Wednesday, 29 August 2012

MENJADI TAMU IMAM MASJID NABAWI MADINAH DI RAUDHAH


Secara bahasa “raudhah” berarti kebun atau taman. Sedangkan yang dimaksud  Raudhah di sini adalah suatu tempat yang berada di antara mimbar dan makam nabi Muhammad S.A.W. Tempat ini selalu digunakan oleh Nabi Muhammad S.A.W. untuk melakukan shalat sampai akhir hayat beliau. Tempat shalat di Masjid Nabawi Madinah ini, ketika shalat berjamaah diperuntukkan bagi barisan jamaah laki-laki. Luas lokasi ini kurang lebih 144 meter persegi. Jamaah wanita juga diberi kesempatan ke lokasi tersebut sesudah Subuh sampai dhuha dan adakalanya sekarang terakhir ini sesudah Isya sampai sekitar sebelum Subuh.  
Karena tempat ini sangat istimewa, maka di sunnahkan untuk selalu beribadah dan shalat di Raudhah Nabi SAW ini. Jamaah berziarah ke Madinah, seyogyanya selalu melaksanakan shalat lima waktu di masjid Nabi SAW dan berniat i’tiqaf setiap dia memasuki masjid Nabi S.A.W.
Juga dianjurkan untuk mendatangi Raudhah guna memperbanyak shalat dan do’a di sana karena ada hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda, “Tempat yang diantara kuburku dan mimbarku ini adalah Raudhah (kebun) diantara beberapa kebun surga”. Seseorang juga dianjurkan untuk berdo’a di depan mimbar Nabi SAW. Sesuai dengan sabda Nabi SAW, “Mimbarku ini berada di atas telagaku.” (al-Hajj wa al-‘Umrah Fiqhuh wa Asraruh, 237)
Dengan redaksi yang berbeda, al-Imam ar-Rabbani Yahya bin Syarf al-Nawawi dalam kitabnya Kitab al-Idhah fi Manasik al-Hajj menjelaskan, dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW bersabda, “Mimbarku ini berada di atas telagaku”. Imam al-Khathabi berkata, “Maksud hadist di atas adalah bahwa ‘orang yang selalu istiqamah melaksanakan ibadah di depan mimbarku, maka kelak di hari kiamat, ia akan minum air dari telagaku‘ ”. (al-Idhah fi Manasik al-Hajj wal ‘Umrah, 456)
Jamaah penziarah ke Madinah dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di Raudhah Nabi SAW. Karena tempat itu memiliki keutamaan yang sangat besar. Namun jangan sampai karena memperebutkan keutamaan ini, kita sampai mengganggu atau menghilangkan hak-hak atau bahkan menyakiti orang lain.
Di dalam kesempatan umrah Ramadhan 1433 H, pada hari Selasa 24 Juli 2012 saya dengan 4 orang jamaah dari group kami mendapat kesempatan istimewa untuk mendatangi Raudhah. Pimpinan rombongan kami yaitu H. Ali Rusdy rupanya punya hubungan baik dengan salah seorang imam masjid Nabawi  “Syech Obaed Nashir Sindi”.
Berangkat dari hubungan baik itulah agaknya prosedur kami masuk ke Raudhah sesudah Ashar hari selasa 24 Juli 2012 itu diatur. Pertama kami bertemu dengan dua orang pembesar keamanan masjid Nabawi dibahunya melekat pangkat bintang dua. Seorang diantaranya memberitahukan agar kami menemuinya sesudah shalat Ashar di pintu keluar Babussalam. Rencananya dari pintu itu rombongan kami akan dibawa melawan arus jamaah yang menjiarahi makam Nabi dan dua sabahatnya (Umar dan Abu Bakar). Tetapi karena petang itu arus jamaah begitu padatnya, berjejal dan berdesakan. Jauh lebih padat dibandingkan jemaah haji sejak tahun pertama saya mengunjungi Madinah 1991 dan jauh lebih padat dari jamaah umrah diluar Ramadhan. Maka akhirnya Jenderal Yusuf mengubah strategi; meminta kami ikut arus masuk dari pintu masuk Babussalam, yaitu pintu masuk menjiarahi makan Rasulullah. Cukup padat dan berdesakan jamaah muslim sejagat menapak dalam antrian. Kira-kira empat meteran dari Mihrab Rasulullah, beberapa orang berpangkat sersan merentang tali berupa pita berwarna kuning dan membuat alur menuju mihrab  Rasulullah untuk menjaring kami berlima. Yang mengagumkan saya, itu prajurit belum dikenalkan kepada kami tapi dia dapat mengenali kami berlima dan memasukkan dalam alur yang dibatasi tali/pita kuning yang direntang itu untuk memisahkan kami dengan berjelalnya jamaah sejagad itu. Alhasil kamipun diterima oleh Imam Masjid Nawabi di depan Mihrab Nabi dan didudukkan di tempat yang diperebutkan orang itu, dengan posisi bersandar ke Mihrab Nabi, sebab waktu itu sesudah shalat Ashar menunggu berbuka yang waktunya kurang lebih masih 3 jam lagi, sedangkan setelah Ashar tidak ada shalat. Posisi duduk kami adalah: Paling kanan Prof. Dr. Musjby, disebelahnya bersentuh pundak dengan imam masjid Nabawi “Syech Obaed Nashir Sindi”, lekukan Mihrab Nabi. Membatasi  H. Ali Rusdy dengan Imam Masjid. H. Ali Rusdy berdampingan bersentuh pundak dengan saya, M. Syarif Arbi. Sedangkan rombongan kami yang lain H.A. Gani duduk menghadap ke posisi kami, dibelakangnya duduk H.Ibrahim. Kurang lebih satu jam sebelum berbuka sudah digelar plastik panjang untuk menata makanan berbuka puasa. Bukan main lezatnya aneka makanan yang disiapkan di Raudhah itu, segala macam susu kemasan, segala macam kurma dan madu, roti dan minuman khas mereka. Begitu iqamah dikumandangkan pertanda akan dimulai shalat Magrib, plastik tempat digelar makanan langsung digulung, berikut seluruh makanan yang tersisa dan langsung menjadi sampah. Saya sempat mengantongi segelas madu kemasan yang masih utuh untuk oleh-oleh buat isteri.
Masa selama kurang lebih 3 jam tersebut kami manfaatkan untuk berdo’a, karena tempat tersebut adalah tempat yang paling diusahakan setiap jamaah untuk didatangi guna berdo’a. Banyak juga saya lihat dari bahasa tubuh mereka, jamaah dari negeri lain, misalnya Mesir dan timur tengah lainnya yang memprotes lamanya kami duduk di lokasi itu, tapi semuanya kelihatannya di jawab oleh imam masjid, dalam bahasa arab tentunya yang saya tafsirkan dari gerak tangan dan tubuh. Wajah Indonesia saya rupanya tetap nampak, buktinya ada beberapa orang jamaah Indonesia yang menyapa saya dari kejauhan sekitar lokasi, menyebutkan asal daerahnya, dengan maksud barangkali ingin juga dibawa ke lokasi itu, tapi apalah daya,  saya sendiri juga diatur oleh tuan rumah dan duduk dengan mengecilkan lipatan kaki ditempat yang begitu sempit.  Sesekali terjadi dialog antara kami dengan imam masjid yang berperawakan besar tinggi itu. Dalam dialog  kepada yang bersangkutan pimpinan rombongan kami memperkenalkan masing-masing anggota rombongan dan peranannya di tanah air. Saya diperkenalkan H. Ali Rusdy membina sebuah pesantren di pedesaan Kalimantan Barat yang baru didirikan dua tahun lebih. Sehubungan dengan itu imam masjid Nabawi menjanjikan akan mamberikan bantuan yang nanti akan direalisasikan dalam waktu dekat. Untuk perkenalan itu saya sempat memberikan kartu nama “STIE DR. MOECHTAR TALIB”, kebetulan ada di dompet saya,  beliau balas dengan menuliskan namanya dalam aksara arab dan memberikan nomor teleponnya dan membubuhkan tanda tangan di kertas yang kebetulan terbawa dikantong saya. Bukti otentik itu saya simpan sekarang. Sepulang ke tanah air saya sudah sempat berkomunikasi melalui nomor HP yang beliau berikan, saya memberitahukan sudah sampai di Indonesia dan terimkasih atas kesempatan yang beliau berikan mengunjungi Raudhah ketika di masjid Nabawi. Imam masjid Nabawi tersebut dapat menjawab berbahasa Indonesia sekedarnya.
Keberangkatan umrah kami kali ini prosedurnya lain dari umrah-umrah kami sebelumnya. Biasanya kami umrah melalui jasa travel atau biro perjalanan, kepada biro perjalanan menyetor sejumlah uang tertentu, langsung tinggal tunggu tanggal keberangkatan. Dalam paket perjalanan umrah sudah terjadwal hari demi hari, di mana akan menginap, tempat-tempat apa saja yang akan dikunjungi. Umrah kami kali ini tidak menggunakan travel, katakan perjalanan group untuk melakukan umrah. Sejak visa, tiket, penginapan diusahakan pimpinan kelompok. Itulah sebabnya semula tidak direncanakan akan bermalam hari pertama di Jeddah, kenyataannya kami bemalam di rumah seorang berkebangsaan Arab Saudi di komplek para pejabat kerajaan. Atas tawaran  penghuni rumah, kami diminta menginap semalam di Jeddah, keesokan harinya kami diantar tuan rumah ke terminal bis untuk mencari kendaraan ke Madinah. Bukan main mengagumkan pelayanan tuan rumah kepada kami sebagai tamunya, di sebuah rumah mewah di komplek elite tersebut. Makanan dan hidangan tidak jeda-jedanya disuguhkan sejak kami masuk rumah sekitar pukul delapan malam sampai waktu sahur. Rombongan kami lima orang, tiga lelaki dan 2 perempuan yaitu isteri saya dan seorang lagi tante pimpinan group. Ke Madinah kami diantar seorang polisi berpakaian preman dengan mobil sehingga diperjalanan dari Jeddah ke Madinah tanpa harus diperiksa passport pada setiap chek point yang dilalui. Sampai di Madinah kami bergabung dengan rombongan lain yang lebih dahulu di Madinah sebanyak 10 orang, diantaranya Bpk. H.A. Gani dan Bpk. H. Ibrahim group bersama menjadi tamu imam masjid Nabawi di Raudhah.
Di Madinah rombongan kami hanya menginap 3 hari dan menghabiskan masa umrah kami selama sebulan lebih itu di Masjidil Haram Makkah sampai hari rabu tanggal 22 Agustus 2012. Pengaturan tempat penginapan di Makkah baru dinegosiasikan setelah sampai di Saudi. Tempat menginap di Makkah di Shiab Amir, posisinya sebelah timur Masjidil Haram,  750 langkah ke pintu Marwah, lantai II Masjidil Haram. Pintu ini jarak paling dekat dengan pemondokan, bila siang; sinar matahari tidak ada pelindung dengan suhu sektar 48 derajat C. Melalui pintu ini kami mengikuti arus sya’i menuju tangga turun ke lantai bawah pintu nomor 39. Tempat sya’i lantai bawah tersedia AC, lumayan udaranya agak nyaman, walau menjelang akhir Ramadhan kedinginan AC sudah tidak mengcover, karena semakin banyaknya jamaah yang i’tiqaf, mereka mengkavling setiap jengkal lantai.  Pertimbangan saya dan isteri setiap sholat di lokasi ini, karena hanya berjalan beberapa langkah kemudian belok ke kanan sedikit mendaki langsung dapat kelihatan pintu Ka’bah.
Perjalanan umrah tanpa travel seperti ini, tidak disarankan bagi jamaah yang menginginkan ketentraman dan kenyamanan. Seperti saya kemukakan di atas bahwa bila umrah melalui biro perjalanan resmi, semuanya sudah terjadwal walau realisasinya mungkin ada juga yang sedikit melenceng, namun sudah hampir dapat dipastikan mendekati rencana. Demikian juga pembiayaan sudah terkalkulasi hampir akurat. Sedangkan perjalanan seperti ini, serba masih perkiraan. Sampai sampai konfirmasi tiket untuk pulang saja diminta ngurus sendiri. Ngurus barang mulai dari penginapan sampai chek in, kita dilibatkan. Lain halnya bila menggunakan travel, barang-barang tinggal diletakkan di depan pintu kamar, ketemu lagi barang kita di bandara tanah air, pengurusan di bandara juga ditangani oleh pengurus dari tavel, jamaah tinggal duduk manis untuk siap-siap masuk ke ruang tunggu bandara.
Bagaimanapun setiap perjalanan umrah tetap saja ada pengalaman yang berbeda-beda, dan setiap umrah ada saja cobaannya, saya sudah beberapa kali umrah, pernah di awal puasa, pernah diakhir puasa berlebaran di Makkah. Kali ini sebulan penuh dan juga berlebaran di Makkah, pernah beberapa kali diluar ramadhan, saya merasa sekalipun belum pernah lulus dalam ujian dan cobaan itu. Ingin rasanya umrah tidak ada kekecewaan, tidak ada sesuatu yang membangkitkan amarah. Tetapi rupanya tetap saja belum berhasil. Semoga Allah S.W.T. mengampuni saya dan menerima umrah ini, menyaring hal-hal yang tidak baik dan mencukupkan bila ada kekurangannya.

Saturday, 21 July 2012

TRIK VISA DAN MUHRIM


Visa adalah dokumen yang dikeluarkan oleh suatu negara memberikan seseorang izin untuk masuk ke negara tersebut dalam suatu periode waktu tertentu. Ada memang negara tertentu atas kesepakatan bilateral atau regional membebaskan warga negara mereka masuk ke negaranya yang terikat kesepakatan tanpa visa.
Demikian juga orang Indonesia yang akan masuk ke negara Arab Saudi dalam rangka melaksanakan haji atau umrah, harus mendapatkan visa. Pengurusan visa tersebut di kedutaan Arab Saudi yang ada di Indonesia.
Syarat untuk mendapatkan visa khususnya UMRAH ke Arab Saudi antara lain:
1.    Pemohon visa memiliki paspor yang masih berlaku dan masa berlaku sekurangnya lebih lama dari berapa lama yang bersangkutan  akan tinggal di Arab Saudi dalam rangka Umrah.
2.    Pemohon visa harus sudah mempunyai hotel atau pemondokan yang akan dituju di kota tujuan di Arab Saudi, Madinah dan Makkah.
3.    Pemohon visa harus sudah memiliki tiket pesawat terbang untuk keberangkatan dan tiket pesawat terbang untuk pulang.
Konon menurut salah satu pihak yang biasa ngurus Visa terkait umrah, persoalannya bila tiket PP sudah dikantongi benaran, jika visa tidak keluar maka akan berakibat tiket hangus atau setidaknya dibatalkan dengan pembebanan biaya. Begitu juga dengan pemondokan di Saudi, bila batal maka perskot booking akan hilang. Menyikapi hal ini sepertinya sudah ada kesepahaman “akal-akalan” antara usaha ngurus perjalanan umrah dengan maskapai penerbangan dan hotel. trik tersebut adalah dengan menerbitkan “Tiket bayangan”  dan “tanda booking hotel ecek-ecek” . kalau ternyata gagal mendapatkan visa pihak pengatur perjalanan hanya mengeluarkan biaya sedikit ke petugas maskapai penerbangan. Sementara dalam hal pemondokan batal, juga kepada petugas hotel hanya keluar sedikit uang terimakasih.
Jika visa benar-benar keluar dengan :tiket bayangan dan booking hotel ecek-ecek itu, maka si pelaksana perjalanan umrah segera mencari penerbangan lain yang membawa rombongan mereka. Itulah sebabnya mungkin diantara pembaca yang ingin melaksanakan umrah, semula direncanakan menggunakan penerbangan “A”, kemudian terlaksana dengan menggunakan penerbangan “B”. Kalau hotel biasanya sedikit agak lebih dapat ditepati, karena begitu visa keluar segera diinformasikan ke hotel, walau tidak jarang terjadi juga berubah. Pernah saudara saya berangkat umrah dengan janji akan diinapkan di hotel bintang 5, ternyata terealisasi di kamar hotel dengan tempat tidur susun 5 buah masing bersusun 2.
Trik untuk menjalankan umrah ini rupanya dilakukan orang juga bab MUHRIM. Pelaksana perjalan umrah, demi membantu calon rombongannya wanita yang belum bersuami tetapi dalam usia di bawah 45 tahun. Dipasangkan muhrim dengan rombongan lain yang berangkat membawa isteri atau kebetulan jamaah lelaki yang berangkat tidak membawa isteri. Di dalam paspor tercantumlah siapa yang menjadi muhrim dan siapa yang dimuhrimkannya.
Tahun 2007 ketika saya berangkat dengan rombongan 2 adik saya lelaki,  isteri saya dan ibu mertua. Adik saya lelaki kebagian memuhrimkan masing-masing satu orang, sedangkan saya juga kebagian seorang. Pada detik-detik akan masuk keruang tunggu pemberangkatan, salah saorang anggota rombongan, dianya wanita terpaksa membatalkan keberangkatan karena mendapat kabar bahwa orang tuanya sakit berat mendadak, atas pertimbangan keluarga keberangkatan dibatalkan.
Rombongan kami berangkat dengan kurang seorang wanita yang dimuhrimkan salah seorang adik saya. Di pesawat kami duduk berjauhan, sehingga tidak dapat mewanti wanti adik saya untuk mengisi pass masuk Saudi yang dibagikan di dalam pesawat. Oleh adik saya rupanya formulir itu disepelekannya bahkan tidak mengetahui lagi entah kemana. Ketika sampai di imigrasi Saudi, semua anggota rombongan mengunjukkan paspor dan pass masuk yang sudah terisi, sedangkan adik saya passnya saja tidak ada. Oleh karena itu ia sampai empat kali keluar masuk antrian tetap tidak dapat masuk. Pemimpin rombongan mengetahui hal itu segera mancarikan formulir pass masuk dan membantu mengisikan. Setelah antri yang kelima kalinya dengan menyerahkan pass masuk tersebut, petugas imigrasi langsung menyuruh adik saya ini segera masuk tanpa banyak periksa termasuklah tidak memeriksa siapa yang dimuhrimkannya.
Persoalan timbul ketika akan pulang ke tanah air, seluruh rombongan sudah selesai chek in, sementara adik saya ditahan dan akhirnya diserahkan ke keamanan karena seorang wanita dalam paspornya tidak ikut pulang, dia dituduh meninggalkan seorang wanita di Arab Saudi. Begitu lama persoalan ini mengurusnya, untung diantara rombongan kami ada Anggota DPR RI yang punya akses ke kedutaan Indonesia, entah bagaimana prosedurnya/caranya, kemudian kedutaan mengirimkan petugas ke bandara menanda tangani semacam surat, kami tidak mengerti akhirnya adik saya dan kami dalam detik-detik terakhir dapat masuk ke ruang tunggu. Persoalan belum berhenti sampai disitu, ketika akan masuk ke pintu keluar ruang tunggu menuju ke bis yang akan mengantar ke pesawat, kembali adik saya tertahan, setelah semua rombongan selesai barulah akhirnya adik saya ini muncul dengan bis lain. Petugas pintu keluar itu juga mempertanyakan ke kantor depan mengenai kelainan cacatan dari paspor adik saya ini. Alhamdulillah kami sampai juga ke tanah air dengan mendebarkan, adik saya nyaris ditahan di penjara Arab Saudi.
Ini model akal-akalan yang kurang berakal yang membahayakan. Tapi jika tidak dengan akal-akalan persoalannya menjadi sulit. Mengenai pengurusan Visa harus juga dengan trik akal-akalan. Muhrim juga dengan akal-akalan. Ibadah saja di dunia ini harus dengan akal-akalan. Jadi tidaklah terlalu heran kalau soal selain ibadah ditempuh orang dengan jalan akal-akalan.
Oh dunia mengapa penuh dengan akal-akalan, apakah akal-akalan ini sudah termasuk jurus korupsi, entahlah .................
Begitulah rupanya dunia ini. Kalau semuanya baik, semuanya tidak ada korupsi, semua tertib, semuanya enak, semuanya kenikmatan, tidak ada akal-akalan mungkin itulah surga namanya.  Kalau semuanya sulit, semua susah semuanya tersiksa itupun bukan pula dunia mungkin itu kehidupan neraka.
Jadi kehidupan dunia itu ada yang mudah, gampang, nikmat, enak, lancar tetapi bercampur juga ketidak nyamanan, ada akal-akalan, ada yang korupsi ada kemacetan dan serbaneka ketidak teraturan.

Friday, 20 July 2012

KUNJUNGAN BALASAN

Hampir setiap orang, sudah berkeluarga maupun masih belum menikah, sering bepergian atau traveling. Memang jendela hidup ini akan terbuka bila seseorang sekurangnya dapat melakukan 3 hal yaitu “Reading”, “Meeting” dan “Traveling”. Reading menambah wawasan, sehingga banyak hal dapat diketahui, termasuk pengetahuan dan pengalaman orang lain dapat diserap melalui reading. Wawasan dan pengetahuan adalah senjata utama dalam menjalani kehidupan. Meeting berkomunikasinya seseorang dengan orang lain, dengan banyak orang, dengan meeting dapat tukar menukar informasi, semula sesuatu tidak diketahui menjadi diketahui dan semuanya bermuara untuk melancarkan aktivitas hidup. Traveling menambah pengalaman, dapat melihat segala macam peluang dari tempat yang dikunjungi.
Keluarga negeri Belanda suami isteri bertamu ke kampung teman saya dibilangan Nusatenggara Barat biasa dikenal sebutan dengan NTB. Tamu dari negeri Belanda tersebut ada kaitan kekerabatan jauh, dengan teman saya tadi dari pihak yang perempuan. Keramah tamahan Indonesia di mana saja di nusantara ini, bila kedatangan tamu, dilayani demikian baik. Kamar di rumah disediakan dengan rapi, sejak dari tempat tidur sampai perlengkapannya walau seadanya diusahakan serapi mungkin. Begitu sampai waktu sarapan, makan siang dan makan malam, sahibul bait berusaha semampunya menyediakan makanan yang terbaik, perabot makan yang tebaik, termasuk serbet makan terbaru. Walaupun nanti setelah tamu pulang gombal datang, serbet barupun hilang. Seminggu suami isteri itu bertamu di NTB, hampir semua lokasi wisata dapat dikunjungi dengan panduan pihak keluarga ketamuan. Seperti ketika tiba, waktu pulang juga tuan rumah memfasilitasi mengantar sampai bandara.
Waktupun berjalan, sampai ketika dua tahun kemudian si keluarga dari NTB ini ada keperluan ke negeri Belanda dengan rencana kurang lebih seminggu. Tentu saja teman ini karena sudah pernah merasa melayani tamu negeri Belanda ketika berkunjung ke daerahnya, rasa percaya diri agak besar. Dibayangkan nanti di negeri Belanda akan dijemput di bandara sebagaimana ia pernah lakukan. Akan ditampung di kediaman kerabat tadi di rumahnya sebagaimana ia pernah laksanakan. Soal makanpun demikian dibayangkan sekurangnya sarapan pagi, mungkin disediakan tuan rumah nanti. Singkatnya teman inipun dengan isteri berkunjung ke negeri Belanda. Sebelum berangkat sudah komunikasi melalui telepon rencana keberangakatan kunjungan balasan itu seminggu sebelumnya. Pihak di negeri kincir angin itupun menerima pesan melalui seluler dengan baik. Pokoknya welcome deh bahasa orang kini.
Pesawat tiba di bandara negeri Belanda dini hari. Rasa sungkan Asia setidaknya orang Indonesia, tidak langsung memberi tahukan kedatangan mereka, dikhawatirkan keluarga yang akan menerima kunjungan balasan sedang lelap tertidur. Sekitar pukul 5 pagi waktu setempat barulah ditelepon perihal mereka sudah berada di bandara kedatangan. Sedikit agak kaget teman ini menerima jawaban dari kerabat yang pernah bertamu di NTB itu. Si nyonya bule menyahut melalui telepon dengan memberikan arahan alamat kekediaman mereka, artinya mereka tidak akan menjemput ke bandara seperti yang pernah dibuat teman saya di bandara NTB. Berpikir positif teman saya ini memberitahukan isterinya bahwa si kerabat mereka itu rupanya sedang sibuk, sehinga tidak dapat datang ke bandara menjemput. Segera diputuskan naik taksi menuju kediaman kerabat mereka itu. Kangen juga rasanya sudah dua tahunan tidak ketemu sejak kunjungan mereka dua tahun lalu ke NTB. Tak lupa oleh-oleh dari tanah air khas Mataram ikut dibawa yaitu “Telor Asin”, beberapa butir “mutiara” dan tak lupa “ayam taliwang” walau lama dalam perjalanan  ketika akan dimakan dipanaskan dulu pasti masih enak.
Taksipun meluncur kekediaman kerabat Belanda itu, rupanya tidak sulit mencari alamat, dengan mudah sampai. Setibanya di rumah, setelah pintu dibuka langsung kopor suami isteri diturunkan dari taksi ditenteng sendiri masing-masing, dibawa masuk rumah. Tuan rumah mempersilahkan duduk diruang tamu, sementara kopor dan tas tenteng masing-masing diletakkan dekat kursi tamu dimana mereka duduk. Sudah kurang lebih 15 menit ngobrol dan oleh-oleh sudah diserahkan, namun tidak ada sapaan si tuan rumah untuk membawa kopor masuk kamar. Kurang lebih duapuluh menit kemudian akhirnya tuan rumah mengatakan bahwa pagi ini mereka masuk kantor dan mempersilahkan teman saya tadi untuk menginap di hotel dan mereka mereferensikan beberapa hotel sebagai pilihan. Kedua suami isteri dirantau orang ini tinggal beradu pandang sejenak. Benar-benar tidak sesuai dengan bayangan mereka. Dari tanah air ia sudah membayangkan nanti di negeri Belanda tidak akan menemukan kesulitan, sebab ada kerabat. Bukan saja kerabat yang sudah lama tidak ketemu tapi dua tahun barusan ia pernah ke NTB dan nginap di rumah mereka, mereka layani dengan baik, mereka antar kemana pergi , mereka jemput dari bandara, mereka antar sampai pulang, mereka bekali lagi “buah tangan” waktu pulang. Tentu nanti kalau mereka melakukan kunjungan balasan, setidaknya mendapat perlakuan yang sama. Kata pepatah orang Indonesia “Asalnya padi menjadi beras. Asal menanam budi pasti berbalas”.
Jadi ingat cerita kami orang Dayak Kalimantan, dulu waktu transportasi belum lancar seperti sekarang, dari “tanah ulu” (kampung-kampung dihulu sungai) untuk mencapai ibu kota Kabupaten milir mengikuti arus sungai, semalam sampai dua malam perjalanan dengan menggunakan sampan lumayan besar yang diberi beratap. Di dalam sampan dibawalah segala hasil bumi antara lain “Terong masam”, “Mentimun mansam”, “Labu Perenggi”, kadang “Gaharu” dan “Madu”. Seorang setengah baya milir dari “tanah ulu” dengan muatan tersebut di atas bernama “CALI’”.
Sampai di ibu kota kabupaten sebelum membongkar muatan di pasar untuk diperdagangkan, si CALI’ jalan jalan ke toko-toko yang berderet di sepanjang sungai di ibu kota kabupaten. Toko-toko banyak milik orang China yang buka dagangan macam-macam, dari mulai barang kelontong, sampai sembako dan juga ada warung kopi yang menjual “Roti kaye” dan “Blodar” serta menyediakan “kopi pancong”. Setiap dia mampir ke toko China untuk sekedar liat-liat, selalu di sapa china yang punya toko: “Ape Cali’” maksudnya dalam bahasa Indonesia “apa yang anda cari”  karena orang china dulu menuturkan “Cari” tidak bisa mengucapkan “R” jadi keluarnya Cari menjadi “Cali’”. Sedang “Cali’ “ adalah nama diri tokoh dalam kisah kita ini yang membawa hasil bumi dari “tanah ulu”.
Pikir si “Cali’ “ aneh semua china di kota kabupaten ini kenal dengan dia maka setiap disapa dengan “Ape Cali’ “, diapun menyahut “Tang konal jaam Tokai”. Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesianya “Oh bos mengenal saya rupanya”.  Suatu kebiasaan yang tidak tertulis di wilayah kami orang Dayak jika saling kenal, urusan niaga tidak lagi menjadi penting. Suasana kekeluargaan harus dibina dengan saling beri memberi. Langsung dia pulang ke perahunya diambilnya beberapa buah “Terong masam”, beberapa buah “Mentimun mansam”, “Labu Perenggi”,  diantarnya ke toko China yang diduganya kenal dengan dia tersebut. Kecuali barang yang nilainya tinggi seperti “Gaharu dan Madu”. Saking banyaknya toko yang “kenal dengannya” dalam tanda kutip, sampai seluruh hasil bumi yang dibawanya itu habis untuk diberikan cuma-cuma di toko-toko. Tentu senang si empunya toko menerima pemberian tersebut, kebetulan jenis buah ini, buah musiman yang di ibu kota kabupaten tidak ditanam orang lantaran hasil ikutan tanaman padi di lahan tadah hujan yang di kota tidak ada.
Setelah penjualan “Gaharu” dan “madu” selesai, pak Cali’ menyiapkan belanja untuk dibawa pulang ke tanah ulu. Setiap toko yang pernah diantarinya hasil bumi ia sempatkan mampir dan berpamit akan mudik ke tanah hulu disebut harinya. Si toke yang punya toko menanggapi pamit si Cali’ dengan biasa-biasa saja tanpa memberikan sesuatu sebagai balasan. Padahal sampai babis “Mentimun Mansam, Terong masam dan Labu perenggi”  satu perahu tanpa dijual, ternyata tidak mendapatkan pembalasan dari toke china yang punya toko. Pulanglah si Cali’ dengan penuh keheranan. Kerena kelazimannya bila memberikan sesuatu ketika datang,  waktu pulang sebaliknya yang diberi punya pengertian untuk membekali pulang barang sesuatu sebagai balasan. Nyangoni kata orang jawa, biasanya balasannyapun berwujut barang juga.
Mungkin pembaca mengalami yang seperti dialami teman saya dari NTB dan pak Cali’ zaman doeloe di bawah tahun enam puluhan. Zaman itu hubungan antar manusia belum teramat materialistis. Kini ketika hubungan manusia sudah semakin terjalin atas kepentingan. Namun mungkin anda masih termasuk orang yang tetap mengedepankan pelayanan teman berkunjung ke kota anda, nginap dirumah anda, anda layani dengan se baik-baiknya, namun ketika anda berkunjung ke kota mereka anda dilayani dengan “hambar”.
Guna menghindari kekecewaan anda bila menemukan hal seperti itu, maka ketika meladeni tamu yang berkunjung bahkan sampai menginap dirumah anda niatkanlah sebagai ibadah karena menghormati tamu adalah sebagian dari tanda orang beriman. Patut disimak hadits berikut ini:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يومن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. H.R Bukhari no. 6018, Muslim no. 47
Niatkan bahwa memberikan layanan kepada tamu untuk mencari keredhaan Allah semata, tidak mengharapkan balasan dari tamu yang kita layani itu. Karena jika kebaikan kita itu landasannya ingin pembalasan dari manusia, percayalah bahwa berujung kita akan kecewa. Tapi kalau dengan keyakinan pembalasan datang dari Allah, kalau tidak di dunia pasti nanti di akhirat, maka kita tidak akan pernah kecewa bila kebetulan tamu yang pernah kita layani dalam kondisi yang dapat melayani kita, tetapi dia tidak membalas kebaikan kita. Syaratnya jangan pula kita mengumpat dan menyebut-nyebut kebaikan yang pernah kita lakukan, sementara ketika kita berkunjung dia tidak membalas. Terimalah keadaan itu dan berdo’alah agar Allah tidak menjadikan didalam hati kita perasaan kecewa atas balasan yang tidak baik dari tamu yang kita pernah layani dengan baik. Semoga Allah memberikan pembalasan yang berlipat ganda. Amien.



Friday, 6 July 2012

PENCURI, PEJABAT DAN KORUPTOR VS ALQUR’AN

Entah dari mana asal usulnya, sejak kapan dimulainya seseorang (beragama Islam) bila diangkat menjadi pejabat disumpah dengan menjunjung Al-Qur’an. Termasuk Presiden Soekarno ketika diangkat menjadi presiden pertama R.I. disumpah dengan di atas kepala beliau seseorang pemuka agama Islam memegang Al-qur’an. Itu barangkali sebabnya seluruh pejabat negeri ini bila diangkat jadi pejabat disumpah, dikepalanya dinaungkan Al-Qur’an. Mungkin saking banyaknya pejabat dinegeri ini yang disumpah untuk menyandang jabatannya, sehingga Al-Qur’an begitu banyak dicetak dan itu rupanya jadi proyek buat kalangan pejabat terkait sebagai lahan korupsi penggandaan Al-Qur’an.
Telah kucari beberapa referensi, belum kuperoleh hadist apalagi ayat Al-Qur’an bahwa bersumpah dalam agama Islam dengan menjunjung Al-Qur’an. Sejauh ini sepanjang yang kuketahui bahwa agama Islam tidak mengajarkan untuk bersumpah menyandang jabatan dengan menjunjung atau di atas kepala dinaungi Al-Qur’an. Mungkin lantaran belum mendalamnya aku masuk di samudera ilmu agama Islam yang begitu luas.
Ada kemungkinan penggagas sumpah jabatan dikepala dinaungi Al-Qur’an mengambil tamsil, bahwa dengan menjunjung Al-Qur’an, si tersumpah akan menepati redaksi sumpahnya, agar si tersumpah mematuhi hukum-hukum yang diatur di dalam Al-Qur’an. Si tersumpah agar tidak berani melanggar sumpah sebab akan mendapat laknat Allah pemilik Al-Qur’an.
Saking tak berani kalau-kalau kewalat Al-Qur’an kerena yakin bahwa bagaimanapun di Republik ini seseorang hampir pasti tidak akan sanggup untuk memenuhi sumpah, pasti akan dilanggar redaksi sumpah itu. Pernah terjadi seorang pejabat yang cukup kreatif,  berihtiar menurut pemahamannya. Beberapa hari sebelum sumpah jabatan diupacarakan, dia mencari tau dan menghubungi petugas yang akan bertugas memegang Al-Qur’an di atas kepalanya nanti pada saat disumpah. Usahanya berhasil, dia ketahui pertugas tersebut, selanjutnya mengirim utusan ke petugas dengan diberikan imbalan.  Diminta kepada petugas untuk membungkus Al-Qur’an yang akan digunakan untuk upacara sumpah dengan bungkus “aluminium foil”. Si tersumpah dengan tenang mengucapkan sumpahnya, sebab tidak hawatir lagi kewalat, sebab bahasa sumpahnya diyakininya tidak menyentuh Al-Qur’an yang sudah terisolasi dengan bungkus “aluminium foil”.
Memang di negeri ini begitu hormatnya kita orang muslim terhadap “kitab Al-Qur’an”, tingkat penghomatan kita terhadap “kitab Al-Qur’an” melebihi saudara kita sesama muslim di tanah suci. Saya pernah menyaksikan sendiri di tempat percetakan kitab Al-Qur’an di tanah suci. Ketika seseorang memesan sebuah Al-Qur’an petugas yang memakai gamis itu menyerahkan ‘Kitab Al-Qur’an dengan meluncurkannya di atas etalase kaca tempat mamajang Al-Qur’an di lokasi pencetakan tersbut. Bangsa kita tidak terbiasa memperlakukan Al-Qur’an seperti itu, sedari kecil kita bila selesai bejar mengaji, menyimpan kitab Al-Qur’an dengan menjunjungnya, membawanya dengan penuh hormat dan sebelum diletakkan ditempat penyimpanan, kitab Al-Quran dicium.
Dulu dikampungku masih banyak pemandangan di rumah-rumah orang, tergantung kitab Al-Qur’an di atas kusen pintu utama. Belakangan ini sudah tidak nampak lagi, berkat da’wah para Da’i. Masyarakat awam waktu itu memperlakukan “kitab Al-Qur’an”, sebagai penangkal bahaya, penolak bala, menjauhkan kediaman dari pengaruh roh jahat dan mahluk halus. Ketika itu belum banyak penyuluhan para ustadz seperti sekarang ini, bahwa yang penting pada Al-Qur’an bukan bukunya, tetapi petunjuk yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu Al-Qur’an saharusnya dibaca, dikaji maknanya, direalisasikan dalam kehidupan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an jangan diperlakukan layaknya seperti azimat di kepercayaan sebelum datang agama tauhid.
Pernah dikisahkan guruku mengaji, tentang bagaimana masyarakat dulu menghormati Al-Qur’an. Di sautu malam yang pekat di sebuah dusun, tengah beroperasi dua orang anak manusia yang kerjanya menajadi maling. Seorang diantaranya bertugas menyunggi*) kawannya untuk naik ke jendela orang yang rumahnya akan disatroni. Rumah didusun itu rumah panggung, untuk sampai ke jendela, seorang tidak dapat langsung, harus pakai tangga atau di sunggi*)  oleh orang lain. Singkat cerita maling tersunggi* berhasil menemukan jendela dan karena memang profesional langsung dapat membuka grendel daun jendela. Dengan cermat diapun masuk, ditemukannya persis didepan jendela sebuah rak dan langsung dirabanya dengan hati-hati agar tidak menerbitkan bunyi. Betapa kagetnya dia bahwa tangannya langsung terpegang ke sebuah kitab dan ternyata di keremangan lampu templok  yang nempel disisi kusen jendela diketahuinya bahwa kitab tersebut adalah “kitab Al-Qur’an. Seperti ada kekuatan dari dalam yang menciutkan hatinya, membuatnya gemetar dan langsung memberi kode temannya untuk siap memasang badan untuk menyungginya* buat turun dari rumah itu. Temannya ditanahpun langsung siap dan akhirnya ia turun. “Mengapa turun cepat, sudah berhasil”, desis temannya. “Oke kita pergi saja dari sini cepat nanti kuceritakan”, jawab maling bertugas sebagai ujung tombak tersebut. Sesampai di tempat aman diceritakannya bahwa ia masuk rumah tersebut terpegang ke “kitab Al-Qur’an” kalau kita teruskan akan berbahaya gumamnya. Temannyapun diam tidak berkomentar lagi.
Dari kisah guru ngajiku ini, aku teringat dengan peristiwa belakangan ini, di mana orang sekarang lebih berani dari orang zamanku masih kecil belum berkhitan. Karena istiadat dikampungku, kalau belum hatam mengaji kami tidak dikhitan orang tua, mungkin untuk memotivasi. Jadi usia waktu itu masih belum tamat SR (Sekolah Rakyat). Orang di zaman itu takut dengan Al-Qur’an, jangankan orang biasa, maling saja takut dengan Al-Qur’an. Kini orang berdasi, berpendidikan tinggi, mengerti agama dan konon di Kementerian agama serta di parlemen yang membidangi agama, benar-benar tidak takut lagi dengan Al-Qur’an. Berani korupsi dengan media/sarana Al-Qur’an. Masih kita hargai maling yang takut Al-Qur’an ketimbang anggota parlemen dan uknum kementeraian agama yang sudah tidak takut lagi dengan Al-Qur’an. Masih kita hargakan pejabat yang minta isolasikan Al-Quran untuk sumpah, tandanya ia masih takut dengan Al-Qur’an daripada koruptor Al-Qur’an. Bagaimana hukuman Allah untuk mereka yang terlibat korupsi Al-Qur’an Allah lah yang lebih mengetahuinya.
*keterangan: Sunggi (seseorang menyediakan bahunya untuk tempat berpijak seseorang yang lain guna mencapai ketinggian seperti adegan dalam panjat pinang di acara memeriahkan hari proklamasi)

Saturday, 23 June 2012

MEMOTIVASI ANAK NEGERI DENGAN DENDANG BUAIAN

Lagu “Nina Bobok”, banyak dipakai oleh ibu-ibu mendendangkan anaknya menuju tidur. Mulai lagu itu dipopulerkan entah tahun berapa, tetapi sejak saya esempe sudah pernah mendengar lagu itu. Lagu ini tidak diketahui siapa penciptanya, tetapi yang jelas ciptaan orang Indonesia. Dimohon kepada pihak pemerintah yang berkenaan dengan soal cipta-mencipta, cepat-cepat amankan bahwa ini lagu punya bangsa Indonesia, kalau lengah ntar di klaim ciptaan encik atau puan dari negara jiran.
Di kampung kelahiranku, kuingat ada kebiasaan baik, ibu-ibu membuai anaknya atau nenek-nenek membuaikan cucunya, yaitu dengan berdendang sambil melambung-lambungkan ayunan si bayi dalam ayunan, gerakan maju,  si ayunan mundur sendiri. Bayi berumur bulanan sampai tiga tahunan di komunitas kami dulu ditidurkan siang hari dalam ayunan ada yang dibaringkan ada yang didudukkan.
Ayunan disiapkan dari kain sarung atau kain panjang yang dihubungkan dengan tali digantung di kasau tiang rangka atap. Kalau dibaringkan, setelah perangkat ayunan siap si bayi dibaringkan dan mulailah mendorong ayunan.
Dalam hal didudukkan, bahasa daerah kami “dipukung” si bayi didudukkan dalam ayunan, kain ayunan dibungkuskan ke si bayi, kaki bayi dilunjurkan, bagian badan bayi yang sudah terbungkus kain ayunan tadi diikat dengan stagen melilit tubuh bahu sampai ke dada. Jadi yang terbuka hanya bagian muka. Gerakan melambungkan ayunan juga dengan mendorong maju, kemudian siayunan mundur sendiri. Kelebihan “dipukung”, bila si bayi sudah tertidur ibu atau nenek yang menidurkan dapat meninggalkan bayi dengan aman, tidak dikhawatirkan si bayi jatuh meluncur dari ayunan kalau nanti tiba-tiba ia terbangun, dapat terjadi dengan hanya dibaringan. Biasanya si pemomong bayi setelah bayi tidur pengerjakan pekerjaan lain, seperti memasak di dapur atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya dan bahkan pergi ke ladang.
Mengantarkan si bayi tidur si ibu atau si nenek atau siapa saja yang mengayunkan si bayi dalam buaian berdendang dengan lirik-lirik yang cukup menarik. Saya simak lirik-lirik itu ketika saya masih di kampung dulu, setelah saya ingat sekarang, sungguh lirik tersebut syarat bermuatan pesan moral. Lama saya ingat ingat syair yang didendangkan itu, tapi hanya kudapat pesan-pesannya saja yaitu antara lain:
•    Semoga lekas besar, nanti akan diserahkan mengaji
•    Mengaji membekali diri dengan iman
•    Sebagai manusia nanti harus menguasai ketrampilan bela diri
•    Harus jujur dan amanah
•    Diharapkan menjadi pemimpin
•    Berlaku baik dengan siapa saja
•    Mengharumkan nama keluarga berguna bagi nusa bangsa
Memang si bayi belum tau apa-apa selain menangis, ketika mulai didendangkan dalam buaian itu, tetapi sebagai anak manusia, yang otaknya mulai merekam setiap apa yang didengarnya, mengingat apa yang dilihat dan dirasakannya. Tentu pesan-pesan moral ini akan membekas di sanubarinya, dan akan menjadi patrun peri lakunya setelah berangkat menjadi orang dewasa.
Di dalam kesemptan kunjunganku kekampung kelahiranku Juni 2012, kudatangi salah seorang saudaraku, anak dari saudara ibuku yang sudah berumur 80 tahunan lebih dan masih segar. Kuingat saudaraku ini punya anak dan cucu lumayan banyak berjumlah. Kuingat pula saudaraku inilah yang sering mendendangkan anaknya sampai giliran ke cucunya dalam “pukungan”. Kepada saudaraku ini kuminta bait-bait syair yang pernah didendangkannya masa lalu itu. Syukurnya beliau masih ingat beberapa bait syair tersebut dan selanjutnya bersamanya kuselaraskan sehingga selengkapnya sebagai berikut:

Lekaslah besar anakku ini
Akan kuserahkan belajar mengaji
Kelak memimpin dikampung ini
Agar penduduk menjadi berbaik budi

    Setelah mengaji terbentuk iman
    Ke guru silat kau kan kuserahkan
    Bela diri sekaligus menjaga kebugaran
    Juga menegakkan keadilan dan kebenaran

Kepada yang  tua kau harus hormat
Kepada teman jangan kau berkhianat
Kepada guru hendaklah kau taat
Ke  kedua orang tua harus berkhidmat

    Bergunalah kau bagi nusa dan bangsa
    Penerus cita-cita nenek moyang kita
    Agar negeri ini segera makmur sentosa
    Kehidupan terhindar dari miskin dan papa

Sikap jujur dan berani modal hidupmu
Kunci pembuka jalan rezeki sejak dahulu
Jangan mudah tercumbu bujuk dan rayu
Untuk  curang, ambil hak orang atau menipu

    Bila diberi amanah janganlah curang
    Agar dirimu dapat dipercaya orang
    Walau godaan harta datang merangsang
    Hindari anakku itu hal sangat terlarang

Rajin bekerja warisan kita punya leluhur
Semangatmu  tinggi  janganlah kendur
Menerima  tantangan berpantang mundur
Lihatlah semut tak seeokorpun menganggur


    Kelak dalam kau hidup berjuang
    Ikutilah falsafah pohon pisang
    Biar bagaimanapun tak akan tumbang
    Kecuali setelah berbuah, lantas ditebang

Modal utama berhandai taulan
Sopan santun dalam pergaulan
Jangan remehkan teman dan kawan
Silang sengketa harus dihindarkan

    Kelak setelah engkau dewasa
    Jadi apa saja boleh, asal bertaqwa
    Mengharumkan nama seluruh keluarga
    Semogalah  nanda bahagia  bunda berdo’a

Bait-bait syair ini didendangkan bukan seperti pantun, tetapi dengan berlagu mendayu-dayu, tapi bukan seperti lantunan lagu dang dut, tidak pula seperti lagu-lagu Indonesia populer. Nadanya agak monotun tekanan pada kata terakhir setiap baris dan berjeda sebentar dilanjutkan baris berikutnya. Namun tidak sama dengan mendendangkan lagu “Nina Bobok”.

Kreasi budaya seperti ini patut dilestarikan, agar tidak punah dalam khasanah budaya kita, tetua kita dulu menciptakan ini bukan tidak dengan pemikiran jauh kedepan untuk generasi penerusnya agar menjadi anak bangsa yang berkualitas. Sejalan dengan pesan Rasulullah Muhammad s.a.w. “Udlubul ilma mahdi ilal lahdi”. “Menuntut ilmu sejak buaian sampai ke liang lahat”.  Tetua dulu memberikan motivasi berupa harapan do’a ke bayinya mulai sejak dari buaian. Bagiamana dengan kita sekarang ???


Wednesday, 20 June 2012

SEDEKAH, MESKI TIDAK IKHLAS TETAP BERGANJAR

Sedekah menurut arti bahasa, adalah pemberian kepada seseorang (pemberian derma kepada orang miskin). Sebenarnya sedekah bukan hanya untuk orang miskin, tetapi pemberian untuk berbagai keperluan seperti untuk pembangunan sarana kepentingan umum. Pemberian uang atau harta untuk kepentingan kemasalahatan masyarakat. Di masyarakat tertentu bahkan ada “sedekah bumi”, yaitu urunan oleh masyarakat untuk mengadakan upacara setahun sekali setahun “mungkin dalam rangka menghormati bumi”.
Di dalam kaidah agama, motivasi sedekah untuk mendapatkan keredhaan Allah, dalam rangka pendekatan diri kepada Allah. Syarat mendapatkan keredhaan Allah, sedekah harus dilaksanakan dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan dari si penerima sedekah, tanpa mengharapkan pujian dari manusia. Sedekah tidak boleh disebut-sebut.
Secara jelas Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 264 mengingatkan tentang sedekah:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
Bagaimana bila sedekah tidak ikhlas, masihkah ada ganjaran dan manfaatnya:
Ganjaran dimaksudkan mendapatkan pahala disisi Allah. Ganjaran pahala akan didapati kelak di akhirat, sedangkan ganjaran didunia mendapatkan pembalasan langsung di dunia ini berupa keberuntungan.
Ganjaran di akhirat seperti dijanjikan Allah di dalam surat Al Baqarah ayat  261,

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Satu berganjar 700 ratus atau 700% dan bahkan dijanjikan Allah lebih dari pada itu, barangkali tergantung qadar keikhlasannya dan qadar keberanian orang yang bersedekah itu sendiri. Qadar keberanian misalnya seorang yang punyanya cuma 100 berani medermakan 40 tentu lebih berani dari orang yang punya 1.000.000,  hanya berani berderma 40 juga. Sedangkan ganjaran di dunia adalah langsung atau tidak langsung, pada waktu yang dekat atau selang beberapa lama mendapatkan penggantian dari Allah melalui tangan orang lain, atas perbuatan sedekah tersebut. Itupun mungkin tergantung kepada tingkat kesulitan dan ujian memberikan sedekah tersebut.
Manfaat dimaksudkan untuk pemberi sedekah dan penerima sedekah serta masyarakat. Pihak pemberi sedekah baik dengan ikhlas maupun setengah ikhlas atau tidak ikhlas sama sekali, ditinjau dari segi manfaat adalah memotivasi diri untuk terlatih peduli dengan orang lain. Memotivasi diri agar bekerja giat supaya tidak sampai pada giliran menerima sedekah bahkan berusaha menjadi pemberi sedekah. Insya Allah biarpun misalnya sedekah itu tidak  ikhlas, bagi penerima sedekah bermanfaat untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan jumlah sedekah. Insya Allah pula kalau karena sedekah tersebut yang menerima sedekah beramal kebajikan lantaran sedekah tersebut si pemberi sedekah akan kebagian memperoleh ganjaran. Bagi masyarakat, sedekah adalah suatu upaya menjembatani si kaya dengan si miskin yang pada gilirannya akan mengurangi penyakit masyarakat, seperti pencurian, kemiskinan dan ketidak berdayaan sebagian masyarakat kurang mampu.
Terkait dengan sedekah yang kurang ikhlas dan ganjarannya, saya memperoleh pengalaman seseorang teman saya yang tempat tinggalnya dengan tempat kerjanya berjarah sekitar 16 km. Teman saya ini  berprofesi sebagai nahkoda kapal.
Ketika kapal sedang dok, atas dasar peraturan intern perusahaan si nahkoda dan seuluruh ABK tetap mendapatkan gaji bulanan, tapi uang “rit” tidak diperoleh. Juga tidak mendapat penghasilan sampingan membawa dagangan sebagai barang bawaan awak kapal. Alhasil penghasilan sudah dipatok, sebagai konsekwensinya uang bulanan itu harus disetorkan ke isteri agar dapat diatur cukup sebulan dalam rangka kapal masih dok. Sementara kewajiban untuk datang ke lokasi dok  terurtama bagi nahkoda harus dilakukan tiap hari termasuk hari libur dalam rangka mengawasi pelaksanaan dok (mereparasi bagian-bagian di kapal), selama dok berlangsung.
Isteri kawan saya ini demi mengatur belanja rumah tangga, memberikan uang saku 2.000 sehari, karena si suami tidak merokok, sementara makan siang di lokasi dok tersedia (ditanggung perusahaan). Ongkos kendaraan umum menuju lokasi dok 1000 pergi 1000 pulang, tarif angkutan dalam kota waktu itu jauh dekat 1.000.
Pagi-pagi si suami masuk oplet (kendaraan umum) seperti biasa oplet naik tidak bayar, turun baru bayar, belum berapa lama duduk di oplet mungkin baru sekitar 5km, oplet distop seseorang yang kemudian masuk sebagai penumpang tambahan dan langsung mengambil tempat duduk menjejeri sang nahkoda sedang dok tersebut. Tidak lain penumpang baru tersebut adalah seorang teman lama yang sudah tahu pula reputasinya dan tingkat ekonominya. Dalam hati sang nahkoda nanti mesti teman ini minta bayarkan ongkos oplet, sebab selama ini memang begitulah kelakuannya. Benar juga, beberapa kilometer  sebelum sampai terminal akhir oplet, si teman langsung menyetop oplet dan turun sambil ngomong ke sopir nanti “dia yang bayar” menunjuk ke nahkoda teman saya itu.
Teman saya tujuannya sampai di terminal akhir, untuk menuju lokasi dok harus berjalan kaki lagi beberapa ratus meter. Begitu turun dari oplet tamatlah riwayat sangu 2000 itu karena untuk dua orang penumpang. Jelas mengeluarkan uang tersebut dengan hati yang kurang ikhlas, sebab tebayang sudah, pulangnya akan jalan kaki sepanjang 16 km. Memang setengah hati ada dalam pikiran  nanti pinjam ke teman, mustahil tidak ada yang bawa uang lebih. Tapi entah bagaimana setelah jam pulang kerja lupalah meminjam uang kepada teman. Baru sadar kalau tidak punya uang di kantong setelah meninggalkan tempat dok dan ketemu warung makan.
Timbul pikiran mau pinjam ke pemilik warung, pemilik warung kenal betul dengan teman saya sebagai kapten kapal,  karena sering lewat warung itu dan perusahaan juga pesan makan dan konsumsi buat kru dog ke warung itu.  Kalau minjam tentu tidak cocok sebagai seorang kapten kapal minjam cuma 1.000, sekurangnya 50.000. berterus terang kehabisan ongkas oplet sepertinya gengsi. Maka dicobalah mampir di warung dan mengutarakan maksud pinjam 50.000.  “Maaf pak kapten pesanan makanan/minum untuk orang dok  selama dua minggu belum dibayar, saya hanya ada modal untuk belanja buat nyiapkan masakan besok”. Jawab ibu yang punya warung sambil menyampaikan uneg-uneg, karena pikirnya kebetulan ini kapten kapal yang dok, sekaligus biar cepat proses pembayarannya. Jawaban itu membuat teman saya itu memastikan diri untuk pulang dengan jalan kaki.
Perjalananpun dimulai menyusuri jalan menuju ke rumah untuk menghindari sengatan panas matahari sore, berjalan menyusur teras pertokoan. Tidak disangka ketemu seorang teman lama langsung menyapa, kemudian ngomong-ngomong diantaranya tanya soal kapal dok berapa lama lagi, teman itu telah menanya pemilik kapal katanya tinggal seminggu lagi. Teman ini rupanya akan menyewa kapal dalam rangka  mengangkut kayu dagangannya ke pulau Jawa. Dengan rinci teman saya ini menjelaskan secara teknis berapa lama lagi dok masih akan berlangsung. Begitu pamit untuk meneruskan berjalanan, diluar dugaan sebelum salaman teman lama nahkoda itu sempat membuka dompet dan menyalamkan lembaran ratusan ribu. Rasa malu mendorong teman saya tidak langsung menghitung uang itu dan memasukkannya ke saku kanan celana, sambil mengucapkan terimakasih dan salam. Perjalanan dilanjutkan beberapa lorong toko lagi, dengan alasan masih ada yang harus dicari. Setelah agak jauh segera pemberi uang sudah tak tampak, tergelitik hati ingin melihat berapa lembaran yang ada dikantong celana, ternayata terdapat tiga lembar uang ratusan. Arah langkahpun segera dirubah, sebelum mencegat oplet, mampir dulu di pasar ikan yang sore itu masih buka. Langsung membeli seekor ikan Tenggiri seekor berat sekilo dua ons. Dengan hati berbunga langsung menuju pulang, masoh mengantongi  sisa uang lebih dari 250 ribu. Ini uang lelaki katanya di dalam hati, tak perlu setor isteri. Tentu saja isteri terkaget-kaget, beberapa hari ini memang setiap pulang disediakan nasi dengan sekedar sayur dan ikan asin, tiba-tiba suami membawa ikan Tenggiri, padahal dibekali uang cuma 2000. “Bagaimana ini ceritanya bang”,  tanya si isteri. Si abang menjawab “sudahlah racik dulu bumbu, aku mandi dulu nanti kujelaskan”.
Selesai shalat magrib merekapun makan dengan lauk ikan tenggiri tumis, sambil si abang menceritakan peristiwanya kepada isterinya.
Nyatalah disini sedekah yang tidak ikhlaspun segera mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda. Apalagi bila dengan ikhlas. Kondisi pemberi sedekah dalam kasus ini,  terpaksa sampai habis cadangan uangnya untuk keperluan sendiri, nanti apaboleh buat akan dilakukan  dengan pengorbanan walau harus berjalan kaki.  Dalam keadaan tekad yang siap untuk berjalan kaki sebagai knsekwensi sedekah terpaksa itu, datang pertolongan Allah melalui seorang teman.
Demikianlah cerita ini saya sadur dari kisah nyata seorang teman yang ketika mudanya menjadi nakhoda kapal. Patut menjadi bahan renungan bahwa menolong orang walau sedikit agak terpaksa, sampai untuk sendiripun tidak ada lagi  Insya Allah segera mendapatkan balasan Allah.
Jangan ragu memberi bantuan kepada orang yang memerlukan selagi bisa, percayalah bahwa Allah akan membalasnya bukan melalui orang yang dibantu tetapi melalui orang lain. Oleh karena itu janganlah berbuat baik mengharapkan pembalasan dari orang yang kita bantu. Percayalah Allah lebih mengatahui dan maha cepat memberikan karunia-Nya.


Monday, 18 June 2012

MEMPERPANJANG PASPOR

Di DKI Jakarta, soal identitas diri sangat penting harus selalu ada di kantong  jika melangkah keluar rumah, utamanya KTP. Pernah teman saya yang tinggal di Jakarta Pusat karena ada keperluan di warung tak jauh dari rumahnya, ia keluar rumah tanpa mengantongi KTP. Kebetulan malam itu digelar razia oleh petugas DKI guna menjaring penduduk ilegal yang datang ke Jakarta. Langsung yang bersangkutan diangkut dengan truck ke suatu tempat untuk diperiksa lebih lanjut. Kesudahannya teman saya itu juga dipulangkan setelah dijemput oleh pengurus RT yang datang dihubungi lewat seluler.
Berbicara soal identitas, akan sangat penting lagi bila kita bepergian ke luar negeri, adalah sangat tidak nyaman kalau berpergian keluar negeri tidak memiliki paspor. Oleh karena itu maka setiap penduduk suatu negara ingin bepergian ke luar negeri harus mengurus paspor. Kebetulan saya sudah kali yang keempat sepanjang hidup ini mengurus penerbitan paspor.
Sebelum berangkat mengurus paspor yang keempat kali itu, terlebih dahulu saya mencari informasi melalui internet, menyimak pengalaman orang lain dalam memperpanjang paspor. Beberapa referensi dari orang lain dalam blogspot diantaranya ada yang memberikan informasi tentang syarat mengurus pasport sendri ialah:
Pertama harus sabar, Kedua harus sabar, Ketiga harus sabar, barulah syarat keempat photo copy semua identitas dan kartu keluarga, ijazah dan akte kelahiran  dan jangan lupa membawa asli dari semua kelengkapan itu.
Alhamdulillah saya siapkan sabar lebih dari tiga, berangkat dengan banyak berbekal sabar itu semuanya terasa tidak sulit dan bahkan menjadi hiburan. Sekitar pukul sembilan pagi kami sudah berada di bilangan Kemayoran Jakarta Pusat, tempat berkantornya instansi penerbit pasport tersebut. Suasana dan teknik pengurusan pasport sudah berbeda dengan lima tahun silam ketika paspor saya yang akan diperpanjang itu diterbitkan. Jauh lebih baik dibanding lima tahun yang lampau. Perlu diketahui bahwa memperpanjang paspor sama saja prosedurnya dengan membuat paspor baru. Kelihatannya kantor penerbit paspor tersebut sepertinya tidak punya data sama sekali akan diri kita dimasa lalu sehingga semuanya perlu diunggah dari data baru.
Dari petugas yang kami tanya, dikabarkan kami harus meminta formulir ke lantai bawah (dekat tempat parkir) di mana oleh “Koperasi Pegawai Kantor Imigrasi” disediakan formulir berikut map berlogo “Koperasi Pegawai Kantor Imigrasi Jakarta Pusat” di dalam map terselip selembar blanko isian tentang “Formulir Surat Perjalanan Republik Indonesia Untuk Warga Negara Indonesia” dan sebuah plastik bakal sampul paspor. Pada butir 5 “formulir ini tidak dikenakan biaya apapun. Ternyata kami diminta uang    Rp 7.500 atas map berisi formulir tersebut. Disini sudah nampak “lain ditulis di kertas lain yang harus dilaksanakan”. Saya jadi ingat ngurus KTP, tertulis spanduk besar berbunyi “Pengurusan KTP tidak dipungut Biaya” ternyata harus bayar biaya administrasi membuat photo sebesar bervariasi. Sudahlah bangsa kita sudah maklum dan terbiasa bahwa lain yang tertulis lain yang harus dilakukan. Mungkin harga Rp 7.500,- adalah memang bukan harga formulir, tapi harga map. Jadi formulir gratis tapi mapnya Rp 7.500. Tentu kalau tidak pakai map yang seragam akan menyulitkan pengarsipan.
Langkah berikut menunjukkan formulir yang telah diisi berikut berkas ke seorang petugas yang nantinya memberikan nomor antrian. Petugas tersebut memeriksa berkas dokumen photo copy dan meneliti kebenaran formulir isian. Setelah pemeriksaan tersebut diberikan nomor antrian dan dipersilahkan duduk di ruang yang telah disediakan sampai nomor antrian dipanggil melalui pengeras suara. Nanti ketika dipanggil disebutkan nomor antrian diarahkan menuju ke counter tertentu yang disebutkan. Proses ini lama sekali lebih dari 2 jam menunggu, walau kita lihat counternya juga tidak sibuk-sibuk amat. Disini sangu sabar itu mulai digunakan, sebab kalau tidak sabar tentu akan sering tanya ke counter. Ada juga barengan kami yang tidak sabar, kemudian bisik-bisik dengan seseorang, yang kelihatannya sudah terbiasa mengurus paspor, akhirnya yang bersangkutan nampaknya menyerahkan berkas mereka (suami isteri) ke seseorang tersebut, entah bagaimana kejuntrungannya kami selanjutnya tidak melihat lagi barengan kami itu. Apakah ia langsung pulang mengurungkan ngurus paspor atau ia dapat menyelesaikan paspornya di hari itu, terus terang kami tidak mengetahuinya. Sebagai orang yang berbekal sabar yang banyak seperti kami, tidak hiraukan orang lain, melulu dengan urusan kami mengikuti prosedur.
Sampai waktu istirahat kantor Imigrasi pukul 12 siang kami belum juga dipanggil. Seusai jam istirahat tiba juga saatnya saya dan isteri sekitar pukul 2 siang mendapat panggilan. Berkas saya rupanya tidak bersoal, mulus dan langsung diberi semacam tanda terima untuk datang lagi hari Senin minggu depan, kami mulai urusan hari Kamis. Sementara berkas isteri saya rupanya ada yang kurang, sebab semula nama isteri saya hanya dua ruas kata, sesuai keperluan negara tujuan harus tiga suku kata. Isteri saya harus turun lagi ke lantai bawah untuk meminta formulir pernyataan dan membeli materai Rp 6000,- di Koperasi. Rupanya sortir berkas di petugas antrian luput mengenai syarat tambahan pernyataan itu. Pukul 3 siang kurang beberapa menit urusan kami hari itu selesai dengan membawa carik tanda terima dokumen, dengan pesan hari Senin depan datang lagi dengan membawa dokumen asli.
Senin yang dijadwalkan kami berangkat lagi menuju kantor di bawah Menkumham tersebut, dan juga untuk maju ke counter harus mendapatkan nomor antrian. Nomor antrian saya dipanggil lebih dahulu, hanya menunggu tidak lebih dari setengah jam, langsung diberi carik untuk menuju ke petugas pembayaran sejumlah biaya paspor sebesar Rp 255.000,- hanya jeda sebentar kurang lebih seperempat jam langsung di panggil wawancara dan mengambil gambar diri (foto).
Isteri saya bermasalah, hingga ia berkali kali menanyakan ke counter kenapa belum dipanggil, alasan isteri saya menanyakan, takut kalau ketika dipanggil tidak dengar, maklum pendengaran sudah berkurang. Petugas setiap ditanya, menjawab tunggu saja dulu, sebentar lagi akan dipanggil. Karena saya jauh jeda waktunya sudah selesai dibanding isteri saya, akhirnya sekitar pukul 11.30 saya bertanya kenapa saya sudah selesai, isteri saya dengan waktu antri yang sama belum selesai. Kemudian mendapat jawaban bahwa map berkas isteri saya terselip, dicari belum ketemu. Sedikit terjadi diskusi dengan petugas counter, kemudian diberi jalan keluar, minta lagi formulir ke koperasi dan kembali bayar Rp 7.500 dan mengisi kembali daftar isian. Setelah selesai mengisi formulir, sekitar pukul 11.45 diserahkan ke petugas counter, dan dengan begitu cepat diproses.  Sebelum istirahat pukul 12 siang isteri saya selesai wawancara dan foto. Jadi prosesnya kurang lebih hanya 15 menit.
Terbetik di dalam benak saya, kalau begitu mengurus paspor itu sebenarnya dapat dilaksanakan dengan waktu kurang dari setengah jam, sejak mulai proses sampai foto. Ok lah jadi buku agak lama sedikit nunggu di tandatangani atasan, sebab harus tanda tangan manual. Jadi hitung-hitung sehari dapat menyelesaikan urusan paspor tidak perlu sampai tiga kali datang. Sungguh ini tidak effisien, jika yang bersangkutan bekerja di instansi yang produktif yang hasil produksinya dapat diukur sampai ke menit, maka berapa kerugian produktifitas negara secara keseluruhan yang terbuang karena mengurus paspor.
Selesai foto, kami dipersilahkan untuk datang lagi mengambil buku paspor minggu depannya. Alhamdulillah ketika mengambil paspor cepat sekali, boleh dikata tidak menunggu, langsung menunjukkan kitir yang kami terima selesai foto minggu lalu, sebentar kemudian paspor asli telah dapat kami terima. Ketika mengambil buku paspor map isteri saya yang keselip ternyata sudah ditemukan, terbukti bahwa paspor lama isteri saya dapat kami lihat kembali dan diperkanankan untuk diterima kembali dengan membuat pernyataan bermeterai Rp 6.000.-
Mungkin sebagai jalan keluarnya agar pengurusan paspor dapat dipersingkat adalah:
1.    Bagi yang dapat nomor antrian sampai dengan nomor tertentu berdasarkan perhitungan/penelitian waktu penyelesaian dari mulai diserahkan berkas sampai selesai buku paspor ditanda tangani. Katakan misalnya hanya seratus paspor. Sisanya dilanjutkan hari kerja berikutnya tetapi tetap saja diproses di hari pemohon paspor datang sampai sebisanya. Kepada pengurus paspor nomor antrian yang tidak dapat diselesaikan hari itu misalnya nomor 101 dan seterusnya, segera diumumkan untuk datang kembali hari kerja berikut. Hari kerja berikutnya  diperkirakan hanya sampai berapa, misalnya 100 paspor diumumkan nomor antrian sampai dengan sekian dihari kerja kemarin tanggal .......
2.    Pengurusan perpanjangan paspor dengan pembuatan paspor baru seyogyanya ada perlakuan beda, lebih mudah, karena sebagian besar data diri yang bersangkutan sudah terekam di arsip kantor Imigrasi.
3.    Counter dibuka terus dari pukul 08.00 sampai pukul 14.00  tanpa istirahat pada pukul 12.00 – 13.00 dengan sistem piket pegawai. Agar proses tetap mengalir, demikian juga counter pelayanan langsung ke masyarakat, walau dikurangi jumlah counternya. Misalnya pada jam istirahat buka counter berkas 2 dari 5 counter. Penerima pembayaran pada jam istirahat dibuka 1 counter begitu pula counter foto buka separonya.
4.    Nomor antrian percayakan pada mesin, petugas hanya membantu memberi petunjuk kepada masyarakat pemohon paspor tentang bagaimana cara operasional mesin.
5.    Pemeriksaan keabsahan berkas terpusat pada penerima berkas
6.    Berikan penerangan yang rinci bagaimana cara melengkapi data pengurusan paspor, melalui brosur dan sesekali diumumkan melalui pengeras suara.