Sunday, 5 April 2026
LEBAH
Disusun: M. Syarif Arbi
No: 1.408.01.04-2026
Di dalam terminology agama Islam, seluruh apa saja di alam ini adalah merupakan tanda2 kekuasaan Allah, karenanya alam semesta ini adalah merupakan ayat2 Allah, termasuklah semua hewan – tumbuh2an – gunung2 dan lembah – lautan, danau2 dan daratan – seluruh fenomena alam. Sehubungan dengan itu maka demikian banyaknya ayat2 Allah itu, sehingga Allah sampai membakukan dalam surat Al-Kahfi ayat 109:
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا ١٠٩
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”
Ayat2 Allah berupa alam semesta ini, disebut dengan ayat2 “Kauniyah”. Sedangkan ayat2 yang terbukukan dalam Al-Qur’an disebut dengan ayat2 “Qauliyah”. Tulisan singkat ini memetik salah satu diantaranya yaitu berupa ayat Allah yang berwujud hewan yang disebut “an-Nahl” atau dikenal dengan “Lebah”.
Surat An-Nahl Ayat 68:
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
Artinya: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia",
Surat An-Nahl Ayat 69:
ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Bahkan Nabi Muhammad ﷺ mengumpamakan seorang mukmin sejati bagaikan Lebah seperti hadits (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir), Dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting), namun tidak membuatnya patah dan rusak.”
Lebah; ia hanya memakan yang halal dan menjauhi makanan yang haram. Tidak sudi makan makanan yang kotor. Begitulah orang mukmin tidak akan sudi memakan makanan yang haram dan kotor, baik haram karena zatnya maupun yang haram cara memperolehnya.
Lebah; mengeluarkan madu yang bermanfaat untuk manusia, Lezat rasanya serta sangat bermanfaat menjadi obat untuk memelihara kesehatan orang yang meminumnya. Pada madu terdapat obat buat manusia (فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ). Yang dapat diambil dari kehidupan Lebah, Ia menghasilkan sesuatu yang baik dan bermanfaat, demikianlah hendaknya pribadi seorang mukmin, selalu mengeluarkan ucapan dan perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk kemaslahatan ummat manusia.
Lebah; tidak menimbulkan kerusakan, mereka hinggap di bunga2 mengambil sari madu di bunga yang dihinggapinya, tetapi tidak menyebabkan bunga itu menjadi mati atau layu karenanya, bahkan membantu melakukan penyerbukan sehingga jenis2 bunga yang menjadi bakal buah, berkembang menjadi buah, lantaran melalui kaki2 lebah terjadi perpindahan serbuk bunga jantan ke bunga betina. Sebagai I’tibar bahwa orang2 mukmin sejati, tingkah lakunya tidak merugikan orang lain, bahkan selalu berperilaku memediasi antar orang dalam masyarakat untuk berbuat kebaikan, untuk produktif.
Selain itu Lebah; kendatipun mereka hinggap di ranting yang sangat lapuk sekalipun, ranting yang dihinggapi Lebah tak akan patah. Di manapun ia berada, tak pernah berbuat kerusakan. Manusia mukmin, berada dilingkungan masyarakat seperti apapun tidak akan menjadi provokator membuat kerusuhan, tidak akan menjadi dalang merusak suasana dalam masyarakat, tidak akan menjadi penghasut, tidak akan menjadi pengadu-domba.
Lebah; selalu rajin berusaha dan tak pernah malas. Ulet dan tak pernah menyerah. Bahkan ia tak mau makan dari hasil kerja keras orang lain. Begitu hari dimulai mereka langsung berterbangan mencari karunia Allah (فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا). Tidak ada hari libur untuk Lebah. Masing2 Lebah dalam komunitas mereka mempunyai tugas masing2, tidak ada iri tidak ada dengki diantara mereka dalam mengemban tugas. Hendaknya pribadi penganut agama Islam semuanya rajin laksana Lebah, tidak bermalas malasan hanya menggantung cita2, menakar angan2. Saban hari harus beraktivitas yang positif dan produktif.
Suatu hal lagi yang hebat buat Lebah, apabila dianya diganggu, maka mereka akan menyerang pengganggu, tidak perduli bahwa dirinya akan binasa. Sebab bila se-ekor Lebah menyerang pihak yang mengganggunya, dia mengeluarkan sengat di ekornya, setelah sengatnya copot maka diapun akan mati. Pribadi mukmin sejati, akan rela berjihad dengan jiwa raga apabila kehormatan agama dan bangsanya diganggu pihak lain.
Ayat kauniyah berupa mahluk Allah jenis hewan “Lebah” diumpamakan Rasulullah Muhammad ﷺ sebagai pribadi seorang mukmin, karena perilaku Lebah seperti diungkapkan diatas. Hendaklah dapat diambil sebagai ‘itibar buat diri masing2, untuk membuktikan bahwa diri sebagai seorang mukmin.
Yaa Allah, jadikan kami semua orang2 mukmin dapat memahami petunjuk Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan juga ayat2 kauniyah antara lain berupa hewan Lebah.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
بارك الله فيكم
وَ الْسَّــــــــــلاَمُعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Jakarta, 18 Syawal 1447.H.
6 April 2026.
Subscribe to:
Comments (Atom)