Sunday, 9 September 2012

RUPIAHPUN LAKU DI NEGERI SYECH

Rekan seperjalanku umrah Ramadhan belum lama ini punya kebiasaan; selesai berbuka puasa harus minum hangat. Sehabis berbuka puasa dan shalat magrib di masjid Nabawi di Madinah, sebenarnya makanan dan minuman berbuka puasa sudah lebih dari cukup, tersedia susu, madu dan berbagai roti serta aneka jenis kurma terhidang di hadapan jamaah menjelang buka, disantap begitu kumandang azan. Aneka makanan itu langsung bersih di angkat dengan plastik alasnya begitu iqamah. Dasar kebiasaan yang kalau ditinggalkan cukup mengganggu kesehatan mungkin, maka keluar dari masjid langsung teman seperjalanku itu  mengajak untuk membeli teh panas. Saya sebetulnya tidak berkepentingan dengan teh panas, sebab seperti kukatakan bahwa makanan dan minuman berlimpah, cuma memang tidak ada teh panas. Adapun teh ala  Arab yang disuguhkan untuk berbuka, disebut mereka “syahi” dan rasanya pedar menurut lidah saya dan juga disuguhkan dalam gelas kecil, sedikit sekali.
Persoalannya untuk membeli teh panas di kios teh, tentu harus dengan uang Real, padahal kami baru tadi sore datang, belum sempat menukarkan Rupiah ke Real. Beberapa tahun silam, soal menukarkan uang di Madinah dan Makkah sangat gampang, money changer (tempat tukar uang) tersebar di mana-mana, bagaikan kios penjual rokok di jalan kampung di Jakarta saja. Tapi keadaan saat Ramadhan 1433 H ini agaknya lain, apa sebabnya belum sempat saya mencari informasi, tetapi ternyata money changer jumlahnya sangat terbatas, dan tempat yang tersedia terkesan formil dan mewah tidak seperti beberapa waktu yang lalu. Akhirnya saya berdua dengan teman tadi  setelah tanya sana sini, menemukan money changer resmi itu di bangunan gedung besar di jalan besar lurusan pintu gerbang nomor 10 Masjid Nabawi. Lokasinya di kiri jalan di mana jalan itu ada trotoar di tengah jalan. Belakangan diketahui ada juga di sebelah kanan jalan berhadapan dengan money changer yang kami temukan malam itu.  Teman saya menukarkan pecahan Rp 100 ribu dapat 38 Real.  Langsung bersama beliau kami mampir di kios teh, pesan dua cangkir membayar  4 Real.
Saya belum berkeinginan menukar Real, karena memang belum ada yang harus dibeli. Hari ketiga saya harus beli kain ihram dan tas kecil serta ikat pinggang ihram serta tas untuk menempatkan pakaian seadanya, sebab seperti yang telah saya tulis terdahulu bahwa kopor kami hilang dalam penerbangan Jakarta-Jeddah. Untung ada sedikit uang Real tersimpan di tas isteri, sementara dapat untuk membeli perlengkapan umrah secukupnya dan akhirnya hampir habis persediaan Real untuk membeli obat-obatan, pengganti obat yang hilang bersama kopor. Obat di Madinah dan Makkah lebih mahal dibanding dengan di Indonesia. Sebenarnya bila dibandingkan Indonesia, dalam banyak hal murah di Indonesia, contohnya makanan dalam kemasan dengan tambahan buah sekadarnya di Madinah dipatok SR 15 jika dirupiahkan Rp 42 ribu. Itu makanan setara dengan nasi padang bungkusan  di Jakarta sudah dapat dua bungkus, apalagi beli yang “apa saja lauknya Rp 7.000” dapat 6 bungkus. Di Jakarta, di daerah yang banyak tempat kost-kost-an banyak yang mematok tarip “lauk apa saja Rp 7.000,-“. Teh secangkir SR 2 sama dengan Rp.5.600,--
Pecahan Real kami suami isteri sudah menipis ketika perjalanan dilanjutkan menuju Makkah, kejadian itu karena diluar dugaan perlengkapan dan obat-obatan tidak mau ikut bersama kami, berada bersama kopor yang sampai sekarang belum jelas dari penerbangan ”SQ”. Ternyata di Makkah sekarang, soal money changer juga tidak lagi seperti beberapa kali saya kunjungi kota itu dimasa yang lalu. Dulu money changer terdapat di seantero jalan antara Masjidil Haram ke pemondokan dimana saja kita berdiam.  Suatu hari Real kami sudah betul-betul habis, bagaimanapun sebagai uang resmi di negeri “Syech” ini adalah Saudi Real disingkat “SR”.  Saya dan isteri disuatu subuh sepulang dari Masjidil Haram mencari tempat penukaran uang tersebut. Diperoleh kabar bahwa money changer buka sesudah dzuhur dan sesudah isya, lokasinya di dekat “masjid Jin”. Masjid ini hampir sama jauhnya dari pondokan kami ke Masjidil Haram. Sesudah isya kuputuskan untuk pergi juga ke lokasi dekat masjid Jin, ternyata ditempat penukaran uang, bukan main banyaknya manusia yang akan menukar uang dari berbagai bangsa. Untuk mengatur para penukar uang yang begitu banyak, pemilik mengatur memasukkan orang perkelompok. Kelompok yang masuk harus berdesakan untuk ke loket, tidak ada system di dalam ruangan ini, siapa kuat segera dapat menuju loket. Saya sampai keringatan, napas rasanya sampai terengah-engah. Tidak ada tulis menulis dalam penukaran ini, hampir tidak ada ngomong, begitu diserahkan uang Rupiah langsung  ke tangan saya diserahkan sejumlah uang Real.
Uang Real hasil penukaran ini dapat dipergunakan untuk beberapa keperluan kami suami isteri, digunakan sehemat-hematnya. Direncanakan untuk disimpan untuk keperluan dalam perjalanan pulang nanti di Jeddah, biasanya ada saja pengeluaran ekstra seperti bayar yang ngangkut barang dari mobil ke bandara (maklum perjalanan bukan dengan travel), biaya packing air zam-zam. Kalau-kalau ada biaya kolektif kelebihan bagasi. Meskipun bagasi kami suami isteri  masing-asing tidak lebih dari 20kg, sebab sudah terbiasa pergi umrah tidak belanja. Tapi group kami pulang  sejumlah 15 orang, rata-rata mereka kelebihan  bagasi. Betul  juga, biaya packing air zam-zam SR 8,- kami berdua SR 16  kelebihan beban iuran SR 20, persis benar Real kami pas tersisa tinggal SR 1.
Untuk mengatur itu maka ketika membeli obat di apotek di Makkah, ketika beli barang di toko baik barang biasa maupun makanan, selalu kami menggunakan uang Rupiah. Ternyata di negeri Syech ini uang Rupiah juga laku dalam transaksi di toko-toko kecil sekalipun. Misalnya ketika kami membeli kopor dua buah, ganti kopor kami hilang. Pemilik toko mau dibayar dengan Rp 400 ribu, pemilik toko mengembalikan SR 6,-  Rp 100 ribu dikurs SR 39 jadi Rp 400 senilai SR 156,- harga dua kopor SR 150. Membeli sajadah, harganya SR 10 kami beli dua dengan pecahan Rp 50 ribu tambah SR 1. Begitu juga beli obat, di apothek terbesar seperti Nahdi, rupiah diterima dengan  kurs bervariasi.
Pembayaran katering kami selama sebulan di Makkah juga dibayar dengan Rupiah dan bahkan secara hitung-hitungan lebih baik kursnya, sebab si pemilik katering menghargakan untuk satu Real hanya dengan Rp 2.400,- jadi  Rp 100 ribu kurang lebih dapat  41,67 real.
Katering di Makkah selama sebulan itu, menuut penilaianku termasuk mewah. Pada waktu berbuka disediakan makanan dengan nasi dan 4 jenis lauk termasuk sayur, disamping disiapkan buah dan makanan pembuka seperti penganan, sejenis kue, bubur ketan itam, bubur kacang ijo secara bergantian. Buah terdiri dari jeruk, apel, pir dan pisang juga secara bergantian. Tersedia jus buah dan es buah setiap berbuka dan sahur. Susu bubuk, kopi bubuk, ovaltin dan gula tersedia terus menerus sejak buka sampai sahur dapat  mengolah sendiri sepuasnya. Disamping itu disediakan pula roti dengan alat pembakarnya berikut selai antara lain selai kacang dan mentega. Itu semua dihitung perkepala sehari SR 40 termasuk  disediakan seorang pelayan.
Rombongan kami pada menjelang akhir Ramadhan 21 orang, semula hanya 15. Pesanan katering tetap tidak ditambah hanya untuk 15, walau orang bertambah. Begitu mewahnya makanan berlimpah, jatah untuk 15 orang ini walau pertengahan Ramadhan menjadi 21 orang, makanan masih tetap setiap hari harus dibuang. Setiap hari pelayan memasukkan sisa rendang, sisa sop buntut, sisa kare kambing, sisa sayur, sisa burung goreng, sisa empal, sisa rajungan, sisa udang goreng ke dalam plastik kemudian dibungkus diletakkan di tangga yang akhirnya diangkut menjadi sampah. Betapa mubazirnya ini makanan dibuang begitu saja hampir disetiap hotel, di setiap penginapan di setiap pemondokan dan juga sisa berbuka puasa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kutanyakan kepada pelayan yang kebetulan orang Indonesia, mengapa makanan ini dibuang, apa tidak sebaiknya diberikan orang yang tidak punya makanan. Jawabnya enteng,  siapa yang mau diberi pak, semuanya pada membuang.
Semoga informasi ini ada gunanya bagi siapa saja yang akan berangkat haji tahun ini, jangan khawatir bekal saja Rupiah, tidak perlu repot-repot cari tukaran Real. Begitu juga setelah sampai di tanah suci kebetulan tempat nukar uang tidak tersedia banyak seperti waktu-waktu yang lalu. Dari pada menukar uang berdesakan dan nguras energi.


Tuesday, 4 September 2012

“SIT DOWN” YANG MANJUR


Perjuangan orang untuk masuk ke pelataran Ka’bah utamanya ketika shalat  Ied, di setiap Idul Fitri bukannya mudah. Manusia masing-masing ingin dalam posisi melingkari Ka’bah ketika shalat itu, sebab Khatib sekaligus Imam bermimbar di dekat Ka’bah. Sekali waktu saya bersama seorang teman beberapa tahun yang lalu sudah dapat posisi duduk di depan mimbar Khatib yang ketika itu disiapkan di hijir Ismail. Kira-kira kurang seperempat jam lagi waktu shalat akan dimulai, wudhu saya batal, usaha mencari air, akhirnya tertekan arus manusia, ke tempat wudhu yang di dapat diluar masjid. Selesai wudhu ternyata tidak berhasil masuk masjid lagi, jangankan sampai ke pelataran ka’bah. Akhirnya kami shalat diluar masjid.
Idul Fitri 1 Syawal 1433H ini  berbekal pengalaman tadi, saya dengan isteri sudah turun dari pemondokan pukul 3 dini hari. Ternyata sampai di masjid, pelataran Ka’bah sudah semua terisi, agaknya banyak jamaah yang lebih dini lagi datang ke lokasi tersebut. Kali ini mimbar diposisikan disisi pintu Ka’bah, antara pintu dan makam Ibrahim. Keputusan diambil, isteri ditempatkan di jamaah wanita di salah satu jalan menuju pintu Ka’bah. Dari lokasi itu Ka’bah dan Khatib nantinya akan terlihat, tetapi tidak masuk ke pelataran Ka’bah. Sementara saya berburu lokasi, untuk mencari celah dapat di pelataran Ka’bah. Sudah berupaya masuk mengikuti arus jamaah, tapi belum juga dapat tempat, masing-masing orang tidak mau memberi ruang walau hanya separo badan. Akhirnya kulihat banyak oang yang duduk-duduk di trap menuju pelataran Ka’bah, sehingga trap tangga yang disediakan dari bangunan masjid ke pelataran tawaf itu hampir penuh kiri kanannya kecuali hanya diluangkan sedikit untuk dapat lewat orang yang masuk dan keluar ke area tawaf.
Trap tangga ini diduduki oleh sebagian jamaah, untuk mencari peluang masuk shaf bila shalat dimulai, biasanya ketika shalat dimulai, dalam posisi berdiri, ada lagi shaf yang sudah terbentuk itu dapat diisi, peluang itulah yang diincar oleh jamaah yang duduk-duduk di tangga itu. Namun bagi keamanan masjid jamaah duduk di tangga ini dianggap memacetkan arus, makanya harus segera dihalau. Dengan bahasa tubuh yang tegas dalam bahasa Arab dengan suara yang keras, askar berpangkat sersan ini menjerit-jerit memberi komando “tariik...... tariik ............ tariiiik “ tapi “jamaah tangga”  ini tetap tidak bergerak. Seolah tidak mengerti apa yang dimaksud. Walaupun sebagian mereka adalah orang-orang Timur Tengah yang mengerti bahasa Arab. Sedangkan kita orang Indonesia saja mengerti sudah maksudnya “tariiik, tariik” itu, setidaknya ia mengatakan jalan...jalan..., atau beri jalan, atau ini bukan untuk duduk tapi untuk jalan orang lewat, atau jangan duduk di jalan mengganggu lalu lintas, atau apapun maknanya ia bermaksud agar kita meninggalkan tempat itu.
Rupanya saking sudah kesalnya ia menggunakan bahasa Arab, kalau-kalau orang tidak mengerti, diubahnya strategi dengan bahasa asing lainnya, entah bahasa apa itu saya tak dapat mengikutinya. Namun “jamaah tangga” juga tidak bergeming.  Kesesudahannya dengan sekuat urat lehernya si sersan berteriak “Sit Down, sit down........ sit down” berulang-ulang. Kini jamaah tangga masing-masing tersenyum dan diantaranya berkomentar, “terbalik”.  Agaknya si askar kurang faham bahasa Inggris, karena sambil mengucapkan dengan berteriak “sit down, sit down.......... sit down”, tangannya memberi isyarat suruh berdiri dan jalan.

Keterbalikan ini membuat “jamaah tangga” sebagian besar tersenyum dan tertawa dan anehnya justru mentaati perintah yang terbalik itu, dengan berangsur-angsur masing masing  senyum dan berdiri dan meninggalkan tangga itu. Termasuk diantaranya saya terpaksa pindah mengikuti orang lain, saya ke tempat lain di lantai 4, dari sana dengan mudah dapat terlihat suasana di sekitar Ka’bah dan juga dapat terlihat mimbar Khatib. Walau setengah jam kemudian tempat itupun diperebutkan orang lagi. Penuh sesak menjelang shalat subuh. Persoalan yang menjadi masalah, mempertahankan wudhu selama kurang lebih 3 jam 20 menit. Berangkat ke masjid pukul  3 dini hari, kumandang azan subuh pukul 4.30, shalat subuh 4.45 dan shalat Ied pukul 06.20. Kalau batal karena buang angin masih mudah mengatasinya dengan berbekal air secukupnya untuk wudhu, tapi kalau sudah kepingin pipis, sudah jelas akan keluar masjid dan tidak mungkin dapat masuk kembali.
Itulah gambaran perjuangan jamaah umrah Ramadhan dan haji untuk menuju tempat shalat. Sementara kita di tanah air perjuangan untuk menuju tempat shalat berjamaah belumlah sesulit itu. Itu sebabnya barang kali kalau di tanah air marilah  shalat berjamaah ke masjid, sebelum datang suatu saat untuk mendapatkan tempat ke masjid sedemikian sulit, lantaran begitu banyaknya orang yang taqwa. Atau datang suatu saat di negeri ini orang terhalang untuk pergi ke masjid, lantaran misalnya suatu saat nanti yang berkuasa dinegeri ini adalah penguasa yang mencegah orang ke masjid. Bukan mustahil..........., bahwa memang Allah akan menjamin Islam akan tetap ada di dunia, tetapi tidak ada jaminan Islam akan tetap aman di Indonesia.

Saturday, 1 September 2012

KEHILANGAN UANG ATAU BARANG KETIKA UMRAH/HAJI

Adalah ustadz Taufik Nuch di dalam suatu khutbah Jumat di masjid Arrahmah Jl. Percetakan Negara Jakarta Pusat, meng-counter cerita-cerita orang tentang haji dan juga umrah. Konon orang pergi haji atau umrah itu, kalau di tanah air pernah memukul orang di tanah suci akan ada saja orang yang mukul. Pokoknya bila di tanah air pernah menyakiti seseorang, maka diterima pembalasannya di tanah suci. Begitu juga kalau barang yang dibawa dari hasil usaha yang tidak halal akan hilang, termasuk uang. Menurut  si Ustadz ini tidak benar, hanya cerita yang dibuat-buat untuk menakut-nakuti  saja. Tidak ada dasar dalilnya. Si Ustadz rupanya sudah banyak kali berangkat haji memimpin rombongan.
Ketika saya berangkat haji tahun 1991, ada suami isteri di dalam rombongan kami, sesampainya di Madinah, uang living cost sebsar SR 1.700 untuk masing-masing orang dan bekal suami USD 3.000 dan Isteri USD 3.000,- raib di dalam kamar  pemondokan, diketahui setelah pulang shalat Isya dari masjid hari pertama di Madinah yang dijadwalkan 8 hari itu. Serta merta orang cukup berpangkat dan jabatan tinggi itu jadi tidak berduit. Sedangkan jamaah haji tahun itu ketika menetap di Madinah mulai hari kedua begitu juga di Makkah hari kedua, makanan dan minuman harus diusahakan sendiri dengan living cost dibagikan ketika di Pondok Gede Jakarta sebesar SR 1.700. Selama di Arafah dan Mina makan minum disediakan Pemerintah. Dengan standar minum dan makan yang sederhana uang living cost itu saja, untuk makan-minum dan biaya lainnya selama berada di tanah suci ketika itu lebih dari 40 hari, apalagi pake sangu masing-masing USD 3.000. jauh lebih dari cukup.
Komunikasi kala itu belum selancar sekarang, langsung teman sekloter saya itu menghubungi tanah air untuk minta dikirimi uang. Beberapa hari kemudian mendapat kabar bahwa uang telah dikirim dari Indonesia melalui bank sebesar USD 3.000. Anehnya setiap beliau menanyakan ke bank mendapat jawaban kiriman belum datang. Kemudian sehari sebelum pulang ke tanah air, iseng-iseng yang bersangkutan bersama saya datang ke bank AL-RAJHI, ternyata uangnya sudah ada dan dapat diterima. Sayangnya diterima uang sudah tinggal menunggu pulang, kurang dari 24 jam, praktis uang tersebut tidak dapat dipergunakan untuk biaya hidup selama di Madinah dan Makkah. Solider para jamaahlah yang membantu kehidupan suami isteri ini selama menjalankan ibadah haji, saya tidak mendapat berita bahwa beliau ada meminjam dari jemaah lain. Kasihan sekali keadaan Bapak dan Ibu ini, selama dalam menjalankan ibadah, padahal di tanah air ia termasuk orang terpandang dan berpunya. Di dalam tata pergaulan di tanah air mereka suami isteri tidak pula ada cacat dan cela. Sementara ada komentar-komentar miring dari sesama jamaah tentang kedaan tersebut, dikaitkan bahwa uang tidak halal dan lain sebagainya. Komentar yang agak ringan adalah “Allah memberi pelajaran kepada yang bersangkutan bagaimana rasanya hidup tidak punya”. Sengsara memang, bagaikan pepatah “sudah jatuh ketimpa tangga digigit anjing pula”. Untuk minum segelas kopi saja yang bersangkutan disedekahi oleh jamaah lain. Dikaitkan dengan penjelasan Ustadz Taufik Nuh di atas, kehilangan uang tersebut banyak faktor penyebabnya, mungkin nyimpannya yang kurang taktis, misalnya disatu wadah. Sedangkan kiriman tak kunjung datang itu mungkin karena komunikasi ketika itu masih belum secanggih sekarang. Ketika itu belum dikenal ATM, kalau sekarang sudah gampang, tinggal mampir di ATM banyak tersebar di daerah perhotelan dan pertokoan.
Analog dengan keadaan sepasang suami isteri yang saya ceritakan di atas, mirip dengan itu terjadi pada diri kami suami isteri, berangkat umrah 22 Juli 2012 menumpang pesawat “SQ” (Singapore Air Lines). Dari Jakarta mampir sejenak di Singapura untuk salin pesawat. Sekira Pukul 18an waktu Jeddah kami tiba di tengah lapangan terbang, kemudian diangkut mobil jauh sekali menuju ke terminal, mungkin lebih dari setengah jam. Setelah selesai urusan keimigrasian, kami menuju ke tumpukan barang. Betapa terkejutnya, sampai habis semua barang penumpang, kopor saya dan kopor isteri tidak ada. Sedangkan kopor dari 3 orang rombongan kami lainnya ada. Langsung hal itu dilaporkan ke pengaduan bagasi hilang dan mendapat tanda terima. Untungnya di tas punggung saya masih tersedia pakaian dalam dua helai, celana panjang satu helai, demikian juga isteri saya. Sedang kopor yang berisi masing-masing 4 stel separangkat pakaian, sandal 3 pasang, alat kesehatan berupa tes gula darah, obat-obatan diabet dan vitamin, serta dua kotak susu Deabetasol, semuanya sampai berita ini saya turunkan belum diperoleh kabarnya.
Kondisi itu saya nikmati, ternyata pakaian sedikit itu menenteramkan dan praktis,  tidak susah memilih pakaian, karena hanya tinggal 2 pakaian luar dan tiga pakaian dalam.  Satu dipakai satu dicuci begitulah seterusnya sampai akhirnya pulang ke tanah air. Tidak seperti jika di rumah, kadang harus memilih pakaian yang mana yang akan dikenakan lantaran ada beberapa pilihan. Anggota rombongan juga bukannya tidak berempati, diantaranya ada yang memberi kain pelekat, setelan pakaian shalat. Maklumlah pakaian orang lain tentu tidak selamanya pas dibadan awak dan tentu tetap tidak nyaman. Ada juga ikhtiar membeli pakaian Arab dan pakaian ala Timur Tengah lainnya, tapi juga masih terasa ribet. Akhirnya kembali ke pakaian dua helai baju dan dua helai celana dipakai bergantian, sedangkan pakaian dalam ada 3 helai, lumayan sering ganti pakaian dalam supaya terhindar keringat buntet. Seperti biasa ada saja yang mengomentari seperti komentar saya sebutkan buat sepasang suami isteri yang kehilangan uang itu. Kasarnya kopor dan barang didalamnya tidak halal, makanya hilang. Saya ingat lagi isi khutbah ustadz Taufik Nuh, untuk menenangkan diri supaya tidak panas kuping kalau ada yang ngasih  komentar miring.
Ceritanya itu koper ketika chek in bukan kami sendiri yang langsung ke counter, rupanya lima potong barang dari kami berlima dijadikan satu nama di satu tiket, setidaknya untuk koper saya dan koper isteri atas nama pimpinan rombongan. Ketika sampai di Jakarta sudah susah untuk mengklaimnya, kebetulan yang menjadi pimpinan rombongan itu, entah kenapa ketika sampai di Jeddah, bukannya nunggu anggota rombongan keluar dulu, sebagaimana lazimnya pimpinan rombongan umrah/haji yang pernah saya ikuti, dianya langsung keluar dan kami mengurus diri sendiri. Setelah diketahui koper tidak ditemukan baru ia kembali lagi masuk. Setelah sampai di Indonesia kami sudah susah mengurusnya, karena yang kehilangan saya dan isteri, resi bagasi nama orang lain. Entahlah;  “tau ah  gelap”, istilah anak sekarang. Sejak di negeri orang, saya ingat sebuah syair yang dilantunkan tetua kami orang Kalimantan Barat bagian selatan, menasihati bila anak cucunya kehilangan barang, juga untuk putus pertunangan,  lirik syairnya begini:
Burung Elang terbang berempat
Tertembak satu patah sayapnya
Barang yang hilang tak akan dapat
Carilah  lain akan penggantinya

Bagaimanapun bila pembaca menemukan kopor itu dan kebetulan membaca artikel ini. tolong beritahukan atau bila mungkin kirimkan ke alamat, siapa ngerti itu kopor jatuh dihutan atau di rimba atau dimana saja. Buka saja itu koper ada fotocopy pasport dari pemiliknya lengkap dengan alamat. Isinya si tidaklah materiil, hanya pakaian diantaranya udah lama dipakai dan peralatan kesehatan dan obat-obatan, tapi kalau ketemu nilai nostalgianya lumayan.

Tapi benarkah bahwa bila barang tidak halal, dalam perjalanan ibadah haji/umrah akan hilang??
Di Masjidil haram suatu hari setelah shalat Ashar, saya dan isteri sejak dari pemondokan ketika berangkat shalat dzuhur memasang niat akan tawaf sunat. Sesuai niat, sajadah buatan Madinah yang kami beli untuk shalat  masing-masing selembar serta sandal kami bungkus dalam kantong plastik kresek dan diletakkan disuatu tempat yang sudah diingat betul-betul tempat tersebut. Karena tawaf sangat tidak praktis jika sambil membawa barang. Betapa terkejutnya kami ketika selesai tawaf dicari barang tersebut sudah tidak  ditemukan lagi. Untung selesai tawaf menjelang berbuka puasa, sekalian kami berbuka puasa di masjid sambil nunggu matahari sudah terbenam supaya pulang nyeker tidak terlalu panas dan mampir di penjual sandal yang jauhnya dari masjid kurang lebih 650 langkah. Kami beli lagi masing-masing sepasang sandal. Pulang ke pemondokan untuk makan malam sebelum berangkat shalat Isya dilanjutkan shalat tarawih. Peristiwa tersebut sama sekali tidak bocor ke jamaah lain. Kalau sampai ada yang dengar, dikomentari lagi, karena dibeli dengan uang haram. Maklum diri ini mantan pegawai, pegawai selalu di idenktikkan dengan korupsi. Padahal tidaklah semua pegawai itu korupsi, masih banyak dan mungkin lebih banyak yang bersih ketimbang yang kotor. Cuma lantaran nila beberapa titik rusaklah santan sebelanga. Ingat aku ayahku dulu, waktu itu aku masih kecil, tapi sudah cukup sanggup untuk mengingat. Uang disaku bajunya  ada Rp 200 (dua ratus rupiah), pulang turnei (turba istilah sekarang), tugas mengunjungi desa-desa, itulah antara lain tugas ortuku sebagai pegawai pemerintah di bawah lambang  “Api Nan tak kunjung Padam”, yang kemudian apinya padam juga, nampaknya padam ditiup “Gus Dur”, ketika beliau  jadi  Presiden. Ayahku pulang turnei ketika itu menyangkutkan bajunya berisi uang itu di kapstok. Ketika ibuku akan mencuci baju, ayah berpesan tolong keluarkan uang duaratus jangan sampai tercuci, nanti siang kumasuk kantor akan dikembalikan, sisa uang jalan. Uang duaratus rupiah waktu itu, masih kuat daya belinya, dapat dua buah mesin jahit merk Butterfly yang harganya hanya Rp 80,- (delapan puluh rupiah). Kutahu harga mesin jahit lantaran itu orang tuaku, kalau lagi tidak dinas memberikan penerangan ke desa-desa sepulang kantor nyambil menerima jahitan, beliau sempat bekerja sama dengan seorang tentara berpangkat pembantu letnan sama-sama jadi penjahit. Begitulah potret pegawai negeri dan tentara jaman dulu cari uang halal, biar banting tulang nyambil kerja sampingan,  kadang kusaksikan mereka lembur sampai lewat tengah malam. Kini potret itu tentu masih ada tidak monopoli orang jaman doeloe. Mungkin masih banyak orang yang mengembalikan sisa uang jalan. Masih banyak orang yang mengembalikan sisa anggaran. Sedikit banyak nasihat berupa tabiat yang diteladankan ayahku itu mungkin ada juga sedikit melekat dihatiku dan kucoba untuk mempraktekkannya. Insya Allah koporku, sandalku dan modalku berangkat umrah bersumber dari yang halal.
Shalat Magrib dengan isya di Makah dan Madinah berjeda kurang lebih 2 jam, tidak seperti di tanah air hanya sejam. Jadi cukup waktu untuk makan dan beristirahat sejenak. Kami berangkat lebih awal dari biasanya, untuk mencoba merunut dari awal tempat masuk ke mesjid dan meletakkan dua helai sajadah dan dua pasang sandal itu. Manusia begitu kental, sehingga untuk sementara niat mengetes “halal-haramnya” sajdah dan sandal kami itu diurungkan sampai selesai shalat Isya dan Tarawih. Setelah Isya dan Tarawih penelusuran kami teruskan dan Alhamdulillah barang tersebut masih terletak ditempatnya tidak bergeser sedikitpun. Oh  Alhamdulillah, kalau begitu ini bukan dibeli dengan uang haram, kataku sambil melirik isteriku.
Kejadian serupa terjadi lagi tentang sandal, saya simpan dikotak penitipan sandal di lantai bawah  kotak nomor 76. Kami bertahan dari Dzuhur sampai sesudah Ashar, ketika saya akan pulang sandal tersebut sudah tidak ada lagi di tempatnya. Kembali lagi saya bercanda,  haram lagi rupanya itu sandal, tadinyakan sudah halal.. Isteri saya ikut melihat disekitar kotak tersebut, rupanya ada seseorang yang sengaja meminjamnya untuk menuju tempat wudhu dan tidak mengembalikan ketempat asal dan meletaknya tidak jauh dari kran zam-zam yang biasanya untuk minum.  Jadi tidak jadi lagi sandal ini haram.  Sandal yang saya beli SR 10 di Madinah itu terbawa sampai kerumah sekarang. Sengaja saya pilih agak lain modelnya supaya tidak banyak yang menyamainya, kebetulan ketika di masjidil harampun belum pernah ketemu yang sama modelnya. Maklum sedikit agak trauma membawa sandal di kopor 3 pasang, padahal dengan niat untuk disedekahkan kelebihan sandal itu, telah hilang bersama kopornya.
Keberangkatan kami semula direncanakan 17 Juli 2012 beberapa hari sebelum megang puasa, tetapi diundur beberapa kali akhirnya jadi pada tanggal 22 Juli 2012. Adikku dari Kalbar mendengar pengunduran itu  ada SMS setelah melihat running text  pada layar TV bahwa pemerintah melarang Haji perseorangan. Tentu segera kujawab bahwa itukan haji, sedangkan kami umrah, bukan haji insya Allah belum dilarang. Akan tetapi memang sulit untuk mendapatkan visa, itulah sebabnya berangkatnya jadi beberapa kali mundur.
Nampaknya pengalaman saya ini tidak elok bila dialami lagi oleh handai tolan, untuk berumrah dengan tidak menggunakan travel resmi, sebab banyak sekali kejadian yang kurang enak, walau harus diakui ada juga yang istimewa mungkin tidak didapat bila dengan menggunakan travel resmi. Tapi bila dimatrix jauh lebih aman dan nyaman dengan menggunakan travel resmi. Dikatakan murah juga tidak, di dalam cabin pesawat saja kita telah banyak ketemu rombongan travel resmi yang berpakaian seragam, tukar menukar informasi ternyata tarifnya unda undi. Ketika di tanah suci ketemu lagi dengan jamaah travel resmi dari seluruh penjuru tanah air, mereka sambil menunggu shalat dapat tukar informasi. Misalnya dalam masa sebulan seperti kami ada yang justru tarifnya lebih rendah dari kami, walau juga ada yang lebih tinggi, dengan fasilitas yang hampir bersamaan.
Antrian haji belakangan ini mulai dari tiga sampai lima tahun sejak mendaftar, banyak membuat orang yang ingin berangkat segera  mencari jalan pintas. Bukannya tidak ada yang berhasil, tapi sebaiknya dipikir  berulang-ulang, terutama bagi yang ada sekikit ngidap gejala penyakit jantung. Anjuran saya sebelum menentukan pilihan berangkat umrah, apalagi haji,  cari informasi sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimanapun jangan menggunakan travel yang tidak resmi.  Soal haji,  di masjidil haram saya bertemu dengan orang sesama umrah ramadhan yang batal berangkat haji dimusim haji yang lalu, sedangkan uang sudah disetorkan ke pihak yang konon sanggup memberangkatkan haji.  Ibadah haji batal tapi uang sampai ia bercerita tersebut belum diterimanya kembali, masih banyak persoalan. Dengan geram ia katakan bahwa ia tidak akan ikhlas dunia akhirat. 
Tapi ada juga yang ikhlas, dia katakan kepada penyelenggara haji yang batal dan belum mengembalikan uangnya itu “sudahlah uang saya tidak usah dikembalikan ke saya, nanti berikan saja ke anak yatim”.  Rupanya alasannya dengan sudah diniatkan untuk anak yatim, bila si penyelenggara itu tidak menyampaikannya maka ia sama dengan memakan harta anak yatim. Orang yang memakan harta anak yatim, si bapak tadi yakin betul dengan apa yang diimaninya dari agamanya bahwa si pemakan harta anak yatim akan  terisi perutnya dengan bara api neraka.  Percumakan ibadah sampai memumutkan/memudarkan warna lusinan sajadah lantaran sujudnya. Percumalah tiap tahun berhaji, percumalah berumrah berulang mandi, bila nanti perut dengan bara neraka penuh terisi.
Agaknya yang bernama Syaitan, bukan hanya bergayut di pejabat punya dasi.
Bukan hanya berada di telunjuk para petinggi,
Bukan hanya berada diujung pulpen penanda tangan keputusan dan disposisi.
Syaitan tidak hanya mukim di palu hakim atas perkara yang sedang diadili
Syaitan tidak hanya berada di sela-sela pasal-pasal kitab hukum suatu negeri. 
Tapi Syaitanpun berada juga di sela-sela lebatnya jenggot syang Kiayi,
Syaitanpun juga berada diantara butir tasbih ahlul  zikri.
Syaitanpun siap bersemayam di peci putih seorang haji.
Rupanya manipulasi bukan hanya para pejabat, punya hak monopoli.

Manusia lupa bahwa:
 
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
(Alqur’an  Ali Imran 185)

Wednesday, 29 August 2012

MENJADI TAMU IMAM MASJID NABAWI MADINAH DI RAUDHAH


Secara bahasa “raudhah” berarti kebun atau taman. Sedangkan yang dimaksud  Raudhah di sini adalah suatu tempat yang berada di antara mimbar dan makam nabi Muhammad S.A.W. Tempat ini selalu digunakan oleh Nabi Muhammad S.A.W. untuk melakukan shalat sampai akhir hayat beliau. Tempat shalat di Masjid Nabawi Madinah ini, ketika shalat berjamaah diperuntukkan bagi barisan jamaah laki-laki. Luas lokasi ini kurang lebih 144 meter persegi. Jamaah wanita juga diberi kesempatan ke lokasi tersebut sesudah Subuh sampai dhuha dan adakalanya sekarang terakhir ini sesudah Isya sampai sekitar sebelum Subuh.  
Karena tempat ini sangat istimewa, maka di sunnahkan untuk selalu beribadah dan shalat di Raudhah Nabi SAW ini. Jamaah berziarah ke Madinah, seyogyanya selalu melaksanakan shalat lima waktu di masjid Nabi SAW dan berniat i’tiqaf setiap dia memasuki masjid Nabi S.A.W.
Juga dianjurkan untuk mendatangi Raudhah guna memperbanyak shalat dan do’a di sana karena ada hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda, “Tempat yang diantara kuburku dan mimbarku ini adalah Raudhah (kebun) diantara beberapa kebun surga”. Seseorang juga dianjurkan untuk berdo’a di depan mimbar Nabi SAW. Sesuai dengan sabda Nabi SAW, “Mimbarku ini berada di atas telagaku.” (al-Hajj wa al-‘Umrah Fiqhuh wa Asraruh, 237)
Dengan redaksi yang berbeda, al-Imam ar-Rabbani Yahya bin Syarf al-Nawawi dalam kitabnya Kitab al-Idhah fi Manasik al-Hajj menjelaskan, dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW bersabda, “Mimbarku ini berada di atas telagaku”. Imam al-Khathabi berkata, “Maksud hadist di atas adalah bahwa ‘orang yang selalu istiqamah melaksanakan ibadah di depan mimbarku, maka kelak di hari kiamat, ia akan minum air dari telagaku‘ ”. (al-Idhah fi Manasik al-Hajj wal ‘Umrah, 456)
Jamaah penziarah ke Madinah dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di Raudhah Nabi SAW. Karena tempat itu memiliki keutamaan yang sangat besar. Namun jangan sampai karena memperebutkan keutamaan ini, kita sampai mengganggu atau menghilangkan hak-hak atau bahkan menyakiti orang lain.
Di dalam kesempatan umrah Ramadhan 1433 H, pada hari Selasa 24 Juli 2012 saya dengan 4 orang jamaah dari group kami mendapat kesempatan istimewa untuk mendatangi Raudhah. Pimpinan rombongan kami yaitu H. Ali Rusdy rupanya punya hubungan baik dengan salah seorang imam masjid Nabawi  “Syech Obaed Nashir Sindi”.
Berangkat dari hubungan baik itulah agaknya prosedur kami masuk ke Raudhah sesudah Ashar hari selasa 24 Juli 2012 itu diatur. Pertama kami bertemu dengan dua orang pembesar keamanan masjid Nabawi dibahunya melekat pangkat bintang dua. Seorang diantaranya memberitahukan agar kami menemuinya sesudah shalat Ashar di pintu keluar Babussalam. Rencananya dari pintu itu rombongan kami akan dibawa melawan arus jamaah yang menjiarahi makam Nabi dan dua sabahatnya (Umar dan Abu Bakar). Tetapi karena petang itu arus jamaah begitu padatnya, berjejal dan berdesakan. Jauh lebih padat dibandingkan jemaah haji sejak tahun pertama saya mengunjungi Madinah 1991 dan jauh lebih padat dari jamaah umrah diluar Ramadhan. Maka akhirnya Jenderal Yusuf mengubah strategi; meminta kami ikut arus masuk dari pintu masuk Babussalam, yaitu pintu masuk menjiarahi makan Rasulullah. Cukup padat dan berdesakan jamaah muslim sejagat menapak dalam antrian. Kira-kira empat meteran dari Mihrab Rasulullah, beberapa orang berpangkat sersan merentang tali berupa pita berwarna kuning dan membuat alur menuju mihrab  Rasulullah untuk menjaring kami berlima. Yang mengagumkan saya, itu prajurit belum dikenalkan kepada kami tapi dia dapat mengenali kami berlima dan memasukkan dalam alur yang dibatasi tali/pita kuning yang direntang itu untuk memisahkan kami dengan berjelalnya jamaah sejagad itu. Alhasil kamipun diterima oleh Imam Masjid Nawabi di depan Mihrab Nabi dan didudukkan di tempat yang diperebutkan orang itu, dengan posisi bersandar ke Mihrab Nabi, sebab waktu itu sesudah shalat Ashar menunggu berbuka yang waktunya kurang lebih masih 3 jam lagi, sedangkan setelah Ashar tidak ada shalat. Posisi duduk kami adalah: Paling kanan Prof. Dr. Musjby, disebelahnya bersentuh pundak dengan imam masjid Nabawi “Syech Obaed Nashir Sindi”, lekukan Mihrab Nabi. Membatasi  H. Ali Rusdy dengan Imam Masjid. H. Ali Rusdy berdampingan bersentuh pundak dengan saya, M. Syarif Arbi. Sedangkan rombongan kami yang lain H.A. Gani duduk menghadap ke posisi kami, dibelakangnya duduk H.Ibrahim. Kurang lebih satu jam sebelum berbuka sudah digelar plastik panjang untuk menata makanan berbuka puasa. Bukan main lezatnya aneka makanan yang disiapkan di Raudhah itu, segala macam susu kemasan, segala macam kurma dan madu, roti dan minuman khas mereka. Begitu iqamah dikumandangkan pertanda akan dimulai shalat Magrib, plastik tempat digelar makanan langsung digulung, berikut seluruh makanan yang tersisa dan langsung menjadi sampah. Saya sempat mengantongi segelas madu kemasan yang masih utuh untuk oleh-oleh buat isteri.
Masa selama kurang lebih 3 jam tersebut kami manfaatkan untuk berdo’a, karena tempat tersebut adalah tempat yang paling diusahakan setiap jamaah untuk didatangi guna berdo’a. Banyak juga saya lihat dari bahasa tubuh mereka, jamaah dari negeri lain, misalnya Mesir dan timur tengah lainnya yang memprotes lamanya kami duduk di lokasi itu, tapi semuanya kelihatannya di jawab oleh imam masjid, dalam bahasa arab tentunya yang saya tafsirkan dari gerak tangan dan tubuh. Wajah Indonesia saya rupanya tetap nampak, buktinya ada beberapa orang jamaah Indonesia yang menyapa saya dari kejauhan sekitar lokasi, menyebutkan asal daerahnya, dengan maksud barangkali ingin juga dibawa ke lokasi itu, tapi apalah daya,  saya sendiri juga diatur oleh tuan rumah dan duduk dengan mengecilkan lipatan kaki ditempat yang begitu sempit.  Sesekali terjadi dialog antara kami dengan imam masjid yang berperawakan besar tinggi itu. Dalam dialog  kepada yang bersangkutan pimpinan rombongan kami memperkenalkan masing-masing anggota rombongan dan peranannya di tanah air. Saya diperkenalkan H. Ali Rusdy membina sebuah pesantren di pedesaan Kalimantan Barat yang baru didirikan dua tahun lebih. Sehubungan dengan itu imam masjid Nabawi menjanjikan akan mamberikan bantuan yang nanti akan direalisasikan dalam waktu dekat. Untuk perkenalan itu saya sempat memberikan kartu nama “STIE DR. MOECHTAR TALIB”, kebetulan ada di dompet saya,  beliau balas dengan menuliskan namanya dalam aksara arab dan memberikan nomor teleponnya dan membubuhkan tanda tangan di kertas yang kebetulan terbawa dikantong saya. Bukti otentik itu saya simpan sekarang. Sepulang ke tanah air saya sudah sempat berkomunikasi melalui nomor HP yang beliau berikan, saya memberitahukan sudah sampai di Indonesia dan terimkasih atas kesempatan yang beliau berikan mengunjungi Raudhah ketika di masjid Nabawi. Imam masjid Nabawi tersebut dapat menjawab berbahasa Indonesia sekedarnya.
Keberangkatan umrah kami kali ini prosedurnya lain dari umrah-umrah kami sebelumnya. Biasanya kami umrah melalui jasa travel atau biro perjalanan, kepada biro perjalanan menyetor sejumlah uang tertentu, langsung tinggal tunggu tanggal keberangkatan. Dalam paket perjalanan umrah sudah terjadwal hari demi hari, di mana akan menginap, tempat-tempat apa saja yang akan dikunjungi. Umrah kami kali ini tidak menggunakan travel, katakan perjalanan group untuk melakukan umrah. Sejak visa, tiket, penginapan diusahakan pimpinan kelompok. Itulah sebabnya semula tidak direncanakan akan bermalam hari pertama di Jeddah, kenyataannya kami bemalam di rumah seorang berkebangsaan Arab Saudi di komplek para pejabat kerajaan. Atas tawaran  penghuni rumah, kami diminta menginap semalam di Jeddah, keesokan harinya kami diantar tuan rumah ke terminal bis untuk mencari kendaraan ke Madinah. Bukan main mengagumkan pelayanan tuan rumah kepada kami sebagai tamunya, di sebuah rumah mewah di komplek elite tersebut. Makanan dan hidangan tidak jeda-jedanya disuguhkan sejak kami masuk rumah sekitar pukul delapan malam sampai waktu sahur. Rombongan kami lima orang, tiga lelaki dan 2 perempuan yaitu isteri saya dan seorang lagi tante pimpinan group. Ke Madinah kami diantar seorang polisi berpakaian preman dengan mobil sehingga diperjalanan dari Jeddah ke Madinah tanpa harus diperiksa passport pada setiap chek point yang dilalui. Sampai di Madinah kami bergabung dengan rombongan lain yang lebih dahulu di Madinah sebanyak 10 orang, diantaranya Bpk. H.A. Gani dan Bpk. H. Ibrahim group bersama menjadi tamu imam masjid Nabawi di Raudhah.
Di Madinah rombongan kami hanya menginap 3 hari dan menghabiskan masa umrah kami selama sebulan lebih itu di Masjidil Haram Makkah sampai hari rabu tanggal 22 Agustus 2012. Pengaturan tempat penginapan di Makkah baru dinegosiasikan setelah sampai di Saudi. Tempat menginap di Makkah di Shiab Amir, posisinya sebelah timur Masjidil Haram,  750 langkah ke pintu Marwah, lantai II Masjidil Haram. Pintu ini jarak paling dekat dengan pemondokan, bila siang; sinar matahari tidak ada pelindung dengan suhu sektar 48 derajat C. Melalui pintu ini kami mengikuti arus sya’i menuju tangga turun ke lantai bawah pintu nomor 39. Tempat sya’i lantai bawah tersedia AC, lumayan udaranya agak nyaman, walau menjelang akhir Ramadhan kedinginan AC sudah tidak mengcover, karena semakin banyaknya jamaah yang i’tiqaf, mereka mengkavling setiap jengkal lantai.  Pertimbangan saya dan isteri setiap sholat di lokasi ini, karena hanya berjalan beberapa langkah kemudian belok ke kanan sedikit mendaki langsung dapat kelihatan pintu Ka’bah.
Perjalanan umrah tanpa travel seperti ini, tidak disarankan bagi jamaah yang menginginkan ketentraman dan kenyamanan. Seperti saya kemukakan di atas bahwa bila umrah melalui biro perjalanan resmi, semuanya sudah terjadwal walau realisasinya mungkin ada juga yang sedikit melenceng, namun sudah hampir dapat dipastikan mendekati rencana. Demikian juga pembiayaan sudah terkalkulasi hampir akurat. Sedangkan perjalanan seperti ini, serba masih perkiraan. Sampai sampai konfirmasi tiket untuk pulang saja diminta ngurus sendiri. Ngurus barang mulai dari penginapan sampai chek in, kita dilibatkan. Lain halnya bila menggunakan travel, barang-barang tinggal diletakkan di depan pintu kamar, ketemu lagi barang kita di bandara tanah air, pengurusan di bandara juga ditangani oleh pengurus dari tavel, jamaah tinggal duduk manis untuk siap-siap masuk ke ruang tunggu bandara.
Bagaimanapun setiap perjalanan umrah tetap saja ada pengalaman yang berbeda-beda, dan setiap umrah ada saja cobaannya, saya sudah beberapa kali umrah, pernah di awal puasa, pernah diakhir puasa berlebaran di Makkah. Kali ini sebulan penuh dan juga berlebaran di Makkah, pernah beberapa kali diluar ramadhan, saya merasa sekalipun belum pernah lulus dalam ujian dan cobaan itu. Ingin rasanya umrah tidak ada kekecewaan, tidak ada sesuatu yang membangkitkan amarah. Tetapi rupanya tetap saja belum berhasil. Semoga Allah S.W.T. mengampuni saya dan menerima umrah ini, menyaring hal-hal yang tidak baik dan mencukupkan bila ada kekurangannya.

Saturday, 21 July 2012

TRIK VISA DAN MUHRIM


Visa adalah dokumen yang dikeluarkan oleh suatu negara memberikan seseorang izin untuk masuk ke negara tersebut dalam suatu periode waktu tertentu. Ada memang negara tertentu atas kesepakatan bilateral atau regional membebaskan warga negara mereka masuk ke negaranya yang terikat kesepakatan tanpa visa.
Demikian juga orang Indonesia yang akan masuk ke negara Arab Saudi dalam rangka melaksanakan haji atau umrah, harus mendapatkan visa. Pengurusan visa tersebut di kedutaan Arab Saudi yang ada di Indonesia.
Syarat untuk mendapatkan visa khususnya UMRAH ke Arab Saudi antara lain:
1.    Pemohon visa memiliki paspor yang masih berlaku dan masa berlaku sekurangnya lebih lama dari berapa lama yang bersangkutan  akan tinggal di Arab Saudi dalam rangka Umrah.
2.    Pemohon visa harus sudah mempunyai hotel atau pemondokan yang akan dituju di kota tujuan di Arab Saudi, Madinah dan Makkah.
3.    Pemohon visa harus sudah memiliki tiket pesawat terbang untuk keberangkatan dan tiket pesawat terbang untuk pulang.
Konon menurut salah satu pihak yang biasa ngurus Visa terkait umrah, persoalannya bila tiket PP sudah dikantongi benaran, jika visa tidak keluar maka akan berakibat tiket hangus atau setidaknya dibatalkan dengan pembebanan biaya. Begitu juga dengan pemondokan di Saudi, bila batal maka perskot booking akan hilang. Menyikapi hal ini sepertinya sudah ada kesepahaman “akal-akalan” antara usaha ngurus perjalanan umrah dengan maskapai penerbangan dan hotel. trik tersebut adalah dengan menerbitkan “Tiket bayangan”  dan “tanda booking hotel ecek-ecek” . kalau ternyata gagal mendapatkan visa pihak pengatur perjalanan hanya mengeluarkan biaya sedikit ke petugas maskapai penerbangan. Sementara dalam hal pemondokan batal, juga kepada petugas hotel hanya keluar sedikit uang terimakasih.
Jika visa benar-benar keluar dengan :tiket bayangan dan booking hotel ecek-ecek itu, maka si pelaksana perjalanan umrah segera mencari penerbangan lain yang membawa rombongan mereka. Itulah sebabnya mungkin diantara pembaca yang ingin melaksanakan umrah, semula direncanakan menggunakan penerbangan “A”, kemudian terlaksana dengan menggunakan penerbangan “B”. Kalau hotel biasanya sedikit agak lebih dapat ditepati, karena begitu visa keluar segera diinformasikan ke hotel, walau tidak jarang terjadi juga berubah. Pernah saudara saya berangkat umrah dengan janji akan diinapkan di hotel bintang 5, ternyata terealisasi di kamar hotel dengan tempat tidur susun 5 buah masing bersusun 2.
Trik untuk menjalankan umrah ini rupanya dilakukan orang juga bab MUHRIM. Pelaksana perjalan umrah, demi membantu calon rombongannya wanita yang belum bersuami tetapi dalam usia di bawah 45 tahun. Dipasangkan muhrim dengan rombongan lain yang berangkat membawa isteri atau kebetulan jamaah lelaki yang berangkat tidak membawa isteri. Di dalam paspor tercantumlah siapa yang menjadi muhrim dan siapa yang dimuhrimkannya.
Tahun 2007 ketika saya berangkat dengan rombongan 2 adik saya lelaki,  isteri saya dan ibu mertua. Adik saya lelaki kebagian memuhrimkan masing-masing satu orang, sedangkan saya juga kebagian seorang. Pada detik-detik akan masuk keruang tunggu pemberangkatan, salah saorang anggota rombongan, dianya wanita terpaksa membatalkan keberangkatan karena mendapat kabar bahwa orang tuanya sakit berat mendadak, atas pertimbangan keluarga keberangkatan dibatalkan.
Rombongan kami berangkat dengan kurang seorang wanita yang dimuhrimkan salah seorang adik saya. Di pesawat kami duduk berjauhan, sehingga tidak dapat mewanti wanti adik saya untuk mengisi pass masuk Saudi yang dibagikan di dalam pesawat. Oleh adik saya rupanya formulir itu disepelekannya bahkan tidak mengetahui lagi entah kemana. Ketika sampai di imigrasi Saudi, semua anggota rombongan mengunjukkan paspor dan pass masuk yang sudah terisi, sedangkan adik saya passnya saja tidak ada. Oleh karena itu ia sampai empat kali keluar masuk antrian tetap tidak dapat masuk. Pemimpin rombongan mengetahui hal itu segera mancarikan formulir pass masuk dan membantu mengisikan. Setelah antri yang kelima kalinya dengan menyerahkan pass masuk tersebut, petugas imigrasi langsung menyuruh adik saya ini segera masuk tanpa banyak periksa termasuklah tidak memeriksa siapa yang dimuhrimkannya.
Persoalan timbul ketika akan pulang ke tanah air, seluruh rombongan sudah selesai chek in, sementara adik saya ditahan dan akhirnya diserahkan ke keamanan karena seorang wanita dalam paspornya tidak ikut pulang, dia dituduh meninggalkan seorang wanita di Arab Saudi. Begitu lama persoalan ini mengurusnya, untung diantara rombongan kami ada Anggota DPR RI yang punya akses ke kedutaan Indonesia, entah bagaimana prosedurnya/caranya, kemudian kedutaan mengirimkan petugas ke bandara menanda tangani semacam surat, kami tidak mengerti akhirnya adik saya dan kami dalam detik-detik terakhir dapat masuk ke ruang tunggu. Persoalan belum berhenti sampai disitu, ketika akan masuk ke pintu keluar ruang tunggu menuju ke bis yang akan mengantar ke pesawat, kembali adik saya tertahan, setelah semua rombongan selesai barulah akhirnya adik saya ini muncul dengan bis lain. Petugas pintu keluar itu juga mempertanyakan ke kantor depan mengenai kelainan cacatan dari paspor adik saya ini. Alhamdulillah kami sampai juga ke tanah air dengan mendebarkan, adik saya nyaris ditahan di penjara Arab Saudi.
Ini model akal-akalan yang kurang berakal yang membahayakan. Tapi jika tidak dengan akal-akalan persoalannya menjadi sulit. Mengenai pengurusan Visa harus juga dengan trik akal-akalan. Muhrim juga dengan akal-akalan. Ibadah saja di dunia ini harus dengan akal-akalan. Jadi tidaklah terlalu heran kalau soal selain ibadah ditempuh orang dengan jalan akal-akalan.
Oh dunia mengapa penuh dengan akal-akalan, apakah akal-akalan ini sudah termasuk jurus korupsi, entahlah .................
Begitulah rupanya dunia ini. Kalau semuanya baik, semuanya tidak ada korupsi, semua tertib, semuanya enak, semuanya kenikmatan, tidak ada akal-akalan mungkin itulah surga namanya.  Kalau semuanya sulit, semua susah semuanya tersiksa itupun bukan pula dunia mungkin itu kehidupan neraka.
Jadi kehidupan dunia itu ada yang mudah, gampang, nikmat, enak, lancar tetapi bercampur juga ketidak nyamanan, ada akal-akalan, ada yang korupsi ada kemacetan dan serbaneka ketidak teraturan.

Friday, 20 July 2012

KUNJUNGAN BALASAN

Hampir setiap orang, sudah berkeluarga maupun masih belum menikah, sering bepergian atau traveling. Memang jendela hidup ini akan terbuka bila seseorang sekurangnya dapat melakukan 3 hal yaitu “Reading”, “Meeting” dan “Traveling”. Reading menambah wawasan, sehingga banyak hal dapat diketahui, termasuk pengetahuan dan pengalaman orang lain dapat diserap melalui reading. Wawasan dan pengetahuan adalah senjata utama dalam menjalani kehidupan. Meeting berkomunikasinya seseorang dengan orang lain, dengan banyak orang, dengan meeting dapat tukar menukar informasi, semula sesuatu tidak diketahui menjadi diketahui dan semuanya bermuara untuk melancarkan aktivitas hidup. Traveling menambah pengalaman, dapat melihat segala macam peluang dari tempat yang dikunjungi.
Keluarga negeri Belanda suami isteri bertamu ke kampung teman saya dibilangan Nusatenggara Barat biasa dikenal sebutan dengan NTB. Tamu dari negeri Belanda tersebut ada kaitan kekerabatan jauh, dengan teman saya tadi dari pihak yang perempuan. Keramah tamahan Indonesia di mana saja di nusantara ini, bila kedatangan tamu, dilayani demikian baik. Kamar di rumah disediakan dengan rapi, sejak dari tempat tidur sampai perlengkapannya walau seadanya diusahakan serapi mungkin. Begitu sampai waktu sarapan, makan siang dan makan malam, sahibul bait berusaha semampunya menyediakan makanan yang terbaik, perabot makan yang tebaik, termasuk serbet makan terbaru. Walaupun nanti setelah tamu pulang gombal datang, serbet barupun hilang. Seminggu suami isteri itu bertamu di NTB, hampir semua lokasi wisata dapat dikunjungi dengan panduan pihak keluarga ketamuan. Seperti ketika tiba, waktu pulang juga tuan rumah memfasilitasi mengantar sampai bandara.
Waktupun berjalan, sampai ketika dua tahun kemudian si keluarga dari NTB ini ada keperluan ke negeri Belanda dengan rencana kurang lebih seminggu. Tentu saja teman ini karena sudah pernah merasa melayani tamu negeri Belanda ketika berkunjung ke daerahnya, rasa percaya diri agak besar. Dibayangkan nanti di negeri Belanda akan dijemput di bandara sebagaimana ia pernah lakukan. Akan ditampung di kediaman kerabat tadi di rumahnya sebagaimana ia pernah laksanakan. Soal makanpun demikian dibayangkan sekurangnya sarapan pagi, mungkin disediakan tuan rumah nanti. Singkatnya teman inipun dengan isteri berkunjung ke negeri Belanda. Sebelum berangkat sudah komunikasi melalui telepon rencana keberangakatan kunjungan balasan itu seminggu sebelumnya. Pihak di negeri kincir angin itupun menerima pesan melalui seluler dengan baik. Pokoknya welcome deh bahasa orang kini.
Pesawat tiba di bandara negeri Belanda dini hari. Rasa sungkan Asia setidaknya orang Indonesia, tidak langsung memberi tahukan kedatangan mereka, dikhawatirkan keluarga yang akan menerima kunjungan balasan sedang lelap tertidur. Sekitar pukul 5 pagi waktu setempat barulah ditelepon perihal mereka sudah berada di bandara kedatangan. Sedikit agak kaget teman ini menerima jawaban dari kerabat yang pernah bertamu di NTB itu. Si nyonya bule menyahut melalui telepon dengan memberikan arahan alamat kekediaman mereka, artinya mereka tidak akan menjemput ke bandara seperti yang pernah dibuat teman saya di bandara NTB. Berpikir positif teman saya ini memberitahukan isterinya bahwa si kerabat mereka itu rupanya sedang sibuk, sehinga tidak dapat datang ke bandara menjemput. Segera diputuskan naik taksi menuju kediaman kerabat mereka itu. Kangen juga rasanya sudah dua tahunan tidak ketemu sejak kunjungan mereka dua tahun lalu ke NTB. Tak lupa oleh-oleh dari tanah air khas Mataram ikut dibawa yaitu “Telor Asin”, beberapa butir “mutiara” dan tak lupa “ayam taliwang” walau lama dalam perjalanan  ketika akan dimakan dipanaskan dulu pasti masih enak.
Taksipun meluncur kekediaman kerabat Belanda itu, rupanya tidak sulit mencari alamat, dengan mudah sampai. Setibanya di rumah, setelah pintu dibuka langsung kopor suami isteri diturunkan dari taksi ditenteng sendiri masing-masing, dibawa masuk rumah. Tuan rumah mempersilahkan duduk diruang tamu, sementara kopor dan tas tenteng masing-masing diletakkan dekat kursi tamu dimana mereka duduk. Sudah kurang lebih 15 menit ngobrol dan oleh-oleh sudah diserahkan, namun tidak ada sapaan si tuan rumah untuk membawa kopor masuk kamar. Kurang lebih duapuluh menit kemudian akhirnya tuan rumah mengatakan bahwa pagi ini mereka masuk kantor dan mempersilahkan teman saya tadi untuk menginap di hotel dan mereka mereferensikan beberapa hotel sebagai pilihan. Kedua suami isteri dirantau orang ini tinggal beradu pandang sejenak. Benar-benar tidak sesuai dengan bayangan mereka. Dari tanah air ia sudah membayangkan nanti di negeri Belanda tidak akan menemukan kesulitan, sebab ada kerabat. Bukan saja kerabat yang sudah lama tidak ketemu tapi dua tahun barusan ia pernah ke NTB dan nginap di rumah mereka, mereka layani dengan baik, mereka antar kemana pergi , mereka jemput dari bandara, mereka antar sampai pulang, mereka bekali lagi “buah tangan” waktu pulang. Tentu nanti kalau mereka melakukan kunjungan balasan, setidaknya mendapat perlakuan yang sama. Kata pepatah orang Indonesia “Asalnya padi menjadi beras. Asal menanam budi pasti berbalas”.
Jadi ingat cerita kami orang Dayak Kalimantan, dulu waktu transportasi belum lancar seperti sekarang, dari “tanah ulu” (kampung-kampung dihulu sungai) untuk mencapai ibu kota Kabupaten milir mengikuti arus sungai, semalam sampai dua malam perjalanan dengan menggunakan sampan lumayan besar yang diberi beratap. Di dalam sampan dibawalah segala hasil bumi antara lain “Terong masam”, “Mentimun mansam”, “Labu Perenggi”, kadang “Gaharu” dan “Madu”. Seorang setengah baya milir dari “tanah ulu” dengan muatan tersebut di atas bernama “CALI’”.
Sampai di ibu kota kabupaten sebelum membongkar muatan di pasar untuk diperdagangkan, si CALI’ jalan jalan ke toko-toko yang berderet di sepanjang sungai di ibu kota kabupaten. Toko-toko banyak milik orang China yang buka dagangan macam-macam, dari mulai barang kelontong, sampai sembako dan juga ada warung kopi yang menjual “Roti kaye” dan “Blodar” serta menyediakan “kopi pancong”. Setiap dia mampir ke toko China untuk sekedar liat-liat, selalu di sapa china yang punya toko: “Ape Cali’” maksudnya dalam bahasa Indonesia “apa yang anda cari”  karena orang china dulu menuturkan “Cari” tidak bisa mengucapkan “R” jadi keluarnya Cari menjadi “Cali’”. Sedang “Cali’ “ adalah nama diri tokoh dalam kisah kita ini yang membawa hasil bumi dari “tanah ulu”.
Pikir si “Cali’ “ aneh semua china di kota kabupaten ini kenal dengan dia maka setiap disapa dengan “Ape Cali’ “, diapun menyahut “Tang konal jaam Tokai”. Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesianya “Oh bos mengenal saya rupanya”.  Suatu kebiasaan yang tidak tertulis di wilayah kami orang Dayak jika saling kenal, urusan niaga tidak lagi menjadi penting. Suasana kekeluargaan harus dibina dengan saling beri memberi. Langsung dia pulang ke perahunya diambilnya beberapa buah “Terong masam”, beberapa buah “Mentimun mansam”, “Labu Perenggi”,  diantarnya ke toko China yang diduganya kenal dengan dia tersebut. Kecuali barang yang nilainya tinggi seperti “Gaharu dan Madu”. Saking banyaknya toko yang “kenal dengannya” dalam tanda kutip, sampai seluruh hasil bumi yang dibawanya itu habis untuk diberikan cuma-cuma di toko-toko. Tentu senang si empunya toko menerima pemberian tersebut, kebetulan jenis buah ini, buah musiman yang di ibu kota kabupaten tidak ditanam orang lantaran hasil ikutan tanaman padi di lahan tadah hujan yang di kota tidak ada.
Setelah penjualan “Gaharu” dan “madu” selesai, pak Cali’ menyiapkan belanja untuk dibawa pulang ke tanah ulu. Setiap toko yang pernah diantarinya hasil bumi ia sempatkan mampir dan berpamit akan mudik ke tanah hulu disebut harinya. Si toke yang punya toko menanggapi pamit si Cali’ dengan biasa-biasa saja tanpa memberikan sesuatu sebagai balasan. Padahal sampai babis “Mentimun Mansam, Terong masam dan Labu perenggi”  satu perahu tanpa dijual, ternyata tidak mendapatkan pembalasan dari toke china yang punya toko. Pulanglah si Cali’ dengan penuh keheranan. Kerena kelazimannya bila memberikan sesuatu ketika datang,  waktu pulang sebaliknya yang diberi punya pengertian untuk membekali pulang barang sesuatu sebagai balasan. Nyangoni kata orang jawa, biasanya balasannyapun berwujut barang juga.
Mungkin pembaca mengalami yang seperti dialami teman saya dari NTB dan pak Cali’ zaman doeloe di bawah tahun enam puluhan. Zaman itu hubungan antar manusia belum teramat materialistis. Kini ketika hubungan manusia sudah semakin terjalin atas kepentingan. Namun mungkin anda masih termasuk orang yang tetap mengedepankan pelayanan teman berkunjung ke kota anda, nginap dirumah anda, anda layani dengan se baik-baiknya, namun ketika anda berkunjung ke kota mereka anda dilayani dengan “hambar”.
Guna menghindari kekecewaan anda bila menemukan hal seperti itu, maka ketika meladeni tamu yang berkunjung bahkan sampai menginap dirumah anda niatkanlah sebagai ibadah karena menghormati tamu adalah sebagian dari tanda orang beriman. Patut disimak hadits berikut ini:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يومن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. H.R Bukhari no. 6018, Muslim no. 47
Niatkan bahwa memberikan layanan kepada tamu untuk mencari keredhaan Allah semata, tidak mengharapkan balasan dari tamu yang kita layani itu. Karena jika kebaikan kita itu landasannya ingin pembalasan dari manusia, percayalah bahwa berujung kita akan kecewa. Tapi kalau dengan keyakinan pembalasan datang dari Allah, kalau tidak di dunia pasti nanti di akhirat, maka kita tidak akan pernah kecewa bila kebetulan tamu yang pernah kita layani dalam kondisi yang dapat melayani kita, tetapi dia tidak membalas kebaikan kita. Syaratnya jangan pula kita mengumpat dan menyebut-nyebut kebaikan yang pernah kita lakukan, sementara ketika kita berkunjung dia tidak membalas. Terimalah keadaan itu dan berdo’alah agar Allah tidak menjadikan didalam hati kita perasaan kecewa atas balasan yang tidak baik dari tamu yang kita pernah layani dengan baik. Semoga Allah memberikan pembalasan yang berlipat ganda. Amien.



Friday, 6 July 2012

PENCURI, PEJABAT DAN KORUPTOR VS ALQUR’AN

Entah dari mana asal usulnya, sejak kapan dimulainya seseorang (beragama Islam) bila diangkat menjadi pejabat disumpah dengan menjunjung Al-Qur’an. Termasuk Presiden Soekarno ketika diangkat menjadi presiden pertama R.I. disumpah dengan di atas kepala beliau seseorang pemuka agama Islam memegang Al-qur’an. Itu barangkali sebabnya seluruh pejabat negeri ini bila diangkat jadi pejabat disumpah, dikepalanya dinaungkan Al-Qur’an. Mungkin saking banyaknya pejabat dinegeri ini yang disumpah untuk menyandang jabatannya, sehingga Al-Qur’an begitu banyak dicetak dan itu rupanya jadi proyek buat kalangan pejabat terkait sebagai lahan korupsi penggandaan Al-Qur’an.
Telah kucari beberapa referensi, belum kuperoleh hadist apalagi ayat Al-Qur’an bahwa bersumpah dalam agama Islam dengan menjunjung Al-Qur’an. Sejauh ini sepanjang yang kuketahui bahwa agama Islam tidak mengajarkan untuk bersumpah menyandang jabatan dengan menjunjung atau di atas kepala dinaungi Al-Qur’an. Mungkin lantaran belum mendalamnya aku masuk di samudera ilmu agama Islam yang begitu luas.
Ada kemungkinan penggagas sumpah jabatan dikepala dinaungi Al-Qur’an mengambil tamsil, bahwa dengan menjunjung Al-Qur’an, si tersumpah akan menepati redaksi sumpahnya, agar si tersumpah mematuhi hukum-hukum yang diatur di dalam Al-Qur’an. Si tersumpah agar tidak berani melanggar sumpah sebab akan mendapat laknat Allah pemilik Al-Qur’an.
Saking tak berani kalau-kalau kewalat Al-Qur’an kerena yakin bahwa bagaimanapun di Republik ini seseorang hampir pasti tidak akan sanggup untuk memenuhi sumpah, pasti akan dilanggar redaksi sumpah itu. Pernah terjadi seorang pejabat yang cukup kreatif,  berihtiar menurut pemahamannya. Beberapa hari sebelum sumpah jabatan diupacarakan, dia mencari tau dan menghubungi petugas yang akan bertugas memegang Al-Qur’an di atas kepalanya nanti pada saat disumpah. Usahanya berhasil, dia ketahui pertugas tersebut, selanjutnya mengirim utusan ke petugas dengan diberikan imbalan.  Diminta kepada petugas untuk membungkus Al-Qur’an yang akan digunakan untuk upacara sumpah dengan bungkus “aluminium foil”. Si tersumpah dengan tenang mengucapkan sumpahnya, sebab tidak hawatir lagi kewalat, sebab bahasa sumpahnya diyakininya tidak menyentuh Al-Qur’an yang sudah terisolasi dengan bungkus “aluminium foil”.
Memang di negeri ini begitu hormatnya kita orang muslim terhadap “kitab Al-Qur’an”, tingkat penghomatan kita terhadap “kitab Al-Qur’an” melebihi saudara kita sesama muslim di tanah suci. Saya pernah menyaksikan sendiri di tempat percetakan kitab Al-Qur’an di tanah suci. Ketika seseorang memesan sebuah Al-Qur’an petugas yang memakai gamis itu menyerahkan ‘Kitab Al-Qur’an dengan meluncurkannya di atas etalase kaca tempat mamajang Al-Qur’an di lokasi pencetakan tersbut. Bangsa kita tidak terbiasa memperlakukan Al-Qur’an seperti itu, sedari kecil kita bila selesai bejar mengaji, menyimpan kitab Al-Qur’an dengan menjunjungnya, membawanya dengan penuh hormat dan sebelum diletakkan ditempat penyimpanan, kitab Al-Quran dicium.
Dulu dikampungku masih banyak pemandangan di rumah-rumah orang, tergantung kitab Al-Qur’an di atas kusen pintu utama. Belakangan ini sudah tidak nampak lagi, berkat da’wah para Da’i. Masyarakat awam waktu itu memperlakukan “kitab Al-Qur’an”, sebagai penangkal bahaya, penolak bala, menjauhkan kediaman dari pengaruh roh jahat dan mahluk halus. Ketika itu belum banyak penyuluhan para ustadz seperti sekarang ini, bahwa yang penting pada Al-Qur’an bukan bukunya, tetapi petunjuk yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu Al-Qur’an saharusnya dibaca, dikaji maknanya, direalisasikan dalam kehidupan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an jangan diperlakukan layaknya seperti azimat di kepercayaan sebelum datang agama tauhid.
Pernah dikisahkan guruku mengaji, tentang bagaimana masyarakat dulu menghormati Al-Qur’an. Di sautu malam yang pekat di sebuah dusun, tengah beroperasi dua orang anak manusia yang kerjanya menajadi maling. Seorang diantaranya bertugas menyunggi*) kawannya untuk naik ke jendela orang yang rumahnya akan disatroni. Rumah didusun itu rumah panggung, untuk sampai ke jendela, seorang tidak dapat langsung, harus pakai tangga atau di sunggi*)  oleh orang lain. Singkat cerita maling tersunggi* berhasil menemukan jendela dan karena memang profesional langsung dapat membuka grendel daun jendela. Dengan cermat diapun masuk, ditemukannya persis didepan jendela sebuah rak dan langsung dirabanya dengan hati-hati agar tidak menerbitkan bunyi. Betapa kagetnya dia bahwa tangannya langsung terpegang ke sebuah kitab dan ternyata di keremangan lampu templok  yang nempel disisi kusen jendela diketahuinya bahwa kitab tersebut adalah “kitab Al-Qur’an. Seperti ada kekuatan dari dalam yang menciutkan hatinya, membuatnya gemetar dan langsung memberi kode temannya untuk siap memasang badan untuk menyungginya* buat turun dari rumah itu. Temannya ditanahpun langsung siap dan akhirnya ia turun. “Mengapa turun cepat, sudah berhasil”, desis temannya. “Oke kita pergi saja dari sini cepat nanti kuceritakan”, jawab maling bertugas sebagai ujung tombak tersebut. Sesampai di tempat aman diceritakannya bahwa ia masuk rumah tersebut terpegang ke “kitab Al-Qur’an” kalau kita teruskan akan berbahaya gumamnya. Temannyapun diam tidak berkomentar lagi.
Dari kisah guru ngajiku ini, aku teringat dengan peristiwa belakangan ini, di mana orang sekarang lebih berani dari orang zamanku masih kecil belum berkhitan. Karena istiadat dikampungku, kalau belum hatam mengaji kami tidak dikhitan orang tua, mungkin untuk memotivasi. Jadi usia waktu itu masih belum tamat SR (Sekolah Rakyat). Orang di zaman itu takut dengan Al-Qur’an, jangankan orang biasa, maling saja takut dengan Al-Qur’an. Kini orang berdasi, berpendidikan tinggi, mengerti agama dan konon di Kementerian agama serta di parlemen yang membidangi agama, benar-benar tidak takut lagi dengan Al-Qur’an. Berani korupsi dengan media/sarana Al-Qur’an. Masih kita hargai maling yang takut Al-Qur’an ketimbang anggota parlemen dan uknum kementeraian agama yang sudah tidak takut lagi dengan Al-Qur’an. Masih kita hargakan pejabat yang minta isolasikan Al-Quran untuk sumpah, tandanya ia masih takut dengan Al-Qur’an daripada koruptor Al-Qur’an. Bagaimana hukuman Allah untuk mereka yang terlibat korupsi Al-Qur’an Allah lah yang lebih mengetahuinya.
*keterangan: Sunggi (seseorang menyediakan bahunya untuk tempat berpijak seseorang yang lain guna mencapai ketinggian seperti adegan dalam panjat pinang di acara memeriahkan hari proklamasi)