Monday, 9 February 2026

Dapatkah TAQDIR diubah AMAL & DO’A ???

Disusun: M. Syarif Arbi No: 1.392.02.02-2026 Taqdir adalah sesuatu yang harus diimani, sementara itu tidak seorangpun yang dapat memprediksi bagaimana taqdir dirinya. Nabi Yusuf ketika dibuang saudara-saudaranya ke dalam sumur, kuat dugaan kita orang awam, bahwa dianya belum tau bahwa kelak dirinya akan jadi pembesar negeri Mesir, namun itulah jalan yang harus dilalui Nabi Yusuf. Bila kita berandai-andai, jikalah tidak dibuang ke dalam sumur, tentu tidak akan ditemukan oleh musafir menimba air dari sumur, lalu mengeluarkannya dari dalam sumur, menjualnya di pasar budak di Mesir, dibeli pembesar kerajaan. Taqdir Nabi Yusuf itu barulah diketahui pada akhir kehidupannya setelah melalui jalan berliku, sampai lama masuk dalam penjara, menurut kabar dari Al-Qur’an “beberapa waktu”, pendapat ulama bervariasi antara 5 hingga 12 tahun di penjara, Pertanyaannya apakah memungkinkan “mengubah taqdir dengan amal dan do’a”? Terdapat beberapa riwayat bahwa amal dan doa berpengaruh pada taqdir, tapi dengan pemahaman yang tepat. Suatu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah Muhammad ﷺ, mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Diberi amalan oleh Rasulullah seperti dikutip dibawah ini, sehingga kehidupan sahabat tersebut akhirnya rezekinya berlimpah. Kisah di atas banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, diantaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Dalam penafsiran surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut: عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه Artinya: Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda: Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah surat qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya. Syekh Nawawi dalam penafsiran ayat ke-61 surat An-Nur menjadi jawabannya. Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari Ibnu Abbas dan Qatadah sebagai berikut: وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا Artinya: Ibnu Abbas berkata: Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami). وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين Artinya: Qatadah berkata: Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami. Bila engkau memasuki sebuah rumah yang tak ada seorang pun di dalamnya, ucapkanlah: assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn (keselamatan bagiku dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh). Jadi; bila tidak ada orang didalam rumah kita dapat mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat: Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh). Lapisan taqdir itu terdiri atas dua lapis: Pertama: Taqdir mubram ( مُبْرَم )→ ketentuan Allah yang pasti dan tidak berubah, (kejadian bukan sama sekali dapat diusahakan manusia), misalnya diri ini terlahir di negeri mana, siapakah orang tua yang menyebabkan kita lahir. Kedua: Taqdir mu‘allaq (مُعَلَّق) → ketentuan yang bergantung pada usaha, doa, dan amal manusia. Amal, doa, sedekah, ikhtiar itu berperan pada taqdir yang kedua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي العُمُرِ إلَّا البِرُّ “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali kebajikan.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Qadar, bab “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa” (no. 2139), dari hadis Salman radhiyallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Sahihah (no. 154) dan dalam Sahih Al-Jami’ (no. 7687). Kaum beriman menyakini bahwa Allah sudah mengetahui segalanya sejak awal, tapi Allah juga menjadikan doa dan amal sebagai sebab terjadinya sesuatu, tentu harus dibarengi dengan ikhtiar untuk mencapai maksud dan tujuan do’a itu sehingga Allah menolong pencapaian yang diinginkan. “…………. إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ………………” “………Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…………” (Ar-Ra’ad ayat 11) Ayat ini memotivasi bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik kecuali dengan usaha dan jerih payahnya sendiri. Namun berapa banyak orang yang berusaha mengubah nasib mereka dengan berusaha tak kenal lelah dan waktu demi ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, berapa persen dari mereka yang berhasil tapi sebagian juga begitu-begitu saja, dengan demikian maka dapat diungkapkan “Amal tidak mengubah kehendak Allah, tapi amal adalah bagian dari kehendak Allah itu sendiri”. Mari kita serahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dengan terus berikhtiar “janganlah kamu berputus asa dengan Rahmat Allah” (“……..لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ……” = Az- Zumar 53). Ya Allah yang menentukan taqdir dan berkuasa mengubah taqdir, berikanlah taqdir yang terbaik untuk kehidupan kami ini. آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ بارك الله فيكم وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Jakarta, 9 February 2026. 21 Sya’ban 1447H.

No comments:

Post a Comment