Tuesday, 8 September 2015

TALI-PUSAT



Kenapa Udel disebut juga Pusat. Mungkin karena lokasinya berada di tengah-tengah. Sama jaraknya dari Pusat ke ubun-ubun dan dari Pusat ke telapak kaki juga  antara pinggang kiri dan pinggang kanan dengan pusat sama jauhnya. Tidak peduli orang jangkung atauwa orang cebol, lataknya tetap saja di tengah. Kita pernah makan lewat tali pusat, selagi masih dalam kandungan Ibu. Tali pusat atau “funiculus umbilicalis” adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan. Dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama kehamilan menyuplai zat-zat gizi dan oksigen ke janin. Tetapi begitu bayi lahir, saluran ini sudah tak diperlukan lagi sehingga harus dipotong dan diikat atau dijepit.

Begitu ajiab ciptaan Allah. Kita yang lahir kedunia ini adalah “pemanang” diantara jutaan sel yang ditumpahkan Ayah berenang di rahim Ibu dalam proses pembuahan. Satu satu sel yang menang dan lolos, adalah kita selanjutnya berproses menjadi bayi di kandungan Ibu. Belum cukup sampai disitu, keajaiban berlangsung lagi dimana kita hidup dalam kegelapan di dalam kandungan Ibu, tanpa makan, tanpa minum dan tanpa bernafas. Hidup kita tergantung pada Tali Pusat.  Keajaiban berikutnya setelah sampai saatnya kitapun keluar dari perut Ibu melalui pintu yang sangat sempit, kita diselamatkan atas kehendak yang kuasa lolos ke dunia. beberapa saat kemudian makanan kita diganti tadinya melalui tali pusat, berubah menjadi putting susu ibu yang mengalir beberapa waktu setelah kita lahir, dimana sebelumnya belum tersedia. Keajaiban-keajaiban itu tidak banyak diantara kita yang merenungkannya seraya bersyukur kepada Maha Pencipta. Ooo Kalau Begitu diri ini adalah produk ajaib.

Kalau kita maulah sejenak dalam sehari merenungkan tentang asal kejadian kita dan dengan penuh kesadaran, maka kitapun dapat petik diantara sekian banyak hasil renungan itu adalah:
1.      Bahwa diri ini sebelum lahir ke dunia sudah dilengkapi dengan kebutuhan dasar secukupnya.
2.      Bahwa setelah lahir ke dunia serta merta disediakan kebutuhan dasar pengganti untuk meneruskan proses kehidupan.
3.      Bahwa selanjutnya usrusan kebutuhan dasar setelah lepas dari ayoman orang tua, telah disediakan pula untuk kita masing-masing sesuai keperluan.
4.      Yakinlah bahwa Allah akan memberikan sesuai keperluan kita, dan kadang tidak mengabulkan sesuai permintaan kita.
5.      Jika Allah tidak mengabulkan yang kita minta, hanya memberikan yang kita perlukan, yakinlah bahwa Allah telah menyelamatkan kita. Bukan sedikit orang yang dilimpahi kemewahan sesuai permintaannya, ujung-ujungnya membawa malapetaka buat dirinya dan keluarga di dunia dan bukan mustahil sampai ke akhirat sana.

Kembali ke soal “Tali Pusat”. Ada semacam tradisi  orang tua kami di kampung dulu, tali pusat anak-anak mereka disimpan dengan baik di tempat khusus yang aman. Tali pusat yang diawetkan dibungkus rapi, gunanya beragam. Diantara gunanya adalah bila anak yang punya Tali Pusat diserang penyakit sawan, Tali pusat di rendam dan airnya diminumkan. Juga bila anak-anak mereka suka berantem, tidak akur, tali-tali pusat mereka direndam sama-sama dan diam-diam dicampurkan diminuman mereka. Tentu keyakinan ini susah dibuktikan secara ilmiah dan medic. Akan tetapi itulah tradisi yang kadang mendatangkan inspirasi bagi para peneliti.

Para peneliti mungkin terinspirasi atas tradisi orang tua dahulu yaitu tradisi mengawetkan Tali Pusat. Belakangan mulai terlihat sedikit kebenarannya paling tidak akan hal mereka menyimpan “Tali Pusat”.  Beberapa waktu terakhir, makin banyak diketahui kemampuan Sel punca dalam darah tali pusat . Sejak tahun 2000, para ilmuwan telah menunjukkan bahwa sel punca darah tali pusat dapat berkembang menjadi banyak tipe sel lain di dalam tubuh.  Penemuan yang menakjubkan ini telah mengarahkan penerapan aplikasi klinis dalam berbagai jenis penyakit, termasuk serangan jantung, cedera tulang belakang, dan diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, kita dapat melihat tahap uji klinis penyakit penyakit seperti Cystic Fibrosis, penyakit Al zhaimers, hingga penyakit Diabetes

Sunday, 30 August 2015

Sebetulnya kita Latihan MATI setiap hari



Kita sudah begitu lama tidak pulang kampung, katakanlah sampai sepuluh-duapuluh tahun. Banyak sudah orang sekampung yang dulu kita kenal sudah tidak dijumpai lagi, dapat saja mereka sudah meninggal dunia atau juga meninggalkan kampung merantau seperti kita. Kalaupun beberapa orang yang masih kita jumpai, kadang ada yang dianya melihat kita  ragu-ragu untuk menyapa, biasanya kita yang meninggalkan kampung justru masih ingat dengan mereka, kitapun menyapa mereka dengan ramah dan tentu disambut dengan ramah oleh meraka pula. Di dalam hati kita kebanyakan terbesit, bahwa betapa sudah tuanya teman yang kita tinggalkan sepuluh duapuluh tahun yang lalu itu. Mungkin diapun/merekapun di dalam hatinya berkesan yang sama dengan kita, dianya melihat kita sudah begitu tua. Sementara kita merasa diri ini belum begitu tua seperti yang mereka rasakan dalam hati itu.
Momen yang sama ketika kita diundang teman mantu. Teman akrab yang dulunya pernah bertetangga di suatu komplek ketika dinas semasa masih aktif. Mengundang mantu atas putrinya/putranya yang kita ikut menjengguk ketika si mempelai ini dilahirkan ke dunia. Banyak teman sekolega semasa dinas, sudah puluhan  tahun tidak ketemu, dipertemukan oleh undangan walimah pernikahan ini. Ketika itu kitapun melihat bahwa teman-teman (undangan) yang dulunya gagah/muda sekarang sudah tua, jauh berubah dari yang dulu. Kadang tidak sedikit yang tak sanggup lagi kita mengingat namanya, sebaliknya diapun lupa dengan nama kita. Raut wajahnyalah yang masih mengakrabkan pertemuan singkat itu.
Ternyata bahwa manusia itu, sesungguhnya tiap hari berubah. Kita bangun tidur keesokan hari wajah kita sebetulnya tidak sama lagi dengan wajah kita yang kemaren. Kita berkaca setiap hari ketika akan keluar rumah atau ke tempat kegiatan kita. Tetapi kita tidak merasakan berapa sudah berubahnya wajah kita hari ini dibandingkan dengan kemarin, lantaran tipisnya perubahan itu.
Jikalah anda orang yang suka membuat dokumentasi foto setiap tahun, maka cobalah bandingkan foto anda dari tahun ke tahun, demikian besar perubahannya. Perubahan tersebut sesungguhnya akomulasi dari perubahan setiap hari yang tidak kita sadari, dalam proses mati dan hidup kita setiap hari.
Konsep agama (Islam), bahwa manusia itu setiap hari mati. Sepanjang belum sampai ke mati sungguhan, keesokan harinya oleh Allah kita di hidupkan kembali. Kehidupan kita di esok hari secara phisik sudah bukan phisik kita yang kemarin lagi. Phisik kita yang kemarin sudah mati, kita hidup hari ini dengan phisik baru. Phisik baru kita hari ini sudah berubah dari phisik kita yang kemarin. Sejak bayi kita dilahirkan, tumbuh berkembang, tadinya telapak kaki hanya seukuran dua jari orang dewasa, berangsur hari demi hari membesar memanjang tumbuh hingga menjadi anak-anak, menjadi dewasa dan menjadi tua. Itu semua melalui proses hidup dan mati setiap hari.
Informasi ini didapat dari doa terbangun dari tidur yang diajarkan oleh nabi Muhammad S.A.W.  berbunyi “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kembali setelah Dia mematikan kami, dan kepada-Nya lah kita dibangkitkan.”
Do’a bangun tidur ini memberikan indikasi bahwa sesungguhnya setiap kita tidur, maka kita telah masuk dalam “kematian”. Kematian sementara ini berlangsung terus menerus sepanjang hidup kita. Jadi kehidupan setelah kita bangun tidur, buat phisik kita adalah kehidupan yang baru lagi, sementara Roh kita adalah tetap Roh yang semula, sejak pertama kali ditanamkan oleh Allah ketika 120 hari dalam kandungan Ibu. Roh berangsur bertambah pengetahuan, bertambah ilmu dan pengalaman. Roh yang mengendalikan sikap dan perbuatan setiap orang ini, akan dipengaruhi oleh kedewasaan, pengalaman, ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya seorang berbeda sikap dan kebijakannya dari orang lain, tergantung kepada usianya di dunia, ilmu pengetahuan yang dimilikinya dan pengalaman yang dialaminya.
Itulah sebabnya tidak ada perbedaan “tidur” orang melarat dengan seorang “konglomerat”. Begitu pula matinya konglemerat dan orang melarat tidak ada perbeadaannya, hanya berbeda pada upacaranya saja.  Begitu pula sama saja tidur seorang hamba sahaya, kaum miskan papa dengan seorang raja yang masih bertahta. Kalaulah ada perbedaan tidur mereka hanya pada wadah tergeletak tidurnya saja.
Semoga kita samakin insyaf bahwa setiap hari kita ini tidur adalah mati dan bukan mustahil bahwa setelah kita tidur tidak terbangun lagi, atau mati sungguhan. Oleh karena itu mumpung masih terjaga tebar kebaikan selagi bisa, hindari kejahatan sekuat tenaga.

Sunday, 26 July 2015

MAKAN MALAM di RUMAH SIAPA



 “Omah Sinten” adalah sebuah restoran di kota Solo, cukup terkenal tak heran bila banyak orang menyarankan untuk mampir ke restoran yang berlokasi di jantung kota Solo itu.
Kami dan istri berkesepatan mampir malam hari seusai pertemuan silaturahmi keluarga di Solo 3 Syawal 1436H/ 19 Juli 2015 lalu. Bicara soal “Omah Sinten”, jika dialih bahasakan ke bahasa nasional “Rumah siapa”. Anak kami yang lama sekolah di Yogya bilang “Kayaknya gramernya salah, sebab “Sinten” bahasa halus, gandengannya harusnya bahasa yang setara pula jadi “omah” harusnya “Griyo”  jadi mestinya tersusun nama restoran “Griyo Sinten”. Kalau juga mau pakai “Omah” seharusnya “Omah Sopo”. Tapi ndak soal apalah arti sebuah nama, yang penting restoran itu laris, lokasi di depan berseberangan jalan dengan “Mangkunegaran”. Untuk cari tempat parkir saja cukup perjuangan. Dapat parkir harus bayar dulu Rp 5 ribu, eee pulangnya jurkir minta lagi Rp 5 ribu. Ngak apa-apalah rezeki setahun sekali. Karena dari namanya tersebut dalam bahasa nasional “Rumah siapa” maka kamipun tidak menanyakan pemilik restoran tersebut siapa, yang penting kami ingin bersantai sambil menghabiskan sisa waktu semalam di Solo, sebab esok pagi sudah pulang Ke Jakarta.
Menu yang disajikan umum-umum saja, ada minuman yang ingin kumencoba “Wedang UWUH”, semacam ramuan yang menghasilkan minuman berwarna merah. Kuteringat kampung halamanku di Kalimantan Barat, ada semacam minuman yang juga menghasilkan warna merah, diramu dari kulit kayu dalam bahasa daerah kami pohon “Sepang”. Minuman ini oleh budaya daerah kami, dipergunakan untuk minuman penutup. Artinya para tetamu mengerti, bila tuan rumah sudah mengeluarkan minuman ini, tidak bakal ada lagi hidangan keluar, jadi sebagai kode kalau perjamuan telah berakhir dan majelis sebentar lagi bubar.
“Wudang Uwuh” disajikan dengan lampiran Gula Batu, menurut pengamatanku di dalam gelas terdapat serutan kulit kayu (kuduga mungkin sepang daerah kami), daun, tapi bukan daun salam sejenis rempah rempah  dan jelas ada Jahe.
Setelah makan malam yang cukup santai diiringi tembang-tembang jawa yang dilantunkan oleh ahlinya berpakaian daerah setempat, sambil menabuh alat music tradisional. Kami dijinkan mengabadikan keberadaan kami di restoran tersebut sampai diperkenankan masuk ke dalam dan pelayan restoran bersedia mengabadikan kami dengan kamera, lumayan untuk kenangan.

SECUIL RAHASIA DAPUR



Menyantap makan malam di restoran memang mengasikkan, apalagi belum punya pantangan ini, itu, misalnya karena penyakit bawaaan usia. Di sela-sela kunjungan ke kota Makassar, walaupun oleh panitia sudah disiapkan makan malam di hotel, masih saja ingin makan diluar, tidak ikutan makan bersama rombongan dengan makanan yang disediakan oleh hotel.
Ikan bakar adalah salah satu menu biasa dan menu pilihan di kawasan pantai Losari. Soal nama ikan tidaklah benar-benar standar di seluruh kawasan tanah air, kecuali Gembung ada yang nyebut Kembung, beda-beda tipis. Tenggiri, Tongkol, Bawal, sama seluruh Indonesia. Sedangkan ikan-ikan lain yang eneka banyak jenisnya itu, hampir setiap daerah punya nama sendiri-sendiri. Ikan  yang sering di santap dengan menu ikan bakar, umumnya ikan yang pipih, alasannya tentu akan merata masaknya bila dibakar kedua sisi lantaran tipis. Pilihan kami dengan istri, jatuh pada sejenis ikan pipih yang bahasa Ibuku menyebutnya “Menggali”. Dagingnya gempal, tulangnya sedikit.
Beberapa kali ku ke Makassar di pantai Losari yang kesuka ditempat itu, ikan bakar yang mereka sajikan tanpa sedikitpun terasa amis. Sehingga pada suatu kesempatan, kubertanya kepada pembakar ikan, sambil ikutan menyaksikan ikan dibakar. Apa sebetulnya bumbu dan rahasia masak mereka sehingga ikan tidak menyisakan rasa/bau amis ketika disantap.
Rahasianya rupanya menurut pengakuan juru bakar, bahwa sebelum dibakar, setelah dibersihkan (disiang),  ikan yang akan dibakar dicuci dengan air bekas cucian beras.
Kisah ini baru sempat terceritakan, terinspirasi ketika pertemuan silaturahmi keluarga di Solo 3 Syawal/ 19 Juli 2015 lalu. Salah satu menunya adalah oseng-oseng daun papaya. Daun pepaya itu sama sekali tidak terasa pahit, demikian enak. Tuan rumah kerena ku berulang mengambil menu tersebut, sempat membekali plastic berisi oseng-oseng daun papaya ketika kupamit. Sayang sekali esok harinya sudah tak layak santap, karena malam harinya kami pergi mencoba makan di restoran terkenal di kota Solo, retoran “Omah Sinten”, jadi sangu oseng-oseng daun pepaya ndak sempat dimakan.
Sempat kutanyakan ke juru masak, kiat mengolah daun pepaya yang begitu pahit, menjadi enak disantap tanpa ada rasa aslinya itu. Menurut mereka, daun pepaya yang sudah di iris-iris sesuai keinginan untuk dimasak, terlebih dahulu direndam dengan “Air Lempung” mungkin maksudnya “Air Tanah Liat”. Sesudah itu dicuci bersih dan langsung diolah sesuai selera.
Rahasia dapur lainnya, mengolah buah Pria agar tidak terasa pahit, dengan merendamnya di dalam air garam. Pria buah yang sejak dari jaman doeloe sudah pahit, sampai-sampai dalam hazanah perpantunan pemuda sejaman dengan “Siti Noerbaja” ada pantun”
                                Kalau ku tau Pria pahit
                                Takkan ku gulai dalam belanga
                                Kalau ku tau mencinta sakit
                                Tak kan kumulai dari semula

Kalau begitu jaman itu belum ditemukan kiat membuat Pria menjadi tidak pahit, sehingga ada muda-mudi yang mengabadikannya dalam bait pantun. Seirama dengan itu jaman itupun rupanya muda-mudi belum pandai mengolah cinta menjadi tidak sakit, sehingga diabadikan dalam sair pantun mereka.
Ketimun, bahasa daerahku Mentimun, kadang ketemu juga yang pahit. Konon ketika di lading, Ketimun yang pahit itu, pernah dilalui oleh ular, sehingga bisa ular menular kedaging buah Ketimun. Tapi ada pula caranya agar membuat Ketimun yang disajikan tidak pahit semuanya. Caranya; potong tampuk Ketimun, kemudian bagian potongan tersebut digosok-gosokan ke bekas potongannya dengan bilangan ganjil, mulai tiga, atau lima atau tujuh. Pahit Ketimun akan hilang.
Begitu banyak rahasia dapur nusantara yang baru secuil kita angkat.

Wednesday, 22 July 2015

MUDIK di dunia VS MUDIK ke akhirat



Kuambil terminologi mudik, adalah pulang kampung. Orang pulang kampung ada beberapa sebab, misalnya sudah jemu di rantau orang, atau sudah selesai masa bhakti di tempat orang. Belakangan ini mudik umumnya adalah pada saat lebaran. Mudik di dunia ini dapat direncanakan sebelumnya. Kini untuk mudik, contoh, mudik dengan menggunakan Kereta Api dapat dipesan 3 bulan sebelumnya. Adapun mudik dalam arti pulang ke akhirat, tidak direncanakan, tidak seorangpun tau kapan harus mudik tersebut. Walau sebetulnya begitu orang dilahirkan, sekaligus sudah dibekali tiket untuk mudik lengkap dengan tanggal hari dan jam serta dimana berangkatnya, sayangnya kita tidak diberi tau. Pernah kutulis dalam artikel blogspot “NIKMAT TAK TAU  MAUT” antara lain; “Andaikan kita manusia diberitahukan berapa lama lagi usia kita persisnya akan habis, maka beberapa kenikmatan yang bisa kita nikmati niscaya sudah akan tidak terasa nikmat lagi. Bagi orang yang ahli ibadah mungkin akan terus menerus ibadah, mohon ampun dan tak beranjak dari tempat ibadah, usaha sekedarnya saja tidak semangat. Apa jadinya dunia ini perekonomian tidak berkembang, teknologi tak akan maju, ilmu pengetahuan lainnya akan statis. Dunia akan dipenuhi orang tak semangat”.
Karena mudik di dunia direncakan, maka kedatangan ke kampung halaman dapat diatur untuk di jemput ke bandara atau ke stasiun atau ke terminal, oleh keluarga yang ada di kampung. Misalnya tidak adapun keluarga yang menjemput, tentu dapat menggunakan moda transportasi di kota tujuan. Jikapun umpamanya karena begitu lama tidak pulang kampung sehingga banyak jalan dan bangunan yang sudah tidak dikenal, masih dimungkinkan untuk bertanya dan bertanya kepada orang lain dalam perjalanan menuju ke lokasi alamat  yang dituju. Sedangkan pulang mudik ke akhirat, tidak akan ada tempat bertanya di alam sana, yang akan memberikan kawalan kita dalam perjalanan hanyalah amalan kita selama hidup di dunia.
Selama tinggal di kampung beberapa hari tersebut, tentu kita akan mengeluarkan pembiayaan untuk makan dan minum, dengan bekal yang dibawa dari rantau. Misalnya perbekalan kita tidak cukup, masih ada harapan dapat bantuan dari keluarga yang sudah lama tak jumpa tersebut. Mungkin juga biaya konsumsi dan penginapan gratis karena menjadi tamu sanak keluarga. Sedangkan mudik ke akhirat, tidak ada sanak keluarga yang mungkin memberikan bantuan. Hanya kuasa Allah saja yang akan memberikan bantuan untuk kita. Bantuan Allah tersebut jika kita mempunyai bekal amal baik yang banyak.
Mudik pulang kampung kebanyakan orang yang sudah mapan di rantau, akan segera kembali ke tempat dia mencari nafkah, sedangkan mudik ke akhirat, belum pernah ada yang kembali ke tempat asal, kekal selamanya. Semula begitu anda mudik ke akhirat, masih diingat oleh karib kerabat, handai dan taulan, terutama keluarga dekat. Ada sebagian kelompok membuat peringatan atas mudiknya ke akhirat salah seorang anggota keluarganya. Peringatan dimulai 3 hari, 7 hari, 40 hari dan ditutup 1000 hari, bahkan ada yang membuat peringatan tiap tahun sekali, sambil mendo’akan.
Tetapi generasi berganti terus menerus, generasi yang membuat peringatan itupun juga akan mudik juga ke akhirat dan akhirnya tidak ada lagi generasi yang mengingat kepergian mudik kita ke akhirat dan mendo’akan. Tinggallah kita menungu pengadilan Allah yang maha adil, timbangan kebaikan dan keburukan kita dilaksanakan tanpa ada kecurangan semilipun.
Setelah itu diperhitungkan pula kezaliman kita kepada sesama manusia, sebab kezaliman kepada manusia dapat dikelompokkan dua bentuk yaitu: Pertama kezaliman atas hak dan harta, kedua kezaliman atas kehormatan dan harga diri. Kezaliman-kezaliman tersebut jika belum terselesaikan di dunia dengan penghalalan dan pengikhlasan, maka di hari perhitungan nanti, volume kebaikan yang kita bawa akan di barter dengan keburukan orang yang kita zalimi. Adalah sangat mungkin bila banyak pihak yang terzalimi oleh anda, maka kebaikan anda habis dan keburukan orang lain yang masuk ke timbangan keburukan anda. Sehingga anda mempunyai timbangan keburukan yang berlimpah.
Kezaliman berupa hak dan harta, bila hendak diselesaikan di dunia, dengan jalan mengembalikan hak orang yang dizalimi atau membayar/melunasi harta/hutang kepada pihak yang dizalimi. Sedangkan kezaliman berbentuk kehormatan dan harga diri, untuk mendapatkan penyelesaian di dunia adalah dengan mohon maaf dan meminta keikhlasan/keredhaan yang bersangkutan.
Adalah sangat baik, dalam kesempatan hari raya Idul Fitri kita yang sudah mendapat pengampunan dosa dari Allah swt melalui puasa dan serangkaian ibadah selama Ramadhan, juga memohon maaf lahir dan bathin, meminta keikhlasan dan keredhaan terhadap handai taulan, karib kerabat yang mungkin pernah terzalimi selama ini.
Sungguh penyelesaian persoalan sesama manusia, adalah Allah menyerahkan penyelesaiannya kepada manusia pula. Sedangkan persoalan dosa kepada Allah, ketahuilah Allah maha pengampun.
Sebenarnya, potensi kealpaan atau kezaliman dilakukan oleh sembarang orang, adalah dengan komunitas yang akrab dengan dirinya. Misalnya rekan seprofesi, rekan sekantor, mitra bisnis yang sering berinteraksi, jiran tetangga, jamaah masjid. Sedangkan potensi kezaliman dengan komunitas keluarga seketurunan di lain kota misalnya, adalah sangat kecil, sepanjang jarang berinteraksi. Kalaulah pernah zalim-menzalimi adalah semasa hidup bersama di kampung halaman.
Tetapi tetap saja ada sebagian komunitas keluarga besar atau paguyuban lantas menyelenggarakan pertemuan silaturahim setahun sekali, di kampung halaman atau di gedung pertemuan. Itulah yang dilaksanakan oleh keluarga se nenek dari istriku. Dilaksanakan berpindah-pindah dari kota-kekota tergantung rumpun yang kegiliran sebagai tuan rumah.  Mereka terbagi dalam 7 rumpun yang ditandai garis keturunan pertama dari mBah yang dijadikan figure pemersatu tersebut. Ibu-ibu yang dijadikan patokan rumpun tersebut mempunyai sederetan anak dan cucu serta cicit, sehingga jumlah mereka sudah mencapai ratusan orang. Rumpun yang kegiliran di Idul Fitri tahun 1436 H, kebetulan kini berdomisili di Solo, oleh karena itulah pertemuan kali ini dilaksanakan di Perumahan Omega Klegen, Colomadu Solo. Cukup besar pengorbanan dari anak, cucu dan cicit untuk berkumpul di lokasi tersebut. Mereka dari Jakarta, dari Yogyakarta, dari Tuban, dari Gresik, dari Surabaya,  bahkan ada yang dari Bali. Namun terlihat tanpa ada keluhan dan kesulitan, meski untuk berkumpul tersebut mereka harus merogoh kocek cukup dalam. Salah satu hikmah dari pertemuan silaturahim ini, barang kali adalah dieratkan kembali keluarga serumpun dan berdampak dapat memudahkan komunikasi dan informasi yang bermuara kepada terbukanya jalan-jalan mendapatkan rezeki.
Tahun depan giliran pertemuan adalah rumpun keluarga yang kini masih berdomisili di tanah asal kelompok ini yaitu Jatirogo Tuban Jawa Timur. Namun berpotensi diadakan di tempat lain, karena keturunan rumpun ini, ada yang tinggal di Yogyakarta, Surabaya, Gresik, Solo dan Jakarta.
Untuk mudik di dunia ini, seperti misalnya mudik dalam memenuhi undangan silaturahim paguyuban senenek buyut seperti contoh di atas, jika kebetulan tidak punya uang, dapat berikhtiar, ngutang atau pinjam atau jual benda berharga yang dipunyai,  tetapi kalau undangan mudik ke kampung akhirat jika  tidak membawa bekal amal, tidak mungkin untuk meminjam atau mengutang kepada siapapun. Undangan mudik di dunia ini, diberitahukan direncanakan sebelumnya berbulan-bulan tetapi undangan mudik ke kampung akhirat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.