Tuesday, 24 May 2011

TUJUH LANGKAH MENCAPAI KEMULIAN

Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia. Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia. Demikian lirik nyanyian mengiringi suatu peringatan ulang tahun, baik secara kecil-kecilan dilingkungan keluarga atau dibesarkan dengan mengundang kerabat handai taulan.

Syahdan tersebut kisah bahwa upacara ulang tahun ini berawal di era nabi Yacob. Beliau mempunyai anak belasan orang, sehingga hampir setiap bulan diadakanlah upacara ulang tahun buat masing-masing anaknya. Giliran anak-anak beranak lagi, maka ulang tahun pula buat cucu-cucu beliau dan akhirnya setiap hari ada upacara ulang tahun. Kadang sehari dua kali, karena ada saja cucu yang kurang suka kalau ulang tahun mereka digabung, mungkin orang tua mereka juga enggan menggabung pembiayaan ulang tahun dan upacaranya. Ada kebanggaan sendiri kalau upacara dilaksanakan masing-masing agar beda satu dengan yang lain. Barangkali juga telah terjadi status sosial yang bertingkat. Al hasil hari ulang tahun adalah merupakan “hari besar” bagi yang berulang tahun. Selanjutnya diriwayatkan nabi Yacob memohon kepada Allah agar diberikan kepada anak cucu mereka “hari besar” yang seragam. Do’a itu diqabul Allah terjadilah buat orang muslim dua hari besar yaitu hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Pada hari raya idul fitri masing-masing orang muslim bagaikan lahir kembali, sedangkan di hari raya idul adha merayakan bahwa orang muslim yang diberi hidup dan mempunyai kemampuan/kekayaan merayakannya dengan berqurban.

Pesan pokok dari ulang tahun adalah ingin agar yang berulang tahun mendapatkan kemuliaan seperti do’a dalam lirik nyanyian di atas. Persoalannnya bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk mencapai kemualiaan itu.

Menurut referensi Alqur’an kemulian itu dapat digapai diantaranya dengan tjuh langkah yaitu:

1. Berjalan dimuka bumi dengan rendah hati tidak dibuat-buat, tidak pamer dan tidak sombong, tidak melengos bila bertemu sesama. Seperti diatur dalam Al-Furqaan 63.




Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Makna ayat ini bukanlah berarti bahwa orang muslim yang ingin meraih kemulian harus berjalan tertunduk-tunduk, dengan pakaian lusuh/kumuh. Tetapi Rasulullah memberi contoh seperti yang diungkap oleh Abu Hurairah bahwa jalannya nabi gagah/tegap dan tenang serta beliau berpakaian serta berpenampilan selalu rapi.

Benar juga bila kita dengan pakaian lusuh, dekil, bau sementara berjalan lesu, tentu pandangan manusia tidak akan simpatik kepada kita, bagaimana mungkin kita mendapat kemulian dari sudut pandang manusia. Walaupun hamba Allah yang beriman tidaklah mengharapkan padangan manusia, tetapi jangan sampai menimbulkan kesan orang yang taat kepada Allah itu orang-orang lemah, orang-orang kumuh. Haruslah kita tampilkan bahwa Islam agama yang mengajarkan kepada ummatnya harus gagah, harus bersih dan sehat. Selanjutnya bila ada orang yang jahil yaitu orang-orang yang belum mempunyai pengetahuan menyapa mereka dengan sapaan yang kurang baik, maka ia sanggup menyampaikan kata-kata yang baik mengandung keselamatan.

2. Mengerjakan shalat tahajud sebagai tambahan shalat yang diwajibkan, antara lain di infromasikan Allah di dalam surat Al Isra 79

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

Orang-orang yang mulia tidak mengharapkan kemulian dan sanjungan dari manusia, ia hanya mengharapkan kemuliaan yang datang dari Allah. Dengan bersembahyang tahajjud di malam hari diwaktu mana sebagian manusia sedang tidur, ia bersembahyang. Jelas bahwa sembahyangnya tidak dimaksudkan diketahui oleh orang lain, hanya dia dengan Allah saja yang mengetahui tentang sembahyangnya tentang do’a dan dialognya kepada Allah. Kalaulah ada orang yang tau mungkin hanya keluarga seisi rumah. Keteguhan pendirian yang hanya menggantungkan diri kepada Allah semata inilah yang membuat pribadi yang bersangkutan tidak mengorbankan harga dirinya untuk meminta kepada manusia. Karena dengan meminta kepada manusia, kadang kemulian diri dipertaruhkan. Ia berusaha di dalam menjalani hidup ini memandang sesama manusia adalah sama dan jikalah terjadi interaksi yang bermuara kepada mendapatkan rezeki yang disebabkan oleh hubungan dengan manusia dipandang adalah datang dari Allah dengan sebab hubungan dengan manusia dari mana datangnya rezeki tersebut.

3. Kesederhanaan dan keseimbangan kehidupan, tidak kikir dan tidak boros, seperti termaktub dalam surat Al-Furqaan 67

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Adalah kewajiban orang muslim untuk membelanjakan sebagian hartanya untuk keperluan orang lain dan untuk kemaslahatan manusia serta hal-hal yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Orang yang kikir akan dikucilkan masyarakat dan terjauhlah ia dari kemulian menurut pandangan manusia, sementara dalam pandangan agama terkelompok mendustakan perintah Allah. Jika mendermakan harta terlalu boros, kemungkinan akan timbul perasaan ingin dipuji sesama manusia (riya) dan juga mungkin saja mengabaikan keperluan sendiri, padahal diri sendiri perlu diperhatikan kemudian keluarga, barulah kerabat dekat dan masyarakat. Jika dengan keborosan tersebut yang bersangkutan akhirnya malah jatuh miskin, bukannya kemulian yang didapat bukan mustahil kehinaan yang diperoleh.

4. Menjaga kemurnian tauhid, tidak membunuh, tidak berzina, (Al Furqaan 68)

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),

Tidak menyembah Tuhan yang lain selain Allah

Orang yang hanya menyembah kepada Allah hidup mereka merdeka, tidak tergantung kepada yang selain Allah. Ia tidak akan merasa rendah dihadapan orang yang berpangkat setinggi apapun. Ia tidak merasa hina dihadapan orang yang dinilai bangsawan. Ia tidak merasa miskin biar berhadapan dengan orang sekaya apapun. Ia tidak akan merasa jelek biar berhadapan dengan orang serupawan apapun, kerena dia tau bahwa ia diciptakan dengan sebaik-baik kejadian. Siapakah yang dapat merendahkan atau meremehkan orang seperti ini. Sifat seperti inilah salah satu wujud pencapaian kemulian yang hakiki.

Tidak membunuh Jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar.

Membunuh jiwa orang lain, miskipun tidak diketahui orang, alhasil dapat bersembunyi, setelah melakukan pembunuhan, atau membunuh dengan cara yang tidak diketahui. Bagaimanapun diri sendiri mengetahui dan akan mersa terbebani dan kemanapun pergi dan bersembunyi merasa diri ini terhinakan, jauh dari kemulian. Apalagi membunuh dengan cara yang belakangan ini didunia banyak dilakukan kelompok teroris. Jikapun pelaku dapat melarikan diri ia akan dikejar-kejar dan kalaulah si pelaku sekaligus mati bersamaan dengan dengan target (bom bunuh diri), maka disamping ybs dihinakan orang sampai jenazahnyapun kampung halaman sendiri tidak mau nerima, kasihan keluarga yang ditinggalkan ikut-ikut kena getahnya mendapat pandangan tak baik dari masyarakat. Kesemua perbuatan itu menjauhkan diri dan keluarga dari kemuliaan.

Tidak berzina

Banyak penyakit yang menimbulkan kehinaan disebabkan perbuatan zina, selain itu akan merusak rumah tangga. Bangsa terdiri dari sekumpulan rakyat dan rakyat terdiri dari sekumpulan keluarga, keluarga adalah kumpulan dari rumah tangga. Bila rumah tangga berantakan karena perbuatan zina maka akan merembet ke keluarga, masyarakat dan bangsa. Apalagi bila dari perbuatan zina berbuah keturunan, maka keturuan dan yang menurunkan keturunan itu akan mendapat kehinaan sepanjang hidup, terjauhlah dari kemuliaan.

5. Jujur, tidak memberikan kesaksian palsu, (Al Furqaan 72)

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Jujur

Jujur adalah fitrah manusia, jika seorang manusia melakukan perbuatan tidak jujur justru ia melanggar fitrahnya sendiri. Selain itu orang lain akan menilai seseorang jujur atau tukang bohong. Alangkah sedihnya biila seseorang sudah mendapat stempel tukang bohong maka apa saja yang dijanjikannya orang tak percaya, apa saja diomongkannnya orang tidak percaya pada gilirannya yang bersangkutan akan terkucil di pergaulan hidup, pergaulan bisnis, kemana mana dicemooh orang, kata pepatah “dekat ditunjuk orang dengan mulut jauh ditunjuk orang dengan telunjuk” hati hati dia tukang bohong tidak jujur. hati-hati berbisnis dengannya. Orang yang demikian itu akan terjauh dari kemuliaan dan dekat dengan kehinaan.

Kesaksian Palsu

Allah mengetahui benar bahwa di dalam pergaluan hidup masyarakat, mesti akan terjadi periswa yang memerlukan kesaksian. karena itu dituntun dengan ayat dalam al-Quran. Sejak dari orang membentuk rumah tangga, perlu kesaksian berupa saksi nikah. Selanjutnya dalam pergaulan hidup akan terjadi silang sengketa tak jarang sampai harus melalui putusan seorang hakim. Bila harus sampai di peradilan, hakim akan memutus dengan menggunakan perangkat bukti dan saksi. Alangkah malangnya orang yang berperkara bila para saksinya tidak jujur, yang seharusnya menang dapat kalah, yang harus kalah boleh jadi menjadi menang. Akibat saksi tidak jujur akan merancukan hakim dalam memutus perkara, dapat saja orang yang tidak bersalah akan menerima hukuman sebaliknya orang yang bersalah mendjadi bebas. Terlepas dari ancaman akhirat yang dahsyat bagi orang memberikan kesaksian palsu, didunia inipun ia sudah mendapatkan kehinaan baik dari dirinya sendiri yang secara fitrah adalah jujur, maupun dari masyarakat yang mengetahui bahwa kesaksian nya adalah palsu, dengan demikian sanksi dari masyarakat dia dihinakan, terjauh dari kemulianaan.

6. Orang yang sadar ketika diingatkan (Al Furqaan 73)

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta.

Suatu penyakit jiwa atau penyakit diri seseorang yang dapat membawa yang bersangkutan kepada kehancuran/kehinaan adalah pantang dikoreksi, merasa diri selalu benar, merasa diri selalu pintar. Orang yang akan meraih kemulian adalah orang yang menerima peringatan apalagi peringatan itu dari Allah dan Rasul-Nya. Peringatan dari sesamapun akan dipertimbangkan, jika merupakan sesuatu yang membawa kepada kebaikan. Manusia yang mau menerima peringatan ini akan senantiasa menyadari bahwa hidup ini tidak semua dapat dialami sendiri, apasalahnya memetik pengalaman orang lain berupa peringatan dan nasihat agar ia dapat menjalani hidup dengan selamat dunia dan akhirat. Orang yang selalu mau mendengarkan peringatan akan mendapat kemulian didunia dan akhirat. Didunia dia menjalani hidup dengan penuh hati-hati sebab peringatan orang yang pernah mengalaminya ia terima dan dijadikan panduan, sedang di akhirat nanti telah ditunggu dengan rahmad Allah kerena dia selama hidup mengikuti peringatan Allah yang sudah pasti kebenarannya.

7. Senantiasa mengamankan keturunannya menjadi orang taqwa (Al Furqaan 74)

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Do’a adalah permintaan, sekaligus harapan kadang juga adalah kemitment. Seorang yang mengucapkan do’a kepada Allah terkandung harapan agar Allah mengabulkan seperti apa yang di mintanya dalam do’a. Untuk terwujudnya permintaan di dalam do’a tersebut haruslah dengan gigih mengupayakan agar do’a itu terkabul. Dalam kaitan ayat di atas seseorang agar mendapatkan kemulian, ia mendo’akan agar dianugerahi Allah isteri dan anak-anak yang menyenangkan hati beriman dan menjadi pemimpin orang yang taqwa. Untuk mengupayakan itu haruslah berusaha agar isteri dan anak-anak mendapatkan pendidikan untuk mengejar do’a itu. Bila anak dibimbing dididik dengan didikan sesuai ajaran Allah dan Rasul, insya Allah kelak benar-benar do’a tersebut akak terkabul. Bila do’a terkabul maka orang tersebut akan mencapai kemulian, karena kesuksesan anak, keutamaan budi pekerti anak, kemulian ahlak anak-anak akan berdampak kepada kemuliaan orang tua. kemuliaan bukan saja hanya didunia karena anak-anak yang shaleh do’a mereka akan terus memberikan manfaat bagi orangtua mereka kendatipun sudah berada di alam barzah. Kadang ada orang tua yang sengaja memberikan pendidikan anak-anak mereka kelingkungan yang bukan Islami, dengan berbagai alasan. Misalnya alasannya disiplinnya, kesuksesan hidup dalam percaturan kemewahan hidup didunia. Setelah dewasa si anak menjelma menjadi manusia yang tidak menjadikan pola hidupnya berdasarkan ajaran agama Islam. Sementara bapak selalu dan terus menerus ber do’a seperti tersebut di atas, tentu upaya dengan do’a tidak sejalan. Do’a haruslah realistis sesuai kewajaran. Ekstrimnya tidak mungkin seorang menanam bibit jambu mendo’akan agar tumbuh nanti pohon apel. Do’a yang realistis adalah agar bibit jambu yang ditanam tumbuh subur dan berbuah lebat.

Wednesday, 18 May 2011

BELAJAR BERKESINAMBUNGAN

Kehidupan didunia ini rupanya tidak sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. Benar hadist Rasulullah Muhammad s.a.w “Udlubul ilma mahdi illal lahdi”, menuntut ilmu sejak buaian sampai liang lahad.

Secara alamiah manusia setelah berumah tangga umumnya dikarunia anak, kadang putra dan putri kadang semua laki-laki dan ada juga semuanya perempuan. Apapun anak yang dikaruniakan Allah, secara kodrati mereka kelak akan berumah tangga, meneruskan siklus kehidupan sebagaimana orang tuanya. Tibalah saatnya sebuah keluarga mengenal keluarga lainnya, datang anggota keluarga baru yaitu mantu. Mantu atau menantu adalah anak orang lain, orang tua mantu disebut dengan BESAN. Besan kadang semula sama sekali tidak kita kenal sebelumnya, kadang lain suku bangsa, kadang lain etnis, bahkan kini di era globalisasi kadang lain bangsa.

Persoalannya adalah setiap suatu rumah tangga, dengan rumah tangga lainnya, meskipun sedikit mesti ada perbedaan kultur, ada perbedaan nilai-nilai yang dianggap baik, disisi lain nilai-nilai yang dianggap baik tersebut belum tentu di keluarga lain dianggap baik pula. Tidak jarang nilai-nilai yang dianggap baik di suatu keluarga dianggap kurang baik, bahkan sesuatu dianggap tercela oleh keluarga yang lainnya.

Sejatinya sesuai pokok pikiran di atas bahwa belajar sejak hidup sampai mati itu meliputi seluruh kegiatan hidup antara lain belajar beristeri, belajar beranak, belajar bermenantu, belajar bercucu, belajar berumah, belajar bertetangga dan seterusnya. Saya sedang menulis buku Insya Allah dalam waktu dekat terbit, yaitu mengupas salah satu aspek belajar fokus hanya “Belajar Berbesan”, suatu sub bagian kecil dari yang harus dipelajari sejak hidup sampai mati oleh manusia.

Guna menyusun topik “Belajar Berbesan” disusun dalam bagian-bagian sebagai berikut:

Bagian Pertama, lamaran. Mengungkapkan pelajaran bagaimana melakukan pelamaran, jika kebetulan dipihak laki-laki. Kebanyakan istiadat di Indonesia pihak yang melamar adalah pihak laki-laki, walau kadang ada istiadat yang melamar adalah pihak perempuan. Di dalam bagian ini juga diungkapkan tentang bagaimana cara menerima lamaran dalam hal berada dipihak perempuan.

Bagian kedua, menetapkan hari/tanggal pernikahan. Bagian ini menngisahkan bagaimana lika-liku yang sering terjadi berupa negosiasi antara kedua keluarga, untuk menentukan saat yang tepat untuk melaksanakan pernikahan. Meliputi waktu, hari tanggal dan tempat. Persoalannya akan seru jika kedua belah pihak mempunyai sudut pandang yang berbeda, status sosial yang berbeda, istiadat yang berbeda.

Bagian ketiga, mencetak undangan. Teknik pencetakan undangan, tidak jarang menimbulkan masalah, dampaknya bukan saja dirasakan pada dalam jangka pendek, begitu acara selesai, tapi kadang berujung seumur hidup. Tak jarang gara-gara pencetakan undangan ini keluarga yang baru saja dibina menjadi retak ada diataranya sampai pecah berantakan.

Bagian keempat, prosesi nikah. Nikah adalah suatu yang dianggap sakral, kaitannya erat dengan agama dan keyakinan yang dianut, ini juga diungkap untuk memahaminya, karena tidak jarang berbesan menjadi batal lantaran tak didapat kesepakatan dalam bernegosiasi prosesi nikah. Atau ada pasangan akhirnya nikah tanpa kehadiran orang tua disalah satu pihak, bahkan kadang dua belah pihak.

Bagian kelima, prosesi pesta nikah. Lazim di Indonesia bahwa nikah dan pesta nikah dilaksanakan terpisah tempat dan waktunya. Prosesi pesta nikah kadang lebih besar dibanding akad nikah. Penampilan dalam prosesi pesta nikah condong didominasi oleh istiadat mempelai. Ada yang condong istiadat mempelai wanita dan ada yang condong pada adat mempelai pria. Disini perlu dilakukan pembelajaran agar semua berjalan lancar, agar tiada pihak yang merasa “tidak diorangkan”. Untuk mengetahui hal-hal tersebut bagian ini akan mengungkap sejauh mungkin.

Bagian keenam, syair/pantun melamar.

Syair/pantun dituturkan oleh juru bicara pihak pria di upacara lamaran di kediaman si gadis terlamar. Di bagian ini diberikan contoh secara lengkap susunan syair atau pantun melamar dimaksud, pembaca yang akan melamar dan ingin memetik contoh syair atau pantun dimaksud dapat mengubah sesuai dengan keperluan.

Bagian ketujuh, syair/pantun jawaban lamaran.

Syair/pantun dituturkan oleh juru bicara pihak si gadis terlamar, sebagai jawaban atas syair/pantun yang diucapkan oleh juru bicara pelamar. Bagain ini dimuat contoh lengkap redaksi syair atau pantun jawaban lamaran dimaksud se-olah-olah keadaan senyatanya. Bagi pembaca yang anak gadisnya dilamar dan ingin menerapkan model ini dapat memetik contoh dimaksud dengan menyesuaikan dengan keadaaan sebenarnya.

Bagian kedelapan. Syair/pantun dialog.

Syair/pantun di bagian ini, adalah bila dalam acara pelamaran dikehendaki oleh para pihak (pelamar dan terlamar) upaca lamaran dalam wujud dialog syair/pantun (lazim disebut berbalas pantun). Bagian ini memuat redaksi syair/pantun berdialog tersebut, dengan memberikan contoh penggalan/jeda setelah berapa bait masing-masing pihak melantunkan syair/pantun kemudian dibalas pihak lainnya. Bagi pembaca yang akan merajut besan, ingin menggunakan model ini dipersilahkan memetik contoh tersebut dengan memodipikasi sesuai keadaan sebenarnya.

Bagian kesembilan, susunan panitia pihak pria

Memuat susunan kepanitian yang diperlukan oleh pihak keluarga pria sejak mulai melamar, pelaksanaan akad nikah sampai ke pesta pernikahan. Pada bagian ini disusun kepantian terdiri atas ketua, bendahara, sekretaris dan para koordinator serta dilengkapi uraian tugas masing-masing personil panitia.

Bagian Kesepuluh, susunan panitia pihak wanita

Dibuat terpisah bagian kesembilan dan bagian kesepuluh, karena susunan kepanitian pihak pria dan pihak wanita sedikit ada perbedaan. Dimaklumi bahwa di dalam acara pernikahan, sejak melamar, akad nikah sampai ke pesta pernikahan pihak wanita sebagai pihak “ketempatan”. Di bagian ini disusun kepanitian terdiri atas ketua, bendahara, sekretaris dan seksi-seksi serta koodinator dilenghkapi dengan fungsi masing-masing.

Bagian kesebelas, susunan acara

Di Bagian ini disusunkan acara-acara yang lazim dilakukan ketika acara lamaran, acara akad nikah, dan pesta pernikahan. Dilengkapi panduan tentang kapan seorang pembawa acara memandu acara dengan infoirmasi yang seharusnya disampaikan. Disamping itu dimuat pula secara singkat tetapi rinci tentang pokok-pokok sambutan dari para pihak yang harus berbicara di dalam acara pelamaran, acara akad nikah dan pesta pernikahan.

Bagian keduabelas, contoh redaksi undangan

Redaksi undangan adalah utama dan penting, justru acara tidak akan ada bila tidak ada undangan. Undangan harus informative dengan tidak melupakan kesantunan dan estetika. Karena itu di bagian ini diberikan beberapa pilihan model redaksi undangan, berkaitan dengan persoalan yang sering terjadi dalam pencetakan undangan seperti terungkap di dalam bagian ketiga telah dikemukakan di awal buku ini.

Wednesday, 4 May 2011

Kebaikan menurut konsep Al-Qur’an



Setiap orang, ingin dikatakan baik, sekalipun sebenarnya ia tidak baik. Juga kita sering memberikan penilaian kepada orang lain, misalnya teman akrab, tetangga, teman sekerja atasan dan bawahan, sering kita memberikan penilaian baik atau tidak baik terhadap mereka. Budaya bahasa berbasa-basi bangsa kita walaupun keadaannya kurang baik, bila ditanyakan kepadanya “apa kabar” jawaban standar adalah “baik”. Ketika ada bencana alam gempa di salah satu daerah di Indonesia beberapa waktu yang lalu, seorang korban kepalanya luka-luka dan karenanya di balut perban. Ketika ditanya pewawancara TV, “Bagaimana kabar Bapak”, jawaban beliau “Alhamdulillah baik”,

Di awal dakwah Islam, kewajiban shalat belum disyariatkan, waktu itu apabila seorang telah mengaku bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul utusan Allah atau dikenal dengan membaca dua kalimah sahadat. Jika orang tersebut berpegang teguh dengan apa yang diikrarkannya dan sampai yang bersangkutan meninggal dunai, maka ia termasuk orang yang meninggal dalam keadaan baik.

Orang Yahudi menganggap bahwa adalah merupakan kebaikan atau kebaktian bila menghadap Allah dengan menghadapkan wajah kearah barat. Sementara orang Nasrani menilai suatu kebaikan atau kebaktian bila menghadapkan wajah kepada Allah dengan menghadap kearah timur.

Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah tentang “Al-Bir” (Kebaikan) berkenaan dengan pemahaman Yahudi dan Nashara tersebut di atas. Turunlah ayat 177 surat Al Baqarah. Lebih jauh dirinci yang dimaksud kebaikan versi Allah di tegaskan dalam Alquran adalah:










Al- Baqarah 177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Memetik ayat tersebut di atas bahwa kebaikan adalah, beriman kepada Allah, beriman kepada hari kemudian, beriman tentang adanya malaikat-malaikat, beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul yang diutus-Nya, beriman kepada nabi-nabi, mendermakan sebagian harta kepada pihak-pihak yang diarahkan Allah, memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan sabar.

1. Beriman kepada Allah,

Bahwa seseorang dipandang baik disisi Allah apabila orang yang bersangkutan bulat keimanan kepada Allah, tidak mensekutukan Allah dengan suatu apapun. Sejak jaman Zahiliyah di Makkah, tidak seorangpun mau dituduh syirik atau mensekutukan Allah. Mereka beranggapan bahwa apa yang dilakukannya menyembah berhala adalah rangkaian penyembahan kepada Allah. Berhala-berhala adalah sabagai media. Mereka percaya bahwa bumi dan langit dan segala isinya termasuk dirinya ini diciptakan Allah. Era sekarang ini semua agama mengklaim bahwa mereka menyembah Tuhan Yang Esa yaitu Allah. Walau dengan segala macam perantara dan media.

Keimanan menyembah Allah dengan media termasuk mensekutukan Allah, hal seperti itu tidak diredhaai atau ditolak Allah, seperti termuat dalam surat Azzumar ayat 3.

3. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Konsep Islam penyembahan kepada Allah tidak dengan media tidak dengan perantara mahluk-makluk ciptaan Allah. Konsep Islam iman kepada Allah adalah tidak mensyerikatkan Allah dengan apapun.

2. Beriman akan adanya hari kemudian,

Bahwa dunia yang terkembang dewasa ini yang kita diami ini ada awalnya, dengan demikian jelas akan ada akhirnya. Begitu juga kehidupan seseorang anak manusia, ada awalnya bermula tersemai di dalam kandungan ibu, tumbuh berkembang menjadi janin dan muncul kedunia menjadi bayi. Sebagian besar tumbuh menjadi anak-anak, remaja kemudian dewasa, tua. Semuanya kita meninggal dunia baik sampai tua maupun masih anak dan remaja atau dewasa. Setelah meninggal dunia tidak habis begitu saja, masuk ke hari kemudian, untuk mempertanggungjawabkan segala amal selama hidup di atas dunia. Orang yang menyakini bahwa semula amal di dunia ini akan dipertanggungjawabkan dan mendapat balasan di hari kemudian, maka dengan sendirinya setiap langkah perbuatan amalnya akan dipertimbangan untuk dapat dipertanggung jawabkan di hari kemudian. Tentu berhati-hati dalam hidup akan menjauhi segala perbuatan yang tidak baik dan sebanyak mungkin berbuat kebaikan. Oleh karena itu sumber kebaikan adalah adanya Iman kepada hari kemudian.

3. Beriman tentang adanya malaikat-malaikat.

Manusia yang yakin (beriman) bahwa adanya malaikat yang ditugaskan oleh Allah dengan berbagai fungsi di antaranya malaikat yang senantiasa mendampingi dirinya, dimanapun dan kemanapun serta sedang berbuat apapun. Oleh karena keimanan itu maka orang yang bersangkutan tidak akan melakukan perbuatan yang tercela apalagi perbuatan dosa, sebab ia yakin benar bahwa apapun perbuatannya akan tercatat dengan sempurna oleh malaikat yang mendampinginya. Tentu pribadi orang tersebut akan terus menerus berbuat kebaikan.

4. Beriman terhadap kitab-kitab,

Kitab-kitab, yang dimaksud adalah kitab-kitab berupa wahyu dari Allah melalui rasul-rasul yang diutus oleh Allah. Kitab-kitab tersebut memberikan petunjuk dalam menjalankan hidup didunia ini, termasuk cara mengatur kehidupan hubungan dengan Allah dan tata cara hubungan antara manusia dengan manusia dalam pergaulan masyarakat. Bila petujuk tersebut diikuti maka akan terciptalah kehidupan yang terjamin kemaanan dan ketenteraman. Kemanapun dan dilingkungan yang seperti apapun seorang yang memegang teguh aturan Allah, akan menerbar kebaikan. Aman hak orang lain dari perbuatannya, damai perasaan orang lain melalui ahlaknya, terhindar siapapun dari sakit hati kerena lisannya. Pokoknya akan muncul kebaikan-demi kebaikan.

5. Beriman kepada nabi-nabi.

Wujud kebaikan berikutnya adalah beriman kepada nabi-nabi dalam artian percaya bahwa nabi-nabi yang diangkat itu telah diutus Allah di masing-masing zaman untuk mengembalikan manusia kepada kemurnian keyakinan akan ke Esaan Allah. Misi Para nabi itu pada pokoknya ada 2 (dua) hal yaitu: Pertama menyempurnakan kehidupan spiritual dalam kaitan mengesakan Allah, menyakini bahwa akan ada hidup sesudah mati dengan pembalasanya, mencontohkan ahlak yang mulia, agar manusia mematuhi aturan yang ditetapkan Allah. Kedua, reformasi kehidupan sosial kemasyarakatan, mengajak masyarakat untuk dapat berkehidupan yang layak dalam hubungan antar manusia, tidak saling menzalami atau menindas, tercipta keadilan dan ketenteraman pengaturan hidup antara lelaki dan perempuan dalam perkawinan. Dengan mengimani nabi-nabi berarti menghayati dan mengamalkan ajarannya dengan demikian akan terciptalah kebaikan baik bagi diri sendiri maupun masyarakat secara keseluruhan.

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (Al- Hadid 25)

6. Memberikan harta yang dicintainya kepada pihak yang diarahkan Allah:

Manusia lahir kedunia ini sama-sama bermodal nihil, hanya memang kadang seorang terlahir dikeluarga yang berkecukupan bahkan berkelebihan, sementara ada yang terlahir dari keluarga yang pas-pasan dan bahkan kekuarangan. Untuk mendapatkan harta guna dipakai hidup, manusia berusaha dengan bermacam kemampuannya. Bila ia terlahir di keluarga orang kaya, berarti orang tua yang bersangkutan dulu-dulunya berusaha sedemikian rupa sehingga dapat menghimpun harta. Apabila seorang terlahir dikalangan tidak ada harta warisan, maka dirinya sendirilah yang membanting tulang memeras keringat dan otak untuk menghimpun harta kekayaan. Begitu harta kekayaaan yang didapat dengan susah payah dan tentu dicintai itu, sebagai bukti kekuatan iman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada Malaikat dan Kitab-Kitan Allah, barulah mendapat kebaikan juka mampu memberikan harta yang dicintai itu untuk orang lain dengan perioritas:

a. kerabatnya, karena pada hakikatnya Islam mengajarkan selamatkan lebih dahulu keluarga. memberikan harta utamakan kepada keluarga dekat dan sanak falimili terlebih dari baru lah orang lain. Al-Qur’an memerintahkan “selamatkan dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”. Orang dalam kekurangan kadang gampang terjerembab kepada kekufuran, sulit melaksanakan ibadah untuk menjauhkan diri dari siksa neraka. Diharapkan dengan mengalirnya sedekah dari leuarga yang kaya, dapat mengurangi penderitaan kerabat sendiri yang miskin tersebut dan mereka dapat melaksanakan ibadah.

b. anak-anak yatim, perioritas yang kedua dalam mendistribusikan harta adalah anak yatim. tentu anak yatim yang miskin, sebab ada juga anak yatim yang kaya lantaran banyak mempunyai warisan. Anak yatim yang miskin mereka belum mampu untuk mendapatkan nafkah buat dirinya, sedangkan penanggung jawab nafkah untuk mereka sudah tiada. Diharapkan dengan terpeliharanya anak yatim berkat santunan harta dari pihak yang berpunya, dapat terpelihara keimaman meraka, kehidupan kanak-kanak mereka dapat diselenggarakan dengan baik dengan mengikuti pendidikan, sebab ada biaya dari orang kaya. Dengan pendidikan dapat menjadi bekal hidup bagi mereka setelah dewasa nanti untuk mencari nafkah dan melanjutkan kehidupan ini dengan tetap berakidah Islami.

c. orang-orang miskin, perioritas ketiga diisyaratkan dalam surat al-Baqarah 177 yang kita baca tadi adalah orang miskin. Miskin kehidupan yang serba kekuarangan, orang dalam hidup yang serba kekurangan pikirannya gampang suntuk dan bahkan untuk berpindah keyakinanpun kadang bersedia, karena sudah lelah hidup dalam ketidak cukupan. Bila ada Peluang untuk memperbaiki nasib dengan menggadaikan iman. Tidak sedikit orang yang memngambil jalan pintas melanggar larangan Alllah untuk mendapatkan sekedar penyambung hidup, dilakukan mencuri bahkan lebih berat dari itu hanya karena kemiskinan. Karena itulah Islam mengajarkan kepada orang yang berkelebihan harta untuk membelanjakan sebagian bagi orang miskin. Sekurangnya ada 2 (dua) tujuan membelanjai orang miskin: Pertama agar si miskin dapat dikurangi penderitaannya dengan demikian semoga dapat terpelihara akidahnya. Kedua supaya terjalin hubungan yang harmonis antara pihak si kaya dengan si miskin, sehingga si miskin ikut memelihara harta si kaya, sebab sadar bahwa di dalam harta si kaya itu si miskin merasa ikut memiliki dan terbukti si kaya memberikan bagian itu kepada si miskin.

d. Musafir (yang memerlukan pertolongan), perioritas keempat dari penyaluran harta adalah buat orang dalam perjalanan yang kehabisan perongokosan. Bagaimanapun kayanya sesorang di kampung halamannya sendiri, bilamana ia sedang musafir, kekayaan itu kadang tidak dapat menolongnya. Dapat saja yang bersangkutan kehabisan biaya baik untuk hidup atau meneruskan penjalanan pulang kembali kekampung halamannya. Walau diera komunikasi yang canggih dan teknologi pengiriman uang yang mudah inipun, kadang bila seorang musafir derdampar di daerah yang tidak tersedia alat pendukung telekomunikasi dan transfer juga kemudahan itu belum dapat dinikmati. Disinilah peranan anjuran orang Islam agar tergerak hati untuk melakukan perbuatan baik dengan menafkahkan sebagai hartanya untuk orang musafir. Falsafah perintah kebaikan yang satu ini ialah, merupakan salah satu kebaikan adalah memberikan bantuan kepada orang yang sangat memerlukan.

e. Orang-orang yang meminta-minta; prioritas kelima dari distribusi harta adalah untuk orang-orang yang meminta-minta. Pada dasarnya manusia yang kenal akan harga diri, jika tidak sangat terpaksa tidak akan meminta-minta. Khusus mendermakan harta yang satu ini agaknya sedikit agar selektif, karena terakhir ini banyak orang yang sudah kehilangan harga diri. Jadi harus jelas diketahui bahwa orang yang meminta-minta itu benar-benar patut menerima sedekah. Sebab terutama di kot-kota besar kadang minta-minta dijadikan mata pencarian. Inilah salah satu pentingnya komunitas salat berjamaah yang di bangun di dalam Islam. Jamaah suatu masjid di dalam suatu komunitas tertentu dapat melakukan identifikasi di kalangan jamaahnya, orang yang pantas menerima derma, jika mereka meminta-minta dan mungkin organisasi masjid mengetahui dimana kantong masyarakat miskin yang meminta-minta dan benar-benar harus disantuni.

7. Memerdekakan hamba sahaya.

Perbuatan baik memerdekakan hamba sahaya, sekarang boleh dikata sudah tidak ada lagi haba sahaya, atau perbudakan. Memang salah satu tujuan Islam adalah menghapuskan perbudakan, perhamba sahayaan itu. Oleh karena itu banyak denda-denda dalam pelanggaran peraturan agama berupa membebaskan budak/hambasahaya. Perbuatan membebaskan memerdekakan hamba sahaya/memerdekan budak diganjar pahala demikian besar., Sebab dipermulaan agama Islam di dakwahkan masih sangat marak perbudakan/perhambasahayaan. Namun perbudakan/perhambasahayaan terselubung dinegara yang lemah perekonomiannya masih terasa. Adalah merupakan perbuatan baik jika diri ini mampu mencegah terjadinya perdagangan manusia. Jikalah kebetulan anda mempunyai pembantu rumah tangga, meskipun status mereka merdeka dan bukan hamba sahaya, tetapi adalah suatu kebaikan jika mereka diperlakukan secara manusiawi, ini barang kali yang lebih dekat dengan maksud perintah ini dikaitkan dengan masa sakarang.

8. Mendirikan shalat,

Jelas bahwa shalat adalah tiang agama, shalat adalah pencegah seseorang berbuat keji dan mungkar, pantas kalau shalatlah ibadah manusia yang lebih dahulu diperhitungkan Allah di yaumil hasab. Orang yang shalat dan menjiwai shalatnya untuk diterapkan dihidupan sehari-hari salah satu aspek yang dapat dipetik adalah kejujuran. Jika anda sebagai jamaah shalat di masjid, sering kita lihat profil-profil orang jujur. Misalnya jamaah yang batal wduhu, langsung keluar pergi untuk ber whudu kembali, padahal tidak seorangpun yang mengetahui kalau wudhu yang baresangkutan batal. Ini salah satu model kejujuran yang terus menerus dilatihkan di dalam kebhidupan beragama di dalam Islam. Seorang yang mengamalkan shalat, ia selalu jujur meskipun tidak seorangpun mengatahui bila dalam melakukan aktifiatas hidup ia melakukan perbautan yang bathil, segera ia sadar segera ia tobat dan segera ia menghindar, kerena didalam dirinya sudah tersedia pengawasan bahwa mesipun orang lain tidak mengetahui Allah maha mengetahi, maha melihat. Sehingga wajarlah bahwa shalat merupakan salah satu perbuatan sumber kebaikan. Logikanya orang shalat tidak akan Korupsi, tidak akan curang tidak akan menjalimi orang, tidak akan berbuat melanggar larangan Allah.

9. Menunaikan zakat;

Harta kekayaan didalam Islam dipandang bukan hanya milik sendiri, walaupun diri sendiri yang berusaha menghimpunannya. Penghimpunan harta diperoleh dari interaksi dengan orang lain, karena itu disamping harta mempunyai fungsi ekonomi sekaligus harus mempunyai fungsi sosial. Di dalam harta yang terkumpul terdapat hak orang lain yaitu hak para wajib penerima zakat. Harta yang terkena wajib zakat adalah harta dengan jumlah tertentu yang disebut dengan cukup nisab dan dalam kurun waktu dikuasai selama setahun disebut haul. Lebih jauh ada lagi zakat atau hasil pertanian perkebunan yang diatur dengan sempurna dalam bab mengenai zakat. Salah satu bentuk kebaikan yang diisyaratkan oleh surat Al-Baqarah 177 tadi adalah menunaikan Zakat, falsafahnya adalah setiap muslim tidak boleh menahan harta yang seharusnya menjadi hak orang lain. Dampak dari zakat adalah upaya untuk memperkecil jurang antara orang kaya dan orang miskin dan selanjutnya orang miskinpun merasa disantuni oleh orang kaya dengan demikian timbul persaudaraan, yang pada akhirnya akan berbuah kasih sayang, sehingga terjauh dari kecemburuan sosial, dimana sering berakibat si miskin menbenci orang kaya kadang tidak jarang orang miskin berprasangka dan berdoa yang jelek terhadap orang kaya.

10. Menepati janjinya apabila ia berjanji.

Kunci kebaikan hubungan antar manusia adalah menapti janji. Karena bila janji sudah dicederai maka pihak yang menerima janji dan pihak yang berjanji keduanya akan merugi. Pihak yang menerima janji menderita rugi gagal memperoleh manfaat dari janji yang diterimanya dan kadang kehilangan kesempatan yang terbaik akan diperolehnya bila janji ditepati. Sementara pihak yang ingkar janji akan rugi, karena secara jangka panjang, si cedera janji tadi dikenal di masyarakat sebagai tukang ingkar janji. Bila ia berjanji pihak yang menerima janji sudah akan percaya lagi tentu akan menyulitkan dalam kehiudupan masyarakat yang tidak akan dapat lepas dari hubungan antara manusia. Jadi tetaplah bila salah satu butir dari kebaikan itu adalah menepati janji.

11. Sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Hidup ini tidak selamanya berjalan baik, kadang seorang yang semula hartanya banyak, dengan tempo yang singkat bisa bangkrut, orang yang tadinya sehat afiat dapat saja jatuh sakit. Keadaan aman dan damai dapat saja berubah menjadi kacau balau dan peperangan. Semua itu adalah permainan dunia sekaligus cobaan untuk manusia. Menghadapi segala kemungkinan tersebut, orang orang yang sanggup sabarlah sebagai manusia yang tetap memdapat predikat bnaik dari Allah. Kembali kepada keyakinan bahwa semuanya terjadi karena telah ditetapkan Allah. Yakin bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak sanggup dipikul oleh hamba-nya. Orang demikian agan senantiasa dapat berbuat kebaikan, sekalipun sedang dalam kesempitan dan penderitaan bahkah banyak kita mendengar riwayat bagaimana sahabat-sahabat nabi sanggup berbuat baik walau terhadap musuh dalam perperangan.

Selanjutnya orang-orang yang dapat melakukan kebaikan-kebaikan tersebut di atas mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah yang akan memperoleh dua gelar sekaligus dari Allah yaitu “Siddiqin” dan “Muttaqin”.

Semoga kita dapat mengamalkan kebaikan-kebaikan seperti diungkapkan Allah dalam surat Al-Baqarah 177 tadi. Amien.