang dilakukan teman ku tadi, berhenti dari wartawan di salah satu surat kabar beroplag besar terbit di Jakarta, sekitar tahun 1970 an itu. Dia takut kalau jadi pewarta akan terulang lagi hal yang sama. Ini mungkin contoh USUS yang PANJANG, walau masalahnya sudah diputuspun masih dicerna kembali, sehingga membuatnya  membuatnya menyesal yang panjang.
Belakang ini kulihat di Face Book, banyak rekan-rekanku yang kini sudah menjadi Bos, diberi kesempatan mengemban amanah menjadi orang pertama. Semoga Kisah ini dapat kiranya untuk menjadi bahan agar BERUSUS panjang jika dihadapkan kepada anak buah yang melakukan kesalahan. Tentu dapat memilah kesalahan seperti apa yang harus dihukum maksimal seperti pemecatan. Pengalaman empiris bahwa karyawan-karyawan yang melakukan kesalahan dimaafkan akan menjadi pegawai yang baik dan sampai ahir hidupnya tak pernah ia melupakan pemaafan itu.