Friday, 20 April 2012

SEMBADA DAN BERUANG

Sembada, adalah sejenis semut hitam yang besar; hidupnya biasanya di hutan-hutan yang rindang karena banyak pohon dan di tanah tebal dedaunan dari pohon yang gugur. Jenis semut ini lumayan besar, panjangnya sekitar satu centimeter, giginya jelas terlihat tersembul di depan kepalanya di posisi kiri dan kanan, mirip tangan kepiting.
Bukan bentuk tubuh dan giginya yang mengerikan tapi kalau menggigit, terasa gigitannya. Bila di gigit di kaki bisanya terasa sampai ke dada. Itu sebabnya barangkali di daerah hutan di mana komunitas semut itu banyak  berdiam, semut itu dalam logat daerah dinamainya “Sembada” mungkin ada hubungan dengan singkatan bahwa semut ini  “Sempat ia menggigit meski di kaki sakit sampai ke dada”.
Suatu hari musin kemarau,  Sembada remaja dalam tugasnya seharian mencari makan dan membawa misi komunitasnya untuk mencari bahan renovasi sarang, ia sampai di sebuah sungai yang airnya jernih dan mengalir deras, tiba-tiba rasa hausnya menggoda untuk dipenuhi. Perlahan Sembada menuju pinggir sungai, tidak diduga kakinya terpeleset dan terbawa arus, refleks ia masih sempat memegang sehelai daun kecil yang hanyut dibawa arus sungai, dengan susah payah dipegangnya daun kecil dan licin itu untuk naik di atasnya. Sebab kalau terus berpegang ke daun itu sementara badan masih di air, sebentar lagi akan terlihat oleh ikan “Kelik” yang banyak di sungai itu dan langsung ditelan tak berbekas. Akhirnya berhasil juga dia naik di atas daun hanyut, sambil menunggu nasib entah dimana daun itu akan tersangkut.


Rupanya setelah beberapa waktu berselang daun hanyut mengikuti lekuk liku sungai di hutan itu, akhirnya tersangkut di sudut  tanjung, tapi tak cukup buat Sembada untuk naik ke daratan. Disamping tenaga sudah begitu letih dan grogi, juga jika diupayakan merambat disangkutan daun yaitu akar pohon, dikhawatirkan sebelum akar dapat digapai, daun lepas dan dapat dibayangkan “plug” nyemplung ke air dan hanyut dibawa air deras. Seperti kata pepatah: “Buang tangga berayun kaki” artinya kira-kira “mengharap sesuatu yang belum tentu, yang ada sekarang terlepas”. Dalam kepasrahan itu tiba tiba ada seekor Beruang menuju sungai melalui tanjung tempat Sembada dengan daun tumpangan tersangkut diakar itu. Entah melihat atau tidak, si Beruang meraih daun dengan tangannya dengan maksud mengambil air untuk minum dan mencuci muka. Gerakan menciduk air dan mengarahkannya ke muka, sehingga terpelantinglah Sembada ke atas kepala si Beruang dan untuk sementara menempel di bulu Beruang dengan berdiam diri, tidak membuat gerakan yang mengundang perhatian. Selesai memenuhi kebutuhannya, minum dan “tempungas” (cuci muka), beruangpun balik kanan dan berlenggang lenggok menuju ke daratan. Tak lama kemudian bulu Beruang-pun kering begitu juga Sembada yang bergendong di badan Beruang segar kembali dan badannyapun terasa hangat. Hap,  diapun melompat dan langsung mencari arah pulang ke sarangnya untuk berkoordinasi dengan rekan lainnya. Pengalaman hampir seharian itu diceritakannya runtut kepada seluruh kelompoknya.
Betapa kalau tidaklah ada Beruang minum dan cuci muka tidak taulah bagaimana nasib keberuntungan Sembada, mungkin sudah mati beragan (mati pelan-pelan) karena ketakutan dan tidak makan, atau sudah dimangsa ikan. Peristiwa itu sungguh dijadikannya pengalaman yang berharga untuk lebih hati-hati kalau ingin minum ke sungai.
Menjadi cacatan dalam hidupnya, merasa berhutang budi kepada Beruang yang telah menyelamatkannya.  Entah bagaimana cara membalasnya, dia tau bahwa diri ini hanya seekor semut.  Walau dianya semut yang cukup besar, namun tetap saja tidak bandingannya dengan Beruang yang jutaan kali lebih besar dari dirinya.
Tidak menyangka suatu hari entah berapa lama setelah peristiwa itu, di habitat Beruang dan Sembada ada seorang pemburu dengan posisi bersender dibalik pohon dengan mengendap membidikkan senapannya. Agaknya bidikan ditujukan kepada Beruang yang pernah menolong Sembada. Dengan gerak cepat dan cekatan si Sembada menuju ke kaki pemburu, tapi si pemburu pakai sepatu lars, tak dapat digigit. Segera Sembada merambat di tubuh si pemburu menuju ke bagian atas tubuh pemburu yang kini sudah siap. Pemburu memicingkan matanya sebelah untuk memastikan arah tembakan. Untung, kurang lebih setengah detik sebelum pelatuk ditarik, Sembada sempat menggigit sekuat-ukuatnya di belakang daun telinga disisi mata pemburu mengkeker sasaran tembak. Pemburu terlanjur menarik pelatuk senapan tapi karena terasa sengatan dibelakang telinganya arah senapan melenceng ke kanan dan “door” terdengar ledakan, tetapi peluru menjadi salah sasaran. Mendengar bunyi ledakan, Beruangpun dengan cepat melarikan diri di kelebatan hutan. Dan selamatlah si Beruang.
Setelah menggiggit dengan segera Sembada melarikan diri, untung tangan si pemburu tidak sempat memites dirinya karena kebetulan tangan kiri pemburu memegang tengah senapan dan tangan kanan di posisi pelatuk. Seperti diungkap di atas bahwa betapa sakitnya bekas gigitan Sembada, betul-betul mengganggu konsentrasi si pemburu setidaknya kurang lebih setengah jam. Bayangkan bila digigit di kaki reaksi bisanya sampai ke dada, bagaimana kalau di belakang daun telinga mungkin ke atas sampai ke otak dan ke bawah sekurangnya sampai ke perut.
Pikir Sembada kini kesempatan untuk membalas budi sudah dapat dilaksanakan, hutang nyawa sudah dibalas nyawa. Walau sebenarnya Beruang tidak mengetahui bahwa keselamatannya adalah karena Sembada membalas budi, juga diapun tidak pernah tau bahwa telah menanam budi kepada Sembada.
Paling kurang dari kisah ini dapat diketahui bahwa: Orang kecil dan orang lemah, selalu mengingat suatu kebaikan walaupun kebaikan itu kecil sekali dan bahkan oleh orang besar mungkin dianggap biasa-biasa saja. Saya teringat ketika dikantor dulu, seorang wakil pemimpin kantor, belum lama menjabat di cabang kami waktu itu pidahan dari kota lain. Dianya, punya suatu kebiasaan baik. Beliau sanggup mengingat nama orang sampai ke panggilan akrabnya. Misalnya anak buahnya namanya “Mardjuki” dia cari tahu betul dengan sapaan apa si Mardjuki itu biasa disapa kawan-kawannya. Umpama panggilan”Mar” atau “aju” atau “Juki” atau “Ajuk. Panggilan akrab itulah yang ia sapakan kalau bertemu. Seorang tukang sapu di pagi hari begitu bertemu langsung disapa dengan sapaan akrabnya, kemudian diajak berdialog agak sejenak. Bukan main peristiwa itu sudah dicatat sebagai kebaikan yang besar bagi si tukang sapu. Tak kurang diceritakannya ke keluarganya di rumah dengan rasa bangga. Pembalasannya, segala kepentingan bos ini akan diprioritaskan. Benar petunjuk Allah dalam surat Al-Baqarah 263:


Qaulum ma’rufun wamaghfiratun khairummin shadaqatin yatbau’haa adza. Wallahu ghaniyun haliim.
(Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun).
Ketika si Bos dimutasikan dari cabang kami ke cabang lain, oleh kantor cabang kami,  karena satu dan lain alasan tidak mengadakan perpisahan antara beliau dengan seluruh pegawai. Perpisahan hanya diadakan dengan mengundang pejabat dan keluarganya saja. Maklum cabang kami itu lumayan banyak pegawainya jumlah kurang lebih 350 orang. Yang terjadi adalah para pegawai “kecil” di cabang kami itu urunan dana mengadakan upacara perpisahan dan bahkan mengundang para pejabat. Itu rupanya wujud pembalasan pegawai kecil kepada atasan yang baik itu.
Agaknya psychologi rakyat kecil ini terbaca dan dimanfaatkan benar oleh kaum politisi kita. Manakala mendekati pemilihan umum untuk duduk menjadi pejabat publik, menebar kebaikan kepada rakyat kecil. Banyak sumbangan yang mengalir untuk rakyat. Beberapa masa pemilihan umum yang lalu,  rakyat masih terpedaya dengan kebaikan sesaat menjelang pemilihan pejabat publik itu. Moga-moga kedepan rakyat kecil sudah mulai memahami kebaikan ini bukun tulus, hanya sekedar untuk meluluskan maksudnya saja, setelah tercapai maksudnya sampai di atas kebanyakan mereka tidak baik lagi bahkan menghisap darah rakyat dengan korupsi.
Kebiasaan umum kita, justru sering memberi lebih kecil ke orang yang kurang mampu, orang lemah dan  memberi lebih banyak kepada orang kaya dan orang besar (berjabatan tinggi). Contoh konkrit akan memberikan sumbangan yang besar dan berupaya untuk hadir jika seorang atasan atau pejabat tinggi yang mengundang “mantu”. Sebaliknya kadang tidak mau hadir dan titip sumbangan ala kadarnya bila orang miskin atau bawahan yang mengundang mengawinkan anak. Padahal orang kecil sangat mengingat dan menghargai kebaikan orang besar walau dimata orang besar itu sendiri kebaikan itu adalah kecil. Sebaliknya orang besar kurang menghargai bantuan dari orang kecil walau si kecil sudah dengan susah payah melakukan bantuan itu, apalagi memang bantuannya sangat kecil.


Sunday, 15 April 2012

MENYAKSIKAN SIKSA KUBUR

Pernah saya mendengar cerita, di suatu komplek pemakaman umum terjadi salah liang memakamkan dua jenazah yang meninggal dunia di hari yang sama. Cerita lengkapnya tersebut bahwa, pagi-pagi ada dua keluarga yang masing-masing memesan liang lahat untuk memakamkan jenazah keluarganya. Setelah mendapat tanda terima pelunasan biaya pemakaman dari petugas pemakaman; masing-masing perutusan keluarga pulang mengantongi bukti tentang penyelesaian administrasi pemakaman melaporkan ke keluarga utama dari si mayit.
Secara kebetulan kedua mayit mempunyai nama yang sama katakanlah Almarhum A. Keluarga Almarhum A yang satu datang mengiringkan mayat ke pekuburan sebelum shalat zuhur, langsung diterima petugas pemakaman umum dan ditunjukkan kavling makam blok B yang letaknya tidak jauh dari pintu gerbang komplek pemakaman. Jenazahpun langsung dimakamkan dan diupacarai sebagaimana mestinya di liang yang ditunjukkan petugas makam. Sedangkan jenazah almarhum A yang satunya lagi diantarkan keluarganya ke pemakaman setelah shalat zuhur. Petugas pemakaman langsung menunjukkan liang lahat di kavling blok D lompat satu blok dari makam almarhum A yang tadi dimakamkan sebelum shalat zuhur.
Keluarga dekat almarhum A yang mayitnya tiba di pemakaman setelah zuhur protes, karena mereka meminta kepada orang yang diutus ngurus pemesanan liang lahat agar siapkan liang lahat di kaveling B, kenyataan kenapa harus di kaveling blok D. Sebab di kaveling B sudah lebih dahulu meninggal dan dimakamkan Almarhum Ayah, ayah mertua dan Almarhumah Ibu serta isteri si mayit. Maksud keluarga yang masih hidup agar mereka di lahan pekuburan dapat bertetangga. Keluarga dekat almarhum sedikit berang kepada utusan yang ngurus pesan liang lahat. Tentu saja keberangan ini cukup memalukan bagi yang ngurus, sebab diomeli di suasana seperti itu dan banyak pengantar ikut mendengarkan. Dengan serta merta ia membuka kembali blanko aplikasi dan kwitansi bukti administrasi pemesanan liang lahat. Ternyata utusan yang ngurus liang lahat benar, dia tunjukkan bahwa ia sudah memesan liang lahat yang berlokasi di Blok B, selokasi dengan mendiang Ibu/Bapak, istri dan beberapa famili almarhum.
Berbekalkan bukti otentik tersebut, keluarga mayit menuju kantor pemakaman sementara jenazah diletakkan di tepi liang lahat di blok B dimaksud. Singkat cerita, petugas pemakaman kalah adu bukti tertulis dan hanya meminta kebijaksanaan agar pihak keluarga mayit bersedia memahami kesalahan tersebut, sebab tidak sengaja dan menempatkan jenazah di liang yang sudah tersedia di blok D. Tapi keluarga almarhum tetap bersikeras, tidak mau mengalah.
Kepala pemakaman akhirnya menghubungi pihak keluarga yang dimakamkan sebelum zuhur, menceritakan duduk perkara kesalahan liang tersebut dengan menunjukkan pada bukti tertulis autentik dan mengaku salah dan bahkan bersedia mengganti kerugian. Keluarga almarhum yang dikebumikan sebelum zuhur walaupun tadinya agak keberatan, setelah mendengar alasan serta terjadi negosiasi segi tiga yaitu pihak pemakaman, keluarga mayit almarhum A yang satu dan A yang kedua. Diputuskan sekitar pukul 2 siang jenazah yang terlanjur di kubur di Blok B digali, untuk kemudian dimakamkan di Blok D. Bersamaan dengan itu jenazah almarhum A yang tiba kepemakanan sesudah zuhur dimakamkan menggantikan jenazah A yang telah dimakamkan sebelum zuhur.
Seluruh hadirin pengantar keluarga besar jenazah A sesudah zuhur dan sebagian pengantar dan keluarga jenazah yang diantar ke makam sebelum zuhur, sama menyaksikan bahwa kain kafan jenazah yang digali yang baru terkubur kurang lebih 3 jam itu, sobek-sobek, compang camping seperti bekas sayatan cambuk yang begitu keras, sementara disekitar sobekan tersebut penuh dengan bercak darah. Tentu para penyaksi menjadi heran, karena semestinya orang sudah meninggal kendati dilukaipun tidak akan mengeluarkan darah. Masing-masing pengantar ke kubur ketika pulang penuh dengan tanda tanya apakah yang bersangkutan baru habis didera dengan cambuk merupakan siksa kubur. Tetapi demi menjaga kerahasiaan mayat dan setiap orang tidak mudah menceritakannya, sebab sudah semua maklum kalau menyangka yang macam-macam terhadap orang yang sudah mati adalah dosa, maka peristiwa tidak terpublikasi meluas, namun tetap saja jadi cerita dari mulut ke mulut.
Cerita ini kuangkat dari apa yang kudengar, tidak kulihat sendiri. Oleh karena itu akurasi kebenarannya dalam prosentase yang kecil. Kuangkatnya cerita ini lagi lantaran pada hari Jum’at tanggal 21 Jumadil Awal 1433H bertepatan dengan tanggal 13April 2012. Seorang Khatib di sebuah masjid di Jakarta Pusat memberikan khutbah antara lain menyangkut kebenaran siksa kubur. Setelah selesai khutbah kutanyakan kepada Khatib bolehkan cerita ini saya tulis di blog saya. Khatib tersebut menyatakan silahkan justru yang bersangkutan sangat menyetujui “ini kan termasuk dakwah” tambah ustadz yang bersangkutan.
Si ustazd belum lama ini diundang ke suatu daerah di luar Jakarta, oleh suatu panitia di daerah yang menginginkan beliau memberikan ceramah dalam rangka hari besar agama Islam. Panitia daerah tersebut agaknya mengenal sang ustadz melalui layar kaca di salah satu TV, kemudian mendapatkan alamat si ustazd dari pihak TV dan berhasil menghungi HP si Ustadz dan akhirnya diperoleh kesepakatan mengundang ustadz ke daerah selama 3 hari.
Acara selama tiga hari disusun padat, hari pertama ustazd harus naik podium 2 kali di dua masjid yaitu sesudah zuhur dan sesudah magrib. Hari kedua dirancang untuk naik podium di tiga masjid yaitu sesudah subuh, sebelum zuhur (waktu dhuha diminta ceramah mulai pukul 10) dan sesudah magrib. Hari ketiga diminta hanya 2 kali di masjid yang berbeda yaitu waktu setelah shalat subuh dan sebelum zuhur. Setelah shalat zuhur ustazd dengan seorang teman beliau akan diantar menuju bandara untuk pulang ke Jakarta. Sudah standar pelayanan panitia mendatangkan ustadz ke daerah menyediakan akomodasi penginapan dan antar jemput di dalam kota.
Persoalan yang menjadi titik berat kisah ini adalah pada acara hari kedua, tiba-tiba sekitar pukul tujuh ketika si ustadz sedang istirahat selesai sarapan di hotel, melalui HP mendapat kabar bahwa acara ceramah jam 10 terpaksa dibatalkan, karena tidak diduga keluarga dekat ketua panitia meninggal dunia ba’da subuh tadi, belum lama setelah mengantar ustazd ke hotel.
Walaupun batal acara ceramah, namun kehadiran ustazd ditengah keluarga yang sedang berduka tetap diminta dan sekaligus keberadaan ustazd dimohon memimpin shalat jenazah dan sampai dengan acara pemakaman. Tidak diketahui oleh shahibul musibah pengundang ustazd bahwa pada hari yang sama telah meninggal dunia juga seorang tetangga kampung di daerah sekitar bernama “Maimunah” (bukan nama sebenarnya), sedangkan keluarga dekat panitia pengundang ustazd yang meninggal adalah “Siti Maimunah” (Juga bukan nama sebenarnya).
Kebetulan keluarga almarhumah Siti Maimunah termasuk keluarga orang berada sehingga banyak sanak famili yang ditunggu kehadirannya sebelum almarhumah diturunkan dari rumah duka. Akibatnya pemakaman baru dapat dilaksanakan menjadi molor sesudah shalat zuhur, sempat dishalatkan di masjid dengan beberapa sambutan.
Peristiwa seperti cerita mayat almarhum A yang salah liang telah diceritakan di atas terulang, hanya beda sedikit kejadiaannya. Pemakaman di daerah itu ada kaveling depan dan kaveling belakang. Sebelum shalat zuhur telah dimakamkan jenazah almarhummah Maimunah di pemakaman kaveling depan yang telah di pesan keluarga Almarhumah Siti Maimunah. Ketika jenazah Siti Maimunah tiba ke pemakaman sesudah zuhur ternyata liang lahat yang dipesan di kaveling depan telah disemayamkan Almarhumah Maimunah. Betapa sewotnya keluarga Siti Maimunah kepada pengurus makam. Ustazd yang ikut hadir menenangkan “Sudahlah, sama saja di depan juga bumi Allah di belakang sana juga bumi Allah”, demikian spontan ustazd berfatwa. Malah salah seorang keluarga dengan emosi berteriak “Ustazd si hanya bisa ngomong”. Akhirnya si ustazd memilih diam dan selanjutnya beberapa orang dari keluarga mayit menuju pos kantor pemakaman yang hanya puluhan langkah dari lokasi kaveling depan. Entah apa yang mereka bicarakan, akhirnya pengurus makam berhasil membujuk keluarga almarhum Maimunah untuk memindahkan jenazah yang sudah kurang lebih tiga jam yang lalu dimakamkan. Pendek cerita makampun digali disaksikan sebagian keluarga jenazah yang telah dimakamkan lebih dahulu itu, serta keluarga dan pengantar jenazah yang siap menggantikan liang lahat kaveling depan itu.
Ustazd meneruskan khutbahnya, bahwa beliau menyaksikan sendiri bahwa muka jenazah yang baru saja dikeluarkan dari liang lahat lebam membiru. Dari telinga, dari mulutnya mengeluarkan darah serta dari mulut mengeluarkan beberapa binatang yang menjijikkan. Padahal seperti dimaklumi bahwa orang telah mati tidak akan mengeluarkan lagi darah dan mengapa sampai mukanya lebam membiru. Menyaksikan peristiwa ini membuat ustazd teringat akan sabda Rasululullah s.a.w. siksa kubur itu benar, bahwa pertanyaan Mungkar dan Nakir di alam kubur itu benar.
Saya teringat bahwa kepada kita sebelum salam ketika mengakhiri shalat diajarkan do’a oleh Rasulullah s.a.w. sebagai berikut:
“Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabil qabri, wa ‘adzabin naar, wa fitnatil mahyaa wal mamaat, wa syarri fitnatil masihid dajjal [Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan kejelekan Al Masih Ad Dajjal].” (HR. Muslim)
Jikalah tidak ada siksa di alam kubur tentulah tidak diajarkan oleh nabi Muhammad s.a.w. do’a seperti tersebut di atas.
Selanjutnya layak disimak sebuah hadits diriwayatkan oleh Ali bin Ma’bad dari Abu Hasim dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, “Ketika mayat diletakkan di dalam kubur, ia didatangi malaikat yang diutus Tuhannya dan bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’ Bagi orang yang diberi keteguhan oleh Allah, ia akan menjawab, Tuhanku adalah Allah.’ Ketika ditanya, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Agamaku Islam.’ Dan ketika ditanya, ‘Siapa nabimu?’ Ia menjawab, ‘Nabiku adalah Muhammad’ Merasa sebagai orang yang beruntung, ia berkata kepada malaikat, ‘Biarkan aku bertemu dengan keluargaku. Aku ingin menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka.’ Namun, malaikat berkata, tidurlah saja dengan tenang, kamu akan dipertemukan dengan teman-temanmu.’ Tetapi, bagi orang yang tidak diberi keteguhan oleh Allah, ketika ditanya oleh malaikat, ‘Siapa Tuhanmu?’, ia tidak bisa menjawabnya. Sehingga, ia lalu dipukul oleh malaikat, dan ia menjerit kesakitan yang suaranya bisa didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia. Lalu malaikat berkata, ‘Tidurlah dengan menderita.”
Cerita versi ustadz ini agaknya akurat, diangkat di dalam suatu khutbah Jum’at, akurasinya lebih tinggi ketimbang kisah yang saya dengar pada kasus jenazah A yang salah liang kaveling B dan D tersebut di atas. Besar sangkaan saya bahwa diantara pembaca banyak juga mendengarkan cerita yang mirip dengan cerita ini dan bahkan mungkin ikut menyaksikan.
Semoga kita semua dilindungi Allah dari azab siksa kubur, tentu dengan: Selagi sehat afiat, selagi kuat, selagi mampu, selagi muda selagi berpunya; gunakanlah sebaik-baiknya untuk menjauhi seluruh larangan Allah dan sekuat dan semampu kita melaksanakan perintah-perintah Allah. Insya Allah Tuhan akan memberikan keteguhan di alam kubur, sehingga mudah-mudahkan terluputlah kita dari siksa kubur.
Suatu kejadian yang berlawanan sangat, dengan kedua peristiwa di atas, ada jenazah seorang yang taat telah puluhan tahun terkubur di suatu lahan yang karena pelebaran jalan di Jakarta, makam harus dipindahkan. Salah satu jenazah yang sudah terkubur lebih duapuluh tahun ketika digali akan dipindahkan, jangankan jasad jenazah, kain kafan pembungkusnyapun masih utuh, hanya tentu sudah melapuk. Setelah dirunut ia adalah jenazah seorang tukang jual es cendol yang semasa hidupnya tidak tinggal waktu dalam shalat dan amalan utamanya adalah membaca Al-Quran disela sela waktu jeda ketika setelah melayani pemesan cendol.
Wallahu a’lam bi shawwab


Wednesday, 11 April 2012

POTRET WARGA METROPOLITAN DARI BAWAH

Mencari penghidupan di Jakarta memang cukup menjanjikan. Berceritalah seseorang pulang lebaran di kampungnya: “di Jakarta dengan berkipas-kipas saja duit masuk”. Rupanya siempunya cerita di Jakarta sebagai pembantu tukang jual sate yang membangun tenda di trotoar menjelang magrib sampai sekitar pukul sepuluh malam. Lumayan honor sebagai tukang kipas membakar sate, cukuplah untuk buat makan, dan ngontrak kamar kos serta sedikit nyimpan buat pulang lebaran.
Ada lagi yang bercerita ke tetangganya di kampung, bahwa di Jakarta hanya dengan goyang-goyang kaki saja udah ngasilkan uang. Ini bidang tugas penjait kelililing. Di Jakarta ada penjait yang mesinnya dikemas dalam sebuah kendaraan sedemikian rupa dibawa keliling lorong-lorong. Saban hari ada saja orang yang memperbaiki retsleting, permak pakaian atau reparasi pakaian lepas jaitannya. Usaha inipun cukup mendatangkan penghasilan, cukup buat makan, pakaian dan ngisi HP serta ongkos sewa tempat tinggal, sedikit nyimpan buat pulang lebaran.
Lain lagi cerita tukang sayur, dia bilang ketika mudik lebaran di kampungnya bahwa kerjanya di Jakarta hanya jalan-jalan pagi, sampai sekitar pukul sepuluhan. Udah itu istirahat, itu saja udah cukup untuk belanja harian, bahkan dapat ngirim keluarga di kampung. Rupanya sengaja tidak di ceritakan bahwa sambil jalan ia mendorong gerobak berisi aneka keperluan dapur ibu rumah tangga yang ogah ke pasar sendiri. Memang tukang yang satu ini agak kurang jujur, sebab ia teriak “sayur-sayur” atau “yur..... yur”. Ternyata yang bersangkutan tidak hanya membawa sayur dalam gerobaknya. Di bawa dan dijualnya ke ibu-ibu rumah tangga, segala macam jenis ikan, daging dan bumbu-bumbu dapur serta buah-buahan. Tapi yang disebut hanya sayur saja. Lumayan penghasilan mereka dalam sehari dengan jam kerja mulai sekitar pukul 5 dinihari ke pasar tradisional untuk membeli barang dagangan termasuk pesanan ibu-ibu langganan. Sekitar pukul 7 pagi setelah semua sayur dan bahan dagangan dikemas per paket sesuai kebiasan membeli para ibu rumah tangga, iapun mendorong gerobaknya masuk gang keluar gang dan sekitar pukul sepuluhan tinggal hitung untung hari itu.
Sementara itu kehidupan lain yang bukan memproduksi barang atau jasa yang dapat dinikmati secara phisik seperti halnya tukang sayur, penjait kelililing dan pengipas sate, yaitu adalah pengamen. Profesi ini cukup banyak yang menekuninya, lebih banyak ketimbang profesi tersebut di atas. Karena justru penghasilannya cukup menjanjikan.
Wilayah operasi profesi pengamen, di lampu pengatur lalu lintas, di dalam bis-bis kota, dipintu toko-toko di warteg dan juga dari pintu ke pintu rumah. Tidak kurang Pemda DKI ada perda no. 8 tahun 2007 yang mengatur bahwa dikenakan sanksi pagi pengamen di jalan-jalan juga kepada yang memberi uang kepada pengamen, karena dapat mengganggu ketertiban umum.
Bermacam sarana yang dipergunakan untuk ngamen, mulai dari alat musik, seperti gitar, gendang, bahkan hanya botol diisi pasir dan tidak jarang ada yang sedikit modal dengan menggendong radio tape berisi kaset lagu-lagu. Atau menyewa orang buta dan tidak sedikit menyewa bayi untuk digendong sebagai media ngamen.
Teknik mengamenpun macam-macam diantaranya:
 Ada seorang atau beberapa pemuda di dalam bis kota setelah mengucapkan selamat siang atau salam agama salah seorang, langsung nyerocos “saya baru saja keluar dari penjara, dihukum karena menodong, dari pada saya kambuh lagi tolong bagi yang punya receh berikan buat saya untuk sekedar penyambung hidup”. Kontan saja para penumpang terutama kaum wanita, tak banyak pikir merogoh tas cari uang logam apalagi lihat tampang seram ybs dan tato menghiasi pergelangan sampai ke siku.
 Ada pula yang model memelas dan menghiba, dengan wajah sayu dan sedikit menyandang cacat diiringi seorang pebayu(pembantu=menuntun), bahasanya sederhana, kasihan pak, untuk makan-untuk makan sambil tangannya ditadahkan atau membawa wadah untuk nampung logam dari yang hatinya iba.
 Banyak jumlahnya yang berombongan dua atau tiga orang, dengan peralatan musik seperti gitar dan gendang. Ucapan mereka lain lagi. “Selamat (siang atau sore) maaf kehadiran kami menggangu para penumpang. Terimakasih bapak supir telah memberikan tumpangan kepada kami mencari sekedar rezeki penyambung hidup, ijinkan kami menghibur para penumpang sekalian” gitarpun dipetik dan lagupun dilantunkan. Biasanya dua lagu, akhir lagu kedua seorang diantara mereka membawa wadah dari plastik agaknya khusus tidak transparan sepertinya tebal. Selesai lagu kedua, penumpang telah dipetik sumbangannya dari haluan sampai belakang bis, merekapun turun dari bis itu untuk naik lagi di bis yang di belakang. Begitulah seterusnya sampai seharian mengituti rute bis kota. Jangan heran kalau baru saja turun rombongan satu di bis yang kita tumpangi akan naik rombongan lain.
 Tidak terhitung jumlahnya yang memilih lahan operasi dari toko-ke toko dari gang ke gang pintu ke pintu dengan berbagai model antara lain tersebut di atas.
 Banyak komersialisasi cacat phisik kadang dibuat-buat, kakinya borok padahal diperban dengan tape singkong. Menggendong anak kecil dan pura-pura buta dan macam-macam cacat.
Ternyata bahwa penghasilan per hari pengamen di bis kota di Jakarta tidak kurang dari Rp 300 ribu perhari sebulan mencapai Rp 9 jutaan. Jauh lebih tinggi dari gaji seorang hakim yang baru masuk. Tidak heran kalau pekerjaan ini diminati banyak orang. Terdapat beberapa kawasan masih di sekitar DKI yang penduduknya mengambil bidang kalau ini boleh disebut profesi yaitu pengamen atau pengemis.
Alasan umum mereka adalah dari pada menjadi maling, merampok, lebih baik ngamen. Hasilnyapun tidak sedikit. Dari pada bekerja membanting tulang memeras keringat belum tentu hasilnya sebegitu menjanjikan. Modal utama pekerjaan ini hanya berani merendahkan harga diri. Bagi yang menjaga harga diri itulah mereka yang mengambil bidang “Kipas-kipas”, “Goyang-goyang kaki”, “jalan-jalan pagi”
Bagi yang enggan harga dirinya “ternadirkan” banyak juga mereka lebih baik memilih jadi pemulung. Lama kelamaan jadi pemulung, bila sudah bermodal meningkat jadi pembeli barang bekas dengan sarana grobag. Lebih meningkat lagi karier sebagai pemulung adalah pengumpul barang bekas, yaitu membeli dari para pemulung biasanya bos pemulung ini sudah punya lahan untuk menimbun barang-barang bekas.
Mata pencarian seperti ini belum mendatangkan hasil yang baik bila dikerjakan di daerah-daerah kecil di Indonesia. Hanya Jakartalah kota yang benar-benar menjanjikan untuk usaha seperti disebut di atas, itulah sebabnya maka Jakarta jadi kebanjiran penduduk. Tiap sehabis mudik, jumlah warga yang masuk Jakarta mesti ada peningkatan dibanding jumlah yang keluar Jakarta ketika mudik.




Tuesday, 3 April 2012

MEMBISNISKAN RASKIN


Menyoal bikin singkatan, rupanya bangsa kita lumayan cerdas. Contoh Pemilihan Umum disingkat PEMILU (dipatut-patut, benar juga membuat menjadi pilu=sedih). Pemilihan Kepala Daerah disingkat PILKADA, seperti sejenis obat, jika dikaji lebih jauh, benar juga, buat sekedar obat bagi rakyat adalah pembaruan janji akan perbaikan nasib.
RASKIN singkatan dari Beras untuk orang-orang miskin. Sepintas sepertinya adalah penggolongan keturuan manusia seperti RAS “Mongolia” RAS “Asia” RAS “Eropa”. Tetapi benar juga penggolongan masyarakat yaitu masyarakat miskin, masyarakat kaya mungkin dapat disingkat RASYA (golongan RAS masyarakat kaya). Jika kelompok koruptor disingkat; jadinya “RASTOR”. Untuk yang satu ini nampaknya padanan singkatannya “KOTOR” (Kelompok Orang Kotor).
Bicara soal miskin, sepertimya selama dunia ini terkembang tetap saja masih ada. Karena orang miskin merupakan media bagi orang kaya untuk lahan amal. Dilain pihak orang kaya untuk orang miskin mendapatkan rezeki. Bagaimana kalau didunia ini tidak ada orang miskin, tentu tidak ada orang yang akan menjadi buruh, semuanya jadi bos.
Di dalam kaidah agama “miskin” adalah: “siapa pun dan di mana pun berada, jika seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok (primer)nya, yaitu sandang, pangan, dan papan, dapat digolongkan pada kelompok orang-orang yang fakir ataupun miskin. Oleh karena itu, setiap program pemulihan ekonomi yang ditujukan mengentaskan fakir miskin, harus ditujukan kepada mereka yang tergolong pada kelompok tadi. Baik orang tersebut memiliki pekerjaan tetap, tetapi tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya dengan cara yang makruf, yakni fakir, maupun yang tidak memiliki pekerjaan karena PHK atau sebab lainnya, yakni miskin”
Menurut acuan pemerintah : Seseorang baru dikatakan miskin bila pengeluaran per kepala per bulan di bawah Rp211 ribu. Badan Pusat Statistik = Bilamana jumlah rupiah yang dikeluarkan atau dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kurang dari 2.100 kalori perkapita.
Sedangkan Bank Dunia “miskin” adalah “Tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan 1,00 dolar AS perhari”.
Masyarakat RAS orang-orang miskin itu kini oleh pemerintah diberikan beras saban bulan dengan harga yang murah yaitu menurut keadaan bulan Maret 2012 seharga Rp 18.000 buat sepuluh liter.
Rupanya terdapat juga peluang bisnis dalam arena pembagian beras miskin ini, karena ternyata tidak semua orang yang mendapatkan kupon RASKIN itu benar-benar miskin. Tidak semua orang miskin punya duit sebesar Rp 18 ribu, juga tidak semua oang miskin dapat kupon. Jadi kelompok miskin ibu kota Jakarta menurut mengamatan pembantu rumah tangga saya dapat digolongkan menjadi:
1. Orang miskin terdaftar, yang bersangkutan punya KTP DKI di tempat dia tinggal baik mengontrak maupun punya rumah sederhanya sendiri. Punya penghasilan ala kadarnya sehingga kalau untuk menebus RASKIN masih ada kesanggupan.
2. Orang miskin tidak terdaftar, meskipun dia punya KTP DKI tapi dianya tidak tinggal sesuai data KTP-nya sehingga tidak mendapatkan kupon baik di mana dia terdaftar sebagai penduduk, mapun di mana dia tinggal.
3. Orang miskin terdaftar, tetapi giliran mendapatkan kupon RASKIN yang bersangkutan tidak punya duit sebesar Rp 18 ribu.
4. Orang yang terdaftar miskin, semestinya yang bersangkutan tidak miskin-miskin amat, kelompok ini ogah makan RASKIN. Kalaupun ditebusnya juga langsung dilempar ke pengumpul di pasar beras.
Sehubungan dengan itu terbukalah peluang binis RASKIN. Biasanya kelompok masyarakat miskin ini punya solider lebih tinggi dari penduduk kaya. Bagi kelompok 2 (dua) di atas, akan dapat berbisnis dengan kelompok 3 dan 4. Kelompok 2 menerima kupon dari kelompok 3 atau 4 hanya memberikan imbalan sebesar Rp 5 ribu per kupon. Dalam hal tidak ketemu sesama miskin yang tak punya kupon, maka kelompok 3 terpaksa datang ke pengumpul di pasar beras, menunjukkan koponnya untuk menerima uang sebesar sampai Rp 25 ribuan satu kupon berasnya dalam kantong 10 liter itu langsung diserahkan ke pengecer beras. Oleh pengecer beras RASKIN di ecer dengan harya Rp 4 ribu seliter. Hitung-hitung sama-sama untung, pengecer dengan menunggu sampai RASKIN laku dapat untung sekitar Rp 15 ribuan dalam sepuluh liter, sementara si pemilik kupon dapat tambahan uang jajan Rp 7 ribu, yaitu bakal nebus Rp 18 ribu uang Rp 25 masih sisa Rp 7 ribu, tapi tidak dapat beras. Buat kelompok 4 ndak jadi soal biar tidak dapat beras, juga toh ia biasa makan beras pulen yang Rp 7 ribuan per liter, langsung saja kupon diserahkan ke orang lebih miskin tidak punya kupon dengan imbalan Rp 5 ribu atau ke pengecer beras dapat imbalan Rp 7 ribu.
Lain lagi penebus RASKIN yang sedikit ada duit seperti kelompok 1. RASKIN ditebus kemudian beli juga beras pulen yang Rp 7 ribuan, sekira 2 literan. Raskin 10 liter dioplos dengan 2 liter beras pulen, konon makannya agak enak. Kalau langsung RASKIN dimasak “PERAK Banget” kata yang empunya cerita. Biasalah yang namanya miskin lauk pauknya pun kan sederhana, kalau nasinya “PERAK” sudahlah makan jadi ngak enak.
Sampai kapankan rakyat Indonesia ini tetap masih banyak yang miskin padahal negara ini paling terkaya di unia, apa saja ada. Apakah karena keberkahan dinegeri ini sudah tercabut. Pembacalah yang dapat menjawabnya.